Bab 1

Seorang pria tengah duduk di kursi kebesaran miliknya. Mata dengan iris coklat madunya sedang menikmati pemandangan kota di sore hari, pemandangan indah yang tersaji dengan apik di kaca raksasa yang menjadi dinding di ruangan kantor miliknya.

Kedua tangan pria gagah itu tiba-tiba mengepal dengan kuat, otot-otot tanganya keluar ke permukaan karna kuatnya kepalan tangan itu. Itu di sebabkan karna ia menerima sebuah laporan yang tidak menyenangkan dari anak buahnya.

Suasana ruangan yang semula biasa saja, kini berganti 190 derajat seperti diselimuti awan gelap. Aura kegelapan menguar dari tubuh pria itu.

Aura menakutkan yang dimiliki pria itu seketika muncul menyelimuti tempat ini.

Pria itu bangkit mengambil pistol disaku jas miliknya. Mencondongkan ke atas dan mencium ujung pistolnya sambil bersandar di dekat jendela.

"Sepertinya kita akan mendapatkan mainan baru clerd." Alexzno menyebut pistol kesayangannya dengan sebutan Clerd.

Mata Alexzno memerah menahan amarah yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

" Beraninya Robert berkhianat padaku apa dia benar benar sudah bosan hidup?" murka Alexzno.

Rahang Alexzno mengeras menandakan ia sedang marah.

Ia benci sekali dengan penghianatan.

"Bawa tikus kecil itu kemari!" suara Alexzno terdengar datar tapi terkesan menakutkan.

"Baik Boss." Jawab sang anak buah. Mereka kemudian pergi untuk menyeret seseorang yang telah membuat atasannya marah.

Ia duduk di kursi kebanggan miliknya, kedua bola matanya terpejam. Alexzno mulai mengatur ketenangan jiwa dan pikiran yang mulai terusik.

Ada sebuah alasan,mengapa Alexzno sangat membenci penghianatan. Dulu ketika masih kecil, dia melihat dengan kedua bola matanya sendiri. Ketika kedua orang tuanya bertengkar hebat. Pertengkaran itu disebabkan oleh sebuah penghianatan yang dilakukan sang ibu kepada ayahnya. Dari situ Alexzno mulai membenci sebuah penghianatan.

Ibunya menikah dengan papanya karna sebuah perjodohan bisnis. Arthur sangat mencintai Marissa sejak pertemuan pertama. Tapi sayang Marissa tidak mencintai Arthur , Marissa terpaksa menerima perjodohan ini, karna Dia diancam oleh kedua orangtuanya yang gila akan kekayaan dan kekuasaan.

Hati Marissa begitu sakit dengan pernikahan ini , sehingga membuat Marissa melampiaskan semua benci dan amarahnya kepada Arthur.

Arthur begitu overprotektif terhadap kebebasan Marissa . Membuat Marissa tertekan, muak sekaligus menimbulkan rasa benci yang teramat dalam kepada diri Arthur.

Marissa yang tak suka dengan Arthur selalu mencari masalah yang berujung pertengkaran. Mereka bertengkar hampir setiap hari. Marissa selalu membanding-bandingkan Arthur dengan teman prianya.

Arthur juga punya batas kesabaran. Arthur merasa muak jika dibanding-bandingkan dengan pria lain. Karna emosi Arthur dengan paksa meminta haknya sebagai suami sah dari Marissa. Membuat Marissa semakin membenci Arthur.

Akibat sentuhan malam itu, membuat Marissa mengandung benih Arthur dan melahirkan seorang anak kecil yang diberi nama Alexzno.

Itulah alasan mengapa Marissa juga membenci darah dagingnya sendiri. Kehadiran Alexzno tidak diinginkan oleh Marissa. Tetapi Arthur sangat mengiginkannya, membuat Marissa bersumpah tak akan pernah menyayagi Alexzno selamanya.

Marissa melampiaskan amarah dan kebencianya kepada Alexzno, yang notabenya tak tahu apa-apa. Hidup Alexzno kecil penuh dengan kebencian dan makian yang dilontarkan kepadanya.

Namun Alexzno selalu diam dan tak membantah sedikitpun perkataan atau cacian dari mamanya. Tetapi di dalam hati Alexzno,tumbuh benih-benih kebencian terhadap perempuan. Benih-benih itu semakin berkembang menjadi sebuah gunung kebencian yang berada dihati Alexzno.

Diamnya Alexzno kecil membuat Marissa tak tahan, hingga suatu ketika Marissa memilih membawa pacar sekaligus selingkuhanya secara terang-terangan kerumah Arthur. Dan Marissa memilih pergi meninggalkan rumah itu bersama selingkuhannya.

Hingga saat ini Alexzno selalu membenci perempuan. Alasan yang membuat dia membenci perempuan berawal dari mamanya sendiri.

Baginya seorang perempuan adalah manusia paling rendah dan hanya alat pemuas nafsu semata.

Keluarga yang tak harmonis, seorang istri yang menghianati suami, ibu yang seharusnya menjadi seorang panutan namun malah menjadi contoh buruk bagi Anaknya. Menjadikan karakter Alexzno menjadi dingin dan tak tersentuh.

Kenangan-kenangan buruk itu sekarang menjadi memori yang membekas dihati Alexzno dewasa, memori itu mengakar di dalam dirinya sehingga sulit dihilangkan dari memori otaknya. Pahitnya kehidupan yang dijalaninya menjadi trauma untuk dirinya yang sulit untuk disembuhkan.

Itulah yang membuat Alexzno cenderung berfikir untuk membuat orang lain bisa merasakan sakit yang telah dia rasakan. Alexzno tidak pernah memikirkan perasaan orang lain. Dia begitu masa bodo dengan perasaan orang lain. Dia hidup bukan untuk memikirkan atau mengasihani hidup orang lain , dia tidak akan membiarkan orang lain menginjak harga dirinya sedikitpun. Berani bermain dengannya maka nyawamulah imbalannya.

Ketampanan yang begitu luar biasa mempesona seperti dewa yunani, hanyalah topeng untuk menutupi iblis yang bersarang di dalam jiwa dan hatinya . Hanya dalam jentikkan jari Alexzno mampu menghancurkan gedung-gedung pencakar langit beserta isinya.

Suara rintihan orang yang terluka tidak akan pernah membuyarkan keteguhan hatinya. Baginya teriakan pilu dan jerit tangis adalah hal yang paling indah di dalam episode-episode hidupnya. Dia tidak akan berbelas kasihan kepada orang-orang yang telah menyingungnya atau menginjak harga dirinya. Mengharap belas kasihan dari Alexzno sama saja mengharap bintang jatuh.

Matanya terbuka. Manik-manik coklat madunya terlihat datar. Irish mata yang begitu mempesona yang sangat pas untuk menambah kesempurnaan wajahnya, namun juga bisa berubah mematikan bagi yang mencoba mengusiknya.

Sambil menunggu datangnya sang anak buah, dia mengeluarkan clerd, sang pistol kesayangan. Menggelapnya dengan penuh kasih sayang. Pistol ini adalah senjata kesayangan miliknya, yang telah menjadi teman setia bagi Alexzno dalam bisnis narkoba yang telah dijalankannya.

Kurang dari 10 menit pintu ruangan itu terbuka. Dua orang berbadan tegap, berotot,dan berpakaian serba hitam datang dengan menyeret seseorang yang terlihat menyedihkan. Kemejanya terlihat kusut dan di wajahnya terdapat luka-luka memar akibat pukulan.

Alexzno tidak terganggu dengan kehadiran anak buahnya dia masih asik dengan Clerd si pistol kesayangan. Dia membersihkan Clerd dengan pelan dan hati-hati. Alexzno memperlakukan pistolnya seperti barang antik yang mudah pecah. Dia begitu sayang dengan senjata ini, bagi Alexzno pistol ini adalah separuh hidupnya.

Dua orang anak buah Alexzno hanya melihat Tuannya, mereka tak berani mengusik kegiatan yang sedang dijalani Tuannya. Setelah terlihat begitu bersih Alexzno meletakkan Clerd ke dalam saku jas kembali.

Alexzno memandang datar pada orang yang menunduk dengan tatapan lesu, wajahnya terlihat pucat pasi dan banyak bekas luka di wajahnya.

"Wow ternyata nyalimu besar juga Robert." Alexzno memandang Robert dengan senyum menyerigai di wajahnya.

Pria yang duduk lemas di lantai itu tahu, bahwa senyuman dari Alexzno bisa membuatnya tidak bisa lagi membuka mata untuk melihat dunia. Di dalam hati Robert begitu ketakutan dan was-was akan sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.

"Tuan Alexzno , tolong maafkan saya. Saya akui saya memang salah."ucap Robert dengan sura gemetar dan ketakutan.

"Maaf?" Alexzno mengulang lagi kata keramat itu. Dia begitu muak dengan mulut pria yang berada di depannya.

" Setelah apa yang kau lakukan kepadaku beraninya kau minta maaf padaku."

Bughhh!.... Alexzno menendang dada Robert dengan keras sampai tubuhnya terhuyung kebelakang.

" Maafkan saya Tuan, saya mohon, tolong beri saya kesempatan sekali lagi."Robert segera bangkit dan memegang kaki Alexzno.

" Seharusnya saya tidak menghianati Tuan dan bekerja sama dengan Tuan Smith, Saya menyesal Tuan Alexzno, Saya mohon maafkan saya Tuan." Robert mengiba kepada Alexzno.

Robert segera menyadari kesalahan yang telah dilakukannya. Sebelum hukuman yang diterima menjadi lebih berat lagi.

" Bagi saya tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat seperti kamu." ucap Alexzno dengan wajah merah padam.

" Saya mohon Tuan, tolong berikan saya kesempatan kedua." Robert tidak pantang menyerah, Dia harus bisa memohon belas kasihan dari Alexzno.

Alexzno menggerakkan kakinya dengan keras membuat tangan Robert terlepas dari kaki Alexzno. Dia mendorong keras tubuh Robert hingga membentur dinding.

Alexzno juga melayangkan tinjunya ke wajah Robert membuat sudut bibir Robert pecah dan mengalirkan darah segar. Keadaan Robert sungguh mengenaskan.

Alexzno berjongkok untuk mencengkram kerah kemeja Robert.

" Apakah orang sepertimu masih pantas untuk di M.A.A.F.kan?Cihhh.. Dasar tikus kecil menjijikan."

Alexzno berkata sambil meludah dengan jijik.

" Victor!" suara Alexzno menggelegar memanggil sang asisten kepercayaannya.

"Cepat bereskan tikus menjijikkan ini! Saya sudah muak melihat wajahnya." Alexzno berdiri dan membenarkan jasnya.

Dia menggelap jasnya dengan tissu yang berada di meja , Alexzno menggelap jasnya seakan habis terkena kotoran. Alexzno berjalan ke arah tempat duduk. Dan mendudukkan pantatnya di sana. Alexzno memutar-mutar kursi kebangaannya ke kanan dan ke kiri.

" Baik boss." jawab Victor.

Victor menghampiri Robert untuk menyeretnya keluar dari ruangan ini. Victor menyeret Robert yang telah tak berdaya ke luar ruangan. Sebelum sampai di pintu ruangan seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam ruang kerja Alexzno.

Bab 2

Alinda melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri Robert. Hati Alinda begitu miris dengan kabar yang diterimanya tentang keadaan daddy.

Alinda buru-buru ke lokasi tempat daddynya berada. Butuh usaha untuk sampai di tempat ini, karna harus melewati penjagaan yang ketat. Dan alangkah terkejutnya Alinda ketika melihat sang daddy yang terlihat menyedihkan.

"DADDDYY..." teriak Alinda dengan kencang.

Robert menegok ke arah pintu dan betapa terkejutnya Robert ketika melihat Alinda sang putri berada di sini.

"Apa yang kau lakukan kepada daddyku! cepat lepaskan dia." Alinda berteriak histeris di ruangan ini. Air matanya luruh dipipi.

" Apa kalian disini tak punya hati huh, memperlakukan orang tua seperti ini?"jerit Alinda.

Alinda memandang Victor yang masih berada di sampingnya dengan tatapan permusuhan.

" Daddy tidak apa-apa nak , ini memang harga yang harus dibayar untuk kesalahan yang daddy lakukan." Robert tak kuasa melihat putri semata wayangnya menangis tersedu-sedu.

Semua yang berada diruangan ini terdiam dan tak ada yang bersuara sedikitpun. Mereka semua hanya memandang Alinda.

Victor memegang tangan Robert dan bersiap untuk menyeretnya untuk ke luar dari ruangan ini.

"Ayo cepat berdiri." Victor menarik tangan Robert dengan kasar.

"Jangan aku mohon jangan! Lepaskan daddyku aku mohon." rengek Alinda.

Victor tak memperdulikan rengekan Alinda. Victor sudah siap untuk mengambil pistolnya dari dalam saku.

Alinda yang melihat itu segera menagis tersedu-sedu.

Mata Alinda menangkap sosok yang duduk santai di atas kursi. Alinda berpikir pasti orang itu adalah Boss dari tempat ini. Tanpa pikir panjang, Alinda berdiri sambil menangis dan berjalan ke arah Alexzno yang terlihat asyik memainkan ponselnya.

Dia duduk bersimpuh dikaki Alexzno. Alinda memohon dikaki Alexzno. "Aku tak tahu apa masalah yang telah diperbuat oleh daddy, Tapi Aku mohon tolong maafkan kesalahan daddy, beri dia satu kesempatan untuk hidup."ucap Alinda dengan memohon.

Alexzno menatap wajah Alinda, dalam hati, Alexzno mengagumi kecantikan yang Alinda miliki.

" Kalau dia ku lepaskan apa yang akan kamu tukarkan kepadaku untuk menggantinya?" tanya Alexzno.

Alexzno mencoba untuk memberi tawaran kepada Alinda.

"Apapun yang Tuan minta. Saya akan berikan, termasuk hidup saya." Alinda menjawab dengan suara yang mantap sambil mendongakkan wajah melihat ke dalam iris coklat madu milik Alexzno.

Alexzno memandang wajah Alinda dengan datar." Benarkah kamu mau memberikan apapun untukku? Termasuk kehidupan yang kau miliki?" Alexzno bertanya dengan senyum menyeringai.

" Iya Tuan, saya berjanji kepada Tuan. Tetapi Saya mohon lepaskan daddy. Jika Tuan bersedia melepaskan daddy, maka saya akan menyerahkan semua yang saya miliki kepada Tuan, termasuk hidup saya. Saya berjanji demi arwah Mommy saya." Alinda berkata dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan. Matanya bahkan tak berkedip ketika mengucapkannya.

Alinda tidak tahu bahwa saat ini dia tengah menggali kuburannya sendiri.

"Apa yang kau lakukan nak, kamu jangan bodoh, Dia itu manusia yang tak punya hati. Daddy mohon jangan sia-sia kan hidupmu untuk daddy , daddy tak ingin hidupmu menderita nak." protes Robert. Robert tak setuju jika Alinda menyerahkan hidupnya kepada Alexzno.

" Tenanglah Dad , Daddy jangan khawatir Alinda bisa jaga diri Alinda sendiri. Yang penting daddy sekarang bisa selamat."

"Oke. Karna putrimu ini mau menggantikan posisimu maka aku akan mengampuni dirimu Robert! Tapi ingatlah bahwa sekarang HIDUP putrimu adalah milikku." Alexzno berkata final.

Alexzno memanggil anak buahnya."Victor! bawa keluar si tua bangka ini dan lepaskan dia." Alexzno memberi perintah kepada anak buahnya.

"Baik boss." Victor berkata dengan patuh. Victor kemudian menyeret Robert paksa untuk keluar dari ruangan ini.

Sementara di ruangan ini hanya tinggal Alexzno dan Alinda. "Sesuai dengan kesepakatan kita ,mulai sekarang hidupmu dan tubuhmu adalah milikku, aku akan memperlakukanmu sesuka hatiku, kamu harus menerimanya dan tak punya hak untuk menolak."

Alexzno tersenyum sinis. Di otaknya dia sudah memiliki rencana untuk mainan cantiknya ini.

@@@@@@@

Mobil hitam yang di tumpangi oleh Alinda telah sampai di depan mansion yang sangat mewah. Alinda menurunkan kaki jenjangnya ke pelataran manssion. Suara ketukan dari high hells hitam itu menambah keindahan kaki milik Alinda. Alinda melangkahkan kakinya pelan ke dalam mansion yang berada di depannya.

Alinda membuka pintu utama dan langsung di sambut oleh salah satu pelayan rumah ini.

" Selamat datang di kediaman Tuan Alexzno Z'king ,nona Alinda.

Perkenalkan nama saya Alana dan saya adalah pelayan yang ditugaskan untuk melayani anda." ucap sang pelayan dengan formal.

"Baiklah Alana, perkenalkan saya Alinda. Senang bisa berkenalan denganmu." Alinda menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Alana.

Alana menerima uluran tangan Alinda dengan kikuk. Alana belum terbiasa berjabat tangan dengan majikannya.

" Iya Nona, saya juga senang bisa berkenalan dengan anda." Alana melepaskan salaman tangan mereka.

"Mari ikuti saya Nona. Saya akan menunjukkan kamar Anda."

"Baiklah." jawab Alinda. Alinda mengikuti langkah kaki sang pelayan yang bernama Alana.

Setelah melewati beberapa lorong yang panjang, akhirnya mereka tiba di salah satu ruangan. Alinda menebak di dalam hati, mungkin ini adalah kamarnya. Mata Alinda melihat pintu ruangan di depannya. Dan benar ini adalah kamar milik Alinda.

Ruangan yang begitu besar dengan pintu kayu yang memiliki kualitas bagus dan mewah.

Cklekkkk.... sang pelayan itu membuka pintu besar di depannya.

"Mari silakan masuk Nona." ucap sang pelayan.

Alinda melangkahkan kakinya untuk memasuki kamar tersebut. Hal pertama yang Alinda tangkap dari ruangan ini adalah kemewahan.

" Nona, di sana semua perlengkapan Nona sudah tersedia. Mulai dari tas, baju dan perhiasan sudah tersusun rapi di sana." Tangan sang pelayan itu menunjuk ke arah ruang wardrobe yang berada di ruangan ini.

"Terima kasih Alana."

"Apakah Nona sekarang membutuhkan sesuatu?" tanya Alana.

" Tidak Al, mungkin saya akan beristirahat." jawab Alinda.

" Ya sudah , kalau begitu saya pamit undur diri. Jika Nona membutuhkan sesuatu tolong panggil saya."

"Baiklah." jawab Alinda.

Alana keluar dari kamar milik Alinda, menyisakan Alinda sendirian di kamar ini.

Alinda mendudukkan pantatnya di tepi ranjang yang berukuran king size. Alinda menyusuri sprei yang berwarna putih itu dengan tangannya. Terasa Lembut dan nyaman, kesan pertama yang Alinda dapat ketika menyentuh sprei itu. Mata Alinda teralihkan ke jendela yang berada di kamar ini.

Kaki Alinda berjalan ke arah jendela yang memiliki gorden dengan warna gold. Alinda mengumpulkan kain gorden menjadi satu dan menyibaknya dengan sekali hentakan tangan agar bisa terbuka dengan sempurna. Mata Alinda langsung dimanjakan dengan pemandangan kolam renang raksasa yang begitu indah. Air kolam itu berwarna biru, sebiru iris mata Alinda yang menyejukkan.

Di samping kolam renang terdapat meja dan kursi yang indah. Itu sangat cocok di pakai untuk berjemur di pagi hari. Sungguh ini adalah rumah yang menyerupai istana. Alinda kagum dengan semua kekayaan yang Alexzno miliki.

Setelah puas melihat pemandangan di luar jendela. Alinda berganti melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Alinda tergoda untuk menikmati segarnya air yang akan memanjakan kulitnya. Alinda langsung pergi ke kamar mandi untuk berendam. Dia mengisi bath up dengan air dan sabun yang melimpah. Sungguh Alinda sudah tak sabar untuk berendam di dalam bath up ini.

Dia melepaskan baju yang masih menempel di badannya. Melangkah kakinya segera untuk masuk ke dalam bath up untuk berendam. Alinda sangat menikmati waktunya ketika berendam sampai lupa waktu. Entah berapa lama dia berendam, kulitnya sudah menjadi dingin dan busa di dalam bath up sudah mulai hilang. Dia begitu asyik berendam sampai lupa waktu.

" Nona Alinda, Anda di tunggu Tuan di meja makan."pelayan itu berkata sambil mengetuk pintu kamar mandi.

" Baiklah, tunggu sebentar, saya sudah selesai." ucap Alinda sambil berteriak dari dalam.

Alinda bergegas membilas tubuhnya dibawah guyuran shower dan langsung memakai bathrobe yang berada di kamar mandi. Alinda secara terburu-buru melangkah ke dalam walk in closet dan memakai pakaian dengan acak. Alinda takut jika Alexzno telah lama menunggu dirinya di meja makan.

Setelah selesai Alinda keluar kamar dan bergegas turun kebawah. Dan benar saja Alinda melihat Tuan rumah yang sudah duduk diujung meja.

Alinda segera mempercepat langkahnya untuk sampai ke kursi. Setelah sampai Alinda menarik salah satu kursi dan mendudukkan pantatnya di kursi tersebut.

"Selamat malam Tuan." sapa Alinda dengan senyum manis.

Alexzno melihat Alinda sekilas dan mengangguk sebagai jawaban dari Alinda.

Para pelayan kemudian menyajikan hidangan-hidangan untuk makan malam di atas meja. Banyak sekali hidangan yang tersaji malam ini. Alexzno sengaja menyuruh kokinya untuk memasak menu yang banyak. Alexzno belum tahu makanan kesukaan Alinda, jadi Alexzno menyuruh koki untuk memasak semuanya.

"Silakan makan. Pilih makanan yang kamu suka." ucap Alexzno dengan datar.

"Terima kasih Tuan." jawab Alinda.

Acara makan pun dimulai mereka makan dengan diam. Sesekali mata Alinda memperhatikan Alexzno yang sedang makan.

'ckck...kenapa tuhan begitu baik menciptakan monster yang begitu tampan seperti malaikat tapi hatinya seperti iblis, apakah tuhan menciptakan monster ini dalam keadaan bahagia ' gerutu Alinda dalam hati. Matanya menatap wajah Alexzno.

"Bisakah kita berbicara ?" Alinda memberanikan diri membuka mulutnya untuk berbicara.

"Katakanlah!" jawab Alexzno datar.

Nyali Alinda sedikit menciut mendengar nada dingin dan tatapan menyeramkan dari Alexzno.

"Sebenarnya berapa banyak kerugian yang Anda tanggung karna ulah daddyku? Emm... aku bekerja. Bisakah aku mencicil kerugian yang di buat oleh daddyku tanpa harus terkurung disini?" Alinda mencoba bernegoisasi dengan Alexzno.

Alexzno menghentikan acara makan malamnya. Dia bersedekap dada memandang Alinda dengan tajam.

" Sampai kapan kamu mau mencicil hah ? 10 tahun? 20 tahun? Kamu pikir aku punya banyak waktu untuk mengurusi uang recehanmu itu ?" berang Alexzno. Alexzno merasa di permainkan emosinya hari ini oleh Alinda.

Alinda menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut. Alinda mencoba menekan rasa gugup yang menderanya saat ini.

." Tuan, Anda begitu kaya raya, uang anda juga sangat banyak. Aku yakin kerugian yang daddy saya perbuat tidak akan menghabiskan harta anda. Bagaimana jika anda bermurah hati untuk membebaskan saya." Alinda mencoba menampilkan senyum manis miliknya untuk sedikit melunakkan hati Alexzno.

Dan sayangnya senyum manis milik Alinda tidak berfungsi untuk Alexzno hari ini. Alexzno merasa Alinda telah mempermainkannya.

" JANGAN MIMPI KAMU NONA." desis Alexzno.

" Bukankah kita sudah membuat perjanjian. Jika kau lupa Nona, kamu sendiri yang telah menjaminkan hidupmu untuk kebodohan tua bangka itu, dan sekarang kamu tidak memiliki hak lagi untuk hidupmu. Mengertilah posisimu nona jangan menguji kesabaranku dan pembicaaran ini selesai." Alexzno mengakhiri sepihak.

"Ta--tapi tunggu dulu Tuan." Alinda menahan Alexzno yang hendak meninggalkan kursinya.

Alexzno menatap mata Alinda dengan dingin. Sungguh Alinda telah melebihi batasannya.

"Terus saya di sini harus ngapain Tuan? Apa tugas yang harus saya kerjakan untuk melunasi hutang daddy saya?" tanya Alinda kepada Alexzno.

Alexzno mendegus, wajahnya terlihat muram." kamu mau tahu apa tugas yang harus kau lakukan di sini?" desis Alexzno.

Alexzno menampilkan senyum evil miliknya.

Dan alarm bahay muncul di kepala Alinda karna melihat senyum evil milik Alexzno.Alinda terdiam kaku sambil menunggu jawaban yang keluar dari bibir Alexzno.

"Aaakhhhhhh...." Alinda terpekik kaget karna Alexzno tiba-tiba mengangkat Alinda ke pundaknya. Membawa tubuh Alinda ke lantai atas hingga sampai di sebuah ruang yang Alinda yakini adalah kamar milik Alexzno.

Alinda mencoba memberontak namun sia-sia karna perbandingan tubuh yang tak seimbang.

"Turunkan saya Tuan." pekik Alinda.

Alexzno tak menggubris Alinda sama sejali. Dia mendorong pintu dan menghempaskanya tubuh Alinda dengan kasar ke atas ranjang. Dia melucuti pakaian Alinda dengan kasar. Menyentuhnya dengan kasar. Dia mulai menjilati leher Alinda sampai turun ke payu*ara Alinda. Menghisap puncaknya dan mengigit dengan keras.

"Akhhh." Jerit Alinda.

"Jangan lakukan ini Tuan, saya mohon." Alinda mencoba mengiba pada Alexzno. Namun Alexzno tak mengubris Alinda sama sekali.

Perlawanan dari Alinda tidak berarti apa-apa bagi Alexzno. Karna perbandingan ukuran tubuh yang jauh berbeda. Dia bahkan sudah menyatukan tubuhnya ke inti tubuh milik Alinda.

"Aaakkkhhhhhh." ringis Alinda.

Rasa sakit yang luar biasa dirasakan oleh Alinda. Jelas sakit,karna ini yang pertama bagi Alinda dan ia mendapatkan yang pertama ini dengan sangat kasar dan tak terhormat. Air matanya tak lagi bisa di bendung. Air matanya jatuh berceceran, suara desahan dan erangan dari Alexzno membuat hatinya ingin meledak. Sebenarnya jenis monster seperti apa Alexzno ini!?

Setelah puas dengan tubuh Alinda, Alexzno mengeluarkan cairan miliknya di atas perut Alinda. Alexzno segera merapikan pakaianya kembali.

"Kamu mau tahu apa tugasmu di sini kan? inilah tugasmu mulai hari ini. Maka bersikap baik dan patuhlah kepada Tuanmu. Karna aku tak segan-segan membunuh daddymu jika kau tak menuruti perintahku!"

Alinda masih terkulai lemas di atas ranjang. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "KAU BINATANG!" berang Alinda.

Alinda berteriak keras tepat di depan wajah Alexzno.

"Wow berani sekali kau berteriak hah? SEORANG SLAVE TAK PANTAS MENINGGIKAN SUARANYA!" Alexzno berkata sambil menarik rambut Alinda dengan keras. Matanya memerah menandakan dia sedang marah.

Alinda tidak takut dia balik menatap mata Alexzno dengan tajam yang penuh dengan uraian air mata. Kilatan matanya menunjukkan amarah dan juga kebencian.

" Siksa aku, siksa aku sampai kamu puas. Sampai kapanpun aku tak akan takut padamu."

Alexzno melepaskan tanganya dengan kasar. Dia menatap mata Alinda sesaat dan Bummm ...dia keluar dari kamar dan menutup pintu dengan kasar.

Bab 3

'Ya tuhan... mengapa hidupku jadi seperti ini'. Hati Alinda menjerit pilu dengan jalan hidup yang dia lalui sekarang. Air mata tak henti menetes dari matanya yang sembab. Dia turun dari ranjang melangkah ke kamar mandi. Dia menggosok kasar badannya. Dia merasa jijik dengan tubuhnya. Setelah selesai mandi dia berbaring di atas ranjang.

Pagi telah datang namun mata Alinda sama sekali tidak bisa dipejamkansedikitpun. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap dia memejamkan matanya perlakuan dari Alexzno selalu terbayang di pikiranya.

Alinda segera berdiri menuju kamar mandi. Entah sudah berapa kali Alinda mandi dalam semalam. Entah berapa kali dia mencoba membersihkan tubuhnya , namun dia masih merasa kotor. Demi tuhan, dia bahkan masih merasakan tangan Alexzno yang mengerayangi tubuhnya. Tapi dia harus kuat demi daddynya. Dia menata dan menguatkan hatinya kembali. Dia mengangap semua ini adalah bentuk baktinya kepada daddy yang merawatnya penuh sayang dari kecil.

"Nona, Tuan menunggu anda untuk sarapan di bawah". Lenna memberitahu Alinda.

"Saya sedang tidak enak badan." Alinda menjawab dengan lemah.

"Apakah nona mau dibawakan sarapannya ke kamar." Lenna bertanya lagi.

Alinda menjawab dengan menganggukkan kepala. Badan Alinda terasa tidak enak sekarang, Badannya terasa meriang, mungkin ini efek mandi berkali-kali tadi malam.

Pelayan itu keluar dari kamar Alinda untuk mengambilkan sarapan pagi.

"Tuan, Nona sedang tidak enak badan. Nona menyuruh saya mengantarkan sarapan ke kamarnya." Pelayan itu melapor pada Alexzno.

"Hmm, bawakan saja apa yang Dia minta. Pastikan Nona memakan sarapannya dan meminum obat."

"Baik Tuan." jawab sang pelayan.

Sang pelayan segera menggantarkan sarapan ke kamar Alinda.

Alana meletakkan sarapan di atas nakas. Alana membangunkan Nonanya, yang sedang meringkuk di atas tempat tidur.

"Nona. Bangunlah sarapan dulu dan minum obatnya."

Pelayan itu memberi tahu Alinda.

Alinda hanya mengeliat dan melihat dengan malas mangkok yang berisi bubur. Dia tidak bernafsu makan sama sekali.

" Baiklah, nanti akan saya makan. Kamu keluarlah, Saya ingin beristirahat." jawab Alinda.

"Baik Nona."

Pelayan itu undur diri dan meninggalkan Alinda sendirian di kamar.

Alexzno menyelesaikan sarapan paginya. Setelah sarapan dia melangkah ke lantai atas untuk melihat keadaan Alinda.

Alexzno membuka pintu kamar Alinda. Alexzno melangkah masuk ke dalam kamar Alinda. Mata Alexzno melihat mangkok bubur yang masih penuh di atas nakas. Itu tandanya Alinda belum menyentuh buburnya sedikitpun.

Hatinya menggeram marah dengan kelakuan Alinda. Dia menyibakan selimut dengan kasar.

" Cepat bangun dan makanlah! Aku tak ingin ada orang yang menyusahkan di dalam rumahku."

Alinda menatap tajam mata Alexzno. Kenapa orang ini tak membiarkan dirinya tenang sejenak. Kenapa orang ini selalu menganggunya?

Tanpa banyak kata Alinda mengambil mangkok bubur dan memaksakan diri untuk menelan bubur itu. Dirinya terlalu malas berhadapan dengan monster menyebalkan seperti Alexzno.

Alinda bersikap patuh untuk saat ini. tapi jangan salah, di dalam hati Alinda saat ini ia sedang mengucapkan umpatan dan sumpah serapah yang di tunjukkan kepada laki-laki bermuka datar yang sedang berada di sampingnya.

Alexzno memandang dengan awas setiap gerakan Alinda yang menyuapkan bubur ke dalam mulutnya. Diam-diam bibir Alexzno tertarik sedikit , sangat sedikit hingga tak terlihat. Dalam hati, Alexzno menyukai kepatuhan yang di tunjukkan perempuan ini.

Setelah memastikan buburnya habis. Alexzno memandang wajah Alinda, Dia membungkukkan wajahnya tepat berada di depan wajah Alinda, Nafas hangat Alexzno menerpa wajah Alinda. Dan tanpa aba-aba Alexzno menyambar bibir Alinda , Alexzno melumat dan menghisap bibir Alinda dengan pelan.

Sesekali Alexzno mengigit kecil bibir milik Alinda. Mata Alinda melotot kaget dengan kelakuan Alexzno, Dia masih belum terbiasa dengan serangan yang tiba-tiba dari Alexzno.

Alinda secara reflek memukul dada Alexzno. Alinda merasa nafasnya akan hilang jika Alexzno tak melepaskan bibirnya.

Alexzno dengan tidak rela mengakhiri ciuman dibibir Alinda. Dia menatap sayu mata Alinda. Hasrat dalam dirinya selalu bangkit jika bersentuhan dengan Alinda.

"Ahemm." Alexzno berdehem untuk menetralkan hasratnya. Dia mengusap bibir Alinda dengan ibu jarinya sambil berkata.

"Bibir manis ini punyaku, dan seluruh tubuhmu hanya milikku jadi jangan pernah punya fikiran untuk lari dariku. Jika kau berani lari dariku, Jangan salahkan aku jika kakimu nanti tidak utuh lagi." Alexzno berkata dengan nada datar. Bibirnya membentuk senyum . Senyuman yang menunjukkan aura yang mematikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED