Happy reading all
Ada rasa sayang
Namun, tidak ada status!
Miris
*******
Naara menepuk pelan punggung Xion, beberapa pasang mata yang sedang berbicara dengan Xion menatap tidak suka ke arah Naara. Hal yang biasa wanita itu dapatkan dari wanita-wanita yang terjerat pesona keramahan Xion.
Xion menoleh lalu berdiri sambil berkacak pinggang menghadap Naara dan juga Hanie.
"Astaga, kalian berdua dari mana saja? Aku hampir mati bosan menunggu di sini," protes Xion.
Naara mendengkus mendengar perkataan Xion yang nyatanya sebaliknya. Pria itu kegirangan karena bisa berkenalan dengan wanita-wanita baru di kampus ini.
"Oh, yah? Bukankah kau sedang asyik dengan para wanita barumu? Di mana letak rasa bosanmu?" sindir Naara telak.
Xion menggaruk tengkuknya salah tingkah, sedangkan Hanie hanya terkekeh mendengar sindiran Naara.
"Jangan merajuk. Wajahmu akan semakin jelek ketika seperti ini," goda Xion sambil menarik ujung hidung Naara.
Naara menepis tangan Xion dan memutar bola matanya malas. Xion berpaling lagi pada beberapa wanita yang baru saja berkenalan dengannya, meminta izin untuk pergi dan berjanji akan bercakap-cakap lagi dengan mereka jika ada waktu luang lainnya.
Wajah para wanita itu terlihat kecewa dan mendadak sinis menatap Naara. Sebaliknya, Naara sendiri bersikap tidak acuh atas pandangan itu.
Ketiganya melanjutkan mini tour kampus. Mereka berhenti dan memilih untuk duduk di salah satu kursi tribun lapangan indoor kampus itu. Sorak sorai bising menjadi tangkapan telingan Naara, Hanie dan juga Xion.
Xion terlihat antusias saat melihat pertandingan futsal, sedangkan Naara dan Hanie memilih untuk minum dan juga makan cemilan yang mereka bawa.
Pandangan Naara beredar menjelajahi isi lapangan indoor yang cukup besar dan lengkap di sana. Namun, tatapannya terhenti ketika seorang pria yang sepertinya pernah ia lihat sebelumnya sedang menatap ke arahnya lekat. Naara mencoba mengingat-ingat siapa pria itu dan akhirnya ia terpekik.
"Ouch, shit!" pekik Naara saat menyadari siapa pria yang sedang duduk dikelilingi tiga wanita di sampingnya.
Xion mengabaikan pekikan Naara, sedangkan Hanie yang duduk di sebelahnya menoleh cepat.
"Kau kenapa?" tanya Hanie bingung.
Naara mengkode Hanie agar mengikuti arah pandangnya dan wanita berambut pirang itu mengumpat ketika tahu apa yang dimaksud Naara.
"Sial! Kenapa Aderaldo menatap ke arah sini seperti itu. Jangan bilang, dia sedang mengincarmu," desis Hanie.
"Kau tau, jika seorang Aderaldo Cetta Early menatapmu lekat dan tajam seperti saat ini, itu karena ada dua kemungkinan.” Ada jeda dari perkataan Hanie dan Naara mengerutkan dahi menunggu kelanjutannya.
"Apa kemungkinan itu?" tanya Naara penasaran.
Hanie menyedot hingga tandas soft drink yang dipegang. Kemudian wanita itu menghadap Naara sepenuhnya.
"Kemungkinan pertama, karena dia membenci orang itu dan bersiap untuk dihancurkan sehancur-hancurnya. Kemungkinan kedua karena ia menginginkan sesuatu dan harus ia dapatkan bagaimanapun caranya. Dia player yang sangat kejam dan berbahaya. Ia tidak akan memandang wanita atau pria jika berurusan dengannya dan menentangnya maka, bersiaplah untuk pergi ke Neraka. Aku harap kau tidak berurusan dengannya, Naara, karena itu sungguh mengerikan," jelas Hanie panjang lebar dan cukup detail.
Naara yang mendengarnya bergidik ngeri. Ia teringat akan apa yang terjadi beberapa jam yang lalu ketika di toilet. Ia merapalkan doa dalam hati agar tidak terkena masalah apa pun dengan pria mesum kejam itu. Ia belum siap pergi ke Neraka dunia.
Pria itu menyunggingkan senyum manis, siapa pun yang melihatnya tentu akan terpesona dan mampu merusak kinerja otak serta jantung dalam waktu yang bersamaan. Sangat wajar jika pria itu bisa dengan mudah menaklukan wanita tanpa berusaha keras. Termasuk Naara, wanita itu harus mengakui jika pria tampan bernama Aderaldo memiliki pesona tersendiri yang tidak terbantahkan. Aderaldo cocok mendapat julukan iblis tampan.
"Aku tidak menyukai senyumannya," gumam Naara bertentangan dengan isi hatinya yang sebenarnya memuji ketampanan pria berengsek itu.
Xion menoleh dan mendudukkan bokongnya di samping Naara.
"Apa maksudmu? Kau tidak menyukai senyuman siapa?" tanya Xion penasaran.
Hanie menjawab pertanyaan Xion. "Aderaldo. Pria yang sedang dikelilingi oleh tiga wanita di bawah sana. Dia adalah alumni kampus ini dan kudengar akan melanjutkan ke jenjang S3. Ia juga seorang billionaire sukses di Jerman. Pria itu juga penyumbang dana terbesar di kampus ini. Dia sangat berbahaya, jangan mencari masalah dengannya jika kau tidak ingin menyesal sekaligus hancur.” Hanie memberikan penjelasan pada Xion.
"Aku bahkan tidak peduli siapa dia dan sama sekali tidak tertarik berurusan dengannya," ucap Naara sambil menggenggam botol mineralnya kuat.
"Bagus jika kau demikian. Aku juga berharap, kau tidak jatuh cinta padanya. Lebih baik cari pria lain, ah- atau jangan-jangan kau sudah memiliki pria idaman yang kau incar selama ini?" goda Hanie dan kalimat itu mengusik Xion yang duduk diam menyimak.
Naara melotot ke Hanie yang sedang tersenyum menggoda ke arahnya. Xion menatap Naara lekat.
"Kau menyukai seseorang? Apa aku kenal dengan pria itu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?" cecar Xion pada Naara.
Wanita itu memilih menunduk sambil menormalkan detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Apakah ini sudah saatnya Naara membongkar perasaan yang ia punya pada Xion? Namun, apakah jika gadis itu berkata jujur mengenai perasaannya, persahabatan mereka akan hancur seperti cerita-cerita orang lain? Naara tidak ingin kehilangan Xion. Ia bahkan rela untuk memendam perasaan demi menjaga hubungan persahabatannya.
"Tidak ada! Hanie hanya menggodaku, ia hanya bercanda. Bukan begitu, Han?" Naara berharap Hanie mengiyakan, tapi wanita berlesung pipi itu hanya diam dan tersenyum misterius.
Xion merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan Naara, sahabatnya. Ia merasa ada hal yang disembunyikan wanita itu darinya. Kini di dalam otaknya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan siapa sosok pria yang Naara sukai. Mengapa wanita itu tidak terbuka padanya mengenai hal itu.
Xion benci penasaran. Ia akan berusaha mencari tahu, menggali informasi lebih banyak tentang pria mana yang beruntung disukai oleh sahabatnya itu. Hatinya terusik gelisah, tapi pria itu memilih untuk bungkam.
********
Aderaldo sudah tidak sabar untuk menggoda calon mainannya. Wanita itu cukup menarik, wajahnya cantik, bibirnya sedikit tebal terlihat seksi, bentuk tubuh cukup proposional.
Wanita itu bisa saja masuk dalam kadidat wanita pilihan Aderaldo, tapi sebelumnya ia harus memastikan apakah wanita itu pantas atau sama saja seperti wanita-wanita murahan yang datang dengan sendirinya menyodorkan diri.
"Jadi, nanti malam jam berapa aku ke hotel?" tanya wanita berambut pirang sambil meraba dada Aderaldo.
Pria itu melirik tajam tangan wanita yang ada di dadanya. Tangan wanita satu lagi yang duduk di bawahnya meraba benda pusakanya yang tersimpan rapi di dalam celana jeans-nya. Ini adalah hal yang menjijikan bagi Aderaldo. Wanita terlalu murahan, tidak ada tantangannya sama sekali. Harga diri mereka, bisa dibeli dengan uang bahkan hanya dengan ciuman panas.
Aderaldo menyentak tangan wanita-wanita yang mengelilinginya. Ia mulai muak dan merasa jijik dengan kelakuan mereka semua yang semakin menjadi-jadi.
"Pergi menjauh dariku! Jangan berani mendekatiku lagi, atau kalian akan aku hancurkan satu per satu. Kalian memuakkan," sentak Aderaldo.
Wanita itu berdiri dan menelan ludah susah payah. Sepertinya mood pria itu sedang tidak dalam keadaan baik. Mereka semua pergi menjauhi Aderaldo sebelum pria itu kembali membentaknya dan melakukan hal-hal kejam pada mereka.
Tangan Aderaldo terkepal kuat ketika bola mata biru jernih menatap calon mainannya pergi berjalan bersisian dengan pria yang tidak satu level dengannya dalam segi apa pun.
"Aku akan menghancurkan semua yang menghalangiku," desis Aderaldo.
Pria itu memilih untuk kembali ke perusahaannya dibanding duduk diam lebih lama di kampus itu.
*******(KALO ADA YANG NYEBAR BENTUK PDFNYA BERARTI ORANG ITU MALING!)
Mata tidak bisa berbohong
Namun, senyum bisa saja menipu
Happy Reading
*******
Kegiatan belajar mengajar di kampus baru cukup menyita fokus Naara. Wanita itu mengikuti setiap kelas yang dengan baik. Hatinya begitu senang bisa berkesempatan kuliah di kampus yang bergengsi itu.
Hari sudah beranjak siang. Ia memilih untuk keluar kelas dan mencari keberadaan Xion. Hari ini, Naara dan Xion berada di kelas yang berbeda. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan ringan menyusuri koridor mencari ruangan Xion atau Hanie, karena baru mereka berdua yang Naara kenal di luar beberapa mahasiswa yang satu ruangan dengannya.
Matanya kembali lagi bersitatap pria yang kata Hanie berbahaya itu. Pria itu memakai setelan serba hitam, membuatnya terlihat begitu tampan dan juga misterius. Naara menggeleng, mengenyahkan pikiran untuk memuji pria bejat dan mesum itu. Dirinya jangan sampai menyukai atau berhubungan dengan pria itu.
Aderaldo sengaja berdiri tidak jauh dari kelas gadis cantik itu dan memperhatikannya secara lekat saat Naara berjalan menuju tempatnya bersandar. Sebenarnya hari ini, Aderaldo mempunyai jadwal meeting yang cukup padat di kantor, tapi ia harus menyempatkan diri untuk sekadar mampir melihat calon mainannya.
Pria itu tersenyum miring saat melihat Naara memilih untuk menghindarinya. Gurat ketakutan di wajah gadis itu semakin membuat Aderaldo senang.
"Tunggu saja. Kita lihat, apa kau masih bisa menghindari pesonaku?" gumam Aderaldo.
Naara berbelok arah dan tidak sengaja ia bertemu dengan Hanie dan temannya.
"Hai, Naara," sapa Hanie antusias.
Naara tersenyum lebar menatap Hanie dan juga wanita di samping Hanie.
"Hai," balas Naara.
"Kenalkan Naara, ini sahabat baikku. Dia Caroline.” Naara mengulurkan tangan dan disambut baik oleh Caroline.
"Aku Naara Kiva. Senang berkenalan denganmu, Caroline," ucap Naara dan dibalas dengan hal serupa oleh Caroline.
"Kau mau ke mana?" tanya Hanie pada Naara.
"Aku sedang mencari Xion. Apa kau melihatnya?" Naara balik bertanya.
"Entahlah. Aku belum melihatnya hari ini. Kau ingin aku temani mencari Xion? Atau kau ingin ikut kami ke perpustakaan?" tanya Hanie lagi.
"Aku ikut kalian saja," putus Naara.
Ketiga wanita itu berjalan menuju perpustakaan dengan berbincang santai mengenai teknik mengajar dosen-dosen mereka. Ketika asyik berbincang, Naara menangkap sosok Xion. Pria itu sedang berbincang akrab dengan beberapa gadis.
Rasa kesal dan cemburu muncul secara kurang ajar di dalam diri Naara. Naara cemburu ketika salah satu dari beberapa gadis yang berbincang dengan Xion memeluk lengan pria itu dengan santai dan Xion membiarkannya.
"Dasar menyebalkan!" gumam Naara dan terdengar oleh Hanie juga Caroline.
Hanie menyenggol lengan Naara dan menggodanya. "Kau cemburu melihat Xion bersama para gadis itu?"
Naara menoleh dan membulatkan mata, lalu dengan cepat gadis itu menggeleng kuat, ia salah tingkah. "Aku tidak cemburu," sanggah Naara.
Kebetulan Xion menoleh dan segera pamit pada para gadis yang tengah berbincang dengannya. Xion berjalan mendekati Naara. Gadis itu memilih untuk membuang wajah ke arah lain. Hatinya kesal bukan main, tapi ia tidak bisa berbuat apa pun sayangnya.
"Naara!" panggil Xion dan gadis itu terus berjalan tanpa memerdulikan panggilan sahabatnya. Suara Xion lenyap , digantikan dengan suara riuh para gadis yang tadi mengelilingi Xion. Gadis-gadis itu rupanya memaksa Xion untuk ikut bersama mereka untuk menonton pertandingan basket antar fakultas di gedung indoor olahraga.
Naara mendesah sampai ia lupa berjalan mendahului Hanie dan Caroline. Gadis penerima beasiswa itu menahan diri agar tidak meledakkan amarah yang muncul tiba-tiba melihat Xion dekat gadis lain.
Hanie dan Caroline hanya bisa menggeleng melihat pemandangan di depan mereka.
"Wow! Mereka berdua terlihat sangat serasi," gumam Caroline dan Hanie menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Kau membicarakan siapa, Car," tanya Hanie penasaran.
"Naara dan ---, ouch, shit!" umpat Caroline saat tubuhnya oleng karena ditabrak tidak sengaja oleh segerombolan wanita yang sedang menjerit-jeritkan nama Aderaldo.
"Mereka selalu bar-bar jika sudah berada di dalam radius Aderaldo. Dasar wanita menor tidak tahu aturan!" omel Hanie sesaat gerombolan wanita membuntuti jalannya pria mesum, Aderaldo.
"Lupakan mereka, ayo kita susul Naara," ajak Caroline sambil mencoba menenangkan Hanie yang emosi.
“Kau belum menjawab pertanyaanku tadi, Carol.” Hanie mengingatkan Caroline.
“Sesuatu belum pasti. Aku takut untuk mengungkapkannya. Aku melihat sesuatu hal yang pastinya tidak begitu kau senangi, maka lupakan saja,” jawab Caroline dan Hanie mendesah mendengarnya.
Caroline memiliki six senses yang sembilan puluh persen apa yang dikatakannya benar-benar terjadi.
*********
Akhirnya, Naara sampai terlebih dahulu di Perpustakaan. Gadis itu melangkah masuk dan tanpa menunggu lama, gadis itu bergerak cepat mencari buku yang bisa ia baca.
Perpustakaan kampus itu begitu luas dan mewah. Buku-buku di sana juga sangat lengkap. Akan tetapi, besar dan luasnya perpustakaan itu tidak sebanding dengan pengunjungnya. Hanya puluhan mahasiswa yang berada di sana, kebanyakan dari mereka lebih suka mencari data lewat internet dan duduk di taman kampus dibanding membaca buku tebal secara langsung.
Naara menyisir beberapa rak buku. Tangan serta matanya bekerja sama berkonsentrasi untuk menemukan buku yang ia cari. Senyum manis gadis itu mengembang ketika ia mendapatkan apa yang ia cari.
Gadis cantik itu menarik salah satu buku di dalam rak. Namun, buku tersebut tak lagi berada di tangannya, melainkan berjatuhan ke lantai satu per satu. Kedua tangan gemetaran sambil membekap mulut dan tubuhnya berbalik cepat menyandar pada rak buku yang ia ambil tadi.
Dengan tangan gemetaran, Naara berjongkok dan memunguti buku-buku yang jatuh serta berusaha secepat mungkin pergi dari tempat itu. Naara menyusun buku itu dengan asal-asalan sambil menggerutu.
"Shit! Kenapa mereka melakukannya di tempat ini. Kenapa juga aku harus melihatnya lagi. Dasar Jerk! Mataku ternodai, lagi dan lagi. Sialan!" gerutu Naara.
Untuk kedua kalinya Naara memergoki Aderaldo sedang melakukan hal yang tidak senonoh. Pria itu sedang berciuman panas dengan seorang wanita yang berpakaian kurang bahan. Wanita berambut orange itu mencium Aderaldo dengan ganas, seperti singa betina yang sedang kelaparan. Sedangkan Aderaldo sendiri hanya berdiri tenang, mengikuti ritme yang diciptakan wanita itu sambil meremas bokong besar yang Naara yakini jika itu adalah bokong palsu.
Jantung Naara berdetak cepat dan bibirnya kelu melihat pemandangan panas seperti itu secara langsung. Bukan hanya itu yang membuat jantung Naara berdebar kencang, tatapan mata tajam Aderaldo adalah faktor terbesar yang memicu detakan ekstra pada jantungnya, karena belum sempat ia melarikan diri dari sana, mata mereka sempat bersitatap satu sama lain.
Di tempat yang sama, Aderaldo segera menyudahi ciuman panasnya yang tiba-tiba terasa hambar dengan wanita yang bahkan tidak ia ketahui siapa namanya.
Pria tampan itu mendorong tubuh wanita yang baru saja berciuman dengannya agar menjauh sampai duduk terjatuh. Bukan Aderaldo namanya jika pria itu akan peduli dengan keadaan wanita itu. Ia berjalan santai melangkahi tubuh wanita berambut orange itu sambil mengelap bibirnya dengan sapu tangan.
Tatapan mata pria itu tak lepas dari sosok wanita incarannya. Wanita yang lagi-lagi menemukannya dalam keadaan basah. Basah di bibir dan basah di bagian bawah. Menggemaskan melihat wajah wanita itu memerah menahan malu dan kesal dalam waktu bersamaan.
*****
Aderaldo menelisik setiap sudut ruangan di sana, mencari keberadaan wanita yang ia ketahui bernama Naara Kiva. Ia yakin wanita itu tidak keluar dari perpustakaan ini. Benar saja, wanita itu tengah duduk menelungkupkan kepalanya di atas meja.
"Ternyata ada gunanya aku tidak jadi buru-buru kembali ke kantor," gumam Aderaldo menyandar di salah satu rak.
"Tunggu waktu yang tepat, aku akan segera memenjarakanmu di kerajaanku, Naara Kiva," desis pria berwajah malaikat berhati iblis.
Pandangan Aderaldo berserobok dengan Hanie, Caroline dan Xion yang baru saja masuk ke dalam perpustakaan. Pria itu melipat kedua tangannya ke depan dada tanpa ekspresi di wajahnya.
Baik Hanie dan Caroline memilih untuk menundukkan pandangan dari Aderaldo. Xion yang tidak mengenal Aderaldo memilih untuk mengabaikan tatapan pria itu dan berjalan mendekati Naara yang masih menelungkupkan kepalanya ke atas meja.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Xion sambil memegang pundak Naara.
Wanita itu mendongak cepat, antara kaget dan juga senang dengan kehadiran Xion di sampingnya.
"Apa yang kau lakukan?" ulang Xion dan Naara menggeleng.
"Aku tidak melakukan apa pun. Kenapa kau ada di sini? Dan- hei, Hanie, Carol, kenapa kalian hanya berdiri di situ?" tanya Naara bingung.
Hanie dan Caroline serempak menggeleng tanpa ekspresi.
Aderaldo berjalan mendekati Naara dan Xion, saat keduanya sedang berbincang. Baru saja Xion ingin menyapa Aderaldo, saat pria itu tepat berdiri di belakang Naara mendadak melotot garang begitu pula Hanie dan Caroline yang terpekik dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan mereka.
Aderaldo menepuk punggung Naara yang sontak membuat wanita itu menoleh cepat, dan dalam hitungan detik pula, Aderaldo mencondongkan badannya dan menempelkan bibirnya ke atas bibir Naara.
Naara melotot tanpa bisa mengelak. Pria itu tersenyum disela ciumannya pada bibir Naara. Dua lengan cukup kekar melepas paksa ciuman Aderaldo dan Naara dengan menarik bahu pria itu. Satu pukulan melayang di perut Aderaldo tanpa bisa dicegah hadiah dari Xion.
Aderaldo hanya berdecih sambil tersenyum miring ketika selesai mendapatkan hadiah pukulan dari Xion. Sedangkan Naara mengepalkan kedua tangannya sambil menahan tangis.
"Dasar berengsek! Beraninya kau mencium Naara!" bentak Xion marah.
Aderaldo memutar bola matanya seraya memasukkan kedua tangan ke kantung celana kain yang ia pakai.
"Kau tidak ada hak untuk melarangku. Memangnya kau siapa?" desis Aderaldo.
Xion ingin melayangkan tinjunya pada wajah Aderaldo, tapi ditahan oleh pria tampan berkemeja hitam itu.
"Jangan memancingku untuk menghancurkanmu," bisik Aderaldo pada Xion dan pria itu melangkah pergi dengan mengedipkan matanya ke arah Naara yang masih diam mematung.
Aderaldo bersiul dan melangkah santai meninggalkan kampus tercintanya.
"Manis! Aku menyukainya," gumam Aderaldo sambil tersenyum dan mengelus bibirnya dengan ibu jari.
*****
(kalo ada yang nyebar bentuk PDF, BERARTI DIA MALING yah)