"Apa yang kau harapkan dari seorang tahanan sepertiku?"
Zin menggeram dan malah balik bertanya sinis. Jadi, apa yang Eva inginkan dari pria tunawisma semacamnya. Tanpa cinta dan keluarga tidak ada lagi yang lebih mengenaskan dari keadaan Zin saat ini.
Eva terhenyak. Sesaat ia ingin mencerna perkataan Zin itu dengan baik. Tetapi Zin menarik tangannya kembali begitu bernafsu. Suara hentakkan rantai dengan atap terdengar di telinga. Walau begitu, Eva tetap memegangi pergelangan Zin lengkap tatapan khawatir. Jika Zin terus begini, ia akan melukai urat nadinya sendiri.
"Aku akan membukanya untukmu."
Eva berjanji membebaskan Zin sebentar dari kekang tali rantai dipasung ke atap.
Matanya menangkap luka-luka baru masih mengangga. Sehingga darah tercampur keringat yang merembes bersamaan membuat perasaan Eva luluh, ia lupa membentengi diri dengan kewaspadaan.
Ketika Zin terbebas, ia tersenyum smirk. sekiranya, apa yang bisa dilakukan pada wanita ini untuk balas dendam ... seenaknya mempermainkan hati.
Eva pikir, perasaan Zin padanya sama sekali tidak berarti?
Terlintas ide untuk membalas perlakuan Eva. Tetapi, apa yang bisa ia perbuat. Karena menyakiti Eva lebih jauh pun masih enggan Zin lakukan. Terutama, di dalam sini tak ada benda yang bisa menyakiti Eva.
Namun, bukankah para lelaki memiliki senjata alami yang bisa digunakan untuk menyakiti seorang gadis?
Terlambat bagi Eva menyadari seringai jahat dalam diri Zin. Dengan masih memakai pergelangan besi Zin mendorong Eva hingga ke tembok.
"Ahk, Zin."
Eva menarik nafas karena dadanya bertabrakkan dengan dinding begitu kencang. Rasa linu akibat hentakan itu menjadikan ia kesulitan bernafas. Begitupun pipi kiri, Zin menahan tengkuk Eva dalam cengkraman tangannya yang besar, mengunci pergerakkan si gadis.
Dari ekor mata, Eva melirik ke Zin.
"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Eva tersengal. Zin mendekatkan diri ke Eva. Pertama Zin menggigit cuping telinga Eva dengan gemas.
"Satu kesalahanmu adalah begitu mempercayaiku."
Zin ingin mengatakan jika dirinyalah yang mampu memperdayai wanita. Rata-rata pria lebih tinggi ego dan inilah ego Zin. Dengan gemas tangan Zin merayap ke arah depan tubuh Eva. Mencengkram gundukkan lembut milik Eva begitu keras.
Eva memekik liar. Semakin memacu adrenalin Zin berfikir lebih seksi dari ini. Tanpa ragu, ia menarik rok span itu.
Bagian belakang Eva terpampang. Ketika Zin sedikit longgar, Eva menggeliat ingin kabur. Tidak, ia trauma akan ini. Eva tahu apa yang sebentar lagi ingin Zin lakukan padanya. Berontakannya lebih kuat tapi Zin tidak bodoh. Ia mencekal kedua tangan Eva dan meletakkan di belakang pinggul.
"Zin," bentak Eva murka. Zin sudah dipenuhi gelora birahi tanpa peduli menarik penutup segitiga itu hingga jatuh melewati tungkai kaki jenjang milik Eva. Ia membungkukkan tubuh Eva setengah hingga selubung hangat milik Eva terpampang di depannya.
Sungguh saat yang sama Zin terpaku. Ia tergugah juga gelap mata, ini kali pertama menatap secara langsung pastinya menciptakan rasa grogi.
"Zin apa yang ingin kau lakukan?!" Sentakkan Eva mengembalikan tujuan Zin. Satu tangan ia pakai untuk membuka pengait jeans juga resleting. Cepat Zin melorotkan celana hingga ke paha. Membebaskan benda sangat perkasa yang ia sebut senjata alami. Nafas Zin memburu, ia memposisikan batang miliknya di belakang tubuh Eva kemudian menancapkan di antara paha gadis itu segera.
"Ahk!!" Eva melotot. Seluruh tubuhnya lemas juga bergetar hebat. Zin memenuhi dirinya di bawah sana. Rasanya begitu sesak dan keras.
Sedang Zin, ini pengalaman pertama ia merasakan dinding kenikmatan membalut batang miliknya. Selubung itu begitu rapat seakan ingin mematahkan miliknya untuk tertinggal di sana.
Zin menggeram di kerongkongan.
Sial, ini begitu melenakan. Kepalanya pusing tidak tahu ingin apa lagi. Jakun Zin naik turun, ia merasa ada yang menyangkut di dalam kerongkongan. Zin yakin debaran jantungnya segera meledak. Jika ia masih bisa selamat setelah ini, mungkin itu satu keajaiban.
Secara insting Zin memajukan pinggul semakin rapat pada Eva. Lagi, ia terpejam dirinya siap menelan semua kenikmatan yang baru kali ini dirasakan.
Zin begitu terbuai. Sesaat ia lupa dengan kesengsaraan. Apa itu berdarah, luka-luka perih mengisi seluruh celak otot tidak mampu menyadarkan anak muda yang kini terhanyut dalam peluh akibat kegiatan memaju mundurkan pinggul berharap bisa mengisi Eva sebanyak yang ia bisa.
Tangan Eva tidak lagi Zin cengkram. Ia membebaskan gadis itu menumpuhkan telapaknya di dinding karena gerakkan liar Zin begitu menggetarkan sang wanita. Zin pun ikut meletakkan satu tangan. Sedang satu lagi memegangi ujung rok Eva supaya tidak jatuh. Kini Zin mengamati miliknya bergerak dan tersesat di dalam Eva.
Dia sangat menikmati menatap miliknya yang dikunyah bagian bawah Eva begitu lihai. Zin terkekeh.
"Bagaimana, kau juga suka kan?"
Zin berubah menjadi monster bagi Eva. Namun, bukan ini yang Zin inginkan. Seandainya saja Zin bisa bertemu Eva dilain kesempatan dan menjadi lelaki sejati. Seandainya kejadian malam itu tidak pernah terjadi hingga menghancurkan hidup Zin …
***
"Zin ... Zin. Lihat! Aku berhasil membuat burung. Burung ini nantinya yang akan menerbangkan kita Zin. Kamu ingat kan? Dulu, kamu pernah mengajarkan aku membuatnya," pekik Eiji kegirangan tapi tidak dengan Zin. Lelaki yang sejak tadi dipanggil itu tampak acuh, tidak berniat sedikit pun membalas ucapan Eiji. Bahkan sekadar menengok adiknya itu, Zin malas.
Bukan tanpa sebab. Entah sejak kapan, ia merasa Daichi-ayah mereka- lebih mencintai Eiji. Zin tahu, Eiji memiliki kebutuhan khusus yang mengharuskannya mendapat perhatian lebih. Kondisi Down Syndrome trisomi 21, keadaan langka yang membuat tumbuh kembang dan karakteristik penderita berbeda dari yang lain. Karena itu, meski Eiji sudah berusia tujuh belas tahun, sikapnya masih layak disebut anak kecil berusia enam tahun.
Waktu mereka kecil, Zin tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Ia akan menerima Eiji apa adanya. Tapi saat ia mulai dewasa semua terasa berubah. Apa lagi Daichi terlihat suka memberikan perhatiannya pada Eiji-- mengajaknya pergi kemana pun tanpa Zin--hingga tanpa sadar melukai perasaan Zin.
Zin menyingkir dari tempatnya. Belum mau memedulikan Eiji yang menatap nanar kepadanya.
"Zin," panggil Eiji hambar.
Zin tetap sibuk dengan aktivitasnya sendiri, yaitu memakai jaket kulit hitam dan menyambar kunci motor di meja dengan kasar. Ke mana lagi lelaki itu kalau bukan ke arena tinju, tempat ia melemaskan otot-otot di tubuhnya.
"Zin ... jangan pergi!" Eiji merengek lagi. Ia bahkan merengut persis anak-anak.
"Lo ngapain sih ngerengek mulu, ribet tau gak!" ketus Zin kasar seraya menarik diri agar Eiji melepaskan pegangan di jaketnya.
"Ayah ... Ayah, Zin mau pergi!" Eiji memang selalu begitu, ia tidak terima jika Zin keluar malam hari. Khususnya saat ini, ia jauh lebih tidak ingin Zin pergi.
Daichi menatap punggung Zin yang hampir menghilang tertutupi daun pintu. Ia merangkul Eiji agar mengikuti Zin.
"Zin, tolong jangan pergi. Temani adikmu, Eiji. Hanya malam ini saja." Lelaki tua itu memohon. Ia menatap lurus ke arah Zin berharap anak yang sangat ia sayangi itu mengerti keinginannya. Namun, Zin semakin murka, pemuda itu pikir ... Daichi begitu egois. Meminta ia menanggalkan kebahagian demi menuruti Eiji. Ia hanya menggoyangkan tangan seraya menolak perintah sang ayah.
---
Zin sudah sampai di arena tinju. Tapi ia tak langsung membaur ke dalam sana. Zin memang tidak suka basa-basi dengan orang lain.
Sifatnya yang sosiopat mengantarkan ia untuk duduk menyendiri di pojokkan.
Ia duduk di lantai. Kakinya terjulur ke depan. Mencoba merengangkan letih yang mendera.
"Aarrgh. Kaki siapa nih!?" pekik Thom tak senang gara-gara kaki jenjang Zin menghalangi jalan. Sementara Zin balik menatap malas pada Thom.
"Kaki lo minggirin dong!" Thom menendang kaki Zin kasar. Tapi, sayang tulang kokoh Zin sama sekali tidak bergerak dari tempatnya.
"Mata lo buta. Dari tadi juga kaki gue di sini,"
kata Zin sinis. Membuat darah Thom naik hingga mukanya memerah. Ia pun menginjak tulang kering Zin.
"Ahkk ... dasar sialan!" maki Zin. Meski kakinya masih linu, ia mencoba berdiri.
Mata bertemu mata, Zin berhadapan dengan Thom yang terlihat tidak gentar justru mendorong pelipis Zin keras.
"Anak bego aja belagu!" ejeknya, tersenyum miring.
"Jangan mentang-mentang pelatih bilang lo hebat, lo jadi belagu gini. Pelatih cuma mau hibur lo anak yang gak dianggap sama orangtuanya. Gitu kan, Guys?!" tukas Thom
berbalik melihat ketiga temannya.
Bibirnya tersenyum miring, menganggap jika dirinya sudah berhasil menjatuhkan mental Zin.
Zin langsung mendorong Thom tanpa segan. Ia menduduki perut Thom dan memukul wajah yang paling Thom banggakan. Gempuran kepalan tangan Zin meninju segala sudut wajah Thom membuat pria itu kewalahan.
"Guys... tolongin gue, pegangin dia. Bangsat lo!"
Zin sudah menginjak kedua lengan Thom dengan sepatu ketsnya. Sampai Thom sama sekali tidak bisa melawan.
"Guys ... Lo pada ke mana, cepet tolongin gue!"
Zin dengan sengaja memasukkan kedua jari ke mulut Thom supaya dia tidak lagi berisik seperti tadi. Jemari Zin menarik lidah Thom keluar sampai ia kesakitan.
Wajah Thom sudah tidak berbentuk karena terlalu babak belur. Matanya dengan panik mencari ketiga temannya, tapi sayang tidak ada yang berani pada Zin. Bahkan semua orang hanya mengitari pertengkaran ini.
Salah satu sahabat Thom mencoba maju satu langkah dan itu ditangkap oleh mata elang Zin.
"Sekali lo ikut campur, gue patahin leher lo!" ancamnya. Ia memang lelaki yang tidak ingin setengah-setengah melampiaskan amarah.
Orang yang diancam itu menelan ludahnya kasar. Sangat tak mau terjadi sesuatu dengan lehernya yang belum diasuransi.
Akhirnya ia memutuskan berlari ke sang Pelatih. Hanya lelaki itu yang bisa menjinakkan Zin.
"Sensei ... Sensei tolong Zin dan Thom bertengkar!" Pak Pelatih hanya mengernyitkan alis.
"Ini pasti Thom yang cari gara-gara?!" tebaknya. Sahabat Thom itu hanya menunduk takut. Ia tidak bisa terlalu banyak membela Thom.
"Hhah... ayok!" sahut Pelatih kemudian. Tangannya sambil menarik gagang pel. Karena tadi ia sedang bersih-bersih ruangan sebelah.
"Zin!" pekik Pelatih keras. Matanya melotot, ia menjatuhkan gagang pel itu sehingga menimbulkan bunyi yang keras.
Zin langsung bangun dari tubuh Thom dan berlari untuk mengambil gagang pel itu. Diletakkannya lagi di telapak tangan sang Pelatih begitu santun.
Zin setidaknya tahu, guru adalah orang yang harus ia hormati.
"Bersihin sisa darahnya! Baru saja saya pel." Kesal Pelatih memberikan pel itu ke Zin.
Zin menerimanya dengan senang hati.
"Sensei ... gitu aja?!" tanya sahabat Thom, takut-takut. Ia pikir, Zin akan mendapat hukuman yang sangat berat.
"Emang harus gimana? Thom yang cari masalah. Wajar dong kalau dia dapat balasan dari apa yang dia kerjakan dan kamu tunggu apa lagi? Bangunkan teman kamu itu sebelum dia terkena sodokkan gagang pel!" titahnya.
Zin jadi tersenyum. Memang pelatihannya itu sangat bisa diandalkan.
Saat Zin masih membersihkan ruangan, Pak Pelatih kembali mengamati Zin. Ia tahu, Zin punya kekuatan besar dalam dirinya. Ia bisa dengan mudah menjadi juara boxing meski tanpa latihan sekali pun.
Zin punya bakat yang datang begitu saja. Mungkin ini adalah anugerah tapi bisa juga berubah menjadi petaka untuk Zin seandainya saja ia tak bisa mengatur emosi.
Oleh karena itu, ia bersedia melatih Zin. Bukan untuk membentuk otot-otot alami yang Zin miliki. Bukan juga mengasah kemampuan yang hampir mendekati kata sempurna. Akan tetapi, untuk mengatur emosinya agar lebih stabil. Meski mungkin itu sulit.
Mengingat usia Zin yang baru dua puluh tahun membuat ia masih sering termakan perkataan orang.
"Eeh, Sensei!" sapa Zin saat menyadari dirinya ditatap.
"Emangnya tadi kenapa, kok sampai lepas kontrol lagi?" tanya Pelatih santai. Mulutnya sambil mengeluarkan asap dari cerutu yang ia hisap.
"Bukan apa-apa, Sensei."
"Bukan apa-apa tapi gigi Thom patah dua," ledeknya. Zin hanya terkekeh.
"Maaf Sensei, malam ini saya mengecewakan Anda."
"Seharusnya kamu meminta maaf pada dirimu sendiri. Bukan saya, tapi kamu mengecewakan usahamu sendiri untuk berubah. Apa cuma karena satu dua kata yang membuatmu kehilangan kendali?"
Zin terdiam, ia menunduk saja. Satu-satunya orang yang ia dengarkan nasihatnya selain Daichi adalah Pak Pelatih.
"Pulanglah ...." Pak Pelatih sejak tadi melihat jika Zin gelisah. Zin termanggu setelah disuruh pulang, memang benar dirinya sangat ingin kembali ke rumah. Zin tidak ingin melihat Eiji sedih lalu menyusahkan ayah mereka.
'Sial!' Zin sadar, ia mencintai dan membenci Eiji disaat bersamaan.
"Ya sudah aku pulang, Sensei."
Di jalan, Zin berencana untuk mengalah sekali lagi. Semua itu demi senyum polos Eiji. Namun, yang diharapkan Zin tidak akan pernah lagi terjadi.
Tepat di depan matanya, ia melihat mobil sport sedang menarik seseorang menggunakan tali.
Tubuh orang itu sudah kotor tertutup debu jalan. Pun tidak ada darah yang mengalir setelah disumbat paksa. Suaranya lirih, memohon untuk menyudahi penyiksaan itu.
Zin menyipitkan mata memastikan jika penglihatannya tak salah dan saat menyadari sosok tersebut sontak bola matanya membesar serta darah dalam tubuhnya mendidih sampai ke ubun.
Ia pun menarik penuh gas motornya sambil berteriak, "Eiji!!"
Satu jam sebelumnya ... di rumah, Eiji terus menatap ke luar jendela. Berharap Zin cepat pulang.
"Hhaah... itu Zin, yye... Zin pulang."
Tanpa melihat siapa yang datang. Eiji membukakan pintu itu.
Ia melonggo saat bukan Zin lah yang berdiri di depannya.
"Anak babi. Beri tahu aku, yang mana anak dari Lee Kwang Zu," ucap pria tinggi tegap dengan otot diselimuti kulit coklat tuanya.
Eiji hanya menyeritkan alisnya. Ia pernah dengar dari ayahnya, Jika Zin adalah anak majikan mereka yaitu Lee Kwang Zu. Tapi Eiji yang keras kepala tak ingin memberi tahu lelaki tak sopan itu.
"Gak tahu!" jawabnya enteng. Masih khas anak-anak.
"Haha ... gak tahu, kalau kayak gini masih bilang gak tahu gak?"
Sebuah pukulan tinju mengenai ulu hatinya.
"Ayah ... aku dipukul." adu Eiji mengantensi Daichi.
"Eiji ... kalian siapa?" curiga Daichi. Tangannya bergetar, saat menyadari atribut yang mereka gunakan sama persis seperti kepunyaan majikannya dulu.
Daichi pernah diwanti-wanti untuk menjauh dari genk yang bersimbolkan gunung es itu. Ia langsung menarik Eiji. Kontan berlari, berharap masih bisa menyimpan erat rahasia terbesarnya.
"Hai ... pria tua mau kemana kau," pekik lelaki tadi. Yang langsung menembak punggung Daichi. Membuat darah segar muncrat dari balik kaosnya.
"Ayah!"
"Eiji kamu pergi dari sini, Nak. Cepat!"
"Tunggu ... bukannya bos bilang kalau anak Kwang Zu sekarang diakui menjadi anak Daichi. Apa babi gendut itu anak Kwang Zu?" ucap salah satu pria lainnya.
Tanpa segan pria tadi menenteng kerah baju Eiji untuk berdiri.
"Jadi kamu lah anak Kwang Zu? Hahaa ... gak disangka, dia hanya punya anak tak berguna macam kau," hinanya melirik Eiji. Eiji yang marah menampar pipi pria itu.
"Kata ayah orang jahatlah yang tidak berguna. Seharusnya kamu malu jadi orang jahat."
Hal itu semakin menyulut emosi pria tadi. Buru-buru ia menarik Eiji keluar rumah. Meski Daichi sangat berusaha menghentikan mereka. Namun sayang ... luka yang menganga di punggungnya membuat ia tak mampu bergerak.
Tubuh Eiji diikat di belakang mobil sport dengan kecepatan tinggi. Dibalik kemudi ada seorang anak remaja dengan kacamata hitam menutupi wajahnya.
Anak itu tersenyum miring, satu kebahagian baginya dapat menyiksa orang lain dengan mobil sport kebanggaannya.
"Hai ... babi cepat katakan apa benar kau anak Kwang Zu?" tanya pria itu lagi. Karena sampai sekarang pun ia masih tidak percaya.
"Ya ... aku anak Lee Kwang Zu. Namaku Lee Eiji," bohong Eiji. Ia tak ingin orang-orang nakal itu mencari Zin.
"Jemmie ... kau tunggu apa lagi! cepat minggir!" teriak Frallo yang sejak tadi sudah siap menyetir mobilnya.
Langsung saja mobil itu melesat jauh. Tak memperdulikan tubuh Eiji yang bagaikan kaleng menempel di belakang mobil.
Darah mulai keluar dari kulitnya yang terbeset terkena gesekkan aspal. Tapi tak ada satu pun yang peduli. Justru tawa mereka semakin menggema seiring tangis Eiji yang semakin melinukan hati.
Sementara Daichi berusaha berjalan ke kamarnya. Ia mengambil surat perjanjiannya pada Kwang Zu. Ia yakin sebentar lagi Zin pulang. Dan ia merasa tak punya lagi waktu untuk menutupi ini semua.
Motor sport Zin sampai di kompleks dekat rumahnya. Matanya langsung memanas saat menyadari pria yang hampir mati kehabisan darah itu adalah adiknya, Eiji. Buru-buru ia menarik pedal motornya.
"Hentikan! Cepat hentikan!" serunya marah. Motornya sudah berada di sebelah kemudi. Frallo semakin tertawa. Ini permainan yang sangat mengasikkan. Fikirnya.
Tak mendapat reaksi, Zin menabrakkan keras motornya berharap mobil mahal itu goyah. Matanya menatap Eiji yang sudah tidak mengeluarkan suara. Airmatanya jatuh dengan cepat. Sangat menyesal telah meninggalkan Eiji malam ini.
"Buka," desisnya parau. Amarah telah mengusai dirinya. Tapi dengan santai Frallo membuka kaca jendela.
"Haha ... ayok selametin dia. Itu juga kalau lo bisa." tantangnya. Zin langsung mengambil kesempatan itu. Ia ikut menarik setir membawa mobil itu berputar sampai akhirnya menabrak pohon.
Motor Zin terpelanting jauh dari dirinya. Tapi pria itu tak peduli. Segera ia berlari ke belakang, membukakan ikatan Eiji.
"Eiji...!" panggilnya yang sudah merangkul tubuh Eiji. Menaruhnya di kedua pahanya.
Dan saat itu Frallo dan yang lainnya pergi begitu saja. Bagi mereka urusan menghabisi keluarga Kwang Zu sampai titik darah penghabisan sudah selesai dengan baik.
Zin menggendong tubuh Eiji yang mulai dingin. Tubuh penuh lukanya perlahan berganti warna semakin pucat. Tangan Zin yang membopong Eiji begitu bergetar, rasanya ia begitu tak sanggup membopong mayat Eiji. Adik yang sangat ia sayangi.
Ia meletakkan Eiji di dalam rumahnya. Percuma! Akan percuma jika ia membawa Eiji ke rumah sakit. Sesaat ia larut dalam kepedihan. Zin hanya mampu menangis di samping Eiji.
"Zin...!" panggil Daichi parau. Mata Zin langsung membulat. Ayah? ia bahkan belum tahu apa yang terjadi dengan lelaki itu.
"Ayah?!" Zin langsung merangkul Daichi.
"Nak... ini Nak!" Sebuah surat dengan lumuran darah sebagai hiasannya menggantung di tangan Daichi.
Zin terpaku. Tapi tangannya membuka surat tersebut.
Saya, Wang Daichi. Berjanji akan merawat Zin seperti anak saya sendiri dan menjaganya dari De'Baule. Sampai titik darah penghabisan
Ttd
Daichi.
Zin menyeritkan alisnya, Apa ini? sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ayahnya sampai berjanji untuk merawatnya? Perlahan tangan Daichi memegangi pergelangan tangan Zin.
"Zin... aku sudah memenuhi janjiku. Merawatmu sampai aku tak mampu lagi. Zin sekarang sa-atnya aku menyusul ayahmu, Kwang Zu!" ucap Daichi lemah.
"Ma-maksud, Ayah?!"
"Zin... Maaf jika selama ini aku menutupinya semua. Kau bukanlah anakku Zin. Aku merawatmu waktu usiamu tiga tahun. Dan itu atas permintaan ayahmu!" jelas Daichi yang justru semakin membuat hati Zin ketar-ketir.
"Ayahmu dan aku mati-matian menutupi jati dirimu supaya kau aman. Dan sekarang De'Baule tahu keberadaanmu mereka mencarimu. Kau harus berhati-hati, Zin!" Zin setidaknya sedikit memahaminya. Jadi Eiji meninggal karena orang-orang tadi mencarinya. Ya Tuhan... kenapa harus Eiji? dan kenapa bukan aku? batin Zin frustasi.
"Temui lelaki yang ada di foto. Ia akan memberi tahumu semuanya...!" Saran Daichi setelahnya lelaki itu tak lagi bicara, bahkan deru nafasnya yang pendek-pendek berhenti begitu saja.
Zin hanya bisa melotot. Melihat kedua orang yang ia anggap keluarganya terbujur kaku dalam waktu yang bersamaan.
Dendam bergejolak di dadanya. Hanya senyum meledek Frallo yang terus menari di pelupuk matanya.
Ia menggenggam surat itu kencang. Saat ini hanya ada satu yang ingin ia lakukan.
Membalas semua perbuatan Frallo sesuai dengan apa yang ia lakukan pada Eiji.
Sementara di tempat lain ...
"Tolong!! Tolong." Seorang gadis belia berlari ke sudut ruang. Ia meringkukkan badannya. Di depannya ada pria tua tak tahu diri sedang menatap lapar pada tubuh Evalingsta, remaja belasan tahun yang lebih pantas disebut anak pria itu.
"Kemari, Sayang. Kau milikku. Carlos telah memberimu untukku." Kata-kata itu begitu menyakiti Evalingsta. Tidak seharusnya, Carlos yang notabanenya pamannya tega menjualnya. Andai ayahnya masih hidup. Mungkin Alberto langsung menembak mati adiknya itu.
Tunggu!
Eva mendelik. Mengapa kematian ayahnya begitu tiba-tiba. Rasanya terlalu mustahil menganggap kematian Alberto sebagai satu kecelakaan. Eva tahu, ayahnya orang yang sangat hati-hati. Kecuali... Memang ada yang merencanakan kematian Alberto sendiri.
Eva melirik pria di depannya penuh dendam. Carlos saja tega menjualnya. Mungkinkah ia juga sampai hati membunuh kakak satu-satunya demi harta dan tahta. Terlambat untuk Eva menghindar. Ia sudah masuk dalam perangkap. Usianya yang belia membuat Eva dengan mudah terjebak dalam permainan Carlos. Sekarang, tak ada lagi yang tersisa dalam diri kecuali dendam.
***
Mengikuti instingnya, Ia mulai mencari Frallo kembali. Banyak liku yang Zin lalui untuk sampai di hotel tempat Frallo beristirahat setelah melakukan pembunuhan. Hah! seharusnya ia beristirahat dengan tenang di dalam kuburannya saja.
Zin mengetahui mobil sport itu menuju sebuah hotel mahal di pusat ibu kota.
Segera Zin menuju ke sana.
Pria itu sudah sampai di lobby hotel. Beruntung tadi ia sempat mengganti jaketnya dengan jaket bergambar gunung es milik Daichi dulu.
Berkat itu ia mudah mengetahui di mana letak unit Frallo.
"De'Baule?" bisik penjaga lobby. Dari tatapannya terlihat jika mereka begitu ketakutan.
Zin hanya berjalan santai. Melihat-lihat mencoba tenang.
"Apa anda tidak tahu jika De'Baule sedang mengadakan pesta di bar sebelah?!" kata resepsionis menegur Zin. Zin berfikir... sepertinya ini adalah kesempatannya.
"Iyah saya tahu, tapi saya diminta untuk mengambil sesuatu!" bohongnya cepat.
"Oooh begitu ... kalau gitu ini kuncinya. Oh,yah maaf Pak, tapi di atas ada tuan muda Frallo sedang tidur. Tadi tuan Carlos berpesan untuk jangan menggangu tidurnya. Jadi tolong buka pintunya pelan-pelan saja,yah," saran resepsionis itu kemudian. Zin hanya mengangguk seraya tersenyum tipis.
Dalam hati ia berjanji tak akan mengganggu tidur Frallo. Karena anak itu akan tidur selamanya sama persis seperti yang ia lakukan pada Eiji.
Pria itu sudah sampai di depan unit Frallo. Dengan cepat ia membuka pintu. Suasana di dalam begitu sunyi sepi. Dengan lampu temaram sebagai penerangnya.
Zin melangkah pelan. Matanya terus berjaga takut ada orang lain selain dirinya. Sebentar saja ia menemukan anak yang sejak tadi di carinya. Tengah tertidur santai di sofa, bahkan sebuah konsol game masih ada di atas perutnya. Sepertinya Frallo baru saja selesai bermain.
Zin mengambil konsol game itu. Ia mengetatkan kabelnya di tangan. Siap untuk mencekik Frallo.
Sebelum melancarkan aksinya. Zin berjongkok di samping Frallo.
"Apa sebuah nyawa bagimu hanya bagian dari permainan? Kalau begitu sekarang aku akan memberi tahumu cara bermain yang benar," desisnya di telinga Frallo. Frallo yang merasa hembusan suara langsung bangun. Baru saja kepalanya terangkat. Zin langsung mencekik Frallo tanpa ampun.
Wajah Frallo memerah. Darah tak lagi mengalir dengan seharusnya karena Zin mencekiknya keras.
Tangan Frallo terus berusaha memukul Zin. Tapi Zin sama sekali tak terpengaruh. Pria itu masih membayangkan bagaimana hidupnya bersama Eiji dan Daichi. Dan sekarang semua hanya tinggal kenangan.
Mata Frallo melotot sempurna. urat-urat matanya hampir keluar semua. Pukulan pada tangan Zin pun semakin lemah. Ia terlalu lama kehabisan nafas. Bahkan lehernya sudah lecet berkat kabel itu.
Zin mengendurkan tarikkan kabelnya. Ia ingin menanyakan maksud Frallo mencarinya.
"Bagaimana? apa kau masih ingin merasakannya kembali?!" ledeknya. Sementara Frallo masih mencoba mengatur nafasnya. Hampir saja ia memperkirakan sebentar lagi ia mati.
"Ba...hingan!!" hina Frallo meski terbata-bata.
"Hhaa... lalu kau? Hei! katakan untuk apa kalian mencariku?"
Frallo menggeleng. Ia saja tidak tahu siapa lelaki yang baru saja mencekiknya.
"Aku orang yang kalian cari. Aku anak satu-satunya Lee Kwang Zu. Lalu untuk apa kalian mau mencariku. Bukankah tujuh belas tahun yang lalu kalian sudah berhasil menghabisi orangtuaku?"
"Ka ... kau anak Kwang Zu?" sahut Frallo tak percaya. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel yang ada di atas meja. Tapi Zin langsung menahan tangan Frallo.
Terjadi tarik menarik ponsel. Sampai Frallo memukul keras pipi Zin.
Kemudian anak itu berlari menjauh. Ia telah berhasil menyelamatkan ponselnya. Dan Frallo bersiap mendial nomor ayahnya, Carlos.
Zin ikut menarik ponsel itu. Akan berbahaya jika semua orang De'Baule mengejarnya.
"Kasihin ponselnya!"
"Enggak ... lo bakal mampus sama daddy gue. Hehehe!" ancam Frallo sebetulnya ia begitu takut, posisinya tidak baik saat ini. Tubuhnya memepet di belakang jendela. Parahnya sang daddy tak juga menerima panggilannya.
Zin betul-betul emosi. Nyatanya Frallo sama sekali tak bisa diajak kompromi. Bahkan dengan enteng ia meledek Zin.
Tanpa sengaja tangannya mendorong kuat tubuh Frallo.
Kaca itu pecah karena tak bisa menahan tekanan kuat dari dorongan Zin. Dengan kata lain kini tubuh Frallo tak bersender pada apa pun.
Anak muda nan angkuh itu terjun bebas dari lantai dua puluh tiga.
Zin menatap ke bawah dengan datar. Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan untuk kematian Eiji.
Di bar sebelah Carlos merasa sangat puas telah berhasil meruntuhkan silsilah keluarga Lee Kwang Zu, orang yang beraninya berkhianat pada Carlos. Dan Carlos merasa semua ini sepadan didapatkan Lee Kwang Zu. Sekalian, menegaskan kepada siapa pun untuk jangan mencoba menghianatinya.
Ha ha ... Tunggu sebentar, anakku telepon," ucap Carlos yang sedang asik berpesta pora bersama kawan-kawannya.
Pesta yang diadakan karena para anak buahnya telah berhasil menghabisi keluarga Kwang Zu hingga jejak terakhir.
"Enggak ... lo bakal mampus sama Daddy gue. Hehhe ... ."
Suara piring jatuh dan teriakan ketakutan mendera seluruh ruangan.
Carlos menyeritkan alisnya bingung. Kenapa justru terdengar suara Frallo yang teriak? sedang bicara sama siapa anak lelakinya itu. Kenapa ia terdengar sangat ketakutan?
Carlos langsung menyadari ada sesuatu yang janggal. Ia langsung berlari keluar bar menuju hotel.
Lima menit kemudian ia sampai di parkiran yang masih terdapat tubuh Frallo yang hancur. Sebagian isi kepalanya berceceran disertai darah segar yang terus mengalir. Bola matanya mendelik kaget, tangannya lunglai seakan tak bertulang. Sudut bibirnya mengeluarkan sisa-sisa isi perutnya sebelum ia terjatuh dari gedung tinggi itu.
Tak ada yang berani mengutik mayat pemuda itu. Karena seandainya saja Carlos menyangka merekalah yang menyebabkan kematian Frallo-anak yang paling ia sayangi. Maka saat itu juga tamatlah riwayat mereka.
Carlos masih mencoba mengucek matanya. Ia merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Meski netranya sendiri yang menatap tubuh Frallo.
"Allo...!" panggilnya lemah dan syok. Spontan kepalanya menengok ke atas. Cahaya rembulan memantulkan wajah Zin yang masih terus berdiri di sana. Sepertinya lelaki itu juga masih bimbang. Apa betul ini yang ia inginkan? mendorong pembunuh Eiji hingga tewas? Tiba-tiba lelaki itu merasa begitu keji. Tapi perlakuan Frallo pada Eiji pun tak bisa dimaklumi. Masih jelas di ingatannya, luka-luka yang menganga kotor terkena pasir jalanan membuat darah Eiji tersumbat paksa.
Lebam pada wajahnya yang chubby, serta teriakan terakhir Eiji sebelum bibirnya bungkam untuk selamanya.Jika istilah nyawa dibalas dengan nyawa dibenarkan, Maka apa yang dilakukan Zin saat ini adalah sebuah kebenaran.
Carlos berdiri kembali, menunjuk Zin dengan tatapan murka bagaikan beruang kutub yang siap memangsa ikan hiu sekali pun. Tak butuh waktu lama, ia mengarahkan seluruh anak buahnya untuk menangkap Zin.Tak akan ia biarkan Zin pergi begitu saja.
Zin membuka pintu apartemen pelan. Hembusan nafas lelah keluar dari sudut bibirnya. Lelaki itu belum sadar peristiwa apa yang sebentar lagi menimpanya.Zin sama sekali tak bisa berfikir dengan baik, ia masih terus melamunkan ayahnya, Daichi. Sehingga Zin hanya memencet tombol lift berniat pergi begitu saja. Sesaat papan lift menunjukkan sebentar lagi lift sampai pada lantai dua puluh tiga. Tapi Zin yang merasa bosan menunggu akhirnya memutuskan turun lewat tangga.Pintu lift terbuka mengeluarkan segerombolan pertarung jalanan dengan lengan penuh otot. Mereka tak lain adalah anak buah dari Carlos.
Brraakk!
Karena begitu tak sabar membuat Jemmie menendang paksa unit Frallo. Ia pun sama marahnya dengan Carlos.Jemmie mencari Zin di setiap sudut ruangan. Ia sudah seperti banteng yang mengamuk.
“Maaf, Bos ... gak ada siapa-siapa di sini." adu salah satu anak buahnya. Jemmie tahu, Zin pasti sudah lebih dulu kabur.
Jemmie menelpon teman lainnya untuk berjaga-jaga disetiap lantai. Mereka siap menguliti Zin hidup-hidup asal itu keinginan Carlos.Tapi nyatanya Carlos ingin hal lain. Ia ingin ikut merasakan setiap detik penderitaan Zin, hembusan nafas yang terasa bagaikan penyiksaan untuk Zin.
Yeah ... Carlos ingin membalas Zin dengan amat perlahan. Tak akan semudah itu ia membiarkan Zin mati dalam ketenangan.
Pria berhati iblis serta rasa sakit hati dan dendam yang ia pupuk mulai detik ini adalah musibah bagi Zin.
--
Zin telah sampai di lantai delapan belas. Ia memang berjalan gontai, rasanya semua energinya sudah tersedot habis. Tiba-tiba saja tiga orang menghadang jalannya. Dari jaket yang mereka gunakan Zin tahu ... mereka berniat membalaskan dendam, tapi Zin yang santai hanya bisa tertawa meremehkan“Ini dia orangnya, tunggu apa lagi kita habisin!” seru ketiga orang itu. Zin langsung membalas pukulan mereka bertubi-tubi. Bagi Zin yang juara WBC (World Boxing Champion) menghadapi ketiga orang tersebut sangat mudah.Zin menyiku wajah salah satunya dengan keras. Membuat giginya rontok begitu saja. Kepalanya yang keras ia benturkan ke lawan. Membuat suara teriakan keras yang mampu memanggil musuh lainnya.
"Aahkk. Sialan lo," pekiknya dengan wajah berdarah."Kayaknya mereka udah ketemu, ayok kita kesana!" ajak anak buah Carlos lainnya. Dalam hitungan detik sudah ada dua puluh orang yang mengepung Zin. Sepandai-pandainya ia. Zin tak akan mungkin lolos dengan mudah.Kali ini Zin memilih pura-pura pingsan, agar dirinya tak di kepung massa.
"Gimana, kita bunuh saja dia sekalian!" terdengar suara seseorang yang berharap bisa membunuh Zin saat itu juga.
"Jangan, Carlos tak suka jika kita yang membunuhnya. Ia ingin tangannya sendirilah yang menyiksa pemuda itu dengan perlahan!" seringai Jemmie ikut masuk.
"Sebaiknya, pindahkan dia ke bawah. Biar Carlos melihat siapa pembunuh anaknya" tambah Jemmie.
Tubuh Zin di gotong ke bawah, untuk diperlihatkan pada Carlos. Sesampainya disana Perutnya ditendang agar ia bangun dari pingsannya.
Zin dipukuli ... "Bangun lo!" cerca bodyguard Carlos.
Carlos yang masih berduka semakin gila, wajahnya memerah dengan sisa-sisa air mata menghiasi pipinya.
Bibirnya tersenyum devil, siap untuk menyiksa Zin.Suara tepukkan tangan memenuhi ruangan.
"Kau yang sudah membunuh Fralloku?!" tanyanya dingin.
"Itu sepadan dengan apa yang ia lakukan pada adik dan ayahku," balas Zin tak kalah sengit.
"Hhaha ... pantas?!" ulang Carlos, berjongkok menyamai tinggi Zin yang sudah tersungkur karena tendangan-tendangan yang ia terima.
"Mari ku ajarkan arti kata pantas untukmu," ancamnya serius.
--
Zin dibawa pergi dengan mobil. Ia sendiri tidak tahu kemana tujuan mereka. Tapi Zin tahu, keadaannya saat ini sangat tidak baik. Ia telah terperangkap oleh emosinya sendiri.
Zin mencoba berfikir dengan baik. Karena panikpun hanya akan percuma. Ia berusaha mengenali keadaan meski kedua matanya ditutupi sebuah kain.
Zin memasang telinganya dengan baik, mencoba menguping pembicaraan mereka.
"Kita akan bawa dia ke Villa Carlos yang di tengah hutan. Tak akan ada yang bisa menyelamatkan lelaki itu," cerca suara lelaki meremehkan.
"Yah ... jika ia memilih kabur, itu sama saja ia ingin masuk dalam terkaman buaya. Kamu ingatkan, di samping villa itu ada sebuah rawa yang dipenuhi buaya-buaya kelaparan." tanggapan yang lainnya.
Zin menelan ludahnya kasar. Tak mampu membayangkan jika tubuhnya dilahap kawanan buaya kelaparan.
Spontan ia menghentakkan lengan sampingnya ke besi penjagaan. Sehingga menimbulkan bunyi bising.
"Berisik!" cela si pengemudi.
Zin berusaha membuat kegaduhan. ia juga ingin berteriak meski mulutnya di bekap kuat.
"Mau apa sih tuh orang?" geram bodyguard yang lainnya.
"Kayaknya kita harus periksa deh. Jangan.., bisa-bisa dia kabur saat kita berhenti!"
Lagi, ia memakai tubuhnya untuk menggebrak bagasi
"Tuh ... tapi kalau kita diem terus bakalan tambah berisik dan memancing perhatian para warga," lanjut bodyguard itu mencari alasan. Si pengemudi terlihat berfikir, sepertinya ide temannya itu ada benarnya. Ia juga geram dengan Zin yang tak bisa diatur. Tangannya ingin meminju kembali perut Zin. Apa pun asal Zin bisa bungkam.
Semua itu tak lepas dari masa lalu mereka, yaitu Carlos dan Lee Kwang Zu yang di ketahui adalah ayah Lee Zin.
Tujuh belas tahun yang lalu ... .
Suara derap langkah kaki berat memenuhi sepanjang koridor gelap itu. Penerangan dari cahaya bulan memperlihatkan seorang pria bertubuh tinggi nan besar dengan rahang yang tegas dan lugas serta sedikit rambut yang membentang dari ujung telinga bawahnya ke dagu. Kedua matanya menyipit karena sedikit penerangan cahaya. Namun, itu tak menjadi masalahnya karena ia tahu betul peta tempat ini.
Ketika jalan habis dan menyisakan sebuah pintu, tangannya yang besar dan kekar segera membukanya lalu memperlihatkan sekelompok pria tengah berdiskusi.
"Hai Lee, darimana saja kau? Kita sudah menunggumu di sini. Kita memiliki misi baru," ujar salah seorang pria di sana kepada temannya yang baru datang.
"Ah iya," balas pria yang dipanggil Lee singkat. Ia adalah seorang mafia yang terkenal dengan psychopath dan keberanian yang dimiliki. Namanya Lee Kwang Zu, seorang pria berusia 35 tahun. Meski usianya yang terbilang tidak muda lagi, tetapi perawakan yang dimiliki masih menggambarkan keperkasaan dan kekuatannya. dan karena pekerjaannya seorang Mafia membuat Kwang Zu menjadi kejam dan bengis.
Walau begitu ia juga memiliki seorang anak yang masih kecil. Dan Kwang Zu ingin hidup bahagia bersama anaknya tanpa harus memikirkan pekerjaan. Kwang Zu berniat untuk keluar dari ritinitasnya sebagai mafia.
Pekerjaan yang terkadang membuat ia merasa begitu bersalah kepada putranya. Ia tidak ingin Zin dibesarkan dalam kekerasan. Harapan Kwang Zu pada Zin sangatlah besarSuara derap langkah kaki berat memenuhi sepanjang koridor gelap itu.
Harapan Kwang Zu pada Zin sangatlah besar. Dirinya sudah tak ingin berhubungan dengan dunia yang suram dan tak terkendali. Ia ingin lebih fokus untuk membesarkan anak semata wayangnya itu.
"Kwang Zu, aku menginginkanmu untuk menjadi penyerang pertama. Aku yakin dengan kemampuanmu bisa membuat target kita tidak bisa berkutik lagi."
Suara itu berasal dari salah satu rekan kerja, Carlos de Baule. Pemimpin dari para mafia.
Meski usianya di Bawah Kwang Zu, itu tak menjadi masalah karena ia lebih kejam dari Kwang Zu sendiri. Tak peduli targetnya adalah musuh atau teman, ia akan segera membasmi jika disuruh. Carlos percaya hanya uanglah yang berkuasa. Jika uang sudah berbicara ia siap menumpas siapapun itu. Kwang Zu terdiam,
"Aku ... aku tidak bisa," balasnya membuat semua orang yang di sana terkejut dan heran.
"Ah iya, aku akan memberikan senjataku padamu. Kau tenang saja, aku yang akan menjadi pemasok senjata yang kau inginkan. Tinggal sebutkan saja apa dan bagaimana senjata yang kau mau Kwang Zu," ujar salah seorang pria sambil menepuk bahu Kwang Zu.
Kwang Zu menggelengkan kepala menolak, "Bukan. Aku tidak peduli senjata apa pun itu. Aku sudah tak bisa melakukan hal ini lagi," Ia menatap teman-temannya satu persatu dengan tatapan nanar. Kali ini Kwang Zu begitu serius dengan niatannya.
"Apa yang kau katakan?" tanya Yoshito, teman yang selalu mengerjakan misi bersama dengan Kwang Zu. Semua tatapan kini beralih menatap Kwang Zu meminta penjelasan apa yang ingin ia bicarakan dan alasan mengapa ia menolak misi untuknya sendiri.
"Aku sudah tidak ingin melakukan pekerjaan ini. Aku tidak mau, ada seseorang yang harus kujaga sekarang. Aku tak mau ia mendapat masalah karena pekerjaanku ini, kemarin seseorang itu memberikan aku kesadaran. Sesuatu hal yang seharusnya aku kerjakan sejak dulu. Tapi kini aku sudah sadar dan rasanya aku tidak mau mengulur-ngulur waktu lagi," tuturnya seraya mengepalkan tangan kuat.
Ia teringat ketika memandikan Zin anak itu telah menanamkan perasaan damai. Perasaan yang sudah sangat lama Kwang Zu gadaikan untuk pekerjaan haramnya itu. Tapi seiring bertambahnya usia ia seakan haus dengan hal tersebut.
Pengakuannya ini tentunya sukses membuat semua orang terkejut.
Yoshito tertawa, ia menepuk pelan bahu Kwang Zu.
"Kawan, candaanmu ini tidaklah lucu. Ada apa denganmu sampai harus bercanda seperti ini? Apakah kau sedang ingin mengerjai kami?" tanyanya kemudian melanjutkan tawa meremehkan.
Bukannya menjawab Kwang Zu malah terdiam membisu menundukan kepala dan itu berhasil membuat Yoshito membelalakkan matanya tak percaya.
"Kau serius dengan perkataanmu? Tapi mengapa?" tanyanya tak mengerti.
"Kau tahu bukan jika isteriku telah tiada ketika melahirkan anak pertama kami, aku tak mau masa depan anakku menjadi terancam karena pekerjaan ayahnya sendiri," tuturnya.
"Tapi apa kau harus keluar? Memangnya itu menjamin keselamatan anakmu?" tanya Yoshito lagi memastikan jika pendengaran ia salah.
"Ini lebih baik karena aku bisa menjaga anakku lebih tenang. Aku tak mau kebahagiaan kecilnya hancur, aku sudah berpikir dengan matang mengenai keputusan ini. Aku ... Aku akan segera keluar," balas Kwang Zu yakin.
Yoshito tersenyum sinis, kedua tangannya bertumpuk di dadanya yang bidang, lalu kedua mata Yoshito menajam menatap Kwang Zu.
"Ck, memangnya kau bisa selamat setelah ratusan target yang kau bunuh saat keluar? Apa kau tidak me ... ."
"CUKUP!" Teriakan seseorang berhasil membuat Yoshito terdiam tak melanjutkan ucapannya. Suara itu berasal dari Carlos, pemimpin mereka.
Sedari tadi Carlos hanya menyaksikan kedua anggota mafianya yang bertengkar tak jelas di depannya sendiri. Kedua matanya menatap Kwang Zu yang terdiam membisu. Melihat hal itu membuat Carlos yakin jika Kwang Zu tak main-main dengan keputusannya untuk keluar.
Yoshito hanya bisa meringis dan terdiam karena Carlos sudah berbicara, ia tak bisa memarahi Kwang Zu atas keputusannya itu.