Bab 2

Bila diri ini bodoh dengan kenyataan

Biarkan kecewa ini datang menghapus kenangan

Sungguh tercabik-cabik hati ini membuat luka disana

Andai aku paham dari awal

Ceritanya akan berbeda

°°Tata Dayuning tyas

Kini air mataku berganti kebahagiaan, Dia berbeda menawarkan cinta yang entah aku tak mampu menolak pesonanya.

Radit Aditama. Pria tinggi seratus delapan puluh sentimeter dengan kulit putih bersih, bulu matanya tebal dan alis senada, sepanjang dagunya sering ditumbuhi bulu halus begitu juga di atas bibirnya.

Bibirnya sedikit merah dengan warna rambut kecoklatan bergelombang.

Tangannya berbulu khas laki-laki blasteran.

Ayahnya berasal dari Inggris dan ibunya berasal dari Sulawesi.

Ayahnya telah lama meninggalkan dirinya dan adik serta ibunya sejak ia usia 6 tahun.

Tutur katanya yang renyah kudengar seperti aku makan keripik, yah gurih rame, gak rela jika habis.

Kami saling mengenal ketika presentasi penawaran yang berakhir dengan kerjasama, perusahaan tempatku bekerja dan perusahaan yang akhirnya aku tahu miliknya. Kami sering bertemu, berlanjut dengan chatting di aplikasi WhatsApp.

Seringkali menghabiskan waktu sekedar makan bersama. Semua berjalan baik natural juga elegan.

Kami berbincang santai setelah tanda tangan kontrak kerjasama perusahaannya dengan perusahan tempatku bekerja usai. Untuk pertama kalinya kami saling nyaman bercerita, bulu matanya yang lentik namun tak panjang, di mata tajam namun bersahabat mempertemukan kami.

Entah kenapa serasa ada kenyamanan, rasa aman, damai bersamanya seperti yang aku rasakan bersama mendiang suamiku dulu.

Usianya tiga puluh tiga tahun beda 5 tahun denganku.

Usia yang sama juga dengan suamiku.

Kami dekat selama 8 bulan

hingga 1 bulan yang lalu ia menikahi diriku secara Agama atas permintaan bapakku.

Namun kami berencana menikah resmi atau lebih tepatnya mengadakan resepsi di pertengahan bulan ini, yaitu bulan September sesuai dengan tanggal kelahiran ku. Persiapan kami sudah delapan puluh persen. Hanya saja menunggu gaun resepsi sehingga kami fitting terakhir sore ini.

Masih dengan kebiasaannya menggunakan masker topi dan kacamata ketika di luar.

Priaku ini sangat takut dengan debu, karena bisa menimbulkan jerawat tuturnya, sehingga itulah style selama ini ia kenakan.

Kami pergi bersama mama mertuaku wanita cantik feminin yang sangat dekat dengan suamiku ini,

beliau wanita cerdas baik hati supel terbukti meski tinggal di perumahan elit, mertuaku ini mengenal baik tetangganya, beliau dipanggil mamah Radit.

Wajah cantiknya yang khas, suaranya yang lembut selalu sukses membuat siapa saja nyaman berlama-lama mengobrol dengannya. Jikalau ada acara di komplek pasti di sana ada andil mamahnya, ia berhasil mendidik dua orang putra dengan bekerja seorang diri, dan sifat mereka tak jauh berbeda dengan mertuaku yang luar biasa ini.

"Tata tunggu Mamah,"

pintanya ketika turun dari mobil kita menuju butik tempat kami memesan gaun resepsi. Mamah cantik dibalut dengan dress hijau sage, dan rambutnya dibiarkan begitu saja.

Mama meraih tanganku menggandengku seperti anaknya sendiri itulah yang dilakukan selama aku mengenalnya. Sangat hangat dan bersahabat.

Sesampainya di butik ada laki laki kemayu sigap menggantikan baju jahitannnya

di tubuhku.

"Awas say rambutnya pegang yah." Katanya dengan jemarinya menaikkan resleting gaunku.

Aku merespon dengan merangkum rambutku yang tergerai.

Aku mencoba gaun pengantin yang sudah kali ketiga direvisi karena menurut suamiku kurang pas ku gunakan.

Mas Radit duduk tak jauh dariku, dirinya membolak-balik majalah yang disitu banyak model gaun pengantin. Tapi aku tak tahu pasti apa yang membuatnya serius melihat majalah itu, aku tak tahu apa yang menarik dengan benda tersebut. Bisa jadi dia melihat model gaun pengantin atau model cantiknya.

"Adit liak istrimu ."

Teriak mama. Setelah aku mencoba gaun pengantin. Sesaat aku aku dengan sedikit gugup menghadap ke arahnya,

seketika mas Radit menatapku, tatapannya berhasil membuatku malu dan ku yakin saat ini wajahku merah seperti kepiting rebus.

Gaun berwarna broken white tanpa lengan, belahan di dada sedikit rendah, di bagian belakang menjuntai dengan taburan kristal Swarovski menyebar, memang pas ku gunakan. Terlihat sangat indah juga mewah.

"Perfect Ma. Bidadari ku sempurna," teriaknya sambil menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk bulat.

"Ok persiapan sembilan puluh persen tinggal 14 hari lagi acara kalian. Tata jaga kesehatan yah, kalau bisa ajuin cuti supaya kamu rileks, Adit gak usah kluyuran kamu! Udah di rumah aja biar semua di-handle Bayu sama Bagas urusan pekerjaan". Titah mama jelas pada kami.

°°°

Hari ini terakhir aku masuk bekerja kebetulan siang ini aku harus bertemu klien, disela-sela pembahasan kami, benda pipih yang ku geletakkan di sebelah laptopku berbunyi, akhirnya aku terima setelah panggilan kedua.

"Halo bentar ya Mas, Ini aku masih meeting tunggu sebentar lagi." Kataku mendengar suara suamiku dari seberang yang mau menjemputmu. Kami hendak ke salon bridal sebab mamah menyuruh kami melakukan perawatan. Aku tak paham supaya apa, sebab dulu aku tak seriweh ini perkara mau mengadakan resepsi saja.

Ku taruh kembali gaweku tak sengaja pak Firman klien ku yang saat ini berada tepat di depanku melihat wallpaper fotoku dan mas Radit.

"Loh Radit aditama ya mbak."

Celetuk nya dengan nada heran penuh tanya jadi satu.

Belum sempat ku jawab pak firman melanjutkan.

"Ini aktor favorit istri saya mbak anak saya apalagi langganan kalo filmnya diputar di bioskop pasti mereka gak absen."

Kata-kata pak Firman membuatku tercengang, dengan mata membola serasa ada gurauan yang sukses membuatku ingin tertawa keras.

"Mbak Tata kenal sama Artis ini? Mintakan tanda tangannya ya mbak pasti anak saya senengnya bukan main."

Namun.

Apa yang aku dengar ini? Berubah ketika beliau mengatakannya dengan lugas dan wajah sedikitpun tiada gurauan di sana. Serasa jantungku berhenti berdetak. Ada rasa nyeri di dalam sana.

"Bukan Pak Firman, ini calon suami saya bukan artis," aku menyangkalnya.

Namun pak Firman menggeleng sambil mengangkat gaweku dan melihat foto kami sekali lagi.

"Ah mbak Tata ini saya yakin mbak. Namanya Radit Aditama kan? Ibunya juga terkenal ibu Pratiwi Saraswati sering mengisi acara seminar parenting, karena beliau sosok inspiratif. Ditinggal suami sejak Mas Radit ini masih kecil dia sukses mendidik kedua anaknya."

Cerita ini tak ayal membuat mataku buram karena mendung yang tiba-tiba mengumpul di mataku.

Setelah pak Firman pamit pulang, akupun masih syok mendengar semua ini.

Dan mendung yang tertahan tadi tumpah bebas di pipi ini. Baiklah jika pak Firman salah orang namun pak Firman menyebutkan nama mama mertuaku dengan lengkap. Mencoba menyangkal kenyataan, akhirnya aku dipaksa percaya dengan fakta yang ada.

Haruskah aku bahagia? Ataukah sedih? Entahlah hatiku seakan hancur.

Aku pergi ke Bandara, kala itu

tak berpikir apapun hanya merasakan nyeri yang tak aku pahami mengapa? Untunglah ada penerbangan ke Surabaya yang masih tersisa saat ini juga.

Aku pulang, aku mengabaikan semua pesan dan panggilan yang tak berhenti masuk di gaweku, dari suamiku, katakan saja aku sedang kecewa dan sepanjang perjalanan mengingat semua kenangan sembilan bulan bersama, bersama mas Radit. Namun aku tak tau sejatinya pasanganku.

Ia selalu bermasker jika di tempat umum, tidak pernah mau makan di tempat umum pasti memesan ruangan khusus di restoran.

Bodohnya aku.

Bab 3

Tak menyadari semua itu.

Ya Allah kenapa sesakit ini?

Apa aku salah?

Kenapa aku tak tahu?

Aku menikah dengan pesohor, perjalanan tadi ke Bandara aku mencari berita di gaweku dan benar semua informasi tentang suami siriku itu sesuai dengan cerita pak Firman tadi.

Ku abaikan pesan WhatsApp dari mas Radit.

Sungguh kini sesak di dadaku menghimpit hingga aku kepayahan hanya untuk mengambil nafas panjang agar sesak itu terusir namun usahaku sia-sia.

Tak terasa cairan bening membasahi mataku.

Sekali lagi aku katakan bahwa aku kecewa.

Sesampai Surabaya aku memesan hotel. Karena aku tak ingin membuat orang tuaku bertanya, maka aku tak pulang ke rumah, aku butuh sendiri.

Ku hempaskan tubuhku di kasur aku menangis sejadinya. Kenapa aku sebodoh ini? Delapan bulan mengenal satu bulan menjadi istrinya sedikitpun aku tak tahu tentangnya. Kenapa kebahagiaanku sekejap kurasa? Mengapa aku harus mendapati kenyataan dari orang lain bukan dari laki-laki ku?

Kenapa perih rasanya? Kenapa aku harus menitikkan air mata, setelah kepergian suamiku di keabadian? Apa aku salah menerima dia? Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan?

Bodoh!

Umpat ku pada diriku yang merasa terlampau tenggelam dalam rasa acuh lagi cuek yang menjadi kekurangan diriku ini sejak dulu.

Entahlah berharap ini mimpi. Berharap aku sedang tidur kemudian bangun normal kembali. Aku tetap terjaga walaupun jam sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari.

Akhirnya aku ambil wudhu menarik mukena traveling ku kemudian sholat malam. Di sujud ku rasa nyeri itu datang lagi cairan bening dari mataku menerobos deras tak sanggup ku tahan lagi.

Aku menangis sejadinya entah, tak bisa ku tahan rasanya sesak dan sakit di dada bersamaan memaksa meruntuhkan kesedihan ini. Air mataku seakan sumber air yang tak bisa mengering meski sedari sore tadi ku buat menangis.

Ku tengadahkan tanganku sambil mengadu segala sesak yang menghimpit dadaku sejak siang tadi. Ya Allah

Apa yang harus aku lakukan? Ku tenggelam dan membenamkan wajahku di sajadah disana tak terasa tertidur sesaat adzan subuh membangunkan ku.

°°°

Drt drt drrt

Pasti Mas Radit batinku, sambil kulirik benda pipih yang ku geleletakkan begitu saja di atas nakas samping kasur.

Tapi di layar muncul nama sahabat ku vina yang berbulan-bulan terpisah jarak dan tempat kerja. Vina bertugas di kantor pusat Tokyo Jepang.Ku angkat gaweku seketika melihat sahabatku menelfon.

"Halo, Assalamualaikum Vin"

"Waalaikumsalam calon pengantin."

Jawabnya penuh semangat di seberang

sana.

"Apaan sih Vin, ada apa tumben nih telfon biasanya chat ajah, kena roming lo."

"Gitu yah sekarang ditelpon sahabat sendiri, mentang-mentang uda ada babang tamvan."

"Uda deh godain gue mulu, gimana di Jepang, kamu sehat yah Vin?"

"Tata gue udah di Indonesia dari 3 hari yang lalu, nih gue otw ke apartemen di Surabaya, makanya gue telpon elo, kata orang kantor lo ambil cuti nikah. Gue samperin lo ke Rumah yah habis naruh barang entar?"

"Jangan Vin, gue samperin ke tempat lo aja. Bang Arnold Suami lo ikut juga?"

" Oh gitu? Oke deh, gak kok, suami gue nyusul besok karena masih ada kerjaan di Jakarta, Ta' suara lo kok gini, lo sakit?"

"Flu dikit Vin, gue siap-siap dulu yah, meluncur ke apartemen lo." Vina selalu tahu bahwa aku tak baik-baik saja hanya dengan mendengar suaraku saja.

"Ok deh hati-hati ya, gue tunggu."

Tut tut tut.

Suara telepon ditutup.

Dasar Vina gak salam dulu kek kebiasaan. Gerutu ku.

***

Aku tak bisa sembunyikan semua lukaku pada sahabat ku Vina, sesaat aku sampai di apartemen yang berada di Surabaya Timur. Letaknya cukup dekat dengan rumahku. Akupun bercerita segala gundah gelisah ku. Tak ku sadari lebih terdengar semua ini cara mengeluh atas kebodohan diriku sendiri. Setelah bercerita dengan derai air mata, Vina menghela nafas panjang, sambil memelukku.

"Gue tahu Ta perasaan lo, sudah ya berhenti nangisnya."

Sambil menyeka air mataku yang terus mengalir di pipi.

"Aku sudah tahu semenjak seminggu yang lalu lo kirim foto berdua sama Radit.

Cuman gue agak ragu karena lo gak pernah kenalan sama cowok aneh-aneh. Karena biasanya circle artis kan dunia hedon Ta' dan gua tau elo." Kata Vina kemudian dilanjutkan.

"Tapi Ta' (dengan terbata)

kamu udah jadi istrinya Ta' walaupun hanya siri, itu sah."

Aku tertegun sekejap dan bangun dari pelukan Vina.

"Terus aku harus gimana Vin.

Aku kecewa sama dia, hatiku sakit, tapi acara pernikahan gue 12 hari lagi.

Apa aku harus bat-."

Belum selesai kalimat ku dipotong Vina dengan nada suara meninggi.

"Jangan ta' lo gila, lo jangan egois, pikirin baik-baik. Lo gak kasihan ortu lo, anak-anak lo, lebih-lebih Mamanya Radit yang lo bilang sayang banget sama lo?"

Air mataku yang sempat berhenti kini menerobos kembali di pipiku, aku terdiam sesaat. Aku bingung,

"Gue balik dulu yah?" Ucapku seraya mengaitkan tas di pundakku.

"Yakin? kamu disini aja dulu Ta.

Lagiyan bang Arnold hari Sabtu datengnya, tenangin diri lo. Gue kawatir kalau lo balik ke hotel di sana lo sendirian."

Pinta Vina mencegahku untuk pergi, namun aku tetap pergi.

"Aku ingin sendiri dulu jawabku singkat."

Sepanjang perjalanan pulang kata-kata Vina terngiang di telingaku, sesampai di kamar hotel aku masih memikirkan kata-kata Vina yang sedikitpun tak ada kesalahan di sana.

Aku gak boleh egois,

Bagaimanapun Mas Radit masih suami sahku.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

Iya sebentar, sedikit berteriak.

Setelah kubuka pintu ternyata Berdiri pria yang aku hindari selama 2 hari ini. Siapa dia?

Aku mencoba menutup kembali pintu tapi berhasil ditahan tangan suamiku.

Aku tak berdaya karena memang aku kalah dengan tenaganya akhirnya ku hentakan kakiku dan berbalik masuk dengan dengusan sebal.

Aku duduk di sofa diikuti Mas Radit.

"Sayang kenapa telfon ku chatt aku semua gak kamu respon, aku hawatir banget."

Tanpa ku tatap wajahnya, ku palingkan wajahku ke sembarang arah dan menarik nafas panjang.

"Tiba-tiba kamu ke Surabaya gak pamit aku, padahal kita kan mau ke spa kemarin mau treatment pranikah dan-."

Aku potong pembicaraan ini dengan emosi yang mengumpul di kepala dan da** ini sesak tak terhingga.

"Talak aku mas sekarang juga."

Dengan nada kemarahan yang tertumpah.

"Kita batalin semuanya!" lanjut ku agak membentaknya.

Kulihat dari ekor mataku, wajah mas Radit yang seketika tersentak sedih kaget bercampur dengan tanya yang tak bisa ku artikan.

"Kamu kenapa sayang, ada apa ini tiba-tiba kamu berubah gini, aku gak akan dan gak akan pernah lakukan itu ngerti!" Kulihat wajahnya memerah tanda emosinya sudah tercipta.

"Pergi dari sini, aku gak mau ketemu kamu lagi." Titahku sambil berdiri dan mengangkat tangan kananku menunjuk pada daun pintu.

Mas Radit beranjak hendak memegang tanganku namun ku tepis dan mundur selangkah menjauh.

Sambil membuka kedua tangannya matanya memerah, ada tetesan cairan bening di pelupuk matanya.

Namun hatiku tak goyah, rasanya itu hanya aktingnya mengingat dia aktor lihay dalam bersandiwara. Itu hal yang sangat mudah baginya.

Dia langkahkan kakinya keluar ketika diambang pintu, sambil berjalan mendekatinya aku berkata.

"Aku tak mau pernikahan ini didasari dengan kebohongan."

Dan ku tutup dengan cepat segera menguncinya. Ku sandarkan badanku pada pintu, terasa lunglai tak bertenaga akupun merosot terduduk dengan linangan air mata yang tak sanggup ku tahan lagi.

Tangisan yang pecah kini menguasai emosiku, terasa perihnya hati ini. Biarkanlah aku memeluk rasa kecewaku. aku ingin sendiri.

***

Merasa lapar aku beranjak dari kasur yang entah berapa lama aku tertidur, kemudian keluar untuk membeli makan sebentar setelah mengunci pintu kamar aku bergegas turun.

Tiba-tiba aku kangen nasi goreng yang ada di gang kecil langganan ku berjarak 200 meter dari hotel, ku alihkan kakiku menuju gang yang semula mau mengambil mobil di parkiran.

Sehabis makan aku kembali, malam sudah larut gang agak sepi. Ku percepat langkah kakiku karena hatiku tak enak, ternyata di ujung sana ada segerombol pemuda yang serempak melihatku yang hanya sendiri. Aku tetap tenang, siulan salah satu dari mereka menambah ketakutan ku.

"Cewek sendirian aja, mau gak aku temenin, diem aja, cantik halo." Dan tangannya mendarat di pundakku.

Sontak aku menepis tangannya, dan suaranya berubah membentak dan mengumpat ku, aku dikurung dengan tangannya tubuhku bersender di tembok, aku menjerit sekuat tenaga, dan mereka tiba-tiba lari, entah kenapa aku ketakutan.Terasa kepala ini berat, mataku mengabur melihat siluet sekilas kemudian semua gelap.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku bangun bayangan pertama yang tertangkap oleh mataku adalah Mas Radit tertidur dengan posisi duduk dan menggenggam tanganku,

terasa tangan kiri ku perih ternyata tertancap jarum infus yang sudah menempel di punggung tanganku.

Ku mengedarkan mataku hingga tersadar. Saat ini aku sedang berada di Apartemen mas Radit.

Mas Radit terganggu dengan pergerakan ku akhirnya bangun.

"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang,

tadi kamu pingsan di jalan. untung ada Eko sama temen-temennya yang nolongin kamu dan bawa kesini." Kata mas Radit menjelaskan.

"Aku kenapa, kenapa aku pakai infus?"

tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Kata dokter kamu gak apa-apa cuman telat makan aja, jangan kawatir infusnya habis nanti bisa dilepas kok, ada perawat di luar mau aku panggilin?"

Aku hanya menggeleng mataku berat ingin tidur kembali. Akhirnya aku tidur beberapa saat kemudian bangun, infus sudah terlepas dari tanganku, rasanya lebih segar.

"Dimanakah mas Radit?" Batinku. "Bukankah aku lagi marah sama dia buat apa aku mencarinya?" Gerutu ku.

Ku beranjak dari tempat tidur ternyata mas Radit sedang menelfon di ruang televisi.

"Mamah gak usah kawatir, Tata baik Mah,

iya maafin Radit gak bisa jagain mantu Mamah, iya Mah."

Kudengar kalimat mas Radit dengan raut wajah bersalah sepertinya Mamah sedang memarahinya di sambungan telepon. Benarkah?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED