Helaan panjang terlepas dari mulut Aubrey begitu saja. Dia merutuki dirinya karena melupakan bahwasanya festival yang berlangsung hari ini di kota New Orleans akan makin ramai orang ketika malam menjelang.
Festival Mardi Gras yang berlangsung setiap tahunnya di kota New Orleans itu selalu tampak meriah. Parade tersebut diramaikan oleh warga lokal dan turis yang ingin melihat kendaraan hias yang telah didesain seindah mungkin oleh para seniman.
Kegiatan itu berlangsung dari hari Minggu sampai hari Rabu abu untuk menyambut masa prapaskah. Mardi Gras sendiri memiliki arti selasa gemuk – yang pada hari itu orang-orang merayakannya dengan makanan-makanan berlemak.
“Aduh, salah jalan lagi. Seharusnya aku tidak mengambil jalan ini, begitu banyak orang. Bagaimana sepeda motorku ini bisa melalui kerumunan ini, ya?” Aubrey bergumam kepada dirinya sambil berpikir keras untuk memecahkan kerumunan atau balik arah mengambil jalan yang lain.
“Hei, Crazy girl, sedang apa kau melamun di situ, cepat minggir, jangan halangi jalan kami.” Seorang gadis dengan pakaian seksi mengumpat Aubrey.
“Sudah Cass, jangan marah-marah. Bagaimana kalau gadis cantik ini, ajak bergabung bersama kita saja melewati pesta malam ini,” ucap pria tampan di samping wanita tadi dengan wajah penuh bekas lipstik.
Aubrey dengan pandangan jijik tanpa menghiraukan percakapan yang terjadi segera menyalakan motor dan hendak berlalu dari hadapan mereka.
“Hei, Gadis sombong. Aku sedang berbicara denganmu. Kau mau ke mana, hah?” tanya pria itu lagi sambil memegangi setang motor Aubrey.
“Aku tidak kenal siapa kalian, berhentilah mengganggu dan biarkan aku pergi atau kau mau rasakan akibatnya.” Aubrey dengan marah menghempaskan tangan pria tersebut.
“Sudahlah Ton. Kita akan bersenang-senang malam ini, jangan cari keributan. Nanti juga akan banyak wanita yang akan menemanimu di café sana,” ucap Dominique menenangkan Tony.
Dominique, Tony, dan Cassandra berencana akan menghabiskan malam itu untuk menikmati Festival Mardi Gras yang diselenggarakan di sepanjang jalan New Orleans, Louisiana. Acara kostum, pelemparan manik-manik, dan pesta dansa malam itu berlangsung sangat meriah.
Akhirnya, Tony pun membiarkan Aubrey pergi. Meskipun, ada rasa kesal yang bergumul di dada karena penolakan Aubrey. Dia pun bersama Cassandra dan Dominique pergi ke sebuah kafe yang telah mereka pesan di pinggir sungai Mississippi.
Aubrey memarkirkan motornya di Kafe Young Avenue Deli. Dia masuk dan mencari tempat duduk yang menghadap ke arah sungai dan langsung memesan makanan untuk mengisi perutnya yang sudah lapar, selain menghindari keramaian di sepanjang jalan New Orleans karena parade Mardi Gras, Aubrey pun memutuskan untuk menikmati suasana di pinggiran sungai Mississippi melalui café tersebut.
Kebetulan yang sangat tidak terduga, kekesalan dan kekecewaan Tony terjawab sudah. Dia dan kedua temannya memasuki kafe yang sama dengan Aubrey. Saat memasuki kafe tersebut Dominique sudah langsung dapat mengenali pemilik rambut ikal yang duduk di sudut Kafe.
“Tampaknya, Tony akan kembali menggila bila mengetahui wanita yang tadi dia incar ada di sini,” gumam Dominique.
“Damn, wanita itu lagi,” umpat Cassandra.
Tony yang mendengar umpatan Cassandra, sontak langsung menoleh dan melihat apa yang tengah dilihat Cassandra. Senyum lebar terbit di mulut Tony. Dia pun bergegas menghampiri Aubrey yang tengah duduk di sudut kafe.
“Hello, kita bertemu lagi. Tampaknya kita berjodoh, see kau lihat buktinya.” Tony dengan percaya diri menggoda sambil membentangkan tangannya.
“Kau mengikutiku. Tidak ada hal lain-kah yang dapat kau lakukan selain menggangguku.”
“Relax, baby. Aku hanya ingin tahu namamu. Kau ‘kan sudah tahu siapa aku, rasanya tidak adil kalau hanya kau yang mengetahui tentangku.”
Aubrey tampak malas meladeni ocehan Tony. Dia menghela napas dan tidak mengacuhkan keberadaannya.
“Stop please, biarkan aku memakan hidangan dengan tenang, oke!”
“Hei, kau tinggal sebutkan namamu dan aku pasti akan diam. Untuk menunggu semua itu, maka aku akan tetap berada di sini, oke.”
Dominique dan Cassandra hanya memperhatikan kelakuan Tony dari jauh. Mereka pun langsung menuju tempat duduk yang telah mereka pesan.
“Cass, apakah sepupumu itu tidak akan menggila. Tampaknya dia sudah sangat mabuk. Aku takut kebiasaan buruknya yang suka mengacau ketika mabuk akan menghancurkan malam kita ini.” Dominique menghela napas panjang.
“Entahlah, biarkan saja. Yang penting kamu di sini menemaniku.” Cassandra menyentuh tangan Dominique dengan sedikit menggoda.
Dominique tampak risih duduk hanya berdua dengan Cassandra. Sebab dia tahu bahwa wanita itu akan terus menggoda dirinya sepanjang malam. Meskipun berkali-kali penolakan yang Dominique berikan, tidak pernah menyurutkan hati Cassandra untuk terus mendekati.
Dominique diam-diam memperhatikan Aubrey dari jauh. Gadis tomboy yang memiliki aura yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata itu mampu mengetuk sedikit es di dalam hatinya. Dia juga tampak jengah melihat kelakuan Tony yang terus menerus mencoba merayu Aubrey.
Merasa seperti sedang diperhatikan dari kejauhan. Aubrey sedikit menoleh ke arah Dominique, mata mereka sekilas bertemu. Ada rasa aneh yang menelusup di relung hati Aubrey. Rasanya seperti teriris diikuti dengan debaran yang tiba-tiba muncul.
Seketika Aubrey memalingkan wajahnya menghindar dan menatap sungai di depannya. Ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut Tony tampak terdengar seperti dengungan lebah di telinganya.
‘Siapa pria yang bersama orang gila ini. Mengapa ada rasa yang aneh di sini?’ gumam dalam hati Aubrey sambil memegang dadanya.
“Hei, Baby. Are you okay? Ada yang sakitkah?” Tony bertanya memecah lamunan Aubrey.
“Kau tidak lelah menggangguku. Akankah sepanjang malam kau akan terus melakukan kegilaan ini?” tanya Aubrey kepada Tony dengan geram.
Tony mengibaskan tangannya di udara dan seketika dia terjatuh dengan kepala mendarat di atas tubuh Aubrey. Aubrey yang tampak terkejut langsung memegangnya. Dia pun langsung menatap dan melotot ke arah meja yang diduduki Dominique dan Cassandra, untungnya saat itu Dominique sedang memperhatikan Tony. Kemudian Aubrey mengisyaratkan untuk mereka mengurus Tony yang tiba-tiba pingsan.
Dominique yang melihat kejadian itu pun langsung berdiri dan hendak menolong Tony atau mungkin Aubrey. Cassandra yang melihat gelagat Dominique, langsung menahan tangannya. Dia tidak mau nanti Dominique berurusan dengan Aubrey.
“Hei, Kalian. Cepat tolong teman kalian ini, atau mau aku lempar tubuhnya yang berat ini ke sungai itu!” teriak Aubrey sambil berusaha menahan tubuh Tony agar kepalanya tidak jatuh menghantam lantai.
Dominique gegas berlari menghampiri mereka dan mengambil tubuh Tony. Tanpa sengaja tatapan mata Dominique dan Aubrey bertemu. Dari jarak sedekat itu dapat terlihat iris mata yang dimiliki Dominique hampir sama dengan yang dimiliki Aubrey. Seperti melihat cermin, itulah yang terbesit oleh keduanya.
“Hei, Crazy girl. Kau berniat menggoda dua pria sekaligus, ya, untuk menemanimu malam ini?” Cassandra yang berada di belakang Dominique menyela kegiatan mereka yang saling bertatapan.
Aubrey mengepal tangan kanannya, tampak menahan amarah.
Aubrey mengepal tangan kanannya, tampak kilatan kemarahan di kedua matanya. Dia pun langsung mendorong Tony ke arah Dominique. Reaksinya yang tiba-tiba, membuat Dominique terhuyung hendak jatuh ke belakang. Aubrey tampak tidak peduli, dia gegas mengambil kunci motor dan jaketnya untuk meninggalkan kafé tersebut.
“Hei, Crazy girl. Aku belum selesai bicara, mau kemana kau, hah!” seru Cassandra berapi-api.
Dominique yang melihat itu, langsung menghentikan Cassandra dan menyuruhnya untuk membantu dia memegangi tubuh Tony.
“Ingat, Cass. Cukup satu Tony saja yang menggila, kau jangan ikut gila dengan membuat keributan.”
“Aku akan mencari cara untuk mengeluarkan kita dari kerumunan parade di depan sana. Kau duduk di sini menjaga Tony sampai aku kembali, ingat jangan membuat kekacauan dan menambah pening kepalaku.” Tony memperingati Cassandra.
Dominique bergegas meninggalkan kafe dan mencari cara agar mobilnya bisa diparkir di depan kafe untuk membawa Tony.
Di depan kafe, dia melihat Aubrey berbicara kepada seorang pria. Tidak lama kemudian, gadis itu berlalu dari hadapannya tanpa membawa motor. Tampaknya Aubrey menitipkan motornya kepada salah satu karyawan kafe tersebut.
Dominique pun ikut menghampiri pria tersebut dan menanyakan bagaimana caranya untuk melewati kerumunan parade. Pria itu berkata ‘kerumunan akan bertambah ramai sepanjang malam, satu-satunya cara yaitu menginap di hotel dekat sini.’ Setelah menanyakan hotel tersebut, Dominique kembali ke dalam kafe dan menghampiri Cassandra yang tengah menjaga sepupunya.
“Ayo, Cass. Tampaknya kita tidak bisa menggunakan kendaraan di tengah keramaian ini. Aku akan memesan kamar di hotel dekat sini, cepat bantu aku memapah bocah tengik ini.”
Mereka pun berjalan selama sepuluh menit dan sampai di depan hotel mewah jalan Bourbon. Dominique langsung memesan dua kamar untuk mereka dan meminta bantuan bellboy untuk memapah Tony.
Saat akan memasuki lift, mereka bertemu lagi dengan Aubrey. Cassandra yang tadi sempat bersitegang dengan Aubrey pun langsung menghampiri dan hendak ingin membuat kekacauan.
Bellboy yang melihat kejadian tersebut ingin segera merelai. Mengingat siapa Aubrey di Hotel Bourbon ini. Aubrey yang melihat bellboy tersebut langsung mengisyaratkan untuk tidak mencampuri urusan mereka, karena dia tidak ingin identitasnya diketahui mereka.
“Dunia ini sempit sekali, ya? Di mana pun aku melihat kau. Oh, I see, sepertinya kau mengikuti kami, yah?” tanya Cassandra dengan tatapan merendahkan.
Aubrey menatap tajam ke arah Cassandra. Kemudian, dia hendak meremas mulut Cassandra. Namun, sayangnya Dominique menghalau aksinya.
Mereka hanya saling bertatapan tanpa berkata sepatah kata pun. Dengan penuh amarah, Aubrey akhirnya mengalah dan meninggalkan mereka.
“Sial, kenapa aku harus mengalah dengan pria itu, sih. Rasanya aku ingin merobek mulut wanita ular itu,” gerutu Aubrey sambil meninggalkan lobby hotel.
Malam semakin larut dan jumlah pengunjung penikmat Mardi Gras semakin bertumpah ruah. Aubrey akhirnya memutuskan pergi ke Porchantrain Lake untuk menikmati pemandangan malam hari di sana.
Pemandangan di Porchantrain Lake malam itu tampak begitu indah. Meskipun, banyak pemuda-pemudi di sekitarnya, tetapi tidak mengganggu Aubrey sama sekali. Dirinya larut dalam kerinduan dan kesepian.
Terlihat dari dekat tempatnya duduk, Dominique sepertinya ikut menikmati suasana danau malam itu. Karena ketampanannya yang luar biasa, dirinya pun menjadi pusat perhatian para kaum wanita di sekitaran danau.
Tampak beberapa wanita-wanita muda mencoba mencuri perhatian dari Dominique. Namun, sang empunya karisma begitu dingin dan tidak menghiraukan sekitarnya.
Aubrey yang sedari tadi memandangi danau pun teralihkan oleh riuhnya wanita-wanita yang menggoda Dominique. Dia memijit pelipisnya diiringi helaan napas. Tampaknya dia sudah lelah harus terus berurusan dengan pria itu.
Aubrey pun memicingkan matanya menatap ke arah Dominique, seperti memastikan sesuatu. Dalam hatinya bergumam ‘sepertinya wanita ular yang selalu menempel padanya tidak ikut serta, kalau ikut sudah pasti wanita-wanita itu akan kena cacian satu per satu.’
Tidak ingin mencari masalah, Aubrey gegas bangkit dan meninggalkan tempat tersebut. Dia tidak mau mengambil resiko jika nanti harus bertemu Cassandra kembali. Dia takut kali ini emosinya tidak akan terkendali, mengingat Cassandra selalu mencari perkara pada dirinya.
Tiba-tiba, entah dari mana datangnya Cassandra. Teriakannya yang memekakkan telinga mampu membuat semua orang yang berada di sekitar danau itu menoleh ke arah Aubrey dengan tatapan yang merendahkan. Tampak orang-orang di sekitar danau berbisik-bisik.
Sumpah serapah diucapkan dan dituduhkan kepada Aubrey oleh Cassandra. Kemudian, dia tiba-tiba melayangkan tangan kanannya hendak menampar pipi Aubrey. Untung saja Dominique sigap menangkap pergelangan tangan Cassandra dan menghentikan kegilaan yang dibuat olehnya.
“Cass, stop it. Kenapa kamu seperti ini, sih. Buat malu saja. You see, semua orang melihat kita dan menjadikan kita sebuah tontonan. Are you insane?”
“Sorry, Dominique. Aku benci kamu selalu dekat dengan wanita ini. Lihat, di mana pun kau berada, dia selalu ada disekitarmu. Sepertinya bukan kebetulan, tidak ada sebuah kebetulan Dom, ini semua pasti akal-akalan dia saja.”
Aubrey sesaat memejamkan mata, memijit pelipis, dan menghela napasnya. Dia tampak lelah dengan keadaan yang tengah terjadi secara terus menerus. Dirinya sudah lelah akan masalah yang menimpa sebelumnya dan harus ditambah dengan masalah baru lagi yang bahkan bukan kesalahannya.
“Crazy girl.” Sambil tertawa Aubrey mengucapkan kata yang selalu dilontarkan oleh Cassandra.
“Hei, kau terus meneriakkan kata itu kepadaku. Bukankah di sini yang gila itu kau. Lihat kelakuanmu, seharusnya sebelum melakukan ini semua kau harus bercermin. Jadi kau tidak seenaknya saja melimpahkan kesalahan kepada orang lain,” lanjutnya.
“Dengar, aku sudah sangat lelah malam ini. So, be a nice girl and get lost from my way.”
Aubrey menekankan setiap kata yang terucap. Dengan sorot mata yang mengintimidasi, dia sedikit membuat nyali Cassandra menciut. Namun, bukan Cassandra jika harus mengalah pada orang lain. Dengan gaya angkuhnya dan menantang, dia menatap kembali ke arah Aubrey.
“Oke, Girl, be calm down. Kita sudahi perdebatan ini dan kembali ke hotel. Kau Cassandra, ayo sudahi masalah yang kau buat malam ini.” Dominique menengahi perdebatan mereka.
“Kau, urus gadismu yang gila ini, kalau tidak aku akan mematahkan rahangnya sampai dia tidak dapat berbicara lagi.” Aubrey menimpali.
“Dengar Gadis sombong, jangan besar kepala. Sedari tadi aku diam bukan membelamu, tetapi aku muak berurusan dengan wanita seperti kau. Ingat, you are not my type. Jadi tidak mungkin aku tertarik padamu dan berhentilah untuk mencuri pandang denganku.” Dominique dengan angkuhnya merendahkan Aubrey.
Aubrey yang geram dengan kata-kata Dominique, hanya bisa terdiam dan tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka berlalu pergi begitu saja dan Aubrey tentu saja tidak ingin menambah masalah lagi. Cassandra pun tersenyum puas atas yang dilakukan oleh Dominique terhadap Aubrey.
Pada akhirnya, Aubrey pun ikut pergi dari danau tersebut menuju hotel untuk melepaskan lelah yang telah bersarang di tubuhnya
"Huft, akhirnya aku dapat merebahkan diri juga. Hari ini lelah sekali, ditambah lagi tadi ketemu wanita psycho."
Setelah beberapa saat merebahkan diri dari penatnya, Aubrey kemudian gegas membersihkan dirinya yang tampak lengket karena penuh dengan keringat. Setelahnya dia mengganti pakaiannya dengan piama dan memutar lagu-lagu favorit dari telepon genggamnya.
Lantunan lagu Kelly Clarkson yang berasal dari telepon genggam Aubrey mengisi seluruh ruangan kamar Hotel Bourbon Orleans tempat dia menginap. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar, dan seperti sebuah kaset film, dia mencoba mengingat semua kejadian-kejadian yang tadi dialaminya.
Kamar yang terletak di lantai tiga dan menghadap sungai Mississippi itu adalah kamar khusus yang dibuat Abraham untuk Aubrey, jika dirinya sesekali berkunjung dan bosan dengan suasana mansionnya. Begitulah kehidupan Aubrey, penuh dengan fasilitas mewah.
Hotel Bourbon Orleans yang terletak di Bourbon Street around Jackson Square dekat Louisiana State Museum adalah milik Abraham Calandre – kakek Aubrey. Jadi semua karyawan tentu saja mengenal siapa Aubrey, karena sekali-sekali dia membantu di hotel. Meskipun, tampak luarnya begitu dingin dan cuek, tetapi Aubrey pribadi yang sangat hangat. Dia tidak pernah membentak karyawan-karyawan yang berbuat kesalahan di depan umum seperti gadis kaya pada umumnya. Aubrey sangat menghargai semua karyawan kakeknya. Itulah mengapa dia sangat disukai dan disegani.
Sebenarnya, Abraham ingin mewariskan seluruh usahanya kepada Aubrey, tetapi dia bersikeras tidak ingin menjadi pengusaha. Dia lebih mencintai dunia seni. Dengan melukis dia dapat menyembuhkan luka di hatinya atas kehilangan kedua orang tua yang amat sangat dia butuhkan. Oleh karena itu, Abraham akhirnya menghormati keputusannya untuk menjadi seniman.
Meskipun, Abraham begitu menyayangi Aubrey. Namun, bagi Aubrey tidaklah cukup. Dia selalu merasa iri kepada teman-temannya yang tumbuh dengan cinta dan kasih sayang kedua orang tua.
Pada akhirnya, dia pun menarik diri dari lingkungan sosial dan hidup dengan dunianya sendiri. Dengan melukis dia dapat menghilangkan penatnya dunia. Baginya ‘Painting is Healing’.
Apalagi, setelah dia tahu orang tua mereka dipaksa meninggalkan dunia ini dengan menyisakan Aubrey saja. Dia selalu berharap dan bertanya, mengapa sang ibu tidak membawanya serta, tetapi ketika melihat begitu sedih dan terpukulnya Abraham. Sedikit demi sedikit dia pun mengerti, bahwa masih ada kehangatan cinta untuk dirinya, meskipun hanya dari seorang wali tunggal.
Pikiran Aubrey makin larut bersama lantunan lagu yang terus berputar. Malam itu rembulan begitu indah membulat sempurna menyinari kamar Aubrey melalui jendela yang terbuka gordennya. Akhirnya, dia pun terlelap seperti bayi yang polos.
***
Cahaya mentari pagi menerobos jendela kamar Aubrey. Dia memicingkan matanya, melihat jam di atas nakas, Dan kemudian bergelung kembali di dalam selimutnya.
Di tempat lain. Dominique yang baru saja tertidur sehabis menemani rengekan Cassandra yang menginginkan tidur bersamanya, terganggu oleh Tony. Akhirnya, dengan berat hati dia membuka mata dan bertanya apa mau Tony mengganggunya sepagi ini.
“Hei, Dom. Kok aku sudah di sini saja. Kepalaku sangat pusing dan tidak mengingat seluruh kejadian yang terjadi tadi malam.”
“Hei, Stupid man. Tahu tidak, karena ulah gilamu kalau sedang mabuk, Cassandra hampir saja berkelahi dengan wanita yang kau rayu semalam. Kalian berdua sama gilanya, suka mencari masalah.” Dominique dengan kesal memarahi Tony.
“Sorrylah, Dom. Namanya juga pesta kalau gak gila, gak asyik.” Tony berkelakar sambil tertawa.
“Iya, gilamu menyusahkan orang lain, tahu. Sudah sana, aku mau tidur, lelah sekali mendengar rengekan sepupumu itu.”
“Kenapa lagi si Cass. Dia ingin tidur denganmu lagi?”
“Yah, begitulah.”
“Kenapa gak hajar aja, sih, Dom. Sekalian pengalaman baru untuk memecahkan beku hatimu itu, loh.”
Dominique merasa kesal dengan ucapan Tony. Dia pun melemparkan semua bantal ke arah Tony dan menyuruhnya keluar dari kamar tidur.
Tony dengan tertawa terbahak-bahak berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan Dominique pun melanjutkan tidurnya.
Matahari semakin meninggi. Aubrey pun tengah merasakan lapar yang mendera. Dia bergegas membersihkan diri, kemudian menelpon resepsionis untuk mengantarkan makan siangnya.
Selesai mandi, ternyata pesanan Aubrey sudah selesai dan diantarkan. Waiter yang telah sampai di depan kamar Aubrey pun mengetuk pintu dan mengkonfirmasi pesanannya.
Aubrey gegas membuka pintu dan hendak mengambil makan siangnya. Namun, tiba-tiba Cassandra lewat di depan kamarnya. Dia tampak terkejut, ternyata mereka satu lantai.
Secepat kilat Aubrey menutup pintu, dia tidak ingin melayani Cassandra dan kehilangan selera makannya. Cassandra yang tadinya ingin membuat masalah, karena Aubrey langsung menutup pintu jadi dia urungkan niatnya dan gegas ke kamar Dominique.
“Dominique, are you awake? Aku boleh masuk, tidak?”
Dominique yang mendengar suara Cassandra di depan pintu, pura-pura tidak mendengarnya. Dia sangat malas dan lelah jika hari ini harus berurusan dengan Cassandra lagi. Namun, hal itu tidak membuat Cassandra lantas pergi dari pintu kamarnya. Dia terus mengetuk dan merengek.
“Dom, kau belum makan siang, loh. Kita makan bersama, yuk!”
"Tadi malam hanya sedikit makanan yang masuk ke perutmu. Nanti kau sakit, Dom."
"Come on, Dom. Jawab aku."
Dominique meremas rambutnya dan tampak frustrasi. “Ah, sampai kapan sih wanita itu terus menggangguku. Seandainya bukan sepupu Tony, sudah aku caci maki dia.”
Dominique dengan enggan akhirnya berjalan menuju pintu kamarnya. Dia membukakan pintu untuk Cassandra.
“Ada apa lagi, sih, Cass. Aku ngantuk sekali, nih, kau tidak mencoba mencari Tony di ruang makan.”
“Hei, Dom. Aku mengajak kau, lagipula Tony sudah biasa berkeliaran sendiri.”
“Baiklah, masuk dan tunggu aku. Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu.”
Dengan senyum bahagia, Cassandra memasuki kamar Dominique. Setidaknya meskipun banyak ditolak oleh Dominique, pada akhirnya dia akan luluh juga. Itu yang dipikirkannya.
“Duduklah di sana. Jika ingin minum, kau ambillah sendiri di kulkas.”
Cassandra duduk di sofa ruang tamu yang terdapat di kamar itu. Dengan gaya centilnya dia menatap punggung Dominique yang hilang di balik pintu ruang tidur.
Tanpa diduga, Cassandra menyusul Dominique ke ruang tidur dan memeluknya dari belakang. Tangan kanannya menelusup ke dalam kemeja Dominique dan memberikan sentuhan-sentuhan yang bagi siapa pun merasakannya akan membangkitkan gairah dalam dirinya.
Dominique tampak jengah dan menghempaskan tangan Cassandra. “Ingat Cass, jangan melewati batas. Kau adalah sepupu Tony, oleh karena itu aku menghargaimu. Bersikaplah seperti wanita terhormat.”
Cassandra yang tampak kecewa dengan kesekian kalinya penolakan Dominique, akhirnya melepaskan pelukannya dan kembali ke ruang tamu. Dengan wajah kesal dan cemberut dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu tersebut. Kemudian, dia berselancar di akun sosial medianya dan menatap akun @Dominiquehameed63.
“Wait and see, Dominique. Engkau akan jatuh luruh akan pesonaku. Ketika hari itu tiba, bukan hanya hatimu, seluruh tubuhmu pun akan menjadi milikku.” Cassandra bermonolog.