Bab 1

Suara bariton yang sedang mengucapkan ijab kabul diruang depan terdengar mantap dan tegas berkumandang diseantero rumah. Tidak lama kemudian, terdengar kata-kata sah dan amin yang diikuti oleh segenap kerabat Ory maupun suaminya. Ya, sekarang Oryza Sativa Wiryawan telah resmi menjadi seorang istri. Dan hebatnya lagi status itu dia dapatkan pada usia tujuh belas tahun empat belas hari. Dia bahkan masih duduk dikelas dua belas alias kelas III SMU.

Mirisnya lagi dia juga tidak tahu siapa nama suaminya dan seperti apa wajahnya. Semua ini terjadi akibat dari kelicikan ibu tirinya yang ingin melepaskan tanggung jawabnya terhadap Ory dengan cara menikahkannya secepatnya. Dan alasan utamanya tentu saja karena ingin menguasai sendiri semua harta dan aset-aset perusahaan almarhum papanya. Bayangkan, baru sebulan papanya meninggal, ibu tirinya sudah tidak sabar ingin mengusirnya dari rumahnya sendiri.

"Ory, ayo kita kebawah. Kita temui dulu suamimu. Ini kamu malah bengong disini. Ayo cepat!"

Ory meringis kesakitan saat ibu tirinya menarik paksa lengan kurusnya menuruni tangga ke lantai satu. Dengan tertatih-tatih dia berusaha mengikuti langkah panjang dan cepat ibu tirinya. Dan didepannya saat ini, ada seorang laki-laki dewasa gagah yang telah sah menjadi suaminya. Tetapi masalahnya laki-laki ini seakan enggan untuk melihat wajahnya. Saat itu juga Ory mengerti, pasti dia juga merasa terpaksa menjalani pernikahan ini. Apalagi menilik wajah pria dewasa ini, usianya pasti setidaknya dua kali lipat dari usia Ory sendiri. Pria ini bahkan lebih cocok menjadi Om nya.

"Ayo Ory, dicium dong tangan suaminya." Lagi-lagi ibu tirinya mengomeli kelemotannya. Ory segera meraih lengan suaminya dan mencium punggung tangannya dengan terpaksa. Suaminya yang bahkan tidak dia ketahui namanya hanya mencium singkat keningnya, juga tanpa mau melihat wajahnya. Ory juga sebenarnya tidak perduli dengan apapun tanggapan suaminya ini pada dirinya. Diotak cantiknya telah tersusun suatu rencana yang akan segera di realisasikannya secepatnya.

Mata bulat almond indahnya tengah mencari-cari Bik Asih,

mantan pembantu rumah tangga yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Bik Asih dikeluarkan oleh ibu tirinya dua tahun lalu karena dianggap sebagai antek-antek Ory, karena Bik Asih selalu melindungi Ory dari perbuatan keji ibu tirinya yang kejam dan gila harta. Padahal harta almarhum suaminya dulu malah lebih banyak dibandingkan dengan harta ayahnya. Tetapi yang namanya keserakahan itu memang lah tiada batasnya.

Sebelum papanya menikahi Wina, ibu tirinya. Bik Asih telah bekerja pada keluarga Ory dan mengasuhnya sedari bayi bersama ibu kandung Ory. Ibu kandung Ory meninggal sejak Ory berusia 10 tahun. Lima tahun kemudian papanya menikah dengan Wina yang juga sudah memiliki seorang anak laki-laki yang berusia dua puluh lima tahun yang wajahnya tidak pernah sekalipun Ory lihat. Menurut cerita mama tirinya pada ayahnya, Rendra, nama anaknya itu sedang fokus kuliah di luar negri. Dan sekarang diusianya yang ke dua puluh tujuh, dia sedang sibuk-sibuk nya mengurus perusahaan almarhum ayahnya.

Pernikahan ibu tirinya dan ayahnya hanya berlangsung selama dua tahun, karena ayahnya bulan lalu meninggal akibat kecelakaan pesawat terbang. Ory sama sekali tidak ingin menikah. Dia masih ingin menamatkan SMA nya yang sudah memasuki tahun terakhir. Dia juga ingin kuliah dan kemudian bekerja dan menjadi wanita karir yang sukses.

Tetapi tadi pagi saat dia ingin kesekolah, ibu tirinya melarangnya. Dan tidak lama kemudian ada beberapa orang perias pengantin yang langsung mendandaninya. Dan dari mereka juga lah akhirnya Ory tahu bahwa dia akan dinikahkan hari ini juga. Ibu tirinya tidak tahu bahwa Ory dan Bik Asih yang diundang Ory melalui telepon telah merencanakan sesuatu yang akan mempermalukan keluarga besar mereka.

Sementara itu disamping Ory, pria tampan mapan Airlangga Putra Dewangga, yang sekarang sudah sah menjadi suaminya sedang mencuri pandang padanya. Dewa, begitu biasa dia dipanggil, mengamuk tadi pagi saat tiba-tiba saja ibunya memintanya menikahi putri sahabatnya. Rupanya dahulu mereka pernah berjanji akan menjodohkan anak-anak mereka yaitu Dewa dan Ory. Mereka lost contact saat ayah Dewa pindah keluar negri.

Dan kini setelah bertemu kembali, mereka pun ingin kembali merealisasikan janji mereka dimasa lalu tersebut. Tapi ternyata Tuhan punya

rencana lain. Ayah Ory meninggal menyusul ibunya yang telah terlebih dulu menemui Sang Khalik dan meninggalkan Ory sendiri beserta ibu tirinya. Makanya Ibunya akhirnya memaksa Dewa untuk menikahi Ory secepatnya agar bisa menjaga dan melindunginya.

Dewa adalah pria metropolitan sejati yang tidak pernah ingin menikah. Menurutnya buat apa susah-susah menikah bila hampir seluruh populasi berjenis kelamin perempuan bisa dengan gampang dicicipinya. Mereka seolah-olah berlomba-lomba untuk mencoba menarik perhatiannya dengan berbagai cara. Jadi buat apa dia harus setia dengan satu wanita sementara dia bisa menikmati semuanya bukan?

Belum lagi hal remeh temeh seperti perhatian, rasa cemburu, dan waktu yang harus dia korbankan apabila dia memiliki seorang istri. Dia tidak siap dengan segala konsekuensi bodoh dan tidak bermanfaat seperti itu. Wanita itu fungsinya hanya buat bersenang-senang dan memuaskan kebutuhan biologisnya. Titik.

Teman-temannya pun semua rata-rata sepaham dan seideologi dengannya. Diusianya yang ketiga puluh empat, rasanya dunia sudah ada digenggaamnya. Harta, tahta, wanita. Dan semua itu sudah dia punyai sebelumnya. Makanya dia tidak membutuhkan istri lagi jika hanya berfungsi untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.

Kalau saja ibunya tidak mengancamnya untuk tidak mengakuinya sebagai anak lagi tadi pagi, mustahil dia mau menuruti keinginan absurd ibunya ini. Tapi senakal-nakal nya Dewa, ibunya tetap lah ratu yang akan dia penuhi semua keinginannya. Dewa sangat mencintai kedua orang tuanya.

Sebenarnya Dewa sangat kaget saat mengetahui bahwa istrinya ini masih anak sekolahan yang masih berusia tujuh belas tahun. Mengerti apa anak-anak seusia itu akan fungsi seorang istri? Tapi jujur saat dia memandang wajah cantik yang saat ini tengah melamun ini, kekecewaannya agak sedikit terobati. Istri kecilnya ini tampak sangat cantik dan seksi sekali. Untuk ukuran anak remaja, dadanya itu terlalu besar dan terjal. Pasti sangat nikmat untuk dicicipi. Dewa langsung menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran kotor yang merasuki kepalanya. Tapi mahkluk disampingnya ini memang sungguh cantik sekali. Dewa akui dia terpesona. Catat, hanya terpesona. Titik.

"Siapa namamu?" Dewa tidak tahan untuk tidak bersuara disamping mahkluk secantik ini.

"Oryza Sativa Wiryawan, Om." Ory menjawab takut-takut. Perasaan tadi baru saja suaminya ini ijab kabul dan menyebut namanya dengan lantang. Masa sekarang sudah lupa namanya?

"Apa? Om? Saya bukan Om kamu. Tapi suami kamu. Nama saya Airlangga Putra Dewangga. Kamu cukup memanggil saya Dewa. Mas Dewa tepatnya. Mengerti?"

"I—Iya Mas Dewa." Ory makin mengkeret ketakutan. Suaminya ini walau tampan tetapi nampak galak sekali. Ory takut. Bu Mita, ibu Dewa kemudian memanggil Dewa karena ada beberapa temannya yang datang. Ory sangat lega saat terbebas dari suaminya itu. Kemudian secara samar Ory melihat Bik Asih memberi kode kepada Ory dan Ory pun faham. Pelan-pelan Ory berpura-pura berjalan menuju toilet, tetapi sesungguhnya dia langsung saja berjalan menuju ke arah pintu belakang rumah yang diikuti oleh Bik Asih, yang sudah membawa dua koper besar berisi surat-surat berharga, buku-buku berikut pakaiannya. Mereka masing-masing memegang satu koper, dan masuk ke dalam taksi online yang sudah di pesan oleh Bik Asih sebelumnya.

Selamat tinggal semuanya!

Ory membatin. Mulai hari ini, Ory akan tinggal bersama Bik Asih yang saat ini sudah bekerja pada majikan baru yang memperlakukan Bik Asih seperti ibunya sendiri. Bik Asih mengatakan pada majikan barunya bahwa dia minta izin untuk membawa ponakannya untuk tinggal bersama sekalian membantu pekerjaan Bik Asih. Dan kabar baiknya adalah majikan barunya mengizinkan. Pantas saja Bik Asih betah dua tahun bekerja disana, rupanya dia diperlakukan dengan baik, batin Ory.

Sementara itu dikediaman Ory, semua anggota keluarga kalang kabut karena pengantin wanitanya kabur. Sedangkan Dewa langsung tersenyum sumringah karena merasa terbebas menjalani kehidupan sebagai seorang suami.

"Astaga, kabur kemana berandal cilik itu? Awas saja bila aku menemukannya. Aku ku berikan hukuman yang setimpal karena mempermalukan ku seperti ini."

Wajah Bu Wina tampak begitu berang karena merasa dipecundangi Lia.

"Mama sih, masak anak SMA disuruh kawin, ya kabur lah dia. Anak umur segitu harusnya masih sekolah dan menikmati masa -masa remajanya. Bukan disuruh melayani suami dan mengurus anak. Sementara dia sendiri juga masih anak-anak."

Rendra menanggapi dengan santai kemarahan ibunya.

"Kamu ya Rendra, selama pernikahan mama dengan Om Restu, tidak pernah sekalipun kamu muncul dirumah ini. Sekalinya muncul bukannya membantu mama, malah membuat mama makin pusing saja dengan kata-katamu itu."

Rendra cuma mengangkat bahunya tidak acuh sambil berjalan menghampiri Dewa. Rupanya Dewa adalah relasi Rendra selama ini. Cuma mereka sama-sama tidak menyangka akan dipertemukan dalam situasi seperti ini.

"Eh Ma Bro, dingin dong ntar malem ranjang lo. Secara bini lo kabur, padahal belum sampe sejam juga lo kawinin, eh ralat lo nikahin. Rugi bandar dong ya, belum sempet ena ena udah di tinggal kabur aja. Nasib lo apes bener Wa?"

Rendra ngakak sambil menepuk bahu Dewa pura-pura bersimpati. Padahal wajahnya tampak sekali menahan tawa.

"Eitss jangan salah Ren, gue sebenernya mensyukuri keadaan ini. Dengan begini berarti gue batal jadi suami. Dan itu artinya juga Gue masih bebas!!! Sebebas burung yang terbang dilangit yang bi—"

"Plakkk!! Kata siapa kamu batal jadi suami? Kamu tidak mendengar kata SAH tadi hah? Apa telingamu sudah mendadak tuli?"

Bu Mita langsung menggeplak kepala Dewa dengan kipas cantiknya.

"Yang ada sekarang kamu harus mencari Ory sampai ketemu, karena dia itu sekarang adalah istrimu yang sah. Ingat ya Wa, kamu jangan macam-macam mulai sekarang, karena kamu sudah berstatus sebagai pria beristri. Jangan bikin malu Mama."

Bu Mita langsung berlalu untuk memberikan pengertian pada tamu-tamu yang bingung karena ketidak hadiran mempelai wanita disamping Dewa. Dan dengan gaya yang meyakinkan Bu Mita mengatakan bahwa mempelai wanitanya sedang tidak enak badan dan saat ini sedang beristirahat dikamar. Untung saja mereka semua mempercayai alasannya, sehingga aib ini tidak sempat tersebar keluar.

"Wa, Ibu mau bilang, sekarang Ory bukan tanggung jawab ibu lagi sejak dia sah menjadi istrimu. Mulai saat ini apapun yang diperbuat Ory diluar sana, itu sepenuhnya tanggung jawab kamu sebagai suaminya. Tugas Saya sebagai ibu sambungnya telah selesai hari ini. Mengerti kamu Wa?"

Bu Wina tampaknya begitu tidak sabar ingin membuang Ory dalam kehidupannya. Muncul rasa iba di hati Dewa, istrinya sudahlah yatim piatu, hartanya dikuasai ibu tirinya yang bahkan tidak mau repot-repot mengganggapnya lagi sebagai bagian dari keluarganya. Miris sekali nasib istri kecilnya.

"Baik Bu. Mulai hari ini, Ory akan menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Ibu tidak usah khawatir, sedikitpun saya tidak ingin merepotkan ibu dengan masalah-masalah istri Saya."

Dewa sengaja menekankan kata istri untuk semakin memperjelas maksudnya.

"Baguslah, memang itu yang sangat saya harapkan." Bu Wina pun melenggang begitu saja meninggalkan Dewa.

Bu Mita cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Bu Wina.

Untung saja aku sudah menikahkan Dewa dengan Ory. Kalau tidak, bisa dipastikan Ory akan menderita lahir batin bila tinggal serumah dengan mahluk jadi-jadian seperti Bu Wina itu.

Bab 2

Rendra baru saja tiba diapartemennya. Dia melepas jas formal dan kemudian melonggarkan dasinya. Sejenak dia tersenyum sendiri saat mengingat kejadian tadi. Yaitu saat keluarga besar mereka kelabakan karena ditinggal kabur pengantin wanita. Rendra bahkan belum sempat melihat wajah pengantin wanita itu yang nota bene adalah adik tirinya. Dulu sewaktu ibunya ingin menikah dengan Om Restu, Rendra sangat menentangnya. Bagaimana bisa ibunya mau menikah lagi sedangkan kuburan ayahnya saja masih basah? Ya, ibunya menikah lagi hanya dua bulan setelah kematian ayahnya. Super sekali kalau meminjam ungkapan kata Mario Teguh. Ibunya adalah wanita ambisius yang sangat terobsesi dengan harta. Bayangkan, dia melahirkan Rendra pada usia tujuh belas tahun karena hamil dengan seorang pengusaha yang untungnya telah menjadi duda. Dan mereka menikah dibulan berikutnya. Pernikahan itu berlangsung selama dua puluh lima tahun, dikarenakan sabar dan cintanya Ayahnya kepada ibunya. Apapun permintaan ibunya, ayahnya pasti mengabulkannya. Oleh sebab itulah, Rendra sangat mengidolakan Ayahnya. Sehingga dia sangat menentang pernikahan kedua ibunya. Akan tetapi ibunya yang sangat berambisi dengan harta, begitu gembira saat akan dilamar oleh Om Restu Wiryawan, duda beranak satu yang kaya raya pun sama sekali tidak peduli dengan keberatan anaknya.

Ketika tahu calon suami barunya hanya memiliki seorang anak perempuan berusia lima belas tahun, ibunya langsung menyetujui pernikahan itu tanpa mempertimbangkan pendapatnya. Rendra tahu, ibunya merasa akan mudah menguasai harta suami barunya, mengingat anak perempuan pasti akan menikah, dan otomatis meninggalkan rumah megah dan aset-aset berharganya pada dirinya.Walau pun Rendra sangat membenci sifat serakah ibunya, tetapi di tetaplah ibu kandungnya, yang akan selalu dia sayangi dan dihormati.

"Selamat sore Tuan, ini kopinya mau ditaruh dimana? Disini saja atau di ruang kerja Tuan?"

Rendra sejenak terpana melihat seorang remaja yang subhanallah cantik jelita memandangnya takut-takut dengan secangkir kopi ditangannya.

"Siapa kamu?"

Belum sempat Ory menjawab, terdengar suara Bik Asih memanggilnya.

"Non, itu kopinya udah diantar keruangan Tuan belum?"

Bik Asih pun muncul diruang tamu. Bik Asih tampak kaget ketika melihat majikannya rupanya sudah tiba diapartemen.

"Eh Tuan sudah pulang rupanya. Ini keponakan Bibik yang Bibik bilang kemarin Tuan. Dia mau bersekolah disini, sekalian bantu-bantu Bibik disini Tuan. Dan Tuan tidak usah menggajinya, diberi tumpangan disini saja, Bibik sudah sangat berterima kasih, Tuan."

Bik Asih langsung menjelaskan tentang kehadiran Ory yang ada dikediaman majikannya.

"Keponakan Bibik? Kenapa tidak ada mirip-miripnya? Terus kenapa Bibik malah memanggilnya Non?" Rendra heran melihat wajah dan penampilan Ory yang sangat berbeda jauh dengan Bik Asih. Kulit putih bening, jeans dan t'shirt ponakannya pun nampak keluaran dari brand terkenal. Belum lagi wajah imutnya yang nampak oriental, beda jauh bagai langit dan bumi dengan Bik Asih.

"Eh itu..itu namanya panggilannya memang Noni Tuan, dari kecil udah sering dipanggil begitu sama orang tuanya." Bik Asih nampak bingung dan tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan Rendra. Rendra tahu dari sekilas pandang saja, bahwa gadis kecil ini pasti tidak memiliki hubungan darah dengan Bik Asih. Tapi dia pikir, tidak ada ruginya juga menampung sicantik dari negeri antah berantah yang kini berstatus sebagai pembantu rumah tangganya disini. Setidaknya ada pemandangan segar yang menyambutnya  saat pulang keapartemen setelah seharian berjibaku dengan dokumen dan laptop dikantor.

"Tolong kamu antarkan kopi ini ke ruang kerja saya, sekalian ambilkan pakaian ganti saya ke kamar ya? Bik Asih sudah tahu pakaian seperti apa yang biasa saya pakai saat dirumah. Saya mau mandi dulu."

Setelah memberi tugas Rendra langsung masuk ke kamarnya.

"Bik, Tuan minta kopinya Ory antar ke ruang kerja, terus Tuan minta baju gantinya diantar ke kamarnya Bik. Mana baju gantinya?"

Ory segera mencari Bik Asih didapur. Dia tidak mau mengecewakan Tuannya, yang sudah mau berbaik hati menerimanya disini.

Bik Asih yang sedang menyiapkan makan malam, menoleh mendengar kata-kata Ory,

"Bajunya ada di lemari Tuan Non. Non buka aja disebelah kiri atas ada kaus-kaus santai yang suka Tuan pakai kalau di rumah. Yang sebelah bawah letak celana-celana pendek dan di laci bawah letak daleman Tuan. Non pilihkan saja sesuai selera Enon. Tapi jangan lama-lama dikamar Tuan ya Non, nggak baik."

Bik Asih memberi arahan pada Ory sambil memanaskan lauk pauk.

"Tapiiii..masak Ory buka-buka daleman laki-laki sih Bik. Ory kan malu!" Ory mengerucutkan bibirnya sambil duduk dikursi makan.

"Non lupa ya kalau kita sekarang adalah pembantunya Tuan Rendra disini? Jadi kita harus sabar dan menuruti aturan per-pembantu-an ya Non?" Bik Asih mengelus sayang surai indah Ory sambil tertawa geli. Bayangkan saja, Ory yang biasanya jadi nona muda sekarang harus jadi pembantu. Roda memang sungguh berputar.

"Oh iya Bik, Ory lupa hahaha....Sekarang Ory laksanakan tugas dulu ya Bik." Ori langsung mengambil cangkir kopi dan menaruhnya di ruang kerja. Dan sekarang sambil bersenandung kecil dia masuk ke dalam kamar Rendra.

Ory membuka lemari dan memilih kaos body fit berwarna putih dan celana selutut coklat untuk dipakai tuannya. Ragu-ragu dia membuka dalaman pria dan memilih warna coklat muda secara cepat dan melemparnya ke ranjang. Dia risih memegang-megang dalaman pria.

Rendra yang sebenarnya sedari tadi selesai mandi memperhatikan tingkah polah Ory sambil tersenyum geli. Apalagi saat melihat Ory melemparkan boxernya dengan cepat ke ranjang, seolah-olah takut memegangnya.

"Kenapa kamu membuang boxer Saya Non?" Tanya Rendra sambil berdiri bersedekap. Bulir-bulir air tampak menetes dari rambut hitamnya. Rendra cuma mengenakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dada bidang dan liatnya terpampang nyata didepan mata Ory.

"Kyaaaaaa!!! Tu—Tuan kenapa nggak pakai baju? Malu dong Tuan. Nanti Tuan masuk angin."

Ory langsung mengangsurkan kaus putih ketangan Rendra sambil memandang ke arah lemari. Mukanya sudah merah padam karena malu.

"Pakaikan kaus ini Non." Rendra menarik dagu Ory dan menatap matanya dalam-dalam. Ory menelan ludahnya sendiri karena gugup. Bagaimana tidak gugup kalau wajah Tuannya hanya berjarak sejengkal dari wajahnya sendiri.

"Ta—tapi...tapi.."

"Kamu tidak mau Non?"

Rendra kembali menatap Ory dalam-dalam. Cara Ory membasahi bibirnya dan menelan ludah membuat sesuatu diantara kakinya menggeliat bangun. Shitt!!Rendra merasa sangat bergairah sekarang.

"Ma—mau koq Tuan. Si—sini Tuan agak membungkuk sedikit agar saya bisa memasukkan kepala Tuan ke kaus ini."

Saat mendengar Ory mengatakan kepala, Rendra langsung membayangkan untuk memasukkan kepala yang lain. Fixed! otaknya memang sudah kotor akibat sudah sangat lama tidak mendapatkan pelampiasan. Akhirnya Rendra duduk ditepi tempat tidur dan Ory berhasil memakaikan kausnya.

"Non, namamu sebenarnya siapa? Jangan bohong ya?Terus hubungannu dengan Bik Asih apa? Saya tidak percaya kalau kamu adalah keponakannya. Kalau kamu nggak mau jawab juga tidak apa-apa. Asal jangan bohong. Saya sangat tidak suka dibohongi."

Rendra memulai sesi introgasinya pada mahkluk cantik imut ini. Rendra bisa melihat kegelisahan dan kecemasan dimata si Non ini dari caranya meremas-remas ujung kausnya.

"Nama saya Oryza Sativa, Tuan. Hubungan Saya dengan Bik Asih itu, karena si Bibik mau nolongin saya yang sedang kesulitan Tuan. Untuk saat ini cuma itu yang saya bisa katakan Tuan. Tapi saya tidak bohong koq Tuan. Sungguh!"

Ory makin menundukkan wajahnya yang sudah mulai mendung menahan tangis. Dia sangat takut kalau Tuannya ini mengusirnya karena ketahuan dia bukanlah keponakan Bik Asih yang sesungguhnya. Ory bahkan tidak menyertakan nama Wiryawan dibelakang namanya tadi karena takut identitas aslinya terbongkar. Kalau dia mau jujur namanya sekarang harusnya adalah Oryza Sativa Dewangga, mengingat suka atau tidak suka dia adalah istri sah dari Airlangga Putra Dewangga.

"Jangan nangis Non, kan saya cuma bertanya. Untuk saat ini Saya cukup puas dengan penjelasanmu. Tetapi Saya menunggu kerelaan hatimu untuk menjelaskan semuanya secara mendetail, bila kamu memang sudah siap menjelaskan semuanya. Saya tidak ingin di tuduh melarikan anak gadis dibawah umur Non. Saya harap Non faham maksud Saya. Ya sudah, sekarang Non boleh kembali kedapur. Bilang sama Bik Asih, agar menyiapkan makan malam."

Kata Rendra sambil menghapus air mata Ory dengan ibu jarinya.

Ory langsung menghambur keluar setelah sedari tadi jantungnya berpacu secara tidak beraturan karena takut ketahuan membohongi Tuan nya.

"Syukurrr selamettt!!" Ory mengelus-elus dadanya berulang kali. Dia merasa sudah lepas dari situasi yang paling tidak mengenakkan. Seumur hidupnya, kedua orang tuanya selalu mengajarkan tentang arti sebuah kejujuran kepadanya. Mereka mengatakan bila sekali saja kita berbohong,maka kita akan terus berbohong untuk menutupi kebohongan yang lainnya. Bahkan ibunya mengatakan untuk tidak berbohong, walaupun itu bohong putih sekalipun. Whether it's small or big, a lie is still a lie. Makanya Ory selalu tergagap-gagap bila harus berbohong. Dia amat sangat tersiksa melakukannya.

"Lah si Enon kenapa ketakutan kayak gitu?Diapain sama si Tuan didalem?" Bik Asih nampak heran melihat Ory yang tampak kebingungan sehabis keluar dari kamar Rendra.

"Tadi di dalam Tuan nanyain Ory, dia udah tahu Bik kalo Ory itu bukan ponakan Bibik. Ory bilang kalau Bibik cuma nolongin Ory yang lagi kesusahan, gitu aja.Tapi Tuan nggak marah koq Bik, cuma Tuan bilang, dia minta Ory jelasin semuanya kalau Ory udah siap."

"Oalahhh syukur ya Non, Tuan nggak marah. Ayo sekarang kita makan, dan Non beres-beres gih. Setelah  itu tidur. Besok kan Non udah harus sekolah. Eh Non, besok pulang sekolah jadi mau nyari kerja? Kalau jadi, biar bibik bawain bekal, biar si Non gak kelaperan."

Ory langsung memeluk erat Bik Asih. Dia sangat terharu melihat kebaikan Bik Asih dan rasa sayangnya yang tidak pernah berubah dari Ory kecil.

"Terima kasih ya Bik. Bibik sangattttt baik sama Ory. Ory nggak tau kalau nggak ada bibik, entah bagaimana nasib Ory yang yatim piatu ini."

Ory mencoba tersenyum ditengah derai air matanya. Dia tahu mata Bik Asih pun sudah basah berurai air mata. Mereka berdua saling berpelukan dan saling menguatkan.

Mereka tidak menyadari, ada sepasang mata hitam pekat yang melihat kejadian itu.

Bab 3

Ory memasukkan semua dokumen-dokumen surat pindahnya kedalam sebuah amplop coklat. Hari ini dia mulai pindah dari sekolah lamanya untuk menghilangkan jejak bila ibu tirinya atau bahkan suaminya mencarinya. Ah! Jangan-jangan mereka malah tidak perduli akan kehilangannya. Secara ibu tirinya sepertinya sangat lega bisa melepasnya menikah dan membebankan tanggung jawabnya kepada suaminya. Sedangkan suaminya sendiri malah tampak ogah-ogahan menerima pernikahan mereka. Kalau dipikir-pikir, Ory merasa saat ini dia ini seperti sampah yang dibuang sana sini.

"Hoiii Oryyy!!" Ory tersenyum gembira melihat Intan teman semasa SD nya memanggilnya. Ory memang meminta bantuan Intan agar dapat bersekolah di tempat yang sama dengannya. Karena Intan bersekolah di Prime One School yang merupakan milik orang tua nya sendiri. Bahkan karena Intan juga, Ory sudah bisa bersekolah disini dan tinggal melengkapi surat-surat pindah, akte lahir, Kartu Keluarga dan rapor nya saja. Dan itu semua bisa terlaksana dalam waktu sehari saja. Begitu dahsyat nya bila ada koneksi dan nepotisme. Semua tinggal beres.

"Ini dokumen-dokumen yang diminta admin sekolah kan Ry? Yuk sama-sana kita anter kesana. Duh senangnyaa..besok kita bisa duduk satu bangku lagi seperti di SD dulu ya Ry?"

Intan tampak sangat gembira karena akan satu kelas lagi bersama dengan Ory.

"Eh Ry, lo jadi mau nyari kerjaan part time sepulang sekolah? Kalo lo mau, lo bisa ngelamar kerja di kantor pengacara Abang gue. Kayaknya kemarin Gue denger dia butuh asisten tambahan deh. Karena katanya Mbak Clara sejak sudah menikah nggak bisa ikutan Bang Bima lembur-lemburan lagi deh. Nah kan lo mulai kerjanya jam 1 siang gitu. Ntar kalo lembur dibayar double lo Ry. Kan lumayan tuh buat nambah-nambah uang jajan lo. Mana gajinya sesuai UMR, apalagi lo kan temen gue. Pasti dia mau nerima elo."

"Tapi kan Bang Bima seinget gue tuh ya galak banget dulu. Mana dia pernah marahin gue lagi gara-gara gue nggak sengaja numpahin es cream ke seragam sekolahnya. Dan lo inget kagak, dia bilang gue orangnya teledor banget. Apa iya dia mau nerima Gue jadi asiatennya. Haduh nggak yakin deh Gue Tan."

Entah mengapa Ory selalu merasa pesimis bila harus berhadapan dengan Abang Intan yang galak dan ketusnya seperti bon cabe itu.

"Ya di coba dulu dong Ry. Ntar pulang sekolah gue temenin deh kekantornya. Tuh, udah ada adminnya, kasihin noh dokumen-dokumen kepindahan lo."

Dengan lesu Ory mulai mengetuk pintu yang bertuliskan TU tersebut.

===================

Ory rasanya kepengen pulang saja saat mereka diantarkan sekretaris Bima ke dalam ruangan pribadinya. Suasana kantor yang didominasi warna coklat tua, dengan wallpaper cream ini seolah-olah meneriakkan kata mahal sekeras-kerasnya, sehingga Ory merasa bokongnya panas dan tidak nyaman duduk disana.

Otaknya mulai berpikir bagaimana mungkin dia yang cuma anak SMA berani melamar menjadi asisten pribadi pengacara terkenal sekelas Bima, mana mulutnya pedes gila khas pengacara-pengacara nyinyir yang sering Ory lihat di televisi lagi. Takutnya diterima kagak, diomelin iya.

"Lo kenapa sih Ry, duduknya nggak tenang gitu. Bisulan lo?"

Intan tampak gerah melihat Ory yang gelisah duduk miring ke kanan miring ke kiri, merusak pemandangan aja. Belum lagi Ory sempat menjawab, pintu mendadak terbuka dan menghadirkan sosok yang sedari SD sudah ditakuti oleh Ory, ya sekarang di depan Ory telah berdiri pria dewasa muram dan seram, Bima Sakti Raffardan. Ory melihat tidak ada perubahan berarti antara sosoknya saat SMA dulu dengan sosoknya yang sekarang, selain tubuhnya yang tambah kekar dan wajah tampannya yang makin seram.

"Ada perlu apa kamu tiba-tiba kesini Tan. Jangan bilang kalau uang saku yang Abang transfer tiap bulan itu kurang? Karena angka nominal yang Abang transfer itu sebenarnya sudah melewati limit yang sudah kita sepakati bersama. Jadi tidak akan ada tawar menawar lagi?"

Busettt!! Bahkan berbicara dengan adiknya saja, nada bicaranya sudah naik satu oktaf, apalagi nanti perlakuannya padaku, batin Ory. Rasa-rasanya Ory mulai menyesal mengikuti ide sesat Intan ini.

"Ahelahhh bukan soal itu kali Bang. Kenalin ini sahabat lamaku Ory, dia mau ngelamar jadi Asisten Abang. Waktu itu kan Abang pernah bilang sama Ayah mau cari asisten tambahan selain Mbak Clara."

Perlahan tatapan Bima mulai beralih dari Intan kepada Ory. Ah ternyata benar dugaannya. Ini adalah mahluk cantik imut yang sama rupanya. Sebenarnya dari sejak gadis cantik itu masuk keruangan ini, Bima sudah penasaran setengah mati dengan nya. Dia seolah-olah pernah melihatnya, tapi lupa entah dimana. Dan saat mendengar nama Ory yang disebut oleh adiknya, langsung terang benderang lah ingatan Bima akan makhluk cantik ini.

"Jadi kamu anak cengeng yang menumpahkan es cream di baju seragam saya dulu ya? Besar juga nyali kamu berani melamar jadi asisten Saya?" Bima mulai memiringkan kepalanya, menatap tajam mata bulat almond Ory.

Nah bener kan? Belum apa-apa saja dia sudah mengingat jelas kesalahan fatalnya dulu. Kalau begini ceritanya lebih baik dia menyerah sajalah.

"Maaf Bang Bima. Saya nggak jadi deh ngelamarnya. Saya permisi dulu ya Bang."

Ory langsung bangkit dan menggamit lengan Intan berniat kabur secepatnya dari kantor Bima.

"Mau kemana kamu? Baru di gertak sedikit saja kamu sudah menyerah. Dasar mental kerupuk kamu ini Ry. Bagaimanalah manusia seperti kamu ini akan mampu bertahan menghadapi seribu satu macam karakter dari client-client Saya, kalau sedikit sentilan dari saya saja sudah membuat kamu down."

Bima menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Ory lekat-lekat.

"Begini saja, saya tidak bisa memberikan posisi kamu sebagai asisten saya, dikarenakan sebagai asisten saya kamu akan dituntut bekerja 10 jam, mulai dari pukul 8 pagi sampai pukul 6 sore. Satu lagi, Saya membutuhkan semua pikiran dan konsentrasi kamu hanya untuk kasus-kasus hukum yang sedang saya tangani, dan itu tidak akan mungkin bisa kamu laksanakan mengingat statusmu yang masih seorang pelajar.

Tapi saya akan memberi kamu kesempatan sebagai OG pribadi saya. Kamu datang kesini pukul 2 sore sampai batas saya pulang kantor, maksimal pukul 7 malam selambat-lambatnya. Saya akan menggaji kami sesuai UMR ditambah bonus, bila kamu berhasil memuaskan saya. Deal?" Ory melihat Bima mengajukan tangannya untuk bersalaman.

Sejenak Ory berfikir, tidak ada salahnya dia mencoba dulu pekerjaan ini, secara dia memang sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolah dan kebutuhannya sehari-hari. Dia tidak mau menyusahkan Bik Asih yang sudah begitu baik selama ini kepadanya.

"Ok Deal."

Dengan mantap Ory langsung menjabat erat lengan besar Bima.

"Satu hal lagi yang ingin Saya ketahui, bukannya kamu ini putri tunggalnya Pak Restu Wiryawan?walaupun saya tahu ayahmu baru saja meninggal, tapi kan seharusnya tidak akan langsung membuat kamu miskin dalam waktu sebulan saja."

Si Bon cabe mulai keluar nyinyirnya.

"Ya bisalah Bang, kalau ibu tiri Ory yang seperti nenek sihir itu menguasai semua harta dan asset-asset ayahnya."

Ini lah salah satu sifat Intan yang sangat disukai oleh Ory. Dia bisa merangkap menjadi juru bicara Ory tanpa diminta sekalipun. Sifat kepo dan setia kawannya memang juara.

Akhirnya Ory lega, seharian ini dia bisa menyelesaikan semua urusannya dengan mulus dan sesuai rencana.

A new day has come. Uuu yeeehhh !! Ory menyemangati dirinya sendiri. Sekarang waktunya pulang!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED