Ketiganya sangat kaget dengan perkataan para ayah. Yang ingin membubarkan diri saat ini. Lagi-lagi para gadis pun meminta bantuan ibu mereka untuk menjelaskan kepada ayah-ayah yang sangat mengkhawatirkan putri-putrinya.
"Papa, ayolah. Jangan kekanakan begitu, biarkan Mira dan teman-temannya menyalurkan hobi mereka," tutur Mama Dwi mencoba merayu suaminya.
"Iya, Pa. Lagian Lia, Mira, dan Sera sudah mempersiapkan diri mereka dengan baik. Bahkan mereka telah mengecek prediksi BMKG. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan," sergah Mama Shania kepada suaminya.
"Benar itu, Pa. Lagian Sera dan juga teman-temannya sangat jago berenang dan menyelam. Makanya mereka berani untuk berlayar ke laut. Jadi tidak ada alasan bagi kita para orang tua untuk melarang mereka." Mama Nara juga ikut membuka pandangan suaminya.
Para ayah langsung terdiam mendengarkan penjelasan istri-istri mereka yang ada benarnya juga. Lalu ketiga pria tua itu mulai berbisik-bisik satu sama lain.
Walaubagaimanapun cinta pertama seorang anak gadis adalah ayahnya. Demikian sebaliknya. Jadi rasa khawatir itu memang benar-benar merasuki para ayah saat ini.
Mereka sangat menyayangi sang putri. Makanya ketiganya dilanda kebimbangan yang hakiki saat ini. Bagi mereka anak perempuannya yang telah bertumbuh dewasa itu tetaplah menjadi seorang anak gadis yang imut di dalam hati mereka masing-masing.
Setelah agak lama berunding. Papa Theo akhirnya angkat bicara mewakili ayah yang lain.
"Baiklah, kami telah sepakat untuk mengizinkan kalian berlayar di lautan."
"Yeh! Hore!" teriak ketiganya dengan nada girang.
"Tunggu dulu. Papa belum selesai ngomong! Tolong kalian mendengarnya sampai akhir," tukas Papa Bagas lalu kembali menyuruh Papa Theo untuk melanjutkan omongannya.
"Jadi kami sepakat untuk memberikan kalian izin untuk dapat berlayar ke laut selama tiga hari saja."
"Apa? Tiga hari?" ucap ketiganya serentak.
"Yaelah, Papa. Sebentar banget tiga hari." celutuk Sera.
"Kita belum puas mengeksplor laut jika hanya segitu harinya, Pa!" Mira ikut menimpali.
"Bagaimana kalau enam hari saja, Pa?" Lia mencoba mengutarakan keinginannya.
"Ditambah satu hari lagi, sudah seminggu tuh, Lia. Kamu ini ada-ada saja!" sentil Papa Theo kepada anak gadisnya.
"Habis Papa sih, ngasih izin harinya dikit banget." tukas Lia tak mau kalah.
"Nanggung banget enam hari, Pa. Bagaimana jika seminggu saja. Sesuai dengan yang kami jadwalkan." Zemi kembali bernegosiasi kepada para ayah.
Namun ucapan menusuk dari Papa Bagas, mampu membuat Mira terdiam.
"Bukan kalian pengambil keputusan sekarang. Tapi kami para ayah kalian!" ujar Papa Bagas sambil menatap tajam ke arah anak gadisnya, Mira.
Lalu kemudian, para ayah kembali berunding lagi saat ini. Setelah lama berbicara bertiga saja, Papa Herman pun berkata kepada ketiganya.
"Kalian maunya enam hari kan? Kalau kami menginginkan tiga harinya. Tapi, baiklah. Kami telah kembali mempertimbangkannya. Maka dari itu kami para ayah akan memberi izin kepada kalian untuk berlayar ke laut selama lima hari saja! Keputusan ini telah bulat dan tidak dapat diganggu gugat lagi! Titik!" tegas Herman.
"Yes! Hore!" sorak ketiganya lagi.
Lalu ketiga gadis itu langsung berhamburan memeluk ayah mereka masing-masing."
"Terimakasih, Papa!" ujar ketiganya serentak.
"Kalian jaga diri baik-baik selam berada di laut. Jangan lupa untuk terus mengabari Papa dan Mama." seru Papa Bagas.
"Kami akan menunggu kepulangan kalian." seru Papa Theo.
"Ingat, ya! Lima hari saja waktu kalian berada di atas lautan." Papa Herman juga ikut menimpali.
Mereka juga tak lupa memeluk para ibu yang telah mendukung penuh rencana mereka untuk berlayar ke lautan.
Mau tidak mau para gadis menerima keputusan dari para orang tua yang hanya mengizinkan mereka berada di lautan selama lima hari. Jadi setelah pertemuan itu, Lia, Sera, dan Mira mulai sibuk mempersiapkan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan selama berlayar di laut.
Di sebuah apartemen di Kawasan Jakarta Selatan,
"Guys! Nih, kita pelajari dulu." seru Mira lalu membagikan beberapa lembar kertas yang berisikan peraturan keamanan maritim kepada Lia dan Sera.
"Siap, Nona Mira!" ucap Lia lalu mulai serius membacanya
"Aiiyaa, kapten!" Sera juga sangat antusias membaca tulisan yang ada di atas kertas itu.
Peraturan keselamatan maritim ini merupakan aturan dan pedoman yang ditetapkan untuk memastikan keadaan dan keselamatan semua orang saat berada di atas perairan, termasuk itu kapal, awak kapal maupun penumpang.
Mengetahui dan mematuhi peraturan keselamatan maritim ini merupakan hal yang harus dipelajari sebelum berlayar di atas lautan bebas.
Oleh karena itu sebelum melakukan perjalanan laut, Lia, Mira, dan Sera harus mempelajari aturan dan regulasi terkait keselamatan selama berada di atas laut. Termasuk tentang pemakaian jaket pelampung, alat komunikasi, dan prosedur evakuasi.
Para gadis benar-benar mempelajari semuanya. Tentu saja mereka harus mempersiapkan semuanya dengan baik.
Keesokan harinya,
"Guys, kalian sudah siap kah?" tanya Lia kepada kedua temannya.
"Sudah kok, kita tinggal berangkat sekarang!" sahut Sera, dan dibalas anggukan oleh Mira.
Saat ini, mereka akan berangkat ke sebuah pusat perbelanjaan yang menjual beberapa perlengkapan untuk berlayar di lautan.
Berada di laut merupakan pengalaman yang sangat menarik, namun juga dapat menjadi situasi yang berbahaya. Dalam keadaan darurat di laut, pengetahuan dan persiapan untuk bertahan hidup sangatlah penting.
"Duh ... macet banget, sih!" seru Sera yang sedikit kesal dengan situasi lalu lintas yang cukup padat siang itu.
"Iya, jadi BT deh! Padahal gue nggak sabar segera sampai di mall. Gue mau makan es krim," Lia juga ikut merasa kesal.
"Yaelah, Lia! Gue pikir Lo nggak sabar ingin segera menyiapkan semuanya," timpal Mira.
"Iya, gue nggak sabar juga itu. Tapi gue ingin makan es krim dulu sebelum kita berlayar ke laut, guys!" cecar Lia lagi.
"Ha-ha-ha! Kita hanya lima hari meninggalkan gemerlapnya Kota Jakarta, Cuy! Bukan selamanya. Hiperbola Lo, Lia!" tukas Sera yang sedang menyetir.
Setelah mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja, Sera mengerem mobil secara mendadak. Untung saja kedua temannya telah menggunakan sabuk pengaman.
"Ya ampun, Sera! Lo kira-kira dong kalau menyetir!" ujar Mira tajam.
"Entah nih, Sera! Nggak jelas banget deh, nyetirnya!" Lia ikut menggerutu.
"Sorry, guys. Gue nggak sengaja. Tadi ada kucing hitam yang tiba-tiba lewat," ujar Sera dengan mimik wajah serius.
"Hah? Kucing hitam?" sahut kedua temannya.
"Ini masih siang Sera! Bukan malam hari. Jangan bikin horor, Lo!" timpal Lia lagi.
"Gue serius, Guys! Tadi ada kucing hitam yang lewat tiba-tiba," jujur Sera.
"Kocheng orens, kali!" celutuk Mira.
"Ha-ha-ha!" Tawa ketiganya memenuhi mobil itu.
Namun Sera tiba-tiba terdiam karena tadi dia sempat melirik ke kiri dan ke kanan namun kucing tersebut tidak kelihatan lagi.
Hal tersebut menjadi tanda tanya besar dalam diri gadis itu.
Setelah berjuang melawan kemacetan, akhirnya mobil para gadis sampai juga di sebuah mall. Ketiganya lalu turun dari mobil dan mulai memasuki gedung pusat perbelanjaan itu.
Lia, Sera, dan Mira terlihat sedang berkeliling toko yang menjual perlengkapan untuk belajar ke laut.
"Guys ... kita cari satu-satu ya, semuanya. Agar tidak ada yang ketinggalan," tutur Lia kepada kedua temannya.
"Beres, Nona Kapten!" ujar keduanya serentak.
Perjalanan mereka kali ini dipimpin oleh Lia sebagai kapten regu. Saat sekolah dulu, sang gadis sering sekali menjadi pemimpin regu Pramuka saat mereka masih duduk di bangku sekolah.
Ada beberapa perlengkapan keselamatan yang harus mereka siapkan saat ini. Seperti jaket pelampung, senter air, cermin sinyal, perahu karet, bahan makanan dan minuman yang cukup untuk keperluan darurat. Sehingga dengan perlengkapan yang memadai, ketiganya dapat bertahan dalam kondisi apapun.
Setelah semua perlengkapan berlayar berhasil mereka kumpulkan dengan lengkap. Ketiga gadis itu pun berjalan menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
Tak lupa juga ketiganya singgah ke sebuah swalayan untuk membeli makanan dan minuman yang banyak sebagai bekal mereka selama di laut.
Tanpa diketahui oleh para gadis. Di salah satu sudut toko tersebut ada tiga orang pria bernama, Edu, Hezki, dan Ronald. Yang juga ikut mengumpulkan beberapa barang yang akan mereka bawa selama berlayar di laut.
Ketiga pria tampan itu, masing-masing adalah CEO di perusahaan milik keluarga mereka. Minggu lalu ketiganya memenangkan tender proyek besar di Pulau Dewata Bali. Untuk merayakan keberhasilan mereka, ketiganya pun merancang sebuah perjalanan laut yaitu berlayar ke perairan di sekitar Pulau Seribu, Indonesia.
"Bro setelah ini kita ke swalayan, ya? Kita butuh banyak bahan makanan dan yang paling penting dari semuanya adalah alat cukur. Kalian tentunya tidak mau kita kembali kedaratan dengan keadaan rambut gondrong dan penuh bulu!" celutuk Hezki Arion, pria keturunan Jerman, kepada kedua sahabatnya.
"Ha-ha-ha!" tawa ketiganya.
"Bisa saja Lo, Bro!" timpal Ronald Shiloh, pria blasteran Inggris-Indonesia.
"Tapi ada benar juga apa yang dikatakan oleh Hezki, Bro! Sudah, yuk kita masuk ke swalayan. Gue juga mau beli persediaan makanan dan minuman yang banyak," sergah Edu William Silverstone, pria keturunan Belanda-Indonesia tersebut. Sambil mengajak kedua temannya masuk ke dalam sebuah supermarket yang ada di dalam mall itu.
Rencananya para pria itu akan menghabiskan waktu mereka selama tiga minggu lamanya. Berada di atas lautan. Hezki yang merupakan lulusan sekolah pelayaran tentunya sangat mahir untuk mengnakhodai sebuah kapal.
Hezki juga telah lulus sekolah nakhoda. Pria itu telah sah disebut sebagai kapten kapal, yang merupakan seorang pelaut berlisensi yang memegang komando tertinggi dan tanggung jawab atas sebuah kapal.
Nakhoda memikul tanggung jawab penting dalam sebuah kapal. Secara umum tugas seorang Nakhoda adalah bertanggung jawab ketika mengoperasikan sebuah kapal dalam pelayaran.
Jadi tidak ada keraguan bagi Edu dan Ronald untuk menjadikan Hezki sebagai kapten kapal dalam perjalanan mereka di atas lautan lainnya.
Berbeda jauh dengan Lia, Mira, dan Sera yang telah menyewa seseorang untuk menjadi kapten kapal selama tour mereka di atas lautan.
Tanpa direncanakan sama sekali kedua kelompok para gadis dan pria tampan itu berada di supermarket yang sama. Untuk menyiapkan beberapa perlengkapan yang dibutuhkan selama berada di atas lautan bebas.
Lia dan Mira terlihat sedang sibuk mengumpulkan bahan makanan kaleng untuk bekal mereka nantinya seperti, cornet, salad buah dalam kemasan, sosis, dan bahan makanan frozen lainnya.
Lalu tiba-tiba ketiga gadis itu pun melirik ke arah kiri dan kanan untuk mencari tahu keberadaan Sera yang entah pergi ke mana.
"Mira ... Lo lihat Sera, nggak?" tanya Lia kepadanya.
"Gue juga dari tadi lagi nyari tuh, anak. Entah ke mana perginya," seru Mira.
"Ya sudah, yuk. Kita cari Sera dulu," ajak Lia.
Lalu kedua gadis itu pun berkeliling di dalam supermarket luas itu untuk mencari Sera. Setelah lama mencari. Akhirnya mereka pun menemukan sang sahabat.
"Ya ampun, Sera! Lo ngapain di sini?" ujar Lia kaget.
"Gue mau beli ini untuk persiapan kita, guys!" sahut Sera dengan wajah berbinar.
"Woi! Serafina Florine Alvarendra. Lo ngapain beli alat untuk medi pedi? Emangnya Lo mau nyalon di tengah lautan? Ada aja deh, Lo!" tutur Mira kepada temannya.
"Hei, Guys! Kita tidak tahu kemungkinan apa yang akan terjadi selama kita berada di tengah lautan. Jadi tidak ada salahnya jika kita mempersiapkan semuanya," ucap Sera penuh nada keseriusan kepada kedua temannya.
Bahkan sang gadis yang merupakan lulusan fashion designer tersebut, juga ikut membawa peralatan untuk menjahit secara diam-diam ke dalam tas ranselnya tanpa sepengetahuan kedua sahabatnya yang lain.
Sepertinya Sera memiliki firasat kurang menyenangkan tentang perjalanan laut mereka kali ini.
Namun gadis itu masih bingung dengan perasannya yang sedikit gelisah. Untuk itu, dia memilih untuk menyimpannya sendiri di dalam hatinya.
"Ya sudah, terserah Lo aja deh, Sera. Kita ke bagian makanan kaleng dulu," ajak Lia kepada Mira.
"Siap, kapten!" jawabnya.
Sera melangkah di bagian pembalut wanita. Dia pun mengisi keranjang belanjaanya dengan begitu banyak pembalut khusus wanita.
Nuraninya mengatakan agar dirinya menyediakan semuanya.
Saat di kasir dan melakukan pembayaran, Lia dan Mira terlihat geleng-geleng kepala melihat semua hasil belanjaan Sera yang beraneka macam ragamnya dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan pelayaran di atas laut.
"Sera, Lo ngapain beli hal-hal nggak penting itu?" tanya Lia kepadanya.
"Lagi kepingin aja gue belinya. Semua barang-barang ini pasti sangat berguna kok nantinya, jawab Sera, lalu melakukan pembayaran.
Kemudian para gadis itu singgah ke gerai es krim dan menikmati es krim dengan rasa kesukaan mereka masing-masing.
Mereka tidak pernah menyadari jika hari ini adalah kali terakhir mereka mencicipi rasa es krim favorit mereka masing-masing.
Para gadis itu tidak tahu saja, bahaya yang akan menghadang mereka nantinya selama berada di lautan bebas itu.
"Mira, bagaimana persiapan kapal yang akan kita sewa?" tanya Lia memastikan semuanya.
"Aman, kok. Semuanya telah gue persiapkan dengan baik," jawabnya.
"Bagaimana dengan kapten kapalnya, Mira? Lo cari orang yang benar-benar menguasai perairan laut Pulau seribu, kan?" Sera juga turut memastikan.
"Iya, dong pastinya. Kalian tenang saja, semua pasti berjalan dengan lancar kok." seru Mira mencoba menenangkan para sahabatnya.
"Guys, bagaimana dengan prediksi BMKG? Semua aman terkendali kan? Terus bagaimana dengan cuaca di tengah laut nantinya?" Ternyata Sera masih saja khawatir.
"Yaelah, Sera? Lo kenapa, sih? Kok malah jadi parno begitu, Lo?" cecar Lia.
"Nggak tahu nih, Guys. Perasaan gue kok jadi nggak enak begini, ya?" tutur Sera dengan wajah memelas.