"Bozhe!" Bozhe sendiri artinya, Astaga! Berasal dari bahasa Rusia.
Suara gaduh yang berasal dari ruang keluarga menyentakkan seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang sedang tertidur. Dia membuka kedua matanya lebar-lebar, lalu duduk memeluk lututnya di atas ranjang. Netra biru miliknya pun mengisyaratkan ketakutan.
Belum sempat menenangkan dirinya, suara gaduh kembali terdengar seiring dengan suara seorang laki-laki tua yang si remaja yakini adalah sang kakek.
"Chto proiskhodit?" Memiliki arti, "Apa yang sedang terjadi?"
Remaja itu memelankan suaranya. Dia mencoba mengatur irama jantung yang berdegup semakin kencang. Tubuhnya bergetar hebat sejak ia mendengar suara gaduh pertama.
"Bukankah itu adalah suara Kakek Vladimir?! Letak kamarku yang sangat dekat dengan ruang keluarga, kerap membuatku tersiksa mendengar pertengkaran orang dewasa!"
Usai berseru seorang diri, si remaja beranjak dari ranjang tanpa alas kaki. Dia membuka lemari pakaian dan mencari mantelnya seraya melirik jarum jam dinding yang tidak pernah berhenti berdetak.
"Pukul 02.00 dini hari dan mengapa Kakek belum tidur?! Lalu, siapa yang sedang bertengkar dengan Kakek?!"
Setelah mengenakan mantel dengan motif tim sepakbola nasional negaranya, Rusia, si remaja kembali tersentak. Namun kali ini bukan karena suara gaduh, melainkan karena suara pintu ruang tidurnya yang dibuka secara paksa oleh seseorang.
"Aaarrgghhh!"
Remaja tersebut pun histeris. Dia mengarahkan pandangannya kepada seorang pria dewasa yang membuka pintu tadi seraya mundur dengan teratur.
"Hei, Bocah! Rupanya kau belum tidur!"
Pria dewasa itu berteriak seraya menyeringai. Tindakannya sontak membuat si remaja laki-laki ketakutan hingga wajahnya memerah.
"Hei, cepat pakai alas kakimu!"
Pria berbadan kekar dengan tato naga merah di leher belakangnya berteriak untuk kali ke dua. Namun tentu saja, si remaja laki-laki berambut hitam pekat itu tidak mengindahkannya.
"Alexei, apakah kau tidak menemukan Bocah itu?! Apa yang membuatmu begitu lama?!"
Suara pria lainnya terdengar dari ambang pintu ruang tidur si remaja. Pria yang baru saja datang tersebut terlihat enggan masuk ke ruang tidur. Dia memilih untuk tetap berada di tempatnya.
'Hah?! Siapa lagi dia?! Dan, mengapa mereka mencari ku?!' tanya si remaja dalam hatinya.
Tak! Tak! Tak!
Dengan penerangan temaram, pria bernama Alexei segera melangkah menuju sudut ruang tidur di mana remaja laki-laki itu berada.
"Jangan khawatir, Egory! Saya sedang menghampiri Bocah yang menyusahkan banyak orang di mansion Romanov ini."
Suara berat Alexei terdengar dan tersimpan dengan baik di dalam otak si remaja. Dia menatap Alexei dengan penuh tanda tanya.
'Aーapa yang akan ... merekaーAlexei dan Egoryーlakukan padaku? Apakah mereka akan membawaku? Jika ya, ke mana mereka akan membawaku larut malam seperti ini?'
Si remaja bertanya untuk kali ke-2 di dalam hatinya dengan penuh kecurigaan.
"Hei, Bocah!"
Alexei berseru memanggil si remaja malang itu dan tanpa disadari, dia sudah berada di hadapannya. Alexei menatap lurus ke arah remaja laki-laki, lalu memegang kedua bahunya.
"Mulai sekarang, namamu adalah Viktor Gusev. Ingatlah hal itu dengan baik! Ha! Ha! Ha!"
Alexei mengguncang kedua bahu si remaja yang diketahui bernama Viktor Gusev, lalu menarik tangannya.
Bruk!
Bukannya membawa pergi dari ruang tidur, Alexei justru mendorong Viktor hingga tersungkur di lantai.
Senyum sinis pun mengembang di bibir Alexei.
"Aarrgghh!"
Viktor histeris kesakitan. Kedua matanya berkaca-kaca dan jauh di dasar hatinya, Dia sangat ingin lari dari situasi saat ini.
"Apa yang kau lakukan, Alexei?!"
Egory berjalan menghampiri kawannya, kemudian berlutut untuk memastikan kondisi Viktor yang sedang meringis kesakitan.
"Ingatkah kau, apa yang diperintahkan oleh Tuan Lenin kepada kitaーAlexei dan Egory?! Ya, kita harus segera membawa pergi Viktor kecil dari mansion ini tanpa melukainya!"
'Viktor kecil? Ya, bocah ini adalah anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Tuan Viktor Borya Romanov dan Nyonya Yekaterina Lubov Romanova yang tewas di tangan Tuan Lenin Vujovic Romanov 60 menit yang lalu. Seperti kabar yang beredar luas di kalangan keluarga kaya raya, bahwa Tuan Lenin merupakan saudara tiri dari Tuan Viktor Borya Romanov.'
Usai bermain-main dengan pikirannya, Egory menatap wajah Viktor yang memelas. Dia mengulurkan tangan guna membantu si remaja.
"Berdiri dan pakai alas kakimu! Kita akan segera pergi dari sini."
Viktor membuka matanya lebar-lebar menatap lawan bicaranya.
"Tiーtidak! Aーaku tidak mau!"
Viktor tidak menyambut baik uluran tangan Egory. Dia bergegas berdiri dan menjauhkan dirinya dari 2 pria dewasa yang mendekatinya seraya berteriak menolak segala perintah Egory.
"Aーaku tidak akan pergi dari mansion ini dan aku tidak akan mengubah namaku sampai kapanpun! Aku akan tetap tinggal di sini bersama kedua orang tua juga kakekku!"
Viktor mencoba memposisikan dirinya sekarang ini meskipun sulit untuk anak seusianya.
"Hei Bocah, kau pikir, siapa dirimu?! Kau harus tahu bahwa kedua orang tuamu telah tewas!"
Alexei membentak Viktor hingga wajahnya yang merah padam. Dia menggertakkan gigi mencoba menahan emosi yang menyerangnya sejak tadi.
"Aーaku ... aーaku tidak ...."
Bagaikan terkena anak panah di jantungnya, Viktor tidak mampu menyelesaikan kalimatnya usai mendengar dengan jelas berita duka yang baru saja Alexei ungkapkan.
"Lepaskan! Aku mohon, lepaskan aku! Kau pasti berbohong! Aku tidak akan pernah mempercayai ucapan kalian!"
***
Puk! Puk! Puk!
"Viktor, bangun!"
Seorang wanita menepuk pipi pria yang tertidur di sebelahnya dengan kedua tangan.
"Ah!"
Viktor membuka kedua matanya. Dia duduk tegak, lalu menatap ke sekelilingnya dan tidak menemukan keberadaan Alexei juga Egory.
"Mobil?!"
Viktor melemparkan pandangannya kepada wanita cantik nan anggun yang sedang tersenyum ke arahnya.
Dia baru saja tersadar bahwa dirinya kini berada di dalam mobil mewah buatan dalam negeri.
"Ya. Apakah kau tidak ingat? Kita pergi menikmati festival musim panas, Viktor, dan, sekarang kita telah sampai. Lihatlah!"
Viktor kembali mengedarkan pandangannya usai sang istri mencoba mengingatkan kembali di mana dirinya berada saat ini.
'Sial! Ternyata mimpi yang sama!' maki Viktor di dalam hati. 'Namun, siapa Alexei dan Egory? Aku sama sekali tidak mengenal mereka,' batinnya kembali.
Bukannya menatap pemandangan di sekelilingnya, Viktor justru mengingat kembali potongan ingatan masa lalunya yang selalu hadir di setiap mimpinya.
"ZoーZoya, aーaku ...."
Plak!
Seseorang melempar majalah otomotif ke arah Viktor hingga membuat pria itu terkejut dan terpaksa tidak melanjutkan kalimatnya.
"Aaaarrggh!"
Viktor menoleh ke bagian mobil paling depan di mana ayah mertuanya berada.
"Jika kau sudah bangun, lebih baik cepat ke luar dari mobil!"
Galina berseru dengan ketus seraya menatap Viktor yang masih terkejut dengan tindakan suaminya tadi.
"Ma, tidak perlu terlalu kasar seperti itu kepada Suami saya!"
Xandrova mencoba membela Viktor, lalu meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. Sesekali Xandrova menoleh ke arah sang ibunda kandung yang duduk di sebelah kirinya.
"Xandrova Zoya Konstantina!"
Galana berteriak memanggil nama lengkap anak perempuan satu-satunya, sekaligus cucu perempuan satu-satunya keluarga Konstantin yang kaya raya di St Petersburg, Rusia.
"Jika kau tidak mengalami kejadian mengenaskan beberapa bulan lalu, mungkin saja saya dan Ayahmu tidak memiliki Menantu yang tidak berguna seperti Viktor! Bukankah begitu, Davidoff?!"
Galana menoleh ke arah sang suami yang sedang mengangguk. Usai menghardik sang menantu, wanita 45 tahun tersebut segera membuka pintu mobil.
Brak!
"Kalian berdua, cepatlah keluar!"
Sebelum menapakkan kakinya di jalan beraspal, Galana menoleh ke arah Viktor dan Xandrova seraya menggelengkan kepala.
"Viktor, bawa semua koper ke kamar yang telah disewa oleh keluarga Konstantin!"
Bagi seorang Viktor Gusev Konstantin, menyematkan nama keluarga istrinya bukanlah beban seperti kebanyakan yang orang katakan padanya. Namun, bukan juga suatu kebanggaan.
"Viktor, biarkan aku membantumu!"
Xandrova menatap Viktor dengan cemas. Raut wajah cantiknya terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Tidak, Zoya!"
Kalimat penegasan yang baru saja diucapkan oleh Viktor, tentu saja membuat Xandrova terkejut.
"Mengapa? Aku ini Istrimu, 'kan?"
Xandrova mengerutkan kening seraya menunggu Viktor menjawab pertanyaannya.
"Ya! Justru karena kau adalah Istriku, maka aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal berat seperti membawa koper-koper ini, Zoya."
Suara bariton milik Viktor membuat Xandrova tersenyum. Bukan karena suaranya yang khas, tetapi karena makna yang tersirat di dalam kalimat yang diucapkan oleh Viktor barusan selalu mampu menghipnotis dirinya dan menjadikannya sebagai wanita berharga di mata pria itu.
"Viktor, Ya lyublyu vas!" Memiliki arti, "Aku mencintaimu!"
Xandrova berjinjit, lalu menempelkan bibirnya yang kemerahan ke permukaan pipi Viktor sekilas.
"Ayo, masuk ke kamar!"
Xandrova berseru usai membuat Viktor terkejut dengan tingkahnya. Mereka pun memasuki kamar Four Seasons Hotel yang telah disewa oleh Davidoff sejak jauh-jauh hari.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara sepatu wanita yang dikenakan oleh Xandrova terdengar saling bersahutan. Wanita 19 tahun tersebut merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar seraya menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar.
'Astaga! Mewah sekali kamar hotel ini!'
Viktor memekik di dalam hati mengagumi kemewahan kamar hotel di mana dia menginjakkan kakinya saat ini.
"Zoya, beristirahatlah sejenak sebelum kita memulai aktivitas!"
Viktor memasukkan koper-koper yang dibawnya ke lemari besar menjulang tepat di sisi kiri ranjang.
"Viktor, kapan kau akan mengantarkan koper-koper milik Papa dan Mama ke kamar mereka?"
Dua netra biru milik Viktor dan Xandrova pun bertabrakan. Sesekali Xandrova menelan saliva saat memandangi wajah maskulin suaminya, begitu juga sebaliknya.
'Kau sungguh cantik, Zoya! Namun, aku tidak berani menyentuhmu jika kau tidak menginginkannya,' batin Viktor.
"Aku akan mengantarkannya sekarang, Zoya."
***
"Mengapa kau lama sekali, Viktor?! Bukankah tadi pelayan membantu membawakan barang-barang?!"
Galana Konstantin menegur menantunya yang baru saja datang membawa 2 koper besar miliknya dan Davidoff.
"Maaf, Ma. Saya mengantarkan Zoya ke kamar terlebih dahulu karena dia terlihat sangat lelah."
Viktor menjawab pertanyaan Galana sambil meletakkan 2 koper yang dibawanya di sudut kamar.
"Zoya bukan lelah karena perjalanan menuju ke sini, tetapi dia lelah karena memiliki seorang suami tidak berguna sepertimu, Viktor! Mengapa kau tidak menyadarinya?!"
Kalimat yang mengandung cercaan seperti barusan kerap menjadi santapan sehari-hari bagi Viktor yang menumpang hidup di rumah mertuanya. Sesekali dia merasa geram dan ingin menghajar siapapun yang telah menghina dirinya, tetapi apa boleh buat, dia tidak memiliki pilihan, selain bersabar.
"Tunggu!"
Davidoff yang sejak tadi hanya duduk menonton televisi, kini angkat bicara. Dia menatap Viktor yang berdiri di samping ranjang besar berukiran Eropa.
"Apa yang kau lakukan di sana, Viktor?!"
Davidoff menunjuk 2 koper besar yang sengaja diletakkan Viktor di sudut ruangan.
"Keluarkan semua isinya dan letakkan di dalam lemari dengan rapi!"
Davidoff berteriak memberikan titah kepada Viktor.
"Astaga!"
Galana sedikit berlari menghampiri menantunya. Emosinya naik turun saat berhadapan dengan Viktor.
"Kau ...."
Galana membuka satu persatu koper dengan kasar. Dia memperhatikan seluruh isi koper dengan teliti.
"Jangan sampai semua pakaian saya rusak! Letakkan dengan baik di dalam sana!"
Galana menunjuk lemari besar dengan sorot mata tajam.
"Ya, Ma."
Viktor menjawab dengan nada rendah. Dia bergegas membawa koper tadi mendekati lemari yang dimaksud Galana.
"Bagus, Viktor. Sebagai seorang suami miskin sepertimu, ternyata kau cukup tahu diri!"
"Hmm ...."
Viktor menghela napas. Viktor tidak memedulikan ucapan ibu mertuanya karena dia harus bertahan demi amanah sang tuan besar keluarga keluarga KonstantinーGennadius Zigfrids Konstantinーuntuk tetap menjaga dan mencintai Xandrova dengan tulus. Dia melakukan pekerjaan apapun yang diperintahkan oleh kedua mertuanya dengan cekatan dan rapi.
"Viktor, cepat ke sini!"
Davidoff memanggil Viktor tanpa menoleh. Mendengar seruan dari sang ayah mertua, pria dengan tinggi 185 centimeter tersebut bergegas menghampirinya.
"Ya, Pa?"
Viktor mengamati tingkah Davidoff. Pria itu mengubah posisi duduknya membelakangi Viktor.
"Cepat pijat saya!"
'Hah?! Memijat?! Apakah aku benar-benar seperti tukang pijat?' tanya Viktor di dalam hatinya.
"Tunggu apalagi, Viktor? Ayo, cepat!"
Davidoff menunjuk bagian bahunya yang pegal. Dia tanpa sungkan selalu memerintahkan Viktor.
"David, mengapa kau tidak pergi ke sarana pijat refleksi yang tersedia di hotel ini saja?"
Syukurlah Mama memberikan saran yang bagus kepada Papa, batin Viktor seraya menyembunyikan senyumnya.
"Di hotel ini terdapat beragam jenis pijat beserta manfaat yang bisa kau dapatkan, David."
Galana melanjutkan ucapannya seraya meletakkan ponsel di atas nakas. Wanita itu meraih tabir surya dari dalam tas tangan yang dia bawa, lalu mengolesnya ke bagian wajah.
"Kau benar, Sayang. Kembalilah ke kamarmu, Viktor!"
David meminta Viktor untuk segera pergi dari kamarnya. Dia mematikan saluran televisi seraya bersiap untuk pergi ke tempat pijat refleksi yang dikatakan oleh Galana tadi.
"Baik, Pa."
Mendengar jawaban Viktor barusan, Davidoff menggelengkan kepala.
"Sebenarnya, saya terlalu jijik mendengar kau menyebut diri saya sebagai Papa! Karena kau tahu?"
Davidoff bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan memutari Viktor yang diam membatu.
"Karena bagi saya, Maksim adalah segalanya. Dia tampan, kaya raya dan seorang pewaris tunggal perusahaan keluarga Romanov. Benar-benar sosok Suami idaman yang sempurna untuk Zoya!"
Tidak sampai di situ, Galana yang sejak tadi sibuk memperhatikan suami dan menantunya, kini berjalan menghampiri keduanya.
"Viktor, apakah kau tahu, siapa keluarga Romanov?!"
Galana menatap Viktor sinis. Dia memperhatikan sosok menantunya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Keluarga Romanov merupakan keluarga terkaya di Rusia dan aset kekayaannya menduduki peringkat 1 versi majalah Forbes."
'Benarkah keluarga Romanov merupakan keluarga terkaya di Rusia? Lalu, mengapa mereka sepertinya sangat peduli dengan semua itu? Apakah semua keluarga kaya raya berpikir seperti itu?'
Berbagai pertanyaan pun memenuhi benak Viktor.
"Apa yang kau tunggu?! Cepat pergi dari sini!"
Galana meneruskan kalimatnya. Dia menatap Viktor dengan pandangan tanpa minat.
"Ya, Ma."
Baru saja Viktor menjawab perintah sang ibu mertua, terdengar suara ketukan pintu. Suasana menjadi hening seketika. Viktor memergoki Galana dan Davidoff saling bertukar pandang seiring dengan senyum keduanya yang mengembang.
'Sepertinya Maksim sudah datang,' batin Galana seraya tersenyum lebar. 'Aku akan mengatur waktu untuk Zoya dan Maksim tanpa kehadiran Viktor,' lanjutnya dalam hati.
"Bukalah pintunya, Viktor!"
Galana dengan sengaja memberikan perintah kepada Viktor berharap sang menantu akan terkejut saat melihat sosok Maksim yang tampan dan gagah telah datang.
"Baーbaik, Ma."
Dengan ditunggangi rasa penasaran tinggi, Viktor segera melangkahkan kakinya menuju pintu. Sementara sepasang suami istri yang selalu merendahkan Viktor saling melemparkan senyum dan raut wajah mereka terlihat sungguh bahagia.
Viktor terkejut ketika membuka pintu kamar hotel mertuanya. Dia melihat sosok wanita berdiri membelakanginya. Viktor berhasil menguasai dirinya, lalu dia pun tersenyum.
"Halo, selamat siang. Anda mencari siapa?"
Viktor maju beberapa langkah. Wanita tersebut memutar tubuhnya. Betapa terkejutnya Viktor ketika si wanita tersebut membuka kacamata hitamnya.
"Viktor, mengapa kau lama sekali? Tahukah kau? Aku lelah menunggumu."
Viktor tersenyum lebar seraya meraih tangan si wanita yang ternyata adalah Xandrova. Dia menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kau sungguh sempurna, Zoya!"
Viktor berseru dengan kedua mata berbinar. Mendapatkan perlakuan istimewa dari sang suami, tentu saja membuat Xandrova salah tingkah.
"Viktor, siapa yang datang? Persilakan tamu kita untuk masuk dan jangan biarkan dia kecewa!"
Suara Galana menggelegar dari dalam kamar hotel. Viktor pun tertawa kecil mendengarnya.
Memangnya Mama pikir, siapa yang datang mengunjungi mereka, Davidoff dan Galana?' tanya Viktor di dalam hatinya.
"Apakah kau mendengar teriakan Mama, Zoya?"
Viktor bertanya dengan lembut. Ya, Viktor selalu bersikap seperti itu kepada istrinya karena dia tidak ingin kehilangan kepercayaan dari Gennadius Zigfrids Konstantin.
"Ya, aku mendengarnya, Viktor."
Xandrova memakai kembali kacamatanya seraya mengangguk. Dia menatap Viktor yang tidak berhenti tersenyum.
"Mari, masuk!"
Xandrova mengajak Viktor masuk. Pria itu pun mengikuti di belakangnya.
"Hah?!"
Betapa terkejutnya Galana dan Davidoff ketika melihat anak kandungnya melangkahkan kaki menuju sofa di mana kedua orang tuanya duduk.
"Kaーkau ...."
Galana tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya di depan Viktor dan Xandrova.
"Ma, Pa, ayo kita nikmati matahari musim panas di pinggir sungai Neva!"
Xandrova mengajak sang ibunda untuk pergi bersamanya. Viktor memperhatikan gerak-gerik istrinya dari ambang pintu.
"Hei, Viktor!"
Davidoff memanggil sang menantu hingga membuat Xandrova terkejut.
"Ya, Pa?"
Viktor berjalan mendekati Davidoff. Dia melihat Xandrova sedang mengerutkan keningnya.
"Mengapa kau hanya berdiri di sana?! Cepat siapkan keperluan kami untuk berjemur di bawah sinar matahari!"
Keperluan berjemur seperti apa yang Papa maksud? Aku tidak mengerti, batin Viktor.
"Pa, sudahlah! Mari kita pergi sekarang, Viktor!"
Xandrova tidak memedulikan perintah Davidoff. Dia menarik tangan Viktor, lalu berjalan meninggalkan kedua orang tuanya.
"Zoya! Zoya, tunggu Mama!"
Galana berteriak dengan maksud menghentikan langkah Xandrova dan Viktor. Dia bangun dan segera bergegas menyusul mereka.
"David! Tak, chego zhe ty zhdesh?" Memiliki arti, "Jadi, tunggu apalagi?"
Mendengar teriakan Galana, Viktor tersenyum tanpa diketahui oleh Xandrova.
'Terima kasih, Zoya! Kau selalu menyelamatkan aku berkali-kali di hadapan kedua orang tuamu,' ucap Viktor dalam hatinya.
***
Viktor dan Xandrova baru saja melewati lobi Four Seasons Hotel yang terletak tidak jauh dari Sungai Neva St Petersburg, Rusia. Baik Viktor maupun Xandrova, keduanya tidak sadar bahwa ada seseorang menunggu kedatangan mereka.
Bruk!
Seorang pria dengan sengaja menabrak Xandrova hingga istri dari Viktor Gusev Konstantin itu kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh.
"Aaarghhh!"
Xandrova terkejut hingga histeris. Viktor dengan cekatan menangkap tubuh Xandrova, lalu membawa ke dalam dekapannya.
"Apakah kau baik-baik saja, Zoya?"
Viktor terlihat sangat mengkhawatirkan Xandrova. Dia membantu Xandrova berdiri, lalu mencari tahu siapa yang sudah dengan sengaja menabrak istrinya.
"Oh, maーmaaf! Saーsaya tidak ...."
Suara pria yang tidak asing lagi bagi Viktor dan keluarga Konstantin terdengar akrab di telinga mereka.
Betapa terkejutnya Viktor mendapatkan sosok pria di hadapannya sedang membulatkan mata.
"ZoーZoya! Kau adalah Zoya, 'kan?"
Mendengar namanya disebut-sebut, tentu saja membuat Xandrova mengalihkan pandangannya ke arah pria yang menabraknya tadi.
"MaーMaksim?"
Seolah tidak percaya pada indra penglihatannya, Xandrova berkali-kali mengedipkan mata sambil menutup mulut dengan kedua tangan.
'Sial! Mengapa pria terkutuk ini bisa berada di sini?' tanya Viktor mengutuk di dalam hati.
Viktor segera meraih tangan Xandrova guna menyadarkan Maksim bahwa wanita yang ditabraknya sudah memiliki seorang suami yang kini berdiri di sampingnya.
"Astaga! Lihatlah! Siapa yang saat ini sedang berdiri di hadapan Putri kita, David?"
Galana berseru dari kejauhan. Dia berlari kecil menghampiri Viktor yang sedang bersama dengan Xandrova dan Maksim.
"Maksim, apa yang kau lakukan di hotel ini?"
Galana mendorong Viktor hingga menjauhkan pria itu dari Xandrova. Mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan barusan, Viktor pun lantas berdiri tepat di belakang Xandrova dan Galana.
'Aku tidak akan berjauhan dari Zoya,' batin Viktor seraya memperhatikan gerak-gerik Maksim yang mencurigakan.
"Saya akan pergi menikmati keindahan musim panas di pinggir Sungai Neva, Nyonya Galana."
Maksim menjawab tanpa ragu. Dia menatap Galana sebentar, sebelum akhirnya kembali menatap Xandrova.
"Kau semakin cantik saja, Zoya!"
Maksim meraih tangan kiri Xandrova, lalu mendekatkan ke bibirnya.
"Bahkan setelah menikah dengan pria miskin seperti Viktor yang berasal dari yayasan yatim-piatu kumuh di pinggir kota, kau masih terlihat bagaikan berlian yang terkontaminasi sampah karena keberadaannya!"
Wajah Viktor merah padam usai mendengarkan perkataan dari sang mantan tunangan Xandrova.
"Oh, ada apa, Viktor? Apakah pernyataan saya keliru?"
Maksim segera merendahkan nada bicaranya ketika Viktor meliriknya dengan tajam.
"Maaf, Tuan Maksim Smirnov Romanov. Jika Anda sudah mengetahui bahwa Zoya telah menikah, apakah tidak sebaiknya Anda menjauh dari Istri pria lain?!"
Dengan satu tarikan napas, Viktor membalas ucapan Maksim seraya melepaskan tangan Xandrova dari Maksim. Dia melirik Xandrova sejenak kemudian tersenyum.
"Mari, Zoya!"
Baru saja Viktor dan Xandrova hendak melangkahkan kaki mereka, tetapi Davidoff buru-buru menghalangi niat keduanya.
"Tunggu!"
Davidoff berusaha mencegah Viktor membawa Xandrova pergi dari hadapan Maksim.
"Bukankah kau akan menemani saya pergi ke pijat refleksi di hotel ini, Viktor?"
'Hah?! Pijat refleksi?! Oh, damn! Tipu muslihat apalagi yang direncanakan oleh Papa dan Mama untuk mendekatkan Zoya dan Maksim?'
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Viktor. Pria itu dengan cepat merespon Davidoff tanpa menghilangkan rasa hormat pada ayah mertuanya.
"Maafkan saya, Pa! Namun alangkah lebih baik, jika Anda pergi bersama Mama Galana. Bukankah begitu, Ma?"
Viktor melemparkan pertanyaan kepada Galana hingga membuat wanita itu gelagapan menjawabnya.
"Tunggu, Zoya!"
Maksim terlihat jengkel dan mencoba segala cara agar Xandrova tetap bersama dengannya.
"Apakah saya bisa bergabung bersama kalianーViktor dan Xandrova?"
'Sial! Apa-apaan ini?!' tanya Viktor dalam hatinya yang merasa geram.
Untuk kesekian kalinya, Xandrova hanya terdiam. Dia seolah tidak berkutik jika berhadapan dengan Maksim.
'Oh, ayolah, Zoya! Katakanlah sesuatu agar Maksim tidak bergabung dengan kita!'
Viktor berseru memohon dalam hatinya dengan harap sang istri bisa bersikap tegas untuk menolak keinginan Maksim.
"Apakah saya terlihat mengganggu rumah tangga kalian?"
Maksim bertanya seraya menatap Viktor dan Xandrova secara bergantian. Netra indah Xandrova selalu saja berhasil menghipnotis hati Maksim.
"Tuan Maksim, Anda sungguh mengejutkan saya!"
Seruan Viktor kali ini tidak hanya membuat Galana dan Davidoff bertanya-tanya. Namun, juga berhasil membuat Maksim tercengang.
"Maksud Anda adalah ...."