Bab 2

POV Permaisuri Kang Mi Irene

Aku teringat dengan kalimat yang wanita penghibur itu katakan. 'Rambut mu samasekali tidak mencerminkan seorang bangsawan'

Ya, ini sudah keputusan ku. Semenjak Raja suka minum, berburu dan bermain dengan perempuan lain. Diriku bersumpah untuk tidak menyanggul rambut hingga Raja berhenti melakukan itu semua.

Ini adalah cara ku membujuk pemilik semesta agar cobaan yang menyakitkan ini cepat berakhir.

Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku melihat Raja dan kasim nya berjalan ke arah rombongan ku. Segera aku mengucap salam,"Salam Yang Mulia."Dia hanya melewati ku tanpa mengucap sepatah kata pun, bersama wajah datar dan dingin, seperti arca hidup.

Apa Raja jijik dengan hanya melihat wajah ku saja? Batin ku mulai aneh-aneh.

Di belakang tidak ada yang berani menyudutkan apalagi menggosip. Para pelayan dan dayang serta bawahan lain di seluruh istana tidak ada yang berani menjelekkan atau menyakiti ku dengan perkataan mereka.

Nasib orang-orang yang berani menggunjing ku di belakang, jika dia bangsawan akan diusir dari Istana sekaligus jabatan yang mereka duduki akan dicabut oleh Raja hari itu juga. Dan, jika dia pelayan, dia akan dipenggal dalam arti dihukum mati.

Aku berpikir apa itu bentuk rasa sayang Raja?

Namun jika itu rasa sayang, kenapa dia tega membuat ku seperti angsa sekarat selama bertahun-tahun?

Ternyata beberapa saat setelah nya, secara tidak langsung aku mendapat jawaban dari praduga yang selalu berputar di otak ku.

"Hanya aku yang berhak menyakiti mu."ucap Raja dengan penuh penekanan pada saat itu.

Mengingat kembali kalimat ini, membuat ku ingin menangis. Apa rasa bencinya begitu besar? Apa  dosa itu begitu besar di matanya?

Huh! Sekarang, bahkan untuk bernafas pun seolah sulit.

Author POV

Tak terasa Irene sudah sampai di ujung pintu Aula Ibu Suri. Dia pun masuk bersama dayang nya untuk melakukan penghormatan.

Irene duduk bersimpuh di depan junjungan dan berkata,"Salam hormat Yang Mulia Ibu Suri. Semoga anda panjang umur dan hidup 1000 tahun lagi."tutur Irene memberi penghormatan sekaligus doa.

      Tan Eve, sebagai Dayang Permaisuri pun ikut memberi hormat juga setelahnya, kemudian dia bangkit dan menaruh sesuatu di atas meja panjang yang berada tepat didepan Ibu Suri Shin.

"Bisakah kau meninggalkan kami berdua?!"pertanyaan bernada perintah itu keluar dari mulut Shin.

Sejenak Eve melirik Irene, setelahnya dia langsung mendapatkan anggukan 'Tidak apa-apa'. Dia pun segera melangkah ke luar setelah melakukan penghormatan. Sebenarnya, Eve cukup cemas jika meninggalkan junjungannya ini bersama Ibu Suri.

Wanita paruh baya itu membuka kotak merah pemberian sang menantu,"Jika seratus kali sehari pun kau memberi hadiah kepada ku, itu tidak akan cukup!"tukasnya.

Sejujurnya wanita itu cukup takjub setelah melihat isi dari kotak merah maroon yang dipegangnya kini. Namun dia berusaha untuk menyembunyikan rasa senang yang dirasakannya.

"Kau mengerti apa maksud ku Permaisuri?"

Gadis itu berusaha untuk tersenyum manis,"Tentu saja Yang Mulia."

Shin menghela nafas,"Usaha mu untuk membuat Kerajaan kita lebih makmur itu pun belum cukup, karena kau tidak mampu melakukan kewajiban utama sebagai seorang istri."

"Di sini Aku tidak ingin membuat mu selalu terpojok."perkataan itu terhenti sejenak.

"Jadi, aku memutuskan untuk menjodohkan Raja dengan Anya, Putri Jin dari Kerajaan Tenggara."

Deg!

Seketika Irene menundukkan kepalanya perlahan karena terlampau kaget. Raut wajahnya masih memperlihatkan ketenangan, namun tidak dengan hatinya. Hatinya begitu hancur mendengar keputusan Ibu Suri.

"Kau pasti sudah tahu, dia adalah adik dari Permaisuri terdahulu. Jadi kau mungkin tidak akan merasa canggung."lanjut Shin terdengar ringan, bahkan cenderung menyepelekan.

Entah itu dekat atau tidak. Perasaannya tetap sama, yaitu cemburu.

Ucapan-ucapan yang menusuk dan bermakna hinaan dari Ibu Suri setiap harinya tidak lebih menyakitkan daripada peryataan itu.

Tubuh Irene terasa panas, angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela pun seolah tidak berguna. Keringat dingin membasahi pelipis dan setiap helai anak rambutnya.

Dia cemburu. Sekarang ada seorang wanita lain yang akan menjadi istri sah suaminya. Hal yang membuat dirinya beda dengan wanita-wanita yang bermalam dengan raja kini pupus sudah.

Kini posisi istimewa itu sirna. Ada wanita lain yang akan memiliki kedudukan sama di mata Raja sebagai seorang suami.

Pikiran Irene kembali memutar memori. Dulu, ketika dirinya di nobatkan sebagai Selir. Apakah perasaan Permaisuri Jie pun sama seperti perasaan yang dialaminya kini?

Namun nyatanya, dirinya juga tidak ingin menjadi Selir Raja pada waktu itu. Tapi ayahnya lah yang meminta, demi kemakmuran dinasti tempat dia dilahirkan dan yang lainnya.

Apa Putri Jin juga seperti itu? Tidak ada pilihan lain selain menerima dan pasrah. Seperti dirinya dulu.

Serpihan hati ini tidak sengaja dihancurkan. Bahkan, mungkin sosok Anya pun tidak berniat untuk melukai perasaan ini.

Harusnya sedari dulu Irene berpikir lebih jauh mengenai resiko sebagai permaisuri. Bahkan patutnya dia bersyukur, meski di mata Raja Jun  posisi mereka sama. Tapi posisi di pemerintahan kerajaan tentu dirinya lebih tinggi. Irene tetap menjadi Ibu dari Kerajaan ini.

"Tanpa persetujuan dari mu pun ibu akan tetap melakukannya."Belum sempat Irene menjawab, Ibu Suri sudah melangkahinya dengan perkataan yang begitu merendahkan dirinya sebagai seorang istri.

Irene tidak mampu berkata-kata lagi selain mengulas senyum. Dirinya tidak ingin semakin dibenci oleh wanita paruh baya ini akibat ucapannya yang mungkin nanti akan membuat dia tersinggung.

Irene memang tipikal yang sangat berhati-hati dalam bicara, terutama pada Ibu Suri dan Raja. Dia sadar diri akan segala kekurangan yang dimiliki.

Namun nyatanya Shin dan Arjuna begitu asyik meneropong satu titik hitam yang ada pada gadis ini. Tanpa melihat garis-garis putih yang dimilikinya yang patut mereka hargai.

"Meskipun begitu aku ingin membicarakan hal ini dengan mu dan Raja. Karena aku tidak ingin bertengkar dengan putra ku lagi, hanya karena ibunya tidak menghargai mu."ucap Shin dengan nada malas dan seperti sudah merasa jengah. Di akhiri dengan gumaman rendah dan kesal yang berbunyi,"Apalagi jika aku menyebut mu perempuan mandul. Bisa-bisa dia menjadi anak durhaka."

"Hari ini aku memintanya untuk makan malam bersama. Kau juga harus datang tepat waktu."lanjut Shin memberikan perintah.

Nyatanya Irene adalah orang yang disiplin. Dia bukan tipe orang ceroboh yang secara tidak langsung dilontarkan oleh Ibu Suri Shin.

Dari awal ketika dirinya dinobatkan sebagai Selir hingga sekarang menjadi Permaisuri. Irene tidak pernah terlambat untuk memberi penghormatan kepada Ibu Suri di pagi hari.

Kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulut Shin  mengenai Irene tak lebih hanya sekedar omong kosong. Itu semua agar reputasinya di hadapan sang mertua semakin buruk.

"Jangan lupa kau siap kan kata-kata agar makan malam itu berakhir dengan cepat."ucapan Shin begitu menukik hati gadis itu.

Bab 3

POV Permaisuri Kang Mi Irene

Malam cepat tiba. Padahal aku berharap waktu berhenti di siang hari, jika seperti itu artinya kiamat tiba.

Ya, keputusan Ibu Suri untuk menikahkan putranya lagi dan ironisnya aku tidak bisa menolak, itu sama saja seperti kiamat bagi hatiku. Sepertinya hati ini akan semakin mati rasa. Cobaan seperti itu akan membuat hati ku semakin kebal.

Diam-diam aku menyuruh Ily untuk menyewa seorang perias terbaik di negeri ini. Yakni dari kerajaan dimana kakak ku memimpin, Kerajaan Timur.

Aku memasuki kamar Ibu Suri dengan begitu percaya diri. Berharap dengan kecantikan ku ini mampu meluluhkan hati Raja dan keputusan Ibu Suri berakhir ditolak olehnya.

Para pelayan Ibu Suri berlalu lalang di ruangan makan. Ternyata jamuan makan malam belum selesai di siapkan oleh Ibu Suri.

Tiba-tiba wanita paruh baya itu keluar dari kamarnya. Sejenak dia memandangi ku dari atas sampai bawah.

Bukan aku terlalu percaya diri, tapi sorot matanya menggambarkan ketakjuban, namun lama kelamaan raut wajahnya memandang iri padaku, dia menyeringai seperti orang jahat. Aku menyebutnya 'seperti'.

Tiba-tiba ekspresi nya berubah macam orang terkejut. "Astaga Permaisuri!!! Kau datang terlalu cepat! Siang tadi ibu sudah bilang padamu, untuk datang di seperempat malam."ucapnya dengan sengaja meracau agar terdengar oleh para pelayan dan ketiga dayang nya serta dayang ku, Eve.

Akting Ibu Suri memang mudah terbaca, karena dia memang terang-terangan memperlihatkan rasa tidak sukanya padaku agar membuat ku untuk sadar bahwa diriku adalah menantu yang tidak diinginkan.

"Kau ini sengaja membuat reputasi ku buruk karena tak becus menyiapkan makan malam untuk mu dan Raja kan?!"terdengar hela nafas dari Ibu Suri setelah itu.

"Untung saja Raja tidak datang lebih awal seperti biasa. Jika tidak, dia akan memarahi ku karena seakan-akan ibu mempermainkan istrinya!"lanjutnya sambil memijit pelipis.

"Ck. Cepat selesaikan jamuan ini! Nyonya besar sudah kemari! Cepat!"perintahnya sambil berteriak.

"Dia tidak sadar diri, jika posisi ku lebih tinggi di sini. Wanita tak tahu diri!"gumam Ibu Suri di kepergiannya.

Aku hanya termenung. Kedua mata ini terasa panas, namun aku berusaha agar air mata itu tidak jatuh dari sana.

Perlakuan Ibu Suri bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Tahun lalu, untuk pertama kalinya semenjak aku menjadi Ratu. Ibu Suri mengundang ku makan malam juga dengan jadwal yang berbeda. Pada saat itu aku hanya disuruh olehnya untuk membantu para pelayan mempersiapkan jamuan agar cepat selesai.

Tapi hari ini dia membuat ku seolah-olah aku adalah Permaisuri jahat yang haus akan kekuasaan dan tak memiliki perilaku baik pada mertuanya sendiri.

Aku kira menyakiti ku dengan menikahkan suami ku lagi cukup baginya. Ternyata tidak.

Ya sudah. Kali ini aku terlalu bodoh. Bertindak tanpa perhitungan. Dua dari sepuluh rencana Ibu Suri untuk mempermalukan diriku berhasil tanpa kendala.

"Biar aku bantu?!"aku menawarkan diri pada salah satu pelayan.

"Tidak perlu Yang Mulia. Anda bisa menung_mmm."pelayan itu segera membawa sebuah kursi dan meletakkannya tak jauh dari ku.

Dia tersenyum,"Anda istirahat saja Yang Mulia. Kami akan menyelesaikannya dengan cepat!"

"Benar kan teman-teman?!"tanya kepala pelayan pada anak-anak buahnya.

"Ya Yang Mulia."ucap mereka serempak.

"Anda jangan khawatir!"celetuk salah satu dari mereka. Aku tersenyum haru. Dalam hati, aku berterimakasih kepada semua pekerja disini.

Aku melirik Eve, dia tersenyum ke arahku penuh arti.

Eve, kau yang melakukan semua ini. Kau membuat para pelayan mempercayai ku. Terimakasih karena selalu memperhatikan ku. Bahkan ketika aku lengah, dengan cepat kau menyadarinya.

Tak lama, para pelayan pun berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat.

"RAJA XIE DATANG MEMASUKI AULA IBU SURI."gema salah satu penjaga dari sana. Aku segera mempersiapkan diri untuk menyambutnya.

Para pelayan berduyun-duyun memperbaiki tata jamuan agar terlihat lebih rapi lalu segera pergi.

Raja masuk ke ruangan ini. Terlihat dari samping dia begitu tampan, apalagi jika tampak secara keseluruhan, pria itu akan lebih tampan.

Dia melirikku ketika aku memberikan salam padanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, kemudian dia mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya menerima salam ku.

Hanya seperti itu saja. Aku sudah senang.

Dia duduk didepan. Kami saling berhadapan. Itu membuat ku gugup. Aku mencoba mengulas senyum kecil untuk nya agar suasananya tidak terlalu mencekam seperti ini. Namun sayang tak terbalas, ekspresinya tetap datar seperti arca hidup.

"Kau datang lebih awal?"ucap Raja membuat ku terkejut sekaligus senang. Tapi setelahnya bertanya pria itu langsung membuang muka.

Apa dia menyesal dengan ucapannya tadi?!

Tidak masalah. Ditanya saja itu sudah sebuah kebahagiaan untuk ku. Sesederhana itu kah? Ya.

Aku menjawab dengan ulasan senyum setelahnya,"Ya Yang Mulia. Saya tidak ingin terlambat."

"Kau sangat bersemangat dengan pertemuan ini hm?"pertanyaan itu membuat bibir ku sulit bergerak karena bingung untuk menjawab.

Jika aku jawab ya, itu tidak lah mungkin.

Namun, jika aku jawab tidak, apa dia akan berpikir bahwa aku tidak menyukai pertemuan ku dengannya?

"Saya ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang_"

"Anak ku!!!"suara ku tenggelam oleh panggilan Ibu Suri yang begitu menggelegar.

"Tam-mu!"aku melihat pandangan Raja sudah beralih ke Ibu Suri.

Apa dia mendengar jawaban ku? Aku harap 'Ya'. Jujur aku cukup cemas.

Tolonglah pemilik semesta!!!

Kini anggota jamuan kecil sudah lengkap. Sebelum kita menyantap hidangan itu. Ibu Suri sudah berancang-ancang untuk menjelaskan mengenai alasan aku dan raja dikumpulkan.

"Junnie-ah."ibu Suri memanggil Raja menggunakan nama kesayangannya. Aku berusaha menahan untuk tidak tertawa.

Ya. Raja Xie adalah putra tunggal Ibu Suri. Tak heran jika pria itu dimanja meski sudah dewasa.

"Aku memutuskan untuk menjodohkan mu dengan Putri Jin, dari Kerajaan Timur."Aku langsung menunduk sesaat setelah mendengar pertanyaan itu.

Tahan tahan! Jangan nangis, jangan nangis!

Mengangkat kepala seperti semula. Aku berusaha mengatur wajahku agar tetap tenang. Ku lihat Ibu Suri melirikku sejenak.

"Aku menyerahkan keputusan itu pada Permaisuri."tegas Raja.

Wanita itu tersenyum miring, kemudian menghadap ke arahku sembari mengulas senyum manis. Namun, tak lama raut wajahnya berubah menakutkan seperti sedang mengancam."Bagaimana Permaisuri?"

Dengan berat hati aku menjawab,"Saya setuju Yang Mulia Ibunda."

Aku benar-benar tidak berani melihat Yang Mulia Raja. Aku takut aku kebablasan menangis di sini.

"Mm, baiklah. Apa permaisuri juga yang mengambil keputusan perihal ketetapan pernikahan nya, Raja?"tanya Ibu Suri lagi.

Sejenak ruangan ini hening seketika, namun suara tegas dan lugas itu kembali terdengar,"Ya."

 "Ibunda berencana untuk menggelar pesta pernikahan itu tiga hari lagi. Yon mengatakan bahwa hari itu hari yang baik. Bagaimana Permaisuri? Apa kau setuju?"

Aku terkejut bukan main. Secepat itu kah? Astaga, aku ingin sekali menolak. Tapi tatapan Ibu Suri membuat ku terintimidasi.

"Ya Ibunda, aku setuju."jawab ku.

Berat hati saat mengatakan itu.

"Tunggu Ibu!"pungkas Raja membuat ku terkejut.

"Aku keberatan dengan keputusan mu!"tolak Raja.

Apa? Dia menolak nya? Ku harap dia menolak pernikahan ini!

"Apa kau tidak setuju dengan tanggal pernikahan mu Putra ku?"tanya Ibu Suri.

Sejenak Raja melirik ku, kemudian ia berkata,"Ya."

"Baiklah! Ibunda kan hanya berencana. Istri mu yang memutuskan. Tapi sepertinya istri mu samasekali tidak memperhatikan perasaan sua_"

Aku hanya tertunduk mendengar ucapan yang keluar deras dari mulut Ibu Suri.

"Maaf Ibu, seperti aku tidak bisa melanjutkan makan malam ini."lanjut Raja di sela ucapan Ibu Suri yang memojokkan ku, dia hendak bangkit.

"Sebentar Putra ku. Apa kau mau mendiskusikan tanggal pernikahan mu dengan Yon sekarang?!"tanya Ibu Suri.

Wanita itu benar-benar ingin membuat hati ku semakin panas.

Raja melirik ku sejenak kemudian beralih ke Ibu Suri kembali,"Ya."

Pria itu benar-benar bangkit dari duduknya,"Ayo Kasim!"

"Mari Yang Mulia."

Aku memandangi kepergian dua orang itu, saat pandangan ku beralih ke depan. Di sana Ibu Suri tengah memperhatikan ku bersama smirk nya yang terkesan jahat.

"Sepertinya suami mu begitu bersemangat dengan pernikahannya ini!"ucapnya tersenyum menang. Kemudian mulai menikmati hidangan bersama raut wajah yang seakan tengah mentertawakan ku.

Aku terdiam. Ingin sekali aku pergi dari sini seperti yang dilakukan Raja. Tapi itu tidak lebih akan menjadi boomerang bagi ku dikemudian hari. Jadi dengan terpaksa aku memakan hidangan ini, meski rasanya begitu pahit ketika masuk ke tenggorokan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED