“Kita yang berawal dari aku dan kamu yang bertemu dalam satu hati, apakah mampu bertahan dalam berbagai situasi suatu saat nanti?” Langit Senja R
“Kamu percaya cinta itu ada, Rain?” tanya Dion datar.
Rain melongo mendengar ucapan dari dosennya yang memiliki gelar killer, dosen yang suka membuat hati mahasiswi terbang tetapi jatuh seketika dan dosen yang selalu membuat mahasiswa kesal karena hampir seluruh kekasih mereka selalu melihat dan berandai-andai memiliki kekasih seperti Dion.
“Permisi pak . . . apa saya tidak salah dengar?” tanya Rain sangat hati-hati.
Dion mendengus kasar, dia membakar rokoknya dan kemudian menatap Rain dengan tatapan serius, “Kamu percaya jika cinta itu ada?”
Rain mengangguk, “Percayalah pak, mana ada kehidupan tidak ada cinta dan apalagi jika kita mencintai orang yang tepat untuk pertama dan terakhir kalinya. Pasti akan berakhir sangat indah nantinya.”
“Secepat itu kamu mengartikan cinta? Dan sangat sederhana sekali kamu mengartikan apa itu cinta, tapi okelah.” Dion tersenyum puas.
Rain yang melihat dosennya yang tersenyum begitu manisnya itu jantungnya berdegup sangat cepat tetapi semua itu langsung ditepisnya karena mengingat ada nama Dewa yang selalu mendampingnya saat suka maupun duka.
“Tapi apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” kini Dion bertanya kembali ke arah Rain.
“Bapak bertanya gini apa tadi salah makan atau bagaimana? Atau ada sedikit benturan?” polos Rain tanpa kontrol.
“Hei!! Jawab saja!! Mau saya cancel tuh sidang skripsimu?” ancam Dion sambil melotot ke arah Rain.
“Eh jangan pak, canda pak. Suer deh cuman bercanda, maaf pak. Bisa diulangi pertanyaan bapak tadi?” pinta Rain sedikit ketakutan tetapi terpaksa untuk tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” Dion menjelaskan kembali ke Rain.
Rain mengangguk dan mencba mencari jawaban, sementara itu Dion telah membakar rokoknya kembali untuk ke-dua kalinya. Dia tersenyum saat Dion membakar rokoknya tepat di depannya itu.
“Saya tahu jawabannya pak, cinta itu ibarat api. Dimana api yang mampu menghanguskan atau menghabiskan semua yang telah disentuhnya, sederhannya gini. Jika api itu harapan yang sia-sia maka bagaimana caranya kita memadamkan api itu dan mengembalikan semua yang telah hangus terbakar api tersebut,” jawa Rain tersenyum penuh kemenangan.
“Sederhana sekali ya jawabanmu, tapi terimakasih telah menjawab pertanyaan saya yang kurang bermutu untukmu. Saya pergi dulu, permisi.”
Dion segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar cafe. Sementara itu Rain melongo mendengar jawaban dosennya tersebut, dia tak ambil pusing dan segera pulang untuk menyiapkan berkencan sekaligus memberikan berita yang paling bahagia untuk keasihnya, Dewa Geofani.
Kini senja menyapa malam, sesuai jadwal Rain yang telah bersiap untuk dijemput oleh kekasihnya tersebut. Sesaat setelah berdandan begitu cantiknya, ibunya datang mendekatinya.
“Mau pergi kencan nih anak gadis mama? Gimana kabarnya skripsimu? Lancar semuanya kan?”
“Eh mama, semuanya lancar Ma dan tiga hari lagi aku sidang skripsi terus setelah itu apakah Dewa boleh datang untuk memintaku ma? Hanya bertunangan saja ma,” rengek Rain seperti anak kecil yang meminta mainan baru.
Mamanya tersenyum dan menggeleng pelan mendengar rengek’an anak gadis semata wayangnya itu,
“Jalani semuanya dulu, dan biar Tuhan yang mengatur semuanya Rain. Mama bukan gak suka sama Dewa tetapi . . . biar ayahmu saja nanti yang cerita setelah pulang dari dinas luar kota, okey anak mama yang paling cantik.”
Rain menatap mata mamanya sangat dalam, mencari sebuah jawaban atas ucapan mamanya. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan semuanya.
“Mama buka dulu ya, itu pasti Dewa. Rapikan dulu lagi bajunya Rain,” pinta Mama.
Rain mengangguk dan dengan cekatan merapikan anak rambutnya serta menambahkan lip gloss untuk membuat semakin cantik dan manis saat berkencan dengan Dewa Geofani. Setelah penampilannya terlihat sempurna, kini dia segera menyusul dan menyambut kekasihnya sudah menunggu dirinya malam ini.
“Malam bubub, maaf ya lama. Ma, Rain berangkat dulu ya.” Rain pamit ke arah mamanya.
“Baik-baik ya nak Dewa dan jangan pulang terlalu larut. Baik-baik ya sayang selamat berkencan.” Mamanya memeluk Rain.
Dewa pun pamit ke arah mamanya Rain dan dengan segera ke-dua insan itu menuju ke sebuah tempat yang sangat indah, romantis dan mungkin bisa membuat hati setiap pasangan semakin saling mencintai, Bukit Panah Asmara.
“Sudah sampai nih, yuk turun.”
“Eh iya,” ucap Rain seakan menerka dengan gerak gerik serta ucapan Dewa yang berubah.
Rain yang merasakan perbedaan yang sangat mencolok sikap Dewa hanya bisa menerka-nerka dia hanya bisa membuang jauh-jauh pikiran negatif yang selalu datang dalam pikirannya. Di mana dulu Dewa selalu menggandeng erat tangannya kini dia berjalan sendiri, di mana dulu Dewa selalu menjadi sandaran dan tempat bergelayut manja saat berjalan berdua kini dia hanya berjalan sendiri, di belakang Dewa.
“Apa aku punya salah ke dia? Apa waktuku untuknya selama ini hilang untuk skripsi?” lirih Rain.
Kini ke-dua insan telah duduk berdampingan tanpa satu atau dua kata, hanya angin yang berhembus pelan sebagai penanda kesunyian diantara mereka berdua. Setelah semua pesanan telah datang.
“Kita habiskan dulu, setelah itu aku mau ngomong jujur ke kamu,” ucap Dewa dengan suara berat.
“Kamu? Sejak kapan dia manggil aku dengan kamu? Padahal tadi siang baik-baik saja. Ya Tuhan, apalagi ini?” teriak Rain dalam hati.
“Rain? Are you okay?” tanya Dewa sembari memegang dagu Rain.
“Eh iya, I’m okay.” Balas Rain sembari meraih sendok dan menyuapkan beberapa makanan ke mulut mungilnya tersebut.
Setelah hampir lima belas menit berlalu untuk menghabiskan makanan, kini Dewa duduk di samping Rain,
“Aku mau tanya boleh?”
“Apa?”
“Janji dulu tapi, setelah semua penjelasanku nantinya yang akan mungkin membuatmu membenciku selamanya,”
“Baiklah aku berjanji,” balas Rain sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
Dewa mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rain yang sembari tersenyum.
“Apakah kamu yakin sama aku yang akan mendampingimu nanti selamanya, Rain? Ataukah ada yang bisa memisahkan kita berdua nantinya?” tanya Dewa sembari menggenggam erat tangan Rain.
“Kenapa kamu tanya seperti ini? Ada masalah?” Rain bertanya balik.
“Berat Rain, mungkin akan membuatmu sakit hati tetapi aku percaya jika kamu akan kuat nantinya,”
“Kamu kenapa sih Dewa!! Ceritakan semuanya!!” teriak Rain yang sudah tak mampu membendung teriakan hatinya.
Dengan segera Dewa memeluk Rain, menenangkannya untuk kesekian kalinya selama mereka menjalani kisah cinta mereka berdua.
“Kamu tadi sudah berjanji bukan, Rain? Gimana aku mau cerita jika kamu se-emosional gini,” ucap lembut Dewa.
Rain menatap wajah Dewa yang sangat teduh baginya, membuatnya sangat tenang ketika berada didekatnya.
“Baiklah, ceritakan semuanya. Aku siap menerima semuanya.”
Dewa menghembuskan nafasnya dengan kasar, terlihat bibirnya sangat ingin mengucapkan sebuah kata. Dia tak ingin menyakiti kekasihnya itu tetapi bagaimanapun Dewa harus jujur ke Rain, “Keluargaku telah menjodohkan aku dengan seorang dokter.”
“Hah? Jangan bercanda gitu Dewa. Pasti kamu bercanda kan? Iya kan?” tanya Rain sembari meninju bahu Dewa.
“Rain, aku gak bercanda. Perpisahan ini bukanlah duka meski harus menyisakan luka untukku dan pastinya untukmu. Tapi, jika aku berbohong ke kamu pasti kamu akan kecewa juga.” terang Dewa sembari menatap netra Rain.
“Dewa . . . jangan bercanda . . . aku sangat mencintaimu dan kenapa kamu setuju dengan semua perjodohan itu? Bukankah kamu akan melamarku setelah aku sidang nantinya? Tiga hari lagi aku akan selesai Dewa,” rengek Rain dengan air mata yang sudah mengalir di belahan pipinya.
“Rain, tiga hari lagi juga aku akan menikah dengan pilihan orangtuaku. Maafkan aku Rain, aku akan berdoa untukmu agar mendapatkan pasangan yang bisa membuatmu lebih bahagia setelah bersamaku nantinya.” Dewa tersenyum pedih ke arah Rain.
“Secepat inikah hubungan kita . . . . Dewa?” tangisan Rain pecah dalam pelukan Dewa.
“Kita yang sering menyapa dan akrab hingga tumbuh apa itu rasa sebuah cinta tetapi kini akan memudar dengan waktu dan kondisi yang seiring berjalan nantinya,” Langit Senja R.
Dalam pelukan Dewa, Rain tetap menangis, meluapkan semua yang dia rasakan saat ini. Rasa yang dulu dan sampai kapanpun dari Dewa untuknya mungkin tak akan bisa dihapus atau bahkan dilupakan dalam waktu sekejap.
“Rain, mungkin mulai saat ini sampai kapanpun aku harap kamu bisa menghapus namaku dan begitu juga denganku, aku juga berusaha sekuat hatiku untuk . . .” suara Dewa terputus saat jemari Rain menyentuh bibirnya.
“Cukup Dewa, kalau ini memang sudah garis kehidupan yang aku terima. Aku ikhlas meskipun berat, bahagialah dengan pasangan hidupmu dan terimakasih sudah menemani dan membantu aku yang sangat manja dan bahkan tak mau mengalah selama ini. Antar aku pulang . . .” Rain melepas jemarinya dari bibir Dewa.
Rain berjalan gontai meninggalkan Dewa yang tengah menatapnya dengan penuh penyesalan. Mungkin sebuah kisah cinta yang pernah terjalin segitu kuatnya bisa selesai dalam waktu yang tidak kita inginkan tetapi mungkin juga kita sebagai manusia bisa saja melupakan siapa yang mengatur kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan.
Sepi hati yang dirasakan Rain tanpa ada lagi senyuman, tempat cerita atau bahkan tempat untuk bertengkar kecil dengan orang yang sudah dianggapnya belahan hati untuknya. Kisah cintanya dan Dewa kini hanya bisa terkenang nantinya dan tentunya sudah mengukir begitu banyak pahatan cerita cinta dalam setiap perjalanan cinta mereka berdua.
Suasana perjalanan pulang kini sangat berbeda sebelum tragedi sakit hati yang Rain rasakan, mereka berdua kini seperti dua manusia yang asing tak saling mengenal.
“Aku kira kamu akan menolak dengan perjodohan yang kolot itu,” ucap Rain sambil menguatkan kembali untuk berbicara dengan Dewa.
“Maaf, kamu tahu sendiri orangtuaku kan? Mereka ingin yang terbaik untuk aku, anak semata wayangnya. Aku tahu perjodohan itu kolot, Rain. Tapi . . . aku gak mau saat kita sudah menikah nantinya kamu akan selalu diremehkan oleh kedua orangtuaku, karena . . . “
“Karena apa? Karena aku gak bisa masak? Aku manja? Aku seperti anak kecil? Yang menikah itu kita atau kedua orangtuamu, hah!” teriak Rain sambil menatap Dewa.
Dewa menghembuskan nafas beratnya, “Ya kita yang menikah tapi kamu tahu sendiri orangtuaku ingin menantu yang usianya lebih tua dari aku.”
“Hah? Kamu mau menikahi tante-tante? Jangan bercanda kamu Dewa! Jangan-jangan ini kamu ngeprank aku? Atau hanya ingin memberikan hadiah untukku karena tiga hari aku akan sidang kelulusan?”
Dewa menggeleng pelan ke arah Rain, “Aku tak mungkin bercanda jika berurusan dengan orangtuaku dan kamu. Aku sudah tukar cincin dan tepat di sidang kelulusanmu, aku harus menikah denganya Rain.”
“Ini berarti nyata dan kenapa kamu tak ingin mempertahankan aku? Apakah kamu sudah mengatakan jika aku tak seburuk itu? Aku bisa masak kok, ayoklah Dewa jangan bercanda!!” Rain kembali merengek.
Kini Dewa menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan kemudian mematikan mesinnya, “Bagaimana caranya aku membelamu? Saat kamu buatkan ayahku kopi saja yang kamu masukkan garam bukan gula dan yang kedua saat kamu masak telur goreng, minyaknya terlalu banyak. Masih ingat itu semuanya, Rain?”
Rain menunduk dan merutuki kebodohannya saat itu, di mana saat itu ayah Dewa ingin dibuatkan kopi dan dengan santainya Rain menuangkan garam yang dia kira gula karena sama-sama memiliki bentuk sama.
Hingga ayah Dewa menyemburkan kopi buatanya ke arah Dewa dan yang ke-dua saat Dewa ingin dibuatkan telur goreng, dia menuangkan hampir setengah liter minyak goreng ke penggorengan hingga membuat ibu Dewa menggeleng keheranan.
“Aku ingat dan aku salah, aku tak pernah masuk dapur dan saat itu . . .”
“Rain, aku minta maaf sekali lagi. Ini sudah final dan bagaimanapun aku tak bisa menolak dan membatalkan ini semuanya, jika kamu tidak bisa memaafkan aku dna bahkan membenciku. Aku siap untuk kamu benci seumur hidupku.” Dewa terlihat pasrah.
Rain tersenyum ke arah Dewa, “Katakan saja, jangan kamu sembunyikan bila diriku tak lagi di hatimu. Tapi, kenanglah aku yang pernah singgah di hatimu meski sekedar mengukir namaku di hatimu, Dewa Geofani.”
“Jangan katakan kisahmu saat nanti, itu mungkin bisa membuat sakit hatiku Dewa. Aku dan kamu pernah saling menjaga hati, tetapi detik ini hari ini bulan ini dan tahun ini aku akan menutup hati untuk siapapun, termasuk kamu.” Rain mengarahkan kelingking ke arah Dewa sebagai simbil janji untuknya sendiri dan Dewa.
Dewa mengaitkan kelingkingnya dengan sangat berat, di bibirnya dia harus berbohong untuk pernikahan dengan seorang wanita yang berumur dua tahun lebih tua darinya tetapi saat ini dan mungkin selamanya hatinya tak akan melupakan satu nama yang selalu membuat tertawa, sebal dan sedikit bersabar dengan tingkah laku perempuan di sampingya saat ini, Rain Octaviani.
“Okey, antar aku pulang Kak Dewa.” Suara Rain terdengar bersemangat tetapi terdengar terpaksa bagi Dewa.
Perjalanan kembali asing untuk mereka berdua hingga tak terasa kini mobil Dewa sudah di depan rumah Rain, terlihat kedua orangtua Rain tengah berdiri dan menatap ke arah mereka berdua.
“Aku turun dulu ya kak, makasih atas semuanya. Bahagia selalu kak, aku turun dulu.” Rain beranjak turun dari mobil tetapi Dewa dengan segera memeluknya.
“Maafkan aku Rain, maaf dan maaf. Aku telah menyakitimu dan aku yang harus berterimakasih ke kamu. Dari kamu aku belajar segalanya, aku antar ya sampai di depan ayah mama ya.” Pinta Dewa sembari menatap netra Rain.
“Okey kak.” Rain memberikan jawaban sembari tangannya memberikan simbol “Ok”
Mereka berdua kini berjalan berdampingan tanpa tanda-tanda orang yang saling mencintai lagi, hanya sebagi teman atau bahkan adik kakak. Tentu itu membuat ibu dan ayah Rain saling menatap dan tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu untuk Rain.
“Mama ayah, aku pulang. Aku masuk dulu ya, capek aku. Makasih kak Dewa, hati-hati di jalan,” ucap Rain sambil tersenyum ke arah Dewa.
“Makasih waktunya ya Rain, selamat malam dan jaga kesehatnmu.” Balas Dewa sembari tersenyum.
Rain melangkah gontai ke arah kamarnya dan benar setelah sampai kamarnya. Dia langsung membenamkan tubuhnya ke kasur dan memeluk erat guling dengan berurai air mata, “Kamu jahat Dewa! Sampai kapanpun aku tak akan percaya lagi apa itu cinta dan aku tak akan percaya laki-laki manapun!!!”
Tak berselang lama, kedua orangtua Rain masuk ke kamarnya. Mereka berdua yang tadinya sudah mengobrol banyak dengan Dewa kini mengerti kondisi Rain yang tengah patah hati begitu hebatnya.
“Sakit hati, Rain? Kan sudah ayah bilang dari dulu, jangan pacaran dulu. Gini kamu sendiri yang sakit bukan? Dewa sudah cerita semuanya tadi dan ayah mamamu ini juga menerima keputusan keluarga besar Geofani itu.” Ayahnya mengelus lembut rambut Rain.
“Rain, sudah nangisnya. Jangan nangis dan merasakan sakit yang begitu hebatnya seperti yang kamu rasakan saat . . .” suara mamanya terputus karena pelukan Rain yang begitu erat.
“Aku sayang dia, ma! Aku ingin sehidup semati dengan dia! Tapi apa! Tuhan gak adil! Kenapa harus ada perjodohan segala sih di era modern ini.” Tangis Rain pecah.
“Bukan Tuhan gak adil dan perjodohan juga tak ada salahnya. Lagian mamamu ini sebeneranya sudah cerita
ke kamu bukan? Mama kenal siapa keluarga besar Geofani dan kamu malah cuek saat itu. Mamamu ini sebenarnya sudah menyiapkan jodoh untukmu juga tetapi kamunya pasti menganggap ini kuno dan gak etis di zaman modern seperti ini,” ucap mama Rain sembari menenangkan Rain.
Rain yang mendengarkan jika dia bakal akan dijodohkan juga langsung melepaskan pelukan dari mamanya, “Jangan bercanda ma, aku tak ingin membuka hati lagi bagi laki-laki manapun saat ini dan seterusnya. Karena aku . . .”
“Kenanglah dia yang pernah hadir dalam hatimu dan sambutlah dia yang akan menjadikan kamu ratu nantinya, Rain.” Balas ayah Rain dengan tatapan lembut ke arah Rain.