Rendra baru saja tiba diapartemennya. Dia melepas jas formal dan kemudian melonggarkan dasinya. Sejenak dia tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi. Yaitu saat keluarga besar mereka kelabakan karena ditinggal kabur pengantin wanita. Rendra bahkan belum sempat melihat wajah pengantin wanita itu yang nota bene adalah adik tirinya. Dulu sewaktu ibunya ingin menikah dengan Om Restu, Rendra sangat menentangnya. Bagaimana bisa ibunya mau menikah lagi sedangkan kuburan ayahnya saja masih basah? Ya, ibunya menikah lagi hanya dua bulan setelah kematian ayahnya. Super sekali kalau meminjam ungkapan kata Mario Teguh. Ibunya adalah wanita ambisius yang sangat terobsesi dengan harta. Bayangkan, dia melahirkan Rendra pada usia tujuh belas tahun karena hamil dengan seorang pengusaha yang untungnya telah menjadi duda. Dan mereka menikah dibulan berikutnya. Pernikahan itu berlangsung selama dua puluh lima tahun, dikarenakan sabar dan cintanya Ayahnya kepada ibunya. Apapun permintaan ibunya, ayahnya pasti mengabulkannya. Oleh sebab itulah, Rendra sangat mengidolakan Ayahnya. Sehingga dia sangat menentang pernikahan kedua ibunya. Akan tetapi ibunya yang sangat berambisi dengan harta, begitu gembira saat akan dilamar oleh Om Restu Wiryawan, duda beranak satu yang kaya raya pun sama sekali tidak peduli dengan keberatan anaknya.
Ketika tahu calon suami barunya hanya memiliki seorang anak perempuan berusia lima belas tahun, ibunya langsung menyetujui pernikahan itu tanpa mempertimbangkan pendapatnya. Rendra tahu, ibunya merasa akan mudah menguasai harta suami barunya, mengingat anak perempuan pasti akan menikah, dan otomatis meninggalkan rumah megah dan aset-aset berharganya pada dirinya.Walau pun Rendra sangat membenci sifat serakah ibunya, tetapi di tetaplah ibu kandungnya, yang akan selalu dia sayangi dan dihormati.
"Selamat sore Tuan, ini kopinya mau ditaruh dimana? Disini saja atau di ruang kerja Tuan?"
Rendra sejenak terpana melihat seorang remaja yang subhanallah cantik jelita memandangnya takut-takut dengan secangkir kopi ditangannya.
"Siapa kamu?"
Belum sempat Ory menjawab, terdengar suara Bik Asih memanggilnya.
"Non, itu kopinya udah diantar keruangan Tuan belum?"
Bik Asih pun muncul diruang tamu. Bik Asih tampak kaget ketika melihat majikannya rupanya sudah tiba diapartemen.
"Eh Tuan sudah pulang rupanya. Ini keponakan Bibik yang Bibik bilang kemarin Tuan. Dia mau bersekolah disini, sekalian bantu-bantu Bibik disini Tuan. Dan Tuan tidak usah menggajinya, diberi tumpangan disini saja, Bibik sudah sangat berterima kasih, Tuan."
Bik Asih langsung menjelaskan tentang kehadiran Ory yang ada dikediaman majikannya.
"Keponakan Bibik? Kenapa tidak ada mirip-miripnya? Terus kenapa Bibik malah memanggilnya Non?" Rendra heran melihat wajah dan penampilan Ory yang sangat berbeda jauh dengan Bik Asih. Kulit putih bening, jeans dan t'shirt ponakannya pun nampak keluaran dari brand terkenal. Belum lagi wajah imutnya yang nampak oriental, beda jauh bagai langit dan bumi dengan Bik Asih.
"Eh itu..itu namanya panggilannya memang Noni Tuan, dari kecil udah sering dipanggil begitu sama orang tuanya." Bik Asih nampak bingung dan tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan Rendra. Rendra tahu dari sekilas pandang saja, bahwa gadis kecil ini pasti tidak memiliki hubungan darah dengan Bik Asih. Tapi dia pikir, tidak ada ruginya juga menampung sicantik dari negeri antah berantah yang kini berstatus sebagai pembantu rumah tangganya disini. Setidaknya ada pemandangan segar yang menyambutnya saat pulang keapartemen setelah seharian berjibaku dengan dokumen dan laptop dikantor.
"Tolong kamu antarkan kopi ini ke ruang kerja saya, sekalian ambilkan pakaian ganti saya ke kamar ya? Bik Asih sudah tahu pakaian seperti apa yang biasa saya pakai saat dirumah. Saya mau mandi dulu."
Setelah memberi tugas Rendra langsung masuk ke kamarnya.
"Bik, Tuan minta kopinya Ory antar ke ruang kerja, terus Tuan minta baju gantinya diantar ke kamarnya Bik. Mana baju gantinya?"
Ory segera mencari Bik Asih didapur. Dia tidak mau mengecewakan Tuannya, yang sudah mau berbaik hati menerimanya disini.
Bik Asih yang sedang menyiapkan makan malam, menoleh mendengar kata-kata Ory,
"Bajunya ada di lemari Tuan Non. Non buka aja disebelah kiri atas ada kaus-kaus santai yang suka Tuan pakai kalau di rumah. Yang sebelah bawah letak celana-celana pendek dan di laci bawah letak daleman Tuan. Non pilihkan saja sesuai selera Enon. Tapi jangan lama-lama dikamar Tuan ya Non, nggak baik."
Bik Asih memberi arahan pada Ory sambil memanaskan lauk pauk.
"Tapiiii..masak Ory buka-buka daleman laki-laki sih Bik. Ory kan malu!" Ory mengerucutkan bibirnya sambil duduk dikursi makan.
"Non lupa ya kalau kita sekarang adalah pembantunya Tuan Rendra disini? Jadi kita harus sabar dan menuruti aturan per-pembantu-an ya Non?" Bik Asih mengelus sayang surai indah Ory sambil tertawa geli. Bayangkan saja, Ory yang biasanya jadi nona muda sekarang harus jadi pembantu. Roda memang sungguh berputar.
"Oh iya Bik, Ory lupa hahaha....Sekarang Ory laksanakan tugas dulu ya Bik." Ori langsung mengambil cangkir kopi dan menaruhnya di ruang kerja. Dan sekarang sambil bersenandung kecil dia masuk ke dalam kamar Rendra.
Ory membuka lemari dan memilih kaos body fit berwarna putih dan celana selutut coklat untuk dipakai tuannya. Ragu-ragu dia membuka dalaman pria dan memilih warna coklat muda secara cepat dan melemparnya ke ranjang. Dia risih memegang-megang dalaman pria.
Rendra yang sebenarnya sedari tadi selesai mandi memperhatikan tingkah polah Ory sambil tersenyum geli. Apalagi saat melihat Ory melemparkan boxernya dengan cepat ke ranjang, seolah-olah takut memegangnya.
"Kenapa kamu membuang boxer Saya Non?" Tanya Rendra sambil berdiri bersedekap. Bulir-bulir air tampak menetes dari rambut hitamnya. Rendra cuma mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dada bidang dan liatnya terpampang nyata didepan mata Ory.
"Kyaaaaaa!!! Tu—Tuan kenapa nggak pakai baju? Malu dong Tuan. Nanti Tuan masuk angin."
Ory langsung mengangsurkan kaus putih ketangan Rendra sambil memandang ke arah lemari. Mukanya sudah merah padam karena malu.
"Pakaikan kaus ini Non." Rendra menarik dagu Ory dan menatap matanya dalam-dalam. Ory menelan ludahnya sendiri karena gugup. Bagaimana tidak gugup kalau wajah Tuannya hanya berjarak sejengkal dari wajahnya sendiri.
"Ta—tapi...tapi.."
"Kamu tidak mau Non?"
Rendra kembali menatap Ory dalam-dalam. Cara Ory membasahi bibirnya dan menelan ludah membuat sesuatu diantara kakinya menggeliat bangun. Shitt!!Rendra merasa sangat bergairah sekarang.
"Ma—mau koq Tuan. Si—sini Tuan agak membungkuk sedikit agar saya bisa memasukkan kepala Tuan ke kaus ini."
Saat mendengar Ory mengatakan kepala, Rendra langsung membayangkan untuk memasukkan kepala yang lain. Fixed! otaknya memang sudah kotor akibat sudah sangat lama tidak mendapatkan pelampiasan. Akhirnya Rendra duduk ditepi tempat tidur dan Ory berhasil memakaikan kausnya.
"Non, namamu sebenarnya siapa? Jangan bohong ya?Terus hubungannu dengan Bik Asih apa? Saya tidak percaya kalau kamu adalah keponakannya. Kalau kamu nggak mau jawab juga tidak apa-apa. Asal jangan bohong. Saya sangat tidak suka dibohongi."
Rendra memulai sesi introgasinya pada mahkluk cantik imut ini. Rendra bisa melihat kegelisahan dan kecemasan dimata si Non ini dari caranya meremas-remas ujung kausnya.
"Nama saya Oryza Sativa, Tuan. Hubungan Saya dengan Bik Asih itu, karena si Bibik mau nolongin saya yang sedang kesulitan Tuan. Untuk saat ini cuma itu yang saya bisa katakan Tuan. Tapi saya tidak bohong koq Tuan. Sungguh!"
Ory makin menundukkan wajahnya yang sudah mulai mendung menahan tangis. Dia sangat takut kalau Tuannya ini mengusirnya karena ketahuan dia bukanlah keponakan Bik Asih yang sesungguhnya. Ory bahkan tidak menyertakan nama Wiryawan dibelakang namanya tadi karena takut identitas aslinya terbongkar. Kalau dia mau jujur namanya sekarang harusnya adalah Oryza Sativa Dewangga, mengingat suka atau tidak suka dia adalah istri sah dari Airlangga Putra Dewangga.
"Jangan nangis Non, kan saya cuma bertanya. Untuk saat ini Saya cukup puas dengan penjelasanmu. Tetapi Saya menunggu kerelaan hatimu untuk menjelaskan semuanya secara mendetail, bila kamu memang sudah siap menjelaskan semuanya. Saya tidak ingin di tuduh melarikan anak gadis dibawah umur Non. Saya harap Non faham maksud Saya. Ya sudah, sekarang Non boleh kembali kedapur. Bilang sama Bik Asih, agar menyiapkan makan malam."
Kata Rendra sambil menghapus air mata Ory dengan ibu jarinya.
Ory langsung menghambur keluar setelah sedari tadi jantungnya berpacu secara tidak beraturan karena takut ketahuan membohongi Tuan nya.
"Syukurrr selamettt!!" Ory mengelus-elus dadanya berulang kali. Dia merasa sudah lepas dari situasi yang paling tidak mengenakkan. Seumur hidupnya, kedua orang tuanya selalu mengajarkan tentang arti sebuah kejujuran kepadanya. Mereka mengatakan bila sekali saja kita berbohong,maka kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Bahkan ibunya mengatakan untuk tidak berbohong, walaupun itu bohong putih sekalipun. Whether it's small or big, a lie is still a lie. Makanya Ory selalu tergagap-gagap bila harus berbohong. Dia amat sangat tersiksa melakukannya.
"Lah si Enon kenapa ketakutan kayak gitu?Diapain sama si Tuan didalem?" Bik Asih nampak heran melihat Ory yang tampak kebingungan sehabis keluar dari kamar Rendra.
"Tadi di dalam Tuan nanyain Ory, dia udah tahu Bik kalo Ory itu bukan ponakan Bibik. Ory bilang kalau Bibik cuma nolongin Ory yang lagi kesusahan, gitu aja.Tapi Tuan nggak marah koq Bik, cuma Tuan bilang, dia minta Ory jelasin semuanya kalau Ory udah siap."
"Oalahhh syukur ya Non, Tuan nggak marah. Ayo sekarang kita makan, dan Non beres-beres gih. Setelah itu tidur. Besok kan Non udah harus sekolah. Eh Non, besok pulang sekolah jadi mau nyari kerja? Kalau jadi, biar bibik bawain bekal, biar si Non gak kelaperan."
Ory langsung memeluk erat Bik Asih. Dia sangat terharu melihat kebaikan Bik Asih dan rasa sayangnya yang tidak pernah berubah dari Ory kecil.
"Terima kasih ya Bik. Bibik sangattttt baik sama Ory. Ory nggak tau kalau nggak ada bibik, entah bagaimana nasib Ory yang yatim piatu ini."
Ory mencoba tersenyum ditengah derai air matanya. Dia tahu mata Bik Asih pun sudah basah berurai air mata. Mereka berdua saling berpelukan dan saling menguatkan.
Mereka tidak menyadari, ada sepasang mata hitam pekat yang melihat kejadian itu.
Ory memasukkan semua dokumen-dokumen surat pindahnya kedalam sebuah amplop coklat. Hari ini dia mulai pindah dari sekolah lamanya untuk menghilangkan jejak bila ibu tirinya atau bahkan suaminya mencarinya. Ah! Jangan-jangan mereka malah tidak perduli akan kehilangannya. Secara ibu tirinya sepertinya sangat lega bisa melepasnya menikah dan membebankan tanggung jawabnya kepada suaminya. Sedangkan suaminya sendiri malah tampak ogah-ogahan menerima pernikahan mereka. Kalau dipikir-pikir, Ory merasa saat ini dia ini seperti sampah yang dibuang sana sini.
"Hoiii Oryyy!!" Ory tersenyum gembira melihat Intan teman semasa SD nya memanggilnya. Ory memang meminta bantuan Intan agar dapat bersekolah di tempat yang sama dengannya. Karena Intan bersekolah di Prime One School yang merupakan milik orang tua nya sendiri. Bahkan karena Intan juga, Ory sudah bisa bersekolah disini dan tinggal melengkapi surat-surat pindah, akte lahir, Kartu Keluarga dan rapor nya saja. Dan itu semua bisa terlaksana dalam waktu sehari saja. Begitu dahsyat nya bila ada koneksi dan nepotisme. Semua tinggal beres.
"Ini dokumen-dokumen yang diminta admin sekolah kan Ry? Yuk sama-sana kita anter kesana. Duh senangnyaa..besok kita bisa duduk satu bangku lagi seperti di SD dulu ya Ry?"
Intan tampak sangat gembira karena akan satu kelas lagi bersama dengan Ory.
"Eh Ry, lo jadi mau nyari kerjaan part time sepulang sekolah? Kalo lo mau, lo bisa ngelamar kerja di kantor pengacara Abang gue. Kayaknya kemarin Gue denger dia butuh asisten tambahan deh. Karena katanya Mbak Clara sejak sudah menikah nggak bisa ikutan Bang Bima lembur-lemburan lagi deh. Nah kan lo mulai kerjanya jam 1 siang gitu. Ntar kalo lembur dibayar double lo Ry. Kan lumayan tuh buat nambah-nambah uang jajan lo. Mana gajinya sesuai UMR, apalagi lo kan temen gue. Pasti dia mau nerima elo."
"Tapi kan Bang Bima seinget gue tuh ya galak banget dulu. Mana dia pernah marahin gue lagi gara-gara gue nggak sengaja numpahin es cream ke seragam sekolahnya. Dan lo inget kagak, dia bilang gue orangnya teledor banget. Apa iya dia mau nerima Gue jadi asiatennya. Haduh nggak yakin deh Gue Tan."
Entah mengapa Ory selalu merasa pesimis bila harus berhadapan dengan Abang Intan yang galak dan ketusnya seperti bon cabe itu.
"Ya di coba dulu dong Ry. Ntar pulang sekolah gue temenin deh kekantornya. Tuh, udah ada adminnya, kasihin noh dokumen-dokumen kepindahan lo."
Dengan lesu Ory mulai mengetuk pintu yang bertuliskan TU tersebut.
===================
Ory rasanya kepengen pulang saja saat mereka diantarkan sekretaris Bima ke dalam ruangan pribadinya. Suasana kantor yang didominasi warna coklat tua, dengan wallpaper cream ini seolah-olah meneriakkan kata mahal sekeras-kerasnya, sehingga Ory merasa bokongnya panas dan tidak nyaman duduk disana.
Otaknya mulai berpikir bagaimana mungkin dia yang cuma anak SMA berani melamar menjadi asisten pribadi pengacara terkenal sekelas Bima, mana mulutnya pedes gila khas pengacara-pengacara nyinyir yang sering Ory lihat di televisi lagi. Takutnya diterima kagak, diomelin iya.
"Lo kenapa sih Ry, duduknya nggak tenang gitu. Bisulan lo?"
Intan tampak gerah melihat Ory yang gelisah duduk miring ke kanan miring ke kiri, merusak pemandangan aja. Belum lagi Ory sempat menjawab, pintu mendadak terbuka dan menghadirkan sosok yang sedari SD sudah ditakuti oleh Ory, ya sekarang di depan Ory telah berdiri pria dewasa muram dan seram, Bima Sakti Raffardan. Ory melihat tidak ada perubahan berarti antara sosoknya saat SMA dulu dengan sosoknya yang sekarang, selain tubuhnya yang tambah kekar dan wajah tampannya yang makin seram.
"Ada perlu apa kamu tiba-tiba kesini Tan. Jangan bilang kalau uang saku yang Abang transfer tiap bulan itu kurang? Karena angka nominal yang Abang transfer itu sebenarnya sudah melewati limit yang sudah kita sepakati bersama. Jadi tidak akan ada tawar menawar lagi?"
Busettt!! Bahkan berbicara dengan adiknya saja, nada bicaranya sudah naik satu oktaf, apalagi nanti perlakuannya padaku, batin Ory. Rasa-rasanya Ory mulai menyesal mengikuti ide sesat Intan ini.
"Ahelahhh bukan soal itu kali Bang. Kenalin ini sahabat lamaku Ory, dia mau ngelamar jadi Asisten Abang. Waktu itu kan Abang pernah bilang sama Ayah mau cari asisten tambahan selain Mbak Clara."
Perlahan tatapan Bima mulai beralih dari Intan kepada Ory. Ah ternyata benar dugaannya. Ini adalah mahluk cantik imut yang sama rupanya. Sebenarnya dari sejak gadis cantik itu masuk keruangan ini, Bima sudah penasaran setengah mati dengan nya. Dia seolah-olah pernah melihatnya, tapi lupa entah dimana. Dan saat mendengar nama Ory yang disebut oleh adiknya, langsung terang benderang lah ingatan Bima akan makhluk cantik ini.
"Jadi kamu anak cengeng yang menumpahkan es cream di baju seragam saya dulu ya? Besar juga nyali kamu berani melamar jadi asisten Saya?" Bima mulai memiringkan kepalanya, menatap tajam mata bulat almond Ory.
Nah bener kan? Belum apa-apa saja dia sudah mengingat jelas kesalahan fatalnya dulu. Kalau begini ceritanya lebih baik dia menyerah sajalah.
"Maaf Bang Bima. Saya nggak jadi deh ngelamarnya. Saya permisi dulu ya Bang."
Ory langsung bangkit dan menggamit lengan Intan berniat kabur secepatnya dari kantor Bima.
"Mau kemana kamu? Baru di gertak sedikit saja kamu sudah menyerah. Dasar mental kerupuk kamu ini Ry. Bagaimanalah manusia seperti kamu ini akan mampu bertahan menghadapi seribu satu macam karakter dari client-client Saya, kalau sedikit sentilan dari saya saja sudah membuat kamu down."
Bima menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Ory lekat-lekat.
"Begini saja, saya tidak bisa memberikan posisi kamu sebagai asisten saya, dikarenakan sebagai asisten saya kamu akan dituntut bekerja 10 jam, mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore. Satu lagi, Saya membutuhkan semua pikiran dan konsentrasi kamu hanya untuk kasus-kasus hukum yang sedang saya tangani, dan itu tidak akan mungkin bisa kamu laksanakan mengingat statusmu yang masih seorang pelajar.
Tapi saya akan memberi kamu kesempatan sebagai OG pribadi saya. Kamu datang kesini pukul 2 sore sampai batas saya pulang kantor, maksimal pukul 7 malam selambat-lambatnya. Saya akan menggaji kami sesuai UMR ditambah bonus, bila kamu berhasil memuaskan saya. Deal?" Ory melihat Bima mengajukan tangannya untuk bersalaman.
Sejenak Ory berfikir, tidak ada salahnya dia mencoba dulu pekerjaan ini, secara dia memang sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolah dan kebutuhannya sehari-hari. Dia tidak mau menyusahkan Bik Asih yang sudah begitu baik selama ini kepadanya.
"Ok Deal."
Dengan mantap Ory langsung menjabat erat lengan besar Bima.
"Satu hal lagi yang ingin Saya ketahui, bukannya kamu ini putri tunggalnya Pak Restu Wiryawan?walaupun saya tahu ayahmu baru saja meninggal, tapi kan seharusnya tidak akan langsung membuat kamu miskin dalam waktu sebulan saja."
Si Bon cabe mulai keluar nyinyirnya.
"Ya bisalah Bang, kalau ibu tiri Ory yang seperti nenek sihir itu menguasai semua harta dan asset-asset ayahnya."
Ini lah salah satu sifat Intan yang sangat disukai oleh Ory. Dia bisa merangkap menjadi juru bicara Ory tanpa diminta sekalipun. Sifat kepo dan setia kawannya memang juara.
Akhirnya Ory lega, seharian ini dia bisa menyelesaikan semua urusannya dengan mulus dan sesuai rencana.
A new day has come. Uuu yeeehhh !! Ory menyemangati dirinya sendiri. Sekarang waktunya pulang!