Bab 1

Happy Reading...!

***

Dur ... Duar ... Duar ... Bom ...

Suara dentuman dari letusan kembang api di atas langit salah satu kampus terbaik di Negara Singapura terdengar nyaring. Kilatan-kilatan cahaya dari percikan kembang api terlihat berwarna dan indah. Menakjubkan! Satu kata yang tepat untuk menggambarkan betapa indahnya langit malam dengan hiasan taburan bintang dan percikan kembang api kala ini.

Di pojok balkon aula kampus, senyuman manis dari seorang gadis yang terus mengadakan kepala menatap langit malam dengan takjub tak pernah luntur. Hiruk pikuk riuh suara dari orang-orang yang juga sedang berada di atas gedung tinggi itu tidak mengganggu aktivitas sang gadis sama sekali.

"Gue rasa tuh langit lebih bagus dari pada penampilan mereka, makanya lo lebih milih natap langit ketimbang para cogan yang ada di sana!" Seorang gadis lainnya datang mendekat, duduk bersandar di kursi panjang yang sama dengan yang diduduki oleh gadis sebelumnya.

Kepalanya ikut mengadah ke atas. Mengikuti gerakan sahabatnya yang sedari tadi tetap fokus dengan dunianya sendiri dari awal pesta berlangsung hingga saat ini. Ia menghembuskan nafas pelan. Nyaman! Mungkin karena ini, sahabatnya tidak ingin beralih dari sini sedari tadi. Tempat ini tergolong sepi dan tenang, suara ricuh tidak terlalu keras terdengar dari tempat ini.

"Ngomong-ngomong congrats atas kelulusan lo, Ela." Gadis itu berucap dengan tulus. Meskipun matanya masih terpejam dan dia tidak bisa melihat reaksi dari sahabatnya, tetapi dia tahu jika sahabatnya itu pasti tengah tersenyum meski tak bersuara.

Altheda Estrella, itu adalah nama dari gadis yang sedari tadi terus saja diajak bicara oleh temannya. Altheda atau gadis yang biasa dipanggil Ela merupakan sosok yang pendiam, tidak banyak bicara, dan selalu bertindak dengan cara logis dan bermakna.

Altheda bukanlah orang yang kaya. Ia hanya seorang gadis sederhana yang hidup sebatang kara. Pengalaman hidup yang dialaminya tidaklah sedikit lagi. Terlalu banyak rasa sakit, terlalu banyak caci maki, dan hinaan yang dia terima selama ini. Namun, Altheda tidak merasa jika itu merupakan suatu penghalang untuknya. Bagi Altheda, semua kepahitan yang dia terima selama ini akan terbayarkan sejalan dengan ilmu yang dia miliki, dan tentu saja dapat dibanggakannya di masa depan. Selain itu, Altheda juga merupakan satu-satunya inti dari kelompok mafia yang berkedok geng berandalan--SCaRY.

SCaRY terdiri dari lima orang anak muda yang memiliki bakat berbeda-beda. Selain itu mereka tidak berada di satu negara yang sama, bisa dibilang mereka hanya bersatu ketika ada misi. Itupun mereka tidak menunjukkan wajah masing-masing. Hanya Altheda yang mengetahui wajah mereka semua, karena katanya Altheda inti dari SCaRY yang merupakan satu-satunya bagian dari mereka yang wanita.

Alasan yang klasik memang. Meski alasan sebenarnya karena Altheda merupakan pencetus akan adanya SCary. Ia mendirikan SCaRY untuk tujuannya sendiri. Namun, soal kesetiaan jangan diragukan. Altheda mendapatkan kesetiaan dari SCaRY lebih dari apapun. Bagi kelima anggota SCaRY, Altheda sudah menjadi bagian hidup mereka. Tak ada Altheda maka tak ada kehidupan. Terkesan lebay memang, tetapi itulah kenyataannya.

Singapura, merupakan satu dari lima kota besar yang diduduki oleh SCaRY. Dan Altheda yang berada di sana bersama dengan kelompok kecil yang dipimpinnya--Start. SCaRY merupakan singkatan dari Start Come and Rule Young yang artinya Bintang datang dan menguasai anak muda, tetapi tidak banyak yang tahu arti dari singkatan itu karena mereka lebih mengenal SCaRY dengan Menakutkan.

Altheda itu penggila ilmu, itu sebabnya gadis itu rela pindah jauh-jauh dari Indonesia ke Singapura demi mengejar cita-citanya untuk memiliki pendidikan yang tinggi dan ilmu yang berlimpah. Meski kenyataan sebenarnya karena anak itu melarikan diri.

Dua puluh satu tahun sudah dirinya banting tulang kerja sana sini untuk dapat terus melanjutkan pendidikannya. Dan sekarang tepat diusianya yang ke-25 tahun dirinya memilih untuk menyelesaikan pendidikannya di gelar M.ked, S2 kedokteran. Bukan berarti dia ingin berhenti, tetapi Altheda merasa sudah saatnya untuk dirinya sedikit bersantai dan menikmati jerih payahnya dalam mengenyam pendidikan selama ini.

"Ngomong-ngomong lo kenapa sih lebih milih jadi dokter muda? Padahal setau gue, seorang yang bergelar magister seharusnya sudah berada di tahap dokter spesialis, kan?" Altheda membuka matanya perlahan setelah mendengar ucapan dari sahabatnya yang sedari tadi terus berusaha mengajaknya untuk bicara.

"Gue ngerasa ilmu yang tinggi enggak akan menutup kemungkinan gue untuk buat kesalahan. So, akan terlihat lebih normal kalo gue mengikuti prosedur dan memulai dari bawah," ucap Altheda santai sembari menatap kegiatan teman-temannya yang lain sedang berpesta ria.

"Alah gaya lo bambank, sok lu." Alva berdiri, ia memilih untuk menyandarkan tubuhnya di pembatasan balkon.

"Gue tahu banget lo, Ela. Enggak usah sok yes deh lo, itu pasti karena lo masih mau sekalian belajar lagi, kan  ngaku lo! Lo itu terlalu terobsesi dan maniak dengan ilmu, Ela. Dan itulah kenapa gue selalu kalah setiap beradu argument dengan lo," tuduh Alva dengan jari telunjuk mengacung pada Altheda.

Alva--sahabat baik Altheda dari mereka berada di Sekolah Menengah Atas 5 tahun silam. Dia sangat tahu dengan sifat sahabatnya yang satu ini. Disaat semua orang seusia dengannya udah sibuk mencari pekerjaan, tetapi Altheda masih berkutat mencari ilmu. Sayangnya Alva tidak tahu saja, jika Altheda jauh lebih dulu bekerja sebagai seorang hacker sebelum mereka semua menginjakkan kaki ke dunia pekerjaan. 

Altheda hanya tersenyum tipis. Ia tidak terlalu menanggapi ucapan berupa sindiran halus dari sahabatnya ini. Sudah terbiasa baginya mendengarkan sindiran-sindiran semacam ini dari dulu.

Semakin larut malam, dentuman keras musik semakin memekakkan telinga. Sudut balkon ruangan yang tadinya tidak terlalu berisik, sekarang mulai terdengar. Altheda menghela nafas panjang. Membosankan! Dia tidak terlalu menyukai pesta seperti ini, terlalu berisik dan tidak berguna. Andai saja pesta ini bukan dipelopori oleh beberapa dosen yang telah berbaik hati berbagi ilmunya pada Altheda, sudah dipastikan dirinya tidak akan mau berada di pesta yang membosankan seperti ini.

"Bosan?" tanya Alva pelan.

"Hemm... ." Altheda hanya membalas ucapan Alva dengan deheman. Lagi-lagi Alva harus menghela nafas berat. Ia harus ekstra sabar menghadapi sahabatnya yang super duper irit bicara ini.

Alva melirik jam tangannya, pukul 22.45 memang sudah sedikit larut malam. Mungkin jika mereka berpamitan pulang sekarang, itu tidak akan dipertanyakan lagi oleh teman-teman mereka yang lain.

"Mau pulang sekarang?" tawar Alva dengan mata yang terus menatap Altheda tenang.

"Boleh. Gue pamit dengan Sir Arthur bentar. Tungguin gue dan jangan coba-coba untuk meninggalkan gue sendiri di sini!" ucap Altheda dengan jari telunjuknya yang mengacung pada Alva. Alva tersenyum kecil, kepalanya mengangguk mengerti dengan permintaan Altheda.

Altheda segera bergerak menghampiri seorang dosen laki-laki paruh baya di salah satu kursi khusus dosen. Bibirnya tersenyum manis, dengan tatapan mata yang memuja. Sir Arthur merupakan salah satu dosen favoritnya karena pria itu mengajarinya dengan serius selama empat tahun terakhir masa kuliahnya.

"Sir,"

"Altheda ... Wah cukup mengejutkan melihatmu berada di pesta ini. Ini sebuah keajaiban," canda Arthur dengan senyum manis yang terkesan mengejek dimata Altheda.

"Anda mengejekku, Sir. Ini cukup menyakitkan dibandingkan sindiran Alva yang mengataiku maniak ilmu." Arthur tertawa terbahak mendengar penuturan Altheda. Gadis dihadapannya ini memang berbeda dari siswinya yang lain, gadis ini akan cenderung hormat pada mereka yang berilmu dan sedikit menyepelekan mereka yang berkuasa. Karena menurut kacamata Altheda, mereka yang berkuasa belum tentu memiliki ilmu yang cukup untuk bisa menghormati satu sama lainnya.

Tentu saja pandangan Altheda tentang ini tidak salah. Tidak sedikit mereka yang berkuasa lupa caranya memberikan hormat pada orang yang lebih tua, dan menurutnya itu merupakan minus ilmu paling dasar.

"Duduklah anak muda! Ayo kita berbincang sebentar, saya mempunyai sedikit penawaran yang menarik untuk kamu, Nak," tutur Arthur dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.

"Baiklah, jika Anda cukup memaksa." Altheda mendudukkan tubuhnya di kursi samping kanan Arthur. Pria paruh baya itu hanya mendengus kecil mendengar ucapan Altheda. Oh ayolah, dirinya tidak memaksa gadis ini sama sekali. Dia hanya menawarkan, ingat. Menawarkan!

"Ck ... Sepertinya sifat mu yang satu itu harus segera kau tinggalkan, Ela," gerutu Arthur jengkel. Altheda hanya terkikik kecil melihat dosen favoritnya menggerutu kesal. Sepertinya Altheda harus diberikan apresiasi karena selalu berhasil membuat dosen yang terkenal tak pernah marah dan sangat santai itu mengeluarkan ekspresi baru, jengkel.

"Jadi ... Apa yang ingin Anda tawarkan, Sir?" tanya Altheda.

"Tidak banyak, tapi sebelumnya saya ingin bertanya, Ela. Apa kamu berniat kembali ke Indonesia, setelah studi-mu selesai?" Bukannya menjawab, Arthur malah kembali melemparkan pertanyaan pada Altheda.

"Lalu, bagaimana dengan Anda? Kapan Anda berniat kembali ke Indonesia?"

"Altheda, tidak sopan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan!" tegur Arthur memperingati.

"Hehehe." Altheda terkekeh pelan, lalu kembali melanjutkan katanya," Jika Anda lupa. Anda juga melakukan hal yang sama, Sir. Tapi aku akan menjawab pertanyaan Anda. Tidak! Aku sama sekali tidak berniat untuk kembali. For you information Sir, aku sudah bekerja di salah satu rumah sakit sebagai dokter muda."

"Ah ... Dokter magang rupanya,"

"Dokter muda, Sir. Bukan dokter magang," protes Altheda tidak terima.

Arthur hanya menanggapi dengan tersenyum. whatever, pikirnya.

Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan gadis dihadapannya ini dengan lembut. Altheda akan menjadi pilihan terakhirnya untuk mendapatkan simpati dari satu-satunya cucu laki-lakinya. Tiga bulan yang lalu, sebelum kelulusan dari para mahasiswi magister diumumkan Arthur telah mengirimkan file tentang Altheda pada cucunya di Indonesia.

Arthur benar-benar menyukai sifat dari gadis dihadapannya ini. Gadis yang minim ekspresi dan maniak akan ilmu. Gadis yang akan berpikir rasional secara berulang-ulang sebelum mengambil suatu keputusan. Gadis yang sedikit kurang akhlak tetapi Arthur menyukainya. Altheda akan menjadi gadis yang sempurna untuk cucunya, itu yang Arthur pikirkan. Dan kabar baiknya, cucunya tertarik dengan Altheda dan telah mengawasi gadis ini selama dua bulan terakhir.

"Sir, jadi ... Penawaran apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Altheda ulang, karena Arthur tak kunjung menjawab pertanyaannya yang pria itu tawarkan.

"Aku ingin kau menjadi-"

Dor ...

"Awas!" pekik Altheda kencang.

Uhuk ... Altheda terbatuk, darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Matanya menatap Arthur dengan raut wajah panik. "Apa anda baik-baik saja, Sir?" cicit Altheda bertanya dengan suara lirih tertahan.

***

Hallo Guys...! Duh sedikit pemberitahuan, jika nama kota dan negara hanya berada di imaginasi author. Latar tempat sama sekali bukan hal nyata.

Salam, Scorpio.

Bab 2

"Altheda!" Alva berteriak histeris ditengah-tengah kerumunan yang masih mematung mencoba mencerna apa yang telah terjadi. Sesaat kemudian mereka mulai berteriak histeris mengikuti teriakan Alva.

Dor ... Suara tembakan kembali terdengar. Para mahasiswa kembali mematung untuk yang kedua kalinya tak berani bergerak sembarangan. Salah-salah, bisa jadi kepala mereka yang menjadi sasaran selanjutnya. "Head shot!" cetus seorang pria muda berpakaian formal yang berdiri tepat dibelakang Arthur.

"Tuan,"

"Tidak berguna!" Suara Arthur menggelegar. Menyentak pria yang baru saja berkata dengan kasar. Rahangnya mengeras, matanya menatap pria itu tajam. "Kau harus bertanggungjawab atas kelalaian ini, Mark," imbuhnya datar.

Para mahasiswa kembali berteriak. Mereka berbondong-bondong berlari memadati pintu keluar aula untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mereka baru menyadari, jika mereka sedang tidak berada pada tempat yang aman.

Ada penyusup dalam pesta kelulusan angkatan ini. Dan Altheda adalah korbannya, tidak! Bukan Altheda, tetapi seharusnya Arthur yang menjadi korbannya. Namun, Altheda yang memiliki spontanitas yang cekatan malah melindungi dosen favoritnya itu.

Alva berlari ke arah Altheda. Ia mendekap erat tubuh sahabatnya itu dengan penuh kasih. Astaga! Sahabatnya benar-benar terkena peluru senjata yang nyata.

"Bawa Altheda ke rumah sakit sekarang!" titah Arthur kembali membuka suaranya datar.

"Dan aku ingin tahu dalangnya hari ini juga, Mark." Lanjutnya lagi dengan aura yang sangat mencekam.

Mark membopong tubuh Altheda untuk segera dibawa ke rumah sakit. Alva mengikuti Mark yang membawa sahabatnya dari belakang dengan cemas. Dia tidak ingin berpikir negatif, tetapi ayolah. Siapa yang tidak akan berpikir negatif ketika sahabatnya harus terkena tembakan peluru tepat di area jantungnya.

"Lo harus selamat, Ela. Demi gue dan demi masa depan lo, jangan menyia-nyiakan ilmu yang lo kumpulin dengan susah payah selama ini," gumam Alva dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya.

***

"Berhenti ganggu gue! Gue muak lihat muka sok polos lo, jauhin gue dan jangan tunjukkan muka lo di hadapan gue lagi."

"Jangan mengikutiku! Kau ... ."

"Apa kau tidak bisa berhenti untuk membuat masalah. Dasar anak tidak tahu diuntung. Dosa apa yang kutanggung sehingga memiliki putri bodoh sepertimu!"

"Lo benar-benar keterlaluan jalang. Berkali-kali gue bilang jangan ganggu adik gue!"

"Jangan ganggu dia. Dasar monster!"

"Menjauh dari kehidupan gue!"

"Ugh ... Aduh kepala gue sakit? Itu ingatan bodoh apa sih! Apa yang terjadi? Tunggu ... Ini dimana?" Kagetnya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Ia menelisik setiap sudut, sepertinya Altheda tahu sekarang dia ada di mana? Rumah sakit. Dia yakin sekali, ini pasti ruang rawat di rumah sakit. Dinding ruangan yang berwarna putih dipadukan dengan warna coklat tua, ditambah lagi dengan bau obat-obatan yang menyengat. Tidak salah lagi! Tapi ... Siapa orang yang berbaik hati untuk membawanya pergi ke rumah sakit.

Apa itu Alva? Iya ... Ini semua pasti sahabatnya itu yang melakukannya. Namun, astaga! Dilihat dari sudut manapun semua orang tahu jika ini ruang inap VIP. Lalu siapa yang akan membayar tagihannya. Haa ... Altheda tidak memiliki uang sebanyak itu untuk dihambur-hamburkan hanya sekedar untuk perawatan rumah sakit.

"Kamu sudah bangun?" tanya seorang laki-laki yang baru saja memasuki ruangan di mana Altheda dirawat.

Altheda mengernyitkan alisnya. Siapa pria ini? Apa pria ini dokter? Tapi kenapa dia tidak menggunakan jubah dokternya? "Anda dokter?" tanya Altheda dengan raut wajah bingung.

Laki-laki itu tersentak. Ia menghentikan langkah kakinya, lalu memandangi wajah gadis belia itu dengan kebingungan yang sama.

"Kamu tidak mengingat paman?" Laki-laki itu menunjuk dirinya sendiri. Ia harus memastikan bahwa keponakan kesayangannya ini tidak apa-apa. Jika sampai keponakannya benar-benar lupa ingatan seperti tebakannya, maka keluarga itu akan berurusan langsung dengannya. Tidak peduli keponakannya ini akan berteriak, menangis, atau meraung, yang pasti mereka harus mendapatkan balasannya.

"Tidak ... Lo siapa? Lo bukan dokter?"

"Aku Arya Geraldton, pamanmu-- adik dari ibumu. Bagaimana bisa kamu melupakanku? Kau lupa ingatan yah!" Arya kembali melanjutkan langkah kakinya untuk mendekati Altheda. Tangannya terulur ingin meraih pucuk kepala Altheda, tetapi gadis itu dengan sigap menghindar.

"Tolong, jangan kurang ajar!" hardik Altheda datar. Jelas-jelas pria ini berbohong padanya. Sejak kapan Altheda memiliki paman, apalagi ini adik dari ibunya. Hei ... Ibunya anak tunggal sematawayang, sama sepertinya.

"Jangan pernah coba buat tipu gue om mesum! Ibu gue anak tunggal. Dia enggak punya kakak, apalagi adik. Gue gak akan pernah tertipu sama lo, Tuan!" imbuhnya lagi dengan raut wajah datar.

"Sepertinya mereka membenturkan kepalamu terlalu kuat. Aku benar-benar akan membuat perhitungan dengan mereka, Lea. Para manusia menjijikkan itu harus segera kembali disadarkan!" Arya memutuskan untuk kembali ke rumah keluarga keponakannya-- Azalea Caleste. Dia akan memperingatkan para makhluk astral yang ada di sana untuk tidak main-main dengan keponakannya lagi. "Tunggu di sini! Dan jangan coba untuk lari lagi dari paman!" imbuhnya dengan nada peringatan.

"Lea ... Siapa Lea. Aku Ela!" beo Altheda bingung. Matanya menatap kepergian Arya tanpa berniat menghentikannya. Bagus jika pria sinting yang suka mengaku-ngaku itu pergi. Sekarang dia harus segera menghubungi Alva, agar bisa membantunya menyelesaikan administrasi dan memindahkannya ke ruang inap biasa. Bisa mati kelilit hutang dia jika terus berada di sana.

"Haa ... Dasar orang aneh," keluh Altheda dengan hembusan nafas lelah. Ia memutuskan untuk pergi ke toilet, dirinya ingin pipis. Tidak mungkin dia harus pipis di bangsal ini, bukan.

Dengan susah payah Altheda menurunkan kakinya untuk menyentuh lantai. Kakinya terasa sakit, dan kepalanya berdenyut kencang. Oh astaga! Kenapa rasa sakitnya harus senyata ini. Ia menyesal menjadikan tubuhnya tameng untuk melindungi dosen favoritnya dari tembakan. Seharusnya dia mendorong orang saja kehadapan dosennya, bukannya malah menjadi sok pahlawan begini.

Sekarang, coba lihat seburuk apa keadaannya setelah terkena tembakan malam itu. Tapi tunggu,  kenapa sepertinya ada yang aneh di sini? Bukankah dia terkena tembakan di dada bagian belakang? Kenapa jadi kepalanya yang terasa sakit.

"Mau kemana?" Altheda kembali menolehkan kepalanya ke arah pintu. Di sana seorang laki-laki yang masih menggunakan seragam sekolah berdiri menatapnya dengan tatapan sinis.

"Lo siapa lagi anak kecil? Tersesat atau salah ruangan?" tanya Altheda bingung.

Laki-laki itu sedikit tersentak. Ia terkejut karena gadis dihadapannya memanggilnya dengan Lo, gue. Selain itu sejak kapan gadis ini menjadi berani menatapnya seperti ini "Gue tanya lo mau ke mana?"

"Ck ... Lo gak berniat buat ngaku-ngaku jadi adik gue, kan! Kayak pria gila tadi yang ngaku-ngaku jadi paman gue? Sorry to say, gue anak tunggal bunk. Jadi lebih baik lo keluar sekarang, lo salah ruangan."

"Gue harap lo cepat waras, dan gak mengganggunya lagi. Dan tujuan gue ke sini hanya ingin mengingatkan! Berhentilah membuat ulah, itu sangat menjijikkan. Sampai kapanpun gue gak akan pernah tertarik sama lo Azalea!"  Altheda mengernyitkan dahinya tak mengerti. Juga ucapan anak kecil ini sangat menjijikkan, seolah-olah jika dirinya selalu mengejar-ngejarnya. Astaga, ayolah dia masih waras, oke. Meskipun Altheda jomblo dari lama, tapi dia tidak sampai ditahap seputus-asa itu untuk mengencani seorang remaja SMA. Dia masih waras!

"Lo bercanda yah bocah. Ya ampun, silahkan pintu keluar disebelah sana. Sepertinya lo butuh penanganan psikiater khusus deh," seloroh Altheda diiringi dengan kekehan di akhir kalimatnya.

Setelah itu dia kembali melangkahkan kakinya ke arah toilet, meninggalkan pemuda itu di depan pintu begitu saja. "Ck ... Kenapa gue harus ketemu dengan banyak orang aneh!" gumam Altheda dengan kekesalan yang telah membuncah.

Sedangkan pemuda itu hanya menatap kepergian Altheda dengan raut wajah bingung. Apa mungkin kepala gadis itu terbentur cukup kuat sampai harus menjadi gila. Atau gadis itu lupa ingatan? Tapi sepertinya dia harus lebih percaya, jika gadis itu sedang memainkan triknya untuk membuat dirinya tertarik.

Pemuda itu ingin beranjak pergi meninggalkan ruangan, tetapi suara teriakan dari kamar mandinya harus menghentikan langkahnya dan terpaksa melihat keadaan gadis itu dengan malas.

"Agh ... Apa ini? Apa yang- ? Oh ... Astaga ...! Arghh ... ."

***

Bab 3

Manusia adalah makhluk hidup yang menjunjung tinggi status sosial. Berbeda dengan makhluk ciptaan tuhan lainnya, manusia cenderung menghormati orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi dan dikira akan menguntungkan mereka.

Tak ada istilah empati. Hukum alam terus bergerak, mereka yang lemah akan musnah ditelan oleh alam dengan sendirinya. Predator ada dimana-mana, dan makhluk lemah seperti wanita akan mencari perlindungan dari mereka yang jauh lebih kuat.

Itu juga yang selalu diterapkan oleh Altheda dalam menjalani hidup. Hormati yang harus dihormati, utamakan mereka yang berilmu, dan amankan dirimu sendiri dengan berlindung disisi yang kuat, jika kamu tidak cukup kuat.

Munafik jika Altheda mengatakan bahwa persahabatannya dengan Alva merupakan karena perasaan empati dan kesenangan belaka. Alva-- sahabatnya sekaligus pelindungnya yang bisa dia hormati dengan cara berteman. Persahabatan mereka bertimbal balik, sama-sama meraup keuntungan sebanyak mungkin.

Alva yang merupakan anak orang kaya dan berada, sedangkan Altheda memiliki otak cerdas dan berilmu tinggi. Memiliki pemikiran rasional dan tidak pernah gegabah dalam mengambil keputusan. Itulah yang menyatukan mereka berdua dalam lingkaran yang bernama persahabatan.

Bahkan dengan teman-temannya di SCaRY. Altheda dengan terang-terangan mengatakan jika hubungan mereka hanya sebatas saling menguntungkan. Meskipun demikian, sikapnya pada mereka tidak menunjukkan tanda-tanda jika hubungan mereka hanya terikat dengan hubungan timbal balik yang berbayar kan keuntungan semata.

"Haa... ." Altheda kembali menghela nafas berat. Entah ini kali keberapa dirinya melakukan hal itu. Ia sangat merasa lelah. Kenapa sepertinya takdir sangat senang bersenang-senang dengan mempermainkan hidupnya. Bagaikan sebuah lelucon, Altheda terkekeh geli mengingat jiwanya yang baru saja berpindah ke dalam raga seorang gadis yang bernama Azalea Caleste--Putri dari seorang wali kota yang bernama Winston Corner di Kota Chen.

"Itu sangat memalukan," gerutu Altheda dengan kedua tangannya menopang dagu yang bersandar di pembatas jendela.

Pikirannya kembali menerawang kejadian tiga hari yang lalu. Dimana dirinya harus berteriak histeris karena kaget dengan wajahnya yang berubah. Serta bentuk tubuhnya yang langsing sempurna menjadi sedikit sintal dan berisi.

"Agh ... Apa ini? Apa yang- ? Oh ... Astaga ...! Arghh ... Ini bukan wajah gue." Teriak Altheda frustasi. Bagaimana bisa dirinya berganti wajah hanya dalam hitungan hari, selain itu wajah ini terlihat alami tanpa bekas operasi sama sekali. Satu-satunya yang mengganggu hanya makeup tebal, yang hampir merubah semua bentuk wajah aslinya.

Brak ... Altheda melonjak kaget. Ia menolehkan kepalanya melihat intensitas yang sedang berdiri tegap didepannya. Pemuda yang baru saja diusirnya sebelum memasuki kamar mandi, melihatnya dengan tatapan datar dan dingin, wajahnya menunjukkan kesan malas dan tidak peduli akan apa yang terjadi pada Altheda di dalam kamar mandi.

"Apa-apaan lo? Keluar!" bentak Altheda geram.

Apa-apaan ini, kenapa pria ini sangat tidak tahu malu! Batinnya.

"Lo ngusir gue lagi?" beonya tak percaya.

"Menurut lo! Gak sopan memasuki toilet dengan paksa ketika seorang wanita ada di dalamnya, bocah. Jika lo gak mau keluar, gue yang keluar." Altheda menghentakkan kakinya. Berjalan dengan cepat, dan dengan sengaja menyenggol bahu anak remaja yang ada dihadapannya sedikit kasar.

"Berhentilah berulah! Apa menurut lo berpura-pura lupa ingatan akan membuat gue tertarik sama lo, dan mengehentikan rencana gue buat membatalkan pertunangan kita. No Lea ... Berhentilah bermimpi." Altheda mendelik tak percaya. Oh ayolah, memangnya siapa yang tunangan anak kecil ini? Dia masih waras dan tidak tertarik untuk menyimpan berondong jagung. Apalagi berondong jagung yang tidak tahu asal usulnya seperti pemuda sinting satu ini.

Altheda mendudukkan tubuhnya di tempat tidur. Menatap remaja dihadapannya dengan tatapan intens menyelidik. Pikirannya kembali terpacu, bukankah wajahnya yang dilihatnya di toilet bukan wajah aslinya. Apa mungkin dirinya berpindah raga, karena tembakan itu? Jika benar, lalu dimana jiwa asli dari tubuh yang sedang ditempatinya saat ini.

"Lo kenal gue?" tanya Altheda dengan jari telunjuk yang mengacu pada dirinya sendiri. Ia sebisa mungkin untuk mencoba tenang, agar bisa mendapatkan jawaban yang pasti mengenai wajahnya. Laki-laki itu mengernyit bingung. Sesaat kemudian dirinya menghembuskan nafas pelan, tersirat ekspresi lelah yang sangat kentara di wajahnya.

"Ck ... Ck ... Ck ... Sayang sekali, masih muda tetapi sudah harus menderita alexithymia," decak Altheda kasihan. Ia cukup prihatin dengan remaja dihadapannya ini. Dilihat dari wajahnya, usia pemuda ini masih belasan tahun. Tapi wajahnya sudah tidak berekspresi, selain menyiratkan kelelahan.

"Biar gue ulang sekali lagi, lo kenal sama gue?"

"Enggak!" jawab pemuda itu tegas. Namun, meskipun demikian Altheda masih bisa menangkap ekspresi bingung dari wajahnya.

"Oh ... Oke. Kalo gitu ngapain lo disini? Juga siapa nama lo?" tanya Altheda lagi dengan sedikit sinis.

"Haa ... Jujur gue muak dengan drama murahan seperti ini Azalea. Lucian Magnus Wesley--itu nama gue. Gue pergi! Gue harap setelah ini lo enggak akan membuat ulah lagi, apalagi mengganggunya hingga membuat gue semakin malu." Lucian bergerak meninggalkan Altheda sendirian di ruangan rawat yang ditempatinya.

"Azalea hemm ... ." Altheda bergumam. Tangannya bergerak untuk memijit keningnya yang tidak terasa sakit. Sangat rumit, dan tentu saja diluar nalar logika. Sebagai seorang dokter, Altheda harus selalu berpikir menggunakan logika. Apalagi prinsipnya yang terus menerus menuntutnya untuk berpikir rasional, dan logis agar dirinya tidak salah jalan--untuk merugikan.

Altheda merebahkan tubuhnya, memejamkan mata dan berusaha untuk menyelami dunia mimpi lagi. Mungkin saja ini hanya mimpi ganda yang sering orang-orang alami. Seperti kita tertidur dan bermimpi, ketika kita sedang berada di dalam mimpi.

"Argh... ." Altheda mengacak rambutnya kesal. Seberapa kuat keinginannya untuk tertidur, matanya terus saja terbuka. Seakan-akan tidak ingin mengarungi dunia mimpi, dan sengaja menjebaknya di dunia paralel yang membingungkan.

"Lucian Magnus Wesley. Lucian ... Luci- ehh tunggu! Apa? Shttt." Kilatan-kilatan memori dari Azalea perlahan memasuki ingatannya. Semua yang berhubungan dengan Azalea, tidak terkecuali satu pun! Altheda meremas rambutnya kuat. Kepalanya terasa sakit--teramat sakit. Sehingga rasanya dia lebih baik memecahkannya saja, dari pada mempertahankan kepalanya berada di tempat yang semestinya.

"Apa ini? Sakit ... Ini sakit! Argh bangs*t" desis Altheda dengan suara lirih yang tercekat. Dia ingin berteriak sekencang mungkin. Memohon pertolongan pada siapa saja yang bisa menghentikan rasa sakit di kepalanya, bila perlu menghilangkan kepalanya saja.

Azalea Caleste Corner--anak dari seorang walikota Jakarta. Lebih tepatnya wali kota boneka, karena kenyataannya Winston Corner memimpin kota ini hanya untuk formalitas. Kota tetap berada dipangkuan penguasa yang berpengaruh seperti layaknya permainan penguasa.

Azalea memiliki seorang saudara laki-laki--Vincent Corner, dan seorang adik tiri yang bernama Alita Stevani Corner. Ayahnya--Winston Corner memilih menikah lagi setelah kematian istri pertamanya Zarina Alfaria Wyatt, dengan seorang wanita yang memiliki satu orang putri--Alestina Barbara.

Kehidupan Azalea tidak jauh berbeda dengan Altheda. Dia harus berusaha keras untuk mendapatkan perhatian dari ayah dan kakaknya, tetapi dari awal sampai akhir hanya saudari tirinya yang diperhatikan.

Ini untuk Alita! Ini karena Alita! Jadilah seperti Alita! Berhenti merundung Alita!

Kata-kata itulah yang membangun karakter Azalea dari dia usia lima tahun hingga sekarang diusianya yang ke delapan belas tahun. Dirinya terlalu egois dan terlalu terobsesi untuk merasakan bagaimana rasanya disayang oleh ayah dan kakaknya. Hingga dia melupakan jika masih ada orang lain yang menyayangi dirinya lebih dari apapun.

Arya Geraldton Wyatt--adik dari ibu Azalea. Pria itu sangat menyayangi keponakannya lebih dari apapun. Namun, rasa sayang yang berlebihan itu jugalah yang membuat Azalea semakin optimis untuk mengejar simpati dari keluarganya. Arya selalu mendukungnya, apapun yang diinginkannya, maka itu harus terwujud. Meskipun harus memaksa, Arya tidak peduli. Bahkan tanpa disadari Arya juga menjadi dalang dibalik keegoisan Azalea.

Altheda dan Azalea, dua orang yang bertekad kuat dan optimis. Namun yang membedakan, jika Altheda selalu berpikir rasional dan hati-hati serta selalu menggunakan akal sehat dengan berbekalkan ilmu. Maka Azalea kebalikannya, gadis itu selalu bersikap sembrono, bertindak dengan fisik, serta selalu ingin menunjukkan jika dia kuat. Pada akhirnya itu menjadi bomerang untuk dirinya sendiri. Bahkan tunangannya-- Lucian Magnus Wesley, lebih memilih untuk mendekati Alita karena tidak ingin menanggung malu.

Sampai akhir Azalea terus menjadi aib. Gadis bodoh yang bertindak semaunya, dan pencemburu buta. Itulah yang selalu melekat pada otak setiap orang yang mengenal Azalea.

Sang Antagonis!

Tapi sayangnya yang mereka tidak tahu. Azalea bukanlah antagonisnya, ia hanya korban! Korban dari keserakahan dari beberapa orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri.

Dug ... Dug ... Dug ...

Altheda membenturkan kepalanya di tembok. Sungguh, rasa sakit di kepalanya sudah tak bisa ditahan. Rasa itu menggerogoti otaknya, memecahnya hingga berkeping-keping. Altheda tak dapat berpikir lagi, satu-satunya cara yang dapat dipikirkannya hanyalah memisahkannya dari tubuhnya.

"Astaga! Azalea ...!"

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED