Bab 1

Beberapa tuan muda yang cukup berpengaruh dalam setiap profesi di kota B, salah satu kota terbesar di Negara K. Yakni:

1. Sae Ah Gu (25 tahun)

Tuan muda dari keluarga Sae, salah satu pemilik perusahaan terbesar di Korea. Ia adalah putra sulung dari pasangan Sae Ah Ran dan Nae Hae Ra. Sae Ah Gu menjabat sebagai CEO perusahaan Saejoon Group milik keluarga yang ia kelola hingga menjadi salah satu Perusahaan yang sangat berpengaruh di kota. Ia mempunyai seorang adik perempuan yang tengah menempuh studi di luar negeri, namanya adalah Sae Ah Ree.

2. Sae Rui Yoo (25 tahun)

Sae Rui Yoo adalah seorang aktris papan atas di Korea, tak hanya dunia modelling. Ia juga bergelut dalam film dan tarik suara, Rui Yoo juga mengisi soundtrack beberapa film yang ia bintangi dengan lagu milik beberapa komponis terkenal. Keluarganya juga memiliki beberapa perusahaan, tetapi ia tidak tertarik dengan dunia bisnis. Rui Yoo lebih memilih mengembangkan bakatnya dalam dunia industri karena ia memang suka menyanyi sejak kecil.

3. Lim A Raa (24 tahun)

Ia adalah salah satu penyanyi terkenal di Korea, bersama adiknya yang tak kalah tampan Lim A Roo. Mereka berdua berkolaborasi menjadi penyanyi yang terlihat indah dalam setiap penampilan mereka. Tak hanya wajah yang rupawan, kemampuan bernyanyi mereka juga mampu bersaing dengan penyanyi terkenal lainnya di Korea. Memiliki suara yang khas Lim A Raa dan Lim A Roo selalu menghipnotis para kpopers terutama wanita wanita muda.

4. Lim A Roo (19 tahun)

Seperti yang author jelaskan di atas, bahwasannya Lim A Roo bersama kakaknya menjadi duo grup yang cukup terkenal di Korea. Selain wajah tampan dan ciut-nya, Minji juga salah satu mahasiswa yang pintar. Ia selalu mendapat nilai sempurna dalam setiap mata pelajaran, tidak seperti kakaknya - Lim A Raa yang selalu membuat ulah saat masih kuliah dulu. Lim A Roo mewakili kecerdasan yang dimiliki Ayahnya yang seorang dokter kepala di Saejoon Hospital.

5. Li Soon Sae (23 tahun)

Soon Sae adalah seorang dokter bedah di Saejoon Hospital. Ya, dia bekerja di bawah pengawasan ayah Lim A Raa dan Lim A Roo. Menjadi seorang dokter di usia muda membuatnya di kagumi banyak wanita. Tidak hanya perawat yang bekerja bersamanya, bahkan para pasien pun mengaguminya. Beberapa kali para wanita muda sengaja sakit hanya untuk melihat dan bertemu dengannya.

6. Eun Na Gun(24 tahun)

Eun Na Gun adalah seorang pengusaha kuliner, ia memiliki restaurant berkelas bintang lima yang tersebar di seluruh penjuru Korea. Tak hanya restaurant, ia juga mengelola beberapa bar dan toko roti. Di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah menjadi seorang pengusaha sukses di negaranya.

7. Ji Bae Ram (25 tahun)

Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rama, ia adalah yatim piatu sebelum bertemu dengan keenam tuan muda. Sejak kecil Rama tinggal di panti asuhan, namun sejak usia 10 tahun ia hidup di jalanan setelah kabur dari panti. Kini Rama tumbuh menjadi seorang pria yang tangguh dan kuat dengan wajahnya yang rupawan. Ia merupakan bos besar dalam mafia geng yang sangat berpengaruh di kotanya, dengan berbagai rintangan yang dihadapi dan dialami dalam 10 tahun ini. Semua usahanya tidak sia-sia bahkan membuahkan hasil yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Zaman milenial dimana kemajuan teknologi berkembang pesat. Seorang profesor ternama melakukan penelitian tentang sebuah tanaman tradisional yang tumbuh di sebuah desa, desa tersebut setiap bulannya dalam beberapa tahun ini selalu mengirimkan tanaman obat ke kota Busan. Tanaman itu sudah menjadi salah satu bahan utama dalam meracik obat untuk penyembuhan penyakit kanker otak.

Tidak ada yang salah dalam penelitian tersebut, tanaman yang disebutkan sikrus hidup oleh warga sekitar di mana tanaman itu tumbuh. Entah bagaimana tanaman itu tumbuh, siapa yang awal mula menanamnya dan siapa pencetus nama tersebut tidak ada yang tau. Warga desa hanya tau bahwa tanaman itu biasa dijadikan obat oleh orang zaman dulu, dan hingga kini pun mereka masih menganggapnya begitu.

Tok-tok-tok.

"Masuk," ucap Sae Ah Gu.

"Selamat siang, Pak. Ini dokumen kerjasama perusahaan kita dengan perusahaan Lion Group yang harus bapak tandatangani. Pihak dari Lion Group mengirim sekretaris pribadi untuk mengambil dokumen yang sudah bapak tandatangani ini. Silahkan, Pak," tutur sekretaris CEO SaeJoon Group, Lisa.

Setelah menandatangani dokumen kerjasama itu, CEO tampan, tegas dan berwibawa kembali melanjutkan kegiatannya memainkan jari jemarinya di depan komputer.

"Aduh, kalah lagi. O iya Lisa, sebentar." CEO tampan baru tersadar setelah kalah dari permainan game yang ia mainkan tadi.

"Ya, ada yang bapak butuhkan?" Lisa kembali menghadap bosnya setelah ia baru saja membuka pintu. Ia sudah tidak kaget lagi menghadapi bosnya yang selalu bermain game di sela kesibukannya, dan baru menyadari ada orang didalam ruangan setelah ia kalah atau selesai dalam bermain game.

"Di mana asisten, Yan?" tanya Sae Ah Gu setelah menyadari keberadaan sang sekretaris.

"Beliau sedang meninjau proyek pembangunan rumah di Graham, mungkin sore baru kembali. Apa ada yang ingin Bapak tanyakan kepada beliau? nanti akan saya sampaikan," jelas Lisa.

"Tidak perlu, saya hanya ingin tau apa hari ini saya ada jadwal penting atau tidak?" tanya Sae Ah Gu.

"Kalau hari ini tidak ada pak, mungkin besok. Ada lagi, Pak?" Lisa kembali memastikan kalau ada hal lain yang ingin ditanyakan Bosnya sebelum dia benar-benar keluar ruangan.

"Tidak ada, nanti kalau asisten Yan kembali ke kantor bilang saja saya sudah pulang. Kamu boleh kembali ke ruangan," perintah Sae Ah Gu.

"Baik Pak, kalau begitu saya permisi," pamit Lisa sebelum menghilang dari balik pintu.

...

Ya, Sae Ah Gu adalah CEO di perusahaan ternama SaeJoon Group. sikapnya yang tegas dan berwibawa saat di kantor membuat semua karyawannya merasa segan dan hormat padanya. Namun, tidak dengan Lisa dan asisten Yan, mereka sudah mengikuti Sae Ah Gu sebelum perusahaan ini sebesar seperti sekarang.

Dengan bantuan Lisa dan asisten Yan juga beberapa orang kepercayaan ayahnya, Sae Ah Gu membangun perusahaan tersebut benar benar dari nol. Butuh lima tahun untuk Sae Ah Gu mengembangkan perusahaannya, bahkan ketika Sae Ah Gu masih kuliah ia sudah belajar berbisnis dan menjalankan sendiri perusahaan yang diwariskan secara turun temurun oleh keluarganya, hanya saja dulu tidak sebesar sekarang.

"Halo, di mana?" tanya Sae Ah Gu

"Oke, aku ke sana sekarang," tuturnya pada seseorang yang ia telepon.

Lima belas menit mengendarai mobil sendiri, sampailah Sae Ah Gu di tempat yang sudah dijanjikan.

Biasanya ia jarang mengemudi mobil sendiri, selalu ada supir atau asisten Yan yang mengemudikannya. Namun karena asisten Yan tidak ada di tempat, juga karena ini bukan urusan kantor maka Sae Ah Gu mengemudikan mobilnya sendiri.

"Ini dia CEO kita sudah datang." Sambut beberapa temannya.

Bab 2

"Kalian sudah di sini?" tanya Sae Ah Gu pada ketiga temannya yang baru saja menyambutnya.

"Di mana Soon Sae dan Rui Yoo?" tanyanya lagi mendapati dua teman lainnya belum menunjukan batang hidungnya.

"Oh Kak Soon ada jadwal operasi dadakan, kalau Kak Rui kayaknya masih pemotretan," jawab Lim A Roo (yang biasa dipanggil Roroo oleh kakaknya, Lim A Raa).

"Rama? Di mana dia?" Sae Ah Gu kembali bertanya saat meneliti pandangannya tak menemukan sosok berwajah gangster di antara mereka.

"Kak Rama lagi ke toilet," jawab A Roo lagi.

"Ah... ah... ah kalah lagi kan, gara gara kamu sih Gugu nanya terus dari tadi. Kalah kan jadinya," keluh Lim A Raa pada Sae Ah Gu, Lim A Raa adalah orang yang selalu membuat julukan aneh kepada teman-temannya tanpa terkecuali, adiknya pun turut menjadi sasarannya.

"Padahal A Roo yang selalu jawab, dasar aneh," gerutu Sae Ah Gu, ia selalu kesal saat A Raa memanggilnya dengan sebutan Gugu. Apaan nama bagus bagus Sae Ah Gu diganti sembarangan oleh A Raa, ujarnya saat kali pertama A Raa memanggilnya Gugu.

"Ah Gu, kamu sudah sampai?" Suara khas Rama yang serak memecah aura permusuhan di antara Sae Ah Gu dan Lim A Raa.

Melihat Rama muncul Sae Ah Gu menstabilkan emosinya, meskipun ia dan Rama seumuran, tapi Sae Ah Gu menganggap Rama sebagai kakak. Hal itu disebabkan karena Rama pernah menyelamatkan hidupnya saat ia dalam bahaya.

"Itu Kak Soon dan Kak Rui datang," tutur A Roo memanggil mereka dengan panggilan penuh makna.

Dalam bahasa, Soon berarti kepercayaan. A Roo mengartikan hal itu seperti bentuk kepercayaan orang orang pada Li Soon Sae sebagai seorang dokter.

Sedangkan Rui memiliki arti keunggulan, ia juga mengartikannya sebagai bentuk keunggulan Lee Rui Yoo dalam setiap hal yang dikerjakannya.

"Kenapa telat?" protes Sae Ah Gu merujuk pada Li Soon Sae dan Lee Rui Yoo, padahal ia sendiri juga baru datang.

"Maaf telat, kami sudah bilang alasannya pada A Raa. Apa dia tidak mengatakannya?" jawab Rui Yoo.

Tak berniat menjawab Sae Ah Gu hanya menaikan bahu dan membentuk ekspresi seakan A Raa tidak mengatakannya, meskipun A Roo sudah memberitahunya alasan Soon Sae dan Rui Yoo datang terlambat. Tapi Sae Ah Gu merasa senang kalau A Raa di hajar habis-habisan oleh Rui Yoo.

"Dasar anak ini, minta diberi ya," geram Rui Yoo.

Dilihat dari sudut manapun Lee Rui Yoo tampak seperti orang yang kalem dan lembut, tapi tidak pada kenyataannya. Ia termasuk orang yang kejam pada orang yang cukup dekat dengannya, apalagi kalau orang itu sampai menyalahi aturan yang dibuatnya.

Lee Rui Yoo akan marah bahkan bertindak kasar kepada orang yang tidak menyampaikan pesan dengan baik, berbohong apalagi sampai berkhianat.

Rui Yoo menarik kerah baju A Raa yang masih asyik bermain game, ia sudah bersiap untuk memukulnya. Namun berhasil dicegah oleh A Roo.

"Sabar Kak Rui, tenang dulu." Cegah A Roo sebelum kepalan tangan Rui Yoo melayang di pipi kakaknya.

"Kamu minggir A Roo, jangan halangi aku," omel Rui Yoo.

"Sudah, kamu minggir dulu," ujar A Raa pada adiknya.

"Kamu mau berantem? Ayo sini

" Tantang A Raa.

"Eh sudah sudah, apaan sih kalian berdua. Hanya masalah sepele harus berkelahi? Gila ya." Lerai Eun Na Gun, ia paling males kalau sampai ada orang yang berkelahi di depannya.

Eun Na Gun paling anti melihat orang berkelahi, karena menurutnya daripada tangan itu harus digunakan untuk memukuli seseorang akan lebih baik dan lebih bermanfaat kalau tangan itu digunakan untuk membuat suatu makanan yang lezat. Karena Eun Na Gun adalah pengusaha kuliner yang sukses di bidangnya.

"Dia tuh yang duluan menarik bajuku," elak A Raa, tak terima setelah apa yang Rui Yoo lakukan padanya.

"Makanya kalau di kasih amanah tuh yang bener," ujar Rui Yoo membela diri.

"Semuanya diam dulu, kita berkumpul di sini bukan untuk melihat kalian berdua berkelahi. Pasti ada yang harus kita bahas, siapa yang minta untuk berkumpul?" tutur Rama angkat bicara, ia termasuk yang dituakan di antara mereka meskipun usianya dengan Sae Ah Gu dan Lee Rui Yoo itu sama.

"Saya." Salah satu dari mereka mengangkat tangan, seperti anak SD yang tengah mengisi absensi kelas.

"What? Li Soon Sae? Tumben sekali meminta semua tuan muda untuk berkumpul," tutur Lim A Raa merasa aneh.

"Padahal minta kumpul duluan, tapi datang terlambat. Soonsoon ini gimana sih," protes A Raa kemudian.

"A Raa, diam," perintah Eun Na Gun.

"Soon Sae? Ada apa sampai kamu harus meminta kami semua untuk berkumpul?" tanya Rama.

Ketujuh tuan muda ini tidak pernah berkumpul dalam satu tempat yang sama, karena masing masing dari mereka memiliki kesibukannya sendiri. Hanya pada saat terdapat acara yang mengharuskan mereka untuk berkumpul atau karena masalah yang cukup serius hingga harus mengumpulkan mereka semua untuk mendiskusikannya.

"Iya, katakan Kak Soon. Kita belum pernah bertemu seperti ini selain di luar acara pesta," tutur A Roo juga dibuat penasaran.

Meskipun usia Lim A Roo adalah yang paling muda di antara keenam pria tampan lainnya, namun sifat dewasanya yang selalu berfikir logis justru mengalahkan pemikiran semua kakak-kakaknya.

"Begini, minggu lalu saya bertemu dengan Prof. Han Ji Moon di SaeJoon Hospital," jelas Li Soon Sae.

"Prof. Han Ji Moon? Bukankah beliau seorang Profesor ternama? Dia juga teman dekat mendiang kakeknya Ah Gu, bukan?" tutur Eun Na Gun.

"Iya, dulu beliau sering datang ke rumah kakek saat aku masih kecil. Itu sudah lama sekali," jawab Sae Ah Gu membenarkan ucapan Eun Na Gun.

"Kok, Kak Na bisa tau?" tanya A Roo mulai penasaran.

"Iya, karena dulu saat kakek masih hidup pernah beberapa kali bercerita tentang kisah persahabatan beliau beliau," jelas Eun Na Gun kemudian.

"Memangnya ada apa dengan Prof. Han Ji Moon? Sehingga kita harus berkumpul sekarang," tutur Lee Rui Yoo yang sedari tadi hanya menyimak.

"Entahlah, saya sendiri tidak begitu tahu situasinya. Yang jelas beliau membahas mengenai tanaman obat bersama dokter kepala, Kim Min Hwa," jelas Li Soon Sae membuat beberapa temannya sedikit heran.

"Aduh Soonson ini, memang apa salahnya kalau seorang profesor ternama membahas hal seperti itu dengan dokter kepala? Bukankah itu hal yang wajar," ujar Lim A Raa tak mau ambil pusing.

"Hal itu tidak sesederhana kelihatannya," jawab Li Soon Sae kembali membuat teman-temannya merasa bertanya-tanya.

"Kau tidak bertanya kepada profesor Han Ji Moon? Kalian sempat bertemu, bukan?" ujar Eun Na Gun berfikir logis.

"Kami memang sempat bertemu, tapi bukan seperti bicara berdua. Lagipula

terlihat tidak sopan kalau harus bertanya tiba-tiba," jawab Li Soon Sae.

"Kenapa? Kau ini kan juga seorang dokter bedah yang cukup terkenal di SaeJoon Hospital?" timpal Lim A Raa.

"Tunggu sebentar, kau bilang mereka membahas tentang tanaman obat bukan? Apa mungkin terjadi sesuatu hingga membuat profesor ternama seperti Prof. Han Ji Moon langsung datang ke SaeJoon Hospital?" tutur Sae Ah Gu juga merasa ada yang aneh.

"Yang aku tau Prof. Han Ji Moon tidak pernah lagi datang ke SaeJoon Hospital setelah kakek meninggal 6 tahun yang lalu, ini sedikit mencurigakan mengingat Prof. Han Ji Moon sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah datang ke SaeJoon Hospital." Sambung Sae Ah Gu.

"Apa yang Joong In katakan masuk akal, sepertinya ada sedikit masalah dengan tanaman obat itu. Soon Sae, apa nama tanaman obatnya?" tanya Rama.

"Saya tidak tau apa nama tanaman obatnya, karena saya hanya tidak sengaja mendengar percakapan beliau beliau," jawab Li Soon Sae sedikit merasa bersalah.

"Yah, Soonsoon ini gimana sih. Mereka bahas apa tidak tau, nama obatnya pun juga tidak tau. Terus apanya yang mesti didiskusikan Sonsoon? Sudahlah, mending lanjut main game," ujar Lim A Raa merasa kesal atas apa yang Li Soon Sae jelaskan hanya setengah-setengah.

Lim A Raa pergi meninggalkan teman lainnya, lalu duduk di sudut sofa yang panjang untuk kembali melanjutkan permainannya. Ia sama sekali tak menghiraukan apa saja yang dibahas oleh mereka.

Bab 3

"Baiklah, A Roo akan coba mencari tau dan bertanya pada Ayah," jawab Lim A Roo setelah 15 menit berdiskusi.

"Iya, tolong ya A Roo. Perasaanku mengatakan ada hal aneh tentang tanaman obat itu," ujar Li Soon Sae.

"Iya Kak So, A Roo pasti bantu," balas Lim A Roo.

"Terima kasih ya, kamu ini kelewat baik daripada orang itu tuh. Lihat saja gayanya yang sok, beneran minta dihajar tuh orang," tutur Lee Rui Yoo berterima kasih.

A Roo hanya tersenyum menanggapi perkataan Lee Rui Yoo terhadap kakaknya, bagaimanapun Lim A Raa dia tetap kakak satu-satunya Lim A Roo yang ia sayang.

"Oh ya A Roo, bagaimana kuliahmu? lancar bukan?" tanya Sae Ah Gu.

"Lancar Kak Sae," jawab Lim A Roo.

Hanya pada Sae Ah Gu A Roo memanggilnya dengan marga keluarga, entah kenapa ia merasa harus memanggilnya dengan nama depan Sae Ah Gu.

Sae Ah Gu sendiri tidak begitu memikirkannya kalau A Roo memanggilnya dengan panggilan Kak Sae, mengingat A Roo selalu memanggil teman lainnya dengan nama mereka.

"Kau ini sudah semester berapa A Roo?" tanya Eun Na Gun menyadari kalau hanya Lim A Roo yang masih kuliah diantara mereka.

"Baru semester 4 Kak Gun, masih lama lulusnya... Hee," jawab Lim A Roo tersenyum.

"Jangan terlalu sering mengambil job manggung, tetap prioritaskan belajarmu," tutur Eun Na Gun.

"Iya, siap Kak Gun." Sahut Lim A Roo.

Seperti yang sudah sudah, saat para pria tampan ini berkumpul mereka pasti saling membahas masing - masing dari mereka.

Bagaimana sibuknya Sae Ah Gu dalam pekerjaan, karier Lee Rui Yoo yang semakin meningkat, popularitas duo kakak beradik, banyaknya cabang restoran dan kafe Eun Na Gun yang semakin meluas, suka duka Li Soon Sae sebagai dokter tampan yang menjadi idola kaum milenial hingga kinerja dan persaingan Rama di dunia mafia.

Mereka membahas semua itu dengan perasaan senang, karena dengan berkumpul seperti ini sedikit menghilangkan beban pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran mereka, kecuali Lim A Raa yang asyik sendiri duduk di sudut sofa memainkan game.

Sae Ah Gu sendiri juga menyukai permainan game, akan tetapi saat berkumpul seperti ini dia mengesampingkan hal itu.

Jika saja ada pelanggan lain yang datang ke bar itu, sudah pasti mereka akan heboh melihat ketujuh tuan muda yang tampan dan sangat berkharisma.

Untungnya Eun Na Gun selalu mengosongkan satu bar miliknya untuk dijadikan markas mereka saat akan melakukan diskusi.

"Aaaaa, Lee Rui Yoo disini. Ada duo penyanyi tampan juga yaitu Lim A Raa dan Lim A Roo, aaaaa," teriak orang-orang yang selalu menyebut diri mereka sebagai k-lovers, itulah bayangan dalam benak Eun Na Gun.

Belum lagi kalau penggemar Sae Ah Gu yang selalu memantau kegiatan CEO tampan itu dan juga para pasien Li Soon Sae yang selalu menjadi sakit saat melihatnya, bisa bisa mereka malah minta di periksa disini.

Itulah alasan Eun Na Gun mengosongkan satu bar miliknya seperti ini, apalagi kalau sampai salah satu dari pelanggan lainnya mengenali Rama dan mereka sempat terlibat dalam persaingan geng, bisa kacau dan berantakan usahanya nanti.

"Tidak bisa, tidak bisa. Mau tidak mau aku harus mengosongkan satu tempat untuk mereka," batin Na Gun, pikirannya kacau balau setelah membayangkan semua itu.

Drrrtt..

Getar ponsel milik Sae Ah Gu sejenak mengalihkannya, melirik sebentar nama yang tertera di ponselnya, asisten Yan memanggil.

"Permisi sebentar," tutur Sae Ah Gu sebelum mengangkat telfon.

"Ya, ada apa?" tanyanya pada asisten Yan.

" … "

"Oke oke, aku ke sana sekarang," jawabnya sebelum akhirnya menutup panggilan telfon.

"Ada apa?"

"Ada apa?"

"Ada apa?" tanya Rama, Na Gun dan Soon Sae bersamaan.

"Aku pergi duluan, ada urusan. Besok kita bahas lagi," pamit Sae Ah Gu buru-buru.

Ketiga teman yang menanyakannya tadi hanya mengangguk, melihat tingkah Sae Ah Gu yang begitu terburu-buru.

"Bae Yang, bagaimana?" begitulah panggilan Sae Ah Gu pada asistennya.

Sae Ah Gu meninggalkan pertemuan dengan keenam temannya karena terjadi masalah yang cukup serius dimana ia sendiri yang harus menyelesaikannya.

"Mereka semua ada di ruang rapat," jawab asisten Yan.

Terdengar suara bising dari dalam ruang rapat, entah apa yang membuat mereka semua berkumpul disini. Sae Ah Gu harus segera menyelesaikan masalahnya hari ini juga.

Sesaat Sae Ah Gu memasuki ruangan, semua orang tampak bersikukuh dengan argumennya. Namun seketika senyap saat melihat CEO SaeJoon Group hadir dalam rapat.

"CEO, anda disini," tutur lelaki paruh baya dalam perasaan gemetar.

Jujur saja, meskipun para pemegang saham kebanyakan lelaki yang berusia lebih tua dari Sae Ah Gu. Namun, mereka semua merasa segan, takut dan menghormati Sae Ah Gu.

Pengaruhnya yang kuat, kecerdasan dan ketegasan Sae Ah Gu dalam memimpin sebuah perusahaan memang patut diacungkan jempol. Pasalnya ia tak segan bertindak tegas, keras dan tak kenal ampun terhadap siapa saja baik itu kawan maupun lawan.

Tahun lalu saat terjadi masalah mengenai tender yang diikuti oleh Sae Ah Gu ternyata ada pihak yang ingin menyabotase hasil tender dengan cara mendiskualifikasi SaeJoon Group.

Sehingga Sae Ah Gu tidak lagi mempunyai kesempatan untuk memenangkan tender. Namun ia berpikir dengan tenang dan matang menyelidiki sampai ke akar siapa dalang dibalik ini semua.

Sae Ah Gu menemukan titik celah di mana lawan tersebut mempunyai sedikit kelemahan yang sangat menguntungkan SaeJoon Group.

Tanpa kenal ampun ia membuat kelemahan lawannya menjadi titik utama hancurnya perusahaan mereka, Sae Ah Gu memastikan bahwa perusahaan tersebut benar benar bangkrut tanpa sanggup berdiri lagi.

"Mengapa kalian semua berkumpul disini?" ucap Sae Ah Gu dengan tegas duduk di kursi utama, diikuti oleh asisten Yan.

"Begini, Ah Gu," jawab salah satu dari mereka.

"Berani sekali menyebut nama CEO SaeJoon Group seperti itu, siapa dirimu hingga berani memanggilku dengan nama itu?" bentak Sae Ah Gu dengan lantang.

"Ma-maaf CEO Sae, saya adalah paman dari saudara ibu anda CEO," jawab lelaki yang terlihat lebih muda dibanding pemegang saham lainnya.

"Bahkan Ayahku pun yang seorang Presdir, beliau memanggilku dengan nama CEO Sae saat di kantor. Keluar dari sini, kau tidak berhak mengikuti rapat." Lelaki paruh baya itu membuat Sae Ah Gu geram, hingga mengusirnya dari ruang rapat bahkan sebelum rapat dimulai.

Dengan ekspresi menahan marah dan malu, lelaki paruh baya yang menyebut dirinya sebagai paman dari saudara Ibu Sae Ah Gu keluar ruangan.

"Awas kamu Sae Ah Gu, aku pasti akan membuat perhitungan denganmu karena telah menghinaku seperti ini," gertak lelaki itu dalam hati.

Semua para pemilik saham dibuat takut oleh sikap dan tindakan Sae Ah Gu, pasalnya bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi.

Mereka yang merasa masih keluarga Sae Ah bertindak seenak dan semau mereka, bahkan ada di antara mereka yang berani menyalahgunakan kekuasaan dan wewenang mereka untuk kepentingan pribadi.

"Maaf CEO Sae, kami semua berkumpul disini karena ingin memastikan dan membahas rumor yang beredar beberapa hari ini." Salah satu pemegang saham yang terlihat lebih tua dan senior karena rambut putih di kepalanya membuka suara.

"Rumor? Mengenai apa?" Telisik Sae Ah Gu.

"Mengenai hadirnya Prof. Han Ji Moon di SaeJoon Hospital, rumor itu mengatakan kalau Prof. Han sedang meneliti tanaman obat yang menyebabkan terjadinya penyakit aneh," tutur lelaki tua berambut putih tadi.

"Bagaimana bisa rumor itu sudah menyebar? Bahkan sampai ke telinga para pemegang saham. Dampak buruk akan melanda perusahaan ini kalau masalah ini terus berlanjut," batin Sae Ah Gu berkecamuk.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED