~Soraya~
Aku bukan manusia super kuat, penuh sabar, dan penuh maaf. Meskipun aib ini masih kugenggam tanpa siapa pun tahu kecuali Tuhan dan dua pelakunya, aku butuh waktu mendinginkan kepala untuk tetap berpikir jernih.
“Ini, buat bayar kos. Saatnya kamu belajar bertanggung jawab pada diri sendiri. Aku sudah lepas tangan,” tekanku pada April di kamarnya sore ini. Saat ia baru pulang dengan sangat terlambat dari kampus.
Satu juta rupiah untuk bekal ia keluar dari rumah. Masalah lain harus belajar dipikirkannya sendiri. Anak kampung tak tahu diri ini harus sadar kalau apa yang diperbuat itu salah, dan aku sama sekali tidak menerima perbuatannya.
Tak menjawab satu kata pun April mulai menyiapkan barang-barangnya.
“Mau ke mana Kak April, Ma?”
Lewat depan kamarnya yang terbuka lebar aku dan April saling pandang, tampak ia tersenyum pada Syifa yang memang cukup dekat dengannya hari-hari.
“Kak April mulai nanti tinggal di kos dekat kampusnya,” jawabku.
“Kenapa pindah, Ma? Yahh gak asyik, aku kan suka jalan sama kak April.”
“Syifa, ayo mama antarin lesnya. Tuh bentar lagi mulai.” Aku menunjuk jam hampir pukul 2.
Anak ketigaku itu menurut, ia gegas menyambar tas.
“Oh ya biasanya jalan ke mana aja sama kak April itu?” Di mobil aku mengorek informasi.
“Kita pulang sekolah kadang mampir dulu ke rujak es krimnya Mang Adul, Ma.”
Syifa bilang kalau April yang bayar.
“Trus kalau pulang les kita sering sempatin juga jalan ke bawah jembatan Kahayan, Ma. Nongkrong bentar.”
Kuelus kepala Syifa. “Nongkrong? Ngapain aja itu? Mama belum pernah nongkrong,” ujarku setengah bercanda.
“Gak ngapa-ngapain, sih, cuma lihat air sambil cemilin batagor goreng. Kak April juga yang traktir. Kadang kita bareng banyak kawannya ketemu di sana. Ohya ada kawan Kak April itu mukanya mirip Kim Bum. Cakep banget!”
“Kim Bum?”
“Itu yang jadi Yi Rang di film Korea Tale Of Gumiho.”
Hah?! Aku kemudian tertawa kaku. Mungkinkah aku sudah terlalu tua sampai tidak tahu siapa orang yang disebut Syifa.
“Tau cakep juga nih sekarang?” alihku menyeimbangi pembicaraan putri remajaku ini.
“Iya dong, Ma. Kalau masih suka sama lawan jenis kan artinya normal.”
Itu kalimatku dulu saat kakaknya mulai suka lawan jenis, dan diulang oleh remaja 15 tahun ini dengan semringah. Di tengah masalah Mas Danang aku juga tengah bergelut menjaga putri-putriku yang beranjak remaja.
Sepanjang jalan kami ngobrol santai seperti biasa, tapi kali ini aku lebih banyak jadi pendengar. Dikhianati dengan seseorang yang jauh lebih muda membuatku merasa … agh tidak, aku masih cantik dan segar, hanya mungkin aku kurang paham dunia anak muda saja, wajar ini karena puluhan tahun ini fokus pada membangun usaha kami. Aku tak boleh merasa rendah diri.
“Ma, kelewat!”
“Oh!” Kaget, refleks kuinjak rem, sampai terhenti. Untung laju mobil santai dan jalanan lengang sehingga tak membahayakan.
“Mama kok melamun?”
“Enggak, Fa. Ini tadi mama gak lihat pinggir.”
Sedikit mundur kuarahkan kendaraan ke halaman lab Bahasa tempat les Syifa.
“Nanti mama juga kah yang jemput?”
Gadis bermata kecil ini bertanya sebelum turun.
“Iya dong. Kita boleh nongkrong bentar nanti pulangnya, mama akan ajak Denok juga.”
“Wahh, oke, Ma. Syifa seneng banget. Kita cuci mata bareng biar seger,” celotehnya membuatku tertawa lepas.
“Cuci mata ya pake air. Bukan liat cowok cakep.”
“Haha. Dah, Ma. Assalamuallaikum.” Ia mencium tanganku, lalu turun.
"Waallaikumsalam ...."
Sejenak menatap punggung Syifa, aku kembali kulajukan mobil ke rumah. Apa si April itu sudah pergi?
.
.
“Mau ke mana, Mas?”
Di halaman Mas Danang membuka lebar bagasi mobil.
Sebelum menjawab ia melirik putriku Denok tengah membawa kipas angin, menaruhnya ke bagasi. Ternyata sudah penuh barang April di situ.
“Ma, ayok antar Kak April pindah ke rumah baru kita.”
Rumah baru? Aku saling pandang dengan Mas Danang.
“Pak Sam. Antarkan mereka, nanti aku nyusul,” perintah Mas Danang pada supir yang biasa di pabrik malah ada di sini.
Kutahan gemuruh di dalam dada melihat Denok ceria ikut masuk ke mobil bersama April. Orang yang dulu kusayangi seperti anak itu melewati tubuhku begitu saja seolah tanpa melihat. Diri merasa remuk dijatuhkan oleh sikapnya.
Bagaimana ia lupa kalau sebelum ini dirinya itu siapa?
Xpander hitam itu melaju meninggalkan halaman.
“Kita bicara, Mas!” lirihku penuh tekanan pada lelaki yang menatapku datar itu.
Ia masuk, aku mengikutinya. Pintu kukunci, lalu tarik tangannya ke kamar.
Ruang tempat kami memadu kasih 21 tahun lamanya, juga ruang tempat kami menyelesaikan masalah dalam suara rendah. Karena kamar ukuran 5 x 6 inilah rumah tangga yang kami bangun bagai surga untuk anak-anakku. Tidak pernah ada keributan, kata kasar apalagi piring terbang. Aku selalu mampu meredam tiap goncangan bersamanya. Untuk kali ini aku merasa sudah tak yakin.
“Apa maksudnya rumah baru, Mas?” Aku bertanya tepat di depan mukanya. Menelisik apa yang ada di pikirannya.
Ia membalas tatapanku. Awalnya terlihat ragu namun kemudian seperti menantang.
“Kalau kamu pindahkan April ke kos apa kata orang, Dik?”
“Lalu?”
“Aku beli rumah Haji Idris yang belum laku itu.”
“Apa, Mas?!” Derap jantungku bertalu. Tangan terkepal gemetar.
“April itu bagian keluarga kita. Aku beralasan ia pindah menjaga rumah baru itu.”
Bola mataku panas tapi pada bibirku yang gemetar ini malah keluar senyum miring.
“… a-apa ini sudah Mas Danang rencanakan? Mana mungkin beli rumah dadakan trus langsung bisa ditempati, Mas. Kapan bersih-bersihnya? Kapan deal harganya? Baru tadi aku suruh April ke luar pergi .…” Gemetar hebat kutahan emosi yang mau meledak. Kubiarkan air mata kembali berderai.
Ia terdiam menghindar tatapan mataku.
“Mas beli rumah itu diam-diam?” Menggeram kuat menahan diri membuat rahangku sampai terasa kaku.
“… iya, sebulan lalu.”
Ingin kudorong dadanya, menjadi pembunuh dengan menghajarnya membabi buta. Sungguh, baru kutahu ia lelaki tak berperasaan. Kenapa aku baru menyadari sekarang? Ia yang berubah ataukah mataku selama ini tertutupi cinta?
Kepatuhanku sudah disalahgunakan. Kelembutanku menghadapinya justru makin membuat ia menyerang diri sampai sebegini tak berkutik. Ia tahu aku pasti akan berusaha keras yang terbaik untuk anak dan dirinya, karena itu ia terlihat santai dengan kesalahan ini.
Ya Allah … apa aku masih sanggup menahan diri?
“Dik … aku akan menikahi April … tolong berikan restumu.”
Bagai ada pisau tumpul menusuk dada, memaksa sampai menembus hati terdalam. Aku ingin menjauhkan mereka, agar dosa itu terhenti, tapi kenapa … ia malah ingin menggapainya ….
“Poligami lebih baik daripada aku berzinah, Dik.”
Belum puas, ia menaburkan lagi segenggam garam di atas lukaku.
Susah payah kuraup udara agar tetap sehat dan sadar. Aku wajib menyadarkan diri bahwa lelaki ini memang manusia tercela sekarang ini. Harus kulepaskan rasa cinta yang menggunung, menaruh kembali pada tempatnya.
“Apa aku memang tak mampu lagi memuaskanmu, Mas? Sampai kamu butuh dia?” Kutelan rasa perih ini.
“Maaf, pahami aku … pikiran ini masih berdosa.”
Kuhela napas panjang. Baiklah, aku paham maksudnya. Bayangan yang lebih muda dan segar pastilah selalu melekat di benak.
“Beri waktu aku berpikir, Mas ….”
Ia menyentuh pundakku sembari meminta maaf, lalu keluar. Tak lama terdengar suara mobil meninggalkan halaman.
Tubuhku yang duduk di sisi ranjang langsung luruh, terbaring pada kasur penuh kenangan. Nyeri ini luar biasa sakit. Tak terbayangkan, seseorang yang pernah tulus kusayang telah sukses merebut hati belahan jiwa.
Isakku semakin reda. Menyakiti diri dengan tangis sejadi-jadinya sama sekali tak akan berguna. Bukankah di sana pasti mereka tengah tertawa? Hahaa, baiklah mungkin saatnya aku harus ikut berbahagia.
~Soraya~
Kuminta waktu untuk berpikir, menjanjikan paling lama sebulan. Waktu yang terlalu cepat untukku memutuskan, tapi mungkin akan menjadi waktu terlama untuk mereka yang tak sabar akan konaknya. Ah, manusia, betapa dosa menjanjikan keenakkan sampai kau mengabaikan segalanya.
Memohon-mohon ia meninggalkan niat mendua sepertinya tak akan mempan. Terlihat Mas Danang mulai sering menghilang dan desas-desus tentang mereka pun bermunculan.
“Mama Almira, itu kok April pindah sering dikunjungin Denok sama bapaknya?”
“Iya dengar-dengar bapaknya Almira pernah datang sendiri malah, ngantar sesuatu gitu. Hati-hati loh zaman sekarang biar kayak anak sama bapak tetap bisa tertarik.”
“Hu uh, Mbak Aya, bisa kejadian itu. Aku juga ngilu lihat akrabnya April sama Mas Danang, kok lain gitu ya tatapan matanya, beda kalau sama anak sendiri kan kelihatan banget dari mata, Mbak.”
Saat kumpul arisan warga sebulan sekali ini, aku malah dihujani rentetan pertanyaan dan tanggapan ibu-ibu dengan kabar itu. Terlebih Mas Danang absen datang, tak seperti biasa. Bahasan mereka mulai dari kenapa April pindah, juga Mas Danang sering tercuri mengarahkan kendaraan ke rumah bekas Pak Idris itu kutanggapi senyum saja. Sebab kenyataannya memang begitu. Aku sudah tak kaget lagi.
“Ibu-ibu doain saja yang terbaik.” Satu-satunya kalimat tanggapanku.
“Lah kalau beneran gimana Mama Almira ini, nggak cukup doa aja sebaiknya sebelum terjadi dicegah dulu. Jangan dibiarin!”
“Bener, Mbak. Sebelum terlambat kayak istrinya Pak Dul yang sampe kelahi di jalan itu ya gara-gara dibiar-biarkan, eh malah mlendung benaran.”
Sudah terlanjur terjadi, mau dicegah bagaimana?
Para emak-emak yang kepo menembakiku dengan ribuan tanya lain. Ah, lihat ini, Mas. Aku sudah berusaha menutupi, tapi kamu sendiri yang tak bisa menahan diri.
Keputusan memang sudah terselip di benak, tinggal siapkan diri untuk tidak menangis saat waktu itu tiba. Luka hati sudah tak berbentuk, ia hanya bertahan untuk bisa tetap melihat senyum anak-anak.
*
Bertukar pikiran dengan seorang teman yang berprofesi sebagai notaris, aku ingin menyelamatkan hak anak-anak. Sebab selentingan kabar April tengah belajar nyetir, dan Mas Danang menanyakan mobil seorang teman yang dijual. Itu pasti ada hubungannya.
Rekening dan ATM dua usaha kami semua atas namaku, karena selama ini aku yang mengatur keuangan. Milik Mas Danang rasanya hanya kartu kredit dan ATM bersama yang dipinjam waktu itu dariku, isinya tak seberapa. Entah darimana uang untuk bayar rumah Pak Idris itu diam-diam, jawabannya belum jelas dan malah terlihat menghindar. Baiklah aku tak ingin tahu itu, yang pasti safetybox aman.
Merasa tak mungkin menahan semua sendiri aku membuka dialog dengan orangtua Mas Danang yang sudah berumur. Terpaksa, bagaimanapun mereka pasti juga akan tahu. Ibunya menangis meminta maaf, beliau tahu perjuangan kami berdarah-darah di awal dulu.
“Apa pun keputusanmu, Aya … emak rido, semua di tanganmu. Cuma satu permintaan emak, jangan sampai anak-anakmu benci Danang. Bagaimana pun bapaknya akan menjadi wali pernikahan mereka nantinya. Tolong jangan sampai hati mereka terluka ….”
Aku pun berpikiran sama, Mak. Cukup aku saja yang berdarah jangan anak-anak, walaupun tak terhindarkan sakit itu pasti ada, dan aku hanya mengurangi.
Di rumah anak-anak mulai mencecar tanya, memang tak mungkin kusumpal telinga mereka untuk tak mendengar isu di luar. Apalagi Mas Danang menghindari mereka, mungkin karena tak punya jawaban.
Pada si sulung yang beranjak dewasa aku cukup mudah menjelaskan apa yang akan terjadi setelah ini. Kami sempat bertangisan lama via video call. Lalu pada tiga putriku di rumah, kumulai perlahan dengan lebih mengakrabkan diri pada mereka. Nonton drakor kesukaan Syifa, ikut renang kecintaan Naya, dan mengalihkan kemanjaan Denok di malam hari biasa pada April kini padaku.
Waktu berkualitas bersama mereka membuatku merasa kembali remaja, menyeimbangkan obrolan dengan keseruan topik asing di telinga. Yah, walaupun belum begitu nyambung, aku merasa cukup sukses melakukannya.
Dua minggu berlalu, mereka terlihat siap menerima berita buruk ini. Sengaja kuajak mereka nginap di hotel Aqua, sebuah hotel bintang empat di kota ini. Dalam kondisi tenang dan senang kami berempat kumpul, duduk melingkar di atas bed ukuran king.
“… jadi … Ayah akan nikah dengan Kak April?!”
Walaupun perlahan kuungkap tetap saja Naya dan Syifa tersentak, keduanya langsung menangis memelukku. Dalam isak kami kuyakinkan kalau semua akan baik-baik saja. Semua akan tetap seperti semula. Tidak ada yang akan berubah.
“Apa kami akan panggil Kak April Mama juga?” Si bungsuku bertanya dengan polosnya.
Aku tersenyum, mengecup keningnya penuh rasa. “Tidak harus, kalian tetap seperti biasa saja.”
Naya dan Syifa sudah menyeka air mata, tapi memeluk lenganku kiri kanan.
“Mama beneran gak apa …?”
Lagi-lagi aku tersenyum. “Ayah ingin bahagia dengan menambah keluarga baru. Kita ingin lihat Ayah bahagia ‘kan?”
Hanya Denok yang mengangguk, sementara Naya dan syifa menatapku penuh tanya. Entah apa yang ada di pikiran mereka sekarang.
*
Hari ini kurasa sudah waktu yang tepat. Tidak harus menunggu sebulan Mas Danang mendengar jawaban.
Aku melajukan mobil ke rumah itu. Rumah yang dibeli untuk April, dan sudah kuurus balik nama atas Almira. Kebetulan surat lengkapnya masih di tangan Pak Idris karena ternyata baru dibayar separuh.
Mas Danang sempat marah besar terlebih saat tahu pemasukan usaha kami kubekukan dalam satu rekening.
“Kenapa tanpa persetujuanku?!” desisnya geram, tentu tanpa terdengar dari luar kamar.
“Kalau rumah itu kan aku yang lunasin sisanya, Mas. Itu jadi hak Almira. Kebetulan dulu pernah janji belikan rumah untuknya. Bukannya janji adalah utang?” sahutku waktu itu dan membuat mukanya merah.
“April biar belajar mencintai Mas Danang dari nol. Ingat kita dulu gimana merintis, Mas,” lanjutku tetap setenang mungkin.
“Dulu ya beda, kita belum punya apa-apa-“
“Dan, aku bertahan karena cinta pada Mas Danang yang tak punya apa-apa. Rela berbagi mie instan sebungkus untuk berdua. Itu bukti cintaku, Mas. Kalau April minta Mas nikahi
karena cinta, biar ia mulai semua dari awal.”
Hari itu ia pergi tanpa kata dan makin betah di luar rumah. Sudah pasti ia ke sini, itu mobilnya terparkir tenang di halaman.
Buta oleh cinta Mas Danang terlihat tak punya malu. Akulah yang merasa malu atas kelakuan mereka ini, malu atas nama anak-anak.
Pintu depan setengah terbuka, aku masuk tanpa salam. Terlihat satu set sofa baru dengan meja kaca bulat dialasi taplak sulam mawar. Kapan mereka belanja? Uang dari mana?
Mas Danang kaget lihat aku sudah sampai dapur. Mereka sepertinya habis makan. Lelaki yang mulai tumbuh satu dua helai uban di kepalanya itu habis cuci tangan. Dan April baru keluar dari kamar mandi terhenti sejenak melihatku.
Jadi Mas Danang pilih makan di sini?
“Dik … ada apa?”
Ada apa katanya? Aku hampir tertawa.
Mata ini bergantian melihat dua orang itu. Terutama perempuan yang mengenakan celana kain di atas lutut cuek mulai membersihkan meja. Seolah aku makhluk tak terlihat.
Hebat kamu, Mas. Belum dapat jawaban dariku sudah berani berduaan begini? Apa Mas gak pikirkan apa kata orang-orang? Di mana rasa malu itu?”
“Mas … aku ke sini mau jawab setuju Mas Danang nikahi April ini. Aku tetap bertahan, dan dia itu akan jadi maduku.” Kutekan kalimat terakhir.
Mas Danang terlihat lega. Sementara April memasang muka masam, sudah pasti ia berharap aku diceraikan.
“Aku yang akan nikahkan kalian malam ini juga.” Kutatap April yang terlihat terkejut, menunjuk mukanya.
“Kamu, datang nanti bada magrib. Aku sudah siapkan kejutan buat kalian, yah sebuah pesta kecil-kecilan. Semua warga harus tahu kan kalau kamu akan jadi maduku. Bukankah begitu, Mas?” Aku beralih lagi pada Mas Danang yang sekejap kaku.
“Dik … kami sudah nikah siri di kampung April. Tidak perlu undang-“
Kutahan rasa sesak yang langsung menyengat. Rupanya benar tidak sabar mereka. Diri ini sudah tak dianggap.
“Kalau nikah diam-diam orang tidak tahu kalau April maduku, Mas. Bukankah kamu memang mau diakui kan April? Gak enak lo nanti kalian dikira kumpul kebo!”
Merah padam muka Mas Danang.
“Datang nanti malam. Aku sudah undang tetangga, Mas. Ini cara terbaik untuk menjaga wajah Mas Danang tetap dierhitungkan orang. Biarkan kalian nikah dua kali atau tiga kali, itu tak masalah. Aku mau anak-anakku menyaksikan kalau pernikahan itu ada, bukan hubungan terlarang ayahnya. Jangan egois, Mas! Apa yang mereka dengar dari orang lain itu lebih menyakitkan dibanding ini!”
Aku berbalik, melangkah cepat ke luar dengan perasaan tak karuan, dan bola mata ini perih dan memanas. Berusaha kulawan nyeri, sayang kalau harus menangis lagi. Bukankah anak-anak lebih suka kalau aku tertawa. Soraya, kamu pasti kuat …!
Beberapa tetangga melihat heran ke sini, aku mengangguk kecil sambil melempar senyum kaku sebelum masuk mobil. Biarlah mereka menduga-duga. Aku sudah tak sabar melihat dekor rumah dan ramainya ibu-ibu berkumpul di rumah nanti, menyaksikan bagaimana kunikahkan suamiku.