Bab 2

"Bu, Bintang pakai gaun yang biru ini aja ya? Terus rambutnya dibuat jadi kayak Elsa Frozen, biar nanti Kak Tian terpesona tralalla sewaktu melihat Bintang datang. Bintang juga udah latihan jalan yang anggun lho, Bu. Hasil belajar di YouTube. Ibu mau lihat?"

Bintang yang sudah seminggu berlatih cara berjalan dan bersikap anggun via YouTube, mulai berlenggak lenggok genit meniru para artis-artis Hollywood yang sedang berjalan di atas red carpet. Senja menarik nafas panjang. Sebenarnya ia kasihan pada Bintang. Christian Diwangkara itu sudah berusia 22 tahun dan baru saja menyelesaikan kuliahnya. Tian canggih, populer, dewasa dan juga Don Juan. Tidak heran bila mengingat siapa orang tuanya. Pacarnya selalu berganti di setiap kali ia dan Lyn bertemu. Senja merasa Bintang akan makan hati kalau ia terus saja mengidolakan Tian.

Tian selama ini memang tidak pernah marah jika Bintang menggelendotinya seperti seekor anak kera setiap kali mereka bersua. Padahal Senja tahu, Tian itu merasa amat sangat risih dan terganggu. Tian diam, itu hanya karena ia menghargai persahabatan antara kedua orang tuanya. Dari bahasa tubuhnya saja, Senja tahu kalau Tian itu tidak sedikit pun mempunyai perasan suka, apalagi cinta kepada anak ingusan montok seperti Bintang. Tian mungkin hanya mengganggap Bintang itu seperti Merlyn, adik perempuannya.

"Let it go, let it go, let it go

Can't hold it back anymore

Let it go, let it go

Turn away and slam the door

I don't care what they're going to say

Let the storm rage on

The cold never bothered me anyway"

Senja melihat putrinya bernyanyi sambil berputar-putar hingga gaun birunya ikut mengembang, dan bertingkah seolah-olah ia adalah Elsa. Senja tidak tega memupus harapan Bintang. Sebagai orang tua yang ia bisa lakukan hanyalah memberi nasehat, dan selalu berdiri paling depan setiap anak-anaknya memerlukan penopang. Tetapi untuk hal-hal kecil lainnya, ia ingin agar anak-anaknya belajar mengerti kalau jatuh itu memang sakit. Tapi dengan begitu, mereka akan jadi lebih berhati-hati setiap akan melangkah dan menghindari lubang yang sama, agar kelak tidak akan terjatuh sampai dua kali. Tugas sebagai orang tua itu sejatinya adalah membimbing dan menasehati. Bukan mendoktrin dan menghakimi.

"Bu, ayo gambari dulu wajah Bintang. Biar nanti tinggal mengepang rambut saja. Bintang pernah membaca disalah satu web yang mengatakan kalau mau dandan harus ganti baju dulu, atau pakai baju yang berkancing depan, biar tidak merusak tata rias wajah dan rambut, Bu. Makanya nih, Bintang malah udah ganti baju duluan, biar nanti dandanan Bintang paripurna saat dilihat Kak Tian. Hehehe..."

"Baiklah. Ayo kita mulai berdandan. Tapi kali ini Ibu ingin Bintang juga memperhatikan Ibu sungguh-sungguh ya? Biar kelak kamu bisa berdandan sendiri. Ingatkah Nak, sehebat apapun seorang make up artist, yang tahu tentang kepribadian kita dan dandanan yang cocok untuk kita, adalah diri kita sendiri. Tanamkan dalam hatimu, bahwa sejatinya berdandan itu adalah untuk menyempurnakan wajah, bukan untuk merubah wajah. Ingat itu ya, Nak?"

"Wokeh, Bu." Sembari nyengir-nyengir bahagia, Bintang dengan ikhlas duduk menghadap meja rias. Demi Kak Tian tercinta, kali ini ia rela jika wajahnya digambari warna-warni oleh ibunya. Apapun akan ia lakukan demi Kak Tian. Apapun!

"Nah sudah selesai. Cantik banget sih anak Ibu? Sebelum kita berangkat, ada yang ingin Ibu katakan padamu. Duduk disini, Nak. Disamping Ibu." Senja menepuk-nepuk ranjang di sisi kanannya. Ia ingin memberi nasehat kepada putrinya sebelum mereka semua akan ke rumah Tian.

"Ibu hanya ingin mengatakan padamu, bahwa sebelum kamu mencintai orang lain, belajarlah untuk mencintai dirimu sendiri. Mencintai diri sendiri itu bukan termasuk perbuatan egois lho, Nak. Kamu harus bisa. membedakannya. Self-love is not selfish. It is self-full. Bedakan. Dan satu hal yang pasti adalah, satu-satunya orang yang bertanggung jawab untuk mencintai dirimu adalah dirimu sendiri, bukan orang lain."

"Iya, Ibunda Ratu. Hamba paham." Sahut Bintang takzim.

"Selalu ingat bahwa kamu itu cantik dari luar dan dalam. Jangan pernah biarkan orang berkata yang sebaliknya. Karena yang paling tahu tentang dirimu adalah kamu sendiri, bukan mereka. Tidak akan ada orang yang akan mencintai kamu, jika kamu belum mampu mencintai diri sendiri. Mengerti, sayang?"

"Iya kanjeng ratu. Hamba mengerti. Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum dandanan kita mencair ya, Bu? Duh Bintang udah nggak sabar kepengen ngeliat ayang Tian yang gantengnya seIndonesia Raya!"

==================================

Satu jam kemudian, mereka telah tiba di kediaman keluarga Diwangkara. Beberapa mobil-mobil mewah terlihat berjejer rapi di depan rumah. Bintang tahu yang menghadiri pesta ini paling-paling hanya keluarga dan sahabat dekat, seperti juga kehadiran keluarga mereka. Bintang buru-buru turun saat mobil telah diparkir rapi oleh ayahnya. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Mata Bintang melebar saat melihat Tian duduk santai sambil tertawa-tawa dengan Tante Maddie dan Tante Reen. Ia mempercepat langkahnya. Bermaksud untuk bergabung dengan Tian di sana. Mulutnya mencebik kesal karena ia keduluan oleh Clara. Pacar Tian. Clara langsung menggandeng tangan Tian seperti sedang memegang balon gas. Erat banget. Sepertinya ia takut kalau Tian bakalan lepas dan terbang keudara. Tapi bukan Bintang namanya kalau dia menyerah begitu saja tanpa usaha.

"Halo Kak Tian, Bintang kecil di langit yang biru sudah datang!" Seru Bintang seraya menyerbu Tian dan langsung duduk ditengah-tengah sofa. Memisahkan Tian dan Clara.

"Selamat ya, Kak Tian. Oh ya, mulai besok Kakak udah kerja ya? Punya kantor sendiri? Bintang boleh datang ke sana, nggak?" Pertanyaan bertubi-tubi Bintang hanya dihadiahi seulas senyum rikuh dari Tian. Tian bahkan tidak menjawab satu pun pertanyaannya. Ia hanya tersenyum sopan seraya meminta diri ingin ke belakang sebentar. Dan seperti biasa, buntutnya langsung mengekorinya. Si Clara ini sepertinya memang tidak bisa membiarkan Tian sendirian. Sejurus kemudian, pandangan Bintang terarah pada calon ibu mertuanya. Tante Lyn ini mau dilihat dari Monas ataupun dari jarak sejengkal, cantiknya tetap kelewatan. Nggak pudar-pudar walaupun sudah berusia akhir 40-an.

"Tante, Tante kok bisa cantik begini sih? Rahasianya apa? Masa sudah tua begini masih tetep cantik aja? Apa kabar kami para remaja yang mukanya kayak tatakan gelas? Semesta ini sungguh tidak adil." Pungkasnya lagi. Ia kini merubah posisi dan duduk manja di samping Tante Marilyn, ibu Tian.

"Tante kadang bingung. Sebegitu tidak kreatifnya kah orang-orang sampai mereka selalu saja menanyakan hal yang sama pada Tante? Dari zaman Tante masih perawan sampai punya anak dua begini, itu-itu saja pertanyaan yang ditujukan pada Tante. Tapi, oke deh. Tante jawab. Mau dijawab ala siapa dulu ini? Tante Maddie, Tante Reen atau jawaban versi Tante sendiri?"

Tante Marilyn yang biasa dipanggil dengan sebutan Incess Oneng ini, emang lucu banget. Bintang jadi kepengen sedikit mengisenginya. Namanya juga sama calon mertua, kudu berusaha mengakrabkan diri dong. Ya kan?

"Ala tiga-tiganya aja deh, Tan. Biar adil dan merata. Hehehe."

"Kalo menurut Tante Maddie, Tante itu cantik karena pada dasarnya hidup ini adil. Tuhan menghadiahkan kecantikan sempurna untuk Tante, demi untuk menutupi ketidak sempurnaan kinerja otak Tante." Lihatlah jawaban nyeleneh Tante Lyn ini. Ajaib banget bukan? Hehehe.

"Kalau menurut Tante Reen, kecantikan Tante itu hakiki. Sementara kinerja otak Tante itu relatif." Tante Lyn ya  memang seperti inilah adanya. Selalu menjawab sesuatu sesuai dengan fakta. Tidak menambah dan juga tidak menguranginya. Pas.

"Lah kalo menurut Tante sendiri, kenapa coba?" Bintang penasaran atas jawaban Tante Lyn sendiri. Seperti apa ia memandang dirinya sendiri.

"Kalau menurut Tante, Tante ini cantik ya karena Tante tidak jelek. Simplekan?" Kali ini Bintang harus mengakui kalau julukan Incess Oneng itu memang benar adanya. Tante Marilyn ini cantiknya memang seperti princess, tapi sayangnya kinerja otaknya amat sangat sederhana.

Satu hal lagi yang menjadi nilai plus dari Tante Lyn adalah kebaikan hatinya. Tidak ada sedikitpun sifat iri dan dengki di dirinya. Makanya Om Chris, sangat mencintainya. Saat ini saja Om Chris terlihat membawa sepiring makanan buat istrinya. Om Chris ini adalah type laki-laki yang sangat smart. Bintang sering melihat Om Chris tampil sebagai pembicara di acara seminar-seminar bisnis, atau terkadang memberi kuliah bisnis sesekali di universitas-universitas bonafid negeri ini. Om Chris identik dengan segala hal yang canggih dan smart. Kepribadian si Om berbanding terbalik pada si Tante. Namun hebatnya, Om Chris yang intelek luar dalam ini, cinta mati pada Tante Lyn. Cinta itu memang buta karena tidak bisa terlihat oleh mata, melainkan sepenuhnya tentang rasa.

"Ini Mas bawakan makanan untuk kamu. Dari tadi kamu sibuk mengurus ini dan itu sampai melupakan kesehatan kamu sendiri. Ayo makan dulu." Dari nada suara Om Chris saja terasa sekali sayangnya si Om pada si Tante. Tante Lyn memang beruntung sekali dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya apa adanya.

Tidak ingin mengganggu kemesraan calon mertuanya, Bintang diam-diam menyelinap ke dalam kamar Tian. Ia ingin menyerahkan kado kepada laki-laki pujaan hatinya itu. Ia sudah menyisihkan uang jajannya selama hampir tiga bulan penuh, untuk bisa memberikan Tian kado sebuah jam tangan yang cukup mahal. Ia sampai kurusan karena tidak pernah lagi jajan di kantin.

Bintang berniat untuk meletakkan kado spesialnya secara diam-diam. Ia ingin membuat surprise. Dengan langkah mengendap-endap, ia melangkah menuju kamar Tian. Langkahnya mendadak terhenti saat mendengar suara-suara aneh dan lirih saling yang saling beragumen. Ck! Ada Kak Tian dan nenek sihir itu di dalam kamar rupanya.

"Lo kenapa sih masih aja ngeladenin itu buntelan jerawatan yang kegenitan banget sama lo? Lo nggak denger dia tadi bilang bintang kecil di langit yang biru? Bintang kecil? Umur sih emang masih kecil, tapi badannya mah segede babon. Mana genit banget lagi tuh gajah. Geli banget gue ngedengernya."

Penasaran dengan jawaban Tian, Bintang menempelkan telinganya pada pintu kamar Tian yang sedikit terbuka. Bintang tidak mendengar jawaban apapun dari Tian. Hanya suara kresek kresek yang samar-samar terdengar. Tidak lama kemudian suara kresek-kresek itu digantikan oleh suara berdecakan dan nafas yang tersengal-sengal. Karena semakin penasaran, pintu pun didorong lebih lebar lagi oleh Bintang.

Dan Bintang pun mendapat suguhan istimewa gratis ala konten 21++. Clara dan Tian terlihat saling berciuman dengan ganas dan panas. Bintang sampai cengo melihat live show orang-orang dewasa yang mirip sekali dengan adegan-adegan film dewasa yang pernah diperlihatkan Altan tersebut.

"Gue cuma kasihan sama itu anak, sayang. Dia 'kan udah tergila-gila dari dulu sama gue. Biarin ajalah. Itung-itung berbuat amal menyenangkan hati orang. Yang penting 'kan rasa cinta dan sayang gue hanya untuk lo seorang, sayang. Lo yang sesempurna ini mana mungkin bisa dibandingkan dengan apa tadi lo bilang? Buntelan jerawatan? Ya jauh banget 'lah Sayang. Bagai langit dan bumi." Hati Bintang seperti sedang diiris kecil-kecil rasanya. Sakit sampai ke dalam pembuluh darahnya. Ia tidak menyangka kalau ia ternyata sehina itu di mata lelaki pujaannya.

"Gue cuma nggak enak kalau harus judesin dia. Ortunya 'kan sahabat ortu gue. Jujur gue juga sebenernya risih banget ditempelin melulu sama itu anak gajah. Tapi lo nggak usah khawatir. Hanya kalau gue gila atau di guna-guna aja yang bisa membuat gue bisa berbalik suka sama itu bocah. Jangan cemburu sama orang yang nggak penting deh, Yang? Wasting time, you know?"

Kurang ajar!

PRANGGGG!!!!

Kado terlepas dan meluncur turun begitu saja dari tangan Bintang. Hatinya begitu sakit dan juga malu karena dianggap sebagai makhluk yang begitu menjijikkan di mata Tian. Orang yang begitu dia kagumi dan ia idolakan siang dan malam. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Tian ternyata begitu jijik melihat semua tingkah lakunya selama ini. Ia malu!

Bola matanya kini dipenuhi dengan air mata. Bukan air mata kesedihan. Tetapi air mata kemarahan yang bercampur dengan kekecewaan. Dia tidak menyangka, kalau Tian yang selama ini dia puja-puja ternyata bajingan bermulut busuk juga. Suara bising yang ditimbulkannya membuat Tian dan Clara keluar dari kamar. Tian termangu saat melihatnya ada di depan pintu. Wajahnya tampak resah dan serba salah.

"Bi--Bintang. Sudah lama kamu ada di situ, Dek?" Tanya Tian gugup. sebenarnya ia tidak bermaksud untuk mengata-ngatai Bintang dengan sekejam itu. Hal itu terpaksa ia lakukan semata-mata hanya untuk membungkam keluhan Clara saja. Pacarnya ini memang sangat pencemburu. Dengan mengatakan hal seperti itu, ia berfikir Clara akan diam dan tidak akan cemburu lagi. Tetapi siapa yang menyangka, kalau orang yang dia kata-katai tadi, ternyata berdiri tepat di depan matanya. Dengan bercucuran air mata pula. Bocah ini pasti sakit hati luar biasa. Dia memang laki-laki brengsek. Sebagai seorang laki-laki dewasa, seharusnya ia lebih bijak dalam menyikapi perasaan bocah ini padanya. Ia telah membuat kesalahan fatal!

Ia menyesal. Dia merasa tidak tega saat melihat lelehan air mata Bintang yang biasanya lucu dan ceria ini, terlihat sakit hati dan terhina. Tian tahu dia telah mematahkan semangat dan harga diri abege lugu itu sampai hancur tak bersisa.

"Kak Tian, dengar ya? Mulai hari, saya berjanji tidak akan pernah menampakkan diri lagi di hadapan Kakak. Maaf kalau selama ini saya sudah membuat Kakak muak dan jijik atas sikap saya. Permisi!" Sambil memungut kembali kadonya yang terjatuh, Bintang berlari ke depan dan meninggalkan Tian yang serba salah dan kebingungan.

"Bintang! Bintang! Dengarkan Kakak dulu. Sungguh Kakak tidak bermaksud untuk menghinamu. Bintang, tunggu dulu Dek!" Tian ikut berlari ke depan mengejar Bintang dan meninggalkan Clara yang tersenyum puas di belakang mereka berdua. Clara tahu bahwa luka di hati seorang perempuan itu tidak akan mudah untuk dilupakan. Apalagi luka yang disebabkan oleh orang yang mereka cintai. Tian akan sangat sulit untuk mendapatkan maaf dari Bintang. Memang itulah tujuan utamanya. Dia akhirnya berhasil mengusir anak gajah itu dari kehidupan pacar potensialnya selama-lamanya. Misi telah selesai dengan sukses.

Bab 3

Semalaman Bintang tidak bisa memejamkan matanya sepicing pun. Kalimat demi kalimat menyakitkan yang diucapkan oleh Tian terus saja terngiang-ngiang di benaknya. Air matanya mengalir lagi. Di sebagian besar masa kecil hingga di usianya yang ke lima belas tahun ini, cinta pertamanya adalah Tian. Bintang teringat saat ia main pengantin-pengantinan dulu. Ia tidak pernah mau dipasangkan dengan teman-teman laki-lakinya yang lain. Alex, Jordan, Wiliam bahkan Altan Wijaya Kesuma sekali pun. Altan adalah sahabat orok sekaligus tetangga terdekatnya. Selain itu Altan adalah anak dari Om Abyaz Wijaya Kesuma. Mantan atasan ibunya. Selama bertahun-tahun ia selalu menghayalkan Tian. Ia acap kali mengharapkan pertemuan-pertemuan tak terduga dengannya. Harap-harap cemas setiap kali menunggu balasan chatnya. Dua huruf balasan OK saja, sudah berhasil membuat jantungnya jumpalitan tidak karuan. Begitu besarnya rasa cintanya pada Tian.

Tapi ternyata semua itu hanyalah karena rasa kasihan semata. Kesadaran akan kesia-siaan atas waktu dan tenaga yang terbuang percuma, memang terasa amat sangat menyakitkan. Bintang tahu, butuh waktu yang cukup lama untuk bisa menghilangkan kebiasaannya melamunkan Tian. Tapi ia telah bertekad untuk membuang semua masa lalu yang kelam. Ia akan melupakan seorang Christian Diwangkara Junior dan mencoba membuka lembaran baru.

Tian mengatainya buntelan jerawatan bukan? Baiklah, mulai hari ini, ia berjanji akan diet dan berolah raga mati-matian. Ia memang kelebihan berat badan sebanyak lima belas kilogram, dari berat badan idealnya. Ia berjanji dalam hati, akan merubah total penampilannya. Mulai besok pagi, ia akan menemani ayah tercintanya jogging tanpa harus disuruh-suruh lagi.

Mengenai jerawatnya, ia akan dengan senang hati mengikuti ibunya facial rutin sebulan sekali. Sebenarnya ia itu anti sekali dengan yang namanya facial. Membayangkan kalau jerawat-jerawat yang sangat disayanginya itu ditusuk-tusuk dengan jarum khusus secara brutal membuatnya keder. Belum lagi kalau semua komedonya dipencet-pencet sadis oleh para terapisnya. Air matanya sampai keluar saking sakitnya.

Ada satu pengalaman yang membuat Bintang ogah ikut ibunya facial. Waktu itu, ia sangat kesakitan karena jerawatnya terus saja dibombardir habis-habisan. Saking sakitnya tubuhnya sampai miring-miring ke samping, demi menghindari tangan-tangan haus darah terapisnya. Karena berat badannya yang di atas rata-rata, ia terjatuh dari bed pasien karena tidak seimbang. Sejak saat itu, ia trauma kalau diajak facial oleh ibunya. Tapi kali ini, ia bertekad untuk bertahan hingga akhir. Beauty is pain, isnt' it?

==================================

Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Tapi ia sudah stand by di teras rumah, lengkap dengan sepatu joggingnya. Dia bahkan sudah melakukan beberapa gerakan pemanasan sebelum ayahnya tiba. Ayahnya keluar rumah satu jam kemudian. Saat melihat kehadirannya, ayahnya mengucek-ucek matanya. Pasti ayahnya tidak percaya saat melihat putri abegenya sudah melompat-lompat heboh pagi-pagi begini.

"Wah... wah... wah... Ada angin apa kamu pagi-pagi begini sudah bangun, Bi? Serius ini kamu mau ikut Ayah jogging?" Ayahnya membelai puncak kepalanya dengan sayang. Ayahnya pasti senang karena anak gadisnya sudah mau menjaga kesehatan, dengan kesadarannya sendiri. Tidak perlu di uber-uber lagi.

"Serius pangkat enam kalau meniru ucapan Ibu, Yah. Bantu Bintang supaya bisa cepet kurus ya, Yah? Bintang bosen tiap hari dikatain orang buntelan jerawatan. Bintang ingin langsing dan seksi, Yah." Ujar Bintang serius. Sabda menyipitkan sebelah matanya. Dia melihat kesungguhan dalam setiap kata-kata yang diucapkan oleh anak gadisnya ini. Pasti ada sesuatu hal yang merubah cara pandang Bintang. Dulu anak gadisnya ini selalu mengatakan kalau big is beautiful. Tapi kini sepertinya pepatah itu tidak berlaku lagi untuknya. Ada apa sebenarnya? Apa yang sudah menbuat putrinya ini mengubah semboyan? Sabda sebenarnya penasaran sekali. Namun ia sadar, itu adalah rahasia anaknya. Ia tidak boleh terlalu mencampuri urusan hati anaknya, kecuali yang bersangkutan memang meminta pendapatnya.

"Dengar ya sayang. Hakekatnya olah raga itu adalah untuk mendapatkan kesehatan dan kebugaran. Dan apabila hal tersebut bisa membuat tubuh kamu kurus dan seksi, itu adalah bonusnya, bukan tujuan utamanya. Ayah tidak mau kamu salah persepsi tentang arti olahraga yang sesungguhnya. Paham sayang?" Ujar Sabda. Bintang pun memberi jawaban dengan mengacungkan jempolnya ke udara seraya mulai berlari-lari kecil. Kegiatan pagi, jogging bersama ayahnya telah dimulai.

"Kamu nggak capek apa lari terus, Nak? Ayah perhatikan kamu sudah berlari sebanyak lima belas putaran. Apa tidak sebaiknya kamu istirahat dulu? Terlalu memaksakan diri itu juga nggak baik untuk kesehatan, Nak. Otot-otot tubuh kamu bisa kolaps nanti. Semuanya harus dimulai secara bertahap, Nak. Ayo istirahat dulu."

Sabda menghentikan laju tubuh putrinya yang seakan-akan tidak ada capeknya berlari. Ada semangat yang membara disana. Sabda melihat niat putrinya ikut jogging bukan hanya karena ingin kurus saja. Pasti ada tujuan lain lagi yang ingin dicapainya. Putrinya tampak kalap berolahraga. Jika tadi ia hanya menduga-duga, kali ini sepertinya sudah saatnya ia bertanya. Bagaimana pun Bintang itu adalah putrinya. Ia tidak ingin anaknya memendam sesuatu yang salah, tanpa ia bantu menguraikan masalahnya.

Sambil berjalan-jalan kecil untuk menetralisir jantung dan mendinginkan tubuhnya, Sabda berjalan bersisian dengan putrinya. Ada beberapa hal yang ingin ia pastikan. Ia tidak tenang melihat sinar mata anak perempuannya ini berubah. Bintang tidak terlihat santai dan easy going lagi. Tapi justru terlihat tegang dan gamang.

"Bi, boleh Ayah tahu kenapa kamu ingin sekali kurus? Apa karena bullyan teman-teman di sekolahmu?" Bintang dengan cepat menggeleng.

"Bukan, Yah. Selama tiga tahun ini Bintang bisa melewatinya. Tidak masalah. Memang ada satu kejadian yang membuat Bintang ingin berubah. Seseorang mengata-ngatai Bintang seperti buntelan jerawatan. Jadi Bintang ingin membuktikan padanya, kalau Bintang juga bisa kurus dan seksi seperti Cla--perempuan -perempuan yang lainnya." Bintang nyaris saja menyebut nama Clara. Untung ia bisa dengan cepat membelokkan kata-katanya. "Bintang ingin membuat ia menelan kata-katanya sendiri, karena Bintang bukanlah buntelan jerawatan lagi."

Saat mengucapkan kata-kata itu, entah mengapa dada Bintang rasanya sangat sesak. Bertahun-tahun ia mengidolakan seseorang, tapi ternyata orang itu malah menganggapnya seperti setumpuk kotoran yang menjijikkan. Ia merasa sangat sedih dan malu. Tanpa sanggup mengucapkan kata apa-apa lagi, Bintang memeluk tubuh kekar ayahnya dan menyembunyikan tangisnya di lengan kekarnya. Hanya laki-laki inilah yang tidak akan pernah menyakitinya, dan menerima apapun kekurangannya. Tangis tersengal-sengal Bintang membuat Sabda merasa hatinya bagai diiris-iris. Putrinya yang menangis tetapi malah hatinya yang terasa luar biasa sakit. Putrinya sedang patah hati rupanya. Dan siapa laki-laki brengsek yang tega menyinggung fisik anaknya? Laki-laki yang menghina perempuan itu bukanlah seorang laki-laki sejati. Dia boleh saja menolak anaknya, tetapi tidak jantan kalau ia sampai menghancurkan kepercayaan dirinya. Kalau saja ia tahu orangnya, ingin sekali ia mengajarinya tentang sikap seorang laki-laki sejati setelah terlebih dahulu membuatnya babak belur karena sikap tidak gentlemannya.

"Sayang, selama kita masih hidup, masalah pasti akan tetap ada. Karena memang seperti itulah aturan main kehidupan. Hidup ini tidak selalu indah-indah saja. Masalah akan selalu datang bertubi-tubi. Semua orang pasti akan mengalaminya. Tidak ada seorangpun yang bisa terbebas darinya. Tetapi karena itulah semua orang jadi belajar menghadapi tantangan. Berusaha menjadi lebih dewasa, lebih baik dan lebih kuat." Sabda mengusap puncak kepala putrinya.

"Mengenai orang yang telah membuatmu kecewa. Buat apa kamu izinkan perasaan itu singgah dan memburukkan hari-hari indahmu selama ini? Buang saja ke tempat sampah semua kata-kata tidak berfaedahnya itu. Untuk apa terus kamu ingat-ingat? Janji dulu pada Ayah untuk tidak lagi mengingat-ingatnya. Bisa?" Tegas Sabda. Dengan mata berair Bintang menganggukkan kepalanya.

"Bintang kecewa, Yah. Bintang sama sekali tidak menyangka kalau perasaannya pada Bintang hanya--" Bintang tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Terlalu sakit rasanya.

"Sebenarnya siapa yang membuat kita kecewa, Nak? Kita sendiri bukan? Kita tidak akan pernah kecewa jika kita mampu untuk mengendalikan perasaan kita. Mau sehebat apapun orang lain menyakiti perasaan kita, kalau kita sempurna dalam mengendalikan hati, no problem at all. Kita tidak akan gampang untuk kecewa dan sakit hati. Karena apa? Karena kita telah mampu mengendalikan diri kita sendiri. Mengerti, Nak?" Imbuh Sabda lagi. Putrinya kembali hanya mengangguk lesu. Sabda jadi penasaran tentang sosok yang telah mengata-ngatai putrinya ini.

"Eh ngomong-ngomong, siapa sih orang yang sudah berani mengata-ngatai anak ayah?" Sabda tidak tahan juga untuk tidak menanyakan jati diri orang yang sudah membuat anak gadisnya patah hati dan gundah gulana seperti ini.

"Rahasia dong, Yah. Tapi yang pasti orang itu sudah Bintang injek-injek sampai hancur!" Sabda tertawa. Akhirnya putrinya kembali normal juga. Sambil bergandengan tangan, mereka pun kembali pulang ke rumah. Ayahnya tidak tahu saja kalau sesungguhnya ia memang benar-benar sudah menginjak-injak orang yang menghinanya. Kemarin malam ia telah menempelkan photo Tian pada dua telapak sepatunya. Pasti saat ini wajah ganteng Tian sudah beset-beset semua terkena aspal pada saat ia jogging tadi. Puas banget Bintang rasanya.

Langkahnya terhenti saat melihat ada satu mobil mewah berplat B 714 N di teras rumahnya. Itu adalah mobil Tian. Ngapain pagi-pagi ia sudah ada di rumahnya? Ia pun memutar otak. Ia memang sudah tidak mau lagi menampakkan diri di hadapan Tian.

"Eh yah, Bintang ke rumah Mbak Sisi dulu sebentar ya? Kami janjian mau nonton soalnya. Oh iya, Bintang juga sekalian mau sarapan bersama Mbak Sisi aja di warung bubur depan kompleks. Boleh ya, Yah?" Bintang memasang wajah memelas. Mana tega ayahnya kalau ia sudah memasang ekspresi seperti ini. Ketika melihat ayahnya menganggukkan kepala, ia pun kembali berlari kearah belakang kompleks. Dia bukan ke rumah Mbak Sisi, tetapi kembali melanjutkan lari paginya.

Bintang merasa semakin lama gerakan kakinya semakin melambat saja. Kepalanya juga mulai terasa pusing. Mungkin ini akibat terlalu semangat berolah raga tanpa mempertimbangkan fisiknya yang belum terbiasa. Mana dia sama sekali belum sarapan lagi.

Brukkk!

Aduhhh!

"Astaga Dek bohay, mobil lagi parkir segede gaban begini kok bisa-bisanya lo seruduk juga. Lo mabok ya?" Kepala Bintang yang makin keliyengan membuatnya terpaksa memegang mobil yang ditabraknya tadi erat-erat. Keringat pun semakin bermanik-manik di keningnya.

Tiba-tiba saja Bintang merasakan satu lengannya dilingkarkan pada sebuah bahu yang bidang dan pinggangnya juga dirangkul erat-erat.

"Maap ya gue cuma bisa mapah lo doang. Gue nggak sanggup ngegendong lo ala ala bridal style. Takutnya ntar kita malah jatuh dua-duanya. Selamat kagak, benjol mah iya." Walaupun nafasnya cengap-cengap kecapean, Bintang mengenali suara galak kakak kelasnya ini, Bumi Persada Prasetya. Alamat dibully lagi lah ia pagi-pagi.

"Lo ngapain pagi-pagi udah sempoyongan kayak orang mabok? Duduk dulu yang bener, gue ambilin air minum gue dulu di mobil." Bintang merasa dia dididudukkan sebuah kursi taman kompleks.

"Nih minum dulu. Masih baru itu air mineralnya, belum gue minum." Bintang kaget saat Bumi menempelkan sebotol air mineral dingin ke pipi chubbynya. Kakak kelasnya ini memang suka sekali mengusilinya. Tanpa banyak bicara Bintang segera minum. Segar sekali rasanya setelah capek berlarian kesana kemari tiba-tiba di suguhi sebotol air dingin rasanya seperti di surga.

"Saya tadi habis jogging sama ayah saya, Kak."

"Berapa putaran emangnya?"

"Sama ayah tadi lima belas putaran, terus saya nambah delapan putaran lagi."

"Ahelah, pantes aja lo sempoyongan kayak orang mabok kalo lari nggak pake perhitungan dan sesuai kemampuan. Nih gue kasih tau ya Dek, orang olah raga itu harusnya bertahap. Misal nih, hari ini lima putaran, besoknya enam putaran dan seterusnya. Nah lo yang olah raganya cuma pas pelajaran Penjas aja, sok-sok kan jadi atlet sprint. Gimana kagak semaput lo." Bintang hanya diam saja. Tidak akan menang kalau berbalas kata dengan kakak kelasnya ini. Selalu saja ada bahan untuk membalikkan semua kata-katanya. Lebih aman kalau dia diam saja.

"Kakak sendiri ngapain ada di sini?" Gantian Bintang yang bertanya. Dia heran kenapa kakak kelasnya ini ada di kompleks perumahannya pagi-pagi begini.

"Kenapa? Emangnya ini kompleks punya lo? Jadi gue nggak boleh kesini gitu?" Eh si Bumi ditanya baik-baik malah nyolot.

"Bukan gitu Kak, kan saya cuma nanya."

"Nggak usah nanya-nanya hal yang bukan urusan lo. Ayo!" Bumi bangkit dan mulai memapahnya lagi.

"Ayo kemana, Kak?" Bintang bingung karena dipapah-papah mirip orang sakit stroke.

"Pake nanya lagi. Ya pulang lah. Lo emangnya mau seharian ngejogrok di sini? Ayo gue anterin. Mumpung besok puasa, gue mau memperbanyak amal ibadah. Ayo cepetan!"

"Kak, kalau niat nolong itu yang ikhlas. Jangan sambil membentak-bentak. Nanti pua--"

"Lo ngomong lebih panjang lagi gue sumpel ini sepatu basket gue ke mulut lo, mau?" Dan Bintang pun diam seribu bahasa.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED