"Permaisuri, kau begitu cantik!"tutur Arjuna (Raja Xie) seraya mengelus lembut wajah wanita di bawahnya dengan jari jemari. Padahal wanita itu tidak lain hanya seorang penghibur. Dl
"Wah, apakah kau mau menjadikan aku permaisuri setelah ini?!"ucap wanita itu ngomong kosong, membuat mata pria diatasnya melebar hebat.
Arjuna bangkit dan menarik wanita itu kemudian mendorongnya kasar,"Keluar sekarang!"gertak nya tanpa ampun.
Sambil bersungut-sungut wanita itu keluar dengan kondisi rambut hampir tergerai, aksesoris pun berantakan menggantung di rambut kusut itu.
Untung Raja! Kalau tidak, aku tidak ingin ke sini lagi jika dipanggil!
Sam Fuu selaku kasim melemparkan sekantung koin dan menyuruhnya pergi. Sebelum melangkahkan kaki, dia menunjuk seorang perempuan yang tengah berdiri tak jauh dari keberadaan kasim.
Dengan tidak sopan dia berkata sambil merentangkan jari telunjuknya,"Apa gadis ini selanjutnya?!"
Sontak perkataan yang sangat tidak sopan untuk ditunjukkan pada seorang Permaisuri membuat kedua orang di sana meradang.
Sebagai sosok yang ditunjuk. Irene benar-benar marah, namun sekuat tenaga dia tahan kemarahan itu agar tidak keluar. Meski rasa sakit dihatinya bertambah karena dihina oleh seorang wanita yang sudah menghabiskan malam dengan suaminya sendiri.
Tak ayal mata Sam pun ikut memerah seraya mengeratkan gigi dan berkata,"Berani-beraninya kau jal*ng rend_"
Segera Irene ber-isyarat agar pria itu menghentikan ucapannya. Menatap wanita itu sedingin es, dan berkata,"Aku adalah seorang bangsawan. Kau berani menghina ku seperti ini, akan ku pastikan hidupmu lebih hancur."
Aku sudah berbohong!
"O-oh baiklah, ampuni aku. Tapi kau jangan menyalahkan penglihatan ku. Rambut mu sama sekali tidak mencerminkan seorang bangsawan. Permisi Lady."respon wanita itu memperbaiki kemudian posisi selimutnya.
Bisa-bisanya! Jika dia tahu aku adalah permaisuri, kira-kira apa responnya?!
Dari awal Irene tidak pernah bermimpi untuk menjadi permaisuri. Namun takdir ternyata membawanya pada kedudukan ini. Jadi, tidak salah jika dia berusaha untuk mempertahankan, semuanya, dari aspek a-z. Termasuk keangkuhan? Bukan keangkuhan, hanya saja hal-hal yang pantas untuk didapatkan, tentu harus diterima.
"Wajahnya begitu cantik. Sesuai dengan pekerjaan ini."lanjut wanita itu dengan suara samar. Namun kalimat-kalimat itu masih terdengar oleh Permaisuri.
Cantik? Secantik apapun diriku, itu sia-sia saja. Menyentuh tubuhku pun Raja sangat enggan.
Tidak dipungkiri bahwa Irene adalah Permaisuri yang berasal dari Putri Pilihan (Menurut rumor, hanya dirinya yang tersisa). Konon, Putri Pilihan menyembunyikan paras yang begitu cantik. Kerajaan yang ingin menikahinya harus langsung memberikan posisi yang cukup tinggi, tanpa adanya sebuah ajang pemilihan.
"Apa ada lagi Kasim?"ucap Irene. Dia tidak pernah memperlihatkan wajah kekecewaan atau marah. Mungkin sudah terbiasa, mungkin.
"Tidak ada lagi Yang Mulia. Dia yang terakhir."ukiran senyum tipis terpancar dari wajah cantiknya.
"Aku akan segera membawa air hangat Yang Mulia."
"Bagus lah. Aku yang akan menjaga Raja."
Irene pun masuk ke aula Raja. Mendudukkan diri di samping Arjuna lalu mengusap wajah tampan itu dengan ibu jarinya. Tak lupa merapikan pakaian polos berwarna putih yang begitu berantakan.
"Raja ku."ucapnya sembari mengusap-usap surai rambut hitam Arjuna, kemudian dia mencium kening sang suami.
Kasim Fuu menyaksikan pemandangan itu membuat langkahnya terhenti sejenak. Setelah bibir Permaisuri terlepas dari kening Raja. Dia baru masuk bersama wadah tembaga berisi air hangat. Karena ini sudah larut malam, dirinya harus bersegera.
Sam pun menaruh bejana tembaga berisi air beserta handuk kecil di samping Irene.
"Terimakasih Kasim."pria itu menunduk hormat kemudian lekas pergi.
Irene menaikkan sedikit lengan bajunya, membasuh kain dengan air hangat lalu memerasnya. Membersihkan badan Arjuna yang setengah telanjang, tak lupa menyeka beberapa kotoran kecil di telinga dan sudut mata. Dirinya sudah seperti orang yang tengah memandikan seorang bayi.
Irene tersenyum melihat kondisi sang raja yang kini sudah bersih. Namun senyuman itu bercampur dengan pancaran kekecewaan.
Kecewa terhadap siapa? Raja? Atau diri sendiri.
Tiga tahun yang lalu ketika dirinya melakukan hal sama seperti ini setiap malam. Dia selalu menangis di samping sang raja tanpa membuatnya terbangun.
Namun, kini seolah hatinya telah kebal terhadap rasa sakit ini. Bukan, bukan hatinya yang kebal. Tapi, mata ini sudah cukup lelah untuk menangis dan terus menangis.
Cup!
Irene mencium kening Arjuna,"Aku mencintaimu."ucapnya kemudian tersenyum, lalu beranjak pergi meski ragu.
Ketika Irene berada di ujung pintu, terdengar suara orang mengigau, langkahnya pun terhenti tanpa diminta.
"Permaisuri ku!"lirih Arjuna di sela tidurnya.
Perempuan itu hanya bisa tertegun. Jika yang dimaksud permaisuri itu adalah dirinya, tentu saja dia bahagia. Namun dia tidak ingin berharap lebih. Bisa saja permaisuri yang dimaksud adalah mendiang Permaisuri Jie Jenna.
Flashback on
Arjuna mengangkat paksa dagu Irene (Permaisuri Kang sekarang) yang semula tengah menunduk sambil menangis.
"Ternyata kau tidak lebih hanya sekedar seorang gadis rendahan seperti Permaisuri Jie! Hm, BAHKAN DI MATAKU KAU LEBIH RENDAH!"gertak Arjuna membanting wajah Irene pada kalimat terakhir.
Flashback off
Tiga tahun yang lalu untuk pertama kali, Arjuna membanding-bandingkan dirinya dengan Permaisuri Jie.
Irene mengela nafas agar lebih tenang, kenangan itu memang tak jarang menghantui. Membalikkan tubuhnya ke arah sang raja, sejenak memandangi wajah Arjuna yang tengah tertidur pulas seperti bayi.
Pria itu memang sedari dulu menggemaskan!
Sejujurnya, Irene tidak ingin pergi, dia ingin menemani pria itu semalaman. Tapi itu tidak mungkin.
Keberadaan Sam diluar membuat gadis itu bertanya,"Kasim Fuu, anda masih di sini?"
Dengan sigap Sam mendahului Irene untuk menutup pintu Aula,"Tentu Yang Mulia, seperti biasa."ucapnya.
Irene senyum tipis bermakna terimakasih, kemudian melangkah turun, diikuti oleh Sam.
"Aku sudah terbiasa sendiri sekarang. Mungkin esok hari kau bisa pulang lebih awal."ucap Irene.
"Tidak Yang Mulia saya akan mengantarkan anda sampai Aula."balas Sam mantap.
Irene pun tidak ingin mencegah kebaikan hati sang kasim,"Terimakasih. Oh ya kasim, jangan lupa tolong siapkan sup untuk Yang Mulia di pagi hari, sekaligus minta obat pengar ke tabib. Sepertinya malam ini Raja terlalu banyak minum."
Aroma alkohol itu begitu menyeruak hingga seisi ruangan. Meski faktanya Irene tidak suka bau tersebut, namun rasa cinta dan kesetiannya pada Raja mengalahkan semua itu.
"Baik Yang Mulia."ucap Sam mantap. Dia kagum dengan sosok Permaisuri didepannya. Perempuan yang menjalani cobaan berat setiap hari, apalagi di malam hari, dia masih bisa mengukir senyuman se ramah ini.
"Yang Mulia."sambut Ily, p elayan pribadi Irene, setelah junjungannya masuk.
Segera Ily membantu Irene melepaskan pakaian luarnya, dan menyisakan pakaian polos warna putih tanpa noda.
"Saya akan buatkan teh."gesit Ily kemudian melenggang pergi ke dapur.
Menelik ke arah kasur empuk berwarna keemasan itu. Sudut bibir Irene terangkat mengingat malam pertamanya. Malam pertama yang tidak biasa.
Flashback on
Bahkan setelah menikah pun Raja Xie belum pernah menyentuh Selirnya. Meskipun ada beberapa rumor bahwa sang raja tidak begitu tertarik dengan Selir yang terlampau muda.
Beruntung, Arjuna mampu membungkam para penggosip itu dengan memperlihatkan kebersamaan dengan nya. Jika tidak, Irene sudah menjadi bulan-bulanan. Apalagi usianya terbilang muda, dan tak punya hasrat berkuasa. Berbeda dengan selir biasanya.
POV Irene a.k.a Selir Kang a.k.a Permaisuri Kang
Aku seorang Putri Pilihan, yang tidak begitu terurus oleh seorang Raja dari dinasti kecil yang sangat sibuk. Begitu juga ibunda, dia bergotongroyong ikut andil dalam mensejahterakan rakyat dan kerajaan kami.
Malam itu setelah penobatan ku menjadi Selir Utama. Aku menangis di pelukan raja karena aku merindukan kakak, kakak satu-satunya orang yang memperhatikan ku selama ini. Ya, yang aku rasakan seperti itu.
"Aku adalah kakak mu sekarang, kau tidak perlu khawatir."ucapnya sambil mengusap air mataku.
"Aku tidak percaya."tolak ku cepat. Raja memperhatikan wajah ku seperti tengah berpikir.
"Apa yang bisa membuat mu percaya?"
Di malam pertama pernikahan kami, Raja menyisir sekaligus mengepang rambutku. Menemani ku melukis dan sampai akhirnya aku melukis wajahnya.
Ya, dulu. Kakak Neul lah yang selalu melakukannya.
Flashback off
Irene merindukan itu, Irene merindukan Arjuna. Merindukan sosok pria itu disampingnya. Tak terasa air mata lolos begitu saja. Dia mencoba agar bulir air itu segera surut. Segera dia hapus dengan lembut karena tidak ingin berlarut-larut.
Di waktu yang sama Ily datang dengan membawa teh di atas nampan, Irene sedikit terkejut dibuatnya.
"Teh nya Yang Mulia."Irene mengangguk, kemudian meminum air berwarna kecoklatan itu dengan penuh etika.
Ingin sekali Ily berkata,"Apa anda sudah merasa lebih baik sekarang?"
Tapi urung. Junjungannya yakni tipe perempuan yang sangat membenci jika ada orang yang mengasihani.
Alasannya karena Irene tidak ingin membebani para pekerja dengan konflik internalnya bersama Raja. Meski Dayang pribadi dan pelayan Ily dekat dengannya, namun dia tidak ingin berbagi. Cukup dirinya dan Raja yang tahu. Dia berharap suatu saat masalah ini akan terselesaikan dengan cara mereka berdua. Ya, Irene sangat mengharapkan itu.
POV Permaisuri Kang Mi Irene
Aku teringat dengan kalimat yang wanita penghibur itu katakan. 'Rambut mu samasekali tidak mencerminkan seorang bangsawan'
Ya, ini sudah keputusan ku. Semenjak Raja suka minum, berburu dan bermain dengan perempuan lain. Diriku bersumpah untuk tidak menyanggul rambut hingga Raja berhenti melakukan itu semua.
Ini adalah cara ku membujuk pemilik semesta agar cobaan yang menyakitkan ini cepat berakhir.
Tiba-tiba di tengah perjalanan, aku melihat Raja dan kasim nya berjalan ke arah rombongan ku. Segera aku mengucap salam,"Salam Yang Mulia."Dia hanya melewati ku tanpa mengucap sepatah kata pun, bersama wajah datar dan dingin, seperti arca hidup.
Apa Raja jijik dengan hanya melihat wajah ku saja? Batin ku mulai aneh-aneh.
Di belakang tidak ada yang berani menyudutkan apalagi menggosip. Para pelayan dan dayang serta bawahan lain di seluruh istana tidak ada yang berani menjelekkan atau menyakiti ku dengan perkataan mereka.
Nasib orang-orang yang berani menggunjing ku di belakang, jika dia bangsawan akan diusir dari Istana sekaligus jabatan yang mereka duduki akan dicabut oleh Raja hari itu juga. Dan, jika dia pelayan, dia akan dipenggal dalam arti dihukum mati.
Aku berpikir apa itu bentuk rasa sayang Raja?
Namun jika itu rasa sayang, kenapa dia tega membuat ku seperti angsa sekarat selama bertahun-tahun?
Ternyata beberapa saat setelah nya, secara tidak langsung aku mendapat jawaban dari praduga yang selalu berputar di otak ku.
"Hanya aku yang berhak menyakiti mu."ucap Raja dengan penuh penekanan pada saat itu.
Mengingat kembali kalimat ini, membuat ku ingin menangis. Apa rasa bencinya begitu besar? Apa dosa itu begitu besar di matanya?
Huh! Sekarang, bahkan untuk bernafas pun seolah sulit.
Author POV
Tak terasa Irene sudah sampai di ujung pintu Aula Ibu Suri. Dia pun masuk bersama dayang nya untuk melakukan penghormatan.
Irene duduk bersimpuh di depan junjungan dan berkata,"Salam hormat Yang Mulia Ibu Suri. Semoga anda panjang umur dan hidup 1000 tahun lagi."tutur Irene memberi penghormatan sekaligus doa.
Tan Eve, sebagai Dayang Permaisuri pun ikut memberi hormat juga setelahnya, kemudian dia bangkit dan menaruh sesuatu di atas meja panjang yang berada tepat didepan Ibu Suri Shin.
"Bisakah kau meninggalkan kami berdua?!"pertanyaan bernada perintah itu keluar dari mulut Shin.
Sejenak Eve melirik Irene, setelahnya dia langsung mendapatkan anggukan 'Tidak apa-apa'. Dia pun segera melangkah ke luar setelah melakukan penghormatan. Sebenarnya, Eve cukup cemas jika meninggalkan junjungannya ini bersama Ibu Suri.
Wanita paruh baya itu membuka kotak merah pemberian sang menantu,"Jika seratus kali sehari pun kau memberi hadiah kepada ku, itu tidak akan cukup!"tukasnya.
Sejujurnya wanita itu cukup takjub setelah melihat isi dari kotak merah maroon yang dipegangnya kini. Namun dia berusaha untuk menyembunyikan rasa senang yang dirasakannya.
"Kau mengerti apa maksud ku Permaisuri?"
Gadis itu berusaha untuk tersenyum manis,"Tentu saja Yang Mulia."
Shin menghela nafas,"Usaha mu untuk membuat Kerajaan kita lebih makmur itu pun belum cukup, karena kau tidak mampu melakukan kewajiban utama sebagai seorang istri."
"Di sini Aku tidak ingin membuat mu selalu terpojok."perkataan itu terhenti sejenak.
"Jadi, aku memutuskan untuk menjodohkan Raja dengan Anya, Putri Jin dari Kerajaan Tenggara."
Deg!
Seketika Irene menundukkan kepalanya perlahan karena terlampau kaget. Raut wajahnya masih memperlihatkan ketenangan, namun tidak dengan hatinya. Hatinya begitu hancur mendengar keputusan Ibu Suri.
"Kau pasti sudah tahu, dia adalah adik dari Permaisuri terdahulu. Jadi kau mungkin tidak akan merasa canggung."lanjut Shin terdengar ringan, bahkan cenderung menyepelekan.
Entah itu dekat atau tidak. Perasaannya tetap sama, yaitu cemburu.
Ucapan-ucapan yang menusuk dan bermakna hinaan dari Ibu Suri setiap harinya tidak lebih menyakitkan daripada peryataan itu.
Tubuh Irene terasa panas, angin sepoi-sepoi yang masuk dari jendela pun seolah tidak berguna. Keringat dingin membasahi pelipis dan setiap helai anak rambutnya.
Dia cemburu. Sekarang ada seorang wanita lain yang akan menjadi istri sah suaminya. Hal yang membuat dirinya beda dengan wanita-wanita yang bermalam dengan raja kini pupus sudah.
Kini posisi istimewa itu sirna. Ada wanita lain yang akan memiliki kedudukan sama di mata Raja sebagai seorang suami.
Pikiran Irene kembali memutar memori. Dulu, ketika dirinya di nobatkan sebagai Selir. Apakah perasaan Permaisuri Jie pun sama seperti perasaan yang dialaminya kini?
Namun nyatanya, dirinya juga tidak ingin menjadi Selir Raja pada waktu itu. Tapi ayahnya lah yang meminta, demi kemakmuran dinasti tempat dia dilahirkan dan yang lainnya.
Apa Putri Jin juga seperti itu? Tidak ada pilihan lain selain menerima dan pasrah. Seperti dirinya dulu.
Serpihan hati ini tidak sengaja dihancurkan. Bahkan, mungkin sosok Anya pun tidak berniat untuk melukai perasaan ini.
Harusnya sedari dulu Irene berpikir lebih jauh mengenai resiko sebagai permaisuri. Bahkan patutnya dia bersyukur, meski di mata Raja Jun posisi mereka sama. Tapi posisi di pemerintahan kerajaan tentu dirinya lebih tinggi. Irene tetap menjadi Ibu dari Kerajaan ini.
"Tanpa persetujuan dari mu pun ibu akan tetap melakukannya."Belum sempat Irene menjawab, Ibu Suri sudah melangkahinya dengan perkataan yang begitu merendahkan dirinya sebagai seorang istri.
Irene tidak mampu berkata-kata lagi selain mengulas senyum. Dirinya tidak ingin semakin dibenci oleh wanita paruh baya ini akibat ucapannya yang mungkin nanti akan membuat dia tersinggung.
Irene memang tipikal yang sangat berhati-hati dalam bicara, terutama pada Ibu Suri dan Raja. Dia sadar diri akan segala kekurangan yang dimiliki.
Namun nyatanya Shin dan Arjuna begitu asyik meneropong satu titik hitam yang ada pada gadis ini. Tanpa melihat garis-garis putih yang dimilikinya yang patut mereka hargai.
"Meskipun begitu aku ingin membicarakan hal ini dengan mu dan Raja. Karena aku tidak ingin bertengkar dengan putra ku lagi, hanya karena ibunya tidak menghargai mu."ucap Shin dengan nada malas dan seperti sudah merasa jengah. Di akhiri dengan gumaman rendah dan kesal yang berbunyi,"Apalagi jika aku menyebut mu perempuan mandul. Bisa-bisa dia menjadi anak durhaka."
"Hari ini aku memintanya untuk makan malam bersama. Kau juga harus datang tepat waktu."lanjut Shin memberikan perintah.
Nyatanya Irene adalah orang yang disiplin. Dia bukan tipe orang ceroboh yang secara tidak langsung dilontarkan oleh Ibu Suri Shin.
Dari awal ketika dirinya dinobatkan sebagai Selir hingga sekarang menjadi Permaisuri. Irene tidak pernah terlambat untuk memberi penghormatan kepada Ibu Suri di pagi hari.
Kebanyakan kata-kata yang keluar dari mulut Shin mengenai Irene tak lebih hanya sekedar omong kosong. Itu semua agar reputasinya di hadapan sang mertua semakin buruk.
"Jangan lupa kau siap kan kata-kata agar makan malam itu berakhir dengan cepat."ucapan Shin begitu menukik hati gadis itu.
POV Permaisuri Kang Mi Irene
Malam cepat tiba. Padahal aku berharap waktu berhenti di siang hari, jika seperti itu artinya kiamat tiba.
Ya, keputusan Ibu Suri untuk menikahkan putranya lagi dan ironisnya aku tidak bisa menolak, itu sama saja seperti kiamat bagi hatiku. Sepertinya hati ini akan semakin mati rasa. Cobaan seperti itu akan membuat hati ku semakin kebal.
Diam-diam aku menyuruh Ily untuk menyewa seorang perias terbaik di negeri ini. Yakni dari kerajaan dimana kakak ku memimpin, Kerajaan Timur.
Aku memasuki kamar Ibu Suri dengan begitu percaya diri. Berharap dengan kecantikan ku ini mampu meluluhkan hati Raja dan keputusan Ibu Suri berakhir ditolak olehnya.
Para pelayan Ibu Suri berlalu lalang di ruangan makan. Ternyata jamuan makan malam belum selesai di siapkan oleh Ibu Suri.
Tiba-tiba wanita paruh baya itu keluar dari kamarnya. Sejenak dia memandangi ku dari atas sampai bawah.
Bukan aku terlalu percaya diri, tapi sorot matanya menggambarkan ketakjuban, namun lama kelamaan raut wajahnya memandang iri padaku, dia menyeringai seperti orang jahat. Aku menyebutnya 'seperti'.
Tiba-tiba ekspresi nya berubah macam orang terkejut. "Astaga Permaisuri!!! Kau datang terlalu cepat! Siang tadi ibu sudah bilang padamu, untuk datang di seperempat malam."ucapnya dengan sengaja meracau agar terdengar oleh para pelayan dan ketiga dayang nya serta dayang ku, Eve.
Akting Ibu Suri memang mudah terbaca, karena dia memang terang-terangan memperlihatkan rasa tidak sukanya padaku agar membuat ku untuk sadar bahwa diriku adalah menantu yang tidak diinginkan.
"Kau ini sengaja membuat reputasi ku buruk karena tak becus menyiapkan makan malam untuk mu dan Raja kan?!"terdengar hela nafas dari Ibu Suri setelah itu.
"Untung saja Raja tidak datang lebih awal seperti biasa. Jika tidak, dia akan memarahi ku karena seakan-akan ibu mempermainkan istrinya!"lanjutnya sambil memijit pelipis.
"Ck. Cepat selesaikan jamuan ini! Nyonya besar sudah kemari! Cepat!"perintahnya sambil berteriak.
"Dia tidak sadar diri, jika posisi ku lebih tinggi di sini. Wanita tak tahu diri!"gumam Ibu Suri di kepergiannya.
Aku hanya termenung. Kedua mata ini terasa panas, namun aku berusaha agar air mata itu tidak jatuh dari sana.
Perlakuan Ibu Suri bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Tahun lalu, untuk pertama kalinya semenjak aku menjadi Ratu. Ibu Suri mengundang ku makan malam juga dengan jadwal yang berbeda. Pada saat itu aku hanya disuruh olehnya untuk membantu para pelayan mempersiapkan jamuan agar cepat selesai.
Tapi hari ini dia membuat ku seolah-olah aku adalah Permaisuri jahat yang haus akan kekuasaan dan tak memiliki perilaku baik pada mertuanya sendiri.
Aku kira menyakiti ku dengan menikahkan suami ku lagi cukup baginya. Ternyata tidak.
Ya sudah. Kali ini aku terlalu bodoh. Bertindak tanpa perhitungan. Dua dari sepuluh rencana Ibu Suri untuk mempermalukan diriku berhasil tanpa kendala.
"Biar aku bantu?!"aku menawarkan diri pada salah satu pelayan.
"Tidak perlu Yang Mulia. Anda bisa menung_mmm."pelayan itu segera membawa sebuah kursi dan meletakkannya tak jauh dari ku.
Dia tersenyum,"Anda istirahat saja Yang Mulia. Kami akan menyelesaikannya dengan cepat!"
"Benar kan teman-teman?!"tanya kepala pelayan pada anak-anak buahnya.
"Ya Yang Mulia."ucap mereka serempak.
"Anda jangan khawatir!"celetuk salah satu dari mereka. Aku tersenyum haru. Dalam hati, aku berterimakasih kepada semua pekerja disini.
Aku melirik Eve, dia tersenyum ke arahku penuh arti.
Eve, kau yang melakukan semua ini. Kau membuat para pelayan mempercayai ku. Terimakasih karena selalu memperhatikan ku. Bahkan ketika aku lengah, dengan cepat kau menyadarinya.
Tak lama, para pelayan pun berhasil menyelesaikan pekerjaan mereka dengan cepat.
"RAJA XIE DATANG MEMASUKI AULA IBU SURI."gema salah satu penjaga dari sana. Aku segera mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Para pelayan berduyun-duyun memperbaiki tata jamuan agar terlihat lebih rapi lalu segera pergi.
Raja masuk ke ruangan ini. Terlihat dari samping dia begitu tampan, apalagi jika tampak secara keseluruhan, pria itu akan lebih tampan.
Dia melirikku ketika aku memberikan salam padanya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, kemudian dia mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya menerima salam ku.
Hanya seperti itu saja. Aku sudah senang.
Dia duduk didepan. Kami saling berhadapan. Itu membuat ku gugup. Aku mencoba mengulas senyum kecil untuk nya agar suasananya tidak terlalu mencekam seperti ini. Namun sayang tak terbalas, ekspresinya tetap datar seperti arca hidup.
"Kau datang lebih awal?"ucap Raja membuat ku terkejut sekaligus senang. Tapi setelahnya bertanya pria itu langsung membuang muka.
Apa dia menyesal dengan ucapannya tadi?!
Tidak masalah. Ditanya saja itu sudah sebuah kebahagiaan untuk ku. Sesederhana itu kah? Ya.
Aku menjawab dengan ulasan senyum setelahnya,"Ya Yang Mulia. Saya tidak ingin terlambat."
"Kau sangat bersemangat dengan pertemuan ini hm?"pertanyaan itu membuat bibir ku sulit bergerak karena bingung untuk menjawab.
Jika aku jawab ya, itu tidak lah mungkin.
Namun, jika aku jawab tidak, apa dia akan berpikir bahwa aku tidak menyukai pertemuan ku dengannya?
"Saya ingin melakukan yang terbaik sebagai seorang_"
"Anak ku!!!"suara ku tenggelam oleh panggilan Ibu Suri yang begitu menggelegar.
"Tam-mu!"aku melihat pandangan Raja sudah beralih ke Ibu Suri.
Apa dia mendengar jawaban ku? Aku harap 'Ya'. Jujur aku cukup cemas.
Tolonglah pemilik semesta!!!
Kini anggota jamuan kecil sudah lengkap. Sebelum kita menyantap hidangan itu. Ibu Suri sudah berancang-ancang untuk menjelaskan mengenai alasan aku dan raja dikumpulkan.
"Junnie-ah."ibu Suri memanggil Raja menggunakan nama kesayangannya. Aku berusaha menahan untuk tidak tertawa.
Ya. Raja Xie adalah putra tunggal Ibu Suri. Tak heran jika pria itu dimanja meski sudah dewasa.
"Aku memutuskan untuk menjodohkan mu dengan Putri Jin, dari Kerajaan Timur."Aku langsung menunduk sesaat setelah mendengar pertanyaan itu.
Tahan tahan! Jangan nangis, jangan nangis!
Mengangkat kepala seperti semula. Aku berusaha mengatur wajahku agar tetap tenang. Ku lihat Ibu Suri melirikku sejenak.
"Aku menyerahkan keputusan itu pada Permaisuri."tegas Raja.
Wanita itu tersenyum miring, kemudian menghadap ke arahku sembari mengulas senyum manis. Namun, tak lama raut wajahnya berubah menakutkan seperti sedang mengancam."Bagaimana Permaisuri?"
Dengan berat hati aku menjawab,"Saya setuju Yang Mulia Ibunda."
Aku benar-benar tidak berani melihat Yang Mulia Raja. Aku takut aku kebablasan menangis di sini.
"Mm, baiklah. Apa permaisuri juga yang mengambil keputusan perihal ketetapan pernikahan nya, Raja?"tanya Ibu Suri lagi.
Sejenak ruangan ini hening seketika, namun suara tegas dan lugas itu kembali terdengar,"Ya."
"Ibunda berencana untuk menggelar pesta pernikahan itu tiga hari lagi. Yon mengatakan bahwa hari itu hari yang baik. Bagaimana Permaisuri? Apa kau setuju?"
Aku terkejut bukan main. Secepat itu kah? Astaga, aku ingin sekali menolak. Tapi tatapan Ibu Suri membuat ku terintimidasi.
"Ya Ibunda, aku setuju."jawab ku.
Berat hati saat mengatakan itu.
"Tunggu Ibu!"pungkas Raja membuat ku terkejut.
"Aku keberatan dengan keputusan mu!"tolak Raja.
Apa? Dia menolak nya? Ku harap dia menolak pernikahan ini!
"Apa kau tidak setuju dengan tanggal pernikahan mu Putra ku?"tanya Ibu Suri.
Sejenak Raja melirik ku, kemudian ia berkata,"Ya."
"Baiklah! Ibunda kan hanya berencana. Istri mu yang memutuskan. Tapi sepertinya istri mu samasekali tidak memperhatikan perasaan sua_"
Aku hanya tertunduk mendengar ucapan yang keluar deras dari mulut Ibu Suri.
"Maaf Ibu, seperti aku tidak bisa melanjutkan makan malam ini."lanjut Raja di sela ucapan Ibu Suri yang memojokkan ku, dia hendak bangkit.
"Sebentar Putra ku. Apa kau mau mendiskusikan tanggal pernikahan mu dengan Yon sekarang?!"tanya Ibu Suri.
Wanita itu benar-benar ingin membuat hati ku semakin panas.
Raja melirik ku sejenak kemudian beralih ke Ibu Suri kembali,"Ya."
Pria itu benar-benar bangkit dari duduknya,"Ayo Kasim!"
"Mari Yang Mulia."
Aku memandangi kepergian dua orang itu, saat pandangan ku beralih ke depan. Di sana Ibu Suri tengah memperhatikan ku bersama smirk nya yang terkesan jahat.
"Sepertinya suami mu begitu bersemangat dengan pernikahannya ini!"ucapnya tersenyum menang. Kemudian mulai menikmati hidangan bersama raut wajah yang seakan tengah mentertawakan ku.
Aku terdiam. Ingin sekali aku pergi dari sini seperti yang dilakukan Raja. Tapi itu tidak lebih akan menjadi boomerang bagi ku dikemudian hari. Jadi dengan terpaksa aku memakan hidangan ini, meski rasanya begitu pahit ketika masuk ke tenggorokan.