Suara sorak sorai menggema di halaman belakang kampus President University, mereka yang bersorak seakan sedang menyaksikan aksi pertandingan bola.
"Hahaha... Hajar terus, Lucas! Jangan kasih ampun! Si Cupu itu memang harus di beri pelajaran supaya jera!" teriak Rian, bahagia sekali dia melihat temannya sedang baku hantam didepannya.
"Benar! Hajar sampai mampus!"
"Hajar!"
"Hajar!"
Sahutan para penonton aksi Lucas membuat suasana semakin panas. Lucas yang tengah memberikan serangan pukulan bertubi-tubi pada pemuda yang sudah terkapar tidak berdaya itu, hanya tersenyum simpul saat dia mendengar sorakan teman-temannya.
Walau pemuda yang menjadi sasak tinju hidup itu berkali-kali memohon ampun, namun Lucas tidak juga menghentikan aksinya. Lucas bahkan semakin brutal menghajar pemuda tersebut.
"Gila sih, Lucas kalau ngamuk nggak kira-kira." Dimas bergidik ngeri melihat aksi Lucas yang semakin hari semakin brutal saat menindas orang yang dia benci.
"Benar, sebenarnya apa yang terjadi sampai Lucas lepas kontrol begitu?" tanya Paul.
"Entahlah, katanya sih tuh cowok nggak mau nurutin perintah Lucas dan Rian untuk membelikan mereka rokok."
"Buset, dah! Gara-gara itu doang Lucas sampe ngamuk?" Paul tidak habis pikir kenapa masalah sepele seperti itu saja, bisa membuat orang hilang kendali.
"Kamu masih nggak tahu Lucas? Dia itu paling nggak suka kalau ada orang yang membatah omongannya, apa lagi mahasiswa baru itu bukan hanya menolak perintah Lucas dan Rian. Dia juga menceramahi Lucas, tentang bahaya merokok."
"Maksud kamu, mahasiswa baru di fakultas sastra Inggris itu?" tanya Paul, memastikan apakah benar mahasiswa baru yang di maksud oleh Dimas adalah mahasiswa yang dia kenal.
"Ho oh, dia. Siapa sih namanya, aku lupa. Kamu tahu?" tanya Dimas, pada Paul.
"Aaron Smith," jawab Paul Brown.
"Nah, itu dia. Kalian 'kan sama-sama dari Canada, kok bisa sih sifat kalian berbeda sekali. Kamu friendly, sedangkan dia susah bergaul."
"Mana aku tahu, jangan bandingkan aku dan Aaron. Kamu dengan saudaramu yang sedarah saja sifatnya tidak sama, 'kan?"
"Hm, iya juga sih."
Sementara Paul dan Dimas yang tengah sibuk dengan obrolan mereka, Lucas masih terus memberikan puku-lan dan tendangan pada tubuh Aaron.
"Rasakan! Makanya kalau aku suruh tuh harus turutin! Bukannya malah menceramahiku, memangnya kamu ini ayahku, hah!"
"Am-pun, aku nggak akan mengulanginya lagi. Forgive me, please. I beg you." Aaron merintih memohon ampunan Lucas, sambil menutupi kepalanya.
"Nggak usah sok Inggris-an deh, mau pamer kalau kamu ini dari luar negeri!"
Emosi Lucas meluap ketika dia mendengar Aaron tanpa sadar berbicara dengan bahasa Inggris, yang memang sudah menjadi bahasa ibunya. Padahal sudah Lucas peringatkan, bahwa Aaron di larang berbicara dengan bahasa Inggris jika dengannya.
BUGH!
Kepalan tinju Lucas yang dia kira mendarat di wajah Aaron, ternyata salah sasaran. Pukulannya justru mengenai Bianca, yang tiba-tiba menerobos kumpulan mahasiswa dan mahasiswi yang hanya menonton perbuatan Lucas.
"Bianca!" Suara teriakan Paul mengudara, pemuda itu juga ikut menerobos dan membantu Bianca yang tadi terjatuh ketika menerima pukulan dari Lucas.
"Kamu nggak apa-apa? Kenapa kamu sembrono begini sih! Ini tuh bukan urusan kamu, harusnya jangan ikut campur."
"Tapi, aku nggak bisa diam saja melihat Aaron di hajar habis-habisan begitu. Kasihan tahu," ucap Bianca.
Paul menggeleng, dia memang tahu kalau sifat peduli dan suka menolong Bianca Ayunda Miller suatu saat akan membawa sahabat yang dia dapatkan sejak tinggal di Indonesia, ke dalam bahaya. Inilah buktinya.
"Minggir, Bianca! Aku nggak ada urusan dengan kamu," kata Lucas. Tatapan tajam penuh luapan emosi itu mengisyaratkan agar Bianca dan Paul tidak ikut campur dengan masalahnya.
"Maaf, Lucas. Tolong kali ini saja biarkan hal ini berlalu, ya. Kamu juga nggak mau 'kan kalau sampai ayah Bianca mendengar tentang putrinya yang menerima tinjumu," ujar Paul. Ayah Bianca yang menjadi seorang Dekan di universitas itu, memberi pengaruh yang kuat. Meski kesal, Lucas mau tidak mau harus melepaskan mangsanya kali ini.
"Awas saja, lain kali kamu akan habis di tanganku, Aaron!" ancam Lucas sebelum dia dan gengnya pergi dari tempat tersebut.
***
Kepergian Lucas mendapat sorakan kekecewaan mereka yang haus akan pertunjukan si Preman Kampus dengan mangsa barunya.
"Ah, payah! Gitu aja nyerah, katanya Preman Kampus. Masa mundur dengan mudah," sindir salah satu dari penonton bullying.
"Ternyata Preman Kampus juga kalah sama jabatan ya, hahaha.."
"Get out of my way!" teriak Lucas sambil mendorong kerumunan tersebut, harga dirinya serasa terinjak. Baru kali ini dia dipermalukan sedemikian rupa, apa lagi di depan banyak orang.
"Kamu yakin lepasin si Cupu itu?" bisik Rian.
"Kita pergi dulu, aku nggak mau kelakuanku di kampus terendus oleh ibuku."
"Yaah, sayang banget. Padahal lagi seru-serunya." Rian kecewa atas keputusan yang diambil oleh Lucas. Sebenarnya dari mana dia dijuluki Preman Kampus, kalau masih berada di bawah bayangan ibunya.
"Bisa diam nggak! Kamu nggak tau 'kan seberapa mengerikannya ibuku kalau marah. Bukan hanya kartu kreditku yang diambil, tapi kebebasanku juga!"
Lucas Abraham, putra tunggal dari Rianti Abraham. Pemilik perusahaan PT Abraham's Tbk yang bergerak di sektor tambang batu bara. Rianti memberikan kebebasan kepada Lucas dengan satu syarat, jangan sampai menimbulkan masalah yang bisa menghancurkan perusahaan peninggalan suaminya.
Sebab itu lah Lucas bullying yang dilakukan oleh Lucas terbatas. Biasanya dia melakukan aksi pembullyian hanya di sekitar kampus, di tempat yang tidak banyak di lalui orang. Kalaupun ada yang melihat kelakuannya, Lucas tinggal memberikan ancaman sehingga mereka tidak ada yang berani melaporkan dirinya. Namun sejak kedatangan Aaron Smith pertukaran mahasiswa dari Canada di kampusnya menjadi pemicu sumbu emosi di hati Lucas, Aaron memang tidak banyak bicara lantaran keterbatasan bahasa yang dia kuasai.
"Sebenarnya kamu kenapa sih, kok bisa benci banget dengan Aaron? Bukannya dia nggak pernah bikin ulah sama kamu?" tanya Rian.
"Aku benci dia, sejak dia datang ke kampus kita dia selalu menjadi perhatian orang. Apa lagi para dosen, hampir semuanya memuji kecerdasan si Cupu itu. Lebih parahnya lagi, kabar si Cupu itu bahkan sampai ke telinga ibuku. Kamu bisa bayangin betapa aku marahnya saat Ibu selalu membandingkan aku dengan si Cupu itu?"
Sejujurnya Lucas tidak perlu jawaban atas pertanyaannya, Rian yang anak petani biasa mana paham rasanya menjadi dirinya yang setiap saat di tuntut agar bisa mendapat nilai tinggi, supaya bisa meneruskan perusahaan keluarganya.
"Halah, gitu aja. Kirain masalah serius, tapi aku bisa sedikit memahami perasaanmu. Aku nih ya, nggak suka sama si Aaron itu karena dia terus menerus buat aku jengkel. Aku minta tolong ngerjain tugas tapi dia tidak mau," tutur Rian.
Rian masih terus mengoceh, dia pikir Lucas masih setia mendengarkan keluh kesahnya. Namun sayangnya, Lucas justru meninggalkannya sendirian di tengah lapangan basket.
"Luc! Sialan malah ditinggal!" Seru Rian, yang kemudian berlari menyusul Lucas.
Kemarahan di hati Lucas masih belum padam, kalau saja Bianca tidak mengacau, dia pasti sudah menghajar si Aaron sampai tidak bisa berangkat ke kampus selama seminggu. Ancaman Paul yang membawa nama Dekan Alex Miller, ayah Bianca. Lucas terpaksa harus mundur, jika tidak ingin dia berurusan dengan ibunya.
"Awas saja, aku akan membalas penghinaan ini jauh lebih menyakitkan dari apa yang aku terima hari ini." Seringai licik Lucas membuat Rian bergidik ngeri, pasti Lucas sudah mempunyai rencana balas dendam.
"Mampus tuh si Aaron, gak ada ampun bagi dia sekarang," gumam Rian.