Bab 2

Lara tidur di kamarnya, ia menatap wajah Cherry begitu dalam. Lara melihat jam dan menunjukkan pukul 4 sore. Cherry baru saja tidur, Lara merapikan bajunya yang berantakan sebab menyusui Cherry. Ya, Cherry masih menyusu. Usianya sudah 3 tahun lebih 5 bulan tapi Lara belum menyapihnya. Sebenarnya sudah berbagai cara Lara lakukan untuk menghentikan Cherry menyusu namun sepertinya Cherry masih enggan meninggalkan ASI-nya.

Lara menyeka beberapa helai rambut yang jatuh di pipi Cherry. "Cher kuatkan mama ya nak," ucapnya.

Beberapa tetes mata mengalir begitu deras membasahi pipinya. Lara memejamkan matanya, ia mengingat bagaimana perjuangannya melahirkan Cherry. Meskipun Cherry lahir lewat operasi caesar tapi juga penuh perjuangan.

Cherry lahir satu bulan lebih cepat daripada bayi pada umumnya. Meskipun begitu Cherry tidak masuk inkubator ataupun NICU. Bobot Cherry pas dengan panjang 59cm. Lara dan Cherry sama-sama sehat, namun satu tahun semenjak Cherry lahir tubuh Lara mulai mengalami keanehan. Mulai dari bengkak, kaku hingga lumpuh.

Sejujurnya Lara sudah kesana kemari untuk penyembuhan tubuhnya, namun tidak ada yang menghasilkan. Lara sudah ke dokter dengan hasil pemeriksaan Autoimun. Dunia Lara runtuh seketika. Ia tak pernah membayangkan bahwa ia akan menerima cobaan yang begitu berat. Lara tidak pernah menyesal melahirkan Cherry, ia hanya merasa bersalah. Sebab ia tak mampu menjadi seorang ibu seperti kebanyakan ibu lainnya.

Sudah 2 tahun, Lara tidak mengenal apa itu berlari, apa itu berenang, apa itu duduk di bawah. Tubuh Lara sudah tidak mampu, kedua lututnya sudah bengkak. Setiap pagi tubuh Lara nampak kaku, ia menahan sakit setiap pagi. Lara harus bertahan, bertahan selamanya. Sebab tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya. Meskipun berbutir-butir obat yang ia minum tak satupun diantaranya yang mampu menyembuhkan sakitnya. Yang ada ia harus berdamai dengan dirinya berdamai dengan kondisinya.

Lara, sakit. Namun tak satupun dirumah itu yang mengerti. Tak satupun diantara mereka yang bertanya. Yang ada mereka tertawa, menertawakan kondisi Lara. Menganggap lucu cara jalan Lara yang tampak seperti robot. Namun sungguh, Lara tak pernah berbohong. Kakinya benar-benar sakit dan berat, melangkah selangkah saja seperti tertindih beton.

Suami, dan mertuanya tidak pernah perduli. Mereka hanya menganggap setiap rasa sakit yang tengah dirasa Lara adalah sebuah kebohongan. Meskipun begitu Lara tak pernah mengeluh, ia hanya bisa menahan segalanya. Meluapkannya tiap malam, dimana tidak ada orang yang mendengar tangisnya.

Lara menyeka airmatamya lagi, hatinya tak lagi perih. Mungkin sudah layu atau bahkan telah mati. Lara menarik laci disebelah kasurnya. Mengambil sebuah kartu nama disana, "Banyu Biru Samudra" tertera sebuah nama pada kartu tersebut.

Lara menekan ponselnya cepat, menekan tombol dial kemudian.

"Halo," ucap Lara.

"Ini aku Lara, aku mau bicara soal apa yang kamu lihat waktu itu. Apa aku bisa menggugat mereka?" suara Lara menekan.

"Baiklah, terimakasih. Maaf aku tidak mempercayaimu kemarin. Maafkan kata-kataku juga, maybe itu menyakitimu," lirihnya.

"Oke," Lara menutup sambungan telfonnya. Ia memandang Cherry yang masih nyenyak dalam tidurnya.

"Bunda akan pastikan, rasa sakit yang kita alami terganti dengan rasa bahagia nak," batinnya.

"Akan aku pastikan, aku sembuh, aku balas semua rasa sakit yang kamu kasih Ham," batinnya penuh dengan amarah.

Sementara itu Mia dan Ilham tampak tengah memadu kasih disebuah penginapan. Sudah malam, Mia yang memang izin untuk mengambil waktu libur keluar dengan memanfaatkan waktunya untuk menghabiskan waktu bersama Ilham.

Kedua manusia itu seakan tidak takut akan dosa ataupun karma yang akan mereka peroleh nanti. Ilham sibuk mengusap lembut pipi Mia, "Kamu cantik ya beb," ucapnya.

Mia yang dipuji demikian seakan ingin terbang dibuatnya, laki-laki didepannya ini sangat sukses membuatnya tergila-gila akan cinta. "Kamu beneran kan?" Tanya Mia.

Ilham mengerutkan keningnya, tidak melakukan ngerti dengan ucapan Mia. "maksudnya?"

"Ya, kamu kan tau hubungan kita ini bagaimana awalnya," Mia memegang tangan Ilham.

"Aku," Mia diam kemudian.

"Kalau kamu nggak godain aku waktu itu mungkin aku masih sama si penyakitan iku. Malah aku bersyukur, gara-gara kamu aku bisa mengalihkan rasa cintaku yang berharga ini untuk orang yang berharga juga. Kamu tau kan gimana dia, nggak ada harganya alias nggak berguna," seru Ilham.

"Kamu nggak salah ngomong begini beb? Bukannya harusnya kamu bersyukur? Ya emang sih dia lagi sakit, tapi kalau nggak ada dia kamu juga nggak bakalan buka kedai beb. Kamu nggak boleh gitu, dulu dia juga cantik kok," Mia mencoba mengingatkan Ilham.

"Lagipula kalian itu udah punya Cherry rasanya nggak pantes banget lho beb kamu ngomong gitu tadi. Kamu jangan keterlaluan dong beb, lagipula dia ada gunanya kok. Bukan nggak berguna sama sekali. Kamu pedes banget ngomongnya kayak cabe," Mia membekap mulut Ilham dengan tawanya.

"Beb, kok kamu malah belain perempuan itu sih. Udah ya, aku udah capek pura-pura cinta sama perempuan itu. Sekarang mendingan kitanurus urusan kita berdua yang belum selesai," Mia mengerutkan keningnya.

"Urusan apa lagi beb?" Mia penasaran.

"Jangan bilang ngasuh Cherry," lanjutnya.

Ilham menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Mia, "Cherry Mulu," keluh Ilham.

"Ya kan memang itu tugas aku beb, trus apalagi cobak" ucap Mia.

"Disini cuma ada kita sayang, ya harusnya cuma aku dan kamu. Nggak usah bahas Cherry apalagi perempuan itu. Aku benar-benar nggak mood dan nggak suka beb. Tujuan kita berdua disini apa?" Tanya Ilham.

Mia menggelengkan kepalanya.

Ilham menyentuh wajah Mia, mulai dari bibir, pipi, hidung, kepala, hingga seluruh tubuh Mia.

Keduanya tertawa bersama, menghabiskan waktu bercumbu mesra dengan rasa tidak tahu diri.

Bab 3

Mobil sedan hitam tampak terparkir dihalaman rumah Lara, lebih tepatnya rumah mertuanya. Terlihat Mia tampak mendekati Cherry sembari membawa sepiring nasi.

"Cher yuk makan dulu, kan mau sekolah bentar lagi. Nanti ayah marah lho kalau kamu belom makan," kejar Mia sembari menyodorkan sendok.

"IHHHHHH!!! Bundaa!!! Bunda!!! Cherry maunya sama bunda. Bunda!!" Teriak Cherry.

Dari dalam rumah mertua Lara tampak melihat Cherry dan Mia yang tengah kejar-kejaran, "Ck, punya mantu bodoh banget." Ujarnya.

"Lara!!!" teriaknya.

"Lara!!!!!," lebih kencang.

Lara yang ada di dapur mendengar namanya dipanggilpun bergegas meletakkan pisau dan menuju sumber suara.

"Ya Bu!!" sahutnya sambil berjalan.

"Lama banget toh, tuh anakmu urusin dulu, teriak-teriak kayak kebon binatang. Ngapain kamu?" Sang ibu mertua nampak melipat kedua tangannya di dada.

"Lara habis bikin ramuan Bu, maaf kan ada Mia Bu tadi Lara sudah suruh Mia untuk nyiapin Cherry," ucap Lara.

"HEEE..., liat tuh liat. Punya mata itu diliat, anakmu mau nggak sama Mia. Orang Cherry nggak mau kok ya dipaksa. Udah cepet suapin anakmu. Lagian ngapain sih pakai acara bikin ramuan ramuan segala. Kalau udah sakit penyakitan yaudah terima aja. Buat apa pakai segela ramuan. Dari dulu bikin ramuan nggak ada tuh sembuh sembuhnya. Yang ada ngabisin bahan dapur tau nggak," omelnya.

Lara tersenyum getir, melangkah pergi menuju Cherry. Kata-kata sang mertua sungguh menyayat hati.

"Mia," panggil Lara

Mia berbalik dan menghampiri Lara. "Ya Mbak,"

"Udah biar saya aja," Lara mengambil piring yang ada di tangan Mia.

"Bunda!!" seru Cherry

"Bunda kemana aja sih, akukan maunya disuapin bunda," lanjut Cherry.

"Bunda kan bikin jamu di belakang, Cherry lupa ya. Cherry makan dulu kan mau sekolah nanti telat lho. Kalau telat nanti ngga bisa senam bareng teman-teman. Emang Cherry mau ngga senam bareng teman-teman?? Ngga sedih ketinggalan?" tanya Lara lembur.

Cherry menggelengkan kepalanya.

"Cherry 3 kali ngga ikut senam Bunda, katanya nganter mbak dulu. Padahal kan Cherry mau sekolah. Ayah itu nakal suka jajan di toko wawak lama sama mbak," ujar Cherry.

Lara mengerutkan keningnya, toko wawak siapa yang Cherry maksud, sebab tidak ada nama wawak di komplek ini ataupun dekat sekolah Cherry.

"Toko Wawak?" tanya Lara.

Cherry menganggukkan kepalanya, "Iya Bunda, ayah suka gandeng mbak ke toko Wawak katanya mbak Ia kalau ngga digandeng suka ilang kayak Chelly," jawab Cherry.

"Emang dimana nak tokonya?" tanya Lara penasaran.

"Bunda mau jajan juga ya, kayak mbak Mia sama ayah?" tanya Cherry.

"Boleh nanti jajan bareng," jawab Lara.

"Tapi nanti ayah malah, kan Chelly gaboleh omong-omong," Cherry menundukkan kepalanya.

"Nggak nak, kan ada Bunda. Bunda selalu jagain Cherry kan. Sekarang dianter bunda aja ya. Kita motoran gimana? Kan seru tuh liat kanan kiri. Pasti Cherry kan bosan naik mobil," Lara mencoba membujuk anaknya.

Cherry perlahan menatap Lara lalu ia menganggukkan kepalanya pelan. "Kita beli Joy ya, di sana," ucapnya.

Lara menganggukkan kepalanya, sepakat dengan apa yang diinginkan Cherry.

"Sekarang kamu habisin makannya," Larana menyuapkan sesendok nasi ke mulut Cherry.

Lara amat sangat penasaran dengan toko yang dimaksud Cherry. Memang semenjak kehadiran Mia, ia tak lagi ikut mengantar Cherry sekolah. Kadang Ilham seakan sengaja meninggalkan Lara padahal Lara tengah bersiap untuk ikut, ketika Lara sudah siap yang Lara dapati malah mobil Ilham sudah melaju meninggalkan pagar. Bukan sekali duakali namun sudah berkali-kali Ilham demikian.

Lara mengeluarkan sepeda listriknya, menghiraukan ibu mertuanya yang sedari tadi mengomel. "Dasar mantu gak beres," terdengar suara sang ibu mertua masih mengomel. Lara tetap tak menghiraukan, ia lebih memilih menuntun sepeda listrik sembari menatap punggung Cherry yang tengah menunggunya di depan pagar.

"Ye ye.. Chelly sama Bunda," ungkap Cherry kegirangan.

Keduanya menaiki sepeda, Lara tak mengayuh sepedanya, ia menjalankannya dengan listrik.

"Wah bunda, bagus sekali ya. Chelly suka naik sepeda," dari belakang suara Cherry terdengar.

"Iya dong kan sama bunda," jawab Lara.

Jalanan memang agak ramai namun tak sampai menimbulkan kemacetan, Lara begitu senang melihat anaknya bersenandung dan bernyanyi dibelakang. Sudah sangat lama ia tak mengantar anaknya sekolah.

"Bunda itu toko Wawak bunda," Cherry menunjuk sebuah bangunan megah.

Lara menghentikan sepedanya di pinggir dan menoleh ke bangunan yang ditunjuk oleh Cherry. Mata Lara terbelalak sempurna begitu melihat bangunan tersebut.

"Motel Serayu" ucapnya pelan.

Lara benar-benar syok, ia tak bisa membayangkan bagaimana bisa Cherry, anak yang berusia 3 tahun itu menunggu di mobil sendirian sedangkan dua manusia laknat itu malah bermesraan di motel. Manusia macam apa yang meninggalkan anaknya dimobil seperti itu setiap hari? Astaga sungguh bukan manusia kedua orang itu.

"Cherry selalu dimobil?" Tanya Lara memastikan.

Cherry menganggukkan kepalanya, "Awas kamu mas, kamu bisa nyakitin aku tapi tidak dengan anakku. Bisa-bisanya anak sekecil ini kamu tinggal di mobil dan kamu malah bermesraan sama perempuan laknat itu. Aku nggak habis pikir, selain buta mata kamu juga gak ada otaknya," batin Lara penuh amarah.

"Katanya kalau keluar digigit naga, kan aku takut bunda jadinya aku nuguin disini lama sekali," jawab Cherry.

Lara menghembuskan nafasnya kesal, benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang dipikirkan kedua manusia itu. Bagaimana bisa akal keduanya tidak dipakai, Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Cherry. Apalagi dia didalam mobil sendirian untuk waktu yang lama. Apakah hal tersebut dibenarkan??

Lara begitu emosi, ia lanjut menjalankan sepedanya, mengantarkan putri kecilnya agar sampai disekolah tepat waktu. Meskipun pikirannya Melaju begitu nyaring untuk membenci Ilham. Semakin hari kebencian itu semakin dalam. Seakan tak ada lagi cinta di dalam hati Lara. Rasa Cinta itu makin lama makin mati dan perlahan hilang ditelan waktu.

Terkikis oleh benci dan terlupakan oleh waktu.

Apa yang Cherry alami adalah sebagian kecil kesalahan Ilham dari banyaknya kesalahan-kesalahan yang lain. Dan tentunya membuat sakit hati Lara makin menjadi.

Belum lagi ibu mertua yang setiap hari mencaci dan menghinanya. Seakan cacian itu adalah makanan sehari-hari Lara. Untuk mertua mungkin Lara masih bisa mentolerir namun jika perselingkuhan yang terjadi, maka Lara tidak bisa diam dan bersabar. Tidak mungkin ia mampu menahan sakit hati yang begitu dalam.

Ada waktunya ia bangkit dan membuktikan bahkan membalaskan semua rasa sakit yang ia dan Cherry terima.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED