Bab 2

"Ambillah kalau kamu bisa!" Seru Jilly lantang dengan nada meremehkan. Dia begitu yakin kalau Joe akan melakukan perbuatan yang sia sia saja. Sambil itu, dia melempar kotak kalung pemberian Joe, namun tidak sampai mengenai Joe. Berserakanlah kalung itu. Bik Mar datang lalu membereskannya. 

"Bagus sekali kalung ini. Sebaiknya aku simpan saja," gumam Bik Mar. 

Tidak banyak yang tahu, kalau Joe Hans, sekurity PT Prima Multiguna merupakan panglima perang khusus yang terpaksa pulang ke kampung halaman untuk menyamar demi mencari siapa pembunuh adik kandungnya, Nadira Putri Hans. 

Nadira ditemukan tewas di toilet pada jam kerja di perusahaan PT Prima Multiguna. Uniknya, kasus ini ditutup seperti sampah yang dibuang begitu saja. Tidak ada pihak berwajib yang menanganinya secara serius. Mengetahui itu Joe pun geram. 

Karena alasan itu lah Joe Hans kembali pulang ke negaranya lalu melamar pekerjaan sebagai sekurity di perusahaan tempat Nadira bekerja. Di sini Joe dibantu agent Caesar untuk menunjang semua kebutuhan fasilitas yang dia inginkan. Sebagai panglima tertinggi, Joe mendapatkan Infinity Card Access untuk menjadi, membeli, menggapai apapun yang dia inginkan. Semua fasilitas itu dia dapatkan langsung dari pimpinannya yang sangat dirahasiakan yang berada di negeri Menara. 

Sialnya, baru dua minggu bekerja, Joe sudah harus berhadapan dengan masalah. Kejadian itu terjadi pada waktu PT Prima mengadakan Gatering Family di sebuah hotel. 

Singkatnya, malam itu Joe beakhir di atas ranjang bersama seorang wanita. 

Tentu saja itu membuatnya shock. Tapi apalah daya. Semua terjadi begitu saja tanpa tau siapa yang memulai. 

"Sepertinya aku tidak ingat kejadiannya," kata Joe pada wanita itu. 

PLAK! 

Alhasil, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Joe sehingga membuat pipinya merah. Rasanya seperti dikerubutin semut semut kecil. 

"Mudah sekali kau mengatakan itu setelah kau menikmatinya!" Balas gadis yang sudah direnggut kehormatannya itu menatap Joe marah. 

"Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab." 

"Tidak semudah itu!" 

Setelah kejadian itu, Joe terus kepikiran sosok wanita yang mengganggu tidurnya. 

Wanita itu sangat membenci Joe lantaran pekerjaan Joe yang hanya seorang sekurity. Sementara dirinya merupakan asisten pribadi tuan Nicholas, CEO PT Prima Multiguna dan juga anak dari konglomerat ternama di negeri ini. Tentu saja akan keluarganya akan menolak mentah mentah kehadiran Joe. 

Membayangkannya saja membuat gadis itu mual. Namun waktu menjawab lain, ternyata wanita itu jatuh hati pada Joe. 

Tidak bisa dipungkiri memang, Joe dianugerahi perawakan yang sangat mempesona. Garis tegas pada rahangnya yang terukir seperti pahatan agung dari Maha Karya Tuhan pencipta yang Maha Sempurna.  Belum lagi, karakter baik yang Joe miliki membuat wanita itu semakin luluh dihadapan Joe. Puncaknya, pada malam berat yang di alami gadis itu lantaran bermasalah pada salah satu anggota gengster di club malam, yang hampir membuatnya menderita, Joe datang sebagai penyelamat. 

Semenjak itu, wanita yang sangat dikagumi karena kecantikannya yang di atas rata dan banyak membuat pria rela menceraikan istri demi mendapatkan dirinya, ternyata dia harus mengakui kalau dirinya sudah jatuh hati pada Joe. 

Singkatnya, Jilly menikah dengan Joe tanpa restu dari keluarga besar Miller. Semua menentang. Sampai papa dan mama Jilly mengancam kalau sampai Jilly menikah dengan Joe dia akan dihapus dari ahli waris. Namun karena dia begitu mencintai Joe, Jilly mengambil semua resiko itu. Dia tidak peduli. 

Mengingat itu rasanya membuat dadaku sesak! Bagaimana bisa dia membodohiku seperti ini! Batin Joe geram. Tanpa sadar kakinya sudah menapak di pelataran rumah mewah Jilly. 

"Hei anak haram! Berani juga kau menampakan batang hidungmu di rumah ini!" 

Suara itu sangat tidak asing terdengar di telinga. Joe menoleh. Lalu dia mendapatkan Rosita Miller sedang berdiri sambil memegangi binatang peliharaan yang namanya sama persis dengan dirinya. Sungguh, pada saat Joe mengetahui itu, darahanya mendidih. Bisa bisanya dirinya disamakan dengan binatang paling hina di seluruh muka bumi. Rosita memang sengaja memberi nama pada hewan peliharaanya seperti itu setelah Jilly resmi menjadi istri Joe. Katanya, itu sebagai hadiah pernikahan dari ibu kepada putrinya. 

"Aku ingin mengambil anakku. Berikan Kiara padaku," pinta Joe. 

"Heuh!" Rosita mendengkus. Tentu saja dia sangat melecehkan Joe. "Siapa kamu berbicara tidak sopan seperti itu padaku, hah!" 

"Berikan Kiara, setelah itu aku akan pergi." 

Dua alis mata Rosita saling bertautan. "Dasar gembel! Kau pikir semudah itu kau mengambil cucuku, hah! Joe Joe. Kalau Kiara aku berikan padamu, kau mau kasih makan apa!" 

Rupanya ribut ribut ini mengundang semua isi rumah keluar. Kebetulan sekali saat ini keluarga besar Miller sedang kumpul, kecuali Aland Miller. Dia sedang berada di Hongkong. 

Kakak Jilly yang sudah menikah dan seharusnya tinggal di NewZealand, Felicia, kebetulan ada di sini bersama suami dan dua putranya yang masih berusia lima dan tiga tahun. Begitupun adik Jilly yang hanya berpautan satu tahun di bawah Jilly, Salika, pun ikut nimbrung untuk membully Joe. 

Sebenarnya, Jilly masih memiliki kakak yang usianya berbeda dua tahun di atasnya. Hanya saja dia mengalami gangguan mental. Jadi keluarga Jilly menitipkannya ke panti lantaran malu memiliki anak seperti itu. Joe dan Jilly pernah beberapa kali menemui Jesika untuk memberinya support. Hanya saja, memang Jesika seperti orang yang kurang waras. Padahal fisiknya begitu mirip dengan Jilly, sangat cantik. 

"Kirain ada apa ribut ribut. Rupanya ada si gembel di sini! Hei Joe! Kenapa kau sudah bebas? Bukankah hukumanmu masih lima tahun lagi?" Seru Salika dengan wajah julitnya. 

Sungguh, tidak tahu malu dan terima kasih kah keluarga ini pada Joe. Padahal, kalau bukan karena Joe yang sudah bersedia menjadi tameng untuk keluarga mereka, tentu saja selain mereka akan kehilangan sosok ayah, mereka pun akan menjadi gembel karena harta mereka akan disita pihak yang berwenang. 

Baru sadar Rosita begitu mendengar putrinya mengoceh. "Jangan jangan kau kabur dari penjara!" Tuduhnya, sambil melotot tajam, bersamaan dengan jari telunjuk yang menghunus lurus ke wajah Joe. 

"Iya benar. Sebaiknya kita lapor saja sama polisi untuk menangkapknya kembali." Yang mengatakan ini adalah Felicia. Begitu dia selesai mengucapkannya, ibu muda itu pun meraih ponselnya lalu menghubungi Ferdinan, pengacara keluarga Miller, yang waktu itu menyarankan pada Aland Miller untuk mencari seseorang untuk menjadi bumpernya. 

Sementara membiarkan Felicia berbicara pada Ferdinan, Salika menyuruh pak Tim dan dua penjaga lainnya untuk mengunci pagar agar Joe tidak kabur. 

"Kau pikir kau bisa lari dari kami?" Cibir Salika. 

"Hebat benar kau bisa lari dari penjara!" Timpal Rosita sinis. 

Joe tidak mempedulikan apa yang mereka ocehkan. Dipikiran Joe hanya Kiara. Dia sudah sangat geram untuk menginginkan Kiara berada di tangannya. 

"Tolong berikan Kiara padaku," pinta Joe. 

"Enak aja! Kau itu napi! Kau tidak berhak mendapatkan Kiara!" Sahut Rosita. 

"Tapi aku ayahnya. Aku punya hak untuk Kiara!" 

"Dasar gembel, miskin tidak tau diri! Kau tidak ada hak apa apa atas Kiara! Apa kau paham!" Rosita semakin naik pitam. 

Tidak mempedulikan lagi, Joe pun menerobos masuk ke dalam rumah Rosita. Sambil matanya mengedar ke seluruh area untuk mencari Kiara. 

"Kurang ajar! Berani kau masuk tanpa ijin! Penjaga! Tangkap dia!" Rosita memerintahkan penjaga rumahnya untuk menghalangi Joe. 

Sejurus kemudian, dua penjaga sudah memegangi pundak Joe. Joe diperlakukan bagai maling. 

"Lepaskan aku!" Kata Joe. Namun tidak diindahkan kedua penjaga yang mata duitan itu. 

Beat! 

"Lepaskan tangan kalian dariku!" Kalimat kedua Joe mengucapkannya dengan penuh penekanan. Namun tetap saja tidak mereka indahkan perkataan Joe yang terdengar seperti rengekan anak kecil. Akibatnya, terpaksa Joe mengeluarkan sedikit tenaga yang bersumber pada dirinya. Alhasil, sekali hentakan saja, tangan kedua penjaga pun terasa seperti keram. Sontak mereka pun melepaskannya. 

"Sial! Kuat sekali kau!" Oceh laki laki berkulit hitam pekat berkumis tebal yang akrab dipanggil pak Tim. 

Bersamaan dengan itu, Felicia memberitahu pada semua orang. "Tuan Ferdinan akan datang ke sini. Dia sendiri tidak tau mengenai hal itu." Nampaklah wajah wajah mereka yang terlihat senang. 

"Sudah pasti kalau si gembel ini melarikan diri dari penjara!" Seru Rosita. 

Salika melipat kedua tangan bersilang di atas dada. Dia tersenyum licik menatap Joe. "Tamat riwayatmu kali ini, gembel!" Ujarnya penuh penekanan.

Bab 3

Sungguh kesabaran Joe mulai menipis. Kedatanganya ke sini hanya untuk mengambil Kiara. Namun justru dia mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari keluarga Jilly. 

Apa mereka tidak malu? Seharusnya mereka bisa lebih bersikap baik pada Joe yang sudah menyelamatkan wajah keluarga Aland Miller dari masalah besar. 

Tapi sepertinya itu tidak berlaku bagi mereka. Joe hanyalah sampah yang seharusnya memang berada di tempat pembuangan barang rongsokan. 

Sebenarnya diam diam keluarga Jilly memiliki niat lain kenapa memilih Joe untuk menjadi bumper pada kasus Aland. Rosita yang ikut mendukung itu memiliki tujuan tersendiri. Karena hanya dengan cara itu dia dapat memisahkan Jilly dengan Joe. Dengan begitu Rosita bisa sangat bebas menjodohkan Jilly dengan Vino, pria pilihan dan juga kesayangannya.  

Sayangnya, Jilly tidak tau niat buruk mamanya waktu itu. Dan usaha mamanya mendekatkan Vino padanya berhasil sempurna. Perasaan Jilly bisa berbalik seratus delapan puluh derajat jadi berpaling dari suaminya, Joe. 

"Aku hanya meminta putriku. Berikan Kiara padaku, aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi," ujar Joe. Dia masih meminta baik baik pada Rosita. 

"Wow! Kau mengajakku bernegoisasi! Tidak bisa! Kiara milik kami! Milik keluarga besar Miller! Apa kau paham!" Tegas Rosita. 

"Hei gembel! Pantas saja adikku memilih meninggalkanmu! Ternyata selain bodoh, kau juga keras kepala! Kau tidak pantas berada di tengah tengah keluarga ini!" Hardik Felicia tajam. 

Mereka memang keterlaluan! Tapi kenapa aku dari tadi tidak melihat Kiara? Mendengar suaranya pun tidak. Di mana dia? Apa dia sakit? Batin Joe agak cemas. 

Tidak lama kemudian, Ferdinan pun datang. 

"Tuan Ferdinan, anda datang di waktu tepat. Laki laki ini sudah melarikan diri dari penjara. Kau harus membawanya kembali," kata Rosita. 

Tatapan mata Ferdinan berpaling menoleh Joe. Nampak licik, Ferdinan menatap Joe dengan menaikan sebelah alis matanya. 

"Aku kira nyonya Felicia bergurau, ternyata benar. Kau sungguh ada di sini. Bagaimana bisa kau melarikan diri dari penjara?" Ferdinan bernada sinis mengatakan ini. 

Sungguh bodoh! Apa dia tidak tau kalau aku dibebaskan langsung oleh pimpinan tanpa syarat, hah! Nampaknya aku harus memberinya pelajaran. Dia yang sudah mengusulkan ide gila pada tuan Aland. Kau tunggu saja Ferdinan. Aku akan membuat hidupmu menyesal karena sudah berurusan denganku! Seru Joe dalam hati. 

Padahal sore ini Ferdinan akan terbang ke kota S. Tapi dia memilih membatalkannya lantaran telpon Felicia yang mengatakan kalau Joe ada di rumahnya. Ferdinan mengerti kalau keluarga Miller membutuhkannya. Itu menandakan akan ada segepok uang besar menanti. 

Kesempatan bagus untuk mengisi dompetku yang kosong, pikir Ferdinan. Dia berkeinginan untuk sok jadi pahlawan keluarga Miller. 

"Ayo tunggu apa lagi, paman. Seret dia kembali ke dalam bui!" Seru Felicia. Sekaligus memberi perintah kepada pengacara keluarganya ini. 

Ferdinan pun terpancing. Tapi dia berpikir untuk membuat Joe lebih menderita lagi. "Itu sangat mudah. Tapi rasanya sayang sekali kalau harus tergesa gesa." Pada saat mengatakan ini, wajah Ferdinan mengulas senyum licik memandangi semua orang. 

Rosita yang pertama kali mengerti dengan maksud senyum itu. 

"Hei jongos! Apa yang kau inginkan dari keluarga ini, hah?" Tanya Ferdinan kasar. 

"Aku mencari putriku, Kiara. Berikan dia padaku dan aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi," sahut Joe. 

Tentu saja membuat Ferdinan tergelak. "Benarkah?" 

Dahi Joe berkerut tajam, heran. "Apa yang membuatmu tertawa?" 

"Dasar bodoh! Kau memang tidak berguna! Pantas saja Jilly lebih memilih tidur dengan laki laki lain dari pada menunggu kau kembali!" 

Panas betul telinga Joe mendengarnya. Kenapa harus selancang itu dia berbicara tentang istriku? Joe geram. 

"Apa kau tidak tau kalau Kiara su-." 

"Paman!" Sela Felicia dan Salika bersamaan dengan menatap wajah Ferdinan tajam. Seakan itu teguran agar Ferdinan menjaga mulutnya. 

Tentu saja membuat Ferdinan menghentikan perkataannya. Dia memandangi kedua putri Rosita yang wajahnya sudah nampak mengencang antara urat satu dengan yang lainnya. 

Sementara Joe menangkap kecurigaan dari mereka. Ada apa? Kenapa dengan Kiara? Apa yang ingin dikatakan Ferdinan tadi? Joe gelisah penasaran. 

"Katakan, apa yang terjadi dengan putriku? Di mana Kiara?" Desak Joe. 

Ferdinan pun yang tadinya ingin bermain main dulu dengan Joe, sekarang memutuskan untuk langsung saja membawa Joe kembali ke penjara. 

"Sudah jangan banyak bicara! Sekarang kau ikut denganku!" 

Apa makudnya? Di mana Kiara? Apa yang sudah mereka lakukan pada anakku? 

Joe memandang tajam wajah Ferdinan dalam diamnya. 

"Ayo ikut!" Ferdinan menarik lengan Joe dengan sangat keras. Tapi, sesentipun Joe tidak bergerak dari posisinya. Sampai kewalahan Ferdinan sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat Joe bergerak, namun sia sia. 

"Katakan, di mana Kiara?" Tanya Joe dengan suara datar namun penuh penekanan. 

Akan tetapi tetap saja tidak ada yang menghiraukan. Justru Ferdinan semakin membuat Joe jengkel dengan sikap petantang petentengnya. 

"Keras sekali tubuhmu. Boleh juga!" Kata Ferdinan, sambil menggulung lengan baju sampai setengah lengan. Seolah olah dia siap menghadapi duel dengan Joe satu lawan satu. 

Apa dia tidak melihat tangan Joe yang sudah mengepal dan juga bola mata Joe yang berapi api? Sungguh, Ferdinan sudah membangunkan singa yang sedang tidur. 

"Kau ingin bertemu dengan Kiara?" Tanya Ferdinan dengan angkuh. 

Kali ini Joe hanya membalasnya dengan anggukan kepala sambil menatap serius Ferdinan. 

"Cium kakiku dulu," ucap Ferdinan. Akibatnya, dua rahang Joe mengeras. 

"Ayo cium! Dan bermohonlah kalau kau mau bertemu dengan Kiara." 

"Ayo! Lakukanlah apa yang dikatakan paman Ferdinan. Setelah itu kau akan menemui Kiara," timpal Salika ikut memprovokasi. 

Semakin mengeras Joe menggeretak giginya. Kemudian, perlahan Joe pun merendahkan dirinya, seakan mengikuti apa yang dikatakan Ferdinan. Kejadian ini mengundang tawa Rosita dan kedua putrinya. 

Sementara Felicia dan Salika sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera hp sambil terkekeh. 

"Sepertinya ini akan viral di sosmed," cibir Salika. 

"Pasti likenya akan banyak," timpal Felicia. 

Sementara Rosita sendiri hanya menikmatinya dengan rasa puas. Dendamnya terhadap Joe selama ini sepertinya akan tuntas hari ini. Ferdinan sungguh bisa membuat Joe tidak punya harga diri. 

Namun siapa sangka, begitu kepala Joe melewati selangkangan Ferdinan, dengan sangat keras Joe mengayunkan kepalanya hingga menghajar milik Ferdinan. 

Ferdinan meringis sakit luar biasa menjerit. 

"Keparaaaaat!" Teriaknya kesakitan sambil memegangi miliknya. 

Sementara Felicia yang sedang menayangi ini secara live di sosmednya, tersontak kaget. Dia panik tidak tau mau berbuat apa. Sementara kamera hpnya terus menyiarkannya secara langsung. Viewernya sudah terlalu banyak yang menyaksikan ini. 

"Bodoh! Matikan kamera kalian!" Perintah Rosita. Kemudian dia pun menolong Ferdinan yang merasa kalau dua telur miliknya pecah. 

"Keterlaluan kau Joe!" Ucap Rosita dengan nada tinggi. Joe hanya diam saja dengan wajah polos tanpa dosa seperti tidak terjadi apa apa. 

"Keparat!" Hardik Ferdinan murka. Wajahnya sudah memerah saking menahan sakit luar biasa. 

Itu belum seberapa! Setelah ini kau akan mendapatkan yang lebih! Lihat saja nanti, Ferdinan! Batin Joe. 

Memanfaatkan waktu ditengah tengah keluarga Miller yang sibuk mengurus Ferdinan, Joe mengubungi Ceasar. Dia meminta Ceasar untuk membantunya. 

'Ini putriku, aku ingin kita menemukannya.' Joe mengirimkan pesan singkat sekaligus dengan poto Kiara kepada Ceasar. 

'Baik master.' Ceasar membalas pesan Joe.

Bersamaan dengan Joe selesai membaca balasan pesan dari Ceasar, Ferdinan sudah kembali. 

Ini saatnya aku memberikan kau pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidup, Ferdinan! Batin Joe.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED