Arshaka menatap Earlyta dengan tatapan ibanya. “Kamu yakin?” tanyanya entah untuk ke berapa kalinya dalam pembicaraannya dengan sahabat masa kecilnya itu. Gelas kopi yang sudah tandas menandakan sudah berapa lama mereka duduk berhadapan seperti ini, namun topik pembahasan mereka tidak juga berubah.
Earl—panggilan akrab Earlyta—menghela napasnya. “Apa yang harus aku pertahankan lagi?” Dia balik bertanya. Tatapannya yang awalnya fokus pada meja di hadapannya, kini bertubrukan dengan tatapan Arshaka. “Semuanya sudah hancur, bukan?”
Arshaka terdiam. “Tapi, apa kamu baik-baik saja?”
Earlyta menggeleng. “Aku tidak tahu. Tapi … seolah aku sakit kalau bersama dia, tapi lebih sakit kalau tidak bersama dia.”
Arshaka mengulurkan tangannya. “Kamu tahu kalau aku akan ada di sisi kamu, bukan?”
Earlyta menatap lamat-lamat sahabatnya. Semua hal yang sudah ia alami dalam hidupnya, disaksikan langsung oleh Arshaka. Sejak mereka berada di bangku sekolah menengah pertama, hanya Arshaka yang menemaninya. Earlyta tidak tahu bagaimana nasib hidupnya jika Arshaka tidak menjadi sahabatnya. “Apa kamu kecewa padaku?”
Arshaka menggeleng tegas. Gila saja, bagaimana bisa dia kecewa pada sahabatnya sendiri? “Aku kecewa pada diriku sendiri, karena tidak bisa memegang janji pada ibu kamu.”
Earlyta tersenyum sendu. “Dia juga pasti sangat kecewa padaku. Aku janji untuk bahagia, tapi ternyata—”
“Kamu akan bahagia, Earl. Aku yakin itu.” Genggaman tangan Arshaka pada Earlyta menguat. Seolah memberikan semangat lewat uluran tangannya. “Aku menjadi saksi bagaimana kamu selalu kuat.”
Wanita paling mandiri yang pernah ia kenal selain ibunya hanyalah Earlyta.
“Aku berpikir, apa yang akan aku lakukan setelah ini. Jika tanpa dia … apa aku masih bisa?”
Arshaka mengangguk tegas. “Sebelum ini saja, kamu bisa melewati semuanya, Earlyta. Jadi, kenapa kamu ragu sekarang?”
Earlyta menggeleng. Dia sendiri tidak tahu. Sebelumnya, dia merasa bisa menjadi wanita yang sangat kuat, karena sejak dulu dia sudah ditempa oleh kehidupan dan didewasakan oleh keadaan di sekitarnya. Jadi, apa yang harus ia ragukan sekarang?
***
Arshaka pulang ke rumah orang tuanya tiap akhir pekan dan biasanya dia selalu menjadi sangat bersemangat tiap kali akan bertemu mereka. Namun, untuk hari ini, Arshaka tidak memperlihatkan wajah semangatnya.
“Shaka?” Anneliese Januar, ibunya, melihat kedatangan anaknya. Dia bergegas menghampiri Arshaka. “Kenapa tidak bilang dulu kalau mau ke sini?”
Arshaka tersenyum kecil. “Biasanya juga aku tidak bilang dulu ke Mama kalau mau pulang.” Arshaka bahkan tidak sempat membuka ponselnya saking banyak beban pikiran yang ia pikirkan sekarang.
Anne menghela napas. “Iya, tapi biasanya kamu akan mengirim pesan agar Mama membuatkan makanan kesukaan kamu.” Anne tertawa kecil. Dia membuka jas yang dipakai Arshaka dengan lembut. “Bersih-bersih dulu, Mama akan menyiapkan kamu teh, ya? Kebetulan Papa kamu juga akan pulang sebentar lagi.”
Inilah yang Arshaka selalu suka tiap kali dia pulang ke rumah. Dia selalu disambut dengan kehangatan dan selalu diperlakukan sangat baik oleh ibunya.
“Oh iya, Arshaka,” panggil Anne yang membuat langkah Arshaka menuju kamarnya terhenti.
“Iya?”
“Earlyta tidak kemari lagi?”
Arshaka menggeleng. “Tidak. Dia sedang … ada sesuatu yang harus ia urus.”
Anne mencebikkan bibir bawahnya. “Padahal Mama ingin mengobrol banyak dengannya.” Anne terkenal sangat dekat dengan semua teman-teman Arshaka, termasuk sahabat sejati Arshaka yang sudah ia kenal sejak zaman SMP, siapa lagi kalau bukan Earlyta Camille. Apalagi Anne dan Earlyta memiliki kesukaan yang sama di bidang seni dan design, membuat pembicaraan mereka setiap bertemu, selalu menyenangkan.
“Nanti akan aku sampaikan pada dia untuk menemui Mama.”
Anne tersenyum. “Baiklah.”
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Arshaka sempat duduk di sisi ranjangnya dan belum berniat untuk turun dan menyapa kedua orang tuanya. Dia membuka ponselnya yang ada di nakas dekat ranjangnya, hanya untuk memeriksa apakah ada pesan dari Earlyta.
Dan nyatanya nihil. Tidak ada sama sekali. Padahal, wanita itu sejak dulu selalu menghubunginya setiap saat, apalagi kalau sedang ada masalah.
Pesan yang didapat oleh Arshaka malahan adalah pesan dari Gio—calon mantan suami dari Earlyta. Arshaka menghela napas ketika melihat pesan tersebut.
Gio Jevarno
Apa kamu sedang bersama Lyta?
Arshaka tahu kalau urusan antara Gio dan Earl belum selesai. Padahal, mereka sudah siap-siap untuk bercerai. Entah apa yang membuat semua urusan mereka terasa sulit untuk di hadapi.
Arshaka menjawabnya dengan satu kata; tidak.
Karena penasaran kenapa Gio tiba-tiba mencari sahabatnya, akhirnya Arshaka memilih untuk menelepon Earlyta.
“Halo?” Untungnya, sahabatnya itu langsung menjawab panggilannya di dering pertama panggilan tersebut.
Arshaka diam-diam menghela napasnya lega. Sejak dia tahu kalau hubungan sahabatnya dengan Gio sangatlah berbahaya, Arshaka sering kali berpikiran yang tidak-tidak jika Earlyta tidak menghubunginya. “Kamu di mana, Earl?”
“Apartemen aku. Kenapa?”
Arshaka menggelengkan kepalanya—walaupun dia tahu kalau Earlyta tidak bisa melihat gerakannya. “Apa kamu sendirian di sana?”
“Hm, tentu saja. Memangnya ada apa, Arshaka?”
“Gio mencari kamu. Tapi, aku tidak yakin kalau dia akan membuat kamu aman. Apa aku lebih baik ke sana dan menjaga kamu?” Sebagai seorang sahabat yang baik, Arshaka rela melakukan apapun untuk Earlyta. Apalagi kalau dia ingat bahwa Earlyta sedang mengalami masa-masa sulit akhir-akhir ini. Arshaka akan rela mengurangi waktu istirahatnya di rumah orang tuanya ini.
“Tidak apa. Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Arshaka tetap saja tidak tenang. Dia berdecak pelan. “Tapi, kamu sendiri tahu bagaimana Gio, bukan? Dia bisa saja membahayakan kamu.”
“Shaka, aku bertahan dengan dia selama ini dan menghadapi semua sikapnya. Aku sudah terbiasa. Lagipula, dia tidak bisa seenaknya menerobos apartemenku.” Mungkin maksud Earlyta adalah menenangkan Arshaka agar pria itu tidak panik sendiri. Namun, Earlyta tidak sadar kalau ucapannya itu membuat Arshaka semakin sakit hati.
Ucapan Earlyta tadi seolah menunjukkan pada Arshaka betapa tersiksanya dia. “Earl, kamu tahu kalau aku sangat ingin menemani kamu, bukan?”
“Aku tahu, tapi aku bisa menghadapi dia sendiri, Arshaka. Dia hanya akan semakin ‘gila’ jika kamu ikut campur.”
Arshaka mengangguk. “Baiklah. Tolong kabari aku—”
“Arshaka.”
“Hm?”
“Kalau terjadi sesuatu, aku akan menghubungi kamu.”
Arshaka langsung mengeryitkan dahinya. “Ada apa?” Arshaka langsung berdiri dari tempatnya. Siap siaga kalau-kalau ternyata Earlyta terancam.
“Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu tetap ada di sisiku.”
“Kabari aku terus, ya, Earl.”
Earlyta tidak tahu, kalau Arshaka memang selalu ada untuknya. Arshaka akan selalu menemaninya dan bahkan di titik terendahnya sekalipun, Arshaka siap menawarkan pundaknya untuk Earlyta.
***
“Earlyta akan bercerai.” Arshaka berbicara pada kedua orang tuanya yang membuat mereka membelalakkan mata.
“Apa? Dengan Gio?” tanya Anne setengah tidak percaya. Karena mereka hubungannya sudah sangat dekat, alhasil Arshaka tidak sungkan menceritakan hal ini.
“Iya, suaminya hanya Gio, bukan?” tanya Arshaka dengan senyuman kecilnya.
“Astaga, apa dia baik-baik saja?” Anne terlihat khawatir. Dia sendiri sudah menganggap Earlyta sebagai anaknya sendiri. Tentu saja mendengar hal ini membuatnya sedih.
“Nanti, aku akan mengatakan padanya dulu.”
Anne mengangguk.
***
Earlyta terbiasa hidup sendiri dan berjuang sendiri. Jadi, ketika dia dihadapi masalah apalagi dengan orang yang sama untuk ke sekian kalinya, dia yakin dia bisa menyelesaikannya dengan baik dan tidak butuh bantuan orang lain—Arshaka Januar.
“Lyta, ini aku!” Suara gedoran pintu di apartemennya ternyata sudah mampu membuat bulu kuduk Earlyta berdiri. Earlyta menggelengkan kepalanya panik dan bahkan menutup kedua telinganya demi tidak mendengar suara pria yang baginya sangat menyeramkan itu.
“Lyta, bukan pintunya! Kita bicarakan ini semua dengan baik-baik!” Earlyta sudah menghadapi situasi ini ribuan kali untuk berakhir dengan dirinya yang babak belur dan permasalahannya yang semakin rumit. Jadi, dia tidak mau mengulang kesalahannya lagi.
“Buka pintunya atau aku dobrak!” Earlyta tinggal di sebuah apartemen sederhana dengan tingkat keamanan yang tidak terlalu bagus. Dia tahu kenapa Gio—calon mantan suaminya itu—berani untuk mendobrak pintu apartemennya.
“Aku hitung sampai tiga, kalau kamu masih tidak mau membukakan pintu untuk aku, kamu akan menanggung sendiri risikonya.” Gio sudah mulai mendobrak pintu apartemen Earlyta sehingga membuat Earlyta tidak memiliki pilihan lain selain membukakan pintu apartemennya
Terlihat Gio yang memakai kaos putih dan celana jeans favoritnya berdiri di sana dengan tatapan marahnya. “Kenapa kamu menghindari aku? Apa aku semenyeramkan itu untuk kamu?”
Earlyta sudah lelah menangis di hadapan Gio. Dia juga tidak tahu sudah berapa ribu kali dirinya memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan Gio, yang ternyata tidak membuat pria itu berubah dan malah semakin membuatnya menggila. Earlyta sudah capek dengan semua ini, dia ingin keluar, tapi seolah dikekang oleh Gio dan hatinya juga. “Apa yang kamu mau, Gio?” tanya Earlyta dengan suara seraknya yang menahan tangis.
“Aku ingin berbicara dengan kamu. Kamu tidak bisa menceraikan aku begitu saja, Lyta.” Lyta, dulu Earlyta sangat suka singkatan nama yang diberikan Gio padanya—yang katanya hanya dirinya saja yang boleh memanggil Earlyta dengan sebutan itu. “Kamu tidak boleh meninggalkan aku dengan mudah, tanpa aku tahu di mana letak kesalahan aku sebenarnya.”
Earlyta tidak dapat menahan tawa sinisnya ketika mendengar jawaban dari Gio. “Serius? Kamu tidak tahu apa kesalahan kamu selama ini?”
Earlyta memang sangat mencintai pria di hadapannya ini. Sangat mencintai Gio sampai dia lupa apa saja yang sudah dilakukan Gio padanya. “Gio, selama sembilan tahun lebih kamu mengenal aku, kamu masih tidak tahu apa saja luka yang kamu torehkan?”
Gio berdecak dan memalingkan pandangannya. Gerakan dan sikap yang paling dibenci Earlyta dari Gio adalah pria itu yang selalu saja menyepelekan masalah. “Apa? Karena aku marah-marah pada kamu? Itu masalah sepele, Lyta. Apa kamu tega meninggalkan suami kamu yang sudah kamu kenal lebih dari sembilan tahun lebih ini hanya karena itu?”
Earlyta terkadang tidak mengerti bagaimana jalan pikiran dari Gio Jevarno. Pria itu terkadang bisa menjadi pria sangat manis yang pernah Earlyta kenal, tapi Gio juga bisa menjadi monster yang sangat ia benci dan takuti. “Untuk mengingatkan saja, Gio, setiap kali kamu marah padaku, kamu selalu mengatakan bahwa kamu ingin meninggalkan aku dan bahwa aku hanyalah sampah di kehidupan kamu. Jadi, sekarang kenapa kamu yang bersikap seolah aku yang berengsek di sini?”
Gio paling tidak suka dikritik. Gio tidak suka ketika Earlyta memojokkannya. “Oh, jadi kamu mengatakan kalau suami kamu ini berengsek?”
“Bukankah itu kebenarannya?” Earlyta tidak bisa lagi tahan di suatu hubungan di mana dirinyalah yang selalu disalahkan dan dikatakan tidak layak. Dia ingin dihargai, dan selama sembilan tahun lebih mengenal Gio, dia selalu berharap ada satu waktu di mana Gio menghargainya—bukan hanya memperalatnya, memanipulasinya, dan merusaknya saja.
“Lyta!” Gio berteriak tepat di hadapan wajah Earlyta dan sampai menonjok tembok di samping Earlyta hingga wanita itu memejamkan matanya.
Dalam hatinya, Earlyta kembali mengingatkan dirinya, bahwa ini bukan kali pertama.
Kamu sudah berulang kali berada di situasi ini, sekali saja. Bertahan sekali saja. Untuk kali terakhir.
“Gio, tidak ada yang bertahan dengan kamu seperti aku. Mereka tidak kuat melihat sikap kamu yang semena-mena dan membuang mereka. Dan aku di sini mengharapkan kamu yang berubah, tapi ternyata, aku terlalu berharap, ya?” Earlyta membuka matanya dan memilih untuk menatap Gio dengan segenap keberanian yang dia punya. “Iya?” tanyanya lagi yang malah dibalas tatapan amarah oleh pria itu.
“Aku marah juga karena kamu yang menyulutnya. Kamu selalu membuat aku marah dan aku benci itu, Lyta!”
“Kalau begitu, memang sebenarnya tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan, bukan? Aku sudah tidak lagi mengandung anak kamu, jadi kamu tidak perlu merasa bertanggung jawab. Iya, ‘kan?” Earlyta tersenyum walaupun air matanya mulai mengalir. Membuka luka lama itu membuatnya sakit hati bukan main. Padahal, kejadiannya sudah cukup lama.
“Lyta, aku mohon sekali lagi dan untuk terakhir kalinya. Hentikan omong kosong ini, kembali padaku, dan kita coba lagi.”
“Kamu sudah mengatakannya lima bulan yang lalu dan hasilnya tetap sama, bukan?”
Gio tidak bisa lagi menahan amarahnya dan berakhir dengan tangannya yang mendarat di pipi Earlyta hingga menimbulkan suara tamparan keras dan bekas merah di pipi istrinya itu. “Sekali lagi kamu menolak, kamu akan tahu akibatnya.”
Earlyta memejamkan matanya dan perlu waktu bagi dirinya untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. “Gio …”
“Lihat? Kamu benar-benar membuat aku emosi hingga aku kehilangan kendali lagi. Aku membenci diriku karena tidak dapat menahan emosi aku sendiri, tapi aku lebih membenci kamu karena kamu tidak bisa menghargai aku.” Gio sepertinya gila, itu pikir Earlyta. Tapi, pria itu mudah sekali memutarbalikkan fakta seolah Earlyta yang bersalah. Gio mudah sekali membuat Earlyta merasa kasihan pada dirinya sendiri namun kembali berakhir dengan Earlyta yang tersiksa karenanya.
“Gio, kamu melakukan ini lagi.” Earlyta menyentuh pipinya yang baru saja ditampar oleh Gio. “Kamu kembali menyiksa aku.”
Gio mendengus mengejek. “Kamu berlebihan, itu yang dinamakan menyiksa?” Gio mengangkat sebelah alisnya. “Biar aku perlihatkan apa yang dinamakan menyiksa itu.”
Dan semuanya terjadi lagi. Earlyta kembali disiksa dan dirinya kembali tidak berdaya.
***
Arshaka tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan Earlyta. Semalaman, wanita itu tidak bisa ia hubungi, dan membuat Arshaka semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi. Alhasil, pagi ini, dia mampir ke apartemen Earlyta sebelum dia berangkat bekerja. Dia tidak akan bisa berkonsentrasi jika dia tidak melihat Earlyta.
“Earlyta.” Arshaka mengetuk pintu di hadapannya.
“Earl, ini aku, Arshaka.”
Karena sudah menunggu cukup lama dan tidak ada jawaban juga, akhirnya Arshaka terpaksa membuka pintu apartemen tersebut yang ternyata tidak dikunci. Firasat buruk semakin menghampirinya. “Earlyta!” Dia langsung berteriak untuk mencari Earlyta ketika melihat apartemen Earlyta yang sangat berantakan.
“Earlyta!”
Sayup-sayup, Arshaka mendengar seorang wanita bersuara lirih. “Shaka … aku di sini…”
Alangkah terkejutnya Arshaka ketika melihat Earlyta terbujur kaku dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
“Earlyta, bertahanlah.”
***
Earlyta perlahan membuka matanya dan langsung mengeryitkan dahinya dalam ketika merasakan banyak cahaya yang masuk ke matanya. Dia menghela napas panjang. Tanpa diberitahu pun, dia sudah sadar kalau dia berada di rumah sakit sekarang.
“Kondisinya sudah stabil. Tapi, saya tetap menghimbau untuk mengecek keadaannya secara berkala, terutama luka-lukanya yang belum sembuh sebagian. Saya sudah membuat resep untuk obat yang bisa dikonsumsi oleh pasien.” Sayup-sayup Earlyta mendengarkan penjelasan dokter yang—sepertinya—menanganinya pada seseorang. Earlyta membetulkan posisi badannya agar lebih nyaman dan kemudian menyesalinya karena kepalanya terasa pusing bukan main.
“Earlyta.”
Wanita itu melirik ke arah samping ranjang rumah sakitnya dan langsung menemukan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya. Ternyata Arshaka Januar, sahabatnya, yang berbicara dengan dokternya. “Shaka.”
Arshaka terlihat marah—Earlyta bisa tahu hal itu karena dia sudah lama mengenal Arshaka. “Kamu kenapa?” Tangan Earlyta yang terbebas dari selang infus terulur untuk menyentuh lengan Arshaka.
Arshaka langsung menghela napasnya. Dia menyentuh tangan Earlyta dan menggenggamnya erat walaupun sebelumnya gerakannya ragu. “Kamu … kenapa kamu membahayakan diri kamu dengan menemui Gio sendirian, Earl?” Arshaka mungkin sudah akan menghajar Gio jika semalam dia berada di tempat kejadian.
Earlyta tersenyum kecil. “Kamu tahu kalau aku tidak bisa, bukan? Aku tidak ingin kamu terlibat, Arshaka.” Selama ini, Arshaka tahu semua permasalahan yang dihadapi oleh Eralyta. Tapi, dia tidak pernah bisa langsung mengekspresikan kekesalannya pada Gio. Bukan tanpa alasan, Earlyta yang melarangnya, karena sekali Arshaka melawan, Gio akan menjadikan Arshaka sebagai ancaman bagi Earlyta.
Lagipula, Arshaka berasal dari keluarga yang terpandang dan baik-baik. Tidak bijak jika nama mereka tercoreng hanya karena Arshaka membantu permasalahannya yang mungkin tidak seberapa dibandingkan nama baik keluarga Januar dan Wijaya.
“Earl, tapi aku tidak bisa membiarkan kamu tersiksa seperti ini dan aku hanya bisa diam.”
Earlyta lagi-lagi hanya tersenyum dan dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, kamu tidak diam saja. Kamu yang datang ke apartemen aku dan membawa aku ke rumah sakit sudah merupakan tindakan kamu yang begitu berarti bagi aku.” Earlyta tidak sungkan untuk menyentuh sisi wajah dari Arshaka. “Terima kasih, ya, kamu sudah mau menemani aku selalu.” Earlyta kadang heran, apa yang membuat Arshaka mau bertahan bersahabat dengannya? Masalahnya, dari segi manapun, Earlyta terlalu berbeda dengan Arshaka. Terlalu tidak berharga. Tapi, setiap kali Earlyta menanyakan hal itu, Arshaka langsung marah padanya.
“Jangan berterima kasih seperti itu, Earl. Ini sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai sahabat kamu untuk selalu menemani kamu. Tolong jangan menganggap diri kamu beban atau menganggap kamu memiliki hutang budi padaku.” Arshaka memilih untuk mendekap Earlyta.
“Earlyta.”
“Hm?”
“Separah apapun keadaannya, aku minta tolong agar kamu tetap bertahan, ya. Untuk alasan sekecil apapun.”
Earlyta tersenyum, namun dia tidak mengangguk. “Terima kasih.”
***
Anne menemui Earlyta yang sudah pulang dari rumah sakit. Anne mendapatkan kabar dari Arshaka bahwa Earlyta dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka. Arshaka tidak mengatakan apa yang membuat Earlyta sampai luka-luka, tapi Anne yang sudah menganggap Earlyta sebagai anaknya sendiri, tidak keberatan untuk menjenguk wanita muda itu.
“Earl, sudah makan?” tanya Anne setelah sebelumnya berbasa-basi dengan wanita itu.
Earlyta terlihat malu-malu ketika diperhatikan oleh Anne Januar. Dia selalu sungkan tiap kali berada di dekat wanita yang berasal dari keluarga terpandang itu—Anneliese Januar berasal dari keluarga Wijaya, keluarga yang menguasai bisnis di Indonesia—dan dia menikah dengan Sanjaya Januar, seorang pebisnis juga, yang namanya tak kalah terkenal.
Di antara keluarga yang sangat terpandang itu, Earlyta selalu takut karena merasa dirinya sangat kecil. “Sudah, Tante.”
Anne tersenyum. “Tante boleh menemani kamu, ‘kan?” Anne mengulurkan tangannya dan menyentuh punggung tangan Earlyta. “Tante sangat khawatir ketika Arshaka mengatakan kamu dirawat.”
Earlyta tertawa kecil. “Tidak apa, Tante. Aku baik-baik saja.”
Anne dapat melihat senyuman palsu untuk menutupi kesedihannya di wajah Earlyta. Anne pernah ada di posisi Earlyta, dan dia sangat tahu kalau hal itu sungguh menyiksa.
“Maaf, Earlyta, tapi apakah Tante boleh menanyakan sesuatu?”
Earlyta mengangguk. “Tentu saja, Tante.”
Anne sebenarnya ragu untuk menanyakan soal perceraian antara Earlyta dan Gio, tapi dia tidak tahu kapan lagi dia memiliki waktu berdua dengan Earlyta untuk menanyakan hal ini. “Apa benar kamu akan bercerai dengan Gio?”
Earlyta langsung memutus kontak matanya dengan Anne, dan memilih untuk menundukkan pandangannya. Dia tahu pasti Arshaka yang memberitahu Anne Januar—tidak, Earlyta tidak marah—tapi, dia hanya tidak tahu kalau akan sesungkan ini untuk menjawab jujur pada Anne.
“Benar, ya? Maaf, Earlyta, tapi Tante tidak memiliki maksud apapun dengan menanyakan ini pada kamu. Tante hanya ingin kamu tahu kalau Tante sungguh menyesal jika itu terjadi. Tante akan melakukan apapun agar kamu bisa tenang. Bagaimana?” Anne sudah mengetahui segala cerita Earlyta, dan dia selalu berusaha agar Earlyta tidak merasa sendiri, tapi sepertinya Earlyta masih saja membuat jarak di antara mereka.
“Iya, Tante. Benar.” Earlyta menghela napas. “Aku akan bercerai dengan Gio.”
Anne memilih untuk mendekap Earlyta. “Astaga, Tante turut bersedih mendengarnya, ya. Apa kamu butuh bantuan Tante? Tante bisa mengenalkan kamu dengan mediator pernikahan atau mungkin seorang pengacara.”
Earlyta sadar kalau dirinya cukup beruntung karena sudah dikelilingi oleh orang-orang yang sangat baik padanya dan begitu peduli padanya juga. Namun sayangnya, dia memilih untuk tidak selalu mengandalkan mereka. “Aku akan memberitahu Tante nanti. Terima kasih, Tante.” Earlyta sedari tadi hanya tersenyum saja. Mencoba memperlihatkan pada Anne bahwa dia baik-baik saja, walaupun tindakannya itu malah membuat dirinya semakin terlihat sedang menutupi sesuatu.
“Apa … kamu terluka begini karena dia juga?”
Earlyta kembali menundukkan kepalanya. “Terima kasih sudah peduli, Tante.” Dan Anne tahu, kalau dia tidak segera mengambil tindakan tegas pada suami Earlyta, mungkin Earlyta akan menjadi seperti dirinya di masa lalu.
***
“Jadi, di mana Earlyta?”
Arshaka setengah mati menahan dirinya untuk tidak menghajar pria di hadapannya ini. Siapa lagi kalau bukan Gio Jevarno, pria biadab yang sudah membuat sahabatnya menderita. Ketika Anne, ibunya, menggantikannya untuk menjaga Earlyta di rumah sakit, Arshaka memanfaatkan waktu itu untuk pergi ke apartemen Earlyta dan mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membantu sahabatnya itu di pengadilan nanti.
Arshaka akan berjuang demi Earlyta.
Namun, tidak ia sangka bahwa kedatangannya bertepatan dengan Gio yang juga sedang mencari keberadaan wanita itu.
“Aku tidak tahu. Aku sudah mengatakannya pada kamu tadi, bukan?” Arshaka memasukkan ponselnya ke saku jasnya dan bersikap biasa saja—tidak ingin menunjukkan bahwa dia sedang menyusun rencana.
“Kamu sahabatnya, Kak Arshaka. Bagaimana mungkin kamu tidak tahu?” Gio tersenyum kecil. “Apa dia memberitahu sesuatu pada kamu?” Gio memincingkan matanya. Bisa gawat jika Arshaka tahu apa yang terjadi, pikirnya.
Arshaka menggeleng. “Tidak. Kenapa? Kamu melakukan sesuatu? Aku khawatir sejak melihat apartemen ini berantakan.”
Gio menengguk ludahnya gugup. “Tidak ada.”
“Kamu gugup, Gio. Ada apa?” Arshaka melangkahkan kakinya mendekat dan kini berdiri tepat di hadapan Gio. “Kamu tahu kalau aku akan membunuh kamu jika Earlyta kenapa-napa.” Walaupun pada kenyataannya aku sudah ingin membunuh kamu sejak dulu.
“Sure. Kamu bisa melakukannya, Kak. Sebagai bentuk balas dendam kamu juga karena yang pada akhirnya memiliki Lyta adalah aku, bukan?” Gio tersenyum miring sebelum akhirnya meninggalkan Arshaka dengan kegamangan yang nyata.
***