Bab 1

Prambanan, sendratari Ramayana, Anoman Obong.

Aku menari dengan tubuh yang merinding. Bukan, bukan karena desau angin malam di pelataran candi Prambanan tempat aku menari saat ini, tapi karena tatapan tajam dan dingin dari putra satu-satunya keluarga Shah, Rollan Keenan Shah. Pewaris puluhan hektar kebun-kebun sawit di Sumatra dan Kalimantan, pemilik dari tambang-tambang batu bara yang kabarnya bertebaran di negeri ini dan untuk mendapatkan semua itu mereka harus menyuap puluhan politikus korup di negeri ini. Keluarga Shah memang keluarga mafia yang telah dilindungi sejak negeri ini berdiri, ada banyak dosa yang telah mereka lakukan secara turun temurun dan hal itu berhasil membuat keluarga mereka tak tersentuh.

Pria itu duduk paling depan, dia terlihat tidak menikmati pertunjukan sendratari ini, tatapannya hanya terfokus pada satu titik, aku. Ayuma Ralline Wijaya, aku yang baru saja mendapatkan kesialan karena suami yang baru dinikahiku dua minggu lalu menjadikanku sebagai jaminan atas hutang-hutang perusahannya.

Haruskah aku membunuh diriku sendiri seperti Pitaloka, demi menjaga harga diri dan kehormatanku? Atau aku harus bersabar dan menunggu seperti Dewi Sinta yang tengah aku perankan saat ini, hingga suamiku mau membebaskanku dari cengkaraman pria seperti Rollan?

Entah, aku tak punya pilihan dan tak berani memilih karenanya semuanya sama-sama buruknya untukku.

Selesai menari aku langsung bersembunyi di ruang riasku dan merencanakan kabur dari tempat ini, tapi saat aku baru saja melepas beberapa aksesoris yang melekat ditubuku seseorang masuk tanpa permisi.

“Kau! Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku dengan membentak. Beruntung aku masih memakai pakaian lengkap, aku tidak bisa membayangkan jika dia akan melihatku dalam keadaan telanjang.

Pria itu menyeringai sinis. “Aku rasa kau sudah lupa dengan statusmu saat ini, Ayu. Kau harus ikut denganku, sampai suamimu tersayang bisa membayar semua hutang-hutangnya padaku.”

Aku langsung menatapnya dengan tajam. “Kau tahu, urusan hutang piutangmu dengan Bastian tidak ada hubungannya denganku sama sekali. Perjanjian kalian berdua tidak sah dimata hukum! Lagi pula, aku sudah menggugat cerai Bastian,” ujarku dengan senyum penuh kemenangan.

“Oh ya?” ujarnya dengan alis yang terangkat. “Perjanjian itu sah, sayang. Karena aku sudah mengantisipasi semua hal, kau tidak akan bisa melaporkanku kepolisi, kabur dariku atau melakukan hal bodoh lainnya,” ujarnya.

Lalu dia berjalan kearahku hingga jarak diantara kami tinggal beberapa centi dan membuatku bisa mencium aroma maskulin yang keluar dari tubuhnya. Aku menelan ludah dengan kasar. Aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Rollan memiliki tinggi diatas rata-rata, karenanya dia harus menunduk saat melihatku dan harus aku akui, dia sangat tampan kalau saja wajahnya tidak memiliki dua bekas luka di mata kirinya, membuat tatapan tajam matanya semakin terlihat lebih mengerikan.

“Apa maumu?” tanyaku dengan suara bergetar.

“Apa mauku?”

Ya, jika kau berani menyentuhku, aku akan berteriak supaya orang-orang menghajarmu seperti maling rendahan!”

Dia hanya menyeringai dan mengendus aroma tubuhku. “Aroma penari, aroma bunga melati huh? Aku menyukainya.”

“Jangan coba-coba Rollan, aku sudah memperingatimu!”

“Lakukan, berteriaklah sekeras yang kamu bisa, karena tidak akan ada yang bisa menolongmu kecuali aku.”

Aku menghela nafas kasar. “Kau tahu, kau benar-benar bodoh Rollan.”

“Kenapa?” tanyanya bernafas di dekat telingaku.

“Kau menjadikanku sebagai jaminan hutang Bastian, lelaki itu tidak akan pernah membayar hutang-hutangnya padamu,” ujarku mencoba bersikap sesantai dan setenang mungkin. Aku mencoba mempengaruhinya agar melepaskanku dan membunuh lelaki pengecut yang menjadikanku sebagai jaminan hutang.

Rollan berhenti mengendus tubuhku, dia menatapku tajam. Sepertinya dia terpengaruh, dan aku kembali menembaknya.

“Jika dia bisa menjadikan istri barunya sebagai jaminan hutang, maka dia bisa dengan mudah kabur keluar negeri untuk menghindari kewajiban bayar hutangnya padamu,” ujarku menatap tepat di matanya.

Aku tidak perduli, Ayu,” katanya sambil mendesis kearahku.

“Kau akan rugi jutaan dolar, Rollan. Sadarlah!" bentakku.

“Aku sangat sadar Ayuma, karenanya aku memintamu secara langsung padanya, kau akan jadi perempuanku, milikku.

Aku langsung mendorong tubuhnya agar menjauh dariku, tapi dengan cepat dia menangkap pergelangan tanganku.

“Jangan bersikap kasar, Ayuma, sayang. Semakin kasar tingkahmu, aku semakin suka. Sekarang bersiaplah, orang-orangku sudah menunggu.”

Aku menghela nafas lega begitu dia melangkah keluar. Tapi sebelum kelegaan bnar-benar aku rasakan, Rollan berbalik.

“Ayu.”

“Ada apa lagi, huh? Masih belum puas berbicara omong kosong di depanku?” bentakku dengan kesal.

“Aku sangat mendukung perceraianmu dengan suamimu, karena setelah itu kau tidak hanya akan aku miliki sebagai jaminan pembayar hutang, tapi aku akan memilikimu seutuhnya.”

Dasar brengsek!!!

Aku hampir mengumpat, pria ini benar-benar gila.

“Kau benar-benar gila! Keluar! Keluar dari sini Rollan.”

Ha… ha… ha….

Tawa Rollan menggema. Begitu dia benar-benar menghilang aku segera mengambil handhone dan menekan nomor Bastian.

Drrttt…. Drttt….

“Ayuma sayang, ada apa?”

“Kau pria bajingan menjijikkan Bastian!” teriakku begitu mendengar suaranya. “Tega-teganya kau menjadikan aku sebagai jaminan untuk membayar hutang-hutangmu!”

“Aku minta maaf sayang, aku…..”

“Aku, aku apa?” aku memotong ucapannya dengan membentak. “Kau tahu, dia menjemputku, Bastian….”

Air mataku mulai menetes, aku benci dengan kerapuhan yang aku miliki. Tapi apa yang bisa aku lakukan saat ini? Kepalaku buntu, aku tidak memiliki ide sama sekali.

“Tolong dengar penjelasanku, sayang. Jangan menangis please….” Suara Bastian terdengar ikut panik.

“Kau benar-benar kejam Bastian. Kau suamiku, kau harusnya bertanggung jawab pada hidup dan matiku, bukan memperlakukanku dengan cara seperti ini!”

“Aku tidak bermaksud, Ayu. Tapi….”

“Tapi, tapi apa? Aku bukan barang yang bisa kau berikan pada siapapun yang kau suka Bastian!” bentakku dengan marah.

“Dia memaksaku untuk menjadikanmu sebagai jaminan Ayu!”

“Hi… him?”  aku bertanya dengan suara bergetar karena terkejut. Apa lagi ini tuhan?

“Aku bersedia memberikan semua padanya, tapi dia tidak mau. Dia menginginkanmu Ayu….”

Seseorang masuk kembali dan lagi-lagi dia adalah Rollan. Aku langsung menatapnya dengan tatapan yang ingin membunuh.

“Apa maksudmu dengan dia menginginkanku?” tanyaku sambil menekan tombol loadspeaker di handphoneku.

“Rollan Keenan Shah hanya mau menerima bayaran hutangku jika aku memberikanmu sebagai jaminan, dia tidak membutuhkan gedung, saham dan lainnya, dia hanya menginkanmu.”

“Karenanya kau menyerahkanku padanya?” tanyaku sambil menatap Rollan yang hanya diam mendengar pembicaan kami di telpon.

“Ya, tapi itu tidak akan berlangsung lama sayang. Aku akan segera melepaskanmu dari cengkraman mantan kekasihmu itu.”

Bab 2

Bajingan brengsek itu benar-benar menyebalkan. Mulutnya perlu di hajar karena terlalu suka berbohong. Dan lihatlah Ayuma, sama seperti tiga tahun lalu, dia dengan mudahnya terpengaruh oleh ucapan lelaki brengsek yang selalu memakai topeng manusia suci itu.

“Ayu, aku rasa kita perlu menyudahi drama ini dengan cepat. Kita harus segera pergi,” ujarku mencoba untuk tidak memperdulikan omong kosong pria gagal yang mengaku sebagai suami dari gadisku itu, aku akan segera melepas topeng suaminya.

Dia mendengus lalu mematikan telponnya. “Keluar, aku akan segera berganti pakaian, setelah itu aku akan mengikuti kemanapun yang kau mau!”

Wow…, apa saja yang sudah dibicarakan oleh pria brengsek itu padanya, hingga Ayuma yang tadinya selalu bersiap untuk membunuhku kini terlihat mengalah? Tapi baiklah, aku akan mengikuti rencananya.

Setelah beberapa saat Ayu akhirnya keluar, rambut panjang hitamnya yang tadi tertutup oleh aksesoris telah tergerai dengan indah, kulitnya bersinar di bawah cahaya rembulan yang menyinari candi Prambanan. Aku terpesona, tergila-gila padanya seperti Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang, tapi kisahku dengan Ayuma akan aku pastikan tidak berakhir tragis seperti mereka.

 “Apa yang kau lakukan?” bentak Ayuma begitu aku memasangkan jaketku di bahunya.

“Membuatmu tetap hangat, atau kau ingin aku membuatmu hangat malam ini?”

“Kau benar-benar bajingan, Rollan!” desisnya lalu melepaskan jaket pemberianku ke tanah. “Jaga sopan santunmu dan jangan lupa, aku masih istri orang Rollan.”

“Istri orang?” aku tersenyum menyeringai. “Kau akan segera bercerai darinya.”

Plak!!!

“Ouch….”

 “Hari ini aku menamparmu, besok aku akan membunumu,” ujarnya dingin dan langsung melangkah pergi meninggalkanku sendiri.

Aku menyukainya. Aku menyukai sikap kasar darinya dan tingkahnya membuaku sangat bergairah, penisku terasa berdenyut-denyut aku ingin membenamkan diriku didalamnya secepatnya. Tapi aku harus bersabar, cepat atau lambat dia akan jadi milikku seutuhnya dan saat itu, dia yang akan memohon padaku.

“Kau salah arah,” ujarku sambil menarik tangannya kearah parkiran mobilku.

Dia mendengus. “Tunjukkan saja jalannya! Sudah aku bilangkan, jangan coba-coba menyentuhku!”

“Baiklah sayang, sekarang ikuti aku dan jangan coba-coba melarikan diri kecuali kau ingin aku menggendongmu hingga ke mobil.”

Dia menggerutu, tapi dia dengan cepat mengerti posisinya apalai saat itu beberapa orang bodyguardku telah berdatangan bersama Ridwan Bahri asistenku, mereka sepertinya mencariku karena aku sudah terlalu lama berada di sekitar candi padahal sendratari telah lama selesai.

 “Selamat malam pak,” ujar Ridwan dan langsung tersenyum tipis pada Ayuma. “Pesawatnya telah lama siap, kita akan langsung berangkat.”

“Berangkat? Berangkat kemana?” tanya Ayuma, dia tampak kaget dan tidak mau meninggalkan kota Yogyakarta tempat suaminya berada.

“Ada urusan pekerjaan yang harus aku lakukan, kita akan pergi ke Kalimantan dan Riau.”

“Kita? Maksudmu kau ingin aku mengikutimu kemanapun kau pergi?”

“Ya.”

“Aku tidak mau! Aku bukan istri yang harus mengikutimu kemanapun Rollan.”

“Apa kau lebih suka menjadi tahananku Ayu? Tinggal dirumahku tanpa melakukan apapun. Kalau kau ingin melakukannya, dengan senang hati aku akan mengantarmu untuk pulang kerumahku.”

“Rumahmu yang di Jakarta?”

“Tidak sayang, kau akan mudah kabur jika aku meninggalkanmu seorang diri di Jakarta, tidak perduli ada banyak pengawal yang akan menjaga rumahku, kau pasti bisa mencari celah untuk melarikan diri.”

“Lalu, di mana? Aku akan tinggal di manapun, asalkan tempat itu tidak ada kau. Kau membuatku tidak bisa bernafas.”

Aku mengangkat alisku, gadis ini benar-benar berani. Dia bahkan tidak perduli jika saat ini dia tengah menghinaku di depan semua stafku, tapi gilanya semakin dia bertingkah buruk padaku, aku semakin bernafsu, penisku semakin menegang. Dia benar, aku harus segera menjauhkan dia dariku, setidaknya untuk saat ini.

“Baiklah kalau begitu maumu.”

“Jadi, kita akan berangkat ke Jakarta?”

“Pulau Amparo sayang, aku punya villa kecil. Tempat itu sangat cocok jadi penjara untukmu!”

“Pulau Amparo?” tanyanya dengan terkejut. “Aku tidak pernah mendengar nama pulau itu!”

Dia langsung mengambil handphonenya dan tampak sibuk beberapa saat tapi semakin lama dia melihat hanphonenya raut wajahnya tampak semakin kusut, frustasi dan penuh amarah yang aku suka.

“Tempat itu tidak berpenghuni!”

“Satu-satunya penghuni pulau itu adalah aku, Rollan Keenan Shah.”

“Kau gila! Tempat itu terisolasi dari dunia luar Rollan, nelayan bahkan hanya datang untuk berisirahat dan jarak ke pulau terdekat puluhan kilometer dan….”

“Dan kau ingin menjadi tahananku, Ayu. Pulau itu cocok untukmu, tidak ada sinyal, tetangga dan tentunya barang ini tidak berguna!” ujarku langsung merebut handphone di tangannya.

Dia menelan ludah, mungkin setelah membaca tentang pulau Amparo dia menyadari sesuatu yang cukup berbahaya bagi posisinya.

“Kau tenang saja, hanya peralatan modern yang tidak berpungsi di sana, tapi aku tidak akan membuatmu benar-benar sendirian. Stafku juga akan berangkat menemanimu, mereka akan memasak, memetik kelapa dan mencari ikan untukmu dan….” Aku menyentuh kulit lengannya yang sangat halus, dia bergidik dan langsung menghindar dariku.

Aku tertawa melihat tingkahnya. “Kulitmu kuning langsatmu akan menjadi kecoklatan, kau bisa berjemur di pantai setiap hari, aku akan membelikanmu ratusan bikini yang bisa kau pakai sesukamu dan aku tentunya akan berada di sana, menemanimu untuk bulan madu kita.”

“Hehh,” dia tertawa mengejek. “Aku tidak akan pernah menunjukkan kulitku lebih banyak padamu.”

“Kau mau kemana, sayang?”

“Bukankah kau berkata ingin pergi  ke Kalimantan dan Riau, bukan? Atau kau masih ingin menunggu di Prambanan, menjadi batu seperti Roro Jonggrang?”

“Kau tidak mau menjadi tahananku?” tanyaku menggodanya.

Gadis itu langsung menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal dan segera meninggalkanku dengan diikuti oleh bodyguardku, meninggalkanku hanya berduaan dengan Ridwan, orang kepercayaanku.

“Kau yakin akan membawanya, pak? Dia bisa berbaya untukmu.”

“Hidupku sudah berbahaya Ridwan. Banyak orang yang mengincarku,”

“Termasuk suami dan keluarga perempuan itu. Keluarga Wijaya tidak akan mungkin membiarkan anak perempuan mereka menjadi jaminan untuk membayar hutang.”

“Aku sudah tidak perduli lagi Ridwan, tiga tahun lalu mereka berhasil memisahkan aku dari gadisku dengan paksa jadi sekarang aku akan merebutnya kembali padaku secara paksa. Aku juga ingin tahu apa yang keluarga Wijaya lakukan saat mereka tahu putri kesayanganya menjadi alat jaminan hutang.”

“Mereka akan menggila, bakan mungkin memaksa pemerintah untuk ikut campur mengintervensi perusahaanmu dan….”

“Semua bobrok keluarga Shah akan di bongkar ke media?”

Ridwan mengangguk. “Bahkan scenario terburuknya adalah, kau akan masuk ke penjara.”

“Kalau begitu, kita harus melakukan persiapan untuk mengantisipasinya. Siapkan semua yang sudah kita rencanakan, Ridwan.”

“Semuanya sudah siap, pak. Kami hanya menunggu perintahmu untuk mengungkap semuanya.”

“Belum saatnya, kau masih harus melakukan satu hal lagi.”

“Apa itu?”

“Bastian Aryasatya, temukan semua hal tentang pangeran itu jangan sampai ada yang terlewatkan. Baik itu hutang, skandal, penyakit bahkan kalau perlu kau harus mendapatkan DNA darinya di tubuh pelacur yang pernah dia tiduri. Aku ingin tahu semuanya.”

“Baik pak.”

“Bagus, karena sekarang sudah saatnya cerita berubah. Kali ini, villain yang akan memenangkan ceritanya dan hero akan mati tanpa bisa melawan sama sekali.”

Aku tertawa terbahak-bahak, sudah saatnya cerita ini menjadi lebih menarik, bukan?

Bab 3

Pesawat jenis Airbus ACJ19  milik Rollan akhirnya terbang meninggalkan langit Jawa menuju Kalimantan. Sekarang sudah jam 11 malam, tubuhku terasa gerah, aku belum mandi sejak tadi, mengantuk juga lelah tapi otakku masih sangat waras, tidak sudi untuk mandi, ataupun tidur jika lelaki sialan ini ada di sampingku. Aku harus menahan semuanya demi menjaga diriku sendiri.

“Sayang, kau tidak ingin tidur?”

“Berhenti memanggilku seperti itu,” aku menjawab dengan ketus.

“Baiklah, kau ingin aku memanggilmu apa, nona?” tanyanya dengan tersenyum ramah yang kelihatan sangat dibuat-buat dan itu benar-benar mengerikan.

Aku langsung berpaling, enggan melihatnya. Karena dia benar-benar membuatku muak.

Tapi lelaki itu tidak menyerah.

Rollan bangun dari duduknya dan langsung mencengkram daguku supaya aku bisa melihatnya dengan jelas termasuk bekas lukanya yang sama sekali tidak ingin aku lihat.

“Kenapa kau selalu menghindar saat menatap lukaku, sayang. Kau sama sepertiku, bukan? Tidak melupakan tentang luka ini,” ujarnya sambil meraih tanganku dan memaksa agar jari-jariku menyentuh wajah sebelah kirinya.

Tanganku langsung bergetar dan dengan refleks aku langsung menghentakkan tanganku dan mengalihkan pandanganku tapi karena dia masih mencengkam daguku, memaksaku untuk tetap menatapnya.

“Kau tadi masih bisa melihatku dengan tatapan yang ingin membunuh, sekarang kenapa berbeda?”

“Bukan urusanmu, Rollan,” ujarku ketus.

“Tentu ini urusanku, sayang. Kau adalah milikku dan salah satu peraturan dariku yang harus kau ikuti adalah kau tidak memiliki satu rahasiapun di belakangku.”

“Peraturan tidak masuk akalmu membuktikan kegilaanmu, bukan?”

“Terserah, tapi selama kau bersamaku, kau harus melakukan apa yang aku minta dan jangan sampai aku mencari tahu sendiri rahasiamu. Jika tidak….”

“Jika tidak kau mau apa?” aku menantang.

Rollan hanya tersenyum. “Kau tidak perlu tahu apa yang akan aku lakukan. Jadi, apa yang kau bicarakan dengan suami tersayang?”

“Menyingkirlah dari hadapanku Rollan!”

Baiklah, aku akan pergi dari hadapanmu tapi sebelumnya ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan.”

“Apa itu?”

“Apa kau sudah memberi tahu ayah tersayang kalau kau bersamaku?” tanyanya. “Aku ingin tahu apa reaksinya.”

Cukup sudah, kesabaranku sudah benar-benar habis karena lelaki ini. Tanpa peringatan, aku langsung kakinya.

“Ouch….” Rollan berteriak kesakitan.

Dua orang bodyguard dan asistennya langsung serentak menoleh kearah kami begitu mendengar teriakan darinya, melihat bos mereka tengah terpincang-pincang karena tendangan dariku, asistennya langsung mendatangi kami.

“Apa yang kau lakukan huh?” bentak asistennya sambil menarik tanganku dengan kasar dan membuatku hampir terjerembab.

Saat aku hampir terjatuh Rollan dengan cepat menarik tubuhku ke dalam pelukannya, hangat pelukannya entah kenapa langsung membuat jantungku berdegup kencang.

“Jangan kasar Ridwan, dia akan segera jadi nyonyamu. Kau harus belajar menghormatinya.”

Amit-amit!

Aku langsung menyingkir, menjauh darinya.

***

Aku benar-benar-benar lupa sudah berapa jam aku tertidur karena tidak ada yang membangunkanku. Di luar matahari sudah bersinar dengan sangat terang, tapi suasana di villa ini benar-benar sepi, seperti tidak ada orang sama sekali padahal semalam ada beberapa pembantu yang bekerja di sini.

Tok… tok… tok…

Pintu kamarku di ketok dari luar.

“Siapa?”

“Saya, Sari, bu.” 

Oh, pembantu yang semalam.

“Apa saya boleh masuk?” tanyanya lagi.

“Tunggu sebentar,” aku berjalan menuju pintu tapi begitu aku akan membuka pintu, aku baru sadar jika pintu kamarku terkunci dari luar.

“Sialan!” umpatku. Sepertinya karena semalam aku benar-benar kelelahan karena perjalanan jauh, aku langsung tertidur begitu sampai hingga aku lupa mengunci pintu dari dalam. Beruntung kecerobohanku tidak dimanfaatkan oleh lelaki sialan itu, dia hanya mengunci kamar dari luar.

“Bu, apa saya boleh masuk?” tanyanya lagi dengan suara yang mendesak.

“Silahkan masuk kalau kau punya kuncinya,” ujarku dengan jengkel, kesal pada kecerobohan diri sendiri.

Cklek.

Pintu sudah langsung terbuka dari luar. Sari, pembantu yang lebih terlihat lebih tua beberapa tahun dariku muncul dengan membawa trolley yang penuh berisi makanan. Mulai dari roti goreng, nasi goreng, kue-kue jajanan pasar seperti dadar gulung, tahu isi, risol hingga berbagai macam buah-buahan, jus detok, kopi, teh melati dan juga air putih,

“Makanan sebanyak ini apa untukku semua?” tanyaku sambil berjalan menuju sofa yang ada di kamar ini.

“Iya, bu. Pak Rollan yang meminta menyiapkan semua  makanan ini untuk ibu Ayuma. Tapi kami minta maaf, karena tidak tahu makanan kesukaan ibu, jadi chef menyiapkan semua ini untuk ibu.”

“Aku tidak bisa memakan semuanya,” ujarku sambil mengambil sepotong roti goreng, begitu roti lembut berisi selai srikaya itu masuk ke dalam mulutku, semua rasa lapar yang sudah kutahan-tahan sejak semalam langsung menghilang.  “Dimana Rollan?”

“Pak Rollan pergi mengunjungi kebun sawitnya,” jawab Sari. “Ibu mau kopi, teh, jus atau air putih?”

“Air putih dan kopi.”

Sari dengan sigap langsung menuang air putih yang ada di dalam teko ke dalam gelas dan menyerahkannya padaku.

“Kalau boleh tahu erapa lama perjalanan dari kebun sawit itu ke sini?” tanyaku.

“Hmm, sekitar satu jam perjalanan, bu.”

“Apa ada mobil yang tidak terpakai di sini?”

Sari mengernyit, dia menatapku dengan tatapan yang penuh curiga, sepertinya dia tahu kalau aku tengah merencakanan sesuatu.

“Kau tenang saja, aku tidak mungkin pergi tanpa izin dari Rollan. Lagi pula, aku tidak bisa menyetir,” ujarku berbohong. ”Aku butuh charger untuk handhponeku, batre handphoneku tinggal 10 persen lagi.”

“Tenang saja bu, charger dan semua kebutuhan ibu Ayuma sudah di siapkan, silahkan buka lemari dan laci,” ujarnya sambil tersenyum. “Ibu akan menemukan pakaian, perhiasan, skincare, make up charger dan lainnya.”

Aku langsung bangun dari dudukku berjalan menuju lemari satu-satunya di ruangan ini. Begitu pintu lemari terbuka aku langsung terbelalak melihat puluhan pakaian mahal berada di lemari itu. Belum selesai keterkejutanku melihat lemari pakaianku, aku beralih ke lemari yang lebih kecil, begitu pintu terbuka ada banyak perhiasan yang tersusun dengan rapi di tempat ini.

Aku menelan ludah, bukan karena aku tidak pernah melihat hal-hal seperti ini. Aku terlahir sebagai putri dari Rahmat Wijaya dan selama dua puluh enam tahun hidupku, keluarga ayahku selalu menyediakan semua kebutuhanku, apapun yang aku mau sampai akhirnya semuanya berubah.

“Bu… bu Ayuma…”

Aku langsung tersentak dari lamunanku dan menoleh kearah Sari.

“Ada apa?”

“Maaf bu, kalau tidak ada lagi yang dibutuhkan, saya harus keluar dan kembali bekerja.”

“Pintu, tolong jangan di kunci.”

“Maaf bu, perinta dari tuan Rollan tidak bisa dibantah. Saya tidak berani melanggarnya,” ujar Sari sambil tersenyum sopan yang menyebalkan di mataku. “Saya permisi, tapi saya akan datang lagi kalau sudah waktunya makan siang dan cemilan.”

Begitu Sari keluar dan kembali mengunciku, aku langsung lari menuju nakas yang ada di samping tempat tidurku. Ayah, aku harus menelponnya, aku harus memberi tahunya apa yang terjadi padaku saat ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED