“Jika pertemuan itu harus datang dengan bahagia, bagaimana jika pertemuan itu harus berawal dengan sebuah tangis dan derita? Apakah kamu sanggup untuk merasakan itu?"
Apakah salah jika kita berharap pada sebuah rasa untuk menemukan arti memiliki kembali? Ataukah kita bisa membelah indah untuk meneladani kalnbu kita dalam sebuah penantian? Dan apakah kita pantas membahas untuk tetap saling berpeluk agar saling meneladani kalbumu dan kalbuku? Entahlah, tetapi aku yakin jika semua penantian panjang akan terbayar lunas dengan sebuah pertemuan nantinya, meskipun pertemuan untuk terakhir kalinya.
Seperti saat ini, lorong kampus terlihat berlalu-lalang mahasiswa dan mahasiswi serta beberapa dosen untuk menikmati makan siang yang telah menunggu mereka di kantin. Dion Langit Anggara, salah seorang dosen yang mengampu mata kuliah Sastra Indonesia di sebuah fakultas bahasa dan seni itu kini berjalan kearah kantin untuk berharap bisa menikmati secangkir kopi dan tentunya sebatang nikotin untuk mengembalikan semua mood mengajarnya kembali.
“Bu, kopi hitam satu cangkir tanpa gula ya, berapa?” Dion mengeluarkan dompet untuk membayar kopi yang dia pesan.
“Lima ribu saja pak Dion, kelihatan sangat kusut hari ini bapak,” balas ibu kantin itu sembari menyiapkan kopi hitam miliknya.
Dion hanya tersenyum dan segera memberikan uang untuk pesanannya tersebut, “Ambil kembaliannya bu. Saya duduk di sebelah sana ya, terimakasih.”
Dengan segera dia berjalan kearah meja dan tempat duduk yang berada tepat di sudut kantin yang terlihat kosong dan sunyi, mungkin sesunyi hatinya saat ini. Bagaimana tidak? Umurnya yang hampir menginjak tiga puluh tahun itu masih belum memiliki tambatan kekasih untuk hatinya.
Sebatang rokok telah dibakarnya, asap tipis telah dinikmatinya tanpa beban meskipun ada sedikit sebuah rasa yang telah mengganjal di hatinya. Tatapannya lurus tepat kedepan kursi yang kosong tetapi sesaat kemudian dia tersenyum simpul.
“Andaikan kamu masih mau menunggu saat itu, mungkin kita sudah saling menyatu saat ini dan selamanya. Tapi . . .,”
Ucapannya terputus karena ibu kantin telah meletakkan secangkir kopi dan kemudian deringan ponselnya memberikan notifikasi jika ada sebuah pesan.
“Dia lagi, kenapa mahasiswi macam dia selalu menggangu waktuku untuk bersantai,” ucapnya sambil membalas pesan di ponselnya.
Kemudian dia kembali menikmati rokoknya dan tak lupa dia menuangkan kopinya di tempat khusus untuk mendinginkan cairan hitam itu untuk dinikmati hangat-hangat. “Kopi tanpa gula sangat nikmat, senikmat kamu yang dulu pernah berjanji untuk saling bersama,”
Lima menit kemudian, seorang mahasiswi telah berdiri di belakangnya, “Permisi pak, mohon maaf menggangu waktunya, saya . . .”
“Rain Octavia, mahasiswi akhir yang ingin revisi skripsi dengan saya. Silahkan duduk dan segera selesaikan apa yang perlu diselesaikan,” ucap Deny datar.
Rain, mahasiswi akhir itu memutar bola matanya malas mendengar ucapan dosen pembimbingnya itu. Jika tidak karena tugas skripsi yang dia selesaikan, maka dia tak perlu repot-repot berurusan dengan dosen dingin macam, Dion Langit Anggara.
“Iya pak, ini yang kemarin bapak minta revisi dan sudah saya revisi semuanya. Bapak mau minum apa?” tanya Rain seramah mungkin.
Dion hanya diam dan mengoreksi berkas skripsi milik Rain, tawarannya yang seolah tak dianggap kini membuatnya untuk memonyongkan bibirnya tepat di depan Dion.
“Jangan tersingung jika aku tak menjawab tawaran dari anda, bisa lihat bukan? Sudah ada kopi hitam dan ini kenapa harus ada tanda titik dua kali dalam satu kalimat? Ini juga, kenapa teori sastra yang kemarin sudah saya berikan tidak anda jabarkan? Mau lulus cepat atau tidak anda, Rain Octavia!!” suara tegas terdengar membunuh untuk Rain.
“Tapi pak? Kemarin bukankah bapak membenarkan teori tersebut? Dan . . .” suara Rain terputus karena sorot mata tajam Deny terlihat sangat membunuhnya.
“Perbaiki lagi dan saya tunggu sampai nanti sore di cafe senja tengah kota, permisi.”
Dion kini berjalan meninggalkan Rain seorang diri, entah kenapa hatinya sakit ketika melihat wajah Rain. Wajah yang selalu dia kagumi dulu, pada sosok perempuan yang berhasil mengisi hatinya tetapi dia segera menepis semua wajah yang telah menyita semua waktunya saat itu.
Rain yang melihat skripsinya dicoret begitu banyaknya hanya bisa menghela nafas berat, dia menatap punggung dosennya itu dengan tatapan benci, “Kok bisa dosen sepertia masih hidup, harusnya masuk ke museum. Dasar dosen killer.”
Kini dia kembali menuju perpustakaan kampus untuk menyelesaikan skripsinya yang nanti sore dan mungkin hari ini harus mendapatkan tanda tangan dosennya tersebut untuk bisa sidang skripsi secepat mungkin. Dengan langkah yang sedikit malas kini dia memasuki perpustakaan yang terlihat hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi seperti dirinya yang menyelesaikan skripsi atau hanya sekedar menikmati udara dingin di perpustakaan.
Langkahnya terhenti ketika seorang mahasiswa tengah tersenyum kearahnya, rasa lelah dan kesal yang menerjangnya tadi berubah menjadi senyuman yang begitu manis, “Bubub di sini? Sejak kapan?”
“Sejak lihat kamu duduk dengan Pak Dion tadi, gimana bae? Sudah dapat tandatangan untuk sidang skripsi?” laki-laki itu mengelus kepala Rain dengan begitu lembutnya.
“Belum, bantuin ya untuk revisi semua ini ya bububku sayangku Dewa Geofani,” ujar Rain dengan begitu lembutnya.
Dewa Geofani, mahasiswa yang tengah menempuh strata dua itu hanya menggeleng dan tersenyum mendengar suara Rain yang begitu manja. Mereka berdua telah menjalin hubungan semenjak pertemuan tiga tahun silam, tiga tahun Dewa telah mampu menaklukkan hati Rain. Meskipun, banyak masalah yang selalu hadir di antara keduanya. Tetapi, Dewa yang sangat begitu sabar itu selalu mengalah dengan sifat dan sikap yang hadir di diri Rain, kekasihnya itu.
Kini mereka berdua tenggelam dalam lautan materi untuk tugas akhir yang harus Rain serahkan sore ini. Tiga jam telah mereka lewati dan habiskan untuk skirpsi dan kini waktunya Rain untuk segera menuju café yang sudah ditentukan oleh Dion, Dosen Pembimbing Skripsinya tersebut.
“Mau aku antar sayang?” tanya Dewa lembut sembari membenarkan anak rambut Rain yang terjatuh.
“Yakin? Nanti nunggu lama lho bubub, belum lagi bubub juga kan pernah ada masalah dengan pak Dion juga, malah runyam nantinya jika dia tahu aku kesayangan bubub,” balas Rain bergelayut manja ke lengan Dewa.
Dewa mengangguk faham, dia tersenyum simpul mendengar jawaban kekasihnya tersebut. “Yasudah kalau gitu, hati-hati dan jangan lupa makan terus banyakin minum air putihnya juga. aku antar sampai parkiran motor ya.” Dewa menggenggam jemari manis Rain.
Rain tersenyum ke arah kekasihnya tersebut dengan segera dia segera melajukan motornya ke arah café yang akan menentukan nasibnya yang berada di tangan dosen pembimbingnya itu. Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan kini dia tengah mengedarkan pandangan keseluruh sudut café yang terlihat sangat sunyi itu.
“Tumben sekali tuh orang belum datang, mending aku siap-siap terlebih dahulu aja deh tapi pesan satu gelas es coklat panas juga segar juga sih.” Rain bermonolog sendiri sembari berjalan ke arah kasir untuk memesan satu gelas es coklat.
Setelah memesan es coklat, pandangan Rain menatap dua orang yang tengah berdebat dengan begitu hebatnya. Dua orang lawan jenis yang salah satu darinya sangat dikenal oleh Rain, “Bukankah itu . . .”
Rain segera berjalan ke arah mereka berdua. Tetapi sial bagi Rain, karena sebuah tatapan mata yang mengarah ke dirinya membuat kembali ke arah tempat duduknya. Dengan segera Rain berjalan kembali ke tempat duduknya dan bersiap untuk menerima apapun resiko yang telah dilakukannya barusan.
Hatinya merasakan ketakutan yang luar biasa mengingat tatapan yang barusan dilihatnya. Tatapan yang selalu membuatnya selalu tak ingin untuk melihatnya, mungkin untuk selamanya. Tiba-tiba, seorang pria duduk tepat di depannya tanpa permisi.
“Tadi lihat dan dengar semuanya?”
Rain yang mendengar suara tersebut langsung mendongak ke arah asal suara kemudian menggeleng serta meringis untuk melarikan diri dari masalah yang tak ingin dia jalani nantinya. “Ehm tidak pak Dion, mau pesan es atau . . .”
“Tidak perlu, mana skripsimu.” Pinta Dewa datar.
“B . . . baik pak.” Jawab Rain gemeteran sambil memberikan tumpukan skripsinya ke Dewa.
Setelah hampir setengah jam menunggu Dion mengoreksi skripsi miliknya, hati Rain terus berdoa dan berharap untuk segera menjalani satu penantian panjang dan penantian akhir di kuliahnya tersebut, sidang skripsi. Tetapi, terlihat mimik wajah Dion yang tetap datar saat mengoreksi seluruh skripsinya tersebut, hingga . . .
“Okey sudah bagus semua dan tiga hari lagi sidang.” Ucap Dion sambil membubuhkan tandatangannya sebagai konfirmasi ke skripsi Rain.
Mendengar ucapan dosennya itu yang terkenal killer dan selalu tidak meloloskan mahasiswa mahasiswi akhir untuk sidang skripsi berbanding terbalik dengan yang dialaminya saat ini membuat hati Rain berteriak senang hingga hampir memeluk tubuh Dion. Tetapi Dion langsung menepisnya . . .
“Tetapi sebelumnya ada satu hal yang aku tanyakan ke kamu ini terkait . . .” suara Dion terputus dengan tatapan ke arah mata Rain.
“Terkait apa pak? Apa ada yang salah terhadap skripsi saya atau ada yang perlu saya ganti segera? Saya siap jika harus . . .”
Jari telunjuk Dion memberikan isyarat ke arahnya untuk berhenti, “Semuanya tidak ada masalah, tetapi aku mau tanya satu hal. Apakah bisa dan boleh?”
Rain mengganguk dan segera duduk untuk bersiap menerima pertanyaan dosenya yang kali ini terlihat sangat kalem dan menggoda di matanya itu.
“Kamu percaya cinta itu ada, Rain?” tanya Dion datar.
“Kita yang berawal dari aku dan kamu yang bertemu dalam satu hati, apakah mampu bertahan dalam berbagai situasi suatu saat nanti?” Langit Senja R
“Kamu percaya cinta itu ada, Rain?” tanya Dion datar.
Rain melongo mendengar ucapan dari dosennya yang memiliki gelar killer, dosen yang suka membuat hati mahasiswi terbang tetapi jatuh seketika dan dosen yang selalu membuat mahasiswa kesal karena hampir seluruh kekasih mereka selalu melihat dan berandai-andai memiliki kekasih seperti Dion.
“Permisi pak . . . apa saya tidak salah dengar?” tanya Rain sangat hati-hati.
Dion mendengus kasar, dia membakar rokoknya dan kemudian menatap Rain dengan tatapan serius, “Kamu percaya jika cinta itu ada?”
Rain mengangguk, “Percayalah pak, mana ada kehidupan tidak ada cinta dan apalagi jika kita mencintai orang yang tepat untuk pertama dan terakhir kalinya. Pasti akan berakhir sangat indah nantinya.”
“Secepat itu kamu mengartikan cinta? Dan sangat sederhana sekali kamu mengartikan apa itu cinta, tapi okelah.” Dion tersenyum puas.
Rain yang melihat dosennya yang tersenyum begitu manisnya itu jantungnya berdegup sangat cepat tetapi semua itu langsung ditepisnya karena mengingat ada nama Dewa yang selalu mendampingnya saat suka maupun duka.
“Tapi apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” kini Dion bertanya kembali ke arah Rain.
“Bapak bertanya gini apa tadi salah makan atau bagaimana? Atau ada sedikit benturan?” polos Rain tanpa kontrol.
“Hei!! Jawab saja!! Mau saya cancel tuh sidang skripsimu?” ancam Dion sambil melotot ke arah Rain.
“Eh jangan pak, canda pak. Suer deh cuman bercanda, maaf pak. Bisa diulangi pertanyaan bapak tadi?” pinta Rain sedikit ketakutan tetapi terpaksa untuk tersenyum.
“Apa yang kamu lakukan jika cinta-mu itu bertepuk sebelah tangan nantinya? Dan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Kamu menerimanya atau tetap bertahan meskipun nantinya menjadi yang kedua?” Dion menjelaskan kembali ke Rain.
Rain mengangguk dan mencba mencari jawaban, sementara itu Dion telah membakar rokoknya kembali untuk ke-dua kalinya. Dia tersenyum saat Dion membakar rokoknya tepat di depannya itu.
“Saya tahu jawabannya pak, cinta itu ibarat api. Dimana api yang mampu menghanguskan atau menghabiskan semua yang telah disentuhnya, sederhannya gini. Jika api itu harapan yang sia-sia maka bagaimana caranya kita memadamkan api itu dan mengembalikan semua yang telah hangus terbakar api tersebut,” jawa Rain tersenyum penuh kemenangan.
“Sederhana sekali ya jawabanmu, tapi terimakasih telah menjawab pertanyaan saya yang kurang bermutu untukmu. Saya pergi dulu, permisi.”
Dion segera berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar cafe. Sementara itu Rain melongo mendengar jawaban dosennya tersebut, dia tak ambil pusing dan segera pulang untuk menyiapkan berkencan sekaligus memberikan berita yang paling bahagia untuk keasihnya, Dewa Geofani.
Kini senja menyapa malam, sesuai jadwal Rain yang telah bersiap untuk dijemput oleh kekasihnya tersebut. Sesaat setelah berdandan begitu cantiknya, ibunya datang mendekatinya.
“Mau pergi kencan nih anak gadis mama? Gimana kabarnya skripsimu? Lancar semuanya kan?”
“Eh mama, semuanya lancar Ma dan tiga hari lagi aku sidang skripsi terus setelah itu apakah Dewa boleh datang untuk memintaku ma? Hanya bertunangan saja ma,” rengek Rain seperti anak kecil yang meminta mainan baru.
Mamanya tersenyum dan menggeleng pelan mendengar rengek’an anak gadis semata wayangnya itu,
“Jalani semuanya dulu, dan biar Tuhan yang mengatur semuanya Rain. Mama bukan gak suka sama Dewa tetapi . . . biar ayahmu saja nanti yang cerita setelah pulang dari dinas luar kota, okey anak mama yang paling cantik.”
Rain menatap mata mamanya sangat dalam, mencari sebuah jawaban atas ucapan mamanya. Hingga suara ketukan pintu membuyarkan semuanya.
“Mama buka dulu ya, itu pasti Dewa. Rapikan dulu lagi bajunya Rain,” pinta Mama.
Rain mengangguk dan dengan cekatan merapikan anak rambutnya serta menambahkan lip gloss untuk membuat semakin cantik dan manis saat berkencan dengan Dewa Geofani. Setelah penampilannya terlihat sempurna, kini dia segera menyusul dan menyambut kekasihnya sudah menunggu dirinya malam ini.
“Malam bubub, maaf ya lama. Ma, Rain berangkat dulu ya.” Rain pamit ke arah mamanya.
“Baik-baik ya nak Dewa dan jangan pulang terlalu larut. Baik-baik ya sayang selamat berkencan.” Mamanya memeluk Rain.
Dewa pun pamit ke arah mamanya Rain dan dengan segera ke-dua insan itu menuju ke sebuah tempat yang sangat indah, romantis dan mungkin bisa membuat hati setiap pasangan semakin saling mencintai, Bukit Panah Asmara.
“Sudah sampai nih, yuk turun.”
“Eh iya,” ucap Rain seakan menerka dengan gerak gerik serta ucapan Dewa yang berubah.
Rain yang merasakan perbedaan yang sangat mencolok sikap Dewa hanya bisa menerka-nerka dia hanya bisa membuang jauh-jauh pikiran negatif yang selalu datang dalam pikirannya. Di mana dulu Dewa selalu menggandeng erat tangannya kini dia berjalan sendiri, di mana dulu Dewa selalu menjadi sandaran dan tempat bergelayut manja saat berjalan berdua kini dia hanya berjalan sendiri, di belakang Dewa.
“Apa aku punya salah ke dia? Apa waktuku untuknya selama ini hilang untuk skripsi?” lirih Rain.
Kini ke-dua insan telah duduk berdampingan tanpa satu atau dua kata, hanya angin yang berhembus pelan sebagai penanda kesunyian diantara mereka berdua. Setelah semua pesanan telah datang.
“Kita habiskan dulu, setelah itu aku mau ngomong jujur ke kamu,” ucap Dewa dengan suara berat.
“Kamu? Sejak kapan dia manggil aku dengan kamu? Padahal tadi siang baik-baik saja. Ya Tuhan, apalagi ini?” teriak Rain dalam hati.
“Rain? Are you okay?” tanya Dewa sembari memegang dagu Rain.
“Eh iya, I’m okay.” Balas Rain sembari meraih sendok dan menyuapkan beberapa makanan ke mulut mungilnya tersebut.
Setelah hampir lima belas menit berlalu untuk menghabiskan makanan, kini Dewa duduk di samping Rain,
“Aku mau tanya boleh?”
“Apa?”
“Janji dulu tapi, setelah semua penjelasanku nantinya yang akan mungkin membuatmu membenciku selamanya,”
“Baiklah aku berjanji,” balas Rain sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
Dewa mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Rain yang sembari tersenyum.
“Apakah kamu yakin sama aku yang akan mendampingimu nanti selamanya, Rain? Ataukah ada yang bisa memisahkan kita berdua nantinya?” tanya Dewa sembari menggenggam erat tangan Rain.
“Kenapa kamu tanya seperti ini? Ada masalah?” Rain bertanya balik.
“Berat Rain, mungkin akan membuatmu sakit hati tetapi aku percaya jika kamu akan kuat nantinya,”
“Kamu kenapa sih Dewa!! Ceritakan semuanya!!” teriak Rain yang sudah tak mampu membendung teriakan hatinya.
Dengan segera Dewa memeluk Rain, menenangkannya untuk kesekian kalinya selama mereka menjalani kisah cinta mereka berdua.
“Kamu tadi sudah berjanji bukan, Rain? Gimana aku mau cerita jika kamu se-emosional gini,” ucap lembut Dewa.
Rain menatap wajah Dewa yang sangat teduh baginya, membuatnya sangat tenang ketika berada didekatnya.
“Baiklah, ceritakan semuanya. Aku siap menerima semuanya.”
Dewa menghembuskan nafasnya dengan kasar, terlihat bibirnya sangat ingin mengucapkan sebuah kata. Dia tak ingin menyakiti kekasihnya itu tetapi bagaimanapun Dewa harus jujur ke Rain, “Keluargaku telah menjodohkan aku dengan seorang dokter.”
“Hah? Jangan bercanda gitu Dewa. Pasti kamu bercanda kan? Iya kan?” tanya Rain sembari meninju bahu Dewa.
“Rain, aku gak bercanda. Perpisahan ini bukanlah duka meski harus menyisakan luka untukku dan pastinya untukmu. Tapi, jika aku berbohong ke kamu pasti kamu akan kecewa juga.” terang Dewa sembari menatap netra Rain.
“Dewa . . . jangan bercanda . . . aku sangat mencintaimu dan kenapa kamu setuju dengan semua perjodohan itu? Bukankah kamu akan melamarku setelah aku sidang nantinya? Tiga hari lagi aku akan selesai Dewa,” rengek Rain dengan air mata yang sudah mengalir di belahan pipinya.
“Rain, tiga hari lagi juga aku akan menikah dengan pilihan orangtuaku. Maafkan aku Rain, aku akan berdoa untukmu agar mendapatkan pasangan yang bisa membuatmu lebih bahagia setelah bersamaku nantinya.” Dewa tersenyum pedih ke arah Rain.
“Secepat inikah hubungan kita . . . . Dewa?” tangisan Rain pecah dalam pelukan Dewa.
“Kita yang sering menyapa dan akrab hingga tumbuh apa itu rasa sebuah cinta tetapi kini akan memudar dengan waktu dan kondisi yang seiring berjalan nantinya,” Langit Senja R.
Dalam pelukan Dewa, Rain tetap menangis, meluapkan semua yang dia rasakan saat ini. Rasa yang dulu dan sampai kapanpun dari Dewa untuknya mungkin tak akan bisa dihapus atau bahkan dilupakan dalam waktu sekejap.
“Rain, mungkin mulai saat ini sampai kapanpun aku harap kamu bisa menghapus namaku dan begitu juga denganku, aku juga berusaha sekuat hatiku untuk . . .” suara Dewa terputus saat jemari Rain menyentuh bibirnya.
“Cukup Dewa, kalau ini memang sudah garis kehidupan yang aku terima. Aku ikhlas meskipun berat, bahagialah dengan pasangan hidupmu dan terimakasih sudah menemani dan membantu aku yang sangat manja dan bahkan tak mau mengalah selama ini. Antar aku pulang . . .” Rain melepas jemarinya dari bibir Dewa.
Rain berjalan gontai meninggalkan Dewa yang tengah menatapnya dengan penuh penyesalan. Mungkin sebuah kisah cinta yang pernah terjalin segitu kuatnya bisa selesai dalam waktu yang tidak kita inginkan tetapi mungkin juga kita sebagai manusia bisa saja melupakan siapa yang mengatur kehidupan kita sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan.
Sepi hati yang dirasakan Rain tanpa ada lagi senyuman, tempat cerita atau bahkan tempat untuk bertengkar kecil dengan orang yang sudah dianggapnya belahan hati untuknya. Kisah cintanya dan Dewa kini hanya bisa terkenang nantinya dan tentunya sudah mengukir begitu banyak pahatan cerita cinta dalam setiap perjalanan cinta mereka berdua.
Suasana perjalanan pulang kini sangat berbeda sebelum tragedi sakit hati yang Rain rasakan, mereka berdua kini seperti dua manusia yang asing tak saling mengenal.
“Aku kira kamu akan menolak dengan perjodohan yang kolot itu,” ucap Rain sambil menguatkan kembali untuk berbicara dengan Dewa.
“Maaf, kamu tahu sendiri orangtuaku kan? Mereka ingin yang terbaik untuk aku, anak semata wayangnya. Aku tahu perjodohan itu kolot, Rain. Tapi . . . aku gak mau saat kita sudah menikah nantinya kamu akan selalu diremehkan oleh kedua orangtuaku, karena . . . “
“Karena apa? Karena aku gak bisa masak? Aku manja? Aku seperti anak kecil? Yang menikah itu kita atau kedua orangtuamu, hah!” teriak Rain sambil menatap Dewa.
Dewa menghembuskan nafas beratnya, “Ya kita yang menikah tapi kamu tahu sendiri orangtuaku ingin menantu yang usianya lebih tua dari aku.”
“Hah? Kamu mau menikahi tante-tante? Jangan bercanda kamu Dewa! Jangan-jangan ini kamu ngeprank aku? Atau hanya ingin memberikan hadiah untukku karena tiga hari aku akan sidang kelulusan?”
Dewa menggeleng pelan ke arah Rain, “Aku tak mungkin bercanda jika berurusan dengan orangtuaku dan kamu. Aku sudah tukar cincin dan tepat di sidang kelulusanmu, aku harus menikah denganya Rain.”
“Ini berarti nyata dan kenapa kamu tak ingin mempertahankan aku? Apakah kamu sudah mengatakan jika aku tak seburuk itu? Aku bisa masak kok, ayoklah Dewa jangan bercanda!!” Rain kembali merengek.
Kini Dewa menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan kemudian mematikan mesinnya, “Bagaimana caranya aku membelamu? Saat kamu buatkan ayahku kopi saja yang kamu masukkan garam bukan gula dan yang kedua saat kamu masak telur goreng, minyaknya terlalu banyak. Masih ingat itu semuanya, Rain?”
Rain menunduk dan merutuki kebodohannya saat itu, di mana saat itu ayah Dewa ingin dibuatkan kopi dan dengan santainya Rain menuangkan garam yang dia kira gula karena sama-sama memiliki bentuk sama.
Hingga ayah Dewa menyemburkan kopi buatanya ke arah Dewa dan yang ke-dua saat Dewa ingin dibuatkan telur goreng, dia menuangkan hampir setengah liter minyak goreng ke penggorengan hingga membuat ibu Dewa menggeleng keheranan.
“Aku ingat dan aku salah, aku tak pernah masuk dapur dan saat itu . . .”
“Rain, aku minta maaf sekali lagi. Ini sudah final dan bagaimanapun aku tak bisa menolak dan membatalkan ini semuanya, jika kamu tidak bisa memaafkan aku dna bahkan membenciku. Aku siap untuk kamu benci seumur hidupku.” Dewa terlihat pasrah.
Rain tersenyum ke arah Dewa, “Katakan saja, jangan kamu sembunyikan bila diriku tak lagi di hatimu. Tapi, kenanglah aku yang pernah singgah di hatimu meski sekedar mengukir namaku di hatimu, Dewa Geofani.”
“Jangan katakan kisahmu saat nanti, itu mungkin bisa membuat sakit hatiku Dewa. Aku dan kamu pernah saling menjaga hati, tetapi detik ini hari ini bulan ini dan tahun ini aku akan menutup hati untuk siapapun, termasuk kamu.” Rain mengarahkan kelingking ke arah Dewa sebagai simbil janji untuknya sendiri dan Dewa.
Dewa mengaitkan kelingkingnya dengan sangat berat, di bibirnya dia harus berbohong untuk pernikahan dengan seorang wanita yang berumur dua tahun lebih tua darinya tetapi saat ini dan mungkin selamanya hatinya tak akan melupakan satu nama yang selalu membuat tertawa, sebal dan sedikit bersabar dengan tingkah laku perempuan di sampingya saat ini, Rain Octaviani.
“Okey, antar aku pulang Kak Dewa.” Suara Rain terdengar bersemangat tetapi terdengar terpaksa bagi Dewa.
Perjalanan kembali asing untuk mereka berdua hingga tak terasa kini mobil Dewa sudah di depan rumah Rain, terlihat kedua orangtua Rain tengah berdiri dan menatap ke arah mereka berdua.
“Aku turun dulu ya kak, makasih atas semuanya. Bahagia selalu kak, aku turun dulu.” Rain beranjak turun dari mobil tetapi Dewa dengan segera memeluknya.
“Maafkan aku Rain, maaf dan maaf. Aku telah menyakitimu dan aku yang harus berterimakasih ke kamu. Dari kamu aku belajar segalanya, aku antar ya sampai di depan ayah mama ya.” Pinta Dewa sembari menatap netra Rain.
“Okey kak.” Rain memberikan jawaban sembari tangannya memberikan simbol “Ok”
Mereka berdua kini berjalan berdampingan tanpa tanda-tanda orang yang saling mencintai lagi, hanya sebagi teman atau bahkan adik kakak. Tentu itu membuat ibu dan ayah Rain saling menatap dan tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu untuk Rain.
“Mama ayah, aku pulang. Aku masuk dulu ya, capek aku. Makasih kak Dewa, hati-hati di jalan,” ucap Rain sambil tersenyum ke arah Dewa.
“Makasih waktunya ya Rain, selamat malam dan jaga kesehatnmu.” Balas Dewa sembari tersenyum.
Rain melangkah gontai ke arah kamarnya dan benar setelah sampai kamarnya. Dia langsung membenamkan tubuhnya ke kasur dan memeluk erat guling dengan berurai air mata, “Kamu jahat Dewa! Sampai kapanpun aku tak akan percaya lagi apa itu cinta dan aku tak akan percaya laki-laki manapun!!!”
Tak berselang lama, kedua orangtua Rain masuk ke kamarnya. Mereka berdua yang tadinya sudah mengobrol banyak dengan Dewa kini mengerti kondisi Rain yang tengah patah hati begitu hebatnya.
“Sakit hati, Rain? Kan sudah ayah bilang dari dulu, jangan pacaran dulu. Gini kamu sendiri yang sakit bukan? Dewa sudah cerita semuanya tadi dan ayah mamamu ini juga menerima keputusan keluarga besar Geofani itu.” Ayahnya mengelus lembut rambut Rain.
“Rain, sudah nangisnya. Jangan nangis dan merasakan sakit yang begitu hebatnya seperti yang kamu rasakan saat . . .” suara mamanya terputus karena pelukan Rain yang begitu erat.
“Aku sayang dia, ma! Aku ingin sehidup semati dengan dia! Tapi apa! Tuhan gak adil! Kenapa harus ada perjodohan segala sih di era modern ini.” Tangis Rain pecah.
“Bukan Tuhan gak adil dan perjodohan juga tak ada salahnya. Lagian mamamu ini sebeneranya sudah cerita
ke kamu bukan? Mama kenal siapa keluarga besar Geofani dan kamu malah cuek saat itu. Mamamu ini sebenarnya sudah menyiapkan jodoh untukmu juga tetapi kamunya pasti menganggap ini kuno dan gak etis di zaman modern seperti ini,” ucap mama Rain sembari menenangkan Rain.
Rain yang mendengarkan jika dia bakal akan dijodohkan juga langsung melepaskan pelukan dari mamanya, “Jangan bercanda ma, aku tak ingin membuka hati lagi bagi laki-laki manapun saat ini dan seterusnya. Karena aku . . .”
“Kenanglah dia yang pernah hadir dalam hatimu dan sambutlah dia yang akan menjadikan kamu ratu nantinya, Rain.” Balas ayah Rain dengan tatapan lembut ke arah Rain.