Hujan baru saja reda ketika Selena duduk di ruang tamu rumah kecil peninggalan ayahnya. Bau tanah basah menyelinap masuk dari jendela yang tak tertutup rapat, bercampur dengan aroma kayu tua yang sudah mulai lapuk. Tangannya gemetar menggenggam selembar kertas tagihan, matanya menatap kosong pada angka yang tertera di sana.
"Tiga miliar," gumamnya pelan, hampir tak percaya.
Tiga miliar. Jumlah yang mustahil untuk dimiliki seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang bahkan baru saja dipecat dari pekerjaannya sebagai kasir supermarket.
Dari kamar belakang, terdengar suara batuk berat. Selena buru-buru bangkit, meletakkan kertas itu di meja, lalu masuk ke kamar kecil yang lembap. Di ranjang sederhana, ibunya terbaring lemah dengan tubuh yang semakin kurus dari hari ke hari.
"Selena..." suara ibunya lirih, nyaris tak terdengar. "Kamu sudah makan? Jangan hanya mengurus ibu."
Selena memaksa tersenyum, duduk di tepi ranjang, dan menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Aku sudah makan, Bu. Ibu jangan khawatir."
Padahal kenyataannya, perutnya sudah kosong sejak pagi. Ia lebih memilih menyimpan sisa uang receh untuk membeli obat batuk ibunya.
Batuk itu kembali menyerang, membuat tubuh sang ibu terguncang hebat. Selena cepat-cepat mengambil gelas air hangat yang tadi ia siapkan. Matanya berkaca-kaca melihat ibunya berjuang untuk sekadar bernapas.
Dalam hati, ia tahu penyakit ibunya semakin parah. Dokter sudah lama menyarankan pemeriksaan lebih lanjut, tapi bagaimana mungkin? Mereka bahkan tak sanggup membayar tunggakan listrik bulan lalu.
"Bu, maafkan aku," bisiknya sambil membelai rambut ibunya. "Andai Ayah masih ada, mungkin semuanya tak seberat ini."
Ibunya hanya tersenyum lemah, lalu memejamkan mata kembali.
Malam itu, Selena duduk sendirian di dapur yang remang. Lampu gantung redup berayun pelan diterpa angin dari celah jendela. Di hadapannya, tumpukan kertas-tagihan, surat peringatan dari bank, hingga ancaman penyitaan rumah.
Satu persatu ia baca ulang, meski ia sudah hafal setiap kalimat di dalamnya.
"Bagaimana caranya aku bisa dapat tiga miliar?" pikirnya.
Ia mencoba mencari solusi. Pinjam ke kerabat? Mustahil, mereka pun hidup pas-pasan. Menjual rumah? Itu satu-satunya tempat tinggal mereka. Menjual dirinya bekerja di pabrik? Upahnya tak akan cukup meski ia bekerja seumur hidup.
Air matanya menetes tanpa ia sadari.
Saat itulah ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari sahabat lamanya, Rina.
"Len, aku dengar kabar kamu lagi kesulitan. Aku... sebenarnya tahu cara cepat dapat uang. Tapi aku nggak yakin kamu mau."
Selena mengerutkan kening. Ia membalas singkat:
"Cara apa?"
Tak lama kemudian, balasan muncul.
"Ada orang kaya. Dia butuh 'teman' untuk satu malam. Bayarannya besar, bisa lunasi hutangmu. Tapi... kamu tahu maksudku kan?"
Jantung Selena berdegup kencang. Tangannya kaku memegang ponsel. Ia membaca ulang pesan itu berkali-kali, seolah berharap maknanya berubah.
Tapi jelas, Rina sedang menawarkan sesuatu yang tabu. Menjual kehormatan.
Keesokan paginya, Selena menatap wajah ibunya yang masih tertidur. Tubuh kurus itu, napas yang tersengal, dan rumah yang hampir disita... semuanya terasa seperti tali jerat di lehernya.
Air mata kembali jatuh. Hatinya berperang hebat.
Apakah ia harus melangkah sejauh itu? Menjual dirinya demi uang?
Namun apa lagi yang bisa ia lakukan?
Ketika ibunya batuk keras hingga hampir pingsan, Selena akhirnya membuat keputusan. Dengan tangan gemetar, ia membalas pesan Rina.
"Aku mau. Atur waktunya."
Hari itu hujan turun lagi, lebih deras dari malam sebelumnya. Selena berdiri di depan sebuah hotel mewah di pusat kota. Tubuhnya terasa kaku dalam gaun pinjaman dari Rina. Gaun hitam sederhana yang menempel pas di tubuhnya, membuatnya terlihat berbeda dari biasanya.
"Tenang saja, Len," bisik Rina yang berdiri di sampingnya. "Aku sudah sering dengar. Orang itu cuma butuh ditemani semalam. Setelah itu, kamu bebas. Dan kamu bisa bawa uangnya."
Selena menelan ludah. "Siapa dia?"
Rina mengangkat bahu. "Aku juga nggak tahu namanya. Yang jelas dia... sangat berkuasa. Jadi jangan macam-macam. Lakukan saja, lalu pulang."
Dengan langkah gemetar, Selena memasuki hotel itu. Aroma parfum mahal bercampur dengan suara sepatu hak tinggi yang berderap di lantai marmer. Ia merasa kecil, asing, dan hina di tempat semewah ini.
Seorang pria bersetelan hitam mendekat. "Nona Selena?" tanyanya datar.
Selena mengangguk pelan.
"Silakan ikut saya. Tuan sudah menunggu."
Jantungnya seperti ingin meledak. Setiap langkah terasa berat, seakan ia sedang berjalan menuju jurang.
Pria itu membawanya ke lantai paling atas. Sebuah pintu besar terbuka, memperlihatkan ruangan luas dengan jendela kaca yang menampilkan pemandangan kota penuh lampu.
Dan di sana, berdiri seorang pria.
Tinggi, berwibawa, dengan sorot mata dingin yang tajam menusuk.
Selena terpaku.
Inilah pria yang akan membeli malamnya dengan harga tiga miliar.
"Selena, ya?" suara pria itu berat, dalam, dan penuh kuasa.
Selena hanya bisa mengangguk, tubuhnya gemetar.
Pria itu menatapnya lama, lalu tersenyum tipis. "Baik. Malam ini kau milikku."
Kata-kata itu menusuk seperti belati. Selena merasa seluruh harga dirinya direnggut habis. Tapi ia tak punya pilihan. Demi ibunya, demi rumahnya, ia harus menjalani semuanya.
Malam itu, hidupnya hancur.
Dan ia tak pernah tahu, luka itu akan meninggalkan rahasia besar yang akan mengubah segalanya.
Selena berdiri kaku di depan pintu kamar suite mewah itu. Jantungnya berdetak terlalu keras hingga ia takut suara itu terdengar keluar. Pria tinggi itu-yang belum ia ketahui namanya-berjalan santai ke arah minibar, menuangkan segelas minuman, seolah-olah malam itu hanyalah rutinitas biasa baginya.
"Duduk," perintahnya singkat.
Suara itu tak meninggi, tapi penuh kuasa. Selena menurut, melangkah pelan menuju sofa besar di sudut ruangan. Tangannya saling menggenggam erat di pangkuan, berusaha menyembunyikan gemetar yang tak tertahan.
Ia bisa mencium aroma parfum maskulin yang tajam, berpadu dengan bau alkohol dari gelas kristal di tangan pria itu.
"Pertama kali?" tanyanya sambil meneguk minuman.
Selena menelan ludah. "I... iya."
Pria itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca. Senyum tipis tersungging di bibirnya, bukan senyum hangat, melainkan semacam tatapan puas karena melihat ketakutan di wajahnya.
"Bagus," gumamnya. "Aku lebih suka yang belum berpengalaman."
Ucapan itu membuat wajah Selena memanas, bukan karena malu, tapi karena rasa terhina. Ia ingin sekali bangkit dan pergi. Tapi bayangan ibunya yang terbaring lemah di rumah kembali menahannya. Tiga miliar... ia harus kuat.
Beberapa menit pertama terasa menegangkan. Pria itu duduk di hadapannya, menatap tanpa berkedip, seolah sedang menilai sebuah barang antik. Tatapannya menusuk, membuat Selena semakin meringkuk.
"Namamu Selena, benar?"
"Iya..."
"Cantik nama itu. Sama cantiknya dengan wajahmu."
Selena hanya tersenyum kaku. Pujian itu tak terdengar manis, melainkan seperti label harga yang ditempelkan pada dirinya.
Pria itu meletakkan gelas, lalu berdiri mendekat. Langkahnya pelan tapi pasti, membuat napas Selena tercekat. Ia bisa merasakan aura dingin menyelimuti tubuhnya ketika pria itu berhenti tepat di depannya.
Tangannya yang besar menyentuh dagu Selena, mengangkat wajahnya agar menatap. "Jangan takut," katanya pelan, tapi tatapannya sama sekali tidak menenangkan.
Selena menahan air mata. "Aku... aku hanya butuh uang itu," bisiknya lirih, seolah ingin menegaskan pada dirinya sendiri mengapa ia berada di situ.
Pria itu tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku sudah membayarmu dengan harga yang sangat mahal. Jadi malam ini, kau adalah milikku seutuhnya."
Ketika pria itu mulai menariknya bangkit, tubuh Selena kaku. Ia merasa seperti boneka yang digerakkan tanpa bisa melawan. Setiap sentuhan terasa asing, menusuk, dan menyakitkan. Bukan sakit fisik-meski itu juga ada-tapi sakit yang menghancurkan harga dirinya.
Dalam hati, Selena berteriak.
Apa yang kau lakukan? Mengapa kau biarkan dirimu sejauh ini?
Namun pikirannya kembali pada ibunya. Ia menggenggam erat gaun hitamnya, mencoba menahan gemetar.
"Aku tidak bisa..." suaranya pecah.
Pria itu menatapnya tajam, kemudian tersenyum sinis. "Kau sudah terlalu jauh untuk berkata tidak. Ingat, Selena. Tiga miliar bukan untuk melihatmu duduk diam semalaman."
Kata-kata itu bagai palu godam yang memukul kepalanya. Ia menutup mata, mencoba mengabaikan semuanya.
Malam itu terasa panjang, lebih panjang dari hidupnya sendiri. Selena merasa dirinya bukan lagi manusia, melainkan sekadar tubuh tanpa jiwa. Setiap detik berlalu dengan perasaan ingin kabur, tapi kakinya seperti terikat rantai.
Tangisnya pecah tanpa suara, hanya air mata yang membasahi pipi. Ia berusaha menahan isak agar tidak terdengar, tapi dadanya sesak.
Pria itu tidak peduli. Baginya, tangis itu hanyalah bagian dari permainan.
"Jangan terlalu drama," katanya datar, seakan sedang berbicara pada seorang aktor yang gagal memainkan peran.
Hati Selena remuk.
Entah berapa lama waktu berlalu. Pagi akhirnya datang, sinar matahari menyelinap lewat celah gorden tebal. Selena terbaring di sisi ranjang, tubuhnya terasa berat, kepalanya pusing, dan hatinya hancur berkeping-keping.
Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Malam itu... adalah akhir dari dirinya yang dulu.
Dengan tangan gemetar, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Pria itu sudah bangun lebih dulu, berdiri di depan jendela sambil merokok.
"Kau boleh pergi sekarang," ucapnya tanpa menoleh.
Selena bangkit pelan, berusaha menahan rasa sakit di tubuhnya. Ia meraih gaunnya, mengenakannya dengan tangan bergetar. Setiap gerakan terasa memalukan, seolah-olah ia sedang bersembunyi dari tatapan yang menelanjangi.
Saat ia hendak melangkah pergi, pria itu bersuara lagi.
"Jangan lupa. Aku sudah membayar tiga miliar. Itu bukan untuk satu malam saja. Kita akan bertemu lagi."
Selena berhenti di ambang pintu. Jantungnya kembali berdetak kencang. Ia menoleh, menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Tapi... kesepakatannya hanya semalam."
Pria itu menoleh, tersenyum tipis. "Kesepakatan menurut siapa? Ingat, Selena... mulai malam itu, kau milikku. Dan aku tidak akan berhenti sampai aku mengambil semuanya darimu."
Selena melangkah keluar kamar dengan tubuh gemetar. Begitu pintu tertutup, air matanya pecah tanpa bisa ditahan. Ia berlari menyusuri lorong hotel, seolah ingin melarikan diri dari neraka yang baru saja ia masuki.
Namun ia tahu, neraka itu belum berakhir. Malam itu hanyalah awal.
Dan luka yang ia bawa... bukan hanya di hati, tapi juga rahasia dalam tubuhnya yang perlahan tumbuh menjadi nyawa baru.
Langkah kaki Selena terdengar pelan ketika ia menuruni angkutan kota terakhir yang membawanya pulang. Matahari pagi sudah tinggi, panasnya menembus kulit meski angin masih lembap sisa hujan semalam. Tangannya menggenggam erat tas kecil yang kini berisi amplop tebal-bayaran untuk malam yang baru saja menghancurkan hidupnya.
Ia berjalan cepat melewati gang sempit menuju rumah. Setiap orang yang ia lewati terasa seperti menatapnya, seolah mereka tahu apa yang baru saja ia lakukan. Padahal tak seorang pun tahu. Itu hanya ketakutan yang menempel di hatinya, membuatnya ingin bersembunyi dari dunia.
Ketika akhirnya tiba di depan pintu rumah, Selena berhenti sejenak. Rumah itu tampak lusuh, catnya terkelupas, gentengnya bocor di beberapa sisi. Namun di balik segala kekurangannya, rumah itu adalah satu-satunya tempat yang masih ia punya-dan yang harus ia selamatkan dengan cara apapun.
Ia menarik napas panjang, berusaha menghapus jejak air mata di pipinya sebelum mengetuk pintu.
"Len?" suara ibunya dari dalam terdengar pelan.
Selena buru-buru masuk, tersenyum paksa sambil berkata, "Iya, Bu. Aku baru pulang."
Di ranjang kecil di ruang tengah, ibunya tengah duduk bersandar dengan bantal. Wajahnya pucat, tubuhnya tampak lebih kurus dari kemarin. Meski begitu, senyumnya tetap ada, meski samar.
"Dari mana semalaman? Ibu sempat khawatir," tanya ibunya, suaranya lemah.
Selena menunduk, berusaha tidak memperlihatkan kegelisahan yang menguasai dirinya. "Maaf, Bu. Aku... semalam ada kerjaan tambahan. Aku nggak sempat kasih kabar."
Ibunya mengangguk pelan. "Kerjaan tambahan? Apa kamu nggak terlalu capek? Kamu kan baru saja berhenti dari supermarket itu."
Selena tersenyum hambar. "Nggak apa-apa, Bu. Justru ini kerjaan yang bisa bantu kita." Ia menepuk-nepuk tas kecil di tangannya. "Aku dapat uang. Lumayan banyak."
Mata ibunya sedikit membesar, ada kilatan harap di sana. "Banyak? Dari mana, Nak?"
Selena tercekat. Lidahnya kelu. Bagaimana ia bisa menjawab pertanyaan itu? Apakah ia harus mengatakan kebenaran? Bahwa ia menjual kehormatannya demi amplop itu?
Tidak. Ia tidak boleh.
Ia mengalihkan pandangan, lalu tersenyum tipis. "Ada orang baik yang mau bantu. Katanya aku bisa kerja serabutan beberapa kali, dan... ini uang muka."
Ibunya menatap Selena lama, seolah mencoba membaca wajah anaknya. Selena merasa jantungnya berdetak semakin cepat, takut rahasia itu terbongkar. Namun akhirnya, ibunya hanya mengangguk pelan.
"Alhamdulillah... setidaknya bebanmu agak ringan. Ibu selalu khawatir kamu terlalu banyak mikir soal uang."
Selena segera duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya erat-erat. "Jangan khawatir, Bu. Semua akan baik-baik saja."
Namun dalam hatinya, ia tahu itu bohong.
Siang hari, setelah ibunya kembali tertidur karena lelah, Selena duduk di meja kayu tua di dapur. Ia membuka amplop berisi uang itu. Jumlahnya benar-benar banyak-sebuah tumpukan yang bisa membayar semua tagihan dan masih menyisakan cukup untuk berbulan-bulan.
Tangannya gemetar saat menyentuh lembaran-lembaran itu. Seharusnya ia merasa lega. Seharusnya ia bisa tersenyum karena masalahnya teratasi.
Tapi yang ia rasakan hanyalah perasaan kotor, jijik pada dirinya sendiri.
Air matanya jatuh mengenai permukaan meja. "Tiga miliar... harga dari semua ini."
Ia teringat pada malam itu-tatapan dingin pria asing itu, sentuhan yang memaksa, rasa sakit yang masih tertinggal di tubuhnya. Ia merasa ingin muntah.
Namun ia tahu, uang itu harus dipakai. Ia tidak punya pilihan.
Sore menjelang, Selena pergi ke bank untuk segera membayar sebagian hutang. Petugas bank memandangnya heran ketika ia menyerahkan uang tunai dalam jumlah besar, tapi ia tak peduli.
Begitu keluar dari bank, ia menatap langit yang mulai berwarna jingga. Untuk sesaat, ia merasa bebas. Ancaman penyitaan rumah bisa ditunda, dan ibunya bisa tetap tinggal di tempat yang mereka cintai.
Namun rasa lega itu tak bertahan lama. Di tengah keramaian jalan, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Langkah kakinya dipercepat, matanya menoleh ke belakang, tapi ia tak melihat siapa pun secara jelas. Hanya perasaan aneh yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Apakah dia? pikir Selena, jantungnya berdegup keras. Apakah pria itu mengawasiku?
Ia buru-buru berlari menuju angkutan kota, duduk di pojok sambil memeluk tasnya erat-erat.
Malam itu, Selena menyiapkan bubur sederhana untuk ibunya. Saat mereka makan bersama, ibunya tersenyum, tampak lebih tenang setelah tahu ada sedikit uang untuk bertahan.
"Len, ibu selalu percaya kamu anak yang kuat. Ayahmu pasti bangga melihatmu berjuang sejauh ini," ucap ibunya pelan.
Kata-kata itu menusuk hati Selena. Air matanya hampir jatuh, tapi ia buru-buru menunduk agar tak terlihat.
Ia ingin berteriak. Ia ingin berkata bahwa ia tidak kuat, bahwa ia sudah hancur. Tapi ia memilih diam.
Karena jika ibunya tahu, itu hanya akan melukai hatinya.
Beberapa hari berlalu. Selena mencoba menjalani hidup seperti biasa. Ia membersihkan rumah, memasak untuk ibunya, dan bahkan mulai mencari pekerjaan kecil di sekitar lingkungan. Namun tubuhnya sering lemas, kepalanya pusing, dan perutnya terasa mual setiap pagi.
Awalnya ia mengira itu karena stres dan kurang makan. Tapi ketika mual itu datang lagi dan lagi, rasa takut menyelusup ke dalam pikirannya.
Ia menatap wajahnya di cermin kamar mandi-pucat, matanya sembab, bibirnya kering. Tangannya menyentuh perutnya sendiri.
Tidak mungkin... kan? bisiknya dalam hati.
Namun bayangan malam itu kembali menghantuinya. Bayangan pria asing yang mengambil segalanya darinya.
Dan ketakutan baru mulai tumbuh-ketakutan bahwa ia membawa rahasia yang lebih besar daripada yang bisa ia sembunyikan.