Suasana di bar itu kembali terasa hening. Fahri memerhatikan Lia dengan penuh perhatian, meskipun ia berusaha untuk tetap menjaga ketegaran wajahnya. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada wanita ini-sesuatu yang menantangnya, membuatnya merasa lebih hidup, meskipun secara rasional ia berusaha untuk menutupinya. Ada kecanggungan di antara mereka, namun kecanggungan yang berbeda dari yang biasa ia rasakan. Biasanya, ia merasa terasing dari orang lain, tidak pernah merasa terhubung. Tetapi dengan Lia, ada semacam ketegangan yang justru membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak.
Lia, yang sepertinya bisa merasakan perubahannya, tersenyum samar. "Kamu tidak perlu merasa tertekan, Fahri," katanya dengan suara yang lembut, seolah mengetahui apa yang ada dalam pikiran Fahri. "Aku tidak datang ke sini untuk mengubah hidupmu. Hanya untuk berbicara, jika kamu mau."
Fahri terdiam sejenak. Perkataan Lia begitu sederhana, namun terkesan mendalam. Ia tidak pernah berpikir bahwa seseorang akan berkata demikian padanya. Biasanya, ia lebih sering mendengar kata-kata yang penuh kepentingan, perhitungan, atau sekadar basa-basi. Tapi tidak dengan Lia. Ia merasa bahwa ada kedalaman dalam setiap kata yang diucapkannya.
"Aku tidak pernah percaya pada percakapan kosong," Fahri akhirnya berkata, menatap ke arah gelas wiski yang masih ada di tangannya. "Tidak ada gunanya berbicara jika kita tidak bisa memahami satu sama lain."
Lia mengangguk, matanya tetap pada Fahri, namun tidak ada sedikit pun tanda kesal atau bingung. "Kamu benar," jawabnya pelan, seakan mengakui bahwa kata-kata Fahri memiliki bobot yang lebih besar daripada yang ia duga. "Tapi kadang, percakapan itu bukan soal memahami sepenuhnya. Kadang, hanya soal mendengarkan. Mendengarkan tanpa menghakimi."
Fahri menarik napas panjang, matanya kini tak bisa lepas dari mata Lia. Ada sesuatu dalam tatapannya-sesuatu yang membuatnya merasa tertantang. Tidak seperti wanita lainnya yang hanya tahu bagaimana berpura-pura, Lia tampaknya tidak menutupi apapun. Ada transparansi yang tidak biasa pada dirinya, yang membuat Fahri merasa ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata-kata yang diucapkan.
"Jadi, kamu tidak menghakimi aku?" tanya Fahri, suaranya terdengar sedikit lebih rendah dari sebelumnya. Ia merasa kata-kata itu keluar dengan sendirinya, meskipun ia tidak berniat untuk membuka dirinya lebih jauh.
Lia terdiam sejenak, lalu mengangkat alisnya sedikit. "Aku tidak menghakimi siapa pun, Fahri," jawabnya, nada suaranya tetap tenang dan pasti. "Aku hanya melihat orang-orang dengan cara yang berbeda. Aku percaya bahwa setiap orang punya alasan di balik apa yang mereka lakukan. Bahkan jika alasan itu sulit dipahami."
Fahri merasakan ketegangan di tubuhnya. Ada rasa yang membuncah di dalam dirinya-sebuah perasaan yang sulit diungkapkan. Ia merasa terkesan, bahkan terintimidasi oleh cara Lia melihat dunia. Tidak banyak orang yang bisa membuatnya merasa seperti ini. Tidak banyak orang yang bisa melihatnya dengan cara yang begitu jelas, tanpa menyembunyikan apa pun. Dan yang lebih mengejutkan, ia merasa nyaman, entah bagaimana, dengan semua itu.
Namun, ia tidak bisa membiarkan dirinya terperangkap begitu saja. Ia tidak bisa-dan tidak mau-terbuka sepenuhnya kepada orang lain, terutama pada seorang wanita yang baru dikenalnya. Cinta, atau sekadar kedekatan emosional, adalah sesuatu yang jauh dari jangkauannya. Jadi, ia berusaha untuk tetap menjaga jarak.
"Jadi kamu percaya bahwa aku hanya punya alasan di balik cara aku hidup?" tanya Fahri dengan nada yang sedikit menyindir, meskipun ada rasa penasaran yang mendalam di balik kata-katanya.
Lia menatapnya dengan tatapan yang penuh pemahaman. "Tidak, Fahri," jawabnya perlahan. "Aku tidak percaya bahwa semua orang memiliki alasan yang mudah dipahami. Kadang-kadang, alasan itu bahkan tidak masuk akal. Tapi aku percaya bahwa semua orang berusaha dengan cara mereka sendiri, bahkan jika itu cara yang salah."
Fahri menatap Lia, terdiam sejenak. Ada sesuatu yang membuat hatinya tergetar. Kata-kata Lia seperti mencerminkan dirinya sendiri, tapi dengan cara yang jauh lebih bijak dan penuh kasih. Tidak seperti biasanya, Fahri merasa dirinya sedikit goyah-sesuatu yang ia tak bisa kendalikan.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?" tanya Fahri, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Lia. "Kenapa kamu begitu yakin bahwa setiap orang punya alasan yang... baik?"
Lia tersenyum tipis, senyuman yang penuh makna. "Karena aku belajar untuk tidak menilai buku dari sampulnya, Fahri," jawabnya. "Aku belajar untuk memberi ruang bagi setiap orang untuk tumbuh, untuk berubah. Kalau tidak, bagaimana kita bisa berharap ada yang berubah?"
Fahri terdiam, mencoba mencerna kata-kata Lia. Ia merasa seperti baru saja bertemu dengan seseorang yang bisa melihat melalui lapisan-lapisan tebal yang selama ini ia bangun di sekitar dirinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa ada seseorang yang benar-benar melihat dirinya.
Lia menyandarkan punggungnya ke kursi, memiringkan kepalanya sedikit. "Kamu tidak harus setuju dengan aku," lanjutnya. "Tapi aku ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang harus kamu lakukan untuk membuktikan dirimu. Tidak ada yang harus kamu lakukan untuk mendapatkanku, atau mendapatkan apapun dari aku."
Fahri mengerutkan kening. "Apa maksudmu?" tanya Fahri, bingung, tapi tetap penasaran.
Lia menghela napas panjang dan menatap Fahri dengan tatapan lembut. "Maksudku, aku bukan di sini untuk memberi harapan palsu atau untuk memberi kamu sesuatu yang tidak bisa kamu beri untuk dirimu sendiri. Aku di sini hanya untuk menjadi seseorang yang bisa mendengarkanmu, tanpa menghakimi."
Fahri merasa sesuatu bergetar di dalam dirinya. Sebuah pengakuan yang ia coba hindari begitu lama-bahwa ia tidak bisa selalu mengontrol perasaannya, bahwa ada hal-hal yang lebih besar daripada hanya uang, kekuasaan, dan segala sesuatu yang ia banggakan sebelumnya. Lia, dengan segala ketenangannya, membuatnya merasa lebih dari sekadar seorang pria kaya yang dibungkus dengan ego dan kesendirian.
Dia merasakan suatu perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya-sebuah ketertarikan yang jauh lebih dalam daripada hanya fisik atau penampilan. Ia merasa seperti sesuatu yang besar sedang terjadi, sesuatu yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia ini.
"Kenapa kamu begitu berbeda?" Fahri bertanya, hampir tak terdengar, namun penuh rasa penasaran yang mendalam. "Kenapa kamu bisa begitu... terbuka?"
Lia hanya tersenyum, senyum yang penuh makna. "Karena aku belajar untuk tidak takut menjadi diriku sendiri," jawabnya dengan tenang. "Dan aku pikir, suatu saat nanti, kamu akan tahu jawabannya, Fahri."
Malam itu, di bawah cahaya redup bar yang mewah, Fahri merasa seperti baru saja menemukan pintu yang membuka dunia yang selama ini ia tutup rapat-rapat. Dan Lia, dengan cara yang tidak terduga, adalah orang yang membukanya.
Fahri diam, menatap dalam-dalam pada gelas di tangannya. Perasaan yang aneh menyelimutinya, sebuah kebingungan yang tak biasa. Biasanya, dia bisa mengendalikan semua situasi, termasuk percakapan dengan siapa saja. Tetapi kali ini, Lia membawa dimensi baru yang tidak pernah dia hadapi sebelumnya. Dia merasa ditelanjangi, bukan secara fisik, tetapi emosional.
"Jadi," Lia memecah keheningan, nada suaranya santai tetapi tetap menggigit, "Apa yang kamu cari di tempat ini, Fahri? Atau lebih tepatnya, apa yang kamu coba hindari?"
Fahri tersenyum samar, tetapi senyuman itu tidak mencapai matanya. "Aku tidak menghindari apa pun," jawabnya datar. "Aku hanya menikmati malam, seperti kebanyakan orang."
Lia mengangkat alis, lalu tertawa kecil. "Menikmati malam dengan wajah penuh beban seperti itu? Maaf, tapi aku tidak yakin. Orang yang benar-benar menikmati hidup biasanya punya sinar di matanya. Tapi kamu..." Lia menunjuk matanya sendiri, mengisyaratkan sesuatu. "Matamu berbicara sebaliknya."
Fahri mendadak merasa terganggu. Tidak banyak orang yang berani menyindirnya seperti itu. Lia jelas bukan wanita biasa yang terpesona oleh gaya hidupnya atau status sosialnya. Dan justru itulah yang membuatnya penasaran.
"Apa kamu selalu suka menebak-nebak orang?" tanyanya, mencoba untuk terdengar dingin.
"Bukan menebak," jawab Lia dengan santai. "Aku hanya mendengar. Banyak orang berbicara tanpa berkata-kata. Kamu salah satunya, Fahri."
Kali ini, Fahri tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil. "Hebat. Jadi sekarang kamu seorang pembaca pikiran?"
Lia hanya mengangkat bahu. "Mungkin. Atau mungkin aku hanya memperhatikan hal-hal yang tidak dilihat orang lain."
Fahri menatapnya lama. Kata-kata Lia entah bagaimana membuatnya merasa lebih kecil dari biasanya, tetapi juga lebih manusiawi. Dia ingin melawan, ingin menunjukkan bahwa dia tidak semudah itu ditebak, tetapi sesuatu dalam dirinya membuatnya menyerah.
"Kalau begitu, apa yang kamu lihat dariku?" tanyanya, hampir seperti tantangan.
Lia tersenyum, kali ini lebih lembut. "Aku melihat seseorang yang mencoba membangun tembok tinggi di sekelilingnya. Kamu mungkin berpikir tembok itu melindungimu, tapi sebenarnya tembok itu hanya membuatmu kesepian."
Fahri tercekat. Kata-kata itu seperti tamparan, tetapi juga seperti obat. Tidak ada yang pernah berkata seperti itu padanya, tidak dengan kejujuran yang begitu polos dan langsung.
"Kesepian?" dia mengulang, suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Lia mengangguk. "Iya. Kamu bisa punya segalanya-uang, kuasa, apa pun yang kamu mau. Tapi semua itu tidak bisa menggantikan hubungan manusia yang sesungguhnya. Aku tidak mengatakan ini untuk menghakimi, Fahri. Hanya saja, aku tahu seperti apa rasanya kesepian. Dan aku bisa melihat itu di dirimu."
Fahri terdiam. Dia merasa marah, tetapi bukan pada Lia. Dia marah pada dirinya sendiri, karena Lia benar. Kesepian adalah sesuatu yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun, bahkan dari dirinya sendiri.
"Aku tidak butuh hubungan," jawabnya akhirnya, nadanya terdengar lebih defensif daripada yang dia maksudkan. "Hubungan hanya membawa masalah. Aku sudah cukup sibuk dengan hidupku sendiri."
"Kalau begitu, kenapa kamu di sini?" Lia menantang, matanya bersinar dengan rasa ingin tahu.
Fahri tidak tahu bagaimana menjawabnya. Dia selalu datang ke tempat ini untuk melarikan diri, untuk melupakan sejenak rutinitas dan beban pikirannya. Tapi malam ini, dia merasa tujuannya telah berubah tanpa dia sadari. Lia, dengan semua misterinya, membuatnya bertanya-tanya tentang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesenangan sesaat.
"Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya, dengan jujur.
"Jawaban yang bagus," Lia tersenyum, kali ini lebih hangat. "Tidak tahu adalah langkah pertama untuk menemukan jawabannya."
Fahri menatap wanita itu, merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya malam ini. Lia tidak hanya menggetarkan malamnya; dia juga menggerakkan sesuatu dalam dirinya yang sudah lama terkubur. Sesuatu yang membuatnya merasa lebih hidup, meskipun dia belum bisa menjelaskannya.
Ketika pelayan datang untuk mengambil gelas kosong di meja, Fahri menyadari bahwa waktu terus berlalu tanpa dia sadari. Bar itu mulai sepi, musik latar yang awalnya memecah kebisingan kini terdengar lebih lembut.
"Kamu tinggal di mana?" Fahri akhirnya bertanya, lebih sebagai isyarat bahwa dia tidak ingin percakapan ini berakhir.
Lia tersenyum, lalu berdiri sambil mengambil tas kecilnya. "Itu rahasia," jawabnya, sambil menatap Fahri dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi jangan khawatir. Kita mungkin akan bertemu lagi, Fahri."
Sebelum Fahri bisa berkata apa-apa, Lia berjalan pergi, meninggalkan jejak aroma lembut parfumnya yang memenuhi udara. Fahri hanya bisa memandangi punggungnya yang menjauh, merasa ada sesuatu yang hilang meskipun dia tidak tahu apa itu.
Malam itu, Fahri duduk sendirian di meja, berpikir lebih dalam daripada yang pernah dia lakukan sebelumnya. Lia adalah teka-teki, dan untuk pertama kalinya, Fahri merasa ingin memecahkan teka-teki itu, meskipun dia tahu itu mungkin akan membawanya ke jalan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Baru kali ini dia merasa penasaran dengan seseorang, lebih dari sekadar fisik atau penampilan. Ada sesuatu yang Lia bawa-sesuatu yang membuatnya merasa ingin tahu lebih banyak tentang kehidupan, tentang dirinya sendiri, dan tentang arti dari koneksi manusia yang selama ini dia hindari.
Dan di tengah malam yang sunyi itu, Fahri menyadari satu hal: Lia tidak hanya menggetarkan malamnya, tetapi juga hidupnya.