Jam istirahat. Ryuta berdiam diri di halaman belakang akademi sendirian menatap ke depan. Dia tak makan apapun atau ingin melakukan sesuatu. Bukan karena merasa sedih dan sebagainya.
Melainkan dia tengah memikirkan masa depan nanti akan seperti apa. Lory dari kejauhan di tempat sama mengawasi majikannya dengan ekspresi biasa saja. Ditemani oleh Tetsuya bersama Ayumi.
"Hei, Lory. Kau yakin kalau Ryuta baik-baik saja?" tanya Tetsuya penasaran sembari memakan satu buah roti sangat lahap.
Lory sendiri bingung mau menjawab apa. Tapi jawabannya ialah semua akan baik-baik saja. Memang kehidupan terkadang berliku, tak menentu serta sulit diprediksi. Mungkin ini ialah ujian pertama.
Asisten sekaligus penjaga bayangan pangeran Ryuta Ryukiriga tersebut berusaha mencari tahu apa memang ada cara tertentu untuk menarik keluar kemampuan majikannya sampai menunjukkan hasil terbaik.
"Heh~ Menyebalkan sekali." Lory mengeluh karena merasa sangat sebal hari ini. Banyak sekali kejadian tak terduga.
Pemuda itu masih manusia biasa yang terkadang merasakan sebuah perasaan lelah. Apalagi saat dihadapkan pada suatu kejadian tak terduga.
Beberapa saat. Sesosok gadis manis berambut kuning cerah datang di depan hadapan Lory. Semua orang disana terkejut melihatnya.
Bahkan ini kali pertama mereka bertiga tahu ada murid secantik dia.
"Halo. Apa anda tuan Lory Kyousuke?" tanya gadis itu penuh kesopanan dan kelembutan.
"Benar. Ada apa?"
Gadis itu tanpa basa-basi langsung pada inti pembicaraan. Dia merupakan calon mahkota kedua Kerajaan Baumwurzeln.
"A-Apa?!" ujar Tetsuya dan Ayumi secara bersamaan terkejut.
"Aku baru saja sampai. Tidak kusangka bisa beruntung bertemu kalian."
Untuk jaga-jaga. Lory bersiap mengambil salah satu pisau di samping kanan saku, akan tetapi malahan tidak ada.
"Ah?" Lory sedikit kaget.
Gadis manis tersebut menunjukkan kedua pisau Lory yang digenggam menggunakan tangan kiri. Dengan santai. Dia menjelaskan kedatangannya kesini untuk melakukan sesuatu terhadap Ryuta.
"Aku baru tahu. Lalu mengapa kau tak berbicara pada saudara tuan Ryuta?"
"Mereka sudah tahu," jawab gadis itu singkat memberikan pisau kepada Lory.
Tetsuya dan Ayumi masih terdiam karena bukan urusan mereka bertanya atau berkata sesuatu.
"Perkenalkan. Namaku adalah Rachel Vin Lyria. Aku seumuran kalian. Aku harap kita bisa bekerja sama."
"Baiklah, nona Rachel. Kau mau apa terhadap tuanku?" Lory menatap tajam gadis bernama Rachel.
"Tuan Lory. Anda pasti tahu soal hubungan persahabatan antara wilayah satu sama lain."
"Y-Yah. Tentu saja aku tahu."
Maksud barusan masih belum bisa dipahami secara mendalam oleh Lory. Ia membagi penjelasan mengenai tata cara dua wilayah saling berhubungan satu sama lain secara erat.
Saat tahu salah satu hal. Raut wajah Lory menggambarkan sebuah perasaan begitu terkejut. Siapa sangka kalau Ryuta akan menjadi sebuah alat politik sederhana.
"Anda serius?"
Tanpa basa-basi. Rachel berjalan mendekat ke arah Ryuta. Saat sampai pemuda berambut biru agak panjang sedikit heran.
"Apa?" tanyanya agak aneh.
"Salam kenal pangeran Ryuta Ryukiriga. Senang bisa berkenalan denganmu," sapa Rachel tersenyum menundukkan badan sambil menunjukkan kalau dia begitu menghormati orang lain walau baru bertemu.
"???" Ryuta masih bingung.
"Perkenalkan. Aku Rachel Vin Lyria."
"Vin Lyria? Keluarga Kerajaan Baumwurzeln? Pantas saja pakaianmu sedikit mewah."
Dia langsung berdiri dan menatap tajam gadis yang baru saja ditemui. Pasti ada tujuan tersendiri kenapa Rachel datang memberi sebuah ucapan hangat.
"Aku kesini bukan untuk melakukan kekerasan. Tapi kita sebentar lagi resmi bersama, loh."
"Apa maksudmu? Terdengar konyol."
"Kau dan aku akan menikah karena beberapa alasan."
Suasana hening muncul sampai reaksi terbaru sang pangeran dingin muncul.
"APA KATAMU?!" Teriaknya dengan wajah kesal.
<> One <>
Di istana Kerajaan Xenocyte. Ada rombongan tamu datang. Ryuta baru saja sampai dan segera masuk ke kamar. Lory diajak masuk untuk sementara waktu karena berbicara soal beberapa hal.
"Lory, apakah kau tahu sesuatu?"
"Saya tidak tahu, tuan Ryuta. Aku saja kaget kenapa anda bisa dijodohkan dengan gadis dari kerajaan lain.,
"Cih. Menyebalkan," sambung Ryuta menahan emosi dan melepas kancing baju satu demi satu.
Meski Ryuta adalah satu-satunya anak kurang berbakat dari keluarga Ryukiriga. Akan tetapi dijodohkan tanpa ada persetujuan atau pemberitahuan, itu sama dengan paksaan.
Sekitar beberapa menit lewat. Lelaki tinggi berambut merah muncul berpakaian ala bangsawan pada umumnya namun malah lebih condong ke kemiliteran.
Ando Ryukiriga. Kakak pertama sekaligus anak pertama keluarga Ryukiriga. Memiliki berbagai prestasi melebihi apapun, berumur sekitar dua puluh delapan tahun dengan pengalaman sangat banyak.
Selain berprestasi. Sudah banyak wanita jatuh cinta padanya.
"Ryuta. Kau harus secepat mungkin ke ruang makan. Tamu kita sudah menunggu."
"Cih. Kenapa bukan Ayah saja yang kesini? Apa maksud semua ini?"
"Ryuta, kakak tidak tahu. Akan tetapi mari dibicarakan saja di ruang makan. Ayo, cepatlah."
Karena tak ada respon dari Ryuta. Dengan segera Ando memberikan satu buah tendangan pada Ryuta dalam kecepatan tak terduga hingga pangeran itu terlempar pada salah satu dinding. Lory hanya bisa diam menatap majikan utamanya disakiti.
Sebab Lory sendiri ditugaskan oleh Ando secara langsung. Ia memberikan hormat kepada Ando dengan menundukman kepala sambil memejamkan mata.
Ando menarik paksa Ryuta.
Sekitar lima menit berlalu. Ryuta terpaksa mengikuti semua alur mau tak mau. Tapi dia punya semacam cara tersendiri untuk melawan. Bukan apa-apa. Ini tentang bagaimana dia mempertahankan harga diri dan hak sebagai seorang pangeran pada umumnya.
Terdapat sekitar empat anggota keluarga Vin Lyria. Terdiri dari Kitaro Vin Lyria, Namika Vin Lyria, Aki Vin Lyria dan terakhir Rachel Vin Lyria. Ada dua penjaga utama keluarga Kerajaan Baumwurzeln yang berpakaian ala penduduk biasa. Mereka sangat waspada.
Di ruang makan ini semua anggota keluarga Kerajaan Xenocyte berkumpul.
Kazuto, Sayaka, Ando, Hikaru, Ryuta, Haruna dan Naomi. Mereka menghadap kepada sang tamu dengan beberapa pelayan yang sigap mengawasi meja.
Percakapan dibuka oleh Kazuto, sang tuan rumah pada saat hidangan penutup dihidangkan.
"Jadi, Raja Kitaro. Bagaimana soal pernikahan antara putra saya dengan putri anda?" tanya Kazuto langsung.
Dengan nafas agak tertahan bersama tatapan menunduk. Ryuta hanya bisa pasrah meneruskan keadaan. Terlihat kalau sang raja kerajaan lain memberikan respon sederhana.
"Yah, putri saya mau melakukannya. Namun bagaimana soal putra anda?" tanya Kitaro agak penasaran tentang jawaban Ryuta.
Semua pandangan tertuju pada sang pangeran ketiga.
"A-Aku tidak siap. Karena masih banyak yang perlu kusiapkan," jawab Ryuta agak gugup namun sesuai kenyataan.
Lantas Raja Kitaro merespon.
"Kalau kau perlu persiapan maka kami bisa menyiapkan apapun soal pengalaman, wawasan dan juga mengenai sejarah soal Kerajaan Baumwurzeln dalam kurun waktu hanya satu bulan."
"Tidak. Bukan begitu—" Ryuta merasa ingin memberikan respon namun masih gugup.
Terlihat situasi ini begitu sulit dikendalikan. Semua orang menatap pemuda berambut biru penuh rasa penasaran walau pandangan gugup menuju keramik ruang makan.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Ryuta dalam hati.
Dia khawatir dan bingung harus memberikan perkataan apa untuk meyakinkan semua orang disana.
Di alam bawah sadar Ryuta. Waktu berjalan lebih cepat daripada dunia nyata. Terlihat kalau pria tua yang bisa dibilang memiliki ciri khas, yaitu rambut warna biru sebagai seorang keluarga Ryukiriga.
Orang tua itu tidak lain ialah kakek Ryuta. Kuro Ryukiriga. Ia hampir menyerupai Ryuta, akan tetapi dirinya menginjak usia yang sangar tua. Ia mulai berbicara soal pilihan Ryuta.
"Kau bisa menolaknya dengan alasan kuat. Mereka dapat menerima karena kau berbicara dengan hati, bukan dengan logika atau kebohongan."
Masalah bagi Ryuta bukanlah soal alasan cara menolak. Akan tetapi dia dilema apakah ingin membantu keluarga atau tidak. Itu saja. Dia menatap ke atas. Hanya ada langit biru muda hampa tanpa awan, bintang apalagi matahari. Benar-benar kosong.
Lantas, sekarang Ryuta hanya ada satu pilihan terbaik meski bukan sesuai pilihan. Yaitu mengikuti prosedur perjodohan tanpa memberi perlawanan. Bukan berarti Ryuta pasrah. Dia hanya memilih jawaban terbaik daripada mengacaukan segala hal.
Apalagi ada kemungkinan kalau kedua orang tuanya memilih jalan ini sebagai takdir terbaik. Takkan jadi masalah juga selama bisa membantu Kerajaan Xenocyte.
"Entahlah? Aku akan menurut saja."
"Kalau itu pilihanmu, baiklah." Kuro pasrah pada pilihan cucu ketiganya sambil memegang jenggot rapi warna hitamnya.
"Hanya saja. Aku masih ingin memperkuat diri. Latihan dan mental. Aku butuh kedua hal ini agar bisa lebih kuat."
"Saranku adalah kau harus berlatih selama empat tahun. Minimal."
"A-Apa? Kenapa selama itu? Mereka tidak mau menunggu. Paling juga enam bulan saja batas waktu terbaik."
Karena merasa yakin tentang perkataannya sendiri. Kuro menyatakan kalau lebih baik mengikuti arahan barusan.
"Entah kenapa pilihanmu terasa begitu sulit, Kakek. Apakah kau yakin?"
Waktu kembali seperti semula. Ryuta di ruang makan mulai memberikan jawaban. Dia berdiri dengan lapang dada bersama wajah cukup meyakinkan.
"Aku mau menerimanya."
Semua orang di ruang makan cukup antusias terhadap jawaban dari Ryuta. Bahkan, Rachel sempat tersenyum kepada calon suaminya tersebut.
"Namun. Beri aku waktu empat tahun terlebih dahulu."
"Jangan bercanda, Ryuta!" seru Ando menggebrak meja sambil berdiri.
Raja Kazuto menyuruh Ando untuk tetap tenang agar bisa mendengar alasan Ryuta, begitu pula Raja Kitaro. Semua orang pun sama.
"Aku masih perlu melatih mental dan fisikku. Akan kupastikan tempat latihanku membuahkan hasil! Aku mempunyai tanggung jawab juga sebagai keturunan Ryukiriga!" jawab Ryuta berwajah serius.
Semua orang saling memandang satu sama lain. Dari atap istana kerajaan, Lory mampu mendengar jelas keinginan majikan utamanya.
"Tuan Ryuta, anda sudah banyak berubah ya?"
Mungkin pilihan Ryuta sekarang ialah menjalani latihan berat bersamaan latihan mental super ketat.
"Baiklah, kami mengerti," jawab Raja Kitaro singkat.
Pimpinan bijak seperti Raja Kitaro sangatlah langkah. Bukan berarti tidak ada, tapi sulit ditemukan.
Ryuta agak terkejut mengenai jawaban dari raja kerajaan lain itu. Dia tersenyum sambil menundukkan badan penuh hormat sebagai tanda kalau dia menghargai juga mengapresiasi mengenai respon baik sang raja.
Sore hari. Ryuta pergi ke data penduduk yang berada di perpustakaan utama kota bersama Lory. Dia ingin mencari beberapa pelatih profesional yang cocok.
"Tuan Ryuta. Apa anda yakin mau meninggalkan segala hal dan fokus terhadap perubahan potensi anda sendiri?"
"Begitulah. Aku tidak bisa mundur lagi, Lory. Aku harus terus maju. Entah mengapa rasanya begitu lega bisa memberikan jawaban terbaik."
"Saya mendukung anda sepenuh hati, tuan Ryuta."
"Terima kasih."
Sang penjaga perpustakaan memberikan daftar buku berisi soal para pengajar atau pelatih khusus dalam melatih kekuatan. Terdapat sekitar dua ratus dengan berbagai keahlian masing-masing.
Ada beberapa nama mengundang rasa perhatian Ryuta. Tapi, ada pula satu nama bagi Ryuta cukup membuatnya penasaran.
Yaitu,
"Shunsuke Ikkigarou."
Karena informasi adalah suatu hal biasa bagi Lory. Ia menceritakan soal Shunsuke Ikkigarou. Memiliki nama panggilan Ikki atau Shun serta dijuluki oleh orang-orang kemiliteran dengan nama Kira The Wind sebab saat sering menjalankan tugas di era jabatan Kuro Ryukiriga. Dia sangat lihai dalam berbagai tugas bahkan bisa dikatakan dari semua orang yang pernah ditugaskan. Ikki paling mudah mencapai keberhasilan. Sangat sempurna penilaian sejak awal debut sebagai seorang tentara bayaran.
Orang itu sekarang berusia sekitar empat puluh lima tahun dan masih belum menikah sebab lebih memilih fokus terhadap pendidikan. Dia sedang rehat selama satu tahun mengajar karena sedang melakukan sesuatu.
Secara tak diduga. Seseorang berambut coklat sedikit panjang sampai kuping datang dari belakang.
"Kalian pasti sedang mencariku. Apakah aku benar?" tanya orang itu dengan ekspresi cukup hangat.
Ryuta bersama Lory langsung terkejut sambil berjalan mundur.
"Bagaimana bisa—"
"Aneh sekali," ujar Lory dalam hati merasa heran karena tak mampu merasakan hawa keberadaan dari orang itu.
Orang itu tak lain ialah Shunsuke Ikkigarou.
"Tidak kusangka kau yang mau belajar padaku ya Ryuta Ryukiriga."
"Salam kenal, wahai tuan Shunsuke Ikkigarou."
"Apakah kau yakin mau belajar dibawah pengawasanku?"
"Saya yakin dan siap!"
"Kalau begitu ikut aku. Panggil saja aku Ikki."
"Siap Ikki-sensei!"
Ryuta bersama Lory hanya ikut kemana Ikki pergi sampai di sebuah rumah sederhana. Kemungkinan ini adalah tempat tinggal Ikki, orang berjuluk Kira The Wind.
"Jadi, kau mau berlatih selama berapa lama?"
"Empat tahun."
"Cukup lama. Pasti kau sudah memikirkan berbagai jenis risiko dan perhitunganmu matang juga."
Lory kini mengerti kalau Ikki merupakan seseorang dengan kemampuan cukup tajam dalam mengamati berbagai hal mulai dari hal sederhana. Bahkan bisa dikatakan bisa membaca situasi bermodalkan melihat sekilas.
Bukan hal mustahil jika dia bisa tahu bagaimana tekad majikannya tersebut dalam memperkuat diri.
"Kita akan pergi jauh. Karena ada satu tempat khusus yang bisa membuat potensi seseorang ditarik paksa."
"Apa?"
"Kenapa? Apakah kau ragu The Ice Prince?"
"Apa maksud anda memanggil saya The Ice Prince?"
Tawa kecil muncul. Ia menjelaskan kalau Ryuta cocok diberikan julukan tersebut sebab selain sangat biasa saja, kemampuan Ryuta dalam berbagai hal sangatlah beku. Bahkan raut wajahnya selalu menggambarkan tanda kalau dia benar-benar bagaikan sebongkah es.
"The Ice Prince. Aku akan melatihmu sampai kau menginginkan kekuatan sesuai keinginanmu. Akan tetapi..."
Ryuta agak penasaran soal kalimat terusan Ikki.
"Saat kau mulai merasa sedikit tahu tentang perjuangan berat dalam memperkuat diri. Kau akan berubah dalam berbagai hal. Jadi, kuharap kau siap menerima konsekuensi itu. Ingat. Kau juga harus menepati janjimu. Kau sudah berkata akan berlatih selama empat tahun bersamaku."
"B-Baik. Aku mengerti."
"Kita berangkat besok malam. Tidak perlu membawa barang-barang seperti pakaian dan sebagainya."
"Hah? Baiklah." Ryuta menjawab walau heran.