Bab 1

“Al, sudah seminggu ini aku nge—gym di pusat kebugaranmu. Tapi kenapa tidak ada perubahan sama sekali, ya?” desis Beyonce penuh kecewa pada Aldrich, sahabatnya itu.

“Sabar, Bey. Semuanya butuh proses,” sahut Aldrich.

Beyonce yang memberengut kesal lalu berjalan ke arah cermin di tempat gym itu. Ia mematut dirinya dari pantulan cermin.

“Ya ampun! Apakah ini aku?” Beyonce mengasihani dirinya sendiri.

Aldrich hanya meliriknya sekilas sebelum kembali serius pada pekerjaannya.

“Gendutnya aku?” Beyonce meraba wajahnya. Pipinya masih tampak chubby dan dagunya berlipat–lipat.

Kemudian ia menyentuh perutnya yang sedikit bergelambir jika membungkuk. Terlebih pahanya itu yang membesar, sudah seperti ibu-ibu yang pernah melahirkan anak sepuluh.

Sungguh! Rasanya Beyonce muak dan ingin menangis histeris saat melihat bentuk tubuhnya sendiri. Tapi tidak mungkin, karena di tempat gym terdapat banyak orang. Bisa–bisa dia dikira orang tak waras.

Padahal dua hari lagi, dia akan menikah dengan tunangannya Zack Florenzo di sebuah hotel bintang lima di Jerman.

“Aku harus bagaimana?” gumamnya sedih. Beyonce memejamkan matanya, membayangkan hal buruk saat dipernikahannya nanti.

Beyonce Linch seorang wanita muda cantik berusia 25 tahun. Ia biasa dipanggil dengan sebutan 'Bey', memang lebih muda dari Zack Florenzo yang berusia 30 tahun. Wanita itu menjalin kasih dengan Zack selama dua tahun dan ketika merasa cocok, keduanya pun memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius dalam sebuah pernikahan.

Tetapi karena kesibukannya masing-masing dalam pekerjaan, membuat mereka berdua akhir-akhir ini jarang bertemu.

Beyonce sangat mencintai Zack, begitupun sebaliknya. Keduanya pun bahkan telah berkomitmen untuk saling menjaga diri. Hanya sekedar berciuman bibir dan hal itu pun jarang dilakukan.

“Itu karena kamu terlalu banyak makan makanan berlemak, Bey. Kurangilah makan daging dan jadilah vegetarian,” sahut Aldrich memberinya saran. Ia tak menolah karena terlalu sibuk membantu member lain menggunakan leg press machine.

"Tapi, Al?"

‘Astaga! Lagi–lagi dia mengabaikanku, ck!’ batin Beyonce sangat kesal, dia paling tidak suka dinomor duakan.

Tanpa aba–aba, Beyonce lalu merengkuh pinggang Aldrich dengan erat dari belakang. Seperti yang biasa ia lakukan, karena keduanya memang sudah berteman lama.

Ya, bagi Beyonce memang lumrah dan tak ada rasa canggung. Lain halnya dengan Aldrich yang memiliki perasaan khusus kepada Beyonce.

Aldrich merasa risih dipeluk Beyonce terlalu erat. Pria itu lekas memprotes, "Bey, lepaskan tanganmu dariku. Tubuhku lengket dan bau keringat!” peringatnya dengan menepis halus tangan sahabatnya itu yang melingkar di pinggangnya.

Namun apa jawaban Beyonce sungguh di luar dugaan!

"Ah, tidak bau. Wangi kok?" Beyonce malah esktrim mengendus-endus aroma tubuh Aldrich. Sampai pria bertubuh tinggi tegap dengan badan berotot itu merasa tak nyaman kini menjadi pusat perhatian pengunjung di pusat kebugaran.

Dada Beyonce yang besar menempel erat di punggung Aldrich. Terasa hangat dirasakan pria itu yang hanya menggunakan kaos tipis. Begitu juga kewanitaannya yang menyentuh bokongnya.

‘Goddamn. Lama–lama aku bisa melewati batas kalau begini! Kenapa Bey susah untuk diberitahu?!’ rutuk Aldrich dalam hatinya.

Bentuk tubuh Beyonce tergolong serba ekstra dari seukuran wanita seumurannya dan merupakan tipe idaman para pria buaya darat.

Sayangnya, wanita itu tak memiliki kepercayaan diri dengan aset berharga yang dimiliki. Dia malah berkeinginan merubah tubuhnya menjadi ramping seperti permintaan Zack.

‘Dasar bodoh Zack itu! Punya calon istri yang cantiknya seperti bidadari malah tak bersyukur dan suka neko–neko. Beyonce itu seksi, kalau tak percaya! Suruhlah Beyonce telanjang dihadapannya. Pasti miliknya langsung on fire!’ gerutu Aldrich diam-diam saat mengamati Beyonce dari atas hingga bawah, dengan susah payah menenggak saliva.

Tubuh Beyonce sangatlah seksi, dadanya yang besar membusung dan bokong sintal Beyonce itu surga keindahan dunia di balik seragam gym—nya yang lebih mirip bikini.

Ya, tentu saja sebagai pria normal. Milik Aldrich sudah tegang sedari tadi dan terlihat menggembung dalam cetakan jogger sweatpant yang dikenakannya.

"Bey, aarrh!" keluh Aldrich tertahan dalam suara beratnya dengan nafas memburu. Hanya dia sendiri yang tau dan menyimpannya rapat-rapat jika tengah berhasrat saat ini.

Aldrich takut kelepasan. Ia pun segera membalik tubuh Beyonce ke hadapannya dengan menarik kedua pergelangan tangannya itu.

“Dengar ya, jangan pernah memelukku seperti itu lagi di muka umum,” tutur Aldrich dengan lembut.

“Ya ampun, Al. Kau ini. Aku ‘kan sahabatmu, jadi sudah biasa kita berpelukan. Lalu apa salahnya?” sanggah Beyonce karena ia beranggapan Aldrich tak normal, jadi dia masih terus lengket pada Aldrich.

Aldrich sulit menjawab, mendadak lidahnya kelu. Segeralah ia mengalihkannya dengan hal lain dan membuang pikiran kotornya jauh-jauh.

“Lebih baik kau berlatih lagi dengan alat olahraga lain, oke?” bujuk Aldrich.

Beyonce menarik napas dalam–dalam, kali ini akan mengikuti maunya. “Baiklah.”

Aldrich mengulum senyum mengagumi wajah cantik Beyonce dengan sembunyi–sembunyi.

Dulu Aldrich pernah sebenarnya mengungkap perasaannya pada Beyonce. Namun, wanita itu malah menganggapnya sebagai candaan dan justru menerima cinta dari Zack, pria lain yang sekarang menjadi kekasih bahkan segera menikahinya dalam waktu dekat.

Aldrich sangat kecewa waktu itu. Dia sangat frustasi sampai memutuskan tak ingin berhubungan dengan wanita lain, karena ia begitu mencintai Beyonce hingga sulit untuknya berpaling.

Tapi hal itu justru menguatkan dugaan, tentang desas-desus gila tentangnya. Entah siapa yang memulai berasumsi dan menyebarkan cepat gosip murahan itu. Bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis.

Sembari berjalan di atas treadmill, Beyonce kembali mengeluh, “Kau tahu? Zack bilang, kalau aku terlalu gemuk, Al," sedihnya dengan menundukkan wajah.

Aldrich merangkul bahu Beyonce untuk ditenangkan, mengusap rambutnya dengan lembut dan berkata manis. “Hanya orang yang bermata katarak saja yang mengatakan kau begitu. Tapi bagiku kau adalah wanita paling sempurna, Bey.”

“Sungguh?” Beyonce menatap Aldrich penuh pengharapan.

Aldrich mengangguk. "Ya, Bey. Aku tak berbohong—"

“Pasti kau hanya membesarkan hatiku saja kan, Al?”

“Eh! Siapa bilang? Dari dulu mana pernah aku berbohong padamu. Beyonce ku itu cantik, manis dan seksi …," ucap Aldrich sambil mencubit pipi chubby Beyonce dengan gemas.

Beyonce cemberut, wajahnya ditekuk sekaligus bibirnya manyun. Tak percaya akan pujian dari Aldrich, buktinya Zack selalu memprotesnya jika video call. Menyuruhnya untuk diet dan membentuk tubuhnya layaknya Katy Perry.

“Huh? Dia ingin kau seperti Katy Perry?” Aldrich terperanjat dengan mata terbelalak. Ia tak menyangka semakin hari obsesi Zack agar Beyonce memiliki tubuh langsing semakin menggila.

Beyonce membuang napas kasar sembari berhenti menggunakan treadmill. “Ya, Zack menginginkan tubuhku bisa seperti aktris Hollywood itu.”

Mendengarnya saja, Aldrich turut kesal. Pria macam apa dia? Belum menjadi suami saja terlalu banyak menuntut.

“Suruh saja Zack menikahi Katy Perry dan kau menikah denganku!” celetuk Aldrich bersungut geram.

“Apa? Menikah denganmu?”

Bab 2

“Menikah denganmu?” Beyonce tertegun menatap Aldrich yang mematung dan seperti orang linglung.

Menyadari salah bicara, Aldrich mulai gusar. Sementara itu, Beyonce tiba–tiba menertawainya dengan terpingkal–pingkal.

“Kau selalu sukses menghiburku dengan candaan mu ini, Al,” tukas Beyonce dengan enteng.

‘Apa? Dia bilang hanya candaan?’ batin Aldrich mendera kecewa.

Beyonce tak tahu, kalau ajakan menikah yang diucapkan Aldrich tulus dari lubuk hatinya. Bahkan bisa dinyatakan kode keras, tetapi sayangnya sahabatnya itu tidak kunjung peka.

“Mungkin di dalam mimpi … aku menjadi suamimu,” sahut Aldrich ikut tertawa kecut demi menyembunyikan rasa malu.

“Lagi pula, kenapa Zack itu bertambah aneh sekarang? Mana ada dalam waktu seminggu dan terkesan dadakan, lalu dia menyuruhmu untuk mengecilkan badan? Semua butuh proses, Bey sayang. Tidak ada yang instan.”

“Kau benar, Al. Tapi bagaimana lagi? Lihatlah pahaku ini terlalu besar dan kendur, bukan? Berbeda ukurannya sewaktu aku fitting gaun pengantin Minggu lalu, aku takut gaunku itu tak muat. Please Al, bantu aku?” rengeknya sambil mengguncang tangan Aldrich dengan tampang memelas. “Uang tabunganku sekarang juga telah menipis, karena telah habis terkuras demi biaya pernikahan—” Beyonce segera membekap mulut karena keceplosan.

Aldrich tercengang mendengarnya, refleks mencengkeram dengan kuat kedua bahu Beyonce dan menatapnya begitu intens.

“Memangnya si Zack tak mau patungan, huh?” Aldrich tersulut emosi. Ia tak terima jika pria itu memanfaatkan Beyonce.

“Tidak, Al. Ma–maaf, tadi aku hanya bercanda,” ralat Beyonce dengan gugup.

“Bercanda? Hai, Bey. Sorot matamu itu tak bisa menipuku. Jawab dengan jujur!” desaknya.

Akhirnya Beyonce mengaku. “Patungan sih, Al. Tapi … aku yang lebih banyak mengeluarkan uang. Kata dia, tabungannya juga menipis setelah membayar gedung dan lain-lain, jadi aku—”

“Jadi kau menurut saja begitu disuruh-suruh menghabiskan uangmu demi fantasi gilanya! Dia yang ingin mewujudkan pesta pernikahan mewah. Tapi kau yang membiayainya?!” tanya Aldrich menekan dengan suara keras, hingga semua orang di gym tersebut menjadikannya pusat perhatian.

Beyonce mengangguk lemah. Aldrich rasa masalah ini semakin serius. Tak ingin pembicaraannya didengar orang lain, Aldrich lalu menarik tangan Beyonce.

“Kau mau membawaku ke mana, Al?”

“Ikut saja dan jangan cerewet!”

Tiba di depan ruang ganti yang kebetulan sepi. Aldrich mengajaknya bicara beberapa mata.

“Dengarkan aku baik–baik. Jangan terlalu polos jadi wanita, Bey. Menurutku, Zack sepertinya menipumu dan hanya memanfaatkanmu saja," peringat Aldrich sekali lagi.

Beyonce menggeleng tak setuju. “Tidak, tidak. Aku mengenal Zack dengan baik, Al. Dia hanya malu dengan rekanan bisnisnya saja—"

"Halah, persetan dengan itu! Sadarlah Bey, tinggalkan dia sebelum terlambat. Banyak pria lain mengantre jika kau mau membuka hatimu setelahnya,” potong Aldrich.

“Tidak. Aku hanya mencintai Zack. Jangan berkata begitu lagi, Al. Tolong … bantu aku kali ini, saja. Aku mohon, hanya kau yang aku percaya dan bisa membantuku.” Beyonce menyatukan tangannya ke depan Aldrich.

Melihat sahabatnya bersedih, hati Aldrich teriris. Kesedihan Beyonce juga kesakitannya, kiranya begitulah cinta yang tulus.

“Oke Bey, kali ini aku akan membantumu. Datanglah sore nanti ke rumahku, karena aku punya alat kebugaran yang baru aku beli kemarin dan kau bisa menggunakannya secara gratis,” kata Aldrich membuat wajah murung Beyonce menjadi ceria.

“Gratis? Aku mau, Al! Aku mau!” sahut Beyonce tersenyum lega dan penuh semangat.

Menggunakan alat kebugaran dan mendapat trainer gratis dari sahabatnya. Itu suatu keberuntungan, bukan?

Senyuman Beyonce memudar setelah mendengar ucapan Aldrich.

“Ya. Tapi dengan satu syarat!”

“Syarat apa?" Beyonce bertanya dengan sedikit memaksa, matanya mencuram pada Aldrich.

“Datanglah ke rumahku nanti sore. Kau akan tahu sendiri, Bey.” Aldrich mengedipkan sebelah matanya ke Beyonce sambil berlalu.

Meninggalkan wanita itu sendiri dalam wajah tercenung karena penasaran.

Sore itu pun tiba, tapi Beyonce tak kunjung datang ke rumah Aldrich. Bahkan sudah lima kali Aldrich coba untuk menghubungi Beyonce. Lima kali pula tidak direspon, malah operator provider itulah yang menjawab setiap panggilannya.

“Akh! Kamu ada di mana Bey? Jangan membuatku khawatir,” gumam Aldrich sambil terus mencoba menelepon.

“Mengapa telepon dariku tidak diangkat! Apa … aku harus menghubungi Zack?” pikirnya sesaat berhenti mondar–mandir di depan jendela ruang tamu.

Niat itu diurungkan Aldrich karena dia malas berurusan dengannya. Tapi mendadak perasaan Aldrich menjadi tak enak bercampur gelisah, hingga makanan yang sengaja ia masakkan untuk Beyonce menjadi dingin.

Rencananya, hari itu Aldrich bermaksud mengungkapkan perasaan cintanya lagi pada Beyonce. Siapa tahu wanita cantik tersebut akan berubah pikiran? Dan itu pun akan dijadikannya syarat sebelum Aldrich akan memberikan pelatihan gratis untuknya.

Aldrich tahu kebusukan dari Zack dan ia tak mau hidup Beyonce nantinya menderita jika terlanjur menikah dengannya.

Jadi sebelum terlambat, Aldrich ingin memperingatkannya lagi dan misalnya usahanya berhasil. Ia bersedia menerima Beyonce apa adanya, tanpa memandang fisik karena ia tulus mencintai Beyonce.

***

Sudah terlewat tiga jam lebih Beyonce belum juga sampai ke rumah. Aldrich semakin panik bila terjadi sesuatu pada Beyonce, sehingga ia memutuskan untuk pergi mencarinya keluar. Namun begitu ia mencapai pintu, terdengar ketukan cukup keras di luar pintu rumahnya dan Aldrich hafal betul siapa pengetuknya itu.

“Buka Al, aku datang!”

Tok! Tok!

“Astaga! Kenapa suaranya terdengar seperti tengah mabuk?" Aldrich yang terkejut lekas membuka pintu.

Brukk!

Tubuh Beyonce langsung ambruk dan jatuh tepat di pelukan Aldrich. Kuat dugaan memang Beyonce mabuk karena Aldrich mencium bau alkohol menyeruak dengan kuat dari mulut Beyonce.

“Bey, kau mabuk? Sebenarnya ada apa?!" cerca Aldrich khawatir, lantaran baru kali ini melihat Beyonce mabuk.

Sahabatnya itu gadis sederhana, jangankan minum-minuman beralkohol. Pergi ke Club malam pun tak pernah.

Beyonce nyengir menatap Aldrich. “Ssst …” Jari telunjuknya ditempelkan ke bibir Aldrich, matanya hanya terbuka sedikit begitupun kewarasannya.

Pria itu mematung, jantungnya berdegup kencang merasakan jari Beyonce menempel di bibirnya.

“Aku benci Zack! Dia menyebalkan, selalu menyuruhku mengecilkan bentuk tubuh. Padahal ia sudah tahu kalau setiap hari aku sibuk bekerja di kantor!" ungkap Beyonce bernada kesal.

Aldrich membuang napas kasar yang berhembus menerpa helaian rambut Beyonce yang menutupi wajah. “Zack lagi, Zack lagi? Dasar kutu busuk!" geram Aldrich mengumpatinya, “mari ku papah ke sofa, biar aku mengambilkan susu untukmu!"

“Susu? Tidak, Al! Aku mau olahraga saja sekarang, mana alat itu … apa namanya ya? Hehe, aku lupa.”

“Curved treadmill.”

“Ya, milk.” Beyonce salah menyebut.

Aldrich memutar malas bola matanya karena Beyonce mulai melantur. Efek alkohol telah menguasai sebagian akal sehatnya.

Daripada pusing mendengar ocehan Beyonce, Aldrich langsung saja menggendong tubuhnya duduk di atas sofa.

“Hai, kau mau membawaku ke mana? Ke surga? Turunkan aku, Al!”

“Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali membawakan susu untukmu.”

“Hehe,” cengar-cengir Beyonce menanggapi Aldrich yang berlalu pergi ke dapur.

Tak tahunya wanita itu malah menyusulnya dan mengejutkan Aldrich karena Beyonce telah berada di sebelahnya. Wanita itu berdiri dengan pose manja meliuk-liukkan tubuhnya.

Bibirnya dimanyunkan maju, sedangkan kancing kemejanya terbuka sambil bergelayut manja mengalungkan kedua tangannya ke leher Aldrich.

“Aku kurang apa sih, Al? Kurang cantik? Kurang seksi atau dadaku ini kurang besar?" racau Beyonce tak keruan.

Aldrich menyeret salivanya dengan susah payah ketika ditanya begitu, apalagi saat kedua bola matanya tak sengaja turun dan mengamati ke arah dada Beyonce.

‘Jaga kewarasanmu, Al. Ingat! Dia sahabatmu sendiri, kau jangan terpancing!’ batinnya kalut, Aldrich segera memalingkan wajahnya ke arah lain, demi menghindari pemandangan surgawi yang meruntuhkan iman itu.

“Ekhem! Bey, sebaiknya kau tunggu saja di sofa!” suruh Aldrich sambil menahan napas, ketika suhu tubuhnya mulai naik.

“Ah, Aldrich. Kenapa kau mengusirku? Aku maunya di sini bersama kamu, titik!" kukuh Beyonce menolak.

Wanita itu memang keras kepala, meski Aldrich berulang kali menyuruhnya pergi. Justru Beyonce akan semakin menjadi-jadi. Aldrich sampai kesulitan menuang susu di gelas karena tangannya gemetaran terus digoda wanita mabuk itu.

“Please, Bey, nanti susunya tumpah."

“Aldrich! Kamu jahat! Pokoknya aku tak mau pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi!” Beyonce mendengkus kesal.

“Yang mana?” Aldrich berakting lupa.

Dia sangat malu dan risih membahas tentang aset wanita. Kalau Aldrich seorang wanita sih, wajar saja ditanyakan soal dalaman wanita. Masalahnya Aldrich ini lelaki tulen dan jantan.

“Ih! Dadaku ini?"

Mata Aldrich melotot ketika Beyonce sengaja menyembulkan dadanya itu tepat di mata Aldrich.

“A–aku tak tahu Bey, minggir lah! Nanti susu di gelas yang kubawa menjadi tumpah,” peringat Aldrich dengan salah tingkah.

“Jawab dulu!” Beyonce memberondong.

“Bey … jangan tanyakan itu padaku. Aku tak tahu,” elak Aldrich mulai sesak napas. Ia bisa melampaui batas jika terus digoda.

Bab 3

Tapi karena Beyonce terlalu aktif bergerak. Alhasil gelas itu bergoyang-goyang, tangan Aldrich sulit mengimbangi gelas itu karena Beyonce memeluknya dari depan dengan erat.

“Bey, kumohon lepaskan pelukanmu?” pintanya dengan lembut, sekesal dan semarah–marahnya Aldrich kepada Beyonce. Ia tak tega berkata kasar atau membentak.

“Tidak, tidak.” Beyonce semakin menggodanya.

“Oh, ya ampun! Kenapa kau mabuk, sih? Kalau begini aku yang rugi. Lebih baik setelah ini aku mengantarmu pulang,” putus Aldrich, tidak mungkin seatap berdua dengan kondisi Beyonce yang mabuk.

Begini saja Beyonce sudah membuat Aldrich panas dingin, apalagi jika dibiarkan tinggal lama di rumahnya yang sepi hanya berdua. Bisa–bisa Aldrich lepas kendali, kendati Aldrich hanya tinggal sendiri di rumahnya karena kedua orang tuanya sudah lama meninggal.

“Jangan salahkan aku, Al. Tapi salahkan, Zack. Dia tak mau mengangkat teleponku lagi setelah dia marah, bahkan dia mematikan teleponku. Sungguh menyebalkan, bukan?” keluhnya mengadu tanpa sungkan, karena ia menganggap Aldrich seperti keluarga, kakak atau saudara.

Dulu Aldrich pun sama, tidak sekarang ketika cintanya pada Beyonce tumbuh semakin besar.

“Iya, iya. Zack yang salah, kau puas?” tanya Aldrich memandangi wajah imut Beyonce saat ini.

Bibirnya itu yang merah membuat Aldrich gerah dan haus. Aldrich mulai kewalahan dan kurang fokus. Sehingga di saat yang bersamaan gelasnya diangkat ke atas, Aldrich juga melihat Beyonce akan terjatuh. Dia langsung menangkap tubuh Beyonce dengan satu tangannya. Beyonce sekarang aman, tapi susu di gelas yang dipegang Aldrich tumpah ke dadanya sendiri.

“Ya, tumpah,” desah kecewa Aldrich, tapi Beyonce justru menertawainya.

“Mau dijilat?”

“Apa katamu barusan?” Aldrich tersentak sampai tubuhnya tegang.

“Bercanda.” Beyonce terkekeh yang membuat Aldrich kini merasa lega.

Menit berikutnya, Beyonce terlihat duduk tenang dan bersikap manis di sofa ruang tamu. Aldrich baru saja melepas kaosnya akan membawanya ke mesin cuci.

Tapi ternyata tubuh kekar pria tampan itu, justru membuat mata Beyonce tak berkedip. Ia terpana dan berdecak kagum mengamati pahatan sempurna tubuh sahabatnya itu, dengan segera bangkit dari sofa untuk mendekati Aldrich.

“Astaga, Al! Tubuhmu bagus sekali!” Jari lentik Beyonce meraba dada pria itu.

Otot perut bersusun enam, dadanya padat dan sekal. Dengan bulu tumbuh di sana membuat Aldrich tampak jantan.

“Jangan disentuh begini!" larang Aldrich agak mendesah sambil terpejam menurunkan jari wanita itu dari dadanya. “Ssh!”

“Kenapa tak boleh?” Beyonce mendongak menatap Aldrich yang jauh lebih tinggi darinya.

Aldrich membisu, bingung menjelaskannya. Tapi Beyonce selalu punya cara untuk mengacaukan konsentrasi Aldrich dan pertahanannya.

“Dadamu kenapa bisa sebagus ini, Al? Apakah dada Zack juga begini?" Beyonce bertanya hal sepolos itu dan Aldrich menanggapinya dengan sebuah gelengan malas.

“Aku tak tahu.”

“Selalu saja tak tahu, kapan kau tahunya? Kau sama dengan Zack, tipe–tipe pria kurang peka!” omel Beyonce.

“Hmm, terserah.” Aldrich kembali berusaha menyingkirkan tangan Beyonce dari dadanya.

Sayangnya jari lentik Beyonce tak hanya menyentuh dadanya saja, sekarang bergerak semakin ke atas. Mengelus-elus rahang kokoh Aldrich yang cambangnya ditumbuhi bulu–bulu halus rapi itu dengan tatapan sayu dan intens.

“Sejak kapan kau tampan?”

Pertanyaan absurd Beyonce membuat Aldrich tersenyum tipis yang anehnya terlihat menawan di mata wanita itu.

“Kau baru menyadarinya? Sejak dulu aku memang tampan,” jawab Aldrich penuh percaya diri.

“Ya, kuperhatikan.” Mata Beyonce menyipit. “Kau lebih tampan dari Zack.”

Hati Aldrich bahagia mendengarnya. “Benarkah itu Bey?”

Beyonce tak menjawab, dia malah memeluk Aldrich dengan tiba–tiba.

“Al …,” Beyonce memanggil Aldrich dengan suara lembut cenderung seksual karena efek mabuknya itu. Lalu membawa pandangannya naik menatap Aldrich sampai pria itu menjadi gugup.

“Hmm, ya? Kenapa kau tak menjawabku?” sahut singkat Aldrich juga menatap Beyonce dengan tatapan mendamba. Ia terbawa perasaan, hanya mengikuti kata hatinya saat dirinya menerima perlakuan Beyonce.

Aldrich tahu kalau ini salah, tapi apa salahnya berusaha merebut cintanya sebelum pernikahan terjadi?

"Gimana rasanya sih, Al? Bersentuhan itu?” tanya Beyonce.

Mata warna zamrud Aldrich terbeliak sempurna, merasa aneh dengan pertanyaan Beyonce. Lalu Aldrich pun mengedikkan bahu tak bisa menjawab.

Lantaran otaknya sekarang travelling ke mana-mana membayangkan bercumbu dengan Beyonce. Nafasnya mulai memburu secepat denyut jantungnya.

Lagi dan lagi ketika Aldrich menelan salivanya paksa sambil mengusap lembut punggung wanita itu. Imannya mulai goyah, tapi Aldrich mati–matian berusaha bertahan dari gejolak itu.

“Kok diam?” Beyonce bingung karena Aldrich mengacuhkannya.

Aldrich menguatkan mental untuk menjawab, “Pertanyaanmu aneh dan nyeleneh. Aku tak bisa menjawab. Humm, tapi coba tanyakan itu saja ke Zack.”

Wajah Beyonce sontak merengut, melepas sendiri pelukan di tubuh Aldrich.

Tapi, Aldrich dengan cepat menahan pergelangan tangannya. “Bersentuhan yang bagaimana maksudmu?” Aldrich tahu, tapi berakting bodoh.

“Eee, itu …" Beyonce memainkan jarinya di dada Aldrich, memutar ujung jari lentiknya ke permukaan dada padat itu tanpa sadar apa yang dilakukannya bisa berakibat fatal. "Bercinta di atas ranjang?"

"Kalau itu … a–aku tak tahu," gugup Aldrich kemudian membuang muka.

Menepis jari Beyonce dari dadanya, berlalu pergi dari sana saat itu juga. Bisa gila Aldrich jika terus di dekat Beyonce yang godaannya benar maha dahsyat.

Pertanyaannya semakin menjurus ke mana-mana dan tingkahnya pun berani di luar batas. Aldrich tak yakin sanggup menahan hasratnya itu, karena sesuatu dalam dirinya telah bangun dan membuat celananya sesak.

Namun, Beyonce mengejarnya lalu memeluknya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di punggung tegap Aldrich.

“Jangan pergi Al, temani aku di sini. Eum?" Suara manja bercampur serak Beyonce menghentikan langkah Aldrich.

Nafas hangat wanita itu menjalari seluruh permukaan kulit punggung Aldrich yang seketika meremang.

"Bey, aku mohon jangan begini. Lama-lama aku jadi tak tahan?" keluh Aldrich berterus terang daripada membohongi diri sendiri.

Siapa tahu dengan berkata jujur, Beyonce mau melepaskan pelukannya. Pelukan memang kemudian dilepas tapi Beyonce malah menertawainya.

"Tak tahan? Bukankah kau ini gay, sahabatku? Haha!" lanjut Beyonce tertawa keras sambil berjalan sempoyongan. "Jangan bercanda deh, Al! Mana mungkin milikmu bisa berdiri sementara kau saja tak pernah mendekati seorang wanita? Malahan kau lebih sering didekati pria-pria melambai itu?"

Dada Aldrich seketika bergemuruh hebat, tak terima dituduh sembarangan. "Aku normal Bey, bukan gay?!" elaknya dengan emosional.

“Perutku mulas Al, sudah cukup bercandanya? Haha." Beyonce belum puas dan masih tak percaya penuh jika Aldrich berkata jujur.

“Apa perlu kubuktikan kalau aku memang normal?" tantang Aldrich dengan nafas memburu, meraih kedua bahu Beyonce lalu menatap mata wanita itu lebih dalam dan penuh ambisi.

"Dengan apa, Al? Ayo coba buktikan!" Beyonce malah menantangnya balik, masih bersikukuh dengan pendiriannya kalau Aldrich seorang penyuka sesama jenis.

Aldrich panas dikatakan begitu, lalu mengendurkan tangannya dari kedua bahu Beyonce. Membuktikan bahwa ia normal dengan cara tak biasa. Perlahan-lahan Aldrich melepas gespernya, menariknya lalu dibuangnya ke bawah lantai.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED