#TOXIC
"Maaf nggak bisa, Yang. Aku lagi di lokasi proyek sama klien," tolakku halus pada Rey kekasihku.
"Ini kan jam istirahat, masa nggak boleh sih? Kerja kok ada istirahatnya, kayak kerja rodi aja," sergah Reynald di seberang sana.
"Ini kami lagi makan bareng, sama saja istirahat, kan?" jelasku kemudian.
"Kamu bilang lagi di proyek, kok malah makan-makan? Jangan-jangan kamu nggak lagi sama klien, tapi sama laki-laki lain!" bentak Rey.
"Nggak Yang, aku beneran lagi ada di proyek sama klien. Kebetulan di seberang jalan ada rumah makan, meetingnya lanjut di sana, sekalian makan. Aku juga nggak sendirian kok, ada Diani dan Pak Bos juga," paparku, berharap agar Rey mengerti posisiku saat ini.
Hhh... aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu mengembuskannya pelan-pelan. Reynald selalu saja begitu, suka memaksakan kehendak, kalau tidak dituruti, dia menuduhku yang macam-macam.
Hari ini dia ngajak makan siang, tapi aku sedang ada meeting dengan klien. Jelas aku menolak ajakannya, tapi dia marah-marah tidak terima. Padahal setiap hari kami juga makan bareng.
"Sudah ya, Yang. Aku nggak enak sama Pak Bos. Lagi meeting sama klien malah asik telfonan sama kamu," pungkasku, tanpa menunggu jawaban darinya, ku akhiri panggilan.
"Siapa? Rey lagi?" sinis Diani, dia yang baru keluar dari toilet menatapku tak bersahabat.
"Iya Di," jawabku singkat. Aku buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas.
"Sebenarnya pacarmu itu kerjaannya apa sih? Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nelfooon aja kerjanya!" lanjut Diani.
"Namanya juga sayang, wajarlah kalau ingin tahu pacarnya lagi apa," sahutku. Meski sebenarnya aku juga merasa tertampar dengan ucapan temanku itu.
"Sayang sih, sayang. Tapi nggak segitunya keles! Masa apa-apa harus laporan, sampai urusan kerja aja, diatur-atur sama dia," sinis Diani.
Bener juga kata Diani, Rey terlalu posesif, semua kegiatanku dipantaunya. Di mana, sedang apa, dengan siapa, semua harus se-pengetahuan-nya. Kadang aku merasa terkekang juga, tapi itu kuanggap sebagai bentuk perhatiannya padaku, meski sedikit berlebihan.
"Lah, malah bengong? Buruan! Tuh, bos sudah ngeliatin kamu dari tadi," sentak Diani, seraya melangkah meninggalkan aku.
Aku pun mengikuti langkah Diani, menuju meja di mana bos dan klien sudah menunggu.
"Maaf Pak, tadi ada telfon penting," bohongku, Pak Bos hanya merespon dengan anggukan dan senyum tipis. Sementara klien hanya menatapku sekilas.
"Jadi begini, klien kita ini minta furniture diganti. Diani, kamu bawa katalognya kan?" tanya Pak Bos, Diani menyerahkan buku tebal pada Pak Bos.
"Luk, coba perlihatkan gambar furniture yang kamu rekomendasikan, biar Pak Maher bisa memilih furniture yang beliau inginkan," ucap Pak Bos padaku.
Tapi tiba-tiba ponselku kembali berbunyi, buru-buru kutekan tombol merah, begitu melihat nama yang tertera dalam layar, Rey lagi.
Pak Bos melirikku tidak suka, Diani memutar bola mata malas, sementara klien menatapku dengan tatapan dingin. Aku jadi merasa tidak enak.
Rey benar-benar keterlaluan, tidak bisakah dia menunggu nanti? Toh tidak ada hal mendesak, keluhku dalam hati.
"Ini Pak, silahkan," ucapku mengatasi kegugupanku.
Aku mereview furniture yang aku pilihkan untuk Pak Maher, dari bahan, kualitas, harga, hingga usia pemakaian. Pak Maher terlihat puas dengan penjelasanku.
Selama aku memberi penjelasan, ponselku terus saja berdering. Hingga membuat Pak Bos dan Pak Maher menatapku jengah.
Tak ingin mendapat masalah, buru-buru aku menonaktifkan benda pintar itu, agar tak menganggu meeting kali ini.
"Saya mau yang ini." Pak Maher menunjukkan gambar yang dia pilih, "tapi saya mau bahannya dari jati kualitas P, lepas mata, dan lepas alur minyak, bisa?" ucap Pak Maher, dia menatapku seolah meragukan kemampuanku.
"Bisa Pak, saya akan menghubungi pengrajin, agar membuat sesuai pesanan Bapak," jawabku yakin.
"Tolong dipastikan semua furniturenya selesai tepat waktu, dan sama persis seperti yang saya sebutkan tadi. Saya tidak mau dikecewakan," pungkas Pak Maher
"Bapak tidak usah khawatir, saya jamin semua sesuai keinginan anda," tegasku.
"Ok, terima kasih kerja samanya. Pak Tema, saya pamit undur diri, permisi," ucap Pak Maher.
"Oh ya, silahkan. Terima kasih Pak Maher, senang bekerja sama dengan anda," balas Pak Bos. Pria awal empat puluhan itu mengangguk hormat, setelah selesai berjabat tangan.
"Luluk, lain kali matikan telefon ketika sedang meeting." Ucap Pak Bos setelah Pak Maher menjauh. Belian menatapku tajam.
"Saya tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi, paham?" lanjut Pak Bos. Laki-laki itu kemudian berjalan meninggalkan aku dan Diani.
"Kayaknya kamu perlu ngomong sama pacarmu, itu deh! Bilang sama dia, jangan terlalu posesif jadi orang," ketus Diani, dia pun meninggalkan aku sendiri.
Tak ingin tertinggal, aku menyusul Diani.
"Di, Tunggu!" Aku menjajari langkah gadis itu.
"Kamu marah ya, Di?" tanyaku setelah berada disamping Diani.
"Nggak, buat apa marah? Aku nggak ada hak untuk itu," jawab Diani datar.
"Nggak marah tapi kok ketus gitu?"
Diani menghentikan langkah, lalu menatapku tajam. "Aku hanya kasihan sama kamu, kalian baru pacaran, tapi dia sudah ngatur-ngatur gitu. Gimana kalau kalian menikah? Bisa tersiksa hidup kamu. Kalau aku punya pacar kek gitu, sudah kuputusin dari dulu-dulu.
Ucapan Diani ada benernya juga, Reynald memang berlebihan. Aku sendiri kadang merasa tidak nyaman, dengan sikap posesifnya itu. Tapi pernah sedikit pun. terlintas dalam fikiranku untuk berpisah. Gimana lagi? Aku sudah terlanjur sayang.
Next?
Diani menghentikan langkah, lalu menatapku tajam. "Aku hanya kasihan sama kamu, kalian baru pacaran, tapi dia sudah ngatur-ngatur gitu. Gimana kalau kalian menikah? Bisa tersiksa hidup kamu. Kalau aku punya pacar kek gitu, sudah kuputusin dari dulu-dulu."
Ucapan Diani ada benernya juga, Reynald memang berlebihan. Aku sendiri kadang merasa tidak nyaman, dengan sikap posesifnya itu. Tapi tak pernah terlintas dalam fikiranku untuk berpisah. Gimana lagi? Aku sudah terlanjur sayang.
"Putus? Masa putus sih, Di? Dia kayak gitu karena sayang banget sama aku. Dia itu baik banget," sanggahku.
"Bela teruuus! Susah emang, menasehati bucin kayak kamu. Bener kata orang bijak, orang paling susah dinasehi itu ada dua, orang bodoh dan gila, kayak kamu!"
"Tapi aku cinta sama dia, Di."
"Aku nggak ngerti sama jalan fikiran kamu, kalian itu baru pacaran lho? Masa sudah segitunya, apa-apa harus laporan, emang dia siapa? Bapakmu? Bahkan bapakmu sekalipun nggak se-posesif itu, kan?
Apa sih, yang kamu dapat dari hubungan toxic kayak gitu? Dia sudah memberi nafkah? Hingga dia berhak ngatur-ngatur kamu?" Aku menggeleng.
"Ditraktir makan, atau dapat tumpangan gratisan? Kemana-mana ada yang nganterin, gitu? Ojol juga bisa, Luk. Atau kamu jenis cewek matre?" lanjut Diani.
"Ditraktir gimana? Orang kalau makan bareng, seringnya aku yang bayarin, bensin pun aku yang beliin." ucapku tak Terima, dikatain matre, sama Diani.
Diani mlongo mendengar jawabanku, dia menatapku tajam. "Hah?! Jadi selama ini kamu yang modal? Ck... ck... ck, Luluk.... Aku nggak nyangka kamu se-guoblok itu!" sinis Diani, lalu melanjutkan langkahnya.
Masa sih aku goublok? Yang namanya hubungan itu kan saling bantu, bahu membahu. Saling memberi dan menerima, begitu menurut fikiranku selama ini.
"Di, kamu sadis banget sih? Ngatain aku guoblok," protesku.
"Nggak cuma guoblok, tapi pake maksimal. Guoblok nggak ketulungan, otak encer, wajah cantik, bodi ok. Mau-maunya dimanfaatin cowok. Kalau aku mending jadi jomblo," ucap Diani jengkel.
Seburuk itukah aku? Ucapan Diani berhasil membuat moodku berantakan, hingga kerjaku nggak fokus. Padahal Pak Maher itu orangnya teliti banget, kalau salah sedikit saja, bisa panjang urusannya.
*****
Akhirnya pekerjaanku selesai juga, meski molor dari jadwal, waktunya. Mandi lalu tidur adalah hal paling kuinginkan saat ini. Untung Diani mau memberi tumpangan, hingga aku tak perlu naik angkot. Biar kalau ngomong suka babar tanpa saringan, Diani itu baik.
Di depan kamar kosku Reynald sudah menunggu dengan wajah tak bersahabat.
"Dari mana kamu?" tanya Reynald dingin.
"Kerja."
"Aku tadi ke kantormu, satpam bilang kamu sudah pulang dari siang. Mampir kemana dulu?"
"Kan aku sudah bilang, aku lagi di lokasi proyek," jawabku tak suka. Bukankah tadi siang aku memberi tahu dia, kenapa tanya lagi? Orang kok curiga terus.
"Kenapa telfonmu nggak aktif?"
Aku meraba tasku, mengambil benda pipih yang kusimpan di sana.
"Ups, sorry. Aku lupa nyalain, setelah meeting tadi," jawabku merasa bersalah.
"Ya udah, yang penting kamu baik-baik saja. Aku hanya khawatir terjadi apa-apa sama kamu. Ini kota besar, banyak orang jahat," ucap Reynald, dengan suara melunak. Perhatian Reynald seperti ini lah, yang membuatku meleleh, dan sulit berpaling.
"Oh ya, itu apa?" Aku menunjuk bungkusan plastik kresek besar.
"Oh, ini baju aku. Yang di lemari sudah habis semua, tolong kamu cuciin ya? Sekalian setrika."
Dengan entengnya Reynald memintaku mencucikan pakaiannya. Memang aku beberapa kali mencucikan pakaian dia yang tertinggal di kamar mandi. Aku paling nggak suka, ada pakaian kotor tergantung di kamar mandi. Sebel aja lihatnya.
Jangan berfikir ngeres dulu, Reynald pernah numpang mandi. Waktu itu dia mau keluar kota, katanya nggak keburu kalau pulang ke rumah dulu. Dan pakaiannya dia tinggalkan begitu saja.
Tapi itu hanya sepotong dua potong, sekalian aku cuci pas mandi. Tapi kalau sekantong gede gitu, jelas aku mikir seribu kali. Aku sudah capek kerja, masak masih harus nyuciin baju dia? Bajuku sendiri kadang aku bawa ke loundry, kalau lagi nggak sempat nyuci.
"Kenapa nggak dibawa ke loundry aja? Di depan gank situ kan ada loundry," usulku.
"Kamu yang bawa, ya?"
"Kok aku? Yang punya motor kan kamu? Masa iya, aku jalan kaki bawa bungkusan segede itu?"
"Iya, iya. Aku yang bawa, tapi nanti kamu yang bayarin, ya?"
Aku mengernyitkan dahi, menatap Reynald dengan pandangan tak mengerti. Maksud dia apa? Jangan-jangan ucapan Diani benar, Reynald hanya memanfaatkan aku saja.
Kan aneh, dia itu kerja. Masih tinggal sama orang tua, otomatis pengeluaran dia nggak banyak dong? Nggak perlu bayar kos. Makan tinggal makan, kalaupun di luar, seringnya aku yang traktir. Bensin aku yang beliin, kok loundry aku juga yang bayarin, emang duit dia dikemanain?.
Aku jadi teringat ucapan dia Diani siang tadi.
"Kamu harus berani ambil sikap, jangan nggak enakan gitu. Kalau kamu terus ngalah, nurutin semua kemauannya, dia makin semena-mena."
"Kalau dia mutusin aku gimana?"
"Ya bagus, dong! Stock cowok di muka ini masih banyak, nggak usah takut nggak laku."
"Aku cinta banget sama dia."
"Nah itu, goublok maksimal emang. Kalau dia bener cinta dan sayang sama kamu, dia akan berusaha untuk berubah. Kalau dia kekeh dengan sikapnya, fixs! Dia cuma manfatin kamu."
"Rey, kayaknya kita break dulu aja, deh! Kamu nggak usah menemui aku, nggak usah telfon. Kita masing-masing instropeksi diri, kayaknya hubungan kita sudah nggak sehat lagi," ucapku setenang mungkin, meski dadaku bergemuruh hebat. Takut Rey marah dan justru memutuskan aku.
"Break? Maksud kamu?"
"Kita rehat sebentar, sambil mikir apa hubungan kita layak dipertahankan."
"Kenapa kamu tiba-tiba berubah gini? Pasti ada laki-laki yang mempengaruhi kamu, katakan siapa?" bentak Reynald, tangannya mencengkeram lenganku kuat, hingga aku meringis kesakitan.
"Ng---nggak ada," ucapku ketakutan. Ngeri aku lihat sorot tajam, mata Reynald.
"Sakit, lepas Rey," melasku.
Reynald menepis tanganku begitu saja, masih dengan tatapan tajam dia berkata, "Ok, kita break dulu, tapi beri aku alasan."
"Kamu terlalu posesif, aku merasa tidak nyaman," ucapku pelan.
"Aku melakukannya karena sayang sama kamu," ucap Reynald sendu, membuat pendirianku mulai goyah.
"Ingat! Jangan mudah terbujuk rayuan gombalnya! Laki-laki memang begitu kalau ada maunya. Pokoknya kamu harus tegas! Te-gas!" ucapan Diani kembali terngiang-ngiang di telingaku.
"Kalau kamu sayang aku, rubah sikapmu Rey. Tadi siang aku ditegur Bosku, karena telfonmu saat meeting."
"Ngapain Bosmu ikut campur urusan pribadi karyawannya? Nggak profesional banget jadi orang."
"Kan, memang aku dibayar untuk bekerja, bukan untuk telfonan."
"Kok, kamu malah membela Bosmu itu? Jangan-jangan---"
"Sudah lah Rey, aku capek. Aku mau istirahat." Aku segera masuk kamar, dan mengunci pintunya rapat, tak mau Rey menerobos masuk.
"Yang, buka Yang!" Rey mengetuk kasar pintu.
"Yang! Ok, aku akan berubah, tapi kamu jangan marah dong?" melas Rey dari balik pintu, tapi aku tetap tak peduli.
"Yang, aku minta maaf. Kita break, tapi jangan minta putus, ya?" Suara Rey membuatku terenyuh, tapi lagi aku teringat ucapan Diani. "Kamu harus tegas, TE-GAS!"
Rey terus mengetuk pintu, lelah aku diabaikan, akhirnya dia pergi.
Hhhh, ternyata punya pacar posesif itu melelahkan. Lelah jiwa raga, apa sebaiknya aku putus saja sama dia? Dia mulai ngawur, masa iya cemburu sama Pak Tema, orang galak gitu.
Bersambung....
Gimana nih enaknya, putus apa lanjut hubungan mereka? Ditunggu krisannya, ya?
Yuk dukung penulis dengan memberi subscribe dan rate bintang lima. Suport kalian, mood booster bagi Mak'e. Terima kasih.
Kepalaku terasa pening, semalaman mata ini sulit dipejamkan, gara-gara mikirin Reynald. Dini hari aku baru bisa tidur. Kuraba ponselku yang tergelat diatas meja samping tempat tidur.
Hah? Hampir jam enam pagi? Aku kesiangan, bisa telat masuk kerja ini. Mana aku belum sholat shubuh, laporan kemarin belum selesai, padahal hari ini harus ditandatangani Pak Bos, biar dananya bisa cair, dan bisa membayar DP pengrajin.
"Huh! Semua gara-gara Reynald!" dengkusku kesal.
Aku segera bangkit dari tempat tidur, biar pun telat, solat tetap kutunaikan. Ambil wudlu sekalian mandi, usai sholat segera bersiap berangkat kerja.
Gegas aku menuju jalan raya, nyegat angkot menuju kantor.
"Tumben telat kamu, Luk?" Sapa Diani, aku melihat jam yang melingkar di tanganku, jarum menunjuk angka 08:40. Padahal aku berangkat jam 06:30 tadi, kok masih telat. Biasanya diantar Rey berangkat dengan jam yang sama, masih mampir sarapan pula, tapi nggak telat.
"Iya nih, tadi angkotnya sebentar-sebentar berhenti," sahutku malas.
"Kami naik angkot? Ojol kamu kemana?" tanya Diani penuh selidik.
"Maksud kamu Reynald?"
"Hem-hem."
"Kami break," lirihku.
"Good job." Diani mengacungkan kedua ibu jarinya, diiringi senyum merekah. Sementara aku hanya memutar bola mata malas, lalu duduk di kursiku.
"Hei, nggak usah manyun gitu. Kita ada meeting jam sembilan, sebaiknya kamu siap-siap sekarang," ujar Diani.
"Lain kali kamu kalau naik angkot, kamu harus berangkat lebih pagi. Atau pakai ojol saja, mereka bisa nyari jalan tikus kalau lagi macet. Kamu tinggal pilih ojol oren apa ijo," lanjut Diani, setelah melihatku hanya diam.
"Aku belum download aplikasinya."
"Down load, dong! Yuk ah, kita ke ruang meeting sekarang," ajak Diani.
"Sebentar Di, aku print dulu laporan kemarin." Aku berkutat dengan laptop sebentar, kemudian. "Dah selesai, yuk." Aku dan Diani meninggalkan ruangan kami.
Di ruang meeting beberapa staf sudah menunggu, aku dan Diani mengambil tempat duduk yang masih kosong, tak lama kemudian Pak Bos datang, dan meeting pun dimulai.
Beberapa yang hadir memberikan laporan mereka, kemudian Pak Bos berdiri memaparkan sesuatu, entah apa itu. Sekilas kudengar tentang orang Jepang yang ingin membuat resort di pulau Karimun Jawa. Selebihnya aku tidak mengerti, efek belum sarapan, dan kurang tidur, membuat konsentrasiku ambyar.
"Luluk!" Diani menyenggol bahuku pelan.
"Hhh?" Aku gelapan, karena dari tadi tidak fokus.
"Katanya kamu mau ngasih laporan, Buruan! Sebelum Pak Bos meninggalkan ruangan," bisik Diani.
"Eh iya, ya." Pak Bos menatapku tidak suka.
"Ini laporan hasil meeting dengan Pak Maher kemarin, Pak--"
"Bawa ke ruangan saya," potong Pak Bos. Lalu pergi begitu saja.
"Kamu kenapa sih? Pagi-pagi sudah bengong aja," tanya Diani.
"Nggak tahu, kepalaku pusing. Aku ke ruangan Pak Bos dulu, ya?" pamitan pada Diani.
Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba kepalaku terasa kliyengan, pandanganku berkunang-kunang, lalu, "Ya Allah, Luluk!" Entah suara siapa itu, aku tidak tahu, karena semua menjadi gelap seketika.
Bau obat menyergap indra penciuman, aku mengerjapkan mata, ruangan serba putih yang pertama kali tertangkap penglihatanku.
"Alhamdulillah...Akhirnya kamu sadar, Luk." Diani menatapku dengan senyum khasnya.
"Di mana ini, Di?"
"Klinik dekat kantor."
"Klinik bersalin "Bunda"? Memangnya aku lagi hamil?" ucapku jengkel.
"Halah lebay, ini klinik terdekat. Kamu tiba-tiba pingsan, kami panik. Lalu membawamu ke sini untuk mendapat pertolongan pertama. Untung aja kamu nggak pa-pa katanya hanya butuh istirahat dan makan. Kamu sih, terlalu mikirin cowok somplak, sampai lupa makan!" ketus Diani.
"He... he... aku bukan mikirin Reynald. Dari kemarin aku belum sempat makan, tadi mau sarapan tapi bangun kesiangan," jawabku cengengesan.
"Orang pada panik, kamu cengengesan. Nih! Bubur ayam, dimakan! Aku beli di depan tadi."
Begitulah Diani, di balik mulut pedasnya, tersimpan hati penuh cinta.
"Makasih ya, Di. Kamu baik deh," rayuku.
"Basi! Buruan makan, terus vitaminnya diminum." Aku pun menyendok bubur yang ada di hadapanku, rasa hangat menjalar kalau makanan lembek itu masuk ke usus besarku. Rupanya aku memang lapar.
*****
"Luluk! Kamu sudah baikan? Kok kerja lagi?" ucap Pak Bos berdiri di ambang pintu.
"Su-dah, Pak," jawabku takut, mengingat bagaimana tatapan sengitnya, saat meeting tadi.
"Oh, laporanmu tadi sudah saya tanda tangani, bisa folow up sekarang."
"Ya Pak, makasih!"
"Hhh...." aku menarik nafas lega, Pak Bos tidak marah-marah seperti yang kubayangkan.
*****
Seminggu berlalu, sejak aku memutuskan break dulu dengan Reyald. Laki-laki itu beberapa kali mengirim pesan padaku, menanyakan kabar, atau sekedar menggombal. Tapi ku abaikan, aku memilih fokus menyelesaikan proyek Pak Maher.
Tak kupungkiri ada yang hilang dalam hatiku. Tanpa kehadiran Reynald, aku merasa hampa.
"Luk, kamu ikut saya meeting di Mahkota Resto, ya?" Pak Bos tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.
"Jam berapa, Pak?"
"Meetingnya jam 11:00, kita berangkat sekarang."
"Sekarang? Diani ikut juga?" Aku dan Diani itu satu paket, tiap ada meeting biasanya selalu berdua, tapi kali ini kok?
"Diani menangani proyek gedung perkantoran. Perusahaan kita lumayan banyak tender ini, kita harus bagi-bagi tugas," ucap Pak Bos, seolah bisa membaca fikiranku.
"Dah, berangkat sana!" ucap Diani, dengan menaikan sebelah alisnya. Entah apa maksudnya.
Sampai Resto, kami menuju meja yang sudah kami reservasi. Masih kosong, kliennya belum datang, alhasil aku berdua saja dengan Pak Bos.
"Kita terlalu awal, sepertinya Pak," ucapku basa-basi.
"Ya nggak pa-pa, kita tunggu saja, sebentar lagi mereka juga sampai," jawab Pak Bos, lalu sibuk dengan gawainya.
Aku melihat sekeliling, orang-orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Dari arah pintu masuk, aku lihat seorang kurir masuk membawa paket, dia berjalan melewatiku menuju kasir, tapi anehnya dia menatapku.
Kalau dilihat sekilas, perawakannya mirip Reynald. Tapi tidak mungkin, Reynald bekerja sebagai sales di show room mobil terkenal, aku pernah diajak ke kantornya.
Sedang asik berselancar ke dunia maya, tiba-tiba ada yang menarik kasar tanganku.
"Oh.... jadi ini alasanmu minta break dulu?" ketus laki-laki bermasker yang memakai seragam J&*.
"Rey---Reynald?"
"Kenapa? Kamu kaget, terciduk sedang selingkuh?" sinisnya.
Reynald mendorongku hingga punggungku membentur dinding.
"Aku lagi ada meeting, Rey," sergahku.
"Meeting berdua aja?"
"Rey, lepas! Malu dilihat orang." Reynald terlihat marah, tangannya mencengkeram daguku, membuatku ketakutan.
"Lepaskan dia!" Rupanya Pak Bos mengikuti kami dari belakang.
"Jangan ikut campur orang lain!" balas Reynald sengit.
"Hanya laki-laki pengecut, yang kasar pada perempuan!"
"Nggak usah banyak bacot!"
"Rey, dia bosku. Jangan buat aku dipecat," lirihku, berharap bisa meredakan emosi Rey.
"Diam kamu!" bentak Rey, "laki-laki ini harus dikasih pelajaran!" Rey melayangkan satu pukulan pada Pak Bos, spontan aku menjerit minta tolong. Perkelahian tak terelakkan, Pak Bos dan Rey beradu kekuatan.
"Tolong! Tolong!" teriakku histeris. Tak lama karyawan dan sekuriti resto datang, melerai perkelahian.
Pak Bos dan Rey, berhasil dilerai. Sekeruti berhasil menyeret Rey keluar, sementara aku mendekati Pak Bos, yang mukanya lebam-lebam.
"Bapak nggak pa-pa? Saya minta maaf," ucapku merasa bersalah.
"Kita kembali ke meja, lihat! Klien sudah datang," ucap Pak Bos dingin, tanpa menoleh padaku.
Hatiku seketika menciut, takut Pak Bos marah dan aku dipecat.
"Ya Allah... aku rela putus dari Rey sekarang juga, asal jangan dipecat." Doaku dalam hati.
Bersambung....
Yang mau memberi krisan monggo, dipersilahken.