Suatu hari, terdapat sebuah kampus swasta ternama di Kota Semarang yaitu Best University yang akan mengadakan KKN di berbagai tempat, baik daerah Semarang hingga Kendal Jawa Tengah. Seperti hari ini, para Mahasiswa diminta untuk menghadiri pembekalan KKN setelah dibaginya kelompok per program studi yang berbeda lewat chat grup kelas, bahkan hingga membuat grup sendiri khusus KKN. Seluruh mahasiswa KKN diwajibkan untuk menggunakan baju atasan putih dan bawahan hitam, juga jas almamater dari Universitas.
Di dalam gedung pertemuan pembekalan KKN tersebut, ada yang saling bertemu lagi ketika magang, ada juga yang murni tidak mengenal siapa-siapa karena memang per program studi ini sangat luas jangkauannya. Semua mahasiswa sedang membahas lokasi desa yang akan segera mereka adakan survey lapangan, terutama satu kelompok mahasiswa yang duduk di pojok tribun atas yang masih bingung ingin memulai dari mana. Jangankan membahas survey, yang mereka bahas lebih dulu saat ini adalah berkenalan satu sama lain supaya tidak bingung dalam memanggil satu sama lainnya dan juga mengisi presensi kehadiran setiap anggota dengan menandatangani kotak tabel yang sudah tertera pada kertas bertinta itu.
Seorang gadis dengan rambut hitam legam sepunggung yang sengaja dikucir tengah bagian atas dan bagian bawahnya digerai itu duduk di kursi bagian depan dekat dengan besi pembatas tribun sembari mendengarkan pembekalan dari para dosen yang sedang menjelaskan di panggung bawah sana menggunakan monitor LCD besar supaya terlihat dari berbagai sudut. Ketika sedang asik mendengarkan dengan serius, tiba-tiba ada tangan yang mecolek sedikit punggungnya. Sontak Ia langsung menoleh ke belakang, melihat siapa yang telah berbuat jahil padanya, atau bahkan orang itu ingin berkenalan padanya.
"Eh, Eya! Kita ketemu lagi di KKN ternyata." Seorang lelaki dengan badan gemuk dan tinggi juga kulit sedikit hitam itu menyapa gadis yang duduk di depannya. Ya gadis, di depannya yang berambut sepunggung itu adalah bernama Freya, yang biasa dipanggil dengan nama Eya.
"Woy, Ternyata kamu, Dit, yang dari tadi di belakangku. Kirain siapa, sumpah aku gak kenal dengan semuanya, hehe."
Ternyata yang duduk dibelakangnya adalah teman magang duanya ketika mengajar di salah satu SMK kota Semarang. Namanya adalah Dito, memang sedikit songong dan menjengkelkan ketika pertama kali mengenal lelaki itu, tapi jika sudah kenal, dia akan lebih menjengkelkan lagi menurut Eya.
"Ya makannya kenalan, bego!" Dito pun menoyor kepala Eya. Sudah biasa, Dito dan Eya memang selalu begitu karena sudah kenal lama meskipun diantara mereka jarang melakukan komunikasi melalui ponsel.
"Ya gak usah pake noyor juga kali," Ekspresi wajah Eya langsung berubah, bukan tidak senang, hanya saja bukan di waktu yang tepat karena bisa saja orang-orang melihat mereka, bukan? Itulah yang ada di pikiran Eya.
"Hehe, ya maap, kebiasaan sih aku tuh. Nih, kamu belum tanda tangan, presensi dulu, sebelum di kumpulkan oleh pak ketua," Eya terkejut mendengar Dito menyebut ketua. Ketua siapa maksudnya? Itulah yang ada dipikirannya.
"Loh, emang udah ditentuin ya ketuanya siapa?" gantian Dito yang terkejut karena Eya tidak tahu, padahal jelas-jelas sudah ada digrup chat mereka kalau ketuanya sudah ditentukan.
"Lah kan digrup chat udah ada, dodol. Makannya punya ponsel tuh di buka, jangan buat main sosmed lain doan," dengan tatapan mata yang memicing, Dito menyindir.
Eya yang merasa tersindir pun tersenyum sambil menandatangani kehadirannya. Lelaki yang duduk di sebelah Dito pun ikut tersenyum dan tiba-tiba saja menyahut.
"Ya udah, kalau begitu mari kenalan dulu, Namaku, Ataka, presensi nomor satu di situ," lelaki bernama Ataka itu mengulurkan tangan kanannya di hadapan Eya yang sedang menulis, refleks setelah tandatangan, Eya melihat ke arah sumber suara.
Yang dilihatnya saat ini adalah seorang lelaki berawakan kurus dengan rambut seperti model korea belah tengah, badan yang putih bersih, dan ada tahi lalat kecil di pipi sebelah kirinya. Senyumannya membuat Eya seakan tersihir oleh ketampanan dari lelaki memperkenalkan diri sebagai Ataka itu. Bahkan Eya hampir tidak berkedip karena terus melihat wajah yang lumayan tampan itu. Eya menerima uluran tangan tersebut sambil tersenyum juga. Hal itu tidak lepas dari pandangan Dito dan teman lainnya yang memandang mereka dengan ikut tersenyum.
"Freya, panggil saja Eya," Teman-teman yang lainnya langsung berbisik-bisik tetangga. Namun tidak dengan lelaki kurus dengan badan kulit hitam dan sedikit kumis itu yang memandang interaksi mereka seakan tidak suka.
'Cantik sekali dia, ah, apa yang kurasa saat ini? Hatiku tiba-tiba berdesir. Aku memang biasanya suka berteman dengan gadis-gadis cantik, tapi kenapa dia berbeda? Cantiknya tidak membosankan." Dalam hati Ataka berbicara sembari tidak melepas pandangan dari Eya.
"Ekhm. Ya gak usah modus juga kali, Ka," Ataka dan Eya pun terkekeh karena bukan hanya Eya yang memandang kagum pada Ataka, melainkan Ataka juga sama. Keduanya yang tersadar pun langsung melepas tautan tangan mereka.
"Hah? Hehehehe, enggak kok, hanya pengen kenalan doang, iya," Ataka menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Pak ketua, ini Bu ketuanya malah gak ngatur, ini gimana ini lanjutannya?"
"Ini kan kita udah mulai libur, mulai besok, kita survey lokasi bisa?" Ataka meminta pendapat kepada mahasiswa yang lainnya. Anak-anak dalam kelompok itu segera mengiyakan saja.
"Bisa-bisa, aku bisa. Ayok aja sih, biar cepet kelar," seru Nur.
"Beneran bisa kau, Nur?" Gadis yang dipanggil dengan Nama Nur ini adalah wakil ketua dari Ataka.
"Beneran, nanti aku bisa boncengan dengan Dian. Tapi gak tahu kalau yang lain. Mungkin ada yang gak bisa atau apa," mereka mengangguk serentak dan berseru,
"Bisa kok, kami bisa," Jawab yang lainnya serentak.
"Kamu gimana, Eya?" Pertanyaan itu dilontarkan Ataka untuk Eya.
"Bisa, malah lokasi KKN dekat dengan desaku loh,"
"Lho lho lho, gitu kok gak bilang dari tadi," seru Lelaki bernama Andre.
"Hahahahaha,"
"Dekat denganku juga," sahut seorang gadis dengan tampilan tomboy berambut panjang sepinggang yang dikepang ke belakang.
"Nah, bener tuh kata Krizea," pekik Eya.
"Lho, kalian juga sepertinya saling kenal," heran Ali yang duduk di sebelah Ataka.
"Lho iya, orang kita dulunya satu SMA. Terus kuliah ini malah beda prodi, ya alhasil terpisah jauh," Gadis bernama Krizea mencoba menjelaskan.
"Bisa-bisanya ya. Hahaha. Yaudah, besok nih Krizea dan Eya harus jadi pengatur perjalanan ya. Jangan sampai lupa," kekehan Ataka masih terbawa suasana.
"Oh gak bisa pak ketu, aku besok naik busway," seketika tawa Ataka terhenti. Eya menolak menjadi pengatur perjalanan.
"Iya, Eya biasa naik busway. Aku juga harus boncengin Ayuk," sahut Krizea.
"Iya weh, nanti aku sama siapa coba?"
"Iya maksudku, kalau gak si Eya ya si Kriz yang jadi perisai jalan. Kalau si Eya gak bisa, setidaknya ada Kriz, nanti aku ikutin kalian dari belakang," jelas Ataka lagi.
"Owalah, gitu. Ok deh, siap."
_
Keesokan harinya mereka berkumpul di taman kampus untuk melakukan survei menuju desa Kunir, lokasi mereka akan melakukan kegiatan KKN. Karena merasa bingung dengan lokasi yang ada di dalam google maps, mereka memutuskan untuk menunggu Krizea dan Ayuk yang dari tadi belum juga datang untuk kumpul di taman kampus. Padahal digrup chat sudah dijelaskan berkali-kali, bahkan pesan sudah disematkan, tidak mungkin jika diantara mereka belum membuka, bukan? Ataka dan Nur juga sudah berusaha untuk menelpon mereka berdua, tapi nomor ponsel mereka seakan tidak aktif sama sekali.
"Ini tetap akan kita tunggu aja atau tinggal?" Ataka mulai ragu karena yang menjadi perisai perjalanan malah tidak datang juga.
"Pengennya sih langsung berangkat, tapi mereka lama banget, heran dah," sahut Dito yang sudah berboncengan dengan Andre.
"Yaudah kita tunggu 5 menit lagi, kalau belum datang juga kita tinggal aja. Nanti aku mau tanya Eya lewat chat aja jalurnya lewat mana saja," Putus Ataka.
Lima menit berlalu, Kriz dan Ayuk belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat rombongan satu kelompok KKN berjumlah 14 orang yang menunggu pun semakin geram dibuatnya.
"Yuk kita tinggal aja ah, udah siang nih," keluh Heny.
"Iya, dikira gak ada kerjaan apa ya. Abis survey ini aku ada jadwal ngelesin nanti setelah dzuhur. Kalau molor gegara dua orang doang mah waktuku bisa terbuang sia-sia pak ketua," seru Sindi.
"Baiklah, berangkat sekarang aja. Lagian aku udah tanya Eya kok, dan dia udah di tengah perjalanan naik buswaynya," Ataka mulai menyalakan motornya dan melajukannya.
"Ini serius?" Tanya Nur.
"Yaudah sih ayok berangkat aja. Lagian si Kriz dan Ayuk kan udah tahu jalurnya. Kalau mereka gabisa diandalkan, mending nanti telpon Eya aja nanti. Tapi minggirnya jangan dadakan ya, supaya gak terjadi hal yang tidak diinginkan di jalan," Saran Dito.
"Siap, yuk."
Mereka akhirnya meninggalkan Kriz dan Ayuk yang lama ditunggu dan segera berangkat mencari lokasi survey di desa Kunir.
.
~Bersambung~
Di dalam busway, Eya duduk sambil terus memandangi ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Untungnya hari ini bus tidak penuh dengan orang hamil, bawa anak kecil, dan lansia. Jadi dirinya bisa duduk bebas di bus tanpa adanya pengertian harus berdiri demi orang-orang tersebut. Dalam chat tersebut, terdapat beberapa pesan dari Ataka yang ingin dijelaskan secara detail jalan dan juga arahan yang pas untuk menuju desa Kunir.
Bukan hanya itu, Ia juga harus mengabari sang kekasih yang bertanya tentang di mana lokasi Ia ditempatkan KKN.
Ya, Eya memang sudah mempunyai kekasih, maka dari itu dirinya harus mengabarinya supaya nanti bisa mampir ketika masa-masa KKN untuk melepas kerinduan satu sama lainnya, toh pacar Eya rumahnya juga di Semarang. Eya hanya mengetikkan bahwa dirinya melakukan KKN di kecamatan Kluwih, desa Kunir yang bisa ditempuh hanya dengan satu jam perjalanan jika dengan menggunakan motor, jika naik busway akan ditempuh dalam jangka waktu 2 jam karena bus biasanya harus berputar-putar arah dan mencari penumpang.
Eya sudah sampai di terminal dan berganti menaiki bus mini menuju desa Kunir. Desa kunir terletak di sebelah kanan tepat pada tikungan tajam, memang, disana sering terjadi kecelakaan hingga korbannya meninggal. Hal itu juga mengingatkan Eya kepada teman sebayanya ketika SMP dulu, temannya itu selalu memuji kecantikan dan kebaikan Eya.
Tapi ketika Eya sudah memasuki bangku kuliah semeter 1, mereka sudah tidak saling berkabar lagi, dan begitu dikabari teman lainnya di grup SMP bahwa temannya dengan nama Fenni ini meninggal karena kecelakaan tepat di depan balaidesa Kunir yang berhadapan langsung dengan jalan tikungan tajam tersebut. Memory itupun tiba-tiba muncul dalam pikiran Eya, rasa takut seketika menyelimutinya.
"Tidak, dia sudah meninggal, jadi nyawanya sudah dipegang Tuhan, bukan bergentayangan. Lagian kejadian itu sudah lama kok, dari tahun 2016, jadi tahun 2020 awal ini tidak mungkin dia masih disitu kan?" Monolognya dengan dirinya sendiri. Eya bukan tipe seorang indigo, tapi memang sensitif dengan hal-hal yang berbau mistis. Namun hal itu segera ditepisnya dari ingatan dan fokus untuk turun di tikungan tajam jalan desa Kunir tersebut. Menyebrang sebentar dan duduk di bangku warung yang kelihatannya belum buka dan tidak ada orang satu pun di sana.
"Kemana mereka itu? Kenapa belum sampai juga?" Setelah bertanya dengan dirinya sendiri, ponsel yang ada digenggamannya pun berdering. Segera Eya melihat siapa yang menelepon, ternyata itu adalah Ataka, ketua dari KKN yang akan Ia ikuti. Menekan tombol berwarna hijau itu.
Dalam sambungan telepon.
"Eya, kau sudah sampai? Turun di mana?"
"Ya, aku sudah sampai dan turun tepat di balai desa desa Kunir. Cepat ke sini, kau sampai mana sekarang, Ataka?"
"Baru sampai di depan pabrik Textil warna hijau."
"Kau tinggal turun dikit lagi, nanti ada belokan kanan jalan, ada gang kok disini. Aku di depan gang menuju balai desa," Jelas Eya.
"Oh berarti langsung masuk gang itu sudah balai desa?"
"Iya, cepatlah,"
"Baiklah."
Telepon ditutup oleh Eya. Sambil menunggu, Eya melihat sekitar, terdapat rumah-rumah yang memang tidak teratur dari segi medan yang miring seperti ini. Eya jadi memikirkan, nanti posko KKN akan berada di sebelah mana. Ketika sedang asik dengan pikirannya, namanya pun dipanggil dari seberang Eya.
"EYAAAA!!" Panggilnya. Eya sengaja tidak menyahut, hanya melambaikan tangan kanannya saja sambil tersenyum, tanda dia sudah menemukan teman satu KKNnya. Siapa lagi kalau bukan Ataka yang berboncengan dengan Ali. Setelah dirasa tidak ada kendaraan yang lewat, motor mereka berjalan mendekat ke arah Eya. Ataka mematikan mesin motornya.
"Kau sudah dari tadi?" Ataka bertanya sembari mematikan mesin motornya, Ali yang membonceng hanya diam sembari memainkan ponselnya.
"Baru saja kok,"
"Oh iya, mana balai desanya?"
"Tuh, nanti gang ini turun dikit udah sampai balaidesa," kedua bola mata Ataka mengikuti jari telunjuk Eya pada balai desa yang letaknya di medan miring, berseberangan dengan tempat Ia duduk sekarang.
"Benarkah? Sedekat itu?" Ali yang dari tadi hanya diam, ternyata sebenarnya juga ikut mendengarkan Eya dan Ataka berbicara. Sekarang Ia tahu bahwa balai desa tempat KKN sangat dekat dengan jalan raya.
"Ya emang dekat," seru Eya.
"Wah, enak dong," sahut Ataka yang juga sedang melihat sekitar.
"Enak dari mana? Malah bising kali, setiap hari denger suara kendaraan-kendaraan besar. Ini aja bising gini," protes Eya dengan nada yang seperti kecewa. Ataka mengalihkan pandangannya ke arah wajah Eya.
"Iya, sih. Tapi ya mau bagaimana lagi, toh kita tetap akan KKN disini kan?"
"Ya iya, masa di atas langit," jawab Eya asal, membuat Ataka dan Ali terkekeh.
"Hahaha, kau ternyata bisa bercanda juga, Eya," Ataka kagum karena ternyata Eya bisa mengajak bercanda juga. Sedangkan Eya? Tersenyum malu sambil masih menutupi mulutnya menggunakan tangan. Ketika sedang asik berbicara. teman-teman mereka mulai berdatangan satu persatu dengan Ataka yang memberi tanda di sebelah kanan jalan.
"Wah, pak ketu pertama nih," Dito memarkirkan motornya di sebelah motor yang Ataka kendarai.
"Iya dung, yang lain mana?" Tanya Ataka.
"Masih di jalan mungkin, tunggu aja. Sebentar lagi pasti sampai," Jawab Dito.
Benar saja, setelah menunggu beberapa menit, akhirnya satu per satu motor dari anggota mereka pun datang tak terkecuali si Kriz dan Ayuk.
"Kalian nih, diminta tungguin malah ninggal," seru Kriz dengan nada kecewanya, yang lain pun mulai protes pula satu per satu mengutakan keluhan mereka.
"Ya gimana lagi? Kalian lama, makannya kalau mau janjian tuh tepat waktu, jangan molor," sahut Sindi.
"Ya maaf, tadi ada suatu kendala yang harus membuat kalian menunggu lama, hehe," seru Ayuk santai.
"Haaaahh.... pantas saja lama," seru Heny.
Mereka pun akhirnya sampai dan memasuki parkiran balai desa Kunir. Ketika masih di parkiran, mereka bingung mau langsung masuk atau bagimana.
"Ataka! Buruan masuk gih, kamu kan ketuanya," Pinta Nur, sebagai wakil ketua sembari melambaikan tangannya, kode supaya Ataka mau mendekat ke arahnya dan segera masuk lebih dulu.
"Ya sama kamu lah, masa sendirian," Ataka tidak terima dengan mengerutkan keningnya.
"Haha, kenapa gak sama Eya aja? Hayo, kamu kan andalannya si Eya tuh," Bisik Nur ke telinga Ataka yang membuat lelaki itu bergidik ngeri. Matanya melotot dan menghadap ke arah Nur.
"Apaan sih, aku sama Eya aja baru kenal kemarin, ya kali," timpal Ataka tidak terima.
"Ya gak papa, aku juga mau deket ah sama Eya," sahut Nur.
"Hahaha, ya sana."
"Heh, kalian berdua ngapa dah? Malah bisik-bisik gak pada masuk," Ali yang sudah berdiri di depan pintu masuk memerintahkan Nur dan Ataka supata cepat masuk, bukan malah berbisik-bisik tetangga terus.
"Nah, kamu saja yang masuk, Li," malah Ataka meminta Ali untuk masuk.
"Enak aja, siapa ketuanya? Ha?" Ali menantang sembari berkacak pinggang dan bersandar di dekat pintu.
"Hahahaha, yuk masuk bareng-bareng aja!" Perintah Ataka kepada semua anggotanya, dan mereka mengikuti arah Ataka untuk masuk ke dalam ruangan balai desa Kunir.
Eya berjalan beriringan dengan lelaki tinggi berkulit hitam, rambut sedikit keriting dengan kumis tipis yang sempat memandangnya dan Ataka tidak suka kemarin, Ia adalah Iham. Ilham ini dari program studi PJKR yaitu Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Sangat berbanding terbalik dengan Eya yang dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Ilham memang dari awal dibuat grup KKN ini sudah pertama kali mengajak Eya untuk chat secara pribadi, entah itu menanyakan hal seputar KKN atau bahkan hingga ke hal kecil lainnya. Dia memang lebih banyak diam dari awal mengenal Eya. Meskipun Eya tahu, bahwa dirinya sudah punya pacar, tapi untuk chattingan dengan cowok lain tidak masalah bukan? Toh mereka juga teman sendiri.
Teman yang akan menemaninya ketika KKN nanti. Eya merasa memang si Ilham ini orangnya humoris jika mau mengenal lebih dekat. Sangat berbeda degan Dito, yang ngechat ketika ada butuhnya saja. Tangan kanan Eya dipegang erat oleh Ilham, dengan menunjukkan senyuman ke arah Eya yang dibalas dengan senyuman juga. Bau parfum lelaki yang menyengat membuatnya sangat suka berada di dekat Ilham.
'Duh, kenapa Ilham bisa semanis ini? Aku kok jadi deg-degan ya.' Ucap Eya dalam hati sembari mengulum bibirnya ke dalam.
~Bersambung~
Setelah bertemu dengan kepala desa dan juga staff dan disetujui, akhirnya rombongan mahasiswa pun keluar dari balai desa Kunir.
"Semua sudah disetujui, kita tinggal survey posko yang ada di sekitar desa Kunir ini. Tapi, Pak Sobri malah gak berangkat hari ini, jadi gak bisa sekarang deh sepertinya," dengan kening yang berkerut, Ataka merasa cemas. Disaat seperti ini, justru Pak Sobri malah tidak ada. Bagaimana bisa melakukan survey jika pemandunya tidak ada? Ia juga bingung ingin memberikan solusi seperti apa kepada anggotanya.
"Waduh, lalu bagaimana jadinya, Ka?" Tanya Ali. Teman-teman yang lain pun juga ikut panik karena mendengar kabar yang masih tidak pasti itu dari Pak Sobri.
"Mending kita makan dulu deh, laper, tahu," celetuk Kriz mencairkan suasana supaya tidak terlalu tegang.
"Iya, yuk, cari-cari di sekitar sini ada restaurant enak atau gak," Saran Heny. Bukan hanya Kriz ternyata yang merasa lapar, melainkan anggota yang lain juga sama, mengingat ini sudah pukul 12.30.
"Bentar lah, mending kita rembuk dulu ini kapan kita akan bisa bertemu Pak Sobri," saran Ataka pada anggotanya.
"Tadi udah minta nomor ponsel Pak Sobri belum?" Dito memastikan, siapa tahu Ataka lupa untuk menanyakannya ketika di dalam balai desa tadi.
"Udah, sih. Ini juga lagi dichat," sahut Ataka sambil mengetik sesuatu di ponselnya. Karena penasaran, Andre pun melihat ke arah layar ponsel Ataka.
"Yaudah kita tungguin dulu di parkiran sini, siapa tahu nanti Pak Sobri kesini," sahut Nur.
"Tapi kalau gak kesini juga ya berarti harus kita menentukan hari lagi untuk bertemu beliau," Saran Sindi.
Sedangkan di dekat tangga pintu masuk, Ilham sedari tadi duduk berdua dengan Eya dan mengajaknya mengobrol. Awalnya menanyakan tenyang KKN, namun pembicaraan itu semakin mengarah ke memberi perhatian lebih. Eya hanya menanggapi seperlunya saja.
"Oh iya, nanti pulangnya kamu naik apa, Eya? Kuantar sampai rumah mau?" Ilham ingin mendekati Eya secara langsung dengan mulai memberikan perhatian pada Eya. Eya tersenyum manis, kemudian menjawab,
"Ah gak usah, Ham. Nanti malah ngerepotin kamu," Eya merasa tidak enak dengan Ilham.
"Gak kok, gak papa. Supaya sekalian bisa tahu rumahmu," seketika satu pikiran terlintas di pikiran Eya. Ya, tentang Tiwik yang hari ini menebeng Ilham.
"Lha nanti Tiwik gimana kalau gak boncengan sama kamu, Ham?"
"Santai, nanti aku akan bicara padanya,"
"Yaudah deh."
Nur mendengar suara orang sedang memukul tembok dengan palu dan seperti orang merenovasi rumah, sebenarnya bukan rumah namun memang seperti kost-kostan yang memang sengaja dibangun. Karena jiwa penasaran Nur ini sangat tinggi, akhirnya Ia menepuk lengan Eya.
PUK!
"Eya?" Yang ditepuk terkejut sembari menoleh ke arah Nur.
"Ya? Kenapa, Nur?"
"Kau tahu, sepertinya rumah belakang balai desa ini sedang direnovasi deh. Terlihat dari pasir bangunan dan banyak material yang masih berserakan disana. Aku juga mendengar orang sedang memukul tembol dengan palu. Yok coba kesana, siapa tahu harganya murah kan bisa dibuat posko," Saran Nur.
"Weh iya juga ya. Yuk coba kesana dulu," Ajak Eya. Sontak Nur langsung menarik pergelangan tangan Eya dan berlari menuju rumah itu. Dilihatnya di sana ada 3 tukang dan satu orang penjaga seperti mandor yang mengatur tukang dalam pembangunan kost tersebut. Sebenarnya kost tersebut sudah jadi, hanya saja temboknya ada sebagian yang belum dicet dengan warna yang sesuai, masih flamiran warna putih saja.
Eya dan Nur melihat-lihat setiap ruang kamar kost yang bagian bawah. Ada sekitar 3 kamar, di depan kost itu juga sudah ada spanduk bertuliskan kost untuk putra-putri/keluarga. Sangat cocok jika digunakan sebagai posko KKN bukan? Karena sudah sangat penasaran, Nur memutuskan untuk bertanya kepada salah satu pak tukang karena si mandor sedang sibuk mengurus data-data seseorang yang berbicara padanya di ruangan khusus tamu.
"Pak mau nanya, boleh kita lihat-lihat ke dalam? Kita butuh kost ini semisal jadi untuk posko KKN," Nur mencoba bertanya pada salah satu tukang disana.
"Oh itu, kalau mau lihat mending di ruang sebelah, kamar nomor dua ini, atau yang pojok dekat tangga sana. Itu sudah jadi semua, kalau kamar nomor satu ini belum jadi,"
"Ndon, coba kau bukakan pintu untuk kamar nomor dua," Perintah salah satu tukang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Dan akhirnya dibuka juga kamar nomor dua itu.
"Pak, disini ukurannya sama semua kan per kamar?" Tanya Eya coba-coba.
"Iya, sama semua. Ada kamar mandi dalam juga,"
"Fasilitasnya kira-kira apa aja ya pak?"Tanya Eya lagi.
"Kalau kamar mungkin hanya lemari gede, kasur, kamar mandi dalam, udah itu doang. Kalau luar kamar ya hanya dapur itu,"
"Berarti, semua peralatan harus bawa sendiri dari rumah ya, Pak,"
"Iya, oh iya kalau kamu pengen lihat di kamar atas udah ada kasur dan lemarinya juga. Tapi kuncinya masih dibawa Pak mandor kalau kamar atas. Minta ke Pak mandor coba,"
"Baiklah, Pak." Baru saja ingin meminta Pak mandor kunci, eh suara menggelegar dari Nur yang tiba-tiba memanggilnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk meminta kunci kamar atas pada mandor.
"Eyaaa!" Eya pun langsung menghampiri Nur yang berada di kamar nomor 2.
"Ada apa sih, Nur?"
"Lumayan kali ya kalau disini. Kamu udah tanya harganya?"
"Belum sempet, tadi baru mau cek kamar atas malah kau memanggilku, ya gak jadi."
"Hehe, ya maaf."
"Yaudah biar aku yang nanya." Nur menghampiri pak tukang tadi.
"Pak, kalau ngekost disini, sekamar berapa ya kira-kira?" Tanya Nur.
"Kalau kata pak mandor sih sekitar 600rb perbulan Tapi kalau kalian pesan beberapa kakar ya gak tahu, mungkin bisa diberi harga murah. Toh kalian disini KKN kan,"
"Iya, Pak. Yaudah, Pak, besok atau kapan gitu kita akan kesini lagi, ini mau ngomong dulu sama anak-anak mahasiswa lainnya.Terima kasih ya, Pak. Permisi," kata Nur mewakili.
"Ya, gak papa. Kalau butuh apa-apa tentang kostan tanya aja langsung ke pak mandor ya. Ini orangnya sedang kedatangan tamu, biasanya beliau yang mengurus siapa saja yang amu mendaftar kost di sini,"
Eya dan Nur mengangguk patuh dan pergi meninggalkan kostan itu menuju parkiran balaidesa lagi untuk bertemu teman lainnya.
"Eh kalian berdua dari mana sih? Kami udah laper juga, ni kata Krizea mau ke Miago dekat sini," kata Dito.
"Serius? Miago baru itu kan?" Tanya Eya.
"Iya lah, yang mana lagi coba?" Tanya balik Kriz.
"Wah, aku belum pernah coba, katanya sih enak," sahut Eya.
"Yaudah kita ke sana aja sambil membahas tentang proker," putus Ataka.
"Yuk lest go!!" Krizea segera mengambil kunci motor dan menaikinya.
"Eya, jadi sama aku kan?" Tawar Ilham.
"Ya jadi dong, tapi Tiwik gimana?"
"Tadi aku udah bilang kok, katanya gakpapa, dia bonceng Fira aja."
"Oh, baiklah."
_
Mereka sudah sampai di miago dan memesan mie ayam goreng dengan berbagai macam varian. Setelah memesan dan memakan makanan dengan hikmat, mereka melanjutkan untuk membagi kelompok dalam pengerjaan proker.
"Untuk proker pendidikan nih, ngelesin, siapa yang mau jadi seksinya? Dibutuhkan 2 orang," Tanya Ataka.
"Mending Eya aja noh, yang prodi pendidikan bahasa Indonesia."
"Ok deh, sama siapa?" Tanya Eya.
"Sama aku aja," Ilham mengangakat tangan kanannya.
"Yaudah, berarti sie pendidikan Eya dan Ilham ya. Jangan lupa setiap sudah diadakan proker les langsung kalian tulis laporannya, berkasnya kirim ke sekretaris, yaitu Dian. Siap kan Yan?" Tanya Ataka. Dian yang masih makan pun hanya mengangguk.
"Siap dong pak ketu."
Pembahasan terus berlanjut hingga mereka menyebutkan bahwa di RT 6 harus ada proker ngaji.
"Eh bentar, tadi aku dengar dari staff kepala desa, ada yang bilang kalau RT 6 selalu mengadakan yang namanya pengajian sehabis maghrib. Ini maksudnya gimana ya?" Tanya Dito.
"Kalau sedengerku sih, yang dimaksud pengajian itu proker kita yang harus ada seperti ngelesi, tapi ngaji gitu," Jelas Ali.
"Ngajar ngaji maksudmu?" Tanya Eya.
"Iya, sekiranya sih begitu," Balas Ali.
"Yaudah kalau gitu, tentukan aja sekalian. Siapa yang mau jadi seksi ngajar mengaji?" Tanya Ataka.
"Kamu aja dengan Eya, cocok loh ngajar ngaji," Celetuk Ayu.
"Heh, aku gak-" Belum sempat Ataka melanjutkan kalimatnya, sudah disela oleh Tiwik.
"Udahlah, aku sering kok ngelihat Ataka ngaji di masjid kampus pas jam salat dzuhur. Ataka aja sama Eya." Tiwik menimpali.
"Cie cieeee, emang cocok sih mereka berdua ngajar ngaji, dari muka-mukanya sih pada alim yakan." Ucap Nur, dan mereka semua terbahak-bahak.
"Sikat aja sih, Ka."
"Gak usah kompor kamu, Dit," Tatapan tajam pun dilayangkan Ataka kepada Dito.
"Aku sih gak masalah ya," Eya tersenyum dan menyetujuinya.
"Wah, langsung dijawab nih, ahhahah," kata Andre. Diantara mereka yang tidak tertawa hanya Ilham. Ia seperti cemburu dengan kedekatan Ataka dan Eya.
.
'Aku akan berusaha untuk mendapatkan hatimu ketika KKN dimulai, Eya. Kujamin itu.' Ucap Ilham dalam hati.
.
~Bersambung~