Bab 1

“Kakak mau kamu dan Adhis bercerai. Mau sampai kapan kamu berumah tangga dan tidak punya anak, Nendra!” begitulah suara teriakan dari dalam rumah megah milik Adhisty yang terdengar nyaring di telinganya. Bak disambar petir di siang bolong, Adhisty Charity yang baru saja pulang dari supermarket itu tidak sengaja mendengar percakapan Aswan Ganendra— suaminya, dan Trimega—kakak iparnya.

Dari balik pintu utama rumahnya, Adhisty menguping sebanyak yang ia bisa, tetapi semakin lama, semakin banyak hinaan yang terdengar di telinganya hingga Adhisty memutuskan untuk pergi menuju sebuah kedai kopi di dekat rumahnya.

Adhisty kembali memasuki mobilnya dan melajukan kuda besi itu menuju kedai kopi Dandelion. Di sana lah ia bisa dengan tenang menjernihkan pikirannya. Masih terdengar jelas perkataan dari iparnya tadi, sebuah perintah bercerai yang begitu mudah diucapkan iparnya itu membuatnya sangat muak. Adhisty merasa selama enam tahun pernikahannya, keluarga Nendra terlalu ikut campur dengan rumah tangga mereka hanya karena pernikahan mereka belum diberikan keturunan hingga saat ini.

Di kedai kopi, Adhisty memesan secangkir coklat hangat dan beberapa potong kue untuk membantu memulihkan tenaga dan mentalnya yang hancur siang ini. Tidak hanya kali ini Adhisty disakiti oleh keluarga Nendra, cacian dan hinaan sering sekali ia dengar, baik secara langsung maupun tidak. Bahkan adik Nendra pun sering mengolok-olok Adhis. Tania berdalih jika sebuah rumah tangga tidak diberikan keturunan, maka mereka sudah gagal sebagai pasangan suami istri.

Adhisty tidak habis pikir dengan isi kepala orang-orang semacam Mega, Tania, juga keluarga Nendra yang lainnya. Adhisty sudah berusaha menjadi seorang istri yang penurut, seorang ipar yang baik, juga seorang menantu yang sangat menghormati mertuanya. Padahal, untuk uang sekolah Arga—anak Mega, semuanya ditanggung oleh Adhisty. Sungguh tidak tahu malu.

Secangkir coklat hangat dan sepiring kue pun diantar oleh pelayan. Ya, bicara tentang secangkir coklat hangat, Adhisty kembali mengingat kejadian dua tahun lalu, sembari menyeruput coklatnya, bayangan kelam tentang dirinya dengan coklat melintas di otaknya.

Dua tahun yang lalu, ketika Mega dan Tania berkunjung ke rumah Adhisty, mereka meminta dibuatkan coklat hangat, lalu Adhisty menurutinya. Adhisty kembali dari dapur membawa dua cangkir coklat hangat dan beberapa camilan untuk mereka, Tania segera menyeruput coklat hangat yang disuguhkan oleh Adhis, tetapi Tania justru menyemburkan coklat hangat itu dari mulutnya dan mengenai baju putih Adhis. “Duh, Kak. Ini terlalu panas!” teriak Tania. Mendengar adiknya marah karena kepanasan, Mega langsung meraih satu cangkir coklatnya dan memasukannya ke mulut Adhis dengan paksa. “Kak, cukup,” lirih Adhis.

Batinnya menangis, Adhis merasa harga dirinya sangat terluka pada saat itu. Tania dan Mega merasa tidak puas karena merasa diperlakukan dengan buruk oleh Adhis, mereka berpikir bahwa Adhis sangat sengaja ingin menjahati mereka. Padahal, ketika Mega menyumpali mulutnya dengan coklat tadi, terasa hangat di mulut Adhis, tidak ada panas sedikitpun.

Mega dan Tania berkeliling di rumah Adhis, langkah mereka tertuju ke sebuah dapur yang cukup mewah. Mega meraih kursi dan menaikinya untuk membuka kitchen set yang begitu tinggi, ia melihat dan memilah bahan apa yang akan dibawa pulang ke rumahnya nanti. Lama mencari, matanya tertuju kepada sebungkus bubuk coklat dan bahan-bahan kue, tak lupa pandangannya tidak luput dari beberapa bungkus mi instan. “Kakak minta coklat bubuk itu dan sekardus mi instan dong, Dhis. Coklat bubuknya yang baru ya jangan yang sudah kamu pakai,” ucap Mega.

“Tapi Kak, mi yang di kitchen set kan tidak ada sekardus, lalu bubuk coklatnya hanya sisa itu saja,” ucapnya.

“Yang di kitchen set ya emang nggak sekardus, tapi di gudang kan kamu banyak simpan stok makanan, sudah kasih Kakak saja, di rumah Kakak ada Arga yang makan, katanya sayang sama keponakan? Bubuk coklatnya ya terpaksa Kakak bawa yang bekas kamu aja.”

Mega selalu berdalih tentang Arga jika ingin meminta sesuatu dari Adhis. Mendengar nama Arga, Adhisty selalu luluh, bagaimana tidak? Setiap kali melihat Arga, Adhisty selalu teringat akan dirinya di masa SMA. Ia tahu betul bagaimana pedihnya kehilangan kasih sayang dari orang tua, meskipun saat itu usianya sudah remaja tetapi tetap saja dunianya seakan runtuh. Bedanya, orang tua Adhis mengalami kecelakaan dan meninggal ketika dirinya masih SMA, sedangkan Arga, ayahnya adalah seorang pemabuk, penjudi, dan pemarah. Sehingga jarang sekali Arga mendapat kedamaian di rumahnya, setiap hari hanya melihat orang tuanya bertengkar.

Tidak cukup kakak iparnya yang meminta, Tania yang sudah hilang dari dapur itu rupanya berada di lantai dua rumah Adhis, tepatnya di kamar Adhis, memang sangat tidak sopan untuk seorang mahasiswi seperti Tania yang seharusnya mengerti adab dalam bertamu.

Tania berteriak dari lantai atas, tetapi tidak terdengar jawaban apapun dari Adhis. Tania merasa kesal lalu membuka lemari dan mengacak-acak baju yang sudah tersusun rapi di lemari kakak iparnya itu.

Setelah mengambil beberapa baju milik Adhisty, Tania kembali menuju lantai satu dan menemui kakaknya yang tengah duduk di sofa ruang tengah sambil menonton serial drama korea di layar yang berukuran 29 inchi.

“Kak Adhis kemana, Kak?” tanyanya.

“Dia lagi Kakak suruh ke gudang ambil sekardus mi, lagian rumah sebesar ini dan tinggal cuma berdua aja ngapain stok makanan banyak-banyak,” celetuk Mega mengundang tawa Tania.

“Iya, lagian di rumah ini juga nggak ada anak kecil, siapa yang mau habisin makanan sebanyak itu coba?” sambung Tania.

Adhisty rupanya sudah kembali dari gudang dan tidak sengaja mendengar percakapan dari iparnya. Namun, Adhisty berusaha tetap tenang dan sabar untuk menghadapi mereka. Adhisty membawakan sekardus mi itu di hadapan Mega, Mega tersenyum puas dan mengambilnya dengan kasar, “Nah gitu dong! Jadi ipar itu harus berguna,” ucapnya.

Adhis hanya bisa menghela napas, kali ini mata Adhis tertuju kepada sebuah tumpukan baju yang berada di atas sofa, menyadari itu adalah bajunya, Adhis lalu menanyakan hal itu kepada mereka, “Kenapa bajuku ada di sini?” tanyanya.

“Itu aku yang keluarin, Kak. Lagian baju sebanyak itu emang Kakak pake semua? mending kasih aku aja, Kak,” kali ini giliran Tania yang berbicara.

“Tapi kan Kakak masih mau pake baju itu, Dek.” Jawaban dari Adhis barsuan tentu saja membuat Tania merasa tidak senang.

“Halah, lagian baju butut kaya gini banyak kok Kak di pasar, pelit banget sih jadi kakak ipar, pantesan aja nggak punya anak, sama saudara aja pelit gimana sama anaknya nanti?” Tania lalu berpura-pura menutup mulutnya. Adhisty hanya terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Melihat suasana yang sudah tidak nyaman, Adhisty memilih pergi menuju kamarnya, begitu tiba di kamar, ia terkejut ketika melihat baju yang berserakan di lantai maupun di kasur. Ingin sekali rasanya berteriak, tetapi ia tidak enak karena iparnya masih ada di rumahnya. Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari lantai bawah, rupanya Mega berteriak meminta Adhis untuk memesankan layanan mobil online untuk mengantar mereka pulang. Dengan senang hati, Adhis langsung turun menuju lantai satu dan memesankan mobil untuk iparnya pulang.

“Astaga! ingatanku terlalu jauh,” monolog Adhisty yang baru saja menghabiskan coklat hangat dan kuenya. Mengingat kembali perlakuan mereka kepadanya membuat Adhis mengindikkan bahunya ngeri.

Alasan dirinya tidak bisa memiliki anaklah yang membuat keluarga Nendra berbuat sesuka hati. Adhis tiba-tiba memikirkan hal gila untuk menyelamatkan rumah tangganya, “Apa aku harus meminta Mas nendra menikah lagi?” gumamnya.

Adhis bergegas untuk segera pulang begitu pikiran gila itu menghantuinya. Ketika membuka pintu kedai kopi, seorang gadis yang baru saja memasuki kedai kopi terlihat sangat anggun dan begitu memikat perhatian Adhisty. “Tuhan, secepat itukah doaku dijawab olehMu?” gumamnya.

Bab 2

Adhisty ingin mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah dan masuk kembali untuk menemui gadis yang baru saja membuatnya terpana, tetapi ia segera tersadar dari lamunannya dan bergegas pulang untuk membicarakan dengan Nendra terlebih dahulu terkait keputusannya.

Setelah sepuluh menit menyetir, Adhisty sudah tiba di rumah. Adhisty mengucap salam dan langsung memasuki rumahnya, tetapi tidak ada satupun manusia terlihat di sana. “Rupanya Kak Mega sudah pulang, ya?” gumam Adhisty seraya menaruh tas kecilnya di sofa ruang tengah.

Adhisty menuju dapur untuk meletakkan barang belanjaan yang tadi ia beli di supermarket, ia juga mengambil segelas air untuk diminum, “Loh, Dek, ko pulang ga ucap salam?” tanya Nendra mengejutkan Adhisty dan membuatnya tersedak.

“Loh, tadi Adek sudah ucap salam loh, tapi rumah sepi banget, Mas juga dari mana saja?” giliran Adhisty yang bertanya kembali.

“Em, em ... anu ... Mas habis mandi tadi. Ya, habis mandi, hehe,” jawab Nendra setengah terbata-bata ketika menjawab pertanyaan dari Adhisty.

Melihat suaminya yang hanya berdiri, Adhisty menyuruhnya untuk duduk, ia mengambil lagi segelas air putih untuk Nendra, “Mas, diminum dulu, ada yang mau aku omongin,” titahnya.

Jantung Nendra berdetak sangat kencang ketika Adhisty mengajaknya untuk bicara. “Jangan terlalu tegang, Mas,” sambungnya lagi.

Nendra memperhatikan raut wajah Adhisty, sepertinya pembicaraan kali ini memang serius. “Ada apa, Dek? Kan setiap hari juga kita ngobrol,” timpalnya.

“Kali ini cukup serius, Mas.” Benar saja dugaan Nendra, firasatnya terhadap Adhisty tidak pernah salah.

“Ya sudah, mau ngomong apa?” Adhisty mencoba menghela napasnya sebelum berbicara kepada Nendra.

“Mas merasa kesepian nggak di rumah ini? Tanpa suara tangisan bayi, tanpa … ”

“Sudah cukup, Dek. Mas tahu arah pembicaraan kita mengarah kemana,” ucap Nendra yang tiba-tiba memotong ucapan istrinya.

Adhisty tidak berhenti begitu saja, ia melanjutkan lagi ucapannya yang terpotong oleh suaminya. “Adek tadi nggak sengaja dengar pembicaraan Mas sama Kak Mega, mungkin Kak Mega juga muak sama Adek yang nggak bisa kasih keturunan,” ucap Adhisty dengan lirih.

Suasana seketika hening, Nendra belum berkata satu kata pun kepada istrinya, “Adek nggak nyuruh Mas untuk menceraikan Adek, tapi Adek berpikir untuk menyuruh Mas nikah lagi. Dengan begitu, di rumah ini jadi ramai dan suasana menjadi hangat,” ucap Adhisty menambah keheningan siang itu.

Tetapi, Nendra masih saja diam membisu. “Mas, kok diam saja?” Nendra baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar namanya dipanggil.

“Iya, maaf, Dek.” Setelah selesai berpikir, barulah Nendra mau membuka mulutnya dan bersuara, “kita bicarakan lain kali saja ya, Dek. Mas lagi banyak pikiran, lagian Mas juga tidak mempermasalahkan kan selama ini kita punya anak atau tidak?” tuturnya.

Lagi-lagi, ucapan Nendra terdengar begitu manis di telinga Adhisty. Adhisty menuruti perkataan Nendra untuk tidak membahasnya, ia lalu membuka tas belanjaan dan mengeluarkan puding kesukaan Nendra yang tadi dibelinya di supermarket.

Ketika sedang asik menikmati pudingnya, dering telpon Nendra berbunyi, nama Anton tertulis di layar ponsel Nendra, lama ponsel itu berdering, tetapi Nendra tidak mengangkat telponnya membuat Adhisty bertanya-tanya. “Kok tidak diangkat Mas telponnya? Siapa tau penting?”

“Emm ii ... iya ... si Anton, biasa dia, ya, biasa dia, si Anton ini paling mau minjem duit, sudah biarin aja, Dek,” ucapnya tampak gugup dan secepat kilat mengubah topik pembicaraan dengan istrinya.

Siang itu berlalu begitu saja, waktu sudah berganti menjadi malam, Adhisty yang setiap harinya bekerja sebagai writer freelance tengah asik dengan pekerjaannya, sementara Nendra terlihat sedang berada di ruang tengah dan bercakap lewat ponselnya dengan seseorang.

Di kamar, dering telpon Adhisty berbunyi, rupanya sebuah pesan dari Mega masuk melalui ponselnya, “Dhis, kamu di dalam kan? Aku dari tadi ketuk pintu kok nggak ada yang buka?” Adhisty menaikan sebelah alisnya. Ia heran, padahal Nendra sedang di lantai bawah tetapi mengapa tidak mendengar suara ketukan pintu dari luar, sedang apa dia sebenarnya? Batinnya.

Tidak ingin memicu kemarahan Mega, Adhisty mengalah dan menuruni anak tangga untuk membukakan pintu, di ruang tengah, Adhisty melihat dan mendengar Nendra tengah asik berbicara di telepon, “Mas, lagi telponan sama siapa sih sampai kak Mega ketuk pintu kok ga kedengeran?” tanyanya.

“Oh ini sayang, lagi ngobrol sama Anton,” jawabnya singkat dan melanjutkan lagi pembicaraannya. Adhisty tidak peduli dan langsung membukakan pintu untuk kakak iparnya. Namun, seraya berjalan, Adhisty sempat dibuat heran oleh Nendra, tidak biasanya laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan sayang, dan lagi, Anton? Bukankah siang tadi suaminya tidak mau mengangkat panggilan dari Anton? “Ah sudahlah, mungkin Aku sedang capek aja,” monolog Adhis.

Krekk, begitu pintu terbuka, wajah masam Mega terpampang dengan sangat jelas, “Lama banget sih Dhis bukain pintunya, Aku digigitin nyamuk nih di luar,” cetus Mega.

“Iya maaf, Kak,” ucap Adhisty tidak ingin ribut.

“Kakak mau ambil jaket Kakak yang ketinggalan di sini, di mana jaketnya?” tanya Mega dengan sangat arogan.

Adhisty berpura-pura tidak tahu dengan kedatangan Mega siang tadi, lalu menanyainya, “Memangnya kapan Kakak ke sini?”

Mega terlihat panik merasa keceplosan, “Ah banyak tanya ya, Kakak tadi ada urusan sama suamimu, urusan keluarga,” jawabnya ketus.

“Ya kalau gitu Aku nggak tahu Kak di mana jaket Kakak, Kakak ke sini kan pas Aku tidak di rumah,” kali ini Adhisty mencoba untuk tidak tertindas lagi oleh kakak iparnya.

“Oh sudah berani ya sama kakak ipar sendiri?”

“Ya berani, ini rumahku, kenapa harus tidak berani? Justru Kakak yang harusnya punya sopan santun di rumah orang lain.” Mega merasa dirinya terpojok, dia lantas menerobos dan mencari sendiri jaketnya, begitu jaketnya sudah ditemukan.

Mega bergegas pergi dari rumah itu dengan sebuah kalimat menohok yang dilontarkan kepada adik iparnya, “Lihat suamimu, uruslah adikku, kasihan sekali sampai kurus begitu, malam-malam masih bekerja dengan kliennya hanya mencari nafkah buat kamu saja, ngurus suami aja ga bisa, apalagi ngurus anak, pantesan nggak dikasih anak sampai sekarang.”

Adhisty naik pitam, kesabarannya sudah habis, selama enam tahun hidup dengan Nendra, kali ini ia sama sekali tidak bisa menahan lagi amarahnya, ia lantas menjambak rambut Mega dan berteriak di depan wajahnya, “Ngaca! Urus saja rumah tangga Kakak, lihat suami Kakak, lihat rumah tangga Kakak, kasihan sekali, hidup menumpang sama Ayah, biaya sekolah Arga Aku yang bayarin, gatau diri.”

Aksi jambak-menjambak rambut terjadi cukup lama, teriakan demi teriakan saling bersahut membuat Nendra yang semula cuek karena sedang menelpon dengan seseorang itu langsung berlari menuju area pertarungan dan meninggalkan ponselnya begitu saja.

Nendra dengan tenaganya yang kuat akhirnya mampu memisahkan kakak dan istrinya dari pertikaian sengit yang berakhir seri itu.

Mega dengan rambut yang semraut pergi tanpa berpamitan dari rumah Adhisty, sementara Adhisty dituntun Nendra menuju ruang tengah untuk menenangkannya. Nendra kemudian pergi ke dapur mengambil segelas air untuk istrinya.

Di ruang tengah itu, Adhisty melihat layar ponsel Nendra yang masih menyala, Adhisty meraih ponsel itu dan melihat apa yang ada di layarnya, “Anton?” tanyanya. Rupanya, panggilan suara Nendra dan Anton di aplikasi hijau masih tersambung, ketika nama Anton disebut oleh Adhisty, panggilan suara itu pun tertutup.

Nendra sudah kembali dari dapur dan membawakan air putih juga coklat untuk Adhisty, “Terima kasih, Mas. Oh ya, kamu lagi telponan sama Anton, ya?” tanyanya.

“Oh iya, tadi Mas lagi telponan sama Anton, Dek.”

“Tapi kok fotonya perempuan, Mas?”

Degh! Jantung Nendra berdegup dengan sangat cepat, keringat turut bercucuran membasahi dahinya.

Bab 3

“Soal itu Mas tidak tahu, Dek. Mungkin gebetannya, atau sepupunya atau saudaranya bisa jadi,” timpal Nendra yang mencoba untuk terlihat santai.

Adhisty mengangguk mendengarkan perkataan Nendra. Kini, suasana hati Adhisy terasa lebih tenang dari sebelumnya. Adhisty bahkan mengungkit perkataan siang tadi yang belum selesai. “Mas, Adek mau lanjutin bahas obrolan tadi siang.” Tuturnya.

Nendra hanya terlihat pasrah ketika Adhisty membahas masalah yang sama. Tetapi kali ini Nendra mau mendengarkan istrinya.

“Setelah Adek pikir, mungkin kita harus bercerai, Mas.”

Suasana seketika hening, lalu beberapa saat kemudian Nendra bersuara, “Kenapa harus bercerai? Mas tidak mau bercerai dengan kamu, Dek. Mas sungguh menyayangi kamu, Mas tidak peduli kita memiliki anak atau tidak.” Tegasnya.

“Tapi kan Kak Mega dan keluarga Mas yang lainnya selalu merundungku, Mas. Aku tidak tahan dengan perlakuan mereka. Ditambah lagi tadi Kak Mega datang malah menyuruh Mas menceraikan aku,” Adhisty perlahan terisak. Tangisnya membasahi pipinya yang halus.

“Jadi kamu tidak nyaman sama mereka? kamu membenci mereka?” tanya Nendra.

“Tidak, Mas. Bukan begitu maksudku,” Adhisty merasa ucapannya telah salah kali ini dan menimbulkan kesalahan pahaman antara dirinya dan Nendra. Nendra tidak mau lagi mendengar omongan Adhisty dan berdiri hendak menuju kamar.

Tiba-tiba tangan kanan Nendra diraih oleh Adhisty dan menghentikan langkahnya. “Kalau Mas tidak mau menceraikan Adek, mungkin lebih baik Mas menikah lagi dengan wanita yang bisa memberikan Mas keturunan. Aku rela dimadu, asalkan wanita itu harus bersedia tinggal di sini.” Titah Adhisty kepada suaminya. Nendra tidak merespon dan berlalu menuju kamarnya.

Usai membicarakan masalah rumah tangga mereka malam tadi, pagi ini Adhisty dan Nendra tidak terlalu bertutur sapa meskipun duduk bersama di satu meja. Mereka menghabiskan sarapannya tanpa bertegur sapa satu sama lain, hingga akhirnya Adhisty mengalah dan mengajak Nendra bicara terlebih dahulu. “Mas, hari ini Adek mau pergi ke Dandelion cafe ya. Adek mau ketemu sama teman, mau bicarain antologi cerpen buat diterbitin di penerbitannya dia,” izin Adhisty kepada Nendra yang hanya dianggukinya saja.

Usai sarapan, Nendra berdiri dari kursinya dan segera berangkat ke kantor. Hari ini tampak berbeda dari hari sebelumnya. Semenjak Adhisty membicarakan soal pernikahan keduanya, Nendra menjadi lebih cuek dan dingin kepada Adhisty. Adhisty berpikir bahwa Nendra sedang marah kepadanya. Tetapi, Adhisty sudah tidak ada pilihan lain lagi selain membiarkan suaminya menikah lagi.

Setelah membersihkan dapur, Adhisty pergi ke kamarnya untuk membersihkan badan dan segera pergi menuju cafe, dia memilah baju seadanya di lemari dan bergegas menuju Dandelion cafe karena sudah ditunggu oleh temannya. Tidak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit setelah meninggalkan rumah, Adhisty sudah sampai di cafe itu dan segera turun dari mobilnya, ketika turun dari mobil, seorang perempuan manis tidak sengaja menabrak Adhisty dan membuat barang yang dipegangnya menjadi jatuh berceceran.

Dengan sangat sopan, gadis itu membantu Adhisty merapikan barang-barangnya. Pertama kali menatap gadis itu, Adhisty langsung terpana oleh kecantikan dan keluguannya, Adhisty hampir tidak berkedip dalam waktu yang cukup lama.

“Halo, Mbak. Apa ada yang sakit? Maafkan saya, saya tidak sengaja menabrak Mbak karena tidak memperhatikan sekitar,” ucap gadis manis berambut hitam lurus itu.

“Oh iya tidak apa-apa, Dik. Kalau boleh tahu nama Adik siapa?” tanya Adhisty dengan rasa penasarannya.

“Saya Dhafina, Mbak.” jawabnya singkat. Terlanjur terpesona oleh kecantikan dan kepolosan gadis itu, Adhisty memberanikan diri untuk meminta nomor telponnya. “Boleh saya minta nomor teleponmu, Dik?” Adhisty bertanya dengan sangat gugup dan hati-hati karena takut ditolak oleh Dhafina.

“Maaf, kalau boleh tahu untuk apa ya, Mbak? Kita kan baru kenal. Saya tidak memberikan nomor ke orang yang baru saya kenal.” Jawabnya.

“Em … anu … teman saya punya perusahaan kosmetik, dia sedang mencari model untuk memasarkan prodaknya. Saya lihat Adik cocok untuk pekerjaan ini, jika Adik keberatan, saya tidak akan memaksa,” seru Adhisty.

Namun, ajakan Adhisty rupanya mendapat respon baik dari Dhafina, ia dengan sukarela memberikan nomor telponnya kepada Adhisty. “Terima kasih, Dik. Oh ya, nama saya Adhisty. Salam kenal, ya. Saya sudah kirim pesan, tolong disimpan nomor saya di aplikasi hijau milukmu ya, Dik Dhafina.”

Mereka berdua pun berpisah dari tempat itu, Adhisty lalu melanjutkan langkahnya menuju Dandelion Cafe karena sudah ditunggu oleh Iren—temannya yang merupakan CEO dari Iren Publishing.

Setelah pertemuan dan urusannya dengan Iren selesai, Adhisty lalu kembali ke rumah. Di sepanjang jalan, dia memikirkan Dhafina yang baru saja ditemuinya, ia bergumam dalam hati, “Apakah ini jawaban dari do’aku selama ini, Tuhan?”.

Setelah berkendara selama sepuluh menit dari kedai kopi itu, Adhisty kini sudah tiba kembali di rumah. Pikirannya terus saja memikirkan Dhafina yang ditemuinya tempo lalu. Adhisty lalu merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai membuka aplikasi hijau untuk membuka profil Dhafina.

Seakan mendapatkan restu dari semesta, Dhafina terlihat sedang memasang sebuah status kata-kata bijak dan kutipan-kutipan tentang kehidupan. Adhisty semakin terpesona kepada Dhafina, Adhisty lalu mengunjungi laman media sosial Dhafina yang lainnya, karena di aplikasi hijau itu tercantum alamat media sosial Dhafina. Adhisty mengunjungi laman media sosial Dhafina hingga lupa waktu sampai-sampai dia tidak sadar bahwa Nendra sudah berada di sampingnya.

“Lagi apa sih, Dek? Mas datang kok sampai gak kedengeran?” protes Nendra. Adhisty terkejut dan segera bangkit dari tidurnya. “Maaf, Mas. Adek keasikan lihat media sosial Dhafina,” tutur Adhisty.

“Dhafina? siapa? Mas kok baru dengar nama itu?” tanya Nendra.

“Adek juga baru kenalan sama dia, Mas. Tadi pas Adek mau ke cafe, dia ga sengaja nyenggol Adek, eh malah kita kenalan deh. Orangnya baik loh, Mas. Manis lagi. Adek lihat di media sosialnya juga sepertinya orang baik, Mas.” Adhisty berbicara panjang lebar membuat Nendra mengantuk.

“Ihh Mas kok nggak dengerin Adek, sih?” rengek Adhisty kepada suaminya.

“Mas nggak tertarik Dek denger cerita kamu. Bagi Mas, kamulah yang tercantik di alam semesta ini, Dek,” gombalnya.

“Kayanya Adek bakal setuju sih kalau Mas menikahi Dhafina.” Bak disambar petir, Nendra terkejut mendengar perkataan istrinya.

“Mas capek, Dek. Mas tidak mau membahas ini lagi, ya. Cukup kamu saja di hidup Mas, oke? Lagian kamu harus hati-hati Dek, siapa tahu dia cuma baik di media sosial saja. Jangan sampai tertipu ya.” Nendra bergegas menuju kamarnya, tak lupa memberikan ciuman manis di dahi istrinya sebelum kakinya melangkah.

Di dalam kamar, Nendra merebahkan tubuhnya akibat lelah bekerja, Nendra masih memikirkan perkataan istrinya yang membuatnya terkejut. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat melalui aplikasi hijau kepada seseorang. [Bagus, Sayang. Rencana kita hari ini berhasil. Kamu sudah berhasil membuat Adhisty jatuh hati kepadamu. Aku sampai terkejut ketika dia menyinggungku untuk menikahimu.]

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED