Bab 1

Bangunan sekolah di hadapannya itu megah, mewah dan elegan. Mayang menarik napasnya dalam-dalam. Memantapkan dirinya untuk memasuki bangunan yang mulai hari ini akan menjadi tempatnya bekerja sebagai guru bahasa Perancis.

Mayang melangkahkan kakinya mantap memasuki bangunan utama sekolah. Beberapa siswa yang sedang bergerombol di depan loker memperhatikannya. Sebagai guru baru, tentu saja Mayang sedikit menarik perhatian mereka. Ada yang berbisik, ada yang melempar senyum mengejek, ada pula yang menghadiahinya siulan untuk menggodanya.

Tentu, Mayang sudah mengetahui reputasi sekolah ini. Gudangnya anak-anak orang kaya yang bandel dan pembuat onar. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk diperlakukan tidak baik oleh penghuni sekolah ini.

Lalu, tanpa memedulikan sekitarnya, Mayang melangkahkan kaki menuju kantor guru yang berada di ujung koridor. Sampai di sana, ia mendorong pintu bercat abu-abu yang sedikit terbuka itu lalu masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang terdapat banyak meja dengan papan nama yang menunjukkan siapa penghuninya.

Hanya ada beberapa orang guru yang pagi itu sudah berada di ruangan itu. Seorang perempuan berkaca mata yang sepertinya berumur tiga puluhan, lalu seorang laki-laki paruh baya yang sebagian rambutnya sudah memutih, dan seorang laki-laki muda dengan rambut licinnya.

"Halo, semuanya," sapa Mayang seraya melambaikan tangan dan melempar senyum. Ketiganya menyambutnya dengan ramah. Si perempuan berkaca mata bernama Mega, si laki-laki paruh baya mengenalkan dirinya sebagai Yoga, dan laki-laki berlambut licin bernama Adam.

"Mayang," ucap Mayang sambil menyalami satu persatu rekan-rekan barunya itu.

Setelah selesai memperkenalkan diri, Mayang meletakkan barang-barang di atas meja yang terdapat papan namanya. Meja itu berada di dekat meja milik Mega.

"Selamat datang di Eleanor, ya. Semoga saja betah mengajar di sini, Miss Mayang," ucap Mega seraya mengerling ke arah Mayang. Perempuan itu membalasnya dengan senyuman tipis. Ia tahu, rekan gurunya itu secara tidak langsung sedang menyemangati dirinya.

"Harus betah, Miss Mega. Nyari kerjaan susah," kekeh Mayang membuat perempuan yang duduk di meja sebelahnya itu ikut terkekeh.

"Sudah tahu, kan, murid-murid di sini unik?" Mega membuat tanda kutip dengan dua jari telunjuknya ketika mengucapkan kata unik.

"Sudah, Miss. Semoga saja saya nggak kena mental, ya," gurau Mayang.

Mega terkekeh. "Dulu saya juga begitu awal ngajar di sini. Hampir saja kena mental. Luar biasa memang anak-anak di sini. Nggak yang cewek, nggak yang cowok, sama aja rusuhnya. Maklumlah mereka anak-anak orang kaya yang kurang perhatian sepertinya. Orang tua mereka sibuk semua," terang perempuan itu. "Miss Mayang ngajar kelas berapa?"

"Kelas 12, Miss," jawab Mayang sambil mempersiapkan buku-buku yang sebentar lagi akan dibawanya ke kelas. Guru-guru lain mulai berdatangan dan menyapa serta memberi sambutan selamat datang kepada Mayang dengan ramah.

"Kelas seni dan bahasa yang paling susah diatur, Miss. Saya cuma ngingetin aja, biar Miss Mayang nggak kaget," bisik Mega.

Mayang mengangguk-angguk. Tentu saja ia merasa nervous mendengar peringatan dari Mega. Namun, ia sudah bertekad untuk menerima resiko apa pun menjadi guru di sekolah ini. Mayang sudah merasa sangat beruntung bisa mendapat pekerjaan ini. Ia baru setahun lalu lulus kuliah, sempat bekerja serabutan menjadi kasir swalayan, pelayan restauran dan pekerjaan-pekerjaan kecil lain demi menyambung hidup di kota ini.

Mayang tidak berasal dari keluarga kaya. Kedua orang tuanya di Bandung adalah pensiunan pegawai negeri. Mereka susah payah menyekolahkan Mayang hingga ke perguruan tinggi. Untung saja Mayang adalah perempuan yang cerdas hingga ia bisa masuk ke universitas ternama di Jakarta.

Semasa kuliah, Mayang sudah terbiasa mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia pernah bekerja part-time di sebuah restauran fast food. Mayang sudah terbiasa hidup berkesusahan. Hanya menghadapi resiko bertemu anak-anak nakal saja tentunya tidak akan menjadi masalah untuknya.

***

Mayang menarik napasnya dengan berat. Suara ribut dari dalam kelas terdengar jelas olehnya yang sedang berdiri di depan pintu menyiapkan diri. Perempuan itu membenarkan pakaiannya yang sebenarnya sudah rapi. Rok panjang sampai di bawah lutut, lalu kemeja putih sedikit kebesaran yang ujung bawahnya ia masukkan ke dalam rok, dan sepatu vintage warna hitam yang melekat indah di kakinya. Rambut hitam lebat panjangnya ia ikat ekor kuda. Semua itu membuat penampilan Mayang hari itu terlihat manis meskipun sederhana.

Tangannya pelan mendorong pintu kelas. Suasana kelas bercat putih dan berdesain minimalis itu begitu gaduh. Kertas-kertas yang diremas dan dibuat berbentuk bola berserakan di lantai. Murid-murid perempuan bergerombol dan asik mengobrol dengan suara keras. Sementara murid laki-laki sibuk dengan kegiatan mereka sendiri. Ada yang bermain skateboard berkeliling kelas seraya menjahili murid-murid perempuan dengan menarik rambut, mendorong punggung, hingga menciptakan sebuah perdebatan yang membuat suasana kelas menjadi bertambah gaduh. Ada juga yang sedang duduk-duduk di atas meja sambil meremas-remas kertas dan melemparkannya pada teman-temannya.

Mayang berdiri mematung di depan whiteboard. Perempuan itu tahu bahwa tidak ada seorang murid pun yang menyadari kehadirannya. Atau mungkin mereka memang tidak perduli. Mayang mengumpulkan keberaniannya untuk meminta perhatian anak-anak itu.

Perempuan itu mengambil boardmaker dan mengetuk-ngetuk papan tulis beberapa kali. Suara ketukan membuat seluruh kelas melempar pandang ke arah Mayang.

"Siapa, nih?!"

"Guru baru, ya?"

Mayang berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. Ia tidak menyangka kalau ia akan merasa segugup ini berhadapan dengan anak-anak itu. Bagaimana tidak, perempuan itu dihujani oleh tatapan-tatapan meremehkan dari penjuru kelas.

"Bonjour (selamat pagi)," ucap Mayang dalam bahasa Perancis, untuk mengawali pelajaran pagi itu. "Je m'appelle Mayang Lestari (namaku Mayang Lestari). Saya guru bahasa Perancis kalian yang baru." Mayang menelan salivanya saat seisi kelas kembali riuh dan tidak mengacuhkannya. Keberadaan Mayang benar-benar tidak dianggap.

Mayang meraih buku absensi dan mulai memanggil satu persatu nama siswa di kelas itu meskipun tidak ada satu pun yang menyahut. Biar saja. Yang penting ia hanya menjalankan kewajibannya sebagai guru yang baik meskipun sangat sulit.

"Felicita Darmawan!"

" Rachel Putri Wijaya!"

"Sebastian Adiwiguna!"

Mayang memanggil satu persatu nama yang tercatat di dalam buku absensi. Tidak ada seorang pun yang menggubris panggilannya. Perempuan itu berusaha untuk tetap bersabar.

"Laper gue. Kantin, yuk!"

Mata Mayang beralih pada sosok jangkung yang berjalan melintas di depannya dengan dua teman yang mengikutinya. Anak itu berkulit putih bersih dengan wajah kebule-bulean. Tampan tapi dingin. Gaya berpakaian serangamnya sama sekali tidak rapi dan terkesan selengean.

"Maaf, kalian mau ke mana? Ini belum jam istirahat. Silahkan duduk di kursi kalian," pinta Mayang dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

"Siapa lo berani ngelarang-larang gue?" Si anak jangkung itu menatap Mayang dengan sinis. "Guru baru aja belagu!" umpatnya. Dengan santainya anak itu memutar badan dan melangkah keluar kelas diikuti oleh dua temannya.

Mayang tidak percaya apa yang baru saja dialaminya. Benar-benar tidak punya etika. Berbicara dengan gurunya sendiri memakai bahasa lo-gue dan memaki pula. Mayang tidak menyangka kenakalan anak-anak ini ternyata separah itu.

Baru beberapa menit berada di kelas ini saja rasanya Mayang sudah terkena mental. Tapi apa boleh buat. Ini resiko pekerjaannya. Ia sekali lagi meyakinkan diri sendiri bahwa pekerjaan ini sudah sangat bagus untuknya. Apalagi gajinya juga lumayan. Nantinya ia bisa menyewa apartemen yang lebih layak dibanding tempat kosnya yang sekarang.

Mayang menarik napas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan ke seisi ruang kelas yang gaduh. Terserah saja. Perempuan itu tetap melanjutkan sesi perkenalan sepihak dengan murid-murid ya itu.

***

Bab 2

Mayang memijit tengkuknya yang terasa pegal. Di depannya Mega, rekan gurunya tersenyum-senyum melihat perempuan itu. Ia menunggu apa yang akan Mayang ungkapkan mengenai pengalaman pertama mengajar kelas seni dan bahasa.

"Wah, luar biasa banget, ya, Miss Mega," ucap Mayang sambil nyengir.

Mega terkekeh. Ia sudah menduganya. "Gimana kira-kira, Miss Mayang? Kuat, nggak?"

Mayang menghela napasnya. Ia menunggu pelayan kantin sekolah selesai menyajikan dua gelas es teh dan dua mangkuk bakso, pesanannya dan Mega. "Harus kuat, dong ... walaupun pegel," sahutnya seraya mengaduk es tehnya lalu menyeruputnya untuk menginginkan kepalanya. Suasana kantin cukup ramai. Beberapa guru dan juga murid tengah menikmati makan siang mereka. Di sekolah ini, guru dan murid bercampur menjadi satu saat jam makan siang di kantin yang didesain seperti cafe.

"Pasti kelas seni dan bahasa II yang bikin Miss Mayang pegel, ya?" tebak Mega seraya mengunyah potongan bakso.

"Bukan lagi, Miss Mega. Kelas yang lain masih wajarlah. Tapi kelas seni dan bahasa II, bener-bener, deh," keluh Mayang. Ia menyuapi dirinya dengan kuah segar bakso. Rasanya mantap sekali mengisi perutnya yang kosong. "Hmm ... apa lagi ada dua anak tadi main nyelonong aja keluar. Waktu saya tegur malah nyolot, bilang lo-gue ke saya, Miss Mega." Mayang menggeleng pelan.

"Owh, anak yang itu, bukan?" tanya Mega seraya mengarahkan dagu ke arah beberapa siswa yang baru saja masuk ke dalam kantin. Mau tidak mau, pandangan mata Mayang bergerak mengikuti dagu Mega diarahkan. Benar-anak lelaki yang sedang berjalan di depan teman-temannya yang ia maksudkan.

Sosok jangkung dengan rambut yang sedikit panjang dan berantakan. Anak lelaki itu sangat tampan dengan kulit putih dan hidung yang mancung. Mayang menduga ia ada keturunan ras kaukasia entah dari ibu atau ayahnya. Sayang sekali fisik yang rupawan tidak sejalan dengan attitudenya. Jelek sekali.

"Raka Jackson." Suara Mega membuat Mayang buru-buru mengalihkan perhatiannya dari anak itu. Ya-Raka Samuel Jackson. Mayang ingat membaca nama itu di buku absensi kelas seni dan bahasa II tadi pagi. "Bapaknya presdir coca cola Indonesia. Ibunya salah satu founder sekolah ini," sambung Mega.

Mayang manggut-manggut. Anak konglomerat yang tidak tanggung-tanggung. Pantas saja sikapnya seenaknya sendiri begitu.

"Nakalnya nggak ketulungan." Mega mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Nggak ada guru yang berani negur dia, kan. Pengin dipecat apa?" kekehnya.

Mayang mendecak. "Duit emang segalanya, ya," ungkapnya sambil tersenyum miris. "Tapi, masa, sih, orang tuanya nggak ngedidik sopan santun sama dia."

"Terlalu sibuk."

Mayang mencebik. Alasan klise. Seorang anak tidak cukup hanya diberi kelimpahan materi. Pendidikan dasar seperti bagaimana menjaga sikap dan sopan santun terhadap orang lain seharusnya sudah ditanamkan sejak dini. Tapi, Mayang tidak bisa asal menuduh. Situasi masing-masing orang pastilah berbeda.

***

Mayang yang sedang melintasi toilet siswa di ujung koridor menghentikan langkahnya ketika mendengar suara ribut-ribut dari dalam toilet pria. Rasa penasaran membuatnya melangkah mendekati pintu toilet yang sedikit terbuka. Perempuan itu mengintip dari sela-sela pintu dan melihat seorang anak lelaki bertubuh tambun sedang berjongkok di dekat wastafel sambil melipat lengan di atas kepala, seperti sedang berlindung dari sesuatu. Mayang juga melihat beberapa anak lelaki berdiri di hadapan si anak tambun sambil tertawa-tawa. Salah satu anak menuang air dari botol mineral ke kepalanya.

Wah-rupanya sedang terjadi bullying. Naluri Mayang sebagai guru seketika meronta untuk menghentikan aksi itu. Ia mendorong pintu dengan kasar, membuat satu, dua, tiga anak lelaki yang sedang mengerumuni si anak tambun terkejut. Raka Jackson, ada di antara ketiga pembully itu.

"Kalian lagi ngapain?!" ujar Mayang seraya mendekat kepada tiga anak itu dan mendorong mereka menjauhi si anak tambun yang masih berjongkok dengan pakaian basah kuyub. "Kalian berhenti, ya, membully teman kalian seperti ini!" Ia memberi peringatan seraya menunjuk wajah anak-anak bengal itu.

"Wah, si guru baru belagu!" Salah satu dari ketiga anak itu berujar. "Kasih tahu, Ka." Ia menyikut Raka yang berdiri di sampingnya sambil melipat kedua lengan. Wajah tampannya terlihat dingin.

"Lu nggak usah sok pahlawan di sini," ucap Raka seraya memandang sinis pada si ibu guru. "Lu berulah, lu dipecat!" ancamnya.

Mayang mengesampingkan rasa takutnya untuk menghadapi anak bengal itu. Rasa geramnya jauh lebih besar. Ia tidak bisa membiarkan bullying terjadi di depan matanya. Karena akan sangat berbahaya dampaknya pada mental korbannya. "Dengar, ya, Raka ... namamu Raka, kan? Saya tahu orang tuamu punya kuasa di sini. Tapi, bukan berarti kamu bebas berbuat seenaknya. Saya tidak bisa membiarkan ada bullying terjadi di depan mata saya. Saya rasa orang tua kalian juga tidak setuju dengan perbuatan tercela kalian ini," ujarnya dengan lugas. Mayang bahkan mengangkat dagunya, untuk menimbulkan kesan bahwa perempuan itu tidak gentar, meskipun yang dihadapinya ini adalah anak pemilik sekolah.

"Berani lu rupanya," ucap Raka sinis. "Liat aja lu pasti bakal nyesel!" ancamnya. Pemuda itu mengibaskan tangan memberi isyarat pada dua temannya untuk meninggalkan tempat itu.

Setelah Raka dan dua temannya meninggalkan toilet, Mayang menghampiri si anak tambun yang masih duduk di pojokan. "Kamu nggak papa?" tanyanya sambil membantu anak itu berdiri.

"Nggak papa, Miss," ucap anak itu kikuk. Ia pun berpamitan pada Mayang.

Mayang menghela napas dalam-dalam sambil menggeleng pelan. Perempuan itu yakin, Raka akan membuat perhitungan dengannya. Ia pasrah jika harus dipecat karena melawan pemuda itu. Yang penting, ia bisa mencegah bullying yang terjadi di depan matanya, meskipun ia yakin Raka dan teman-temannya tidak akan berhenti sampai di sini saja untuk membully siswa lain.

***

"Anjir! Berani banget tuh guru baru ama gue!" maki Raka sambil membanting rokoknya ke lantai dan menginjaknya. Sejujurnya, baru kali ini ada guru yang berani mengusiknya. Tidak ada yang berani mengganggunya selama ini karena mereka masih sayang dengan pekerjaan masing-masing. Entah karena guru baru itu tidak tahu siapa dirinya, atau memang ia terlalu nekat, yang jelas, guru baru bernama Mayang itu rupanya tidak takut kehilangan pekerjaannya. Raka bisa dengan mudah meminta ibunya untuk memecat Mayang tanpa alasan apa pun. Namun, sepertinya ia tertantang untuk mengerjai guru itu terlebih dahulu.

"Kayaknya harus dikasih pelajaran, deh." Anak lelaki berambut cepak dan bermata bulat menyahut. Namanya Abigail. Ia biasa dipanggil Abi.

"Gue emang pingin kasih pelajaran ama dia. Biar tahu rasa. Kita bikin hidupnya kayak neraka di sekolah ini." Raka menyeringai. Ia merasa senang memiliki mainan baru. Membully sesama siswa sudah biasa. Tapi, membully guru, akan lebih menyenangkan. Apalagi, umur Mayang sepertinya tidak jauh di atasnya. Raka ingin tahu, sekuat apa mental perempuan itu.

"Tapi, tuh guru baru cakep juga, sih," kelakar Christian, satu lagi teman Raka yang bertampang oriental. "Gue, sih, lebih pengin ngerjain dia dengan cara lain," ujarnya sambil membentuk tanda kutip saat mengucapkan kata "ngerjain".

"Mesum lu!" Abi memukul puncak kepala Chris keras.

Pemuda itu hanya meringis. "Ya, gue kan pengin nyobain cewek yang lebih tua," ucapnya sambil mengelus kepalanya.

Raka tergelak mendengar celotehan sahabatnya itu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok lalu mengambilnya sebatang, untuk mengganti rokok yang ia banting beberapa saat lalu.

***

Bab 3

Mayang membuka pintu kamar kosnya pelan. Begitu masuk, perempuan itu langsung membaringkan badan di atas kasur berukuran sembilan puluh kali seratus dua puluh yang ia pasang lesehan di atas lantai. Meskipun kamarnya tidak terlalu luas, namun Mayang menatanya cukup rapi dan nyaman. Mau bagaimana lagi, kamar ini satu-satunya tempat untuk Mayang melepas penat setelah seharian bekerja. Lingkungan tempat kosnya pun cukup aman meskipun bukan area elit. Yang menetap di sana rata-rata adalah karyawan bank atau karyawan outlet-outlet mal.

Perempuan itu merogoh gawai yang ada di dalam tas yang ia letakkan di sampingnya. Ia menggulir layar di sebuah aplikasi food delivery untuk memilih makanan sebagai santap malamnya. Setelah menemukan menu yang cocok, ia pun memesannya. Satu paket ayam geprek pedas kesukaannya. Murah, dan mengenyangkan.

Sembari menunggu pesanan makanannya datang, Mayang memejamkan mata sejenak. Pikirannya melayang pada kejadian di toilet sekolah tadi siang. Sejujurnya ia merasa was-was. Raka si anak bengal itu mengancamnya. Pahit-pahitnya, meskipun ia tidak dipecat, ia berpikir mungkin anak itu akan membullynya. Persis seperti yang dikatakan Mega, rekan gurunya, saat ia menceritakan hal itu padanya. Jadi, Mayang harus menguatkan mentalnya lagi untuk menghadapi pembalasan dari Raka.

Terdengar suara pintu kamarnya diketuk seseorang. Ah-itu pasti si kurir yang mengantarkan pesanan makanannya. Perempuan itu segera bangkit dari atas kasur dan membuka pintu kamarnya.

"Loh? Mas Altaf?" Mayang terbengong melihat sosok yang berdiri di hadapannya.

"Ini makanan yang kamu pesan, kan?" Si pemuda berwajah manis mengangkat bungkusan plastik di tangannya.

"Kenapa ada di kamu?" tanya Mayang seraya melongok ke balik punggung pemuda yang dipanggilnya dengan nama Altaf itu. Altaf adalah menejer ritel sebuah swalayan tempatnya dulu pernah bekerja. Pemuda itu menyukai Mayang, namun hingga saat ini, perempuan itu belum memberikan jawaban apa-apa. Alhasil, untuk sementara ini, Altaf hanya puas hanya menjadi teman Mayang saja.

"Tadi datengnya barengan sama aku," sahut Altaf seraya menyerahkan bungkusan plastik pada Mayang. Lalu pemuda itu mengambil tempat duduk di depan kamar. Ada satu meja yang diapit dua kursi, diperuntukkan untuk tamu yang berkunjung.

"Aku belum bayar," ucap Mayang.

"Udah tadi," kekeh Altaf. "Sini, aku temenin makan."

"Makasih, loh, Mas. Kamu sering banget, deh, beliin aku makan." Bibir Mayang manyun. Ia tidak enak hati karena sering sekali dibayarin makan oleh pemuda itu.

"Yah, bantuin anak kos. Kesian," ledek Altaf disambut dengan sungutan Mayang. Perempuan itu duduk di kursi kosong.

"Kamu udah makan, Mas?" tanya Mayang sembari membuka wadah styrofoam berisi ayam geprek pesanannya.

"Udah tadi selesai kerja."

Bibir Mayang mencebik. "Tumben pulang cepat," gumamnya.

"Lagi nggak banyak kerjaan juga. Yang penting bulan ini udah target."

Mayang manggut-manggut sambil membentuk huruf o dengan bibirnya. Perempuan itu melahap potongan-potongan ayam geprek yang menjadi makanan favoritnya itu.

"Gimana hari pertama ngajar? Lancar?" tanya Altaf sambil merogoh saku celana dan mengeluarkan sebungkus rokok. Ia mengambilnya sebatang dan menyalakannya.

"Lancar, sih," sahut Mayang lirih. "Cuma, ya, itu ... anaknya bandel-bandel."

"Biasalah itu. Namanya usia remaja. Sabar, ya, Bu Guru." Altaf terkekeh.

"Aku sabarlah, Mas. Orang gajinya lumayan," gelak Mayang. "Uh, pedes banget, sih. Aku ambil minum dulu. Kamu mau kopi?" Mayang mengibas-ngibaskan telapak tangan ke depan bibirnya yang memerah karena kepedasan.

"Boleh," timpal Altaf sambil matanya mengikuti gerakan Mayang masuk ke dalam kamar.

Beberapa saat kemudian, perempuan itu keluar sambil membawa satu gelas air putih dan secangkir kopi. "Makasih, May," ucap pemuda itu.

"Weekend ini sibuk, nggak?" tanya Altaf. Ia menyesap kopinya dan wajahnya seketika berbinar. Kopi buatan sang pujaan hati memang selalu enak. Meskipun hanya kopi sachetan.

"Nggak. Kenapa emang?"

"Nonton, mau?"

"Film?"

"Iya, film. Udah lama juga kita nggak malem mingguan bareng, loh." Altaf terkikik.

"Kamu sibuk, sih."

"Kamunya juga banyak nolaknya," serang Altaf.

Mayang meringis. Perempuan itu menghabiskan suapan terakhirnya. "Males kejebak macet." Ia memberi alasan sekenanya.

"Alesan kamu aja itu," gerutu Altaf seraya menarik ujung rambut Mayang pelan. "Emang males aja jalan sama aku."

"Ih, nggak gitu, Mas." Mayang sedikit gugup menanggapi ucapan Altaf yang memang ada benarnya. Perempuan itu sejujurnya tidak mau memberi harapan lebih pada pemuda yang sudah pernah mengungkapkan perasaan padanya itu. Sayangnya, hatinya belum juga merasakan debaran terhadap Altaf.

"Ya, udah. Mau nggak, nih?" tawar Altaf kembali.

"Hmm ... oke, deh," sahut Mayang. Tidak enak juga ia selalu menolak ajakan Altaf. Pemuda itu tersenyum gembira. Ia menghabiskan sisa kopi dalam cangkir.

"Aku pulang dulu, May ... tadi cuma pingin mampir sebentar ngeliat kamu," kekehnya sambil beranjak dari duduknya. Mayang mencebikkan bibirnya. Ia mengantarkan pemuda itu hingga ke balik gerbang rumah kos di mana mobilnya terparkir.

***

"Owalah, Den Raka. Mesti, loh, pulang-pulang mabuk," gerutu seorang perempuan paruh baya yang baru saja membuka pintu dan memapah Raka yang berjalan sempoyongan. Namanya Mbok Kardinah. Sudah bekerja untuk keluarga Jackson bertahun-tahun. Ia hafal tabiat anak majikan satu-satunya itu.

"Cerewet banget, sih, Mbok," gerutu Raka sambil mengibaskan tangannya.

"Ish, Den Raka. Kalau Nyonya tau pasti ngomel, loh!"

Raka mendesis. Peduli setan dengan ibunya. Atau ayahnya. Mereka selalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan mereka. Saat ini saja orang tuanya sedang berada di Los Angeles untuk beberapa minggu. Meskipun begitu, setiap kali Raka berbuat kenakalan, mereka akan berpura-pura peduli dengan menceramahinya panjang lebar. Menurut Raka, itu hanya sebatas formalitas mereka agar tidak dicap sebagai orang tua yang buruk.

"Mbok, air putih hangat, dong. Pusing, nih, kepalaku." Raka yang sudah terbaring di atas kasurnya yang empuk memijit kening. Pesta pora di bar beberapa saat lalu untuk merayakan kemenangannya dalam balap liar bersama teman-temannya cukup membuatnya kelelahan.

Sang asisten rumah tangga segera menuruti permintaan Raka. Ia keluar dari kamar luas dan mewah berdesain dark gloomy itu lalu beberapa saat kemudian kembali dengan segelas air hangat.

"Pijit bentar, Mbok, please." Raka menunjuk kepalanya.

"Ish! Den Raka ... sudah tau kalau mabuk-mabukkan pasti nggak enak akibatnya, masih saja dilakuin." Mbok Kardinah menggerutu. Namun tangannya pelan memijit kepala si anak majikan yang bengal itu.

"Bawel!" sungut Raka. Mbok Kardinah memang cerewet terhadapnya. Namun Raka tahu, perempuan itu tulus menyayanginya. Sepertinya ia lebih nyaman berada di dekat Mbok Kardinah dari pada orang tuanya sendiri. Toh, sejak kecil memang waktunya banyak dihabiskan dengan perempuan itu.

"Mbok bawel karena sayang sama Den Raka, ngerti?" tegas perempuan itu.

"Ya, ya ... terserah, deh." Raka menarik selimut menutupi badan hingga leher. Sambil menikmati pijitan Mbok Kardinah, Raka memejamkan mata. Ia memikirkan rencana untuk mengerjai guru baru bahasa Perancis besok. Belum puas rasanya kalau belum membuat perhitungan dengannya. Ia masih shock karena ada guru yang berani melawannya. Bahkan kepala sekolah pun tidak punya nyali untuk mengusiknya. Lalu apa keistimewaan guru baru bernama Mayang itu sampai-sampai ia tidak takut karirnya akan tamat. Antara kesal dan penasaran bercampur menjadi satu. Raka adalah tipe orang yang akan mengulik tuntas saat ada hal yang mengganggu pikirannya.

Raka menarik sudut bibirnya. Tunggu saja-ia akan membuat Eleanor School untuk guru baru itu seperti ia sedang menginjakkan kaki sarang penyamun.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED