"Bang, Mer pengen banget nonton X-Man Dark Phoenix. Mer boleh nonton kan, Bang? Cinema 21 deket ini. Mer tinggal ngesot aja udah nyampe sono. Boleh nggak, Bang? Boleh ya? Ya ya ya?"
Merlyn mengguncang-guncang bahu abangnya yang tengah membuatkan susu hamil untuk Bintang, istri tercintanya. Semenjak kedua orang tuanya tahu bahwa menantu kesayangan mereka hamil, mereka meminta agar abangnya dan Bintang tinggal bersama mereka semua. Kedua orang tuanya ingin agar Bintang ada yang memperhatikan dan menjaga. Beginilah keposesifan para pria-pria Diwangkara dalam menjaga wanita-wanita mereka. Mirip banget kayak kehidupan garingnya si Birdy, burung Kenari Yorkshire kesayangan ayahnya. Disayang-sayang, dielus-elus, untung aja nggak dijemur-jemur. Kalau Bintang beneran dijemur kayak si Birdy, bisa kering kerontang dia kalau habis dijemur tapi lupa diangkat. Kan gawat?
"Abang lagi mual-mual ini, Mer. Nggak bisa nemenin kamu. Bintang juga kurang begitu enak badan. Kamu tega apa kita ninggalin Bintang sama si bibik aja di rumah?"
Tian mengangsurkan susunya pada Bintang yang dengan patuh segera mengosongkan isi gelasnya. Ia tidak mau membuat Tian kecewa. Karena walaupun sedang mual-mual parah, suaminya itu tetap saja dengan telaten mengurusnya. Tian ini memang benar-benar suami siaga.
"Lah yang minta Abang nemenin Mer, siapa? Mer cuma minta izin pergi sendiri, Bang. Bukan minta Abang temenin. Kalau Mer nggak boleh bawa si Thunder juga nggak apa-apa kok. Mer pesen Gra* aja. Ya, Bang ya?"
Merlyn kembali berusaha merayu abangnya. Dan sialnya, abangnya pura-pura tidak mendengarkan rengekannya. Santai beut bawaannya. Alamat batal nonton lah ini. Namun saat terdengar suara mobil yang mendekat, Merlyn tersenyum sumringah. Bala bantuan telah datang. Kalau anak sholehah mah, pasti ada saja jalan keluarnya. Merlyn bergegas mendekati jendela. Mengintip siapa saja yang ada di dalam mobil. Ternyata hanya Mang Yayat seorang yang keluar. Kehadiran bundanya tidak terlihat sama sekali. Pertanda baik. Hehehe.
"Nah itu Mang Yayat udah pulang. Tapi bundanya nggak ada. Berarti bunda bakalan lama di rumahnya Tante Maddie. Mer minta dianterin sama
Mang Yayat aja ya, Bang?" Dan lagi-lagi abangnya menulikan telinganya. Pura-pura tidak mendengar kalimatnya. Merlyn jadi empet banget melihatnya.
"Abang ini semenjak pekak jadi sombong kali lah Mer lihat. Beneran dibikin pekak sama Tuhan, baru Abang tahu rasa," Merlyn kesal sekali karena terus dikacangin oleh abangnya. Mungkin sebaiknya ia meminta bantuan kakak iparnya. Biasanya abangnya ini kan manut banget sama istrinya.
"Bi, bilangin laki lo dong izinin gue pergi. Lo ajak ngapain kek dia di kamar. Ntah main ludo, monopoli atau kuda-kudaan. Pokoknya jauh-jauh dari gue aja." Bisik Merlyn pelan. Abangnya ini kan cinta banget sama Bintang. Kali aja dia nurut kalau dibujuk kakak iparnya.
Bintang menghela napas pasrah. Apa boleh buat, ia kasihan juga pada ipar naifnya ini. Keposesifan mertua dan suaminya, membuat kakak iparnya ini bagai dipenjara di dalam rumahnya sendiri. Ia akan mencoba membantu membujuk suaminya agar memberi sedikit ruang pada kakak iparnya. Semoga saja usahanya membuahkan hasil.
"Izinin aja kenapa sih, Kak? Kasian itu Mer udah ngebet banget pengen nonton. Tiap hari ngendon di rumah kan dia bosan juga. Kakak masih mual-mual ya? Mau Bintang pijitin nggak?" Bintang mengelus-elus lengan suaminya dengan mesra. Terpaksa memanipulasi suaminya sendiri demi meluluskan keinginan adik iparnya. Merlyn terlihat senyum-senyum evil melihat aksinya.
Merlyn yang menyaksikan secara live aksi rayuan maut Bintang, tersenyum bahagia. Abangnya pasti klepek-klepek kalo udah dielus-elus Bintang. Kakak iparnya ini walaupun usianya lebih muda darinya, tapi tingkahnya dewasa banget. Anak ibu guru gitu lho. Bukannya anak bunda oneng. Eh itu mah gue! Durhaka banget ngebatinin bunda sendiri. Maafin Merlyn ya, Bun?
Abangnya tidak mengucapkan apa-apa, tetapi tangannya merogoh saku, meraih ponselnya. "Hallo Tama, lo tadi siang bilang mau nonton X-Man Dark Phoenix kan? Gue nitip adek gue, bisa nggak? Oke... oke... gue akan suruh dia siap-siap sekarang juga." Tian menutup teleponnya. Merlyn cemberut. Seperti biasa, abangnya pasti akan menitipkannya pada Naratama Abiyaksa lagi. Dia sih sebenarnya nggak apa-apa. Toh Bang Tama baik ini. Tapi pacar judesnya itu lo, si Karina Winardi. Kerjanya ngoceh-ngoceh mulu kalau dia ikut. Mbencekno banget rasanya.
"Bang, masak Mer ikut nonton sama Bang Tama dan Karin lagi? Ntar Karinnya ngomel-ngomel mulu lagi dari mulai filmnya tayang sampai filmnya kelar, kayak bulan lalu. Mer sampai lupa jalan cerita filmnya tapi malah inget semua kata-kata omelannya Karin. Lepas tu--"
"Ohhhh... jadi kamu nggak mau nonton nih? Yah udah, Abang batalin aja ya sama Tama. Ntar dia capek-capek jemput ke sini kamunya malah nggak mau--"
"Mau dong, Bang. Mau bingits. Bentar Mer ganti baju dulu." Merlyn buru-buru mengangguk saat melihat abangnya bermaksud untuk menelepon Tama lagi. Dari pada tidak jadi menonton, lebih baik ia menebalkan telinganya. Anggap saja Karina itu si Leo, burung beo ayahnya. Ngoceh, ngoceh dah sana. Yang penting ia bisa ikut nonton. Titik. Demi mempersingkat waktu, ia segera mempersiapkan diri. Sepuluh menit kemudian, ia sudah rapi dengan minidress putih gading dan sebotol air mineral di tangan.
"Ngapain kamu bawa-bawa air mineral segala, Mer? Kan nggak dibolehin bawa makanan dan minuman dari luar. Ntar kamu kena razia lagi."
Tian benar-benar speechless melihat tingkah adik semata wayangnya yang iritnya tidak ketolongan. Bila biasanya para wanita akan berdandan paripurna dengan menyelipkan sebuah clutch mungil nan anggun di tangan mereka, tapi adik iritnya ini melengkapinya dengan oversize bag yang berisi berbagai cemilan dan sekaligus air mineral.
"Habisnya mereka jualan harganya nggak kira-kira sih, Bang. Masak aqu* yang biasanya harga empat ribu di sana jadi dua puluh ribu? Yang pengen kali lah mereka itu cepat kaya. Bagusan Mer bawa cemilan dan air minum sendiri dari rumah. Supaya nggak ketahuan, ya dimasukin dong semuanya dalam tas besar. Abang sih otaknya nggak dipake mikir. Boros kan jadinya?" Merlyn bangga sekali dengan pemikiran cerdasnya yang inovatif. Ia heran melihat cara berpikir orang-orang termasuk abangnya yang sangat boros di luaran. Kalau bisa menghemat, ngapain juga buang-buang uang? Oon beut mereka semua kan?
"Tanggung amat kalau kamu cuma bawa makanan dan minuman. Kursi nggak sekalian kamu bawa aja dari rumah, Mer?" Sindir Tian sarkas. Adiknya ini memang kebangetan dalam segala hal.
"Wuidihhh... Abang tau aja apa yang ada di otak Mer. Tadi rencananya sih emang mau dibawa. Tapi kan kursinya besar. Ntar takutnya nggak muat lagi mau dimasukin ke mobilnya Bang Tama." Tian hanya bisa mengelus dada saja. Cara berpikir adiknya tidak mengalami perkembangan seiring dengan pertambahan usianya. Mentok seperti cara berpikirnya anak SD.
Tin... tin... tin...
Mendengar suara klakson mobil, Merlyn segera mencanglong tas besar dan memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. Tama telah tiba di pintu gerbang.
"Jangan ke mana-mana sendirian. Kalau mau ke toilet, minta dianterin sama Tama. Jangan gangguin orang pacaran, dan tidak boleh apa-apa minta dibayarin sama orang. Pakai uang kamu sendiri. Mengerti, Mer?" Tian kembali mengulangi pesan-pesannya.
"Iya, Bang. Mer juga mau nitip pesen untuk Abang. Kalau Bintang ngidam mangga muda, Abang jangan ikutan ngidam bini muda ya? Riweuh nanti urusannya." Bintang dan Tian saling berpandangan. Tumben incess oneng kali ini nasehatnya bener. Signalnya sedang bagus kali ya?
"Makasih ya, Mer. Kamu memang adik ipar yang baik. Peduli sama perasaan sesama wanita." Bintang terharu me dengar dukungan penuh adik iparnya terhadap dirinya. Merlyn menggeleng. Kakak iparnya telah salah mengartikan maksud dari kata-katanya.
"Bukan itu maksud dan tujuan gue nasehatin Bang Tian, Bi."
"Lho jadi?" Bintang menjinjitkan alis nya.
"Karena punya bini satu aja yang lagi hamil, Bang Tian udah riweuh banget ngidamnya. Sampai nggak ada waktu buat gue. Apalagi nambah satu lagi. Kan makin merana guenya. Ye kan?" Tian dan Bintang kembali berpandangan. Ternyata kinerja otak Merlyn ini masih sama, selain jawabannya tidak terduga, kejujurannya juga luar biasa!
=================================
"Mas kenapa sih nggak bisa nolak semua permintaan, Tian? Masa setiap kita mau kencan wajib bawa-bawa ini dakocan sebiji sih?" Omelan pertama Karina langsung berkumandang saat ia masuk ke dalam mobil.
Merlyn menghela nafas panjang. Selalu saja begini. Sebenarnya ia juga ingin sekali mengatakan kalau dia juga tidak kepengen jadi obat nyamuk dan mengintili orang pacaran. Tapi mau bagaimana lagi, abangnya memang seperti itu. Tian hanya mempercayai Tama sebagai penggantinya untuk mengawalnya. Menurut abangnya, Tama lolos kualifikasi menjadi pengawalnya karena dua hal. Pertama siapa yang tidak kenal dengan Naratama Abiyaksa? Putra sulung Narasangsa Abiyaksa dan Camelia Abiyaksa? Kedua orang tuanya adalah mantan jagoannya Green Hill Muay Thai Indonesia yang kini dikelola oleh dr. Arshaka Abiyaksa SpOG, pamannya. Si Tama ini sepertinya bahkan sudah belajar ilmu bela diri sejak dalam kandungannya Tante Lia. Jadi siapa yang berani macam-macam dengan wanita yang ada dalam perlindungannya?
Kedua, Tama SUDAH punya pacar. Garis bawahi kata sudahnya dengan bolpen merah dua kali tebal-tebal. Jadi menurut abangnya, Tama tidak bakal modusin dia lagi. Aman sentosa kondusif serba guna, kalau memakai bahasa abangnya. Kata serba gunanya itu lo, kayak margarine aja serba guna. Ye kan? Kini ia kembali menjadi pendengar budiman. Mendengarkan dengan seksama percakapan absurd dua sejoli yang sedang mendiskusikan dirinya seolah-olah dia adalah makhuk tak kasat mata di sini.
"Ya kan tidak ada salahnya Mer ikut dengan kita, Rin? Kita kan memang sama-sama mau menonton. Lagian kan Mer juga udah gede, nggak perlu kita gendong-gendong lagi. Sudahlah, tidak perlu membesar-besarkan masalah yang tidak perlu." Tama mengelus pelan pipi pacar cantiknya. Karina kalau sudah ngomel panjangnya bahkan bisa mengalahkan rel kereta api panjangnya. Catet ya? rel nya, bukan kereta apinya. Kebayang 'kan panjangnya? Sebenarnya ia ikhlas-ikhlas saja dighibahin. Udah biasa mah ia dighibahin orang-orang. Tapi saat nama abangnya dibawa-bawa, ia merasa keberatan.
"Kok lo nyalahin abang gue sih, Rin? Kan abang gue cuma nanya, keberatan nggak kalau dia nitip gue sama Bang Tama? Kalo tadi Bang Tama bilang keberatan, abang gue juga nggak bakalan maksa kali. Bang Tama keberatan nggak ini Mer ikut?" Merlyn memandang Tama melalui kaca tengah mobil. Merlyn melihat Tama menggelengkan kepalanya. Berarti Tama sama sekali tidak keberatan. Aman sudah.
"Tuh, Bang Tamanya aja nggak keberatan. Berarti aman kan? Masalah selesai. Case closed." Merlyn mengibaskan tangan ke udara. Memutuskan secara sepihak bahwa perdebatan ini telah usai.
"Tapi gue keberatan!" Karina meneriakkan kata keberatannya sembari menoleh ke belakang. Tepat di depan wajahnya. Telinganya sampai pengeng mendengar suara cemprengnya.
"Oh lo keberatan? Ya udah, kalo gitu lo pulang aja sekarang. Hasil voting kan emang udah gue yang menang. Bang Tama nggak keberatan. Gue apalagi, sangat tidak berkeberatan. Dua banding satu. Lo yang kalah legowo dong. Yang kalah musti lapang dada. Apa mau diulang lagi? Boleh, biar gue tanya ulang sama Bang Ta--"
"Udah... udah... jangan diterusin lagi. Kita udah nyampe cinema ini." Tama pusing menghadapi dua orang wanita yang sama-sama tidak mau mengalah ini. Semakin cepat acara menonton ini usai, semakin baik. Otaknya sudah panas terus diceramahi Karina sepanjang jalan. Kalau ditambah dengan Merlyn lagi, bisa sakit kanker kepala dini ia lama-lama.
Walaupun terus diiringi dengan omelan Karina, mereka akhirnya sampai juga ke gedung cinema. Ramainya orang-orang yang mengantri masuk membuatnya mengambil posisi berdiri di belakang Tama. Ia malas berdiri di belakang Karin. Auranya bikin mood jelek saja.
"Kamu berdiri di belakang Karin saja, Mer. Biar Abang yang berdiri di belakang kamu," kalau Tama sudah bersabda, mau tidak mau ia mengalah juga. Ia baru saja berjalan tiga langkah saat suara krak yang diiringi desis kesakitan terdengar dari arah belakangnya. Seorang pria muda terlihat mengaduh-aduh kesakitan sembari memegangi tangannya yang bentuknya tampak aneh. Beberapa orang pria-pria muda lainnya terlihat menghampiri si pemuda, sambil menatap marah pada Tama. Ini sebenarnya ada apa sih? Merlyn menatap kerumunan kecil itu dengan bingung.
"Kenapa Anda mematahkan tangan saya?" Si Pemuda terlihat memelototi Tama. Beberapa temannya juga mulai berkerumun mengelilingi Tama yang terlihat santai-santai ganteng aja.
"Lo masih nanya kenapa? Baiklah berhubung lo dan gank lo semua sejenis kelamin sama gue, gue akan jelasin satu hal. Stop melakukan sexual harrasment, Bro. Lo punya nenek, ibu, tante, istri atau pacar dan adik perempuan kan? Hargailah perempuan, Bro. Lo pikir gue nggak ngeliat dari tadi mata lo ngarah kemana? Ke dada adek gue kan? Pertama gue diemin. Lo punya mata. Lo berhak memandang. Tapi begitu tangan lo mau pura-punya nyenggol dadanya, baru gue patahin sekalian. Lo mau nyangkal? Ini gue bahkan udah ngerekam tindakan tidak gentleman lo ini." Mer baru paham mengapa Tama marah. Rupanya mereka bermaksud untuk melecehkannya.
"Sexual harassment apaan? Gue cuman mandang, kan nggak salah? Adek lo cakep dan seksi. Bukan cuman gue yang mandangin. Semua laki-laki di sini juga begitu. Kalo lo bukan abangnya, pasti kelakuan lo juga akan sama dengan kami semua. Nggak usah munafik, Bro. Lo kan juga laki-laki."
Tama memang terlihat santai mendengarkan curhatan si pemuda. Tapi Merlyn tahu, Tama sudah memasang kuda-kuda. Gesture tubuhnya terlihat berbeda. Dipicu sedikit emosi saja, pasti habislah mereka semua. Menantang Tama itu cari mati namanya. Dia bahkan menjadikan berkelahi sebagai olah raga untuk mencari-cari keringat. Apa jadinya kalau dia benar-benar marah bukan? Hampir bisa dipastikan, hidung-hidung minimalis pria-pria di depannya ini akan mancung ke dalam semua dibuatnya. Lihat saja.
"Lo salah Bro. Segala tindakan yang berbau seksual dan membuat si korban merasa tidak nyaman atau dirugikan, itu sudah bisa dikategorikan sebagai tindakan pelecehan seksual. Mengenai sikap gue. Itu bukan urusan lo. Tapi kalo lo mau cari-cari keringat sama gue, ayo. Akan gue layani dengan senang hati."
Tama melakukan beberapa gerakan pemanasan sebelum dia berolah raga sejenak dengan beberapa begundal-begundal ingusan ini. Bunyi kertakan sendi-sendi tubuh Tama yang sedang melakukan warming up, sepertinya membuat jiper pemuda-pemuda tadi. Tanpa banyak cincong lagi mereka akhirnya memilih untuk membawa teman mereka ke rumah sakit dan tidak jadi menonton. Mer pun segera beraksi.
"Mas-Mas semua ini nggak jadi nontonnya?" Merlyn setengah berlari berusaha mensejajari gerombolan hidung minimalis itu.
"Nggak, Mbak. Mau bawa temen kami ke rumah sakit aja. Kenapa Mbak?" Bahasa mereka sudah mulai sopan. Sepertinya kata-kata Tama masuk juga ke dalam benak mereka semua.
"Tiket-tiketnya boleh buat saya? Sayang banget kan tiket mahal-mahal hangus semua. Kan lumayan tiketnya bisa saya jual la--"
"Ayo Mer. Filmnya sudah akan dimulai. Nanti kamu rugi, sudah membayar harga tikel full, durasinya malah berkurang lima menit. Incess irit mana lah boleh rugi, iya kan?" Tama membujuk Merlyn dengan menggunakan logika ala cara berpikir Merlyn. Dan biasanya cara ini selalu berhasil.
"Oh iya ya. Nanti Mer rugi. Ayo, Bang kita cepet-cepet masuk. Walau pun yang di tonton cuma iklan, tapi kan iklannya juga udah kita bayar. Jadi harus kita tonton juga supaya tidak rugi. Iyakan, Bang?" Tama tersenyum. Cara ini selalu berhasil kan? Merlyn ini orangnya tidak mau rugi. Bicarakan saja soal kerugian. Pasti ia akan langaung manut.
Tama menuntun Merlyn dan Karin masuk ke dalam gedung. Lampu memang sudah di padamkan sehingga suasana menjadi sedikit gelap. Ia takut kalau dua wanita ini tersandung atau terjatuh. Makanya ia menuntun keduanya dengan sabar. Setelah keduanya duduk dengan benar, Tama bergegas membeli beberapa camilan sebagi teman menonton mereka. Ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat betapa sesaknya tas Merlyn oleh aneka macam makanan kecil. Persiapannya juara sekali.
"Mas, nanti pulangnya kita singgah ke club ya? Udah lama banget kita nggak hang out ke sana kan, Mas. Ada beberapa teman Karin yang udah nungguin juga di sana. Mau ya, Mas?" Karin mengelus-elus lengan kekar Tama. Dia tahu Tama pasti bimbang karena adanya si incess oneng ini bersama dengan mereka. Inilah yang paling tidak disukai olehnya. Setiap mereka akan hang out ke tempat yang di banner dewasa, pasti si oneng ini tidak bisa dibawa. Ayah dan abangnya bisa mencincang Tama kalau tahu si oneng ini diajak dugem. Coba tadi kalau dia tidak ikut, pasti pacarnya tidak akan kebingungan seperti ini.
"Bang Tama pergi aja sama Karin. Mer nanti pulangnya dijemput sama Bang Tian, kok. Ini Bang Tian udah chat bilang bisa jemput Mer. Abang senang-senang sana gih sama Karin." Merlyn terpaksa berbohong. Ia kasihan Tama kebingungan harus memilih antara dirinya dan juga pacarnya. Lagi pula jam sebelas malam kan belum larut malam sekali. Ia akan naik taksi online saja pulangnya. Eh taksi mahal, bagusan dia naik ojek online aja. Murah, meriah cepet sampainya lagi. Cerdas dan cermat sekali hitung-hitungannya kan? Makanya ia suka bingung saat orang-orang selalu saja menyebutnya oneng? Oneng di mananya coba?
Yang sebenarnya oneng itu adalah apabila orang yang rumahnya cuma lima langkah dari tempat tujuan, tapi masih aja minta dijemput dan dianterin sama pacarnya yang rumahnya di ujung kulon sana. Itu baru keonengan hakiki yang sebenarnya. Ye kan?
"Kamu beneran ini nanti dijemput sama Tian, Mer? Kok Abang kayaknya nggak yakin dan percaya sama kata-kata kamu ini. Kamu nggak lagi bohongin Abang kan, Mer?"
Tama setengah hati mempercayai gadis imut berpikiran sederhana ini. Entah mengapa ia merasa seperti ada yang salah di sini. Saat ini mereka berada di parkiran cinema. Film telah usai dan Karin ribut terus ingin hang out di club. Ia setengah hati antara percaya dan tidak dengan kata-kata Merlyn.
"Abang memang nggak boleh yakin dan percaya sama Mer, Bang. Mer 'kan bukan Tuhan. Nanti Abang jadi musyirk lho kalau Abang yakin dan percaya sama Mer," Merlyn nyengir lebar. Ia berusaha untuk meyakinkan Tama. Udah, Abang jalan aja sama Karin kalau mau ke club. Mer nunggu Bang Tian nya di sini aja. Cepetan jalan, Bang. Itu udah di klakson-klakson sama pengemudi lain. Hattop, Bang." Akibat terus saja di klakson-klakson oleh pengemudi lain karena menghalangi jalan, Tama pun akhirnya melajukan mobilnya dan meninggalkan Merlyn sendirian di tempat parkir.
Merlyn merogoh-rogoh tas besarnya mencari ponselnya saat mobil Tama meninggalkan tempat parkir. Ia bermaksud untuk memesan ojek online. Tetapi nasibnya sedang tidak baik hari ini. Ponselnya mati karena kehabisan daya. Sementara dia sama sekali tidak membawa power bank. Tetapi kalau dipikir-pikir, buat apa juga juga dibawa-bawa. Orang power banknya juga rusak. Ia heran, tiga kali ia membeli power bank, tiga-tiganya rusak terus. Mulai yang bentuknya kecil kayak stabillo, persegi panjang gede warna putih dengan tulisan SAMSU**, sampai dengan yang gambarnya boneka lucu. Semuanya rusak. Pada nggak ada yang bener ini pabriknya power bank. Apa perlu ia mengusulkan pada ayahnya untuk membuka pabrik power bank ya?
Merlyn bingung. Bagaimana ia mau pulang coba? Mana sudah mulai gerimis lagi. Apes banget bukan? Memang ya, karma itu cepat sekali datangnya. Baru saja sepuluh menit yang lalu ia membohongi Tama. Sekarang ia sudah mendapatkan balasannya. Nasib... nasib...
Suasana tempat parkir cinema semakin lama semakin sepi. Orang-orang yang tadinya ramai menonton telah pulang satu persatu. Ketika mobil terakhir juga akhirnya meninggalkan tempat parkir, ia makin ketakutan. Mau tidak mau ia harus berjalan keluar gedung untuk mencari taksi konvensional. Yang artinya ia akan berjalan cukup jauh dengan sepatu high heelsnya yang seruncing pensil.
Saat ia baru saja mencapai jalan raya dan bermaksud duduk sebentar di dalam halte yang kosong, ia dikejutkan oleh suara-suara teriakan yang saling bersahut-sahutan dan langkah-langkah cepat orang-orang yang sedang berlarian. Suara-suara tembakan terdengar satu dua kali. Demi Tuhan, ia ketakutan! Ini sebenarnya ada apa sih? Shooting film action? Tapi kok tidak ada kameranya? Terus tidak ada lagi yang mengucapkan kata, action, cut, atau istilah-istilah film lainnya. Satu lagi, ia sama sekali tidak mendengar kata-kata, ekspresinya mana? Harusnya jikalau sedang shooting, wajib ada kata-kata seperti itu 'kan?
"Anda telah dikepung, Rudi. Berhenti! Berhenti!" Terdengar beberapa kali suara tembakan lagi sebelum terdengar suara bruk seperti benda jatuh. Sumpah serapah dan desis kesakitan menyusul setelahnya.
"Berdiri dan angkat tangan Anda! Anda siapa? Kaki tangannya Rudi? Kalau begitu ikut kami ke kantor. Cepat berdiri!" Merlyn merasa dengkulnya lemas seketika saat ia dibentak-bentak dan dipaksa untuk berdiri. Saat ini posisinya sedang berjongkok dipinggir halte. Ia juga mengubur kepalanya dalam-dalam di atas lututnya karena ketakutan. Kedua tangannya gemetaran hebat sembari menutupi kedua telinganya. Ia kedinginan akibat derasnya hujan dan ketakutan mendengar suara bentakan demi bentakan di atas tubuhnya.
"Tersangka telah dilumpuhkan dan saat ini telah dibawa ke rumah sakit dengan mobil patroli, Komandan. Kami semua akan segera kembali ke markas. Ada perintah lagi, komandan!"
Di tengah derasnya hujan Merlyn merasa sangat menyesal telah membohongi dua orang dalam waktu bersamaan hari ini. Pertama, ia telah membohongi petugas pintu masuk cinema karena telah melakukan kecurangan membawa makanan dan minuman dari luar. Padahal makanan dan minuman itu berasal dari rumahnya sendiri, dan bukan dari luar. Beda 'kan? Berarti ia tidak bohong-bohong amat.
Kedua, ia telah membohongi Tama. Pasti saat ini Tama sudah diinterogasi habis-habisan oleh abangnya, karena ia tidak sampai-sampai ke rumahnya. Makanya karma buruk langsung saja menimpanya. Sepertinya malam ini ia akan menginap di kantor polisi. Tapi dia memang salah 'kan? Padahal tadi ia sudah diperingatkan oleh abangnya kalau nanti ia bisa kena razia. Inilah jadinya kalau ia keras kepala dan mengabaikan nasehat orang lain. Di penjara nanti temannya galak-galak atau tidak ya? Jangan-jangan nanti ia di botakin dan dibully seperti sinetron-sinetron sakaratul maut di televisi. Ia takut sekali.
"Untuk sementara tidak, Gede. Kamu bawa saja Rudi ke rumah sakit. Setelah itu baru kita interogasi secara marathon. Dan wanita ini mungkin salah satu anak buahnya Rudi yang kemarin bertugas mengirim paket ke beberapa cinema dan club-club papan atas ibukota. Naik 'kan saja dia ke mobil patroli sekalian." Mer membeku. Orang ini sebenarnya shooting film apa sih? Mengapa ada kata-kata mobil patroli segala?
"Seharusnya orang-orang seperti mereka ini perlu sedikit menikmati rasa sakit karena telah berniat ingin menghancurkan generasi muda negeri ini. Ayo kamu berdiri! Kamu tidak mengerti bahasa Indonesia, hah? Ngapain kamu jongkok-jongkok terus di situ? Kamu tuli?!" Suara bentakan itu terasa dekat sekali di telinganya. Merlyn makin mengkeret. Semakin ia dibentak, maka semakin tidak bisa bekerjasamalah dengkulnya. Merlyn benar-benar lemas karena kedinginan dan ketakutan. Tapi dia memaksakan diri untuk berdiri tegak dan menaiki mobil patroli dengan langkah gemetaran tidak karuan. Tepat pada saat ia akan membuka pintu mobil, salah satu mobil patroli lainnya mengarahkan lampu ke arah tempatnya berdiri. Karena silau, Merlyn refleks mengangkat tangannya melindungi matanya. Beberapa aparat polisian yang sedang bertugas sejenak terkesima saat memandang wanita yang akan mereka amankan ke kantor polisi. Bagaimanapun mereka hanyalah laki-laki biasa. Keindahan ragawi Merlyn yang hanya menggunakan mini dress putih tanpa lengan, nyaris terlihat naked karena gaun tipisnya melekat erat bagai kulit kedua karena siraman air hujan.
"Merlyn? Sedang apa kamu di sini?" Galih kaget saat melihat gadis yang ditemuinya di kebun kopi Malabar, kini ada di depan matanya. Penampilan seperti ini lagi. Ia langsung melepas jaket kulitnya dan memakaikannya pada tubuh Merlyn. Penampakan tubuh indah Mer sepertinya telah membuat para anak buahnya mimisan semua karena mupeng. Galih bahkan menarik resleting jaketnya sampai ke atas leher Merlyn hingga nyaris mencekiknya hidup-hidup.
"A--Abang polisi?" Merlyn juga kaget saat mendapati polisi jutek yang di temui di kebun kopi sekarang ada di depan matanya.
"Hah? Abang?" Para petugas kepolisian saling memandang saat mendengar Merlyn memanggil Galih dengan sebutan abang, alih alih Pak Kompol atau Pak polisi. Mesra sekali kedengarannya bukan?
"Kondisikan mata kalian semua, Briptu Hendrawan, Bripda Gede, Bripda Indra!Kalian jalan saja duluan ke Rembang Solo. Nanti saya menyusul." Galih mengubah pembicaraannya dengan bahasa sandi, saat Merlyn yang nota bene adalah masyarakat sipil ada di antara mereka. Mereka memang mempunyai aturan untuk mengubah bahasa apabila ada masyarakat sipil di sekitar mereka. Bagaimanapun urusan mereka memang sangat rahasia.
Sementara Merlyn yang melihat para anak buah Galih sudah masuk semua ke dalam mobil patroli, ia juga hendak menyusul masuk. Tangannya baru saja bermaksud untuk membuka pintu mobil, saat suara ketus Galih menahannya.
"Mau ngapain kamu ikut ke kantor polisi? Kamu ingin merasakan tidur di hotel prodeo ya?" Galih menarik lengan Merlyn yang nyaris saja masuk ke dalam mobil patroli Bipda Gede.
"Di kantor polisi memangnya ada hotel ya, Bang? Padahal kalau di televisi 'kan cuma ruangan segi empat, terus dikasih jeruji besi. Kantor polisi punya Abang beda ya?" Tanya Merlyn bingung. Istimewa sekali berarti kantor polisinya si abang polisi ini. Ada hotelnya! Galih menghela napas panjang. Ia teringat kalau gadis ini memang sepertinya otaknya tidak berkembang.
"Sudah lupakan." Galih mengibaskan tangannya ke udara. Dia pusing harus menjelaskan mulai dari mana pada si oneng ini. Lebih aman kalau dia memutuskan saja topik pembahasannya. Buang-buang nafas saja saling beradu argumentasi dengan gadis yang otaknya cuma sebesar biji kacang ijo ini.
"Saya nggak jadi ditahan ini, Bang? Beneran ini saya bebas?" Merlyn mencoba meyakinkan keputusan Galih atas dirinya. Galih lagi-lagi menarik napas panjang. Memang membutuhkan kesabaran yang lebih dalam menghadapi gadis naif ini.
"Sekarang saya tanya. Kenapa kamu merasa kalau kamu harus ditahan. Apa kamu ini anak buahnya Rudi?"
"Rudi siapa? Rudi anak tukang tambal ban di pengkolan kompleks?" Tanya Merlyn bingung. Seingatnya satu-satunya orang yang bernama Rudi yang ia kenal adalah Rudi anaknya Cang Sueb. Tukang tambal ban di dekat kompleks perumahannya. Dia tidak mengenal Rudi yang lain.
"Bukan, Mer. Rudi gembong narkoba. Kamu anak buahnya ya?" Selidik Galih lagi. Merlyn dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak buah gembong narkoba? Lah dia aja pagi-pagi sarapannya masih minum susu, apa pantes jadi anak buahnya gembong narkoba? Si Cikur kucing Bik Sari aja bisa tertawa dengernya. Nggak ada pantes-pantesnya. Ye kan?
"Jadi kalau begitu ngapain kamu mau ikut naik ke mobil patroli segala?" Galih merasa lama-lama ia jadi seperti sedang menginterogasi anak TK alih-alih seorang wanita dewasa. Gadis ini childish sekali.
"Lah bukannya tadi Abang polisi yang menyuruh saya naik ke mobil patroli?" Tanya Mer bingung. "Ini ceritanya Abang polisi mau menangkap saya karena saya menyembunyikan ini semua di dalam tas 'kan waktu di cinema? Abang sedang merazia makanan dan minuman 'kan?" Merlyn membuka tas oversize bagnya dan memperlihatkan semua barang bawaannya. Sebotol air mineral, sebotol minuman soda, dan beberapa bungkus makanan ringan lainnya.
Astaghfirullahaladzim Allahuakbar! Galih memijat-mijat keningnya sendiri.
Berilah hambaMu ini kebesaran hati dan kesabaran yang berlebih dalam menghadapi kesederhanaan cara berpikir gadis ini, ya Allah. Aaminn.
"Bukan, Merlyn. Saya dan team Brawijaya 78 sedang menjalankan misi menangkap gembong Narkoba. Bukannya mau menangkap kamu. Lagi pula ngapain kamu tengah malam begini gentayangan di jalanan? Ayah dan abangmu kemana?"
Diingatkan pada keadaannya yang masih berada di jalanan pada pukul berapa ini? Merlyn melirik pergelangan tangannya. Pu--pukul dua belas lewat delapan menit! Mati! Pasti Tama telah dieksekusi oleh ayah dan abangnya saat ini. Ia harus segera cepat-cepat pulang ke rumah. Selain itu tubuhnya mulai terasa meriang rasanya. Pakaiannya yang basah kuyub juga membuatnya kedinginan. Giginya sampai bergemelutuk. Ia merasa sangat kedinginan. Sumpah!
"B--Bang, saya bo--boleh tidak meminjam ponsel Abang sebentar? Sa--saya mau mengorder o--ojek on--online."
Gigi Merlyn terus saja saling beradu karena merasa kedinginan. Galih menatap kasihan gadis yang penampakannya sudah amat sangat menyedihkan itu. Gaun mininya melekat begitu erat bagaikan kulit keduanya, sementara bagian atasnya ditutupi oleh jaket kulitnya. Besarnya jaket yang menutupi hingga setengah pahanya, membuatnya jadi seperti tidak menggunakan bawahan. Belum lagi sepatu hitam seruncing pensil yang dikenakan kaki mungilnya. Gadis ini tampak seksi sekali. Sumpah! Galih tidak yakin membiarkan makhluk lugu imut ini naik ojek online di tengah malam buta. Ia takut kalau gadis ini dijahati orang. Istimewa mengingat betapa minimalisnya otaknya. Galih tidak bisa membiarkannya. Dia tidak rela tepatnya.
"Ayo, kamu saya antar pulang saja. Kamu kedinginan banget ya? Pakai baju saya saja sementara, mau? Saya kebetulan membawa beberapa baju bersih di mobil. Kamu bisa memakainya dulu untuk sementara," Galih meraba kening Merlyn dengan punggung tangannya saat melihat sang gadis berbangkis.
"Suhu tubuh kamu juga sepertinya mulai naik. Kamu demam sepertinya, Mer." Galih kasihan juga melihat tubuh mungil tapi semok ini terus saja gemetaran kedinginan.
"N--nggak u--usah, Bang. Bajunya di ganti tapi da--dalemannya tidak di ga--ganti ya sama a--aja. Tetap ba--basah, B--bang."
Merlyn tetap berusaha menjawab walaupun kepalanya mulai terasa keliyengan. Galih tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ia memang tidak memiliki dalaman perempuan di mobilnya. Gila saja jika dia punya dalaman perempuan di sana. Memangnya dia banci apa? Tanpa berkata apa-apa lagi ia membantu Mer masuk ke dalam mobil. Di sana ia juga terus berbangkis. Merlyn sepertinya akan flu.
Perjalanan baru saja berjalan sekitar lima menit, tapi Galih merasakan kepala Merlyn telah jatuh di bahunya. Gadis ini tertidur dengan perasaan gelisah sepertinya. Galih menghentikan kendaraannya sejenak dan meraih sebuah selimut dari baris kedua mobilnya. Pekerjaanya sebagai seorang polisi telah menjadikannya siap bermalam di manapun juga. Makanya mobilnya ini sudah seperti rumah kedua baginya. Apa saja ada di dalamnya.
Dengan hati-hati ia menyelimuti tubuh menggigil Merlyn dengan selimut dan memeluk tubuhnya dengan lengan kirinya, sementara lengan kanannya memegang kemudi. Untung saja lalu lintas dalam keadaan sepi sehingga ia masih bisa berkendara dengan hanya bermodalkan satu lengan saja. Nafas hangat Merlyn yang menyapu-nyapu lehernya membuat darah Galih berdesir dan jantungnya berdebar-debar seperti sedang bermain genderang. Ini jantungnya kenapa sih? Apakah ia telah menderita penyakit jantung di usia tiga puluh tahun? Hah yang benar saja!
Tiga puluh menit kemudian mereka telah tiba di rumah yang dulu pernah disebutkan alamat lengkapnya oleh Mer saat di perkebunan kopi. Untung saja ia mengingat alamat rumah ini. Coba kalau tidak, ia pasti terpaksa harus membangunkan gadis ini. Sebenarnya bukan kebetulan juga ia mengingat alamat ini. Ia menghafalnya sebenarnya.
Pintu gerbang dengan cepat terbuka diiringi dengan suara langkah-langkah bergegas beberapa orang. Ia mengenali Chris dan Tian. Ayah dan abang gafis ini. Namun ia tidak mengenali seorang laki-laki gagah dengan wajah memar yang ikut berjalan di samping mereka berdua. Siapa pria gagah ini?
TOK! TOK! TOK!
Kaca mobilnya digedor-gedor dengan kuat dari arah kanan dan kiri. Bisa pecah semua kaca mobilnya kalau cara mengetuknya seperti ini. Galih melihat Merlyn terbangun karena kaget. Matanya mengerjap-ngerjab bingung sejenak sebelum akhirnya terlihat ketakutan saat memandangi orang-orang yang mengetuk jendela mobil dengan kasar. Bukannya turun ia malah memeluk lengan kirinya sambil menangis sesenggukan di sana. Galih menjadi kebingungan antara ingin membuka pintu mobil atau menenangkan gadis yang nyaris histeris ini dulu.
"Ba--bagaimana ini, B--Bang? Saya pasti akan dihukum di ruang isolasi karena sudah melakukan kebohongan beruntun hari ini. Saya takut, Bang. Disana gelappp sekali. Hiks... hiks... hiks..." Galih semakin kebingungan saat gadis ini malah menangis.
KRAKKK!
Nah akhirnya kejadian juga 'kan? Kaca mobilnya retak karena dihajar dengan tongkat bisbol oleh ayah gadis ini. Yang dipukul kaca mobil, tapi yang histeris malah gadis dalam pelukannya ini. Siapapun suami dari gadis ini kelak, semoga saja ia tidak mati muda karena mempunyai ayah mertua yang begini ganas dan beringas.
"Makanya, ayo kita keluar Mer. Kita jelaskan saja semua kejadian yang sebenarnya. Saya ini polisi. Pedoman hidup saya adalah Tribrata dan Catur Prasetya. Jadi sebagai seorang warga negara kamu pasti akan saya lindungi dengan segenap jiwa raga. Ayo, kita keluar." Galih membuka pintu mobil diikuti Merlyn yang langsung berlari mengitari mobil dan bersembunyi ketakutam di belakang tubuhnya. Kasihan.
"Pak Galih?" Chris langsung mengenali Galih sebagai seorang polisi yang dulu pernah menolong putrinya saat di perkebunan kopi.
"Merlyn! Kenapa kamu membohongi Abang, hah? Kamu bilang kalau kamu akan dijemput Tian? Tapi Tian malah menelepon Abang karena kamu tidak pulang-pulang sampai pukul dua belas malam. Lihat! Abang sampai bonyok begini digebukin Tian. Maksud kamu apa hah?"
Tama ini jarang sekali marah. Tetapi sekalinya marah ya begini ini? Suara bentakannya membuat jantung Merlyn jumpalitan saking takutnya. Ini masih satu orang yang marah. Kemarahan ayah dan abangnya masih waiting list. Alamat bisa pecah gendang telinga dan gagal jantung apabila mereka bertiga saling berkolaborasi marahnya. Bagaimana lah ini? Padahal ia sudah lemas sekali.
"Mengapa kamu berbohong Mer? Dan jaket siapa yang kamu pakai itu? Apa yang telah terjadi sama kamu? Kamu di--di--" Chris tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Ia ngeri dengan asumsinya sendiri. Sementara Merlyn sendiri tidak sanggup lagi menjawab berondongan pertanyaan dari Tama dan ayahnya. Ia sudah lemas sekali.
"Putri Anda tidak apa-apa, Pak Chris. Tadi ia kehujanan dan bajunya basah kuyub sehingga, maaf lekuk liku tubuhnya terlihat jelas. Makanya saya meminjamkan jaket saya. Putri Anda ini juga kedinginan dan sedikit demam sepertinya. Alangkah baiknya jika ia di biarkan dulu berganti pakaian dan menghangatkan diri terlebih dahulu baru ditanyai. Kasihan, Pak."
Argumen Galih sedikit meredakan kemarahan Chris. Bagaimana pun Merlyn ini adalah putri kesayangannya. Melihatnya gemetaran dan ketakutan begini sebenarnya hatinya lah yang paling sakit. Merlyn itu anaknya. Darah dagingnya.
"Kamu kedinginan, Mer?" Chris melepas sweaternya dan melapisi jaket kulit Galih dengan sweater hangatnya. Ia kini bertelanjang dada.
"Sekarang ia. Tapi di mobil tadi nggak." Jawab Merlyn jujur.
"Kenapa di mobil bisa nggak dingin? Pak Galih mematikan ac mobil?" Chris penasaran. Merlyn menggeleng.
"Kan selama Mer di mobil, Mer dipeluk terus sama Abang polisi. Jadi rasanya hangat, Yah. Harum lagi."
"Apaaa?!"
"Kamu apain aja anak saya di dalam mobil, hah? Kamu ini setiap kali bertemu dengan anak saya, pasti ada saja acara pelukannya. Tidak di kebun kopi, di dalam mobil, selalu saja modus. Bajingan!"
Chris mengarahkan tongkat bisbolnya sekuat tenaga ke arah tubuh Galih. Dari samping kanan kirinya Tian dan Tama juga merangsek maju bermaksud untuk menghajar polisi modusan yang kesempatan banget memeluk-meluk si Merlyn. Tama kesal sekali. Enak sekali orang ini main peluk-peluk saja. Lah dia saja yang sudah bertahun-tahun menjadi pengawal santingan Mer, sekalipun tidak pernah mencuranginya. Padahal terkadang pengen juga. Eh ngebathin apa sih dia? Tama malu sendiri dengan pikiran absurdnya. Ingat pacar woy!
"Eh... eh... stopp... stopp... setopppp! Yah, Bang Tian, Bang Tama. Jangan sembarangan memukul aparat kepolisian yang sedang bertugas. Sanksinya berat! Denger ya, nih Mer bacain kata mbah google di klinik hukum online. Dalam KUHP terdapat pengaturan mengenai kekerasan yang dilakukan terhadap aparat yaitu dalam Pasal 212 KUHP yang berbunyi ; Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan melawan kepada seseorang pegawai negeri yang melakukan pekerjaannya yang sah, atau melawan kepada orang yang waktu membantu pegawai negeri itu karena kewajibannya menurut undang-undang atau karena permintaan pegawai negeri itu, dihukum karena perlawanan, dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya empat juta lima ratus ribu rupiah," Merlyn yang melihat suasana sudah tidak kondusif segera meraih ponsel. Ia browsing mengenai tindakan mencelakakan petugas hukum. Bagaimana pun, Galih telah menolongnya.
"Terus ancaman hukumannya dapat di tambah. Kalau petugasnya sampai luka-luka, akan di penjara lima tahun. Kalau luka berat, delapan tahun enam bulan dan kalau sampai mati di penjaranya bisa sampai dua belas tahun! Abang polisi pasti mati ini kalau kalian keroyok bertiga. Ayah apa tahan tidur di hotel Rodeo eh Oreo sendirian selama dua belas tahun? Bang Tian, Bintang pasti kawin lagi kalau dianggurin selama dua belas tahun. Dan Bang Tama, apa mungkin Karina nungguin Abang sampai dua belas tahun? Yang bener Abang keluar dari penjara si Karina anaknya udah lima. Kalau punya otak dipake mikir dong. Jangan di anggurin aja? Jadi karatan kan jadinya?"
Merlyn membacakan hasil temuannya sembari berdiri tegak di depan Galih. Ia merentangkan kedua tangannya. Berusaha melindungi abang polisinya dari hajaran ayahnya, abangnya dan juga Tama. Galih mendengus. Tinggi badan gadis ini bahkan tidak mencapai bahunya. Tetapi lagaknya sudah seperti seorang Wonder Women saja. Ia tidak sudi berlindung dibalik rok wanita. Cuih! Tapi tunggu dulu. Ponsel siapa yang dipakai oleh gadis ini? Soalnya ponselnya 'kan dalam keadaan kehabisan daya. Jangan... jangan...
"Ponsel siapa yang kamu pakai browsing itu, Mer?"
"Ya ponsel Abang lah. Kan ponsel saya lagi mati karena habis baterenya. Abang lupa? Katanya polisi, tapi hal-hal kecil begini saja Abang tidak ingat. Bagaimana mau menangkap penjahat coba?" Merlyn menjawab dengan pandangan seolah-olah ia sudah gila karena menanyakan pertanyaan yang seabsurd itu padanya. Gadis ini memang luar biasa. Luar bisa onengnya maksudnya.
"Kamu tahu tidak, kalau seseorang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses komputer dan atau sistem elektronik milik orang lain dengan cara apapun, itu sudah melanggar Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU No.19/2016. Dan kamu tahu tidak ancaman hukumannya apa?" Merlyn dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enam tahun penjara atau denda paling banyak banyak enam ratus juta rupiah. Satu hal lagi, Lembaga Permasyarakatan itu biasa di sebut dengan nama hotel Prodeo, bukan Rodeo apalagi Oreo. Mengerti kamu?" Ia mengambil kembali ponselnya yang di pinjam tanpa permisi oleh Merlyn.
"Apa? Enam ratus juta hanya karena meminjam hape orang buat browsing? Wahhh... yang buat undang-undang musti didemo ini. Nggak masuk akal! Kuota yang dipakai tidak seberapa tapi dendanya nauzubillah. Pemerasan ini namanya!" Merlyn mencak-mencak mendengar penjelasan Galih. Ia benar-benar tidak terima. Ternyata ada yang lebih mahal dari para penjual makanan dan minuman di cinema!
"Mengenai ehm pelukan yang saya lakukan pada putri Anda. Saya akan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya pada Anda, Pak Chris. setelah saya menjelaskannya, baru Anda boleh berasumsi. Tapi demi Tuhan, biarkan Merlyn menukar pakaian dan mungkin minum paracetamol dulu. Lihat bibirnya sampai membiru karena kedinginan!"
==================================
"Jelaskan semuanya dari awal, Mer. Jangan sampai ada yang ketinggalan atau kamu sembunyikan dari kami semua." Chris menatap tajam putrinya yang sedang memegangi selembar kertas dan terus saja komat kamit membaca dan sepertinya mencoba menghafalnya. Mer sudah berganti pakaian dan minum obat. Keadaannya sudah sedikit lebih baik. Mereka sekarang sudah berkumpul di ruang tamu. Siap mendengarkan cerita Merlyn.
"Bunda mana, Yah?" Mata Merlyn mencari-cari sekutunya. Ia tahu setelah ini ia pasti akan di hukum. Kalau bundanya ada disini, biasanya bundanya akan mencoba membelanya mati-matian. Makanya ia menanyakan keberadaan bundanya yang sama sekali belum terlihat sedari tadi.
"Bundamu menginap di rumah Tante Maddie. Kenapa? Mencari pembela? Jangan menjadi seorang pengecut, Merlyn. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi seorang pecundang. Ingat, tangan mencencang, bahu memikul. Sekarang jelaskan!" Chris duduk berhadap-hadapan dengan Merlyn. Di samping kanan dan kirinya duduk Tian, Tama dan Galih. Mereka semua bersiap mendengarkan cerita versi dirinya.
"Sebentar, Mer hafal dulu urutan kejadiannya." Merlyn membaca sekali lagi kertas yang terus dia tulis dan coret sedari tadi. Berkomat-kamit sebentar, sebelum mengucapkan kata aamiin diakhir hafalannya.
"Kamu mencatat semua kata-kata yang ingin kamu ceritakan pada ayah, Mer? Ayah cuma ingin kamu menceritakan kronologis kejadian kenapa kamu berbohong pada Tama dan pulang basah kuyub dengan bapak polisi ini. Ayah bukan meminta kamu untuk berpidato, Mer!" Chris menepuk dahinya. Merlyn menjengitkan alisnya.
"Tapi tadi Ayah sendiri yang bilang jangan sampai ada kata-kata yang ketinggalan atau Mer sembunyikan. Makanya ini Mer catat semua biar nggak ada kalimat yang terlupa atau ketinggalan, Yah." Merlyn menjawab bingung. Lah pan tadi mintanya versi lengkap. Sekarang malah minta ringkasannya saja. Ini yang bener sebenernya pegimana sih? Merlyn menjadi bingung sendiri.
"Seingatnya kamu saja, Mer. Bagian-bagian mana saja yang sekiranya menurut kamu penting untuk diceritakan. Dan yang paling penting, jangan menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya hanya karena takut kamu akan dimarahi. Itu maksud ucapan ayah kamu, Mer."
Galih berusaha menjelaskan dengar sabar. Ia tidak tega juga melihat Merlyn kebingungan dan ketakutan sedari tadi. Istimewa bundanya tidak ada. Merlyn pasti makin merasa tidak nyaman karena merasa tidak ada yang membelanya.
"Termasuk waktu Abang maksa saya angkat tangan dan menyuruh saya masuk ke dalam mobil patroli karena mengira saya ini kaki tangan gembong narkoba ya, Bang?"
Mampusss! Salah ngomong gue, batin Galih.
"Anda menyangka anak saya ini kaki tangan gembong narkoba? Kalau benar putri saya ini kaki tangan gembong narkoba, pasti sudah bangkrut itu bandarnya karena anak buahnya tertangkap melulu. Asumsi Anda sama sekali tidak masuk akal!" Chris sampai berdiri dari kursinya karena emosi mendengar tuduhan Galih terhadap putrinya.
"Saya tadi tidak melihat dengan jelas wajah putri Bapak karena gelap. Lagi pula dalam tugas saya tidak boleh tebang pilih. Semua orang sama kedudukannya di dalam hukum. Putri Anda tadi berada di lokasi penangkapan gembong narkoba. Jadi wajar saja kalau saya berasumsi demikian bukan?" Galih menjawab diplomatis. Chris hanya mendengus kasar.
"Karina tadi pengen ke club, Yah. Dan dia ngajakin Bang Tama. Mer nggak enak bikin Bang Tama nanti berantem lagi sama Karina gara-gara Mer. Makanya Mer bilang kalau Mer nanti pulangnya dijemput sama Bang Tian. Nah, pas Mer mau mesen ojek online, rupanya hp Mer mati. Habis baterenya, Yah."
"Kan Abang sudah bilang jangan memakai ponsel danga danga seperti itu lagi. Baru saja dicharge full baterenya, eh baru sejam kemudian sudah padam. Pake hape yang lumayan sedikit dong, Mer. Kamu ini pelit banget sih jadi orang? Duit nggak bakalan di bawa mati juga!" Tian berusaha menasehati adik iritnya.
"Sudah besok kamu beli ponsel seperti punya abang saja. Sudah tahan air sampai 2 meter, tahan debu, ios 12 lagi. Baterenya juga nggak gampang soak. Hampir bisa di bilang nggak ada kelemahannya, Dek."
"Ada satu kelemahan iphon* yang Abang nggak tahu kan?"
"Hah? Apa coba?" Tanya Tian penasaran. Adik onengnya ini mengerti apa mengerti masalah fitur dan plus minusnya sebuah ponsel.
"Denger baik-baik ya, Bang. Kelemahan iphon* itu cuma satu. Nggak bisa download game atau aplikasi di play store. Cemen banget kan?"
Astaghfirullahaladzim! Keonengan hakiki adiknya ternyata makin meningkat tajam. Tian speechless. Ia tidak tahu lagi harus menasehati adik onengnya ini mulai dari mana dan dengan bahasa apa.
"Iphon* memang tidak bisa dipakai untuk mendownload game dan aplikasi via playstore, Mer. Karena khusus untuk iphon* aplikasi itu semua bisa di akses di APP store. Jadi intinya sama saja, hanya nama aplikasinya yang berbeda. Paham kamu, Mer?"
Galih kembali menjelaskan dengan sabar. Chris, Tian bahkan Tama harus mengakui kalau Galih ini sabar sekali dalam menghadapi cara berfikir sederhananya Merlyn. Cara Galih menjelaskan sesuatu itu sangat runut dan terkesan tidak menggurui. Ia memakai kaca mata dan sudut pandang Merlyn. Makanya Mer cepat mengerti maksud dan tujuan ucapannya.
"Oohhh gitu... namanya aja yang beda ya? Tapi fungsinya sama?" Merlyn mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri. Dia puas karena sudah mengerti. Ia kemudian melanjutkan kembali ceritanya.
"Nah terus waktu Mer keluar dari parkiran mau nyari taksi biasa aja yang nggak pakai aplikasi, eh malah hujan deras banget. Waktu Mer mau neduh di halte, Mer mendengar ada suara tembak-tembakan. Mer pikir lagi shooting film eh rupanya beneran," selama Mer bercerita, Galih memperhatikannya dengan mata tidak berkedip. Ia suka sekali melihat cara Merlyn cerita. Lucu dan menggemaskan.
Astaga, Galih. Ingat, kamu ini seorang polisi!
"Terus Mer mau diamankan ke kantor polisi sama Abang Polisi ini karena dipikir kaki tangan gembong narkoba. Tapi akhirnya nggak jadi karena Abang Polisi bilang Mer nggak salah. Terus Abang Polisi nganterin Mer pulang. Udah lengkap belum cerita saya, Bang?"
Merlyn menatap Galih meminta dukungan. Galih menganggukkan kepalanya agar gadis ini bisa segera beristirahat. Galih melihat wajah Merlyn memerah dan matanya berair. Pasti suhu tubuhnya mulai meninggi. Lebih baik gadis ini segera beristirahat. Entah mengapa ia selalu jatuh kasihan setiap melihat si Merlyn ini dalam kesulitan. Saudara bukan, teman bukan, pacar apalagi. Tetapi entah kenapa hatinya selalu merasa ingin menjaganya, melindunginya. Mungkin itu karena tugasnya sebagai seorang polisi yang memang sudah seharusnya melindungi setiap warga negaranya. Ya, pasti karena itu.
"Mengenai mengapa saya memeluk putri Bapak, itu saya lakukan karena putri Bapak terus-terusan menggigil kedinginan. Pakaiannya basah kuyup. Saya menyarankan untuk mengganti pakaian basahnya dengan pakaian bersih saya, tapi putri Bapak menolak. Saya takut kalau putri Bapak terkena hipotermia. Makanya saya, maaf memeluknya sepanjang perjalanan dengan lengan kiri saya selama saya menyetir. Saya berusaha membagi panas tubuh alami saya kepada putri Bapak yang untungnya berhasil. Putri Bapak tertidur di sepanjang perjalanan dalam maaf, pelukan saya. Itulah penjelasan saya mengenai masalah pelukan tadi. Masalah Bapak mempercayai atau tidak kata-kata saya, Bapak bisa mengkonfirmasinya langsung dengan putri Bapak sendiri. Kita berdua sama-sama tahu bahwa kejujuran putri Bapak itu bahkan lebih jujur dari pada seorang anak kecil sekalipun."
Galih dengan kesatria mengakui semua perbuatannya pada Merlyn kepada ayahnya. Masalah apakah ayah gadis itu mempercayainya atau tidak, itu bukan urusannya. Yang terpenting adalah ia sudah menjelaskan semua kejadiannya.
"Saya mengucapkan terima kasih karena Anda telah menolong putri saya lagi, Pak Polisi. Tetapi saya tetap tidak suka kalau Anda menyentuh-nyentuh putri saya walau sekasual apapun bentuknya. Saya harap Anda tidak akan mengulanginya lagi. Putri saya ini istimewa sekali cara berpikirnya. Dia tidak akan mengerti kalau ia itu dimodusi atau dimanfaatkan sekalipun. Ini peringatan pertama dan terakhir untuk Anda. Jangan memanfaatkan kenaifan putri saya lagi atau saya akan menghabisi Anda dengan kedua tangan saya sendiri. Mengerti!"
Chris menatap kedua mata Galih dengan pandangan mengancam. Ada keteguhan dan keseriusan yang nyata di sana. Chris bersungguh-sungguh dengan semua ucapannya.
"Siap! Saya mengerti Pak Chris." Galih menjawab tegas ala polisi. Pandangan Chris kini beralih pada Tian. Ada tatapan yang hanya mereka berdua sajalah yang mengerti.
"Tian, bawa adikmu ke ruang isolasi. Biarkan dia merenungi semua kesalahannya hari ini. Nasib baik dia tadi bertemu dengan seorang polisi. Ayah tidak tahu nasibnya akan seperti apa jika ia bertemu dengan seorang perampok atau pemerkosa. Bawa ia sekarang kesana."
Chris menugaskan Tian untuk membawa Merlyn ke gudang belakang rumah yang biasa mereka sebut dengan ruang isolasi. Ruangan ini tempatnya terpisah cukup jauh dari rumah utama. Dia memang sengaja menugaskan Tian yang membawa putrinya ke sana. Karena sejujurnya ia takut hatinya nanti akan luluh apabila ia melihat cucuran air mata putrinya. Semua kesalahan memang harus ada konsekuensinya bukan? Bukan masalah hukumannya point utamanya. Akan tetapi masalah indisiplinernya lah yang ingin ia tekankan. Ia bertujuan agar yang bersangkutan lain kali akan berpikir seribu kali untuk mengulangi kembali kesalahannya. Chris selalu bersikap tegas terhadap anak-anaknya.
"Ampun, Yah. Ampun. Jangan membawa Mer ke ruangan itu lagi, Yah. Disana gelap sekali, Yah. Mer! Mer bukannya ingin mengelakkan hukuman, Yah. Ini pakai ini aja ya, Yah. Mer sudah pilih yang paling lebar dan paling tipis kulitnya. Libas aja Mer pakai ikat pinggang, Ayah? Suka hati ayah berapa kali pun. Mer nggak akan minta pengurangan angka. Asal jangan di bawa ke gudang ya, Yah? Mer takut!"
Merlyn sampai menyembah-nyembah ayahnya karena ketakutan. Dia tidak suka dikurung di gudang dalam keadaan gelap-gelapan. Setiap ia dan Tian kecil dulu melakukan kesalahan, biasanya ayahnya akan menghukum mereka agar mereka tahu konsekuensi dari sebuah kesalahan. Mulai dari berdiri satu kaki, menulis berlembar-lembar dengan kata-kata saya tidak akan mengulangi kesalahan lagi, dicambuk ikat pinggang dan yang terakhir, disekap di gudang belakang rumah. Merlyn yang sangat takut dengan kegelapan selalu menangis sepanjang malam apabila ia harus dikurung semalaman di sana. Hingga sampai dewasa seperti sekarang ini pun, Merlyn tetap ketakutan saat dihukum di sana.
"Maaf, Pak Chris. Bukannya saya bermaksud lancang. Tapi hukuman seperti itu tidak mendidik, Pak. Bukankah lebih baik kalau Bapak menghukumnya dengan cara-cara yang lebih manusiawi? Membersihkan rumah, bakti sosial atau menjadi tenaga honorer di panti jompo misalnya. Bukankah itu lebih mendidik, Pak Chris? Lagi pula putri anda itu sedang sakit. Kasihan, Pak."
Galih yang tadi sudah bermaksud ingin pamit pulang, menjadi tidak tega saat melihat Merlyn minta-minta ampun sambil nangis kejer seperti itu kepada ayahnya. Galih yakin sampai di rumah pun dia tidak akan bisa tidur dengan tenang karena membayangkan Merlyn yang pasti akan menangis ketakutan di dalam gudang semalaman.
"Kamu jangan mengintervensi segala keputusan saya. Pintu keluar ada di sebelah sana. Anda mau pulang sekarang atau mau saya mutilasi kecil-kecil!" Chris mengamuk karena merasa digurui. Ia paling tidak suka kalau segala keputusannya di intervensi.
Dengan apa boleh buat Galih terpaksa undur diri. Hatinya bagai diremas-remas saat melihat Merlyn yang terus saja menangis menghiba-hiba saat ditarik paksa Tian ke gudang belakang rumah. Sesaat sebelum Merlyn menghilang dari ruangan, mereka berdua saling bertatapan. Ada permintaan tolong tak terucap dari kolam air matanya untuk Galih. Hanya saja ia bukan siapa-siapa di sana. Ia tidak punya hak untuk mengintervensi Chris. Tapi dia tidak bisa diam saja tanpa bertindak. Ia akan menolong Merlyn bagaimanapun caranya!
Di dalam mobil Galih memasang earphone dan menelepon seseorang. Untuk pertama kalinya Galih menggunakan kekuasaannya untuk urusan pribadinya.
"Hallo Iptu Bramantyo, tolong lacak nomor ponsel Marilyn Diwangkara dan alamat rumah Madeline Nainggolan. Sekarang!"
Setelah menunggu kurang lebih sekitar lima menit, Galih mendapatkan apa yang dicarinya. Masalahnya nomor ponsel Marilyn dalam keadaan tidak aktif. Akhirnya dalam keadaan hujan deras pada pukul 01.45 dini hari, Galih mendatangi rumah Madeline Nainggolan untuk menemui Marilyn Diwangkara. Dia harus segera membawa bunda Merlyn ini pulang, untuk menenangkan hati putrinya yang saat ini pasti sedang demam tinggi dan ketakutan.
Ia memang tidak bisa menolong Merlyn secara langsung. Tapi ia akan menolongnya melalui bundanya. Kalau saja para anak buahnya tahu akan kelakuan absurdnya ini, entah mau ditaruh di mana mukanya. Ia yang selalu saja menasehati para anak buahnya untuk bersikap professional antara masalah pribadi dan pekerjaan, kini malah ia sendiri yang melanggarnya!