Bab 1

Hari-hariku kian berwarna

Duniaku terisi kesempurnaan

Kau Dewi hatiku

Jiwaku tunduk dalam cintamu

Selamanya kuharap segala yang terbaik

Bersama selalu ku yakin

°°Radit Aditama

Tata sedang bergerak di atas tubuh prianya yaitu Radit malam itu. Mereka berpeluh menyatu merefleksikan sebuah rasa dimana kenikmatan yang akan mereka raih bersama. Wanita bermata sayu ini membuat sang pria menutup matanya dengan gerakan memanjakan miliknya. Gerakan yang lembut berganti dengan tempo cepat tak beraturan.

"Oh honey faster please." Pinta Radit dengan suara serak. Tata begitu terampil jika urusan membuat sang suami terpuaskan dengan pengalamannya. Bukannya menurut wanita itu justru menurunkan tempo gerakannya. Dia menunduk memberi akses bibir suami untuk meraih bagian dadanya.

"Emmph," suara pria itu terjejal gundukan daging yang tak besar. Justru gundukan itu hanya satu genggaman tangannya. Pria itu frustasi sedang miliknya di bawah sana meronta ingin merasakan gerakan sang istri kembali.

Tata kembali bergerak lebih kasar membuat bibir sang suami terlepas dari pagutan itu. Mata sang pria kini semakin berkilau dengan hasrat menggelora. Rasa itu sungguh melebihi apapun di dunia ini. Mereka saling mengudarakan nama sebagai tanda telah sampai di alam nirwana. Tata menjatuhkan tubuh polosnya di samping sang suami. Nafas mereka masih memburu, terengah-engah.

Kini sang suami beralih membersihkan sisa cinta mereka di inti sang istri menggunakan bibirnya. Sebuah kebiasaan pria itu selepas bercinta. Dia akan menyapu setiap inchi milik sang istri, tak jarang membuat istrinya akan bersemangat kembali meminta layanan dirinya untuk melakukan sesi berikutnya. Bagi Radit itu tak masalah selama istrinya terpuaskan, selama wanita yang dirinya cintai bahagia.

Begitupula dengan Tata, dia selalu menyukai permainan yang berbeda di ranjang bersama sang suami, walau dirinya seorang ibu beranak dua, namun bagian dirinya selalu dirasakan nikmat oleh suaminya. Itu membuat dirinya merasa sempurna sebagai wanita.

°°°

Radit 13.10

"Honey aku jemput yah kita makan siang."

Tata 13.12

" Bentar yank aku masih meeting 20 menit lagi kelar."

Jawab Tata dalam chatt WhatsApp

Mobil putih 'Range rover' terparkir dengan mesin menyala, Radit sedari 15 menit yang lalu menunggu Tata sedang meeting di salah satu restoran ternama si Surabaya. Bersenandung kecil, full music di dalam.

Dengan tergesa Tata berlari kecil Menghampiri Radit yang tiduran bersandar dalam mobil.

Tok tok

Pintu kemudi diketuknya seketika Radit terbangun bergegas turun dan membuka pintu sebelah kemudi untuk Tata.

"Lain kali gak usah turun Mas, aku bisa kok buka pintu sendiri."

Pinta Tata yang kurang enak bila diperlakukan demikian.

"Kenapa sih aku cuman bantu buka aja, kenapa gak boleh sih?" sambil menggenggam tangan kanan Tata.

"Ck. Berasa nyonya besar ih, aku gak nyaman." Dercak Tata yg masih teguh dengan pendapat nya.

"Gak mau ah. Biasain yah karena kamu nanti jadi nyonyaku, nyonya Radit Aditama. So segala kebiasaanku kamu harus ikuti."

Tanpa sadar kata-kata itu membuatnya semakin takut.

Berhasil membuat wajah Tata murung dengan kalimat-kalimat Radit seakan harus ikuti gaya hidupnya, ikuti kebiasaannya.

"Bukankah perbedaan adalah hal yang membuat pasangan bersatu saling melengkapi?" Batin Tata mengeluh pada dirinya sendiri.

Sore itu dua hari sebelum kembalinya Radit ke Jakarta.

Radit seperti biasa berkunjung ke rumah Tata, obrolan bersama bapak pada akhirnya membuat keputusan menikahi Tata saat itu juga diambilnya. Ya Menikah secara agama karena bapak khawatir dengan kedekatan mereka toh bulan depan mereka menikah resmi. Apalagi kejadian malam itu di mana Tata pulang larut dan Bapak menemukan sesuatu tanda merah di leher anak bungsunya itu membuat pria tua itu sangat hawatir. Terlebih Tata juga menceritakan kedekatan mereka bukan sebatas teman. Hal ini telah di diskusikan olehnya juga semua saudara Tata sehingga pernikahan ini tercetus.

Yah menikah siri agar mereka tidak melakukan hal yang di luar batas, dengan senang hati Radit menuruti keinginan bapak mertuanya itu.

Dengan satu tarikan nafas Radit mengucap ijab Kabul dengan lantang tanpa ada kesalahan di sana.

"Saya terima nikah dan kawinnya Tata Dayuning tyas binti Hadianto dengan mas kawin Uang sebesar tiga puluh juta rupiah dibayar tunai."

"Sah?"

Alhamdulillah suara Bapak, ustadz keluarga dekat Tata berkumpul untuk menjadi saksi pernikahan siri mereka yang tidak direncanakan itu serempak menengadah mengamini doa ustadz sebagai penghulu mereka.

"Sayang kenapa murung?" Tanya Radit sambil ada dalam kemudi mobil menuju apartemennya. Tata bersama Radit pergi setelah acara syukuran kecil itu usai.

"Gak apa-apa." Jawab Tata singkat, "tadi pak ustadz bilang kalau kamu itu artis." sambungnya.

"Uhuk uhuk uhuk ."

Radit tersedak salivanya sendiri.

"Kamu gak ada air di mobil?" Sambil mencari di sudut-sudut pintu dan membuka dashboard Tata berusaha mencari air mineral untuk Radit.

"Gak ada sayang."

Jawab Radit, menahan rasa perih di tenggorokannya.

"Kamu gak apa-apa?" Tanya Tata sangat kawatir.

Tak terasa sudah memasuki area parkir dan mobilpun berhenti.

Masih dengan wajah ketakutan bahkan kawatir Radit menoleh kemudian memegang kedua tangan Tata.

"Sayang aku mau apapun yang terjadi kita tetep bareng, sungguh aku tidak pernah mencintai wanita sebelumnya seperti aku mencintaimu.

Bagiku kamu hidupku yang baru, tanpamu aku tidak yakin bisa hidup normal." Ucap pria itu dengan kesungguhan.

Tata semakin bingung dengan suami sirinya ini kata-katanya seakan tersirat membuat kesalahan yang fatal namun apa? Dirinya membeku mencoba memahami kata demi kata yang Radit utarakan.

"Kamu belum respon kata-kataku tadi Mas?"

Ucap Tata namun tak ada jawaban dari Radit.

"Kita masuk yuk," ajak Radit seraya membuka kunci mobil. Mereka sudah berada di basemen gedung mall juga terdapat tempat tinggal yang tersambung serta hotel yang ada di sebelahnya, semua bangunan itu menjadi satu kesatuan.

Tanpa kata Tata turun kemudian berjalan menuju unit apartemen Radit.

"Nah ini apartemen kita, nanti kamu bawa akses cadangan". Terang Radit sambil memasukkan password kunci pintu.

Apartemen disini dengan luas dua ratus meter persegi.

Unit lawas di Surabaya seperti rumah, bersebelahan dengan hotel bintang lima dan akses tersambung dengan lorong mall T*nj*ng*n Pl*z*, ketika masuk aroma jasmin menenangkan, nuansa cat silver dengan tiga kamar tidur dua kamar mandi, dapur dan ruang tamu, sangat luas.

"Bersih, rapi," gumam Tata seraya mengedarkan matanya ke seluruh sudut ruangan.

Radit memeluk Tata dengan kecupan, yang sukses membuat Tata membeku.

Tak lama Radit mengecup bibir ranum Tata dengan perlahan kemudian semakin cepat disambut Tata dengan membalas kecupan yang menghasilkan respon sedikit lebih berani.

Raditpun melepas baju dan celana menyisakan boxer polosnya.

Bibir Radit menyapu setiap jengkal tubuh Tata ketika sampai di sela dada wanita itu tak disangka suara Bagas menggagalkan cumbuan bercinta mereka.

"Lain kali kalo lo pulang Ka ba-r," berhenti melihat pemandangan tak biasa Radit dan Tata yang setengah telanjang.

Bagas kaget. Matanya membulat juga meneguk saliva kasar. Bagaimana tidak dirinya sedang menonton adegan film secara live, bukan ini semacam pertunjukan yang tak pernah di bayangkan sebelumnya.

"Bangsat!" Pekik Radit dengan melempar sepatu ke arah Bagas.

Sontak membuat Tata bersembunyi di belakang Radit.

Bagas pun segera keluar sambil cengengesan karena ulahnya sahabatnya menghentikan kegiatan bercintanya.

"Maaf Dit gua ganggu kegi-atann lo waaaa...."

Teriak Bagas sambil berhambur keluar.

Dengan nafas yang tak beraturan Radit juga Tata seakan terkena serangan rasa malu luar biasa. Bagaimana hubungan pribadi sampai bisa ada orang ketiga, bukan makhluk yang selama ini orang katakan namun benar-benar entitas sesamanya. Sialnya mereka bersahabat saling mengenal.

Tak mau merusak suasana Radit dengan cepat menggendong Tata ala bridal style sambil mendaratkan ciuman lembut pada bibir wanitanya, dibawanya masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.

Malam pertama mereka dihabiskan di apartemen Radit.

Sesaat Fajar datang Tata bergegas membersihkan diri dan menunggu Radit mengimami shalat subuhnya untuk pertama kali.

Setelahnya Tata berangkat ke kantor.

Yang sebelumnya ia mampir rumahnya guna mengambil beberapa berkas. Tak lupa membuat sarapan alakadarnya sesuai bahan yang berada dalam kulkas.

Radit duduk menikmati sarapan paginya yang dibuatkan Tata sebelum berangkat.

Bagas masuk dengan menyapukan matanya ke setiap sudut ruangan.

"Basah kuyup nih? Berapa ronde semalem," sambil meraih sandwich di depan radit namun radit sigap mengambil kembali sebelum makanan mendarat di mulut Bagas.

"Bikin sendiri sana ini khusus buat gue."

Sikap Radit tak mau berbagi sarapan membuat Bagas kesal.

"Pelit banget lo, ngomong-ngomong gua gak nyangka lo bisa buat Tata mau bercinta sama lo, setau gua dia cewek baik-baik anjir."

Tanya Bagas penuh heran jangan lupakan wajah mengejeknya sukses membuat siapapun di depannya merasa kesal.

"Ya maulah, dia mau dosa nolak suami."

Jawab Radit enteng

Uhukk .

Bagas tersedak ketika minum teh hangatnya.

"Suami pala lo, bukannya rencana bulan depan loe nikahin Tata?" Sambil Susah payah meminum air putih meredakan perih di tenggorokannya akibat tersedak Bagas bingung dengan ucapan Radit enteng.

"Wait! Ada yang aku lewatkan paduka Radit? Ada apa sebenarnya?" Tanya Bagas memberondong.

Hanya dibalas senyuman oleh Radit

"Anjir lo ditanya cengengesan lagi."

Umpat Bagas kesal.

"Kemarin gua nikahin Tata."

Sekali lagi Bagas tersentak kali ini tehnya tumpah. Tak ayal celananya sedikit basah.

"Lo yg bener napa Dit, jangan mentang-mentang gua gagalin kegiatan lo semalem, lo kerjain gua kayak gini." Keluh Bagas dengan penjelasan Radit yang seakan menggantungg terkesan bercanda.

"Gua beneran Gas, sapa yg kerjain lo."

Jelas Radit.

"Jadi gue kemarin diminta Bapak mertua gua nikah siri dulu karena beliau takut kita berdua yah lo pahamlah maksudnya." Akhirnya Radit menjelaskan secara menyeluruh.

"Dan berita besar kek gini lo gak ngabarin gua? Tega lo Dit!" Bagas dengan nada kecewa.

"Salah siapa handphone dari sore sampek malem gak aktif? Gua telpon loe berkali-kali Bangst!"

Dan Bagas baru ingat baterai ponselnya habis ketika dia di luar kemarin.

"Gua terusin malem pertama yg sempet lo rusak anjir." Dengan nada tinggi Radit memicingkan matanya.

"Maaf deh, Ck"

decak Bagas."Trus mamah lo uda tau?" Lanjut Bagas bertanya.

"Ya udahlah gas tanpa persetujuannya gua gak mungkin jalan, lo tau gua kalik."

Lanjut Radit.

"Oh jadi ini sandwich bikinan Tata?

Bagi dikit kalik dit pelit banget lo."

Segera dimasukkan ke mulutnya tanda Radit tak mau berbagi.

"Ambil roti sendiri sono! Masih ada kok di kulkas," titah Radit.

Setelah mengambil roti Bagas mengoleskan selai kacang di rotinya.

"Terus gua gak bisa tinggal disini lagi ya Dit?"

Tanya Bagas.

"Lo boleh tinggal sini tapi gua ada bini yang ada kek semalem lo gangguin gua lagi asyik-asyiknya."

Sambil mengangkat kedua alisnya.

"Kemarin gua udah beli apartemen di situ loh deket dari sini, yah emang gak segede gini tapi cukuplah buat lo sendiri."

"Gua juga ogah tinggal bareng lo. Yang ada tiap malem gua ngiler ada adegan porno live ." Bagas terkekeh.

"Besok penerbangan siang loh jangan lupa."

Kata Bagas mengingatkan.

Bab 2

Bila diri ini bodoh dengan kenyataan

Biarkan kecewa ini datang menghapus kenangan

Sungguh tercabik-cabik hati ini membuat luka disana

Andai aku paham dari awal

Ceritanya akan berbeda

°°Tata Dayuning tyas

Kini air mataku berganti kebahagiaan, Dia berbeda menawarkan cinta yang entah aku tak mampu menolak pesonanya.

Radit Aditama. Pria tinggi seratus delapan puluh sentimeter dengan kulit putih bersih, bulu matanya tebal dan alis senada, sepanjang dagunya sering ditumbuhi bulu halus begitu juga di atas bibirnya.

Bibirnya sedikit merah dengan warna rambut kecoklatan bergelombang.

Tangannya berbulu khas laki-laki blasteran.

Ayahnya berasal dari Inggris dan ibunya berasal dari Sulawesi.

Ayahnya telah lama meninggalkan dirinya dan adik serta ibunya sejak ia usia 6 tahun.

Tutur katanya yang renyah kudengar seperti aku makan keripik, yah gurih rame, gak rela jika habis.

Kami saling mengenal ketika presentasi penawaran yang berakhir dengan kerjasama, perusahaan tempatku bekerja dan perusahaan yang akhirnya aku tahu miliknya. Kami sering bertemu, berlanjut dengan chatting di aplikasi WhatsApp.

Seringkali menghabiskan waktu sekedar makan bersama. Semua berjalan baik natural juga elegan.

Kami berbincang santai setelah tanda tangan kontrak kerjasama perusahaannya dengan perusahan tempatku bekerja usai. Untuk pertama kalinya kami saling nyaman bercerita, bulu matanya yang lentik namun tak panjang, di mata tajam namun bersahabat mempertemukan kami.

Entah kenapa serasa ada kenyamanan, rasa aman, damai bersamanya seperti yang aku rasakan bersama mendiang suamiku dulu.

Usianya tiga puluh tiga tahun beda 5 tahun denganku.

Usia yang sama juga dengan suamiku.

Kami dekat selama 8 bulan

hingga 1 bulan yang lalu ia menikahi diriku secara Agama atas permintaan bapakku.

Namun kami berencana menikah resmi atau lebih tepatnya mengadakan resepsi di pertengahan bulan ini, yaitu bulan September sesuai dengan tanggal kelahiran ku. Persiapan kami sudah delapan puluh persen. Hanya saja menunggu gaun resepsi sehingga kami fitting terakhir sore ini.

Masih dengan kebiasaannya menggunakan masker topi dan kacamata ketika di luar.

Priaku ini sangat takut dengan debu, karena bisa menimbulkan jerawat tuturnya, sehingga itulah style selama ini ia kenakan.

Kami pergi bersama mama mertuaku wanita cantik feminin yang sangat dekat dengan suamiku ini,

beliau wanita cerdas baik hati supel terbukti meski tinggal di perumahan elit, mertuaku ini mengenal baik tetangganya, beliau dipanggil mamah Radit.

Wajah cantiknya yang khas, suaranya yang lembut selalu sukses membuat siapa saja nyaman berlama-lama mengobrol dengannya. Jikalau ada acara di komplek pasti di sana ada andil mamahnya, ia berhasil mendidik dua orang putra dengan bekerja seorang diri, dan sifat mereka tak jauh berbeda dengan mertuaku yang luar biasa ini.

"Tata tunggu Mamah,"

pintanya ketika turun dari mobil kita menuju butik tempat kami memesan gaun resepsi. Mamah cantik dibalut dengan dress hijau sage, dan rambutnya dibiarkan begitu saja.

