"Jika kau ingin dihargai, maka kau harus bisa menghargai orang lain." [Ray. R. R.]
______
Sinar mentari pagi mulai mengintip malu-malu di balik tirai kamar seorang anak remaja laki-laki yang masih setia bergelut dengan selimut tebal nan hangatnya.
Saking nyamannya bergelut dengan selimut, dia bahkan tidak menyadari ketukan pintu kamarnya yang awalnya diketuk dengan pelan berubah menjadi terbukanya pintu dengan lebar.
"Tuan muda, bangun!"
Mendengar suara berisik serta goncangan di tubuhnya membuat Ray mau tak mau membuka matanya yang masih berat.
Ray melihat seorang wanita berbaju kemeja rapi dengan logo psikiater membuat Ray mendengus kesal. Pasalnya, wanita itu sangat cerewet dan menyebalkan.
Mariam, psikiater pribadi Ray yang sudah mengurus Ray selama 10 tahun ini. Umurnya sudah tidak muda lagi yakni 35 tahun tapi tentu saja cantiknya tidak memudar.
"Bangun Tuan muda, ini sudah pagi!" seru Mariam.
Bukannya menjawab, Ray malah memilih mengambil creepy doll yang berada di sampingnya.
Ray tersenyum sembari mengelus kepala creppy doll tersebut sembari bergumam, "Good morning, Rey."
Tentu saja hanya dirinya yang dapat mendengar gumamnya sendiri. Setelah puas menatap creppy dollnya, Ray beranjak dari king size miliknya dan pergi masuk ke dalam kamar mandi, tak lupa pula creppy doll yang selalu setia menemaninya kemana pun dan kapan saja.
Melihat hal itu Mariam hanya bisa mendengus kesal dan menggelengkan kepalanya pusing. Pasalnya, Ray selalu mengacuhkannya seolah-olah dirinya tidak hadir di sampingnya.
Itu sudah biasa bagi Mariam, makanan sehari-harinya. Mengurus seorang Tuan muda dari keluarga terpandang yang memiliki penyakit jiwa cukup membuatnya merasa ikutan gila juga.
Tentu saja karena Ray selalu mengacuhkannya, jangankan berbicara bahkan menatapnya saja tidak pernah. Padahal sudah 10 tahun lamanya dirinya mengurus Ray dari Ray berumur 5 tahun.
Setelah mengatur kesabarannya, Mariam segera membersihkan dan merapikan kamar Ray yang tentu saja lebih besar dari pada kamar apartemennya.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka dan nampaklah Ray dengan balutan handuk dipinggangnya, jangan lupa creppy doll dipelukannya menatap datar ke arah Mariam.
"Bajunya sudah saya siapkan, Tuan muda."
Pandangan Ray beralih di atas tempat tidur menampilkan kemeja putih serta celana hitam pendek yang dipilih oleh Mariam, psikiaternya.
"Hn."
Sekali lagi, Mariam hanya bisa mendenguskan napasnya kesal karena Ray selalu membalas ucapannya dengan bergumam tapi hey lihatlah dia bahkan bergumam sambil tersenyum.
Mariam beranjak pergi meninggalkan Ray seorang diri yang saat ini sedang memakai pakaiannya. Mata tajamnya terus melihat ke arah kaca besar yang menampilkan dirinya di sana tanpa berkedip sedikit pun sehingga matanya memerah.
Setelah selesai memakai pakaiannya, pandangan elang Ray beralih menatap creppy doll yang duduk manis di atas tempat tidur miliknya.
"Berhenti menatapku seperti itu Rey, itu menjijikan." ujar Ray sembari berkacak pinggang menatap lurus ke arah creppy doll yang dinamainya Rey.
"Tentu saja aku selalu menatapmu karena aku benci kepadamu, pecundang!" balas Rey.
Ray membelalakkan kedua bola matanya tak percaya mendengar ejekan Rey. Pecundang? Ya, Rey selalu mengatainya pecundang. Ray akui itu karena Ray selalu menghindar dari kehidupan sosial.
"Jaga ucapanmu sialan!" geram Ray.
Karena kesal, dengan cepat Ray meraih Rey dan memeluknya dengan sangat erat. "Aku hancurkan kau Rey jadi jangan macam-macam denganku."
Tiba-tiba pelukan Ray melonggar beralih memeluk Rey dengan pelukan hangatnya.
"Tidak jadi. Karena kau satu-satunya keluarga yang menerimaku." lirih Ray.
Setelah puas berpelukan dengan creepy dollnya alias Rey, Ray pergi keluar kamar menuju meja makan dimana seluruh keluarga besar Robertson berkumpul. Tentu saja Rey selalu setia berada di dalam pelukan Ray.
Dari atas tangga, Ray dapat melihat suasana hangat di meja makan membuatnya ingin segera pergi ke sana tapi setibanya di meja makan suasana mendadak berubah menjadi dingin membuat wajah datar kembali terlukis di wajah putih pucat Ray.
"Kamu sudah bangun? Kemari, duduklah."
Rey melihat kakak, Roy menarik kursi di sampingnya mempersilahkankan dirinya untuk duduk di sebelahnya.
Tak menghiraukan tatapan tajam dari Ibunya, Nisa. Ray duduk di sebelah Roy dan kembali menikmati acara sarapan keluarga Robertson.
Baru saja sampai disuapan ketiga, telinga Ray mendengar ucapan yang berhasil membuat kepalanya mendidih.
"Ray, kau seharusnya belajar untuk berinteraksi dengan orang lain. Jangan sendirian terus. Itu tidak baik." ujar Wilda, Neneknya.
"Biarkan saja dia seperti itu. Dia akan sendirian selamanya." timpal Nisa sembari menatap sinis ke arah Ray.
"Ibu, sudahlah."
Roy melirik ke arah Ray yang menatap lurus ke arah piringnya tapi tangannya tak bergerak sedikit pun untuk menyuapi makanan di dalam mulutnya.
Jujur saja Roy sangat khawatir. Ray hanya mau terbuka kepada dirinya saja. Setiap kali mendengar kalimat yang berhasil menyayat hatinya, Ray akan marah atau lebih parahnya mengamuk di dalam kamar. Adiknya sangat tempramental.
Tiba-tiba Ray beranjak turun dari kursi dan melangkah pergi meninggalkan meja makan. Tapi sebelum itu langkahnya terhenti setelah suara berat berhasil membuat kakinya terpaku.
"Kau harus belajar Ray. Ayah ingin kau mengelola beberapa anak bisnis milik ayah."
Bukannya menjawab, Ray malah kembali melangkahkan kakinya dan menaiki anak tangga dengan cepat.
Melihat hal itu membuat Roy semakin khawatir saja. Dengan cepat, Roy memerintah Mariam dengan gerakan matanya untuk mengikuti Ray.
"Kau terlalu memanjakannya Bryan." ujar Nisa.
Bryan, kepala keluarga Robertson itu hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar dan pergi meninggalkan meja makan.
"Ibu, berhentilah untuk-"
"Apa? Kau sama saja seperti ayahmu. Terlalu memanjakan anak itu, cih." potong Nisa.
Satu persatu mulai dari Bryan, Nisa, Wilda pergi meninggalkan meja makan dan tinggalah Roy sendirian yang masih memikirkan keadaan Ray, adiknya.
Ray merupakan adik satu-satunya yang dimilikinya, tentu saja Roy sangat menyayanginya ya walaupun terkadang Ray selalu memgacuhkannya tapi setidaknya dirinyalah yang selalu menjadi tempat sandaran Roy.
Roy tersenyum kecut saat mengingat betapa lemahnya dirinya. Roy selalu membiarkan Ray dicaci maki Ibunya sendiri. Setiap kali dirinya ingin melawan, dirinya selalu kalah oleh Ibunya sendiri.
Ray selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja tapi Roy tidak yakin itu. Roy selalu merasa dirinya menjadi kakak yang gagal.
"Tidak apa-apa. Aku harus berjuang lebih baik lagi." gumam Roy menyemangati dirinya.
Baru saja Roy ingin melangkah pergi menuju kamar adiknya untuk menghiburnya, tiba-tiba suara dering ponsel membuat langkahnya terhenti.
Roy meraih ponselnya dan melihat nama "Daniel", seketarisnya tertera di layar ponsel.
"Halo?" sapa Roy setelah menekan ikon hijau untuk mengangkat panggilan.
"Halo Tuan. Terjadi masalah di kantor. Beberapa investor menarik saham mereka dan -"
"Aku segera ke sana!" potong Roy.
Sekilas Roy menoleh ke arah pintu kamar Ray dan menghembuskan napasnya kasar karena sekali lagi dirinya merasa menjadi kakak yang gagal.
Dengan cepat Roy pergi meninggalkan manshion Robertson.
Dari lantai dua tepatnya di balkon kamarnya, Ray menatap kepergian mobil mewah milik kakaknya yang semakin menjauh.
"Kakak ternyata sangat sibuk ya." gumam Ray yang tentu saja dapat didengar oleh Mariam yang selalu setia berdiri di belakangnya.
"Tuan muda Roy sangat pekerja keras. Dia -"
"Apakah kau menyindirku?" tanya Ray yang berhasil membuat Mariam gelagapan.
"Tidak, maksud saya -"
"Lupakan."
Ray melangkah menuju king size miliknya dan berbaring dengan creepy doll di sebelahnya.
"Mariam." panggil Ray membuat Mariam menoleh ke arah dirinya.
"Iya. Ada apa Tuan muda?" tanya Mariam.
Lama Ray terdiam sampai pada akhirnya Ray berhasil mengeluarkan kalimat yang tersangkut ditenggorokannya.
"Kalau aku pergi ke dunia luar. Apakah aku akan baik-baik saja?"
Mariam terdiam setelah mendengar kalimat yang sama setiap kali Ray dalam keadaan suasana hati yang buruk.
Sejujurnya, Mariam bingung bagaimana menjawabnya. Secara psikologis itu tidak memungkinkan mengingat emosi Ray yang sangat tempramental di balik wajahnya yang datar dan tenang.
"Kenapa kau terdiam? Sudah bosan menjadi psikiaterku?" tanya Ray memecah keheningan.
Mariam berdehem sebelum menjawab pertanyaan Ray. "Saya rasa bisa Tuan muda asalkan Tuan muda bisa menjaga emosi dan Rey."
Ray tidak menjawab, dirinya memilih untuk mengamati creepy doll di sebelahnya dan mengusap wajahnya dengan lembut.
"Entahlah Mariam. Aku merasa, Rey adalah sosok yang baik walaupun kalian mengatakannya jiwa yang jahat." lirih Ray.
"Saya mengerti Tuan muda secara Tuan muda Rey selalu berada disamping Anda setiap kali Anda merasa kesepian." jawab Mariam dengan mantap.
Ray menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Mariam.
Tiba-tiba cairan bening keluar dari ujung mata Ray dan mengalir dengan mulus melewati pipi putih pucat Ray.
Setiap kali mengingat perlakuan Ibunya membuat Ray merasakan sedih teramat dalam. Ray tidak tau kenapa ibunya bersikap seperti itu. Ray hanya menginginkan pelukan hangat dan kasih sayang dari Ibunya, apakah sesulit itu memberikannya?
Oh, Ray baru ingat. Terakhir kali dirinya merasakan pelukan hangat dari Ibunya saat Ibunya mengetahui kalau dirinya gila. Ya, gila. Begitulah kata orang disekitarnya mengatakan dirinya.
Tidak hanya itu, perlahan-lahan perhatian kecil dari Ayahnya dan Neneknya menghilang tapi tidak dengan Roy. Kakaknya itu semakin hari semakin banyak menaruh perhatian kepada Ray membuat Ray keluar dari kegelapannya sendiri dan beralih di pelukan hangat Roy.
Sejak kedatangan Mariam membuat hari-hari Ray sedikit bersinar pasalnya wanita berumur 35 tahun itu sangat cerewet. Sifat keibuannya membuat Ray merasakan memiliki Ibu kedua.
Ah, kenapa tiba-tiba Ray mengingat hal konyol seperti ini. Dengan kasar Ray menghapus air matanya dan duduk menatap ke arah Mariam.
"Mariam, besok aku ingin jalan-jalan. Temani aku ya." ujar Ray dengan senyum hangat yang terukir di bibir tipisnya.
Melihat hal itu membuat Mariam melongo tak percaya tapi dengan cepat Mariam mengubah ekspresinya dan membalas senyuman Ray yang sangat jarang terlihat itu.
"Dengan senang hati, Tuan muda." balas Mariam.
Setelah mendapat persetujuan dari Mariam, Ray menyuruh Mariam meninggalkannya sendiri di dalam kamar.
Meninggalkan Ray seorang diri dan...creepy dollnya, Rey.
"Apakah keputusanku sudah benar?"
"Entahlah. Aku tidak peduli." balas Rey.
Ray menoleh kearah Rey menampilkan raut wajah tidak suka. "Kau seharusnya mendukungku." geram Ray.
"Aku akan mendukungmu kalau kau bersedia memberikan tubuhmu kepadaku."
Ray berdecak kesal melempar Rey sehingga creepy doll itu terlempar ke arah rak buku membuat beberapa buku kesayangan Ray jatuh berserakan dilantai.
"Peduli amat setan." umpat Ray sembari merebahkan tubuhnya memunggungi Rey.
Baru saja Ray memejamkan kedua matanya tiba-tiba Ray merasakan pergerakan di belakangnya membuat Ray refleks berbalik melihat siapa pelakunya.
Rey.
Creepy doll itu duduk di belakang punggung Ray membuat Ray tersenyum penuh kemenangan. "Aku tau, kau membutuhkanku."
Mata creepy doll itu berkedip menandakan dirinya mengaku mengalah. Begitulah kebiasaan Rey harus menyerah kepada Ray yang dominan lebih nyata ketimbang dirinya.
"Jika kau tidak tau apa yang aku pikirkan. Berhentilah menebak, bodoh!" [Rey R. R.]
______
Sesuai janjinya kepada Mariam, hari ini Ray memutuskan untuk jalan-jalan. Ya walaupun tidak lama tapi Ray harus berusaha sebaik mungkin agar dirinya tidak dianggap boneka lagi oleh keluarga Robertson.
Ray berdecak kesal, hampir 30 menit dirinya menunggu di gerbang manshion tapi batang hidung Mariam tidak juga muncul membuat Ray semakin kesal.
"Dimana perawan tua itu." geram Ray.
Karena lelah menunggu, Ray memutuskan untuk berjalan sendirian keluar manshion.
Tidak begitu buruk tapi cukup membuat kaki Ray gemetaran. Pasalnya banyak pasang mata yang menatap aneh ke arahnya. Apanya yang salah? Dengan cepat Ray memeriksa keadaan dirinya. Baik-baik saja malahan terlihat sangat tampan.
Ray mengacuhkan semua pasang mata yang melihatnya dan memilih untuk fokus berjalan.
Sudah lama rasanya dirinya tidak keluar manshion. Terakhir kali dirinya keluar manshion saat berusia 9 tahun. Ya, bisa dibilang dirinya adalah boneka langka yang disimpan pemiliknya agar tidak disentuh oleh orang lain.
Ray terkekeh pelan, tidak mungkin. Bahkan keluarganya tidak peduli sedikitpun apa yang terjadi kepadanya.
Ray terus mengedarkan pandangannya. Sangat sejuk. Ditambah ada banyak pohon tinggi yang menghiasi tepi jalan membuat jalanan menjadi teduh dan adem.
Bukan hanya itu saja, terdapat banyak orang yang berlarian atau biasa disebut dengan lari pagi serta beberapa kedai kecil yang menjual minuman dan makanan ringan.
Senyuman mulai terukir di bibir tipis Ray. Kenapa tidak dari dulu saja dirinya keluar manshion?
Saking kagumnya, Ray tak menyadari bahwa dirinya berjalan sampai ditengah jalan membuat mobil dibelakangnya berhenti mendadak.
"Hei bocah, jangan menghalangi jalanku!"
Ray tersentak dengan cepat Ray berlari ke pinggir jalan melihat pengemudi mobil tadi menatap tidak suka ke arahnya.
"Maaf." ujar Ray.
"Lain kali pakai matamu!"
Setelah puas membentak Ray, pengemudi tadi melanjukan mobilnya meninggalkan Ray yang berusaha menenangkan detak jantungnya.
"Huhfff hampir saja." gumam Ray.
Baru saja Ray ingin melangkah, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menghampirinya. "Kakak, apa yang kau pegang itu?" tanyanya.
Ray mengerti dengan apa yang dikatakannya membuat Ray refleks menyembunyikan creepy dollnya di belakang punggungnya.
"Apa itu? Aku ingin melihatnya."
Anak kecil itu terus memutari tubuh Ray membuat Ray kewalahan, "Jangan mengangguku!" teriak Ray membuat anak kecil tadi terdiam dan menangis kencang.
Melihat hal itu membuat Ray merasa cemas. Ray takut kalau ada orang yang membencinya. Ray tidak sengaja, sungguh. Begitulah pikir Ray.
Ray melihat sekelilingnya dan benar saja sesuai dugaan Ray banyak pasang mata yang menatap tak suka ke arah dirinya membuat rasa cemas dan takut kembali menghantui Ray.
"Apa yang kau lakukan kepada anakku?"
Ray menatap ke depan, terlihat seorang wanita yang berlari ke arahnya dan memeluk anak kecil tadi.
"Apa yang kau lakukan?" tanyanya.
"Ibu, kakak itu memarahiku." rengek anak kecil.
Dengan cepat Ray menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak salah. Dia yang salah."
"Jauhi anakku dasar aneh."
Ibu anak kecil tadi dengan cepat mengendong anaknya dan membawanya pergi meninggalkan Ray sendirian yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Ray menyentuh dadanya merasakan debaran yang amat kencang menandai dirinya mengalami kecemasan berlebihan.
"Ray!"
Ray mengenali suara itu. Dengan cepat Ray berbalik dan terlihatlah Mariam berlari ke arahnya.
"Kenapa Anda pergi meninggalkanku. Kalau -"
Ucapan Mariam terhenti karena Ray yang tiba-tiba memeluknya dengan erat. Ray merasa sangat takut, oleh karena itulah dirinya memeluk Mariam.
Merasakan tubuh Ray yang bergetar hebat membuat Mariam mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan lembut, Mariam membalas pelukan Ray dan mengecup puncak kepalanya.
"Jangan takut, ada aku di sini." bisik Mariam.
Seolah seperti sebuah sihir, membuat Ray kembali tenang dan melonggarkan pelukannya kepada Mariam.
Ray mendonggakkan kepalanya menatap wajah Mariam yang