Bab 1
Aku ingin menikah dengan kekasihku
Suara lantang seorang gadis cantik. Yang berusia kisaran 25 tahun itu. Seakan sedang memberontak terhadap sang papa. Yang menolak lamaran sang kekasih, dan ingin menjodohkannya dengan seorang anak sahabat sang papa.
"Aku tidak mau Papa! Aku ingin menikah dengan Radit!" Clara, yang duduk disebelah Radit kekasih yang sudah tiga tahun menjalin hubungan dengannya. Seakan tidak terima akan keputusan sang papa yang menolak lamaran Radit.
Membuat Clara, seakan marah terhadap sang papa yang masih tetap memaksakan kehendaknya itu.
" Apa pun alasannya papa gak mau dengar, Satpam ...sini!" teriak papi emosi memanggil satpam yang sedang berada di depan teras, hingga seakan disambar petir. sang satpam dengan tergesa-gesa menghampiri papa yang sedang dikuasai emosinya.
" Iya pak,"
Satpam yang dipanggil papa kini berada di depan Radit, menatap Radit seolah sang satpam sudah paham dengan tujuan papa.
" Kamu usir dia,"
Kata-kata itu seolah membuat aku marah menatap kearah papa dan merasa iba melihat Radit, yang masih menundukkan wajahnya ke arah lantai itu.
" Aku bisa keluar sendiri,"
Mendengar perkataan papa yang hendak mengusir Radit, hingga akhirnya Radit yang merasa harga dirinya telah dijatuhkan, keluar dengan rasa benci dan kekecewaan yang tidak bisa ia ucapkan.
" Raditttt …."
Teriak Clara pecah melihat Radit yang sudah berjalan kearah pintu. Tanpa menoreh atau Radit menyembunyikan sedih dan air matanya di hadapan papaku, yang menurutku. Apa yang papa lakukan itu sudah benar-benar kelewatan.
" Aku benci papa! Aku mencintai Radit. Aku ingin menikah dengannya Pa!"
Melihat tatapan papan yang penuh emosi, ke arah Radit yang sudah menghilang bersama kejauhan. Hingga aku dengan rasa sedihku memilih berlari ke arah kamar meratapi nasibku yang tidak jadi menikah dengan Radit.
Bagaimana bisa papa memisahkan kami berdua! Aku dan dia sudah lama pacaran, dia cinta pertamaku. Aku gak mau papa! Aku mau dia! Ahhhhh ...papa tidak tahu kalau Radit sosok cowok yang sangat baik! dia sangat mencintai dan menyayangiku. Aku mohon biarkan aku dengan nya.
" Ahhhhhh …." teriak Clara menghancurkan isi kamar nya. Dia membuang semua peralatan yang tersusun rapi di kamarnya, menatap kearah foto antara ia dan Radit, mengenang semua kenangan mereka berdua.
" Raditt ...hahaaa …." ucap Clara menangis tersedu seraya memeluk foto Radit dengan begitu erat.
" Aku harus menghubunginya,"
Hingga aku berjalan kearah aku terbiasa meletakkan ponselku, mencari di daftar kontak no henpon Radit. Aku sangat berharap jika Radit bisa membawaku dari sini.
" Tut tut tut" bunyi sambungan telepon Clara terhadap Radit.
" Angkat telepon nya Radit! Please. angkat," gumam Clara menangis menunggu sang pemilik menjawab panggilan nya.
"Tut tut tut" bunyi sambungan telepon lagi yang ia tujukan masih untuk Radit.
Hingga akhirnya si pemilik telpon pun menonaktifkan seluler nya,
" Tidakkkk …ini terakhir kalinya Radit aku menghubungimu, kamu harus angkat Radit! Jangan pernah marah dan membenciku Radit. angkat Radit. angkat,"
" No yang anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa …,"sahut sang operator telepon yang membuat Clara semakin sedih.
"Aku harus lari dari sini,"
Batin Clara dalam hatinya seraya menyiapkan beberapa baju yang ia isi dalam tas nya. seperti seseorang yang kehilangan nyawa, ia tidak tahu harus berbuat apa! sungguh aku tidak tahu caranya hidup tanpamu, selama tiga tahun kamu mengisi hati ku. kamu menjagaku dengan baik, kamu memperlakukan bagai seorang kasih sayang kakak ke adik nya. tidak akan ada pria yang sepertimu Radit! Aku ingin denganmu sekalipun hidup susah dengan mu aku rela Radit! bawa aku bersamamu. Aku berjalan ke arah keluar, sepertinya waktu yang tepat untuk lari. Menatap ke arah kiri dan kanan berharap papi tidak mengetahui jika aku hendak kabur. Aman,"batinku yang melihat papi yang sudah tidak ada lagi di ruang tengah.
" Kamu mau kemana Clara?"
Seperti mailing ketahuan tuannya. Aku yang tadi mencoba menyusup hendak keluar, tiba-tiba papa kini berada di hadapanku. Entah papi datang darimana kenapa tiba-tiba nongol di hadapanku, bukannya tadi papi tidak ada. Aku mencoba menyadarkan pengingatan ku tentang apa yang aku lihat.
" Aku ingin pergi dari rumah ini. Aku tidak mau disini! Aku mencintai Radit. Apa bisa papa ngertiin sedikit tentang perasaan ku ini Pa" menatap rasa marah ke arah papa yang sedang menghentikan jalanku yang hendak kabur itu.
" Satpam. Satpam …."
Panggil sang papa lagi yang membuat pak Amir satpam di rumahku bagai maraton berlari ke arah rumah yang jarak halaman rumah dengan ruangan aku berdiri dengan papa cukup jauh. Hingga membuat sang satpam, keringat dingin berlari.
" Ada apa pak?"
Tanya sang satpam yang nafas nya masih tersengal-sengal itu, seolah ia habis menempuh jalan berkilo-kilo, dengan kondisi badan yang tidak lagi muda.
" Bawa Clara kekamar! 24 jam jaga dia. Jangan biarkan dia keluar, bahkan untuk makan sekalipun suruh mereka mengantarkannya ke kamar."
Perintah sang papi terhadap sang satpam, yang membuat aku menatap rasa Amarah kearah papi.
" Tapi pa! Ah ...Clara gak mau pa!"
Teriak Clara yang mencoba mencari celah untuk keluar, hingga terjadi kejar-kejaran antara satpam dengan Clara, seperti saat Clara masih kecil main petak umpet dengan sang satpam.
" Sudah non, Bapak capek non. Bapak butuh kerja, nanti jika papa non marah, Bapak diusir mau kasih makan apa keluarga ku non? Istriku tengah sakit aku butuh pekerjaan untuk mengobati istriku non,"
" Ah ...kalau bukan karena kasihan melihat wajah pak Amir aku akan memilih kabur, padahal ini sebuah kesempatanku untuk kabur. Iya sih istri nya kemaren menghubungi pak Amir menggunakan henpon ku ia tengah sakit dan papa orang yang kejam dia tidak akan mentolerir jika mereka melakukan kesalahan. Hanya pak Amir yang bertahan Bekerja dengan papa sudah lebih 12 tahun. Dia juga sudah ku anggap orang tua angkat! "Baik pak Amir," ucap ku sedu dan mulai masuk kedalam kamar sementara papa hanya menatap rasa kesal ke hadapan ku.
" Papa! Izinkan aku menikah dengan Radit Pa!"
Hingga aku memilih kembali berjalan ke arah papa memasang wajah memelas memainkan kedua tanganku, dan air mata yang tiada henti jatuh. Menatap ke arahnya papa yang seolah tidak memiliki rasa iba terhadapku.
"Kamu lupa kamu akan Papa jodohkan, dengan Evan anak paman Tomas sahabat papa!"
" Papa! Evan, itu sahabat Radit. Jangan Papa! Aku mohon Jangan, persahabatan mereka nanti hancur. Kasihan dengan Radit Papa! Radit pria yang baik ia tidak pantas disakiti Pa,"
Aku memang tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku menikah dengan Evan, yang menganggap Radit seperti saudaranya sendiri.
" Papa tidak peduli Clara! Dua hari ini kamu harus menikah dengan Evan. Semuanya tengah disiapkan Clara," tambah papa yang membuat aku seakan menjerit dan menghentak kan kaki. Mengacak-acak rambut serta duduk dengan memeluk kedua kakiku. Aku harus bagaimana untuk menghindari pernikahan ini. Setidaknya jangan nikahkan aku dengan sahabat nya Papa! Ahhhh ...aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Radit pasti akan sangat terpukul.
Sekilas Clara pun mengingat di mana saat Radit membawa nya ikut bergabung dengan para sahabatnya.
" Pacaran terus! Kapan nikah nya," sahut Evan merayu kearah Radit.
" Bentar lagi," jawab Radit Menaik turunkan alis matanya.
" Iya nih, mereka hebat sudah tiga tahun hubungan nya tetap langgeng" sahut Tomi, yang merupakan sahabat semasa SMA dulu.
" Ingat besok jika nikah aku yang jadi wali mu. Gak sih maksudnya papaku. Ha ha ha, sejarah kan kamu anak almarhum sahabat mamaku, yang menitipkan mu keluargaku," tambah Evan lagi.
" Iya," ucap Radit seraya meletakkan tangan nya di bahu evan.
" Tidaaakkkkk" teriak Clara lagi yang sudah tersadar dari lamunannya, masih menatap kearah papanya yang seolah tidak bersalah menikmati televisi yang baru saja dihidupkan itu.
"Aku harus menyuruh Evan menolak pernikahan ini besok," batin clara
" Kamu kenapa lagi ha! Sana tidur besok pagi Evan akan datang menjemputmu. Kamu harus ikut dengan nya memilih gaun pengantin," ujar sang papa yang membuat Clara seakan senang.
"Setidaknya besok aku akan mengajak Evan menemui Radit dan meminta nya untuk membatalkan pernikahan ini." Batinnya lagi yang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
" Kamu kenapa belum masuk ke kamarmu Clara?" tanya sang papa yang memandang Clara yang tengah kebingungan dan seolah sedikit tenang hingga Clara menyandarkan badannya disofa itu.
"Kamar ku berantakan Pa."
" Kamu bisa menyuruh bibi buat bersihkan nya Clara!"
"Clara capek dan ngantuk Pa! Clara tidur di sofa ini," ucap Clara yang mulai membaringkan badan nya.
" Kamu tidak berencana kabur kan?" Tanya sang papa yang menatap Clara telah menutup mata nya.
" Apa kamu benar sudah tertidur Clara?" tanya sang papa yang memainkan tangannya di hadapan mata Clara, yang sudah terpecam itu. Papa harap kamu paham clara ini semua terbaik untukmu Clara.
Bab 2 Menikah sahabat mantan kekasih
Setidaknya hari ini aku harus bisa membujuk Evan agar membatalkan pernikahan ini, dengan sedikit rasa canggung aku pun menemui papi yang tengah berbincang dengan Evan.
"Pergilah nak Evan, Clara sepertinya sudah tidak sabar menunggu," ucap papi yang membuat aku seakan kesal bagaimana bisa papi bilang seperti itu, bukannya papi tahu jika aku tidak menyukainya.
Aku pandang wajah Evan dengan perasaan tidak senang, sehingga dia pun menyalami punggung tangan papi, begitu juga aku,mulai berjalan mengarah ke mobilnya.
"Batalkan perjodohan ini, kamu tahukan aku tidak menyukaimu, dan kamu sahabat Radit orang yang sangat aku cintai," dia hanya terdiam mendengar apa yang kau ucapkan, seakan jengkel aku menoleh ke arahnya yang tengah mengemudi itu.
"Balas Evan batalkan pernikahan ini,"masih lirihku yang menatap dia sangat serius mengemudi mobil.
"Evan apa kamu tidak mendengarku atau pura-pura tidak mendengar" ucapku dengan nada yang lebih meninggi.
"Jika kamu ingin membatalkannya sampaikan kepada papimu sendiri,"ucapnya yang hanya mengarah ke arah depan.
"Radit akan sangat sakit hati jika tahu hal ini, jadi tolong batalkan pernikahan ini"
"Jika aku bisa pasti akan aku lakukan,"
"Tapi aku tidak mencintaimu,"
"Apa kamu pikir aku mencintaimu?"
"Setidaknya cobalah batalkan,"lirihku memohon kepadanya dengan mata yang berbinar, dan tangan yang seolah sedang memohon.
"Ini tidak boleh terjadi, Radit akan sangat kecewa dan marah padamu bukankah kalian bersahabat, bukannya kamu menganggapnya sebagai saudaramu? mengapa kamu tega menyakiti nya,"
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Jika kamu bisa batalkan sendiri! Toh aku masih punya kekasih lain selain kamu,!"
"Ahhh, setidaknya izinkan aku menemuinya, aku ingin bicara padanya,"
"Percuma dia sudah pergi ke luar negeri, dia tidak akan kembali selama 2 tahun ini, apa kamu pikir aku tidak sedih melihat keadaannya, dia terpukul sekali hingga memilih pergi, aku tidak bisa berbuat apa-apa,"
"Setidaknya kita menikah pura-pura"
"Apa maksud perkataanmu, apa kamu pikir pernikahan itu hanya main-mainan,"
"Kamu boleh bermain dengan wanita manapun, tapi ijinkan aku menjaga cintaku untuknya, dihadapan papi kita pura-pura menjadi pasangan suami istri, aku akan tidur di kamar yang terpisah denganmu, dan setelah 2 tahun ceraikan aku lagi,"
"Ah, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu, aku malah memikir sebaliknya, tidak ada pernikahan dua kali dalam hidupku, dan kamu harus mematuhi apa yang aku bilang,"
"Evan,"ucapku memandangnya dengan rasa marah, bisa-bisanya dia tidak menyetujui apa yang aku katakan, dia kan tahu kalau aku sangat mencintai sahabatnya itu.
"Clara!" jawab evan lagi dengan nada yang lebih tinggi
"Aku serius Evan kamu kan tahu aku dengan dia sudah menjalin cinta cukup lama,"
"Iya aku tahu, Radit sangat mencintaimu hingga dia menjagamu, bahkan aku tahu jika dia tidak pernah menyentuhmu,"
"Iya! dan Radit berkata denganku, bagimu wanita hanyalah mainan, apakah kamu melakukan hal yang sama denganku, tolong izinkan aku dengar Radit, aku benar-benar mencintainya,"
Tidak ada jawaban dia hanya tetap diam, hingga akhirnya kami sampai ke tempat tujuan, seakan malas berjalan dan turun, terasa pedih di hati, aku dan radit pernah merencanakan pernikahan ini, kenapa aku harus menikahi sahabatnya sendiri," gumamku masih dalam hati yang melihat iya turun dan membukakan pintu untukku,"turun lah," sahutnya. Dengan langkah kaki seakan tertatih mulai masuk ke dalam, sehingga pelayan toko menyambut kami dengan ramah.
"Apa ini dengan ibu Clara dan pak Evan,"ucapnya membukakan pintu untuk kami
"Iya,"jawab Evan terhadap pelayan toko
Seakan mata berbinar aku menatap gaun pengantin yang dirancang seindah mungkin, harusnya Radit melihatku memakaikan ini, kenapa aku tidak bersanding dengannya.
"Silakan dicoba dulu,"ucapnya dengan ramah yang aku tatap dengan rasa ketidak senangan.
"Tidak perlu bungkus saja langsung," ujarku sehingga aku memilih keluar.
"Setidaknya lihatlah dulu," pinta Evan mencoba membujuk.
Aku pun kembali berjalan ke dalam, membuka dan melihat modelnya.
"Bagus,"ucapku dengan rasa ketidak tarikan, harusnya ini jangan terjadi, tolong aku Radit bawa aku bersamamu," batinku dalam hati, masih dengan mata berbinar, hingga Evan datang mengajakku pulang.
"Berikan aku nomor HP Radit, aku ingin bicara dengannya,"aku menatap ke arahnya yang mulai melajukan kendaraannya di jalan lintas itu,"Evan berikan aku nomor hp-nya,"ucapku dengan nada yang lebih meninggi
"Aku tidak akan membiarkanmu menemuinya, bahkan aku ingin kamu mulai melupakannya, besok kita akan menikah, jangan pernah menaikkan volume suaramu denganku, karena aku suamimu," sahut Evan dengan menegaskan perkataannya.
**
"Saya terima nikah dan mas kawinnya …."
"Sah," ucap sang penghulu.
"Sah," jawab para saksi.
Serasa ini bagaikan mimpi, bagaimana bisa aku menikah dengan sahabat pacarku sendiri, apa yang akan terjadi jika dia tahu akan hal ini.
"Clara, salam suamimu,"sahut papi yang melihatku masih meneteskan air mata, hingga akhirnya aku pun menyambut uluran tangan Evan menyalami punggung tangannya.
"Sekarang kalian resmi menjadi suami istri, papi mau kamu harus menyayangi dan patuh terhadap suamimu hargai dia sebagai suamimu, dan kamu nak Evan Papi titipkan Clara sayangi dan cintai dia. Jaga dia selalu bersamamu" ucap papiku yang dijawab anggukan kepala oleh Evan.
Para tamu dan undangan yang hadir satu persatu mulai mengucapkan selamat kepada kami, aku menatap ke arah Papi seakan bahagia terpancar di matanya yang tengah berbincang dengan sahabatnya paman Thomas papi dari Evan.
"Selamat Evan,"ucap Tony yang merupakan sahabat akrab Radit, aku menatap ke arah Toni, lalu meneteskan air mata.
"Tolong rahasiakan ini, jangan sampai Radit tahu akan hal ini," ucap ku masih dengan tetesan air mata menatapnya.
"Baik Clara,"
"Kamu jangan menampakan kesedihan, itu akan hanya membuat papiku dan papamu malu, aku tidak akan menyakitimu, akan mencoba menjadi suami yang baik untukmu, kamu tidak perlu memikirkan tentang Radit, suatu saat dia akan mengerti sendiri," ucap Evan sedikit menekan tiap katanya, aku pun mencoba menutupi kesedihanku, walau rasanya ini begitu pedih, ini tidak seharusnya terjadi, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan, aku harap kamu jangan pernah membenciku Radit, aku hanya mencintaimu dan akan selalu mencintaimu," batinku dalam hati menatap para tamu undangan, hingga akhirnya pernikahan pun usai, para tamu undangan yang hadir satu persatu mulai pergi.
Aku memilih masuk ke dalam kamar melepas semua kesedihanku, hingga akhirnya Evan pun masuk, seakan risih dan rasa marah kenapa ini bisa terjadi, aku menatap ke arahnya dengan tatapan benci, tidak semestinya dia di sini, apakah dia lupa siapa aku, pacar sahabatnya sendiri, bukankah dia tahu aku dan Radit menjalin cinta semenjak kami dari SMU.
"Pergilah dan jangan menatapku," gumamku seakan kesal menatap ke arahnya.
"Untuk malam ini aku akan tidur di sini, besok pagi kamu harus ikut bersamaku," ucapnya membuat aku lebih meneteskan air mata.
"Bisakah ini jangan terjadi, aku tidak bisa menjadikanmu suami karena aku tidak menyukaimu,"
"Aku tidak peduli sekalipun kamu tidak menyukaiku, yang aku tahu sekarang kamu sudah menjadi istriku, dan bersifatlah sebagaimana layaknya seorang istri ke suami,"
"Ahhhh …." ujarku seakan tidak percaya dengan kenyataan ini.
"Aku letih, aku ingin istirahat," dia pun mulai memiringkan badannya diatas ranjangku
Malam Pertama
Seakan mata ini sulit untuk ditutup, melihat dia sahabat sang kekasih kini telah menjadi suamiku, dia seakan terlelap, sehingga membuat aku menatap ke arahnya, apa kamu juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi di antara kita, terbayang saat Radit membawaku bersamanya, Radit selalu bercerita tentang Evan yang dianggap layaknya saudaranya sendiri, bagaimana bisa sekarang sosok saudaranya itu menjadi suamiku, maafkan aku Radit tidak seharusnya ini terjadi, kamu pasti akan membenciku jika tahu tentang hal ini.
Diam-diam aku berjalan ke arah Evan meletakkan handphonenya, lalu mencoba mencari kontak nama Radit, aku begitu merindukanmu Radit, seperti mimpi yang terjadi diantara kita ini tidak boleh terjadi.
Satu persatu aku melihat daftar nama nama-nama ada di kontak handphone Evan yang tengah tertidur pulas itu.
Hingga akhirnya aku pun menghubungi Radit menggunakan handphone ku sendiri.
"Halo,"sahutku setelah pemilik telepon menjawab panggilanku
"Jangan matikan Radit, aku ingin bicara" ucapku namun sepertinya pemilik telepon sangat membenciku, Saat ia tahu jika aku yang melakukan panggilan terhadapnya.
Lalu aku mencoba mengirimkan pesan singkat padanya
"Radit maafkan aku, aku sangat mencintaimu, jangan pernah benci dan marah padaku, ini bukan mauku, andai aku bisa memilih aku akan berlari padamu,tapi kenapa kamu meninggalkanku Radit,aku akan selalu sayang dengan mu Radit.
**
"Kamu baru bangun," ucap Evan yang sudah rapi hendak turun ke bawah. "Berkemaslah kita akan pergi pagi ini," ujarnya seraya pergi.
Apa dia akan membawaku dari sini, sungguh ini tidak boleh terjadi namun aku bisa berbuat apa, pasrah menerima kenyataan, ku basuh diriku hingga akhirnya aku pun menemui papi yang tengah duduk di meja makan.
"Nanti jika bersama anak Evan kamu tidak boleh begini, kamu harus lebih awal bangun siapkan sarapan untuk suamimu," ucap papi yang melihat aku datang dan menemui mereka, tanpa kata-kata aku pun duduk di sebelah Evan.
"Apa kamu sudah mengemasi semua perlengkapanmu, mulai pagi ini kamu harus tinggal bersama Evan" ujar papi menatapku dengan tajam.
Aku hanya diam menatap keduanya, dan mulai mengisi piringku dengan beberapa makanan yang sudah dihidangkan.
"Kamu harus sedikit sabar nak Evan, menghadapi Clara,"
"Baik Pi,"Evan melempar senyumnya ke arah Papi
Hingga akhirnya aku pun mengikuti Evan masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kamu akan tetap membisu,"ucap Evan yang melihatku masih bersedih.
"Tidak ada gairah untuk menjawab pertanyaannya, hanya terdiam dengan tetesan air mata yang tidak mau kering dari pipi
"Sampai kapan kamu akan begini terus," ujarnya yang masih menatapku mengarah ke arah jendela. Menatap gedung-gedung yang kulalui, ingin rasanya aku berlari darinya, tapi itu tidak mungkin.
"Jika kamu masih tetap membisu aku bisa saja berbuat kasar padamu karena, kamu harus mematuhi aku sebagai suamimu. Bukan hanya sebagai sahabatmu, jika masalah Radit aku bisa berbicara dengannya! Toh ini bukan kemauan kita. Pernikahan tidak bisa dielakkan,"
"Kamu akan membawaku kemana?" tanyaku melihat Radit tidak membawaku ke arah rumahnya.
"Papi memberikan kita tiket bulan madu, dan dia telah memesankan semuanya," ujarnya yang membuatku semakin menangis, aku tidak menginginkan ini! Dan jangan pernah berbuat sesuatu untukku. Aku tidak peduli walaupun kamu suamiku," jawabku menantang padanya.
DIa hanya melempar senyum ke arahku, yang membuatku semakin tidak mengerti akan nya.
"Turunlah," titahnya
Dia membawaku ke sebuah hotel berbintang lima, aku menatap gedung besar yang ada dihadapanku kini. Seakan enggan melangkahkan kaki ke dalam. Tali dia menarik tanganku menuju ke arah kamar yang sudah mereka siapkan.
"Kenapa kita kesini, bukannya kamu bilang akan membawaku ke suatu tempat,"
"Aku tidak bergairah mengajakmu ke mana-mana, papi juga tidak akan tahu jika aku tidak jadi membawamu. Selama 3 hari kita menginap di sini agar papi tidak kecewa,"
"Tidak aku tidak mau!" bantahku protes akan nya, bagaimana bisa aku harus tidur sekamar dengan sahabat kekasihku. Membayangkannya saja aku merasa bersalah terhadap Radit.
"Apa kamu ingin! ku bawa ke suatu tempat?" tanya lagi mencoba merayuku.
"Tidak bawa aku ke tempat Radit," jawabku yang membuatnya seakan marah.
" Turun lah," perintahnya hingga aku mengikutinya masuk ke dalam hotel itu.
Malam pun datang menyapa, seakan rasa takut terjadi sesuatu untukku, aku mencoba menghindarinya dengan berpura-pura tidur lebih awal, sepertinya dia tahu rencanaku, dia tidak peduli dan mencoba menarik selimutku.
"Apa yang akan kamu lakukan, jangan pernah berencana menyentuhku,"
seakan takut menatap arahnya kucoba berlari menjauh darinya, namun dia berusaha menarik hingga semua terjadi. Aku tidak bisa berlari lagi, seakan tuan telah menemukan mangsanya untuk pertama kalinya kurasakan. Hal yang seharusnya kuberikan pada Radit telah diambil oleh sahabatnya sendiri.
Aku menjerit-jerit kesakitan dia tidak peduli, hingga akhirnya aku pasrah tanpa perlawanan, kubiarkan dia menari menikmati semua yang ada diri ini. Hanya tetesan air mata yang bisa menenangkanku. hingga akhirnya dia mencapai kepuasannya.
Aku menoleh ke bawah kain putih yang menutupi ranjang, dia telah penuh dengan noda, cairan merah pekat hitam berbau amis setelah mengotori selimut itu.
Aku menatap menangis kearahnya, tanpa rasa bersalah dia turun dari diriku, dia menatapku dengan makanan yang sangat nikmat.
"Kamu jahat, tidak seharusnya kamu begini, maafkan aku Radit" masih ucapku yang membuat dia menatapku kembali. Yang mendekatkan badannya ke arahku, kamu mau apa lagi, apa kamu belum puas?" tanyaku yang penuh emosi dan benci.
"Apa salahku! Bukannya kamu istriku? dan itu adalah suatu kewajiban mu, apa kamu mau lagi, sekali lagi aku mendengar kamu mengucapkan nama Radit! Maka aku akan mengulanginya lagi," ujarnya penuh dengan penekanan, membuat aku takut menatap dia yang tidak mengenakan sehelai benang pun di badannya. Menunjukkan otot-otot perut yang kekar, badan dan wajah yang tampan. Melihat ke arah bawah tidak percaya rasanya benda sebesar itu bisa menerobos masuk kedalam. Dan dia memainkannya dengan nikmat penuh dengan penekanan, membuat keringat di sekujur tubuhnya bercucuran. Dia merasakan kepuasan dan kenikmatan itu tanpa memperdulikan rintihan kesakitanku, sungguh dia jauh berbeda dari Radit orang yang selalu menghargai dan menjagaku dengan baik.
"Aku benci kamu, kamu sahabat Radit, seseorang yang sangat aku cintai," ujarku menangis seakan marah benci menatap ke arahnya, hingga dia kembali mendekatkan badannya padaku. Jangan! jangan lakukan lagi" ucapku membuat dia menutup bibir ini menggunakan bibirnya manis.
Kucoba meronta melawan kepadanya, mendorong badannya lebih keras, namun dia terlalu kuat hingga aku hanya pasrah dan menangis.
"Sekali lagi jika kamu membandingkan aku dengannya, menyesalinya lagi maka kamu akan aku buat lebih sakit lagi!" ancamnya mulai berjalan ke arah kamar mandi.
Sungguh aku tidak percaya akan hal ini, bagaimana bisa dia menjadi suamiku, aku memang mengenalinya sama seperti aku mengenali Radit.
Evan dan Radit adalah temanku sekelas waktu sekolah dulu, kami sering bergurau bertiga, karena Radit selalu membawaku bersama sahabatnya itu.
"Aku rindu denganmu Radit, kenapa bukan kamu yang jadi suamiku, jangan pernah membenciku," masih batinku dalam hati hingga akhirnya Evan pun keluar dari kamar mandi, masih menggunakan handuk melingkari pinggangnya.
"Mandilah, jangan buat aku tergoda dengan tubuhmu lagi," ucapnya yang membuat aku berdiri dengan melilitkan selimut yang terletak di ranjang, Evan tersenyum ke arahku seakan ketakutan menatapnya.
"Dasar bodoh," ujarnya melihatku berlari ke arah kamar mandi.
"Ternyata Radit sangat menyayangimu hingga iya tidak pernah melakukan itu, menyentuhmu sekalipun," ucapnya dengan melempar senyum di pipinya yang terlihat sangat manis.
Dering ….
bunyi suara handphone milik Evan berdering.
"Halo Radit," jawab Evan menerima panggilan dari Radit.
Aku mendengar jika Evan tengah berbincang dengan Radit, mendengar itu seakan jantungku berdetak, tidakk ingin rasanya Evan menceritakan ini semua kepada Radit. Hingga aku memilih menguping pembicaraan mereka.
"Dia baik-baik saja, kamu tidak perlu merisaukannya," ujar Evan yang melihat aku menatap iya yang tengah mengangkat telepon dari Radit.
"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Radit yang melihatku, hingga aku memilih masuk ke dalam kamar mandi lagi.
Menatap seakan tidak percaya, akankah dia menceritakan semua kepada Radit. Aku harap Radit tidak tahu akan hal ini. Aku tidak ingin Radit membenciku, aku masih berharap bisa bersanding dengan Radit. Aku pun membiarkan tubuhku berdiri di bawah pancuran shower itu.
"Cepatlah aku sudah lapar," pekik Evan dengan nada lebih tinggi.
Hingga aku keluar dengan rasa malu untuk pertama kalinya nya tubuhku ditatap oleh pria walau dia suamiku sendiri.
"Sudah cepatlah, aku sudah lapar" tambahnya seraya memainkan kan aplikasi dalam ponselnya itu.