Bab 1

Demi apa pun itu, tidak pernah selama dua puluh tujuh tahun hidupku, aku merasa setakut ini. 

Aku bersumpah, dia terlihat mengerikan jika dilihat dari sudut pandang manapun.

Dia, Rhys Dimitri Oxley. Kakak tertua yang meski aku takut bertatapan dengannya, seumur hidup, aku tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘Kakak’ kecuali, hanya empat huruf depan dari namanya itu.

Sekarang, si pria berumur empat puluh tahun itu, duduk di tepi ranjangku. Menatap lurus padaku yang hanya mengenakan jubah mandi beserta air yang masih menetes-netes dari ujung rambutku. Sial, di mana handuk kecilku?

Aku senang keramas di pagi hari menggunakan air dingin, dan membiarkan Ibu menuduhku sengaja melakukannya, untuk menghindari sarapan bersama para tamu penjilat keluarga Oxley, dengan alasan terserang flu.

Karena gugup, aku tidak berani mengangkat wajahku. Aku bahkan tak bisa menebak seperti apa raut wajah pria menakutkan yang lebih kejam dari Ayah itu, saat kini dia menatapku lekat-lekat.

Dia aneh, saat memiliki ide untuk masuk tanpa izin ke kamarku seperti ini, tanpa penjelasan apapun yang bersedia keluar dari mulutnya.

Lalu dari mana dia mendapatkan kunci kamarku?

“Berpakaianlah, kau harus ikut denganku.” Ucapannya bagai air es yang mengguyurku di pagi hari mendung, di saat tubuhku sudah sepenuhnya basah.

Aku masih diam menunggu. Hei, Kakak tertua, bukankah seharusnya kau pergi ketika Adik perempuanmu yang sudah dewasa ingin berpakaian? Sayang sekali, isi kepalaku itu tidak berguna di saat seperti ini. Aku tidak berani menyuarakan apa yang ada di dalam pikiranku padanya.

Karena aku selalu berhasil menyembunyikan semua itu jauh di dalam pikiranku. Maka diriku, tidak lebih baik dan hebat dari seorang pecundang.

“Apa yang kau tunggu?” Dia menatapku, tidak tajam, tidak menusuk, tapi ekspresinya begitu datar, dan bagiku itu lebih menakutkan.

“Ah, ya baik.” Dengan cepat aku membuka lemari pakaianku, meraih apa saja yang bisa, lalu berencana untuk mengenakan pakaian sambil bersembunyi di kamar mandi, itu akan terasa lebih menyelamatkanku.

“Kenakan ini.” Suaranya yang bagai angin dingin, membuatku beku.

Susah payah aku menoleh dan melihat bahwa ada pakaian yang terlipat rapi di atas ranjangku. Sungguh jangan tanya padaku, sejak kapan pakaian itu ada di sana, karena tentu saja, aku tidak tahu.

Mendekat, aku mengambil pakaian itu dengan pelan dari atas ranjang. Sempat bertatapan mata dengan Kakakku yang setengah gila itu, aku tersentak.

Ryhs, si pria kejam. Dia tidak menikah, tapi memiliki banyak wanita cantik di sekelilingnya. Entah bagaimana, mereka terlihat seperti piala bergilir di mataku.

“Kutunggu kau di luar, sepuluh menit.” Dia sudah berdiri, aroma maskulinnya menyebar dalam kamarku. Bahkan aromanya masih tersisa, ketika dia sudah menutup pintu, keluar tanpa menimbulkan suara lainnya.

Delapan menit, dan aku lega dengan kecepatan gerakku ketika setelan rok pensil dan kemeja putih sebagai dalaman, beserta blazer abu-abu di bagian luar bisa berhasil cepat melekat di tubuhku.

“Ganti sepatumu,” perintah Rhys, itu terasa menyinggung perasaanku.

Dia keberatan dengan pumps cokelat berbahan beledru yang kupakai. Jadi sekarang aku kebingungan dengan pilihan lain.

Tiga menit kemudian, aku kembali ke hadapannya bersama dengan dua pasang sepatu yang kutenteng. Dan dia menunjuk stilleto boots warna hitam daripada memilih sling back heels pink yang lembut.

Tanpa bicara, aku mengenakannya dan melempar sling back heels pink itu ke sudut ruangan. Membiarkannya tetap di luar kamarku tidak akan jadi berpindah kepemilikan, di rumah yang hanya berisi dua wanita, aku dan Ibu.

Pelayan wanita di keluarga kami hanya berkisar tiga atau empat orang, dan mereka tidak akan lancang mengambil sepatuku dengan berbagai pertimbangan.

Lagipula, mereka tidak berkeliaran sembarangan di rumah mewah bak istana ini. Kemunculan mereka bisa dihitung dengan jari, hanya pada saat pagi hari di jam membersihkan seluruh ruangan, menyiapkan sarapan, makan siang, dan malam.

Sisanya, mereka hanya akan datang jika diminta. Dan aku, paling enggan memanggil mereka untuk hal remeh di kamarku. Aku tidak suka siapapun mengacaukan kamarku. Pengecualian untuk Rhys, tentu saja. Pagi ini dia sudah seperti monster salju muncul begitu saja di kamarku.

“Pelajari ini ...” Dia menyodorkan sebuah dokumen padaku, tidak menatapku tapi terdengar bergumam, “jangan ada kesalahan, karena aku yang memilihmu.”

Serasa angin dingin meniup leherku, aku bergidik. Kenapa harus aku? Tapi sejak kapan aku berani melawannya? Aku hanya tidak patuh pada Ayah Ibu dan kelima saudara laki-lakiku yang lain, tapi tidak padanya.

Jangan tanyakan lagi padaku kenapa, aku sungguh tidak tahu. Aku selalu melihatnya seperti seseorang yang muncul dari kegelapan dengan pistol atau pedang berlumuran darah di tangannya.

Itu fantasiku tentangnya. Meski dia Kakak kandungku, aku hampir tidak bisa menganggapnya begitu. Dia berlawanan denganku. Rhys menguasai seluruh orang di rumah ini, siapapun itu, termasuk Ayahku sebagai pemimpin keluarga yang sebenarnya.

Hampir semua perkiraannya benar, dan Ayah tunduk pada apapun yang dikatakan olehnya. Dia si Anak emas. Begitu yang sering kudengar dari pembicaraan lima saudara laki-lakiku yang lain.

“Masuklah.” Dia membukakan pintu mobil mewahnya untukku, dan hebat, dia membuka pintu di samping sopir.

Itu berarti aku akan duduk di sampingnya, untuk pertama kali dalam hidupku, sepanjang usiaku selama ini.

Aku duduk dengan gugup, tidak tenang. Khawatir aku akan mendapat hukuman atas kejadian pagi kemarin.

Tapi kurasa, Ibuku lebih suka menghukumku dengan caranya seperti biasa, daripada mengadu pada Rhys tentang sikap kurang ajarku pada tamu di meja makan kami, saat sarapan pagi kemarin.

“Keringkan rambutmu, tetap biarkan tergerai berantakan.” Ucapan Rhys hadir bersamaan dengan handuk putih kecil yang kini sudah berada di pangkuanku.

Dia mulai mengemudi, dan itu luar biasa. Seingatku, tidak ada anggota keluarga kami yang mengemudikan mobilnya sendiri dan aku tidak pernah melihat hal seperti itu selama ini.

Kami tidak kekurangan sopir, tapi pagi ini dia menyetir sendiri dan berhasil membuatku ketakutan setengah mati.

Bukan tanpa alasan, aku pernah mendengar dari seorang tamu wanita yang hadir di pesta ulang tahun Ibu setahun lalu, bergosip bahwa Rhys pernah melemparkan dirinya keluar dari mobil, sementara kendaraan itu terjun bebas ke jurang bersama satu orang lain masih berada di dalam mobil, yang dia biarkan mati seorang diri jatuh ke dalam jurang.

Beberapa hari setelahnya, aku melihat wajah si wanita yang bergosip tentang Rhys itu, terpampang di sebuah majalah dengan tulisan berbelasungkawa di bagian bawah majalah, berisi berita bahwa si wanita ditemukan bunuh diri di kamar mandinya.

Itu memang bukan kebetulan. Rhys melakukan sesuatu pada orang-orang yang terlalu berisik.

Aku tidak berani menatap Rhys yang sedang menyetir. Kuakui, aku takut tanpa sebab padanya.

Seluruh anggota keluargaku gila, aneh, dan perusak. Entah pada Ibuku, aku belum melihat dia merusak sesuatu secara brutal seperti Ayah dan keenam saudaraku yang lain, paling buruk, Ibu hanya mematahkan tangan seorang wanita penggoda yang berniat menipu Ibu, berharap bisa bergabung dengan keluarga Oxley dengan menjadi Ibu tiriku.

“Apa yang kau tunggu? Ayo, turun.”

Bersambung.

Bab 2

“Ah, baik.” Tanpa perlu berpikir bahwa dia kesal, aku bergegas turun dengan mendorong pintu tanpa bantuannya, tidak seperti saat kami akan berangkat.

Seorang wanita tua, mungkin berusia setengah abad lebih sepuluh tahun, menyambut kami dengan senyum yang dipaksakan. Dia mengenakan terusan polkadot hitam dengan warna latar putih bersama rambut yang tersanggul rapi. Dia terlihat modis di usia tuanya.

“Tuan Muda Tom ada di kamar utama lantai satu, mari kuantar kalian ke sana.” Dia mengangguk pelan, mungkin isyarat agar kami mengikutinya.

Rumah besar bergaya klasik dan terlihat antik. Aku terpesona sejenak, tapi Rhys menarikku ke sebuah lemari besar di dekat sebuah pintu, setelah dia meminta wanita tua itu meninggalkan kami berdua saja.

Merasa sesak meski dalam sebuah lemari yang tidak terisi apapun, aku berusaha menjauh sedikit dari si menakutkan ini.

Hebatnya, dia tidak membungkuk saat berada di dalam sini. Itu menandakan, lemari kayu tua nan kokoh ini cukup besar dan melebihi tinggi tubuh Rhys.

“Dengar, Tom Jhon Parera, baru saja kehilangan kedua orang tuanya yang menentang keluarga kita. Dia juga kehilangan penglihatannya pada kecelakaan itu. Dan sekarang, tidak ada satupun orang di rumah ini yang berada di pihaknya. Kau hanya perlu merayunya dengan lembut, agar setuju menandatangani surat pernyataan jual beli tanah, milik keluarga mereka di tengah kota Yellowrin.” Rhys bicara tanpa jeda, seperti bukan dirinya, dia mencengkeram pergelangan tanganku dengan lembut.

Aku mengerjap, sampai Rhys mendekatkan tubuhnya padaku, dan mengerikan, tubuh bagian depannya menempel padaku. Napasku tertahan, aku takut.

“Apa aku akan mendapat bantahan?” Dia bertanya dengan suara yang terdengar berat di telingaku.

“Tidak.” Aku berusaha menjawab seyakin yang kubisa.

“Bagus. Ingat baik-baik, mungkin Tom akan mengajakmu bermain, tapi kau tak perlu khawatir, karen aku akan berada di sana. Memperhatikan kalian.” Dengan kedua matanya yang lebih mirip mata ular daripada mata elang, dia menatapku penuh aura mengintimidasi.

“Ya, baiklah.”

Tubuhnya mulai mundur dariku. Dan itu, menghilangkan sedikit rasa ngeri yang dirasakan oleh sekujur tubuhku.

“Dan ingat ...,” katanya lagi, menatap tajam kembali padaku, “dia menyukai wanita dengan ketukan pelan juga teratur dalam setiap langkahnya. Jangan buru-buru, lakukan semua itu dengan baik. Ada hukuman dariku jika kau gagal, ZeeZee.” Rhys mengucapkan namaku dengan lembut dan hati-hati. Itu berbeda, dia hampir tidak pernah menyebut namaku. Dan aku berusaha tenang untuk semua yang akan kuhadapi.

Dia mulai melangkah keluar dari lemari, menungguku di depan pintunya, seolah dia pria sejati yang baik hati. Rhys menahanku dengan isyarat tangannya di depan wajahku, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya.

Sebotol kecil parfum yang kemudian dia semprotkan di semua bagian leherku, dan sekitar blazer abu-abu yang kukenakan. Dia menatapku yang mengernyit karena aroma parfum yang menusuk hidungku, meski wangi klasiknya begitu menyenangkan.

Setelahnya, kami berjalan bersisian, dan Rhys tidak perlu memberitahuku berulang kali tentang caraku berjalan sesuai kesukaan target kami. Dan Rhys hanya menatapku sekilas, melangkah lebih dulu dan menungguku di depan pintu.

Aku mengenali siapa Tom Jhon Parera. Dia kehilangan kekasihnya yang seorang model terkenal—Lucika Holloway—karena bunuh diri. Berita tentang Tom, mulai sering menghiasi majalah dan surat kabar sejak itu. Bahkan rumor tentang Tom yang mulai berhalusinasi bahwa sang kekasih masih hidup, juga beredar kencang waktu itu. Mungkin sekitar tujuh atau delapan bulan lalu.

“Mulailah beraksi,” bisik Rhys ketika pintu sudah mulai dibuka olehnya, dan dia mempersilahkan aku masuk menghampiri si tukang berkhayal.

Tom duduk di sebuah kursi berlengan layaknya Bos besar seperti Ayahku, dan caranya duduk mirip dengan salah satu Kakakku, Adorjan si gila kekuasaan.

Tatapannya lurus, meski hanya kekosongan yang jelas terbaca dari wajahnya. Dia tampan, seimbang dengan ketampanan salah satu Kakakku, Hugo.

Meski dalam posisi duduk, dia tetap terlihat memiliki tubuh yang tinggi, kulit sawo matang, bibir dan alis yang tipis, juga rambut hitam yang disisir rapi ke belakang. Dia tidak terlihat buta, tampak normal, dan tentu baik-baik saja.

Aku sudah berada tepat dihadapannya setelah tadi melangkah sangat anggun—lambat dan teratur—untuk menghampirinya.

“Selamat pagi, Tuan Tom Jhon Parera.”

Dia menaikkan alisnya, tersenyum manis, lalu menopang dagunya. “Selamat pagi, sayang. Aku tahu kau akan datang,” katanya. 

Aku ingin menoleh untuk melihat Rhys, tapi urung, karena aku tahu, ini belum apa-apa. Bukan saatnya aku meminta bantuan. Dia bisa menghukumku sampai mati.

Biasanya, aku selalu mudah membantu kelima Kakakku yang lain dalam urusan yang hampir mirip seperti ini. Aku juga terbiasa menembak mati target yang diinginkan kelima Kakakku.

Tapi tidak pada Rhys. Dia berbeda. Ini bantuan pertama yang kuberikan untuknya, dan menjadi pertama kalinya dia memberiku tugas. Dan tugas ini lebih sulit daripada menempelkan mulut pistol di kening seseorang.

“Kenapa diam? Kau sedang mengatur napas?” Dia tersenyum mengejek.

Tidak menjawab, aku melangkah pelan, berhati-hati dengan stilleto boots-ku agar dapat memberi ketukan yang rapi dan terkesan tidak buru-buru, seperti keberhasilan pertama yang kudapat tadi.

Aku sudah berdiri di sampingnya, meletakkan tangan kananku di pundaknya sesaat. Memastikan bahwa dia terpengaruh, aku langsung duduk di pangkuannya. Tentu dia akan tertawa seperti sekarang. Aku sudah menebak hal itu.

Walaupun jarang mendapatkan tugas seperti ini, tapi aku sedikit memahami tipikal pria kesepian seperti Tom. Aku melihat ke arah Rhys yang berdiri dalam jarak kurang lebih lima meter dariku.

Dia bersandar santai di tembok bercat putih dengan tangan terlipat di depan dada. Menatapku, maksudku, menatapku dan Tom dengan tatapan tak berkedip. Sempat canggung, tapi anggukan kepala dari Rhys, membuatku percaya diri, bahwa aku tidak melakukan kesalahan.

Kudekatkan tubuhku sedikit lebih rapat ke tubuh Tom. Aku tidak ingin terkesan terlalu mudah di awal perkenalan kami.

Dia mengendus, sedikit meraba dengan gerakan tak mahir. Wajar, kondisi ini bukan bawaan lahir, jadi dia akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi dengan keadaannya sekarang.

Beruntung, dia meraba wajahku, tepatnya di bagian bawah bibirku. Dia tersenyum senang, tetap dalam gerakan jari yang menyentuh dan menyapu bibirku.

Aku menahan napas, aku ingat, meski samar, seseorang pernah melakukan hal yang sama seperti ini padaku, di kamarku pada malam hari yang gelap gulita—aku tak suka tidur dengan lampu menyala—dan dia mencoba menciumku. 

Aku tidak tahu siapa dia. Tapi ingatan pastiku mengatakan dia salah satu dari keenam Kakak laki-lakiku, tapi jelas, sepertinya Rhys tidak masuk dalam hitungan.

Itu terjadi tujuh tahun yang lalu. Dan sejak itu, aku selalu mengunci pintu kamar dan menyembunyikan kuncinya di balik bantalku.

Ah, kutarik kembali ucapanku tentang Rhys, karena tadi, dia bisa duduk santai di tepi ranjangku tanpa izin. Sekali lagi, itu mengerikan.

Keluargaku memang gila. Mereka semua aneh dan menjijikkan, meski aku juga termasuk salah satu dari mereka.

“Cika ... ini sungguh kau?”

Aku tersadar dari lamunan, menoleh pada Rhys, tapi dia tidak mengangguk atau memberi isyarat lain. Aku tahu, dia ingin mengujiku, menilai cara kerjaku.

“Ya, sayang ... ini aku,” bisikku lembut di telinganya.

Aku sadar dia masih mengendus, aku tahu itu caranya dalam mengenaliku sebagai Lucika Holloway.

Apa semudah ini?

Suara gedebuk membuatku lebih dulu merasa terkejut daripada sakit. Baru saja aku merasa ragu, Tom sudah melempar tubuhku ke lantai dengan wajah berang.

“Jangan coba-coba menipuku!”

Bersambung.

Bab 3

Rok pensil ketat pemberian Rhys, robek pada bagian kirinya. Dan itu membuatku geram, ketika menyadari paha sedikit di atas lututku terlihat dengan sempurna sekarang. Beruntung dia buta, jadi hanya Rhys yang bisa melihat kulit sensitif-ku yang terbuka.

Si berengsek Tom Jhon Parera berteriak-teriak kasar dengan bahasa asing. Aku sedikit tahu artinya, dia menginginkanku keluar dari ruangan ini. Meski begitu, dia tetap duduk di kursi berlengannya.

“Diam dan tenanglah, Tom.” Aku bangun dalam gerakan cepat dan kembali menghampirinya.

“Wanita jalang sialan, keluar kau!” Dia sudah kembali pada bahasa aslinya. Menunjuk-nunjuk menggunakan telunjuknya yang tidak akan pernah tepat ke arahku.

“Tidak, tidak. Kau tidak bisa mengusirku dulu. Ada yang harus kau lakukan untukku, sayang,” kataku sambil mengelus wajahnya dan aku mendapatkan tangan besarnya menepis dengan sangat kasar padaku.

“Setelah berani menipu, kau mencoba meminta sesuatu dariku?” Wajahnya merah padam, meraung dan menggeram.

“Sayang ... ini aku, Cika. Kenapa kau menuduhku menipumu?” Aku mengeluarkan suara wanita tertindas dan lemah, sehingga aku sadar, aku menyadarinya, ada rasa mual yang memenuhi tenggorokan dan mulutku sekarang.

“Cika katamu? Hei, siapapun kau, jangan coba menipuku dengan langkah kaki lambat dan ketukan teratur seperti itu, atau menyemprotkan parfum yang sama persis dengannya. Kau bukan Cika!” Dia berteriak lagi dengan tubuh yang sudah berdiri refleks melangkah maju. Walaupun sempat terhuyung, dia tampak baik-baik saja.

Aku mundur, berbalik dengan cepat, berjalan ke arah Rhys dengan emosi teratur di kepalaku. Ketukan kaki yang tak kupedulikan lagi nadanya, menjadi awal penyesalanku, memperlihatkan, dan membiarkan Rhys memilih sepatu ini sebelum datang ke hadapan Tom.

Tom Jhon Parera, dia tidak segila yang diberitakan, tapi dia bodoh dengan amarah yang mudah menguasainya dan menjadikannya meledak-ledak.

Rhys menatapku dengan pandangan dingin menembus tulang, tidak bergerak sama sekali dari tempatnya dalam posisi yang masih sama, tangan terlipat di depan dada.

Setelah ini, aku pasti akan mati di tangannya. Tapi aku tidak sempat memikirkan hal remeh itu sekarang. Ya, terluka fisik yang sering aku dan keluarga alami, tentu hal yang sangat biasa. Tapi harga diri yang terinjak, gagal dalam ajang pembuktian diri, jauh lebih menjadi aib yang tidak akan bisa dihapus semur hidup, akan terus menempel di wajahku selamanya.

Meraba tubuh Rhys, kukira akan menjadi petaka yang sama besarnya melebihi penolakan dari Tom dan kegagalanku pagi ini, tapi ternyata aku salah. Entah karena aku yang tidak begitu mengenal siapa Rhys Dimitri Oxley, tapi yang jelas, dia bergeming saat aku menemukan benda kecil itu terselip di pinggangnya, tertutup jas biru tuanya.

Aku menariknya dengan cepat, tidak kasar, karena aku masih menyimpan nyali yang menciut setiap kali tertangkap tatapan matanya. Dengan cepat aku kembali ke hadapan Tom, menodongkan mulut senjata api genggam ini di keningnya dengan tanpa belas kasih, tak terkejut saat menyadari bahwa Tom tidak takut sama sekali.

Dia mendengus kasar, wajahnya dipenuhi hinaan dan ejekan. Dia bernyali, dan dia terbiasa dengan situasi seperti ini.

“Kau mengancamku dengan senjatamu? Itu lucu sekali.” Dia menyeringai.

“Tutup mulutmu dan berdoalah sebelum tidur.” Tanpa ampun, aku menarik pelatuk, menembaki kepala dan jantungnya. Tidak akan kubiarkan dia hidup setelah ini.

Aku terbiasa menghabisi siapa saja dalam hitungan menit, membereskan hal ‘kecil’ seperti ini memang tugasku. Tapi Tom Jhon Parera pengecualian, aku harus berpura-pura dan merayunya—tapi gagal—sampai aku kehabisan akal.

Tidak ada jeritan atau permohonan dari Tom, selain tubuhnya kini ambruk di dekat kursi kekuasaannya dan dia berlumuran darah. Aku tersenyum puas, karena meski aku gagal, tapi harga diriku tetap berjaya.

Aku kembali ke hadapan Rhys, tepat di hadapannya yang tidak akan terlihat bosan berdiri dalam posisi itu. Dia menatapku dari atas sampai bawah, dan tatapannya berhenti di paha bagian kiriku yang terbuka.

Seperti tersengat listrik, aku ketakutan. Jauh lebih ketakutan daripada saat menarik pelatuk dan menembaki Tom. Berusaha memiliki nyali, meski timbul tenggelam, aku menyerahkan kembali pistol miliknya.

“Letakkan kembali pada tempat di mana kau pertama kali mengambilnya.” Itu perintah yang cepat dan mengancam.

Jadi aku maju, lebih maju, hingga berhasil mengendus aroma pepper dan grapefruit dari tubuhnya. Wangi segar dan memabukkan bagiku, dia memang tidak pernah main-main dalam urusan mengurus diri. Itu memang cocok dengannya.

Tidak perlu terlalu terkejut saat banyak wanita yang bersedia menyerahkan diri mereka demi Rhys. Mungkin, dia pantas mendapatkannya, Rhys bisa bermain-main dengan hidup siapapun, termasuk aku.

Tanganku bergetar dan aku harus memperingati diriku sendiri berulang kali di dalam hati, untuk tetap tenang dan santai.

Sesaat, aku kembali teringat saat tadi, dia menyodorkan dokumen berisi semua hal tentang Tom yang harus kubaca cepat dengan peringatan bahwa Rhys tidak ingin ada kesalahan, karena dia yang memilihku.

Ingatan itu terasa mencekik leher dan menjerat tubuhku dalam kegelapan. Sekarang tugasku mengembalikan pistol ini sebelum Rhys berubah pikiran.

Perlahan, aku sudah berhasil menyelipkan kembali pistol ke pinggangnya, bahkan sempat melirik jakunnya yang luar biasa. Beribu kali harus kukatakan, dia berasal dari dunia yang berbeda dariku, meski pekerjaan kotor kami sama saja dan akan selalu begitu.

Di rumah, dia lebih sering tidak mengacuhkanku daripada menatapku saat kami makan bersama. Rhys juga jarang berada di waktu yang bersamaan denganku entah itu di dapur, ruang keluarga, atau seluruh sudut rumah yang memungkinkan kami bertemu.

Dia memiliki dunia gelapnya sendiri. Aku sadari itu sejak lima tahun yang lalu. Saat di mana aku sudah terbiasa dan menjadi ketagihan menghabisi nyawa orang lain yang menurut keluargaku bersalah, maka aku akan dengan senang hati membereskannya, meski aku akan merasa bersalah setelahnya.

Dan perlu dicatat. Aku sering membuat masalah, salah mengartikan perintah dan senang membantah. Jadi jangan heran, ketika aku sering gagal, dan justru mendatangkan masalah baru, Ayah atau Ibu harus turun tangan untuk menyelesaikan kekacauan yang kubuat.

Tapi anehnya, tetap saja mereka semua, keluargaku, memintaku melakukannya sampai hari ini. Lebih tepatnya, mereka memaksaku menjadi bagian dari mereka. Membiarkan aku berbuat salah dan menerima hukumannya, seolah itu menjadi suatu keharusan yang menyenangkan untuk mereka, terutama Ayah dan Ibuku.

Tanpa bicara, aku menyerahkan kedua tanganku yang saling berdekatan satu sama lain, ke hadapan Rhys, seolah ingin menyatakan bahwa aku menyerah, bersiap dengan posisi di mana borgol akan membelenggu kedua tanganku.

Setidaknya aku harus mengucapkan selamat datang pada hukuman dari Rhys yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Ini perdana bagiku. Segala hal tentang Rhys, tentang semua ini, sensasi baru yang menakutkan.

“Buka Rokmu!”

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED