"Pokoknya ayah tidak mau tau! Kamu harus melanjutkan S2 di Singapura!" suara bentak seorang ayah kepada anaknya terdengar sampai keseluruh ruangan rumah yang besar itu.
"Ayah, aku bukan tidak mau melanjutkan S2. Tapi kurasa S1 saja sudah cukup bagiku lagian aku gak mau ngejar pangkat yang tinggi. Intinya aku bahagia, Yah.." suara lelaki itu membalas bentakan ayahnya.
"Kamu harus melanjutkan S2 di Singapura agar perusahaan ayah bisa kamu lanjutin dan bisa bikin kita bahagia. Dimana-dimana tamatan S2 akan sukses dan bahagia!" bentakkan mulai menggelegar di seluruh ruangan rumah.
"Ingat Yah..! Aku gak gila pangkat dan harta seperti ayah!" balas lelaki tersebut yang membuat ayahnya marah besar dan 'praakk'. Seorang Ayah menampar anaknya hingga pipi anaknya berwarna merah.
"Sudah... Berhenti Andi apa yang kau lakukan itu membuat anak kita akan merasa kesakitan!" suara seorang wanita masuk dalam percakapan yang panas itu.
"Sudah bu, biarkan saja ayah memukulku aku sudah dewasa dan berhak menentukan kebahagiaanku sendiri." ujar lelaki itu lembut dan masih memegang pipinya yang merah.
"Apa?!" bentakan ayahnya kembali memuncak.
"Sudah.. ku mohon berhenti..." kata wanita tua itu hingga air matanya terjatuh.
"Aku mau pergi sama teman dulu bu. Aku tidak mau melanjutkan percakapan yang tidak penting ini!" ujar lelaki itu meninggalkan kedua orang tuanya dan beranjak keluar rumah dan melajukan motornya.
***
Xavier, ia adalah lelaki yang tadi membuat amarah ayahnya, namanya adalah Mohammad Xavier Andiyunus yang sekarang duduk di bangku S1 perkuliahan dengan jurusan Ekonomi dam Bisnis di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ia adalah tipikal pria yang baik, pintar, dan dia suka membaca buku karya Boy Candra bahkan dia suka menulis cerita. Xavier tidak suka bergaul dengan para perokok dan pecandu napza serta peminum miras dan sebagainya. Xavier adalah anak tunggal dalam keluarganya, sebab itulah ia menjadi prioritas sebagai penerus perusahaan ayahnya.
Cuaca sore ini sangatlah sejuk, hembusan bayu merasuk hingga ke tubuh membuat pikulan beban pikiran yang berat menjadi ringan walaupun puncak merapi merada ketubuh Xavier sore ini, ia keluar rumah menenangkan sedikit pikirannya. Ia memiliki janji untuk menemui temannya di taman kota sore ini.
"Xavier, kau baik-baik saja?" tanya seorang wanita saat Xavier duduk disampingnya.
"Aku baik-baik saja Fidyah, hanya ada sedikit masalah," jawab Xavier tersenyum.
"Masalah apa?" tanya Fidyah.
"Adalah... gak perlu diceritain." jawab Xavier.
"Ceritain aja, gak apa-apa kok!" ujar Fidyah.
"Nanti kamu tau sendiri," ujar Xavier.
"Hmm.." gumam Fidyah. "Eh tunggu itu bibirmu berdarah, dan kau bilang kau baik-baik saja!" Fidyah mengambil tissu dari sakunya dan menghapus aliran darah di ujung bibir Xavier.
"Ahh.." rintih Xavier sedikit kesakitan.
"Tahan aja dulu" ujar Fidyah.
"Makasih Fid, selama ini kamu banyak menolongku"
"Ah santai aja, biasa juga kamu yang tolong aku kalau lagi gak bawa duit, heheh" tawa Fidyah yang membuat percakapan ini lebih hangat dari percakapan sebelumnya yang dirasakan Xavier.
"Aku senang bertemu denganmu" ujar Xavier.
"Apaan sih, sering juga ketemu di kampus" ujar Fidyah.
"Heheh iya juga ya" tawa kecil Xavier.
"Besok kamu masuk kampus?" tanya Fidyah.
"Iya" jawab Xavier.
"Kamu tau kan, aku besok masuk kampus juga," tawa kecil Fidyah seperti membuat kode untuk Xavier.
"Iya aku tau kok, nanti aku yang jemput" ujar Xavier paham dengan maksud kode Fidyah.
"Hahaha kamu tau aja!" tawa Fidyah. "Eh aku boleh pinjam novel Boy Candra kamu gak?"
"Ada apa? Tiba-tiba mau minjem novel biasanya kamu baca buku mata kuliah kamu yang pendidikan itu," tawa Xavier membuat Fidyah sedikit kesal.
Fidyah memang satu kampus dengan Xavier hanya saja mereka beda jurusan, Fidyah mengambil fakultas pendidikan karena ia bercita-cita menjadi seorang pengajar. Sedangkan Xavier memilih fakultas Ekonomi pembangunan karena ingin bertujuan merubah ekonomi bangsa Indonesia dan ingin menjadi pebisnis sukses.
"Tiba-tiba saja aku suka membaca novel" ujar Fidyah.
"Novel Boy Candra?" tanya Xavier.
"Awalnya aku baca novel dari Tere Liye dan aku senang membacanya dan tiba-tiba aku mau baca novel Boy Candra, punyamu kan banyak!" ujar Fidyah.
"Oh gitu, besok aku bawain deh!" kata Xavier tersenyum.
"Kenapa senyum?" tanya Fidyah heran.
"Ya gak apa-apa emang kenapa? Salah ya? Bukannya semua orang berhak untuk mengekspresikan perasaannya? 'Kan?" ujar Xavier.
"Iya boleh kok, raut wajah kamu kayak bahagia gitu," pertanyaan Fidyah sontak membuat Xavier menelan ludah.
"Kita itu wajib bahagia Fidyah. Walaupun dunia kita sedang hancur dan berantakan. Kan tadi aku udah bilang kalau aku senang bertemu denganmu yang berarti aku bahagia bukan?" ujar Xavier.
"Iya aku mengerti. Aku juga bahagia bertemu dengan mu" ujar Fidyah.
"Hah beneran?" tanya Xavier dan wajahnya sudah dekat dengan wajah Fidyah. Tiba-tiba warna kemerahan muncul dari pipi Fidyah.
"Ih apaan sih, munduran dikit!" ujar Fidyah nampak malu.
"Ih kok malu hahah" tawa Xavier.
"Lagian aku gak suka!" ujar Fidyah memalingkan wajah.
"Pipinya merah nih, hahah malu ya haha" tawa Xavier semakin menjadi. Fidyah tidak menjawab.
"Ooh udah pintar ngambekan," ujar Xavier mulai menghangatkan suasana yang sebelumnya terasa canggung.
"Emang aku gak pintar ngambek!" ujar Fidyah dengan nada suara naik.
"Hahah kamu cantik kalau lagi ngambek gitu" ujar Xavier.
"Berarti kalau aku gak ngambek, aku gak cantik gitu, dasar cowok!". ujar Fidyah.
"Kamu cantik kok, tapi kalau lagi ngambek cantiknya nambah" ujar Xavier yang membuat pipi Fidyah merah kembali.
"Ih apaan sih!". ujar Fidyah malu.
"Hahah gak usah malu-malu gitu, senyum dong, senyummu ka bisa menimbulkan penyakit eak!" ujar Xavier.
"Penyakit apaan? emang senyumku bakteri? Virus?!"
"Penyakit Diabetes. Karena senyummu itu terlau manis bahkan lebih manis dari gula ataupun pemanis lainnya!" perkataan Xavier tersebut menambah merah di wajah Fidyah.
"Ih wajahnya merah hahah" tawa Xavier.
"Kamu tuh nyebelin!" ujar Fidyah menutup kedua mukanya dengan kedua telapak tangannya.
"Maafin aku deh" ujar Xavier berhenti tertawa dan membentuk senyum di bibirnya.
"Aku gak mau maafin!" ujar Fidyah.
"Jangan gitu dong. Tunggu sini deh aku beliin es krim dulu" ujar Xavier.
"Cepetan sana!" ujar Fidyah.
"Giliran es krim cepet banget responnya!"
"Udah cepetan sana gue ngambek lagi nih!"
"Iyaiya tungguin!" Xavier pergi ke salah satu toko yang menjual es krim di samping jalan raya dekat taman. Ia membeli 2 es krim cokelat kesukaan Fidyah.
Xavier menyebarang jalan yang ramai dan padat dengan kendaraan roda empat dan roda dua. Sore ini para pejalan kaki terlihat ramai dari sebelumnya. Xavier membawa 2 es krim cokelat dan duduk kembali ke bangku taman di sebelah Fidyah.
"Nih es krimnya!" ujar Xavier memberikan es krim.
"Makasih" kata Fidyah tersenyum.
Mereka bersantai sore ini dan menggenggam es krim di taman kota dengan percakapakan yang hangat membuat Xavier tersenyum dan sedikig melupakan konflik keluarganya. Ia senang bertemu dengan Fidyah, temansejak SMP nya itu. Mereka menatap langit yang sedikit demi sedikit merubah warna dari kebiruan menjadi jingga. Suara pengajian di masjid mulai terdengar. Mereka berdua menuju masjid yang dekat dari taman, untuk sholat maghrib secara berjamaah.
***
Setelah selesai melaksanakan kewajiban mereka sebagia seorang muslim. Mereka kembali pulang kerumah mereka masing-masing. Xavier mengantar Fidyah dengan motornya.
Perjalanan mulai terasa dingin, Xavier telah sampai di depan gang rumah Fidyah.
"Makasih" ujar Fidyah turun dari kendaraan dan tersenyum.
"Aku yang berterima kasih," ujar Xavier.
"Terserah deh, aku tau kamu bahagia sore tadi bersamaku!" ujar Fidyah.
"Itu kamu tau," tawa kecil Xavier.
"Aku mau masuk dulu, hati-hati yah! Ingat besok ya!" ujar Fidyah.
"Iya aku ingat. Kamu harus bangun cepat besok jangan kesiangan terus!"
"Ih siapa bilang aku sering kesiangan?"
"Emang biasanya gitu"
"Itu saat libur aja. Kamu mungkin yang sering kesiangan!"
"Siapa bilang? Aku bangun cepat terus!"
"Waktu itu kamu di hukum karena terlambat!"
"Baru sekali juga!"
"Ngomong ama kamu nih gak ada habisnya!"
"Ya udah habisin"
"Ih kamu nih nyebelin, aku mau masuk dulu"
"Ya udah masuk sana"
"Kamu belum mau pulang?"
"Belum"
"Kenapa?"
"Yah gak apa-apa"
"Gak jelas nih anak, beneran kamu belum mau pulang?"
"Khawatir ya? Hahha"
"Gak kok, biasa aja, aku masuk dulu"
"Ya udah masuk aja, dari tadi gak masuk-masuk.!" ujar Xavier dan Fidyah masuk kedalam rumahnya melambaikan tangan kepada Xavier.
Xavier tersenyum, ia menyalakan kendaraannya dan melajukannya. 'Semoga besok perasaanya sama seperti sore dan malam ini' pikirnya.
Pagi yang cerah, matahari bangkit dari sanubari yang membuat senyum terukir pagi ini. Langit indah dihiasi oleh awan dan fajar, membuat kesegaran mata dan perasaan.
Xavier bangun sangat pagi hari ini, ia beranjak melakukan aktivitas yang biasa ia lakukan yaitu joging pagi. Setelah selesai melakukan aktivitasnya ia kembali kerumah, mandi dan mengenakan pakaian untuk bersiap-siap menuju kampus.
"Bibi, ayah dan ibu dimana?" tanya Xavier kepada Bibi Moli, pembantu dalam rumahnya yang baik dan penyayang.
"Ayah kamu pagi tadi langsung pergi ke kantor, kalau ibu kamu pagi tadi juga langsung ke butik" jawab Bibi Moli.
"Kenapa ayah pergi ke kantor pagi sekali? Dan ibu ke butik ada hal apa?" tanya Xavier lagi.
"Kata ayahmu pagi ini ada tamu dari luar kota yang akan berkunjung ke perusahaan ayah kamu. Kalau ibu kamu ada pelatihan penting untuk para pelamar kerja di butik ibu kamu," ujar Bibi Moli dan menyiapkan roti dan susu untuk sarapan pagi kesukaan Xavier. Xavier sudah biasa sarapan sendiri karena kedua orang tuanya selalu sibuk.
Xavier melahap habis roti yang berselai kan madu dan meminum habis susu di atas meja makan. Sejak dulu ia sangat suka roti dan susu buatan Bibi Moli.
"Bi aku pergi ke kampus dulu ya" pamit Xavier.
"Iya, hati-hati" ujar Bibi Moli. Xavier mencium tangan Bibi Moli dan mengeluarkan kendaraan roda dua nya dari garasi, kemudian bersiap menjemput Fidyah ke kampus.
Xavier merasakan angin yang begitu sejuk pagi ini. Dalam perjalanan berkendara ia melihat banyak anak-anak yang bersepeda ke sekolah, ia sangat menikmati pemandangan itu. Xavier akhirnya sampai di depan gang rumah Fidyah, ia melihat seorang cewek yang berdiri disana, itu adalah Fidyah.
"Hai.." ujar Xavier tersenyum menyapa Fidyah. "Baru bangun ya?" tanya Xavier.
"Udah dari tadi" jawab Fidyah.
"Bagus dong, biasain tuh" ujar Xavier.
"Iya iya Xavier... gak usah basa basi deh" ujar Fidyah langsung naik dan duduk di kendaraan Xavier.
"Udah Siap?" tanya Xavier lagi.
"Siap" jawab Fidyah.
Xavier menjalankan motornya, mereka berdua berada dalam perjalanan ke kampus. Xavier melihat wajah Fidyah dari kaca spion lalu tersenyum, tanpa ia sadari Fidyah melihat balik.
"Ih kenapa kamu senyum-senyum gitu, aku tau aku cantik kok," ujar Fidyah percaya diri.
"Itu bedak kamu tebal banget!" ujar Xavier.
"Ih benaran?" Fidyah membuka resleting tas nya dan mengambil cermin, saat ia lihat bedak di wajahnya sama sekali tidak tebal. "Bohong!" ujarnya memukul punggung Xavier.
"Hahah maaf-maaf gak usah panik, kalau pun bedak kamu tebal, kamu tetap cantik kok"
"Apaan sih, aku bukan ibu-ibu, kan kamu tau aku gak suka pakai bedak"
"Itu kamu pake bedak"
"Kan dikit doang"
"Yah sama aja pake bedak namanya"
"Kan dikit! Gak tebel juga kok"
"Kamu bilang kamu gak suka pake bedak, tapi itu kamu pake juga walau dikit"
"Ih inikan dikit, gak tebal!"
"Dasar cewek, gak mau ngalah!"
"Cewek selalu benar, ingat itu!"
"Terserah" ujar Xavier.
Dalam perjalan pun mereka berdua masih saja berdebat yang unfaedah. Tidak terasa mereka sampai di depan gerbang kampus. Xavier memarkirkan kendaraannya di tempat parkir khusus mahasiswa.
"Makasih ya" ujar Fidyah.
"Iya sama-sama, pulang nanti aku anterin lagi?" tanya Xavier.
"Mmm kayaknya kelas hari ini sampai sore, nanti aku pulang dengan Disa saja"
"Ohh gitu, kalau Disa gak bisa anterin kamu, langsung hubungi aku!" ujar Xavier.
"Iya, aku pergi kelas dulu ya, soalnya dosen pagi ini gak mau nerima mahasiswi yang lambat!"
"Tunggu dulu!"
"Ada apa?"
"Ini!" Xavier mengambil sesuatu dari dalam tas nya yaitu sebuah novel karya Boy Candra, ia memberikan novel tersebut kepada Fidyah sesuai permintaan nya kemarin.
"Waah makasih ya!" Fidyah mengambil novel tersebut dan memasukannya ke dalam tas.
"Iya.. ya udah cepetan masuk sana!"
"Makasih Vier" teriak Fidyah berlari menuju kelasnya.
"Iya ibu-ibu bawel!" teriak Xavier kembali. Fidyah hanya tertawa mendengarnya.
Xavier berjalan menuju kelasnya yang jauh dari tempat parkir. Ia berjalan di koridor-koridor kampus melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi yang membersihkan halaman dan membaca buku di bawah pohon rindang. Walaupun ini bukan SMA/SMP tetap saja mahasiswa di Universitas ini banyak di outdoor melakukan aktivitas lain.
Saat menaiki tangga menuju kelas ia di berhentikan oleh para senior kampus yang berjumlah 5 orang.
"Eh berhenti! Bagi duit!" ujar senior itu kasar.
"Gak ada!" ujar Xavier dengan wajah serius seperti ingin menantang senior itu.
"Apa? Lo gak sopan ya ama senior!" kata senior tersbut.
"Udah Hajar aja!" ujar seorang senior lainnya seperti memprovokasi.
"Kerjaan kalian ngepajak terus, dasar banci!" ujar Xavier yang membuat para senior itu geram.
"Apa? Lo yang banci!" ujar senior itu dan langsung menghajar wajah Xavier.
Xavier membalas menghajar para senior itu, seketika itu para mahasiswa dan mahasiswa yang berada di luar kelas mengerumuni perkelahian itu. Seseorang menarik tangan Xavier untuk berhenti dan berlari membawa Xavier pergi jauh dari tempat itu.
"Jangan lari lo!" teriak senior itu.
"Ngapain kalian semua disini, bubar sana!"ujar senior. Semua mahasiswa yang melihat dan mengerumuni perkelahian tadi akhirnya bubar dan kembali ke kelas mereka masing-masing.
"Ngapain sih lo mau aja ngeladenin mereka?" tanya seseorang yang menarik Xavier agar berhenti melawan para senior tadi.
"Za, lo tau gue kan, kalo mereka dibiarin gitu terus pasti akan kebiasaan!" ujar Xavier pada sahabatnya yaitu Reza yang telah menariknya tadi.
"Iya gue tau Vier, lo malah buat mereka dendam ama lo!" ujar Reza.
"Biarin aja, gue gak ambil pusing!"
"Mereka tuh 5 dan lo sendiri, pasti lo bakal bonyok!"
"Biarin aja, yang bonyok juga gue"
"Lo mau bikin kasus pertama?" ujar Reza yang membuat Xavierberpikir bahwa yang dikatakan Reza itu benar, selama ini ia belum pernah bahkan tidak mau membuat kasus.
"Iya... gue gak mau ladenin mereka!"
"Gitu dong, masuk kelas yuk dikit lagi dosen nya mau masuk," ujar Reza sambil melihat jam di tangannya.
Xavier dan Reza berjalan menuju kelas mereka. Xavier masih merasakan sedikit sakit diwajahnya akibat pukulan senior tadi, 'bagaimana jika ia sampai tak sadarkan diri akibat pukulan para senior itu', pikirnya.
Xavier dan Reza masuk kedalam kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing. 5 menit kemudian dosen membuka mata kuliah pagi ini. Seperti biasa, pagi ini mereka melakukan diskusi, tanya jawab, presentase, dan materi.
"Ke kantin yuk!" ajak Reza.
"20 menit lagi, sabar aja dulu!" ujar Xavier melihat jam di dinding kelas.
"Lama bener, gue laper nih"
"Tahan aja dulu, gue juga laper!"
"Reza Surya Pratama dan Mohammad Xavier Andiyunus!, kalau bapak lagi menjelaskan materi kalian berdua jangan ngobrol!" ujar dosen tersebut menegur mereka berdua.
"Siap pak!" jawab mereka bersamaan.
Setelah beberapa menit di dalam kelas akhirnya mata kuliah mereka selesai juga. Walaupun dosen tersebut menyuruh mereka untuk membuat makalah secara pribadi. Dosen tersebut keluar kelas diikuti oleh para mahasiswa.
"Akhirnya, hufft" Reza merasa lega. "Kantin yuk, sebelum penuh!" ajak Reza.
"Ya udah cepetan!" ujar Xavier.
Akhirnya mata kuliah pagi ini telah selesai, mereka berdua berjalan ke kantin. Seluruh kantin telah penuh, semua mahasiswa di kampus ini seperti menderita kelaparan secara bersamaan.
"Za, semua kantin udah penuh, gimana nih" ujar Xavier.
"Tungguin aja lah" ujar Reza.
"Ini orang-orang makin nambah Za, dan kita harus tunggu, gak mau! gue laper nih"
"Itu.. ada meja kosong, cepetan!" Reza berlari ke meja salah satu kantin tersebut.
"Woy tungguin!" teriak Xavier.
"Akhirnya.." Reza lega dan duduk di meja makan yang kosong tersebut.
"Ini beneran gak ada yang punya?" tanya Xavier.
"Udah, duduk aja! Gue mau pesan makanan" ujar Reza dan pergi untuk memesan makanan.
"Makanannya seperti biasa ya!" teriak Xavier. Dan Reza mengacungkan jempol.
Saat Xavier menunggu Reza memesan makanan tiba-tiba seorang wanita datang kepada Xavier.
"Mmm aku boleh duduk disini gak?" pinta wanita tersebut.
"Ohh boleh kok, duduk aja" ujar Xavier. Meja makan itu memiliki 1 meja dan 3 kursi.
"Namaku Nadia" wanita tersebut memperkenalkan dirinya kemudian duduk di salah satu kursi.
"Aku Xavier" balas Xavier. Perkenalan yang singkat tak ada percakapan lebih dia antara Xavier dan Nadia, Nadia mulai memakan makananya yang sudah ia pesan sebelum mencari tempat duduk sementara Xavier masih menunggu Reza.
Xavier menunggu Reza memesan makanan sekitar sepuluh menit, Xavier merasa perutnya sangat lapar di tambah lagi ia melihat Nadia yang menikmati makanannya sungguh itu membuat perutnya sudah sangat membutuhkan makanan.
Begitu selesai memesan makanan Reza kembali ke meja makan dengan membawa dua porsi makanan. Ia sedikit heran karena di sana ada seorang wanita sedang menikmati makanan.
"Lama bener lo!" ujar Xavier saat Reza baru datang setelah memesan makanan.
"Lo tau sendiri lah, antrian kan panjang!" ujar Reza dan duduk. "Nih makanannya!" seru Reza, ia masih terlihat heran dengan keberadaan wanita di meja makan mereka. Sementara Xavier memakan lahap makanannya.
"Ekhemm" Reza membuat Xavier dan Nadia memalingkan pandangan ke arahnya. Nadia tersenyum melihatnya. "Mmm ini tempat duduk kamu ya?" tanya Reza pada Nadia. Nadia melepas sendok dan garpu memutar pandangan dari makanan ke arah Reza.
"Ooh maaf, namaku Nadia. Tadi semua meja makan udah penuh, terus aku liat di meja makan ini masih ada tempat duduk nya, jadi aku duduk disini. Maafkan aku jika lancang" ujar Nadia lembut.
"Ohh, gak apa-apa kok santai ajalah hehhe" tawa kecil Reza. Nadia membalasnya dengan senyuman yang manis.
"Kamu ngampus disini juga?" tanya Reza lagi.
"Iya. Aku prodi teknologi," jawab Nadia.
"Apa?" ujar Xavier dan Reza bersamaan dan sedikit kaget.
"Aku jurusan teknologi. Emang kenapa?" tanya balik Nadia.
"Ooh gak apa-apa, aku heran aja" ujar Reza.
"Heran? Kenapa?"
"Ya.. aku heran wanita secantik kamu, ternyata anak teknologi" ujar Reza tersenyum.
"Bisa aja, emang wanita gak boleh milih teknologi ya" tawa Nadia.
"Emang dia orang nya gini, gak jelas!" sambung Xavier menunjuk Reza. Mereka bertiga tertawa, membuat semua orang yang berada di kantin menatap mereka heran.
Mereka bertiga terdiam kembali saat melihat semua orang yang menderita kelaparan di kantin tersebut menatap sinis mereka 'apakah kami mengganggu?' pikir mereka, percakapan tawa mereka membuat makanan mereka ludas tak terasa.
"Za, siang ini ada mata kuliah gak?" tanya Xavier menghapus sisa makanan di bibirnya dengan tissu.
"Mmm tungguin" ujar Reza mengambil handphone nya di saku dan melihat pesan seseorang. "Siang ini dosen nya gak masuk, tapi kita di suruh buatin laporan hasil penelitian kemarin!" ujar Reza setelah membaca pesan itu.
"Ooh, itu pesan dari dosen?" tanya Xavier lagi.
"Iya nih" Reza memperlihatkan pesan dalam handphone tersebut.
"Jadi habis ini lo mau ngapain?" tanya Xavier.
"Gue mau pulang, ada urusan penting di rumah!" ujar Reza. "Gue pergi dulu ya!" Reza tersenyum pada Xavier dan Nadia, ia meninggalkan meja makan.
"Mmm Nadia kamu mau pulang juga?" tanya Xavier.
"Sebenarnya sih gitu, tapi dirumah boring gak ada kerjaan!" jawab Nadia.
"Terus? Sekarang mau ngapain?"
"Gak tau!" ujar Nadia singkat.
"Ke toko buku yuk!" ajak Xavier.
"Mmm boleh, tapi aku gak ada kendaraan!"
"Naik kendaraanku aja lah, terus kalau gak ada kendaraan ke kampus naik apa?"
"Biasa sih di antar jemput paman, tapi kalau paman ada kesibukan, ya terpaksa naik angkot"
"Ayah dan ibu kamu?"
"Sibuk kerja!" ujar Nadia membuat Xavier merasakan kehidupan nya sama seperti Nadia yang memiliki orang tua dengan kesibukan mereka sendiri. Xavier terdiam mendengarnya.
"Kenapa diam? Ke toko bukunya jadi?" tanya Nadia membuyarkan lamunan Xavier.
"Oh iya jadi kok, maaf ya heheh" tawa kecil Xavier.
Xavier dan Nadia meninggalkan kantin, dan berjalan ke tempat parkir yang cukup jauh dari kantin. Mereka berdua baru beberapa menit berkenalan, namun percakapan di antara mereka sangat hangat.
"Kamu suka baca buku juga?" tanya Xavier.
"Aku suka baca komik" jawab Nadia.
"Komik apa?"
"Komik My Stupid Boss, Nyinyik, 4G dan masih banyak lagi"
"Novel? Kamu suka?"
"Gak!"
"Hah Kenapa?"
"Gak ada gambarnya," tawa Nadia.
"Kamu lucu juga ternyata" tawa kecil Xavier.
"Sedikit sih,"
"Kita beberapa menit berkenalan kamu udah ngajak ngakak"
"Aku gak humoris kok,"
"Santai aja, kalau sama aku terserah kamu mau jadi humoris atau sekalian gila," tawa Xavier.
Nadia hanya tertawa mendengarnya.
Mereka berdua sampai di tempat parkiran. Xavier menyalakan motornya dan Nadia naik di motor Xavier, mereka sedang berada dalam perjalanan menuju toko buku yang jaraknya cukup jauh dari kampus.
Dalam perjalanan tak ada percakapan di antara mereka, sehingga tak terasa mereka telah sampai di toko buku yang di tuju.
"Toko buku ini yang kamu maksud?" tanya Nadia saat mereka turun dari kendaraan dan memasuki toko buku.
"Iya. Kenapa?" tanya balik Xavier.
"Gak kenapa-kenapa kok, aku baru tau di sini ada toko buku yang sebesar ini!"
"Bukan cuma disini, aku tau semua toko buku di daerah ini"
"Kamu candu baca atau jualan buku atau gimana?"
"Kata teman-teman aku candu baca, aku juga suka nulis"
"Beneran?"
"Iya. Kenapa? Kamu mau cerita kita aku bukukan," tawa Xavier.
"Aku jadi pameran antagonis nya"
"Boleh juga tuh"
Mereka tepat berada di dalam toko buku yang luas, penuh dengan buku-buku, rapi dan bersih. Mata mereka tak hentinya memandang buku-buku yang tersedia. Xavier mencari novel yang akan ia beli, mereka berkeliling dalam toko tersebut dan akhirnya Xavier menemukan novel yang ia maksud.
"Nah ketemu!" ujar Xavier menemukan novel yang ia maksud.
"Itu novel tentang LDR. Bukan?"
"Ya bener"
"Kamu LDR an?"
"Gak lah aku cuma penasaran tentang kisahnya"
"Ohh," tawa kecil Nadia. "Emang kisahnya sedih?" tanya Nadia.
"Kata orang-orang sih gitu"
"Entah kenapa aku gak suka baca cerita yang sad ending"
"Semua penulis gitu, mereka membuat cerita atau fiksi dengan sad ending agar para pembacanya suka"
"Ya.. tapi aku gak suka"
"Aku suka. Karena setiap kehidupan seseorang tak lepas dari namanya kesedihan. Bahkan kesedihan itu bisa membuat seseorang belajar mengihklaskan dan bisa bangkit dari keterpurukannya"
"Gitu ya" ujar Nadia.
Xavier dan Nadia pergi ke kasir untuk membayar novel yang ia beli. Novel yang berisikan cerita tentang Long Distance Relationship atau LDR. Entag bagaimana ia memilih membeli novel yang berakhir sedih tersebut. Saat sampai dikasir Xavier membayar novel tersebut dan langsung keluar dari toko buku itu.
"Kamu mau pulang?" tanya Xavier, mereka telah berada di luar toko.
"Ini masih pukul 14.00" jawab Nadia sembari melihat jam di tangannya. "Nanti aku pulang naik angkot saja, kalau kamu mau pulang sekarang"
"Aku belum mau pulang"
"Terus? Gimana?"
"Yuk.." ajak Xavier menarik tangan Nadia.
"Kita mau kemana?"
"Udah ikut aja, ayo naik!" seru Xavier, Nadia pun naik di motor Xavier.
"Tapi kamu gak bawa aku ketempat yang macam-macam kan" ujar Nadia.
"Gak lah, aku bukan gitu orangnya" ujar Xavier tersnyum. Nadia melihatnya dari kaca spion motor.
Xavier membawa Nadia ke suatu tempat yang akan membuat Nadia bahagia. Nadia merasa was-was, ia bersiap-siap melompat dari motor jika Xavier membawanya ke tempat yang menurutnya berbahaya bagi dirinya. Nadia merasa ia sudah sangat jauh dengan kampus banyak perempatan yang dilewati bahkan ia tidak mengingat jalan menuju kampus.
"Kita udah jauh dari kampus nih!" ujar Nadia dalam perjalanan.
"Tenang, aku tau jalan pulang kok" ujar Xavier.
Nadia masih terlihat cemas, karena baru pertama kali ini ia di ajak oleh seseorang yang baru ia kenal beberapa jam yang lalu dan membawanya ke tempat yang belum pernah ia lihat. 'Apakah Xavier akan membawaku ke tempat para lelaki?' pikir Nadia semakin cemas.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, mereka telah sampai ke tempat yang di tuju. Nadia merasa heran karena Xavier mengajaknya ke tempat ramai dan ia melihat ada laut di seberang sana, 'apakah ini pantai?' pikirnya. Dan ternyata benar, ia dan Xavier sekarang berada di pantai.
"Ini pantai apa?" tanya Nadia saat ia turun dari kendaraan.
"Aku lupa nama pantai ini" jawab Xavier memarkirkan kendaraannya. "Yuk!" ajak Xavier.
Xavier dan Nadia sampai di bibir pantai yang indah walupun matahari siang ini sangatlah terik. Mereka duduk di bawah pohon rindang sambil menikmati indahnya percikan kecil ombak, pasir putih yang menghiasi, orang-orang yang berenang, dan perahu-perahu sebagai penghias lautan itu.
"Kamu sering ke pantai ini ya?" tanya Nadia, tatapan nya masih tertuju pada lautan di depannya.
"Setiap hari!"
"Sama siapa?"
"Sendiri!"
"Kamu gak punya pacar atau gebetan?"
"Gak ada!"
"Hehe maaf pertanyaanku unfaedah banget" tawa kecil Nadia.
"Santai aja lah, kamu orang pertama bersamaku ke pantai ini!"
"Hah? Benaran?"
"Iya. Kenapa kaget ya?"
"Kok aku jadi gak enak sih heheh, maaf kalau aku repotin"
"Gak apa-apa kok, tapi aku senang berbincang denganmu, pikiranku sedikit tenang"
"Mmm gitu ya," gumam Nadia sedikit bingung dengan perkataan Xavier barusan.
"Eh kamu tunggu sini dulu" ujar Xavier dan langsung pergi tak mendengarkan jawaban Nadia.
Nadia melihat Xavier seperti membeli sesuatu di sana. Xavier kembali dengan membawa dua buah kelapa muda.
"Nih" Xavier memberikan Nadia kelapa muda.
"Buat aku?" tanya Nadia.
"Iya"
"Wah makasih, nanti aku gantiin uang kamu, soalnya sekarang uangku habis di kantin tadi" ujar Nadia.
"Gak usah di ganti, aku ikhlas kok" ujar Xavier.
Xavier dan Nadia menikmati siang terik dengan menatap laut yang jernih, padahal mereka baru berkenalan beberapa jam yang lalu namun percakapan di antara mereka saling menghangatkan satu sama lain.
Tak terasa mereka menikmati pantai itu hingga sore hari, bahkan langit pun mulai membakar dirinya menunjukan senja akan tiba beberapa saat lagi. Lampu-lampu perahu satu per satu menampakan cahayanya dan orang-orang yang berenang telah selesai yang nampak segar dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Xavier dan Nadia masih duduk di bawah pohon rindang itu seperti menunggu sesuatu.