Mama meraih tanganku menggandengku seperti anaknya sendiri itulah yang dilakukan selama aku mengenalnya. Sangat hangat dan bersahabat.

Sesampainya di butik ada laki laki kemayu sigap menggantikan baju jahitannnya

di tubuhku.

"Awas say rambutnya pegang yah." Katanya dengan jemarinya menaikkan resleting gaunku.

Aku merespon dengan merangkum rambutku yang tergerai.

Aku mencoba gaun pengantin yang sudah kali ketiga direvisi karena menurut suamiku kurang pas ku gunakan.

Mas Radit duduk tak jauh dariku, dirinya membolak-balik majalah yang disitu banyak model gaun pengantin. Tapi aku tak tahu pasti apa yang membuatnya serius melihat majalah itu, aku tak tahu apa yang menarik dengan benda tersebut. Bisa jadi dia melihat model gaun pengantin atau model cantiknya.

"Adit liak istrimu ."

Teriak mama. Setelah aku mencoba gaun pengantin. Sesaat aku aku dengan sedikit gugup menghadap ke arahnya,

seketika mas Radit menatapku, tatapannya berhasil membuatku malu dan ku yakin saat ini wajahku merah seperti kepiting rebus.

Gaun berwarna broken white tanpa lengan, belahan di dada sedikit rendah, di bagian belakang menjuntai dengan taburan kristal Swarovski menyebar, memang pas ku gunakan. Terlihat sangat indah juga mewah.

"Perfect Ma. Bidadari ku sempurna," teriaknya sambil menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk bulat.

"Ok persiapan sembilan puluh persen tinggal 14 hari lagi acara kalian. Tata jaga kesehatan yah, kalau bisa ajuin cuti supaya kamu rileks, Adit gak usah kluyuran kamu! Udah di rumah aja biar semua di-handle Bayu sama Bagas urusan pekerjaan". Titah mama jelas pada kami.

°°°

Hari ini terakhir aku masuk bekerja kebetulan siang ini aku harus bertemu klien, disela-sela pembahasan kami, benda pipih yang ku geletakkan di sebelah laptopku berbunyi, akhirnya aku terima setelah panggilan kedua.

"Halo bentar ya Mas, Ini aku masih meeting tunggu sebentar lagi." Kataku mendengar suara suamiku dari seberang yang mau menjemputmu. Kami hendak ke salon bridal sebab mamah menyuruh kami melakukan perawatan. Aku tak paham supaya apa, sebab dulu aku tak seriweh ini perkara mau mengadakan resepsi saja.

Ku taruh kembali gaweku tak sengaja pak Firman klien ku yang saat ini berada tepat di depanku melihat wallpaper fotoku dan mas Radit.

"Loh Radit aditama ya mbak."

Celetuk nya dengan nada heran penuh tanya jadi satu.

Belum sempat ku jawab pak firman melanjutkan.

"Ini aktor favorit istri saya mbak anak saya apalagi langganan kalo filmnya diputar di bioskop pasti mereka gak absen."

Kata-kata pak Firman membuatku tercengang, dengan mata membola serasa ada gurauan yang sukses membuatku ingin tertawa keras.

"Mbak Tata kenal sama Artis ini? Mintakan tanda tangannya ya mbak pasti anak saya senengnya bukan main."

Namun.

Apa yang aku dengar ini? Berubah ketika beliau mengatakannya dengan lugas dan wajah sedikitpun tiada gurauan di sana. Serasa jantungku berhenti berdetak. Ada rasa nyeri di dalam sana.

"Bukan Pak Firman, ini calon suami saya bukan artis," aku menyangkalnya.

Namun pak Firman menggeleng sambil mengangkat gaweku dan melihat foto kami sekali lagi.

"Ah mbak Tata ini saya yakin mbak. Namanya Radit Aditama kan? Ibunya juga terkenal ibu Pratiwi Saraswati sering mengisi acara seminar parenting, karena beliau sosok inspiratif. Ditinggal suami sejak Mas Radit ini masih kecil dia sukses mendidik kedua anaknya."

Cerita ini tak ayal membuat mataku buram karena mendung yang tiba-tiba mengumpul di mataku.

Setelah pak Firman pamit pulang, akupun masih syok mendengar semua ini.

Dan mendung yang tertahan tadi tumpah bebas di pipi ini. Baiklah jika pak Firman salah orang namun pak Firman menyebutkan nama mama mertuaku dengan lengkap. Mencoba menyangkal kenyataan, akhirnya aku dipaksa percaya dengan fakta yang ada.

Haruskah aku bahagia? Ataukah sedih? Entahlah hatiku seakan hancur.

Aku pergi ke Bandara, kala itu

tak berpikir apapun hanya merasakan nyeri yang tak aku pahami mengapa? Untunglah ada penerbangan ke Surabaya yang masih tersisa saat ini juga.

Aku pulang, aku mengabaikan semua pesan dan panggilan yang tak berhenti masuk di gaweku, dari suamiku, katakan saja aku sedang kecewa dan sepanjang perjalanan mengingat semua kenangan sembilan bulan bersama, bersama mas Radit. Namun aku tak tau sejatinya pasanganku.

Ia selalu bermasker jika di tempat umum, tidak pernah mau makan di tempat umum pasti memesan ruangan khusus di restoran.

Bodohnya aku.

Bab 3

Tak menyadari semua itu.

Ya Allah kenapa sesakit ini?

Apa aku salah?

Kenapa aku tak tahu?

Aku menikah dengan pesohor, perjalanan tadi ke Bandara aku mencari berita di gaweku dan benar semua informasi tentang suami siriku itu sesuai dengan cerita pak Firman tadi.

Ku abaikan pesan WhatsApp dari mas Radit.

Sungguh kini sesak di dadaku menghimpit hingga aku kepayahan hanya untuk mengambil nafas panjang agar sesak itu terusir namun usahaku sia-sia.

Tak terasa cairan bening membasahi mataku.

Sekali lagi aku katakan bahwa aku kecewa.

Sesampai Surabaya aku memesan hotel. Karena aku tak ingin membuat orang tuaku bertanya, maka aku tak pulang ke rumah, aku butuh sendiri.

Ku hempaskan tubuhku di kasur aku menangis sejadinya. Kenapa aku sebodoh ini? Delapan bulan mengenal satu bulan menjadi istrinya sedikitpun aku tak tahu tentangnya. Kenapa kebahagiaanku sekejap kurasa? Mengapa aku harus mendapati kenyataan dari orang lain bukan dari laki-laki ku?

Kenapa perih rasanya? Kenapa aku harus menitikkan air mata, setelah kepergian suamiku di keabadian? Apa aku salah menerima dia? Apa aku terlalu cepat mengambil keputusan?

Bodoh!

Umpat ku pada diriku yang merasa terlampau tenggelam dalam rasa acuh lagi cuek yang menjadi kekurangan diriku ini sejak dulu.

Entahlah berharap ini mimpi. Berharap aku sedang tidur kemudian bangun normal kembali. Aku tetap terjaga walaupun jam sudah menunjukkan pukul 01.45 dini hari.

Akhirnya aku ambil wudhu menarik mukena traveling ku kemudian sholat malam. Di sujud ku rasa nyeri itu datang lagi cairan bening dari mataku menerobos deras tak sanggup ku tahan lagi.

Aku menangis sejadinya entah, tak bisa ku tahan rasanya sesak dan sakit di dada bersamaan memaksa meruntuhkan kesedihan ini. Air mataku seakan sumber air yang tak bisa mengering meski sedari sore tadi ku buat menangis.

Ku tengadahkan tanganku sambil mengadu segala sesak yang menghimpit dadaku sejak siang tadi. Ya Allah

Apa yang harus aku lakukan? Ku tenggelam dan membenamkan wajahku di sajadah disana tak terasa tertidur sesaat adzan subuh membangunkan ku.

°°°

Drt drt drrt

Pasti Mas Radit batinku, sambil kulirik benda pipih yang ku geleletakkan begitu saja di atas nakas samping kasur.

Tapi di layar muncul nama sahabat ku vina yang berbulan-bulan terpisah jarak dan tempat kerja. Vina bertugas di kantor pusat Tokyo Jepang.Ku angkat gaweku seketika melihat sahabatku menelfon.

"Halo, Assalamualaikum Vin"

"Waalaikumsalam calon pengantin."

Jawabnya penuh semangat di seberang

sana.

"Apaan sih Vin, ada apa tumben nih telfon biasanya chat ajah, kena roming lo."

"Gitu yah sekarang ditelpon sahabat sendiri, mentang-mentang uda ada babang tamvan."

"Uda deh godain gue mulu, gimana di Jepang, kamu sehat yah Vin?"

"Tata gue udah di Indonesia dari 3 hari yang lalu, nih gue otw ke apartemen di Surabaya, makanya gue telpon elo, kata orang kantor lo ambil cuti nikah. Gue samperin lo ke Rumah yah habis naruh barang entar?"

"Jangan Vin, gue samperin ke tempat lo aja. Bang Arnold Suami lo ikut juga?"

" Oh gitu? Oke deh, gak kok, suami gue nyusul besok karena masih ada kerjaan di Jakarta, Ta' suara lo kok gini, lo sakit?"

"Flu dikit Vin, gue siap-siap dulu yah, meluncur ke apartemen lo." Vina selalu tahu bahwa aku tak baik-baik saja hanya dengan mendengar suaraku saja.

"Ok deh hati-hati ya, gue tunggu."

Tut tut tut.

Suara telepon ditutup.

Dasar Vina gak salam dulu kek kebiasaan. Gerutu ku.

***

Aku tak bisa sembunyikan semua lukaku pada sahabat ku Vina, sesaat aku sampai di apartemen yang berada di Surabaya Timur. Letaknya cukup dekat dengan rumahku. Akupun bercerita segala gundah gelisah ku. Tak ku sadari lebih terdengar semua ini cara mengeluh atas kebodohan diriku sendiri. Setelah bercerita dengan derai air mata, Vina menghela nafas panjang, sambil memelukku.

"Gue tahu Ta perasaan lo, sudah ya berhenti nangisnya."

Sambil menyeka air mataku yang terus mengalir di pipi.

"Aku sudah tahu semenjak seminggu yang lalu lo kirim foto berdua sama Radit.

Cuman gue agak ragu karena lo gak pernah kenalan sama cowok aneh-aneh. Karena biasanya circle artis kan dunia hedon Ta' dan gua tau elo." Kata Vina kemudian dilanjutkan.

"Tapi Ta' (dengan terbata)

kamu udah jadi istrinya Ta' walaupun hanya siri, itu sah."

Aku tertegun sekejap dan bangun dari pelukan Vina.

"Terus aku harus gimana Vin.

Aku kecewa sama dia, hatiku sakit, tapi acara pernikahan gue 12 hari lagi.

Apa aku harus bat-."

Belum selesai kalimat ku dipotong Vina dengan nada suara meninggi.

"Jangan ta' lo gila, lo jangan egois, pikirin baik-baik. Lo gak kasihan ortu lo, anak-anak lo, lebih-lebih Mamanya Radit yang lo bilang sayang banget sama lo?"

Air mataku yang sempat berhenti kini menerobos kembali di pipiku, aku terdiam sesaat. Aku bingung,

"Gue balik dulu yah?" Ucapku seraya mengaitkan tas di pundakku.

"Yakin? kamu disini aja dulu Ta.

Lagiyan bang Arnold hari Sabtu datengnya, tenangin diri lo. Gue kawatir kalau lo balik ke hotel di sana lo sendirian."

Pinta Vina mencegahku untuk pergi, namun aku tetap pergi.

"Aku ingin sendiri dulu jawabku singkat."

Sepanjang perjalanan pulang kata-kata Vina terngiang di telingaku, sesampai di kamar hotel aku masih memikirkan kata-kata Vina yang sedikitpun tak ada kesalahan di sana.

Aku gak boleh egois,

Bagaimanapun Mas Radit masih suami sahku.

Tok tok tok.

Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

Iya sebentar, sedikit berteriak.

Setelah kubuka pintu ternyata Berdiri pria yang aku hindari selama 2 hari ini. Siapa dia?

Aku mencoba menutup kembali pintu tapi berhasil ditahan tangan suamiku.

Aku tak berdaya karena memang aku kalah dengan tenaganya akhirnya ku hentakan kakiku dan berbalik masuk dengan dengusan sebal.

Aku duduk di sofa diikuti Mas Radit.

"Sayang kenapa telfon ku chatt aku semua gak kamu respon, aku hawatir banget."

Tanpa ku tatap wajahnya, ku palingkan wajahku ke sembarang arah dan menarik nafas panjang.

"Tiba-tiba kamu ke Surabaya gak pamit aku, padahal kita kan mau ke spa kemarin mau treatment pranikah dan-."

Aku potong pembicaraan ini dengan emosi yang mengumpul di kepala dan da** ini sesak tak terhingga.

"Talak aku mas sekarang juga."

Dengan nada kemarahan yang tertumpah.

"Kita batalin semuanya!" lanjut ku agak membentaknya.

Kulihat dari ekor mataku, wajah mas Radit yang seketika tersentak sedih kaget bercampur dengan tanya yang tak bisa ku artikan.

"Kamu kenapa sayang, ada apa ini tiba-tiba kamu berubah gini, aku gak akan dan gak akan pernah lakukan itu ngerti!" Kulihat wajahnya memerah tanda emosinya sudah tercipta.

"Pergi dari sini, aku gak mau ketemu kamu lagi." Titahku sambil berdiri dan mengangkat tangan kananku menunjuk pada daun pintu.

Mas Radit beranjak hendak memegang tanganku namun ku tepis dan mundur selangkah menjauh.

Sambil membuka kedua tangannya matanya memerah, ada tetesan cairan bening di pelupuk matanya.

Namun hatiku tak goyah, rasanya itu hanya aktingnya mengingat dia aktor lihay dalam bersandiwara. Itu hal yang sangat mudah baginya.

Dia langkahkan kakinya keluar ketika diambang pintu, sambil berjalan mendekatinya aku berkata.

"Aku tak mau pernikahan ini didasari dengan kebohongan."

Dan ku tutup dengan cepat segera menguncinya. Ku sandarkan badanku pada pintu, terasa lunglai tak bertenaga akupun merosot terduduk dengan linangan air mata yang tak sanggup ku tahan lagi.

Tangisan yang pecah kini menguasai emosiku, terasa perihnya hati ini. Biarkanlah aku memeluk rasa kecewaku. aku ingin sendiri.

***

Merasa lapar aku beranjak dari kasur yang entah berapa lama aku tertidur, kemudian keluar untuk membeli makan sebentar setelah mengunci pintu kamar aku bergegas turun.

Tiba-tiba aku kangen nasi goreng yang ada di gang kecil langganan ku berjarak 200 meter dari hotel, ku alihkan kakiku menuju gang yang semula mau mengambil mobil di parkiran.

Sehabis makan aku kembali, malam sudah larut gang agak sepi. Ku percepat langkah kakiku karena hatiku tak enak, ternyata di ujung sana ada segerombol pemuda yang serempak melihatku yang hanya sendiri. Aku tetap tenang, siulan salah satu dari mereka menambah ketakutan ku.

"Cewek sendirian aja, mau gak aku temenin, diem aja, cantik halo." Dan tangannya mendarat di pundakku.

Sontak aku menepis tangannya, dan suaranya berubah membentak dan mengumpat ku, aku dikurung dengan tangannya tubuhku bersender di tembok, aku menjerit sekuat tenaga, dan mereka tiba-tiba lari, entah kenapa aku ketakutan.Terasa kepala ini berat, mataku mengabur melihat siluet sekilas kemudian semua gelap.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba aku bangun bayangan pertama yang tertangkap oleh mataku adalah Mas Radit tertidur dengan posisi duduk dan menggenggam tanganku,

terasa tangan kiri ku perih ternyata tertancap jarum infus yang sudah menempel di punggung tanganku.

Ku mengedarkan mataku hingga tersadar. Saat ini aku sedang berada di Apartemen mas Radit.

Mas Radit terganggu dengan pergerakan ku akhirnya bangun.

"Alhamdulillah kamu udah sadar sayang,

tadi kamu pingsan di jalan. untung ada Eko sama temen-temennya yang nolongin kamu dan bawa kesini." Kata mas Radit menjelaskan.

"Aku kenapa, kenapa aku pakai infus?"

tanyaku dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Kata dokter kamu gak apa-apa cuman telat makan aja, jangan kawatir infusnya habis nanti bisa dilepas kok, ada perawat di luar mau aku panggilin?"

Aku hanya menggeleng mataku berat ingin tidur kembali. Akhirnya aku tidur beberapa saat kemudian bangun, infus sudah terlepas dari tanganku, rasanya lebih segar.

"Dimanakah mas Radit?" Batinku. "Bukankah aku lagi marah sama dia buat apa aku mencarinya?" Gerutu ku.

Ku beranjak dari tempat tidur ternyata mas Radit sedang menelfon di ruang televisi.

"Mamah gak usah kawatir, Tata baik Mah,

iya maafin Radit gak bisa jagain mantu Mamah, iya Mah."

Kudengar kalimat mas Radit dengan raut wajah bersalah sepertinya Mamah sedang memarahinya di sambungan telepon. Benarkah?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED