Plakkk!!!
Suara tamparan keras memenuhi ruangan yang semula ramai oleh berbagai diskusi kini menjadi hening tanpa suara sedikitpun.
"Tidakkah kau sadar siapa dirimu?" Tanya suara tua dengan penuh emosi yang tertahan.
"Aku sangat sadar,,, dan karena itulah aku menolak nya!" Jawab suara gadis muda dengan nada yang tak terbantahkan.
"Kau….!!!" Tunjuk wanita tua dengan marah hingga tak mampu berkata-kata lagi pada gadis di hadapannya.
"Muli, hentikan jangan terlalu keras kepala! Apakah kamu tidak melihat nenek begitu mengkhawatirkan mu" Ucap gadis berbaju hijau di samping wanita tua yang dipanggil nenek.
"Mengkhawatirkan ku? Apakah aku salah pendengaran? Atau mungkin mulut manis mu terpeleset?" Jawab gadis yang dipanggil Muli dengan sedikit sarkasme.
"Tidak… bukan itu, apakah kamu tidak melihat maksud baik nenek menjodohkanmu dengan pak Rey zan?" Tanya Lina gadis berbaju hijau itu.
"Oh, maksud baik seperti apa? Coba katakan, mungkin aku berubah pikiran untuk menerima nya" Jawab nya sinis sambil melangkah menuju kursi samping tunggal.
Sebenarnya ia cukup lelah, setelah semalaman menyelesaikan pekerjaan nya hingga jam 2 pagi. Ia belum tidur karena ia tahu jika ia tidur ada kemungkinan ia takkan bangun untuk melanjutkan tugasnya, bertentangan dengan prinsip nya. Ia berencana untuk tidur saat ia menyelesaikan tugasnya dan kembali ke panti di sore hari.
Namun, segala sesuatu nya tidak seperti yang dia harapkan!.
Di tengah kenyamanan dalam gulungan selimut hangat nya, seseorang dengan paksa menarik selimutnya dan melemparkan nya ke lantai dan menyeret nya Keluar sambil terus mengomel sekeras-kerasnya, mungkin dimaksudkan untuk didengar orang lain agar tau bahwa dirinya itu gadis pemalas.
Namun sayangnya,,, mereka tidak tahu bahwa di sini ia terkenal sebagai gadis manis yang baik hati dan pekerja keras!.
Dan ketika orang-orang melihat nya di seret sedemikian rupa banyak yang membelanya, namun apa daya kedua orang yang menarik nya tak tau malu dan dengan kejamnya terus menyeret nya hingga ke dalam mobil yang pada akhirnya disinilah dia berada sekarang.
Rumah besar, keluarga besar namun setiap orang nya memiliki hati kecil.
"Muli, dengarkan bibi. Nenek menyayangi mu untuk itulah dia menikah kan mu dengan pak Reyzan. Dia orang kaya, punya perusahaan sendiri, jadi apapun yang kamu inginkan pasti dia akan memberikan nya pada mu tanpa kamu harus bekerja terlebih dahulu" Jelas dewi istri paman kedua nya.
"Oh baiklah, aku mengerti" Jawab Muli dengan malas.
Ia paham arti dari itu, mereka ingin menggunakan nya untuk mendapatkan kekayaan untuk diri mereka sendiri!
"Jadi,,, apakah kamu setuju untuk menikah?" Tanya paman nya dengan berbinar.
"Tidak! " Jawab nya dengan malas dan menyilangkan kedua kakinya serta tangan nya di depan dada dan memejamkan mata nya.
"Kamu!!! ". Tunjuk pamannya dengan kesal.
"Dasar berandalan tak tau malu, harusnya kau bersyukur karena masih ada yang memikirkan masa depan mu!" Lanjut nya.
"Oh, haruskah aku bersyukur karena kalian telah meninggalkan ku di panti asuhan? Lalu menyeret ku kembali hanya untuk pernikahan dengan terong emas tua? Bukankah itu sangat menyenangkan untuk menjadikan ku sebagai alat transaksi kekayaan kalian?" Keluhan lama dan baru tak mampu ia tahan lagi. Sudah cukup baginya untuk selalu mengalah pada hak yang seharusnya menjadi miliknya tapi mereka ambil tanpa tau malu, namun mereka masih bersikeras mendorong nya untuk keuntungan mereka sendiri!.
Semua orang terkejut dan terdiam, sebenarnya semuanya yang dikatakan nya tidak salah, hanya saja setiap orang memiliki maksud yang berbeda namun saat ini mereka tak mampu untuk menjelaskan nya.
"Muli,,, kami tak bermaksud seperti itu." Sanggah paman bungsu nya.
"Lalu apa?" Tanya muli dengan getir. Hatinya cukup lelah untuk hal-hal seperti ini.
"Kami hanya ingin kamu tumbuh mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, agar kamu memiliki kehidupan yang nyaman" Jawab paman keduanya.
"Tidak bergantung pada orang lain? Mandiri? Hidup nyaman?" Ulang muli kembali dengan nada sarkastis. "Hey!!! Aku bukan bocah bodoh yang bisa kalian tipu, tanpa bekerja pun aku bisa hidup nyaman dengan harta yang ditinggalkan oleh ayah ku!".
" Muli, itu yang tidak kami inginkan. Sikap seperti itu tidak baik!" Unggah bibi kedua nya.
"Tidak baik? Kalian memang sekumpulan bajingan tak tau malu"
"Muli..! Hentikan! " Bentak sang nenek yang tak mampu mendengar keributan ini lagi.
"Kalian semua pergilah, bahas nanti masalah ini" Ucap nenek sambil memijat pelipis nya. "Muli, tetap disini dan terima hukumanmu sebelum pergi" Kata nenek menghentikan langkah kaki muli yang akan pergi.
"Apa yang salah? Kenapa aku harus dihukum? " Tanya muli sambil berbalik menghadap sang nenek.
"Kemari!" Bentak sang nenek. "Haruskah kamu melawan ku setiap saat? Kau ingin aku cepat mati hah?" Keluh nenek dengan suara tak berdaya.
Muli menghampiri sangat nenek dan menopang nya untuk berdiri. "Nenek,,, kau yang terlalu kejam! " Keluh nya tak kalah menyedihkan.
"Berhenti bertindak seperti itu, kali ini kau tak bisa menolak nya" Ucap nenek tegas.
"Mengapa tidak bisa?".
" Bukankah kau ingin menyelamatkan ibumu?"
"Ya,,, tapi bukan nya kakak akan kembali?" Tanya nya sembari mendudukkan sang nenek di tepi kasur.
"Entah kapan kakakmu itu akan kembali dari pelayaran nya,hah.. " Desah nenek. "Andai nenek semampu sebelum nya, mungkin nasib seperti ini takkan menimpa mu".
" Baiklah, jangan menyalahkan semuanya pada dirimu sendiri nek. Mungkin aku yang kurang bekerja keras!".
"Tidak… kesalahan seperti ini berada pada orang tua bukan anak-anak. Kamu seharusnya hidup dengan baik tanpa harus memikirkan beban yang bukan tanggung jawabmu, ini kesalahan nenek karena terlalu tua dan tak mampu menjaga kalian dengan baik."
"Nenek,,, jangan salahkan dirimu. Mari kita salahkan orang lain karena terlalu serakah oke?" Ucap muli menggenggam tangan keriput nenek nya. "Oh iya, apa yang ingin nenek katakan?" Tanya muli mengalihkan pembicaraan.
"Menikah lah, dia tak terlalu buruk. Paman bungsu mu mengatakan kamu takkan menyesali nya." Nenek memandang Muli
dengan penuh kasih dan harapan agar ia mau menerima perjodohan ini.
"Dia mengenal paman bungsu?" Tanya muli terkejut, ia kira calon suami nya adalah kenalan paman ke duanya. "Bukankah pernikahan ini otak dari paman ke dua?" Tanya nya lagi penasaran.
"Bukan, sebenarnya orang tuanya adalah kenalan lama ayahmu, dan dia adalah teman paman bungsu mu. Itulah sebabnya nenek menyetujui pernikahan ini." Jelas nya.
"Tapi nek,,, aku tak mengenal nya. Bagaimana jika dia tidak menyukai ku? Atau mungkin dia orang tua yang kasar dan jelek. Kau harus tau selera paman bungsu itu selalu buruk".
Wanita tua itu hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala nya, bagaimana mungkin gadis ini berpikir buruk seperti itu? Apalagi panggilan aneh seperti itu, "Tidak… kali ini lebih baik, ini permintaan terakhir nenek. Bisakah kamu mengabulkan nya?".
Muli merasa ragu, faktanya ia belum ingin menikah. Apalagi ia selalu terbayang dermawan yang selalu datang ke panti asuhan tempat nya tinggal, meski orang tersebut tak pernah turun dari mobil nya ia tahu itu pasti tampan.
Memandang wajah mungil cucu nya dengan pandangan mata yang mengembara hati nya hanya mampu mendesah.
"Sayang,,, nenek tau ini berat namun apa salahnya untuk mencoba menerima. Belum tentu dia seburuk yang ada di pikiranmu" Nenek mencoba membujuk nya lagi.
"Oh, apakah dia tampan?" Tanya muli penasaran. Setelah di pikirkan tak masalah tentang apa yang akan terjadi nanti, yang terpenting saat ini adalah memastikan bahwa pria itu harus tampan!.
"Apa kau suka pria tampan?" Tanya nenek nya geli dengan pertanyaan nya.
"Tentu saja, dia harus tampan jika tidak aku akan muntah saat melihat nya."
"Yakinlah… dia sangat tampan, meski usianya hampir sama dengan paman bungsu mu. "
"Sungguh? Setua itu? Nenek,,, kau sungguh menjual cucu tercantik mu pada terong emas tua!" Keluh nya dengan sedih. 'Aku harus mencari cara untuk ini! Jangan sampai segalanya menjadi lelucon!'.
"Jangan bicarakan omong kosong! Baiklah sudah diputuskan tiga hari kemudian akan jadi pertunangan mu, sekarang beristirahatlah dengan baik".
"Nenek, bukankah terlalu terburu-buru? Aku ingin melihat nya terlebih dahulu ne… "
"Berhenti merajuk, kau akan melihat saatnya nanti. Ibumu tak bisa bertahan lebih lama lagi!" Potong nenek dengan tegas.
"Baiklah" Jawab nya pasrah.
Saat kembali ke kamar nya, Muli membuka ponselnya yang sedari tadi bergetar pertanda ada banyak pesan yang masuk.
@Aslan : [ Bos, are you okay? ]
@Cerysweet : [ oh, sayangku apakah orang gila itu melukaimu?]
@Kei : [ andai aku ada di sana, kamu tak akan diperlakukan seperti itu! Maaf seharusnya aku pulang untuk menemani mu. ]
@Mixi : [Muli, kamu baik-baik saja?]
[Maaf, aku mendengar dari Kei keluarga mu menyeretmu untuk kembali. Ada apa?]
@Giran : [ Mumu, apa kau tak apa?]
[Haruskah kakak tampan menjemputmu sekarang? ]
[Mumu,,, please jawab pesan kakak tampan].
Membaca semua pesan dari teman-temannya membuat hati kosong nya kembali menghangat. Mereka tidak menelpon karena tau itu pasti mengganggu.
Melihat pesan terakhir dari kakak angkatnya, Giran menambah kehangatan dalam hatinya. Hanya dia yang peduli padanya tanpa memperdulikan apapun!.
Mengingat pertemuan pertama yang tidak disengaja dan tidak terduga, ia merasa bahwa itu adalah berkah dari kemalangan yang ditimbulkan keluarga nya.
Saat itu, ia pulang dari sekolahnya bersama teman-teman sepanti nya. Namun, ia merasakan tatapan tajam dari seseorang dari arah depan nya. Saat ia melirik nya itu adalah mobil avanza hitam yang terparkir di seberang jalan dengan seorang pengemudi pria berusia sekitar 40 tahunan.
Muli yakin bahwa dialah yang menjadi target sasaran mereka, karena ini bukan pertama kali nya dia mengalami ini. Pertama saat dia di bangku sekolah dasar yang untungnya ada guru kelas nya menolong nya.
Yang ke 2 adalah saat dia baru memasuki sekolah menengah pertama, ia berhasil kabur dari pengejaran mereka dengan bersembunyi di keramaian pasar. Saat itu ia berjongkok bersembunyi di bawah meja penjual ikan yang terhalang gentong-gentong ikan. Yang akhirnya ia pulang ke panti dengan bau amis ikan dan seragam yang kotor membuat semua pengurus panti khawatir, untungnya dia diantar kembali oleh pemilik kios ikan tersebut.
Yang ke 3 dan ke 4 ia hanya ditatap dan diikuti, namun saat ini ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi Muli meminta teman-teman nya untuk kembali lebih dulu dan berkata bahwa ia akan pulang telat dan meminta mereka menyampaikan izin nya kepada ibu panti agar tidak khawatir.
"Muli, kemana kamu pergi? Bisakah aku ikut?" Tanya kei penuh antisipasi.
"Hm, itu benar kemana kamu pergi? Kami akan ikut!". Kata jay dan joy, mereka adalah saudara kembar yang ditinggalkan oleh orang tua nya saat masih kecil karena ketidakmampuan orang tuanya, apalagi setelah ayah mereka meninggal karena sakit parah.
" Tak apa, aku hanya ingin mencari pekerjaan tambahan itu saja" Jawab nya, karena dia tau bahwa mereka mengkhawatirkan keselamatan nya.
"Kamu yakin? Tidak ada yang disembunyikan?" Tanya Kei curiga.
Mereka tahu jika Muli terlibat masalah karena keluarga nya dan dia sering kali terluka, oleh karena itu ibu panti menyuruh mereka untuk menjaganya dan tidak dibiarkan sendiri karena itu bisa sangat berbahaya.
"Tidak, itu sungguh" Jawabnya dengan pasti.
"Baiklah, maka berhati-hati lah" Ucap mereka.
"Pasti! Bye… " Pamitnya dan pergi ke arah yang berlawanan dengan jalan pulang biasanya.
Pengemudi mobil itu melihat nya berpisah dari teman-teman nya merasa heran 'apakah aku sudah dikenali? Ah, itu tidak mungkin!' pikirnya sambil menggeleng kan kepala nya.
Lalu ia mulai menyalakan mobil nya untuk terus mengikuti Muli.
Melihat mobil itu melaju di seberang jalan di depan nya, Muli yakin mobil itu ada untuk nya! Namun untuk apa? Ia tidak tahu apapun dan tak punya apa-apa, lalu mengapa selalu ada orang yang ingin menangkap nya dan juga memata-matainya.
Muli terus berjalan tanpa menoleh sehingga tidak ada yang mencurigai bahwa ia telah menemukan penguntit itu.
Sesampainya di pertigaan, Muli mengambil belokan sebelah kanan yang menuju gang pemukiman penduduk.
Melihat itu, pengemudi heran tentang apa yang akan dilakukan gadis kecil itu. 'Apa yang direncanakannya? Apa gadis itu sengaja? Atau memang ada sesuatu?'. Memikirkan hal itu, pengemudi langsung mengambil ponsel nya dan menelpon seseorang.
"Halo tuan,, " Panggil nya saat panggilan tersebut tersambung.
"Ada apa? Apakah ada perkembangan?" Tanya orang di seberang telepon dengan tidak sabar.
"Ada sesuatu yang aneh tuan," Jawab si pengemudi dengan hormat.
"Katakan!".
" Tuan, gadis itu berpisah dari teman-teman Sepanti nya. Dan berjalan menuju gang perkampungan" Jelas sang pengemudi.
"Tetap ikuti, saya akan menyuruh seseorang membantumu membawanya. Share lokasi detailnya".
"Baik tuan". Setelah panggilan dimatikan, pengemudi langsung mengirim lokasi nya. Dan segera turun dari mobilnya untuk terus mengikuti Muli yang sudah memasuki kawasan banyak penduduk.
Muli terus berjalan dengan mengitari rumah-rumah yang ada, dia tersenyum sopan dan menyapa warga yang dia temui. Hingga sampai ujung perbatasan antar desa, Muli memasuki sebuah bangunan tua namun tetap bersih, ia masuk dan menutup pintu gerbang kembali yang hampir setinggi dirinya.
Melihat dari balik celah gerbang, orang yang mengikuti nya cukup menjaga jarak aman dan mudah untuknya menyelinap dengan bantuan gerbang.
Melihat ini, Muli berjalan menuju gudang belakang yang sudah lama ditinggalkan. Karena tempat ini tidak berpenghuni untuk waktu yang lama banyak cat nya yang terkelupas, debu dan jaring Laba-laba.
Melihat sekeliling nya aman dan tertutup, Muli segera mengeluarkan pakaian dari dalam tas nya dan segera memakai nya, dia juga menambahkan bintik hitam dengan bolpoinnya di dekat bibir nya agar terlihat seperti tahi lalat. Dan menyembunyikan tas nya di bawah tumpukan barang didalam gudang tersebut, sebelum dia melarikan diri melalui lubang di bawah dinding seperti bekas keluar masuknya kucing atau anjing.
Pelariannya ke dalam hutan yang menjadi perbatasan antar desa ternyata mempertemukan nya dengan Pelindung tanpa sayap.
Mendengar beberapa suara dari arah depannya, Muli memperlambat langkah nya, saat ia mendekati sumber suara ia segera bersembunyi di balik semak-semak yang tak jauh dari sumber suara itu.
Mengintip dibalik semak, Muli terkejut melihat pemandangan tersebut. 1 vs 5! Itu terlalu menyakitkan baginya!.
Dia melihat adegan seperti itu hanya dalam film atau novel yang pernah dibacanya!
'Wow… itu terlalu luar biasa! Aku harus belajar darinya!'
'Eh,,, apa dia terluka? Haruskah aku menolong nya? '.
'Tapi, bagaimana jika dia penjahat?'
'Apa yang harus aku lakukan?'.
Sementara Muli sibuk dengan ocehan pikiran nya, pertarungan di depan nya terus berlanjut dengan situasi yang sangat tidak menyenangkan. Itu bukan pertarungan tapi seperti pengeroyokan!.
Saat Muli tersadar dari lamunannya, pria itu yang telah bertarung dengan 5 pria lainnya dipukul oleh salah satu mereka di bagian belakang nya yang membuat nya jatuh tersungkur.
Saat pria itu terjatuh, pandangan matanya menuju semak yang tak jauh dari tempat nya jatuh. Dia melihat seseorang bersembunyi di sana!.
Melihat ini Muli juga tertegun untuk sementara waktu, pandangan mereka saling terikat.
Pria itu tersadar kembali saat dia merasakan sakit di sekitar punggung nya akibat tendangan dari para pria itu. Muli pun tersadar oleh rintihan kesakitan orang yang dipandangnya, Ia merasa khawatir untuk itu, Muli mengisyaratkan dengan matanya dan juga sedikit gerakan tangannya untuk menyuruh pria itu berpura-pura pingsan.
Pria itu termenung memikir kan isyarat yang diberikan Muli. Muli kesal dan khawatir melihat pria itu malah termenung, Ia pun memelototinya dengan aura pemaksaan yang membuat pria itu tersadar dari lamunannya dan sedikit merasa menggigil dan tanpa sadar mengikuti keinginan gadis aneh itu.
Saat pria itu akan berpura-pura pingsan, Ia mendengar serangkaian suara kaki mendekat lalu menoleh kearah gadis yang sedang bersembunyi itu.
'Ada apa dengan nya? Mengapa ekspresi nya tidak terlihat benar?'. Muncul banyak pertanyaan di dalam hati nya tentang siapa gadis itu dan apa yang sebenarnya yang dia lakukan disini?. Bukankah terlalu berbahaya berjalan di hutan sendirian.
Setelah tertegun untuk beberapa waktu Muli akhirnya tersadar dan mulai mengutuk kesal 'Sial!!! Apakah orang-orang ini telah sampai disini juga?' . 'Apa yang harus dilakukan sekarang? Akankah mereka mengenalku setelah ini?'. Setelah berpikir beberapa waktu Muli akhirnya memiliki ide di pikiran nya dan langsung melepas ikat rambutnya serta memakai kacamata yang berada di sakunya. Setelah itu dia berlari menuju pria yang sedang dipukuli dan berteriak dengan sedih meminta tolong.
Orang-orang yang sedang memukuli pria tersebut tercengang dengan suara minta tolong yang tiba-tiba. Mereka telah memeriksa tempat ini sebelumnya dan yakin tidak ada siapapun disini. Namun mengapa ada seorang gadis yang tiba-tiba muncul disini?.
"Ini tidak benar, ayo pergi" Ucap salah seorang pria yang berbaju hitam melirik kearah gadis yang berlari mendekati mereka.
"Tolong… tolong… huuuu,,, huuu" Teriak Muli sambil menangis.
"Siapa kau? Mengapa ada disini?" Tanya seorang pria yang berbaju hijau.
"Huuu,,, huuu,, berhenti memukuli kakakku!" Ucap Muli terisak.
"Siapa kakakmu?" Tanya orang yang berbaju hijau lagi. Meskipun dia seorang gangster, dirinya tidak pernah memukuli wanita, apalagi anak kecil seperti ini.
"Huuuu,,, di,,, dia kakakku" Tunjuk Muli pada pria yang sedang terbaring di tanah.
"Aku tidak pernah tahu dia punya adik perempuan" Kata salah seorang berbaju hitam.
"Bos, apakah gadis ini berbohong?" Tanya pria lainnya.
" Apa kau yakin dia kakakmu?" Tanya pria baju hijau.
"Hm, sungguh dia kakak tampanku" Jawab Muli dengan wajah penuh keyakinan. "Kumohon lepaskan kakakku kali ini".
" Bos, suara itu semakin dekat " Kata salah seorang berbaju hitam.
Pria yang disebut bos itu melirik sekeliling nya lalu berjalan menghampiri pria yang sedang terbaring di tanah dan berjongkok.
"Baiklah, karena gadis manis yang memohon padaku maka aku akan melepaskan mu untuk saat ini. Tapi ingat tidak ada lain kali!" Ucapnya sambil menatap wajah mungil yang manis didepan nya.
"Terima kasih, kau yang terbaik" Ucap Muli dengan senyum manisnya.
Melihat senyuman nya, pria itu tertegun 'Manis' ucapnya dalam hati. "Baiklah, gadis manis semoga beruntung. Sampai jumpa kembali".
" Baiklah, kau bisa bangun sekarang " Ucap Muli pada lelaki itu setelah melihat gerombolan pria tadi pergi.
"Terima Kasih" Ucap pria tersebut.
"Bukan masalah, tapi eumm… "
"Ada orang disini!" Teriak seseorang pada rekan lainnya, memotong perkataan Muli yang belum selesai.
Mendengar suara itu, tubuh Muli menegang. Tangan yang mencengkram lengan pria yang ditolong nya mengencang dan sedikit bergetar.
Merasakan perubahan itu, Giran melihat ke arah datangnya suara lalu memperhatikan gadis kecil yang sedang memegang nya lalu bertanya "ada apa? Apa kamu mengenalnya?"
"Hm, a-a,,, aku tidak tahu" Jawab Muli dengan kepala menunduk.
"Sungguh? Apa kamu pernah menyinggung seseorang?" Tanya nya lagi.
"A-aku sungguh tidak tahu siapa mereka! Tapi mereka sudah lama mengikuti ku" Jawab Muli dengan suara bergetar.
Mendengar ini, Giran merasa sedikit sakit untuk gadis kecil di depan nya ini. "Jangan takut, ada aku disini" Ucap nya sambil menarik Muli ke pelukan nya.
Merasakan kehangatan yang tiba-tiba, Muli menegang namun terasa rileks setelah nya dan menganggukkan kepala nya tanda dia setuju.
"Hei.. Anak muda! Apa kalian melihat seorang gadis kecil berseragam sekolah menengah dengan rambut dikuncir lewat kemari?" Tanya seorang pria paruh baya dengan kacamata hitamnya.
"Tidak" Jawab Giran dingin.
"Jangan membohongi kami anak muda, itu tidak baik untuk mu! " Ancam nya.
"Apa hubungannya dengan ku?" Tanya Giran.
"Anak muda zaman sekarang tidak tahu sopan santun saat ditanya orang yang lebih tua!" Rutuk salah seorang dari mereka.
"Pa-paman,,, maaf kakak ku baru saja terluka." Jawab Muli dengan suara sedikit sedih.
Mendengar suara getir seorang gadis, pria paruh baya itu memperhatikan apa yang dikatakan olehnya. "Hei bocah, Ada apa dengan semua luka lebam di wajahmu?".
" Bukan urusan anda!" Jawab Giran dingin.
"Anak zaman sekarang memang kurang pendidikan!".
" Baiklah, berhenti berbelit-belit. Apakah kalian melihat seseorang yang lewat ke arah sini?" Tanya pria paruh baya itu lagi.
"Ka-kami tidak melihatnya" Jawab Muli .
"Mengapa kamu gugup jika tidak melihat nya?" Tanya salah seorang dari mereka.
"Gadis kecil, jangan mencoba untuk membohongi kami. Apa dia temanmu?".
" Ti-ti-tidak, aa-aku tidak tahu siapa yang Anda bicara kan?" Jawab Muli semakin gugup.
Merasakan kegugupan gadis kecil disamping nya, Giran tahu pasti gadis ini ada hubungannya dengan para pria ini, namun apa masalah nya?. "Berhenti membuat adikku ketakutan!". Ucap Giran dengan suara penuh penekanan yang membuat orang di sekelilingnya merasakan sensasi mati rasa.
" Kau!!! " Tunjuk pria paruh baya itu dengan amarah.
"Bos… " Teriak seorang pemuda yang sedang berlari ke arah mereka. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Fei an pada Giran. Fei an datang bersama empat pemuda lainnya langsung menghampiri nya dan memeriksa bos nya itu.
"Bukan masalah besar" Jawab nya.
"Ini,,, " Ucap Jerry melihat sekeliling nya dengan penuh pertanyaan.
"Abaikan, mari kembali dulu" Perintah Giran pada yang lain nya.
"Baik" Jawab mereka serempak.
Brukh!!!
"Adik… !" Teriak Giran terkejut melihat gadis kecil disamping nya pingsan. "Adik, jangan membuat ku khawatir, buka matamu" Teriakan Giran membuat yang lainnya terkejut. Termasuk empat orang yang baru saja berbalik.
"Bos,,, i-ini?" Tanya Fei an.
"Kita kembali dulu" Ucapnya dan buru-buru mengangkat Muli ke dalam gendongannya.
"Biarkan aku yang membawanya bos" Usul Jerry.
"Tidak perlu".
" Tapi bos… "
"Sudahlah, apa kau tidak melihat bagaimana raut wajahnya" Sela Oudy sambil menepuk bahu Jerry.
"Yahh, aku hanya khawatir" Keluhnya.