Bab 1

Janu terlihat sangat tegang di balik kemudi mobil hitam yang kini meluncur dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Malang yang sore itu terlihat sangat lengang. Memang ini bukan malam Minggu, jadi jalanan relatif sepi di sini. Kalau hari Sabtu atau Minggu, jangan harap bisa lewat dengan nyaman di jalanan kota ini menuju ke arah Utara seperti yang sedang ditempuh oleh Janu saat ini.

“Kita ini sebetulnya mau ke mana sih, Mas?” Vita memandang curiga ke arah sopir pribadi suaminya itu. Dia merasa sedikit menyesal, kenapa tadi mau saja ketika dirinya diajak pergi oleh Janu hanya karena penasaran dengan ‘rahasia besar’ yang dikatakan oleh pria bertubuh jangkung dan berkulit hitam itu. Ya, rahasia besar tentang suami Vita.

“Saya nggak bisa cerita sekarang, Bu. Biar Ibu lihat langsung saja nanti. Kalau saya cerita sekarang, Ibu juga belum tentu akan percaya,” jawab Janu yang matanya tetap fokus menatap ke depan ke arah jalanan. Wajahnya tampak sedikit tegang. Entah, apa yang sebenarnya sedang dia sembunyikan saat ini.

Rahasia besar. Rahasia besar apa, sih? gerutu Vita di dalam hati. Dia sudah merasa sangat tidak sabar, ingin tahu rahasia besar apa yang sebenarnya disimpan oleh sang suami dan sekarang ingin dibongkar oleh Janu ini.

Janu mencoba untuk tetap fokus pada jalanan di depannya, tetapi sebetulnya pikiran dia sedang tidak keruan. Dia tidak tahu, apakah keputusan yang dia ambil sekarang adalah keputusan yang tepat. Rasa bersalah telah menghantuinya selama beberapa tahun belakangan. Janu sudah tidak sanggup lagi untuk menahan. Dia merasa sangat bersalah kepada Vita yang selama ini banyak berjasa pada keluarganya. Janu bisa bekerja sebagai sopir pribadi di sana juga berkat uluran tangan Vita. Kalau tidak, mungkin dia masih tetap jadi pengangguran hingga sekarang.

Perjalanan dari kota Malang, terus mengarah ke Utara, hingga tiba di batas wilayah kotamadya. Setelah melewati gapura pembatas dan masuk ke wilayah kabupaten, Vita masih memandang tidak mengerti kepada pria yang ada di belakang kemudi itu. Ada sedikit rasa tidak nyaman, tetapi berusaha untuk dia telan. Janu adalah orang yang selama ini bisa dia percaya. Tidak mungkin kalau pria ini sampai berniat jahat atau yang aneh-aneh terhadap dirinya dengan membawa ke luar kota. Janu sudah mengabdikan dirinya pada keluarga Harris, suami Vita, sejak lama. Sudah lima tahun lebih. Ada kisah yang panjang tentang bagaimana Janu akhirnya bisa tertaut pada keluarga Harris ini.

“Nggak jauh lagi kok, Bu. Sabar, ya. Sebentar lagi kita sudah sampai, kok,” ucap Janu yang paham kalau wanita di sampingnya itu sedang merasa gelisah. Vita tidak menjawab. Dia memutuskan untuk tetap bungkam, meski masih dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

Sebelum rel kereta api di kawasan Singosari, Janu membelokkan mobilnya ke kanan, lanjut menyusuri sungai kecil di sepanjang perjalanan. Beberapa ratus meter kemudian, Janu membelokkan mobil, masuk ke sebuah area perkampungan. Kini, laju mobil mulai melambat.

Sejurus kemudian, setelah dua kali belokan, Janu menghentikan mobil, lalu mematikan mesin. Mereka tiba di halaman sebuah rumah tanpa pagar yang tergolong besar dan mewah dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya. Janu turun, diikuti oleh Vita yang masih belum paham, apa sebenarnya mau si sopir ini.

“Rumah siapa ini, Mas?” Vita menatap kebingungan, begitu turun dari mobil dan berdiri berhadapan dengan sang sopir.

“Ibu masuk saja. Pak Harris ada di dalam sana bersama selingkuhannya, Bu. Maafkan saya karena baru membongkar rahasia ini sekarang,” ucap Janu sambil menunduk lesu.

Kalimat yang keluar dari mulut sopir itu, terasa seperti ribuan anak panah yang melesat tiba-tiba dan menancap ke seluruh tubuh Vita. Antara cemas dan lemas, marah juga sedih, semua rasa bercampur menjadi satu. Tanpa banyak bicara lagi, Vita bergegas melangkah, menuju ke bangunan mewah tersebut.

Tak bisa dilukiskan lagi perasaan Vita saat itu. Suami yang selama ini dia kenal sebagai suami sempurna. Suami yang sangat perhatian dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Seorang ayah yang sangat baik, perhatian, dan lembut, mungkinkah berselingkuh? Dia menekan tombol bel di samping pintu besar itu berkali-kali hingga muncul seraut wajah yang sangat terkejut melihat kedatangan dia.

“Mama, kok ... bisa ....” Harris berucap dengan terbata-bata.

“Jadi benar, Papa selingkuh?” Vita menatap tajam ke arah sang suami yang kebetulan membukakan pintu. Padahal, setahu Vita, Harris bilang kalau dia sedang ada di Madura untuk mengontrol salah satu pabrik rokok milik keluarga mereka yang ada di sana.

“Masuk dulu, jangan berisik. Nggak enak dilihat sama tetangga.” Harris segera menggamit tangan sang istri, lalu membawanya masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu, Vita sudah tak mampu lagi untuk membendung tangis. Dia menangis tersedu-sedu. Kedua telapak tangannya menangkup di wajah dan terlihat gemetar hebat. Harris membiarkan wanita itu untuk melampiaskan emosinya terlebih dahulu. Dia ingin menunggu sampai istrinya itu merasa tenang, baru mereka akan bicara baik-baik. Kalau sekarang, dia rasa akan percuma. Hanya akan dipenuhi oleh emosi dan amarah belaka.

Mendengar suara tangisan, seorang perempuan muda keluar dengan rambut acak-acakan, seperti baru bangun tidur. Mendengar kehadiran seseorang selain dirinya dan sang suami, Vita lantas mendongakkan kepala.

“Marni?” Vita yang mengangkat wajah karena mendengar suara langkah kaki orang lain datang mendekat ke arah mereka, merasa sangat terkejut karena melihat mantan pengasuh anak-anaknya ada di sana.

Marni pernah bekerja selama beberapa tahun sebagai asisten rumah tangga, sekaligus mengasuh anak-anak di rumah Harris. Seingat Vita, gadis itu minta untuk berhenti bekerja dan pamit pulang kampungnya dengan alasan akan menikah.

“Jadi, selama ini ... kamu berselingkuh dengan suami saya? Kamu pamit berhenti kerja dan pulang ke kampung karena menikah, ternyata menikah dengan suami saya?” Mata Vita membelalak.

“Tega sekali kamu, Marni. Apa kamu tidak ingat semua kebaikan kami selama ini sama kamu? Setega ini kamu merusak kebahagiaan anak-anak yang pernah kamu asuh!” teriak Vita dengan histeris.

Perempuan yang dipanggil Marni itu diam saja. Dia malah tersenyum sinis, kemudian duduk di sofa, tepat berhadapan dengan Vita. Dia sudah siap untuk menjadi penonton tunggal pada drama yang akan dimainkan oleh Harris dan Vita.

“Sudah, Ma. Nggak usah bahas yang aneh-aneh, deh. Kenyataannya memang sudah seperti ini. Nggak bisa lagi diubah. Toh, selama ini Papa juga masih bertanggung jawab sama keluarga, kan? apa pernah Papa lalai? Apa pernah kalian hidup kekurangan? Kalian bisa hidup dengan mewah, tidak kekurangan satu apa pun selama ini. Bukankah itu saja sudah cukup? Bahkan, lebih dari cukup,” ucap Harris yang mencoba untuk menenangkan sang istri, tetapi dia malah bicara dengan nada yang sangat pongah.

Tentu saja, bukannya menenangkan, kalimat Harris itu justru makin melukai dan menyulut emosi Vita sebagai istrinya.

Bab 2

“Papa pikir, rumah tangga itu hanya sekadar dikasih uang? Papa nggak mikir sakit hatinya Mama kalau dikhianati seperti sekarang ini? Mama ini manusia, Pa. Mama punya perasaan. Mama ini bukan hewan peliharaan yang sekadar Papa kirimi uang buat makan!” Vita berteriak histeris.

Ada harga diri yang sudah terluka dan kini makin terluka. Ada rasa perih yang teramat sangat mengiris di dalam hati, meskipun tak berdarah. Ada sesak yang kini mulai menyeruak di seisi rongga dada VIta.

“Aduh, nggak usah bicara soal hati dan perasaan, deh. Hubungan kita selama ini masih baik-baik saja, kan? Nggak ada yang berubah kok, Ma. Anggap saja kamu tidak pernah tahu tentang hal ini. Sudah, sekarang kamu pulang. Nanti malam Papa pulang. Kita bicara lagi nanti di rumah,” ucap pria tampan yang tampak lebih muda dari usianya itu.

Selama ini, Harris memang sering berada di luar kota. Dia pulang ke Malang dan menginap hanya beberapa hari saja dalam satu bulan. Kesempatan untuk pria tampan itu berselingkuh memang terbuka sangat lebar. Namun, selama ini memang tidak pernah ada gelagat seperti itu dari dalam diri Harris sehingga Vita pun tak pernah curiga.

Mereka pacaran selama tiga tahun, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Harris melamar Vita dengan cara yang sangat simpel, tidak ada kesan romantis sama sekali. Selama mengenal Harris, Vita memang tidak pernah diperlakukan dengan mesra. Harris adalah tipikal pria yang keras, tetapi penuh tanggung jawab. Mereka jarang sekali bicara, meski bekerja di satu perusahaan. Bahkan, tidak ada satu pun yang curiga kalau dua orang itu menjalin hubungan cinta, saking datarnya sikap mereka selama ini ketika bertemu di kantor.

Harris dikenal sebagai pria yang dingin terhadap wanita. Belum pernah sekali pun orang kantor melihat dia mendekati seorang perempuan, apalagi sampai pacaran. Karena itulah, siapa yang menyangka kalau tiba-tiba dia ternyata pacaran dengan Vita, bahkan dengan dadakan tahu-tahu menyebar undangan pernikahan.

Sikap Harris yang selalu dingin terhadap wanita dan baru bersikap akrab kalau bertemu dengan teman-teman sesama prianya, membuat Vita merasa aman meski mereka sering tinggal berjauhan. Vita hanya mengecek di kota mana sang suami selama ini berada. Bandung, Tangerang, Jakarta, Madura. Ya, masih seputar kota-kota itu saja. Bahkan, dari beberapa anak buah Harris di kota-kota tersebut yang sudah mengenal Vita, juga tidak pernah ada selentingan miring atau gosip buruk bahwa Harris dekat dengan wanita lain di sana. Harris selalu menghabiskan waktunya untuk bekerja. Selebihnya, dia biasa berkumpul dengan karyawan atau rekan-rekan bisnis dia yang semuanya memang sama-sama pria. Jadi, mana mungkin Vita merasa curiga.

Di sisi lain, Janu selalu mengantarkan Harris ke mana-mana dan Vita sangat mempercayai Janu. Janu seolah menjadi mata ketiga bagi wanita tersebut. Selama ini, Janu juga tidak pernah mengatakan apa-apa. Namun, hari ini ... Janu tiba-tiba membongkar rahasia besar yang Vita rasa sudah sangat kedaluwarsa. Perselingkuhan itu pasti sudah sangat lama. Terbukti, ada rumah yang sedemikian megahnya. Rumah yang Vita yakin dibangun dari awal oleh Harris untuk wanita selingkuhan dia itu.

“Kita bicara di sini saja, Mas. Anak-anak tidak perlu tahu tentang pertengkaran kedua orang tua mereka,” jawab Vita dengan tegas.

Dia menghapus lelehan air mata di pipinya. Dia tidak sudi kalau dirinya sampai terlihat lemah di hadapan wanita sundal itu. Vita menatap tajam ke arah Marni yang duduk dengan gaya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Perempuan yang cantiknya biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang masih kalah cantik dengan wajah Vita. Secara tubuh, mereka juga berimbang. Kalau Vita cenderung kurus dan mungil, sementara Marni sama-sama mungil, tetapi tampak lebih berisi. Bahkan, kulit Vita jauh lebih putih daripada Marni, meski keduanya sama-sama orang Jawa.

“Sudah. Aku pulang nanti malam. Nggak usah banyak ngebantah!” bentak Harris dengan nada yang sangat marah. Dia memang paling tidak suka kalau perintahnya sampai ditentang.

“Sejak kapan kalian berselingkuh di belakangku?” Vita masih saja tidak mau menyerah. Dia bertanya dengan tatapan nyalang, bergantian ke arah Harris dan Marni yang kini duduk berdampingan di sofa panjang, tepat di depan Vita.

“Nggak usah bahas yang nggak penting!” teriak Harris lagi.

“Enam tahun,” jawab Marni dengan tegas.

“Ya, kami menjalin hubungan secara resminya selama enam tahun. Hampir satu tahun yang pertama, kami lakukan sembunyi-sembunyi ... di rumah kamu. Kamu nggak tahu kan kalau kami biasa bercinta di rumahmu sendiri?” Marni melanjutkan kalimatnya sambil terkekeh pelan.

“Apa? Jadi ... kalian sudah berbuat gila sejak kamu masih kejra di rumah kami?” Vita langsung berdiri saking terkejutnya. Dia menatap marah kepada Marni yang malah memainkan kuku-kuku di jari tangannya.

“Ya. sampai akhirnya aku bosan untuk terus bersembunyi seperti itu. Terus, aku minta sama Mas Harris untuk membawa aku ke Madura. Ya, setidaknya, aku bisa hidup bebas di sana,” ucap Marni lagi, masih dengan gaya yang sangat santai.

Jadi, Harris kemudian membawa Marni ke madura dan menempatkannya di sebuah rumah kontrakan di sana. Di Madura jugalah, dua manusia itu kemudian menikah siri alias menikah di bawah tangan dengan bantuan salah satu pemuka agama di sana. Begitu rapinya Harris menutupi semua borok itu hingga Vita tidak pernah sama sekali mendengar selentingan kabar bahwa sang suami telah menikah lagi.

“Mar, sudah. Biar Vita segera pulang,” ucap Harris dengan nada lembut kepada Marni untuk menghentikan ceritanya.

“Hebat, ya. Kalau sama selingkuhan, bicaranya lembut. Giliran sama istri sendiri, bicara kasar dan membentak-bentak,” sindir Vita dengan ketus. Harris hanya menoleh dengan tatapan sinis. Vita yang selama ini dia kenal sangat penyabar dan jarang bicara, ternyata bisa juga berucap ketus seperti itu. Harris sedikit merasa terkejut dengan sikap Vita.

“Eh, jangan salah! Aku ini juga istrinya, lho. Meskipun kami hanya menikah siri. Aku nggak butuh legalitas hukum. Toh, hak kita sama saja,” celetuk Marni, masih tetap sambil memainkan kuku-kuku di jari tangannya. Dia tidak melihat ke arah Vita sama sekali ketika berbicara.

“Biar saja, Mas. Dia kan pengen tahu kisah cinta kita. Sudah, biar aku saja yang cerita. Biar dia nggak mati penasaran nanti,” tandas Marni dengan nada yang tak kalah ketus.

“Gimana, masih mau dengar kelanjutan ceritanya?” tantang Marni yang kali ini menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa berwarna hitam yang dia duduki bersama Harris.

“Aku tunggu kamu di rumah, Mas!” Vita malas mendengarkan ocehan perempuan gila di hadapannya itu lagi. Dia berniat untuk pulang dan menunggu Harris di rumah mereka.

“Tadi katanya mau dengar ceritanya. Sekarang malah pergi. Dasar, emak-emak labil!” hina Marni, tepat ketika Vita hendak melangkah pergi dari ruang tamu tersebut.

Bab 3

Mendengar hinaan Marni, Vita langsung berdiri mematung, tidak jadi melanjutkan langkahnya. Dia kembali berdiri di hadapan Marni sambil menatap perempuan itu dengan tajam.

“Sudah, pulang saja sana!” teriak Harris lagi kepada Vita.

“Dasar, perempuan nggak tahu malu! Sudah merebut suami orang, masih saja banyak tingkah!” Vita balas memaki perempuan dengan tank top putih dan celana bahan katun super pendek yang membalut tubuh sintalnya itu.

“Eh, aku nggak ngerebut lho, ya. Kan, kamu nggak ditinggal. Jadi, kita ini hanya berbagi. Udah, nggak usah pelit-pelit jadi orang. Masih hidup enak ini ...,” jawab Marni dengan tidak tahu malu.

Tak ingin terus sakit hati, Vita memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Percuma saja kalau dia terus meladeni wanita yang tidak punya harga diri sama sekali itu. Dia sepertinya sengaja untuk terus menyakiti hati Vita.

Vita melangkah dengan langkah tergesa menuju ke mobil hitamnya. Harris yang mengikuti langkah sang istri, kini sedang menatap tajam ke arah Janu yang duduk di atas tanah, tepat di samping mobil hitam milik Vita.

“Janu!” teriak Harris dengan keras. Janu yang sudah berdiri dan bersiap untuk masuk ke dalam mobil, langsung menoleh ke arah Harris yang kini melangkah untuk mendekati dirinya.

“Kamu berengsek, ya! Ini balasan kamu yang selama ini sudah aku kasih banyak uang? Ternyata, kamu malah nusuk aku dari belakang!” Harris menggeram penuh amarah.

“Kamu juga sama, Mas! Kamu juga berengsek, pengkhianat, dan menusuk dari belakang!” teriak Vita.

Beberapa tetangga langsung keluar mendengar teriakan keras dari mulut Vita. Mereka terlihat kasak-kusuk dan beberapa langsung bergerombol, membentuk kelompok-kelompok kecil. Emak-emak di kampung memang sangat kompak kalau ada kejadian yang menarik. Mereka bisa langsung saling menempel seperti magnet-magnet sekutub yang akan mendekat secara otomatis, tanpa perlu diberi komando lagi.

“Sudah, kalian pulang sana! Kita bicara di rumah. Habis ini aku nyusul.” Harris langsung membalikkan badan dan pergi meninggalkan Vita dan Janu di sana.

Harris merasa malu kalau sampai tetangga banyak yang keluar dan menonton pertengkaran mereka. Bagaimanapun, dia masih tetap ingin menjaga citra baik dirinya di mata masyarakat sana. Pria baik dan sempurna.

Mobil segera melaju pelan, meninggalkan halaman depan rumah Harris dan Marni. Vita masih menangis sesenggukan di sepanjang perjalanan.

“Kenapa kamu baru membongkarnya sekarang, Mas? Kenapa tidak dari dulu. Mungkin, keadaan masih bisa diperbaiki kalau dari awal kamu sudah memberi tahu aku,” ucap Vita ketika dia merasa bahwa dirinya sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.

“Bapak meyakinkan saya bahwa tidak akan ada masalah apa-apa, Bu. Jujur saja, saya tahu tentang perselingkuhan mereka juga setelah Mbak Marni dibawa ke Madura sama Bapak, kok. Jadi, bisa dibilang kalau sudah sangat terlambat juga. Saya tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah perselingkuhan mereka, selain terus mengingatkan Bapak bahwa yang dia lakukan itu salah.

Kemudian, saya berpikir ... kalau memang Mbak Marni terus ada di Madura, ya sudahlah. Tidak masalah juga. Mungkin, itu akan jadi rahasia selamanya. Toh, Ibu kan juga tidak pernah berkunjung ke sana. Jadi, saya pikir semuanya akan baik-baik saja.” Janu mulai menceritakan semuanya.

Vita memang tidak pernah mau ikut campur urusan pekerjaan sang suami. Selain dia menganggap bahwa itu bukan wilayah teritorial dia, Vita juga tidak paham apa-apa. SD saja dia tidak lulus. Vita berasal dari keluarga miskin. Rumah dia pun masih bambu saat itu. Dia lantas bekerja di sebuah pabrik permen dan kebetulan, Harris adalah salah satu kepala pabrik di sana.

Pabrik itu masih milik salah satu famili Harris. Mereka adalah orang-orang dari China yang kemudian bermigrasi ke Indonesia dengan membawa sejumlah dana untuk mulai membuka usaha di Indonesia. Merupakan sebuah keberuntungan besar ketika orang kaya dan berpendidikan tinggi seperti Harris, lantas jatuh cinta, bahkan melamar gadis kampung yang tak punya apa-apa seperti Vita. Harris sampai harus menentang seluruh keluarganya demi bisa menikahi Vita kala itu.

Perjuangan keras dan semua pengorbanan lelaki itu akhirnya mampu untuk meruntuhkan semua pertahanan serta kewaspadaan Vita terhadap tingkah laku suaminya. Dia menganggap kalau Harris terlalu cinta mati kepada dirinya dan tidak akan mungkin bisa berselingkuh dengan perempuan yang lain. Mungkin, dalam kasus ini Vita terlalu percaya diri.

Sikap Harris sebagai suami, bahkan ayah untuk anak-anak mereka pun memang bisa dibilang sangat sempurna. Dia selalu bersikap baik dan lembut, terutama kepada anak-anak mereka, meski Harris bukanlah tipikal suami yang bisa bersikap romantis kepada istrinya. Dia cenderung berkata dengan lugas dan bersikap dengan tegas. Jadi, siapa yang bisa menyangka? Bahkan, semua orang yang mengenal keluarga kecil Vita pun selalu merasa kagum dan mengelu-elukan Harris sebagai pria idola semua wanita. Dia adalah sosok suami dan ayah yang teramat sempurna.

“Baru beberapa bulan tinggal di Madura, Mbak Marni sudah mengeluh sepi dan tidak krasan, Bu. Selain itu, dia juga terus menggerutu karena status rumah yang dia tempati sekarang cuma ngontrak. Bukan rumah milik sendiri.” Janu melanjutkan ceritanya soal kehidupan Marni.

“Dia lantas memaksa Bapak untuk minta dipindahkan ke kota Malang. Ya, tentu saja Bapak tidak setuju, Bu. Kalau sama-sama di Malang, pasti akan sangat beresiko untuk ketahuan. Tapi, Mbak Marni terus saja mengeluh. Dia bilang di Madura sepi, tidak ada mal. Dia juga tidak bisa jalan-jalan dengan nyaman. Cuacanya terlalu panas, seolah punya dua matahari di sana. Pokoknya, hampir setiap hari, Mbak Marni itu mengeluh terus, Bu. Bapak sampai pusing karena terus mendengar keluhan si Marni.

Nah, suatu saat, Bapak menawarkan kepada Marni untuk tinggal di Tangerang saja. Di sana, tidak banyak yang kenal sama Ibu, kan. Jadi, Bapak merasa aman kalau Mbak Marni tinggal di sana. Akhirnya, Mbak Marni diajaklah sama Bapak ke Tangerang. Ya, untuk lihat-lihat dulu kondisi di sana. Kalau Mbak Marni merasa cocok, Bapak akan memindahkan Mbak Marni ke sana.” Janu terdiam.

Lelaki hitam manis dengan tahi lalat di dagu sebelah kanan itu sepertinya merasa ragu untuk melanjutkan ceritanya.

“Terus? Ayo, Mas. Lanjutkan ceritamu.” Vita merasa sangat penasaran dengan apa yang kemudian terjadi, terutama hingga Janu akhirnya memutuskan untuk membongkar semua kisah kelam ini setelah beberapa tahun lamanya.

Pasti ada satu alasan mendasar yang membuat Janu akhirnya berputar haluan dan berbalik untuk menyerang Harris. Tidak mungkin kalau hanya sekadar dikejar oleh rasa bersalah, lantas membuat pria beranak satu itu tiba-tiba berubah. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Selama hampir enam tahun, Janu bisa menutupi semua borok Harris. Tentu saja Vita merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi antara Harris dan Janu selama ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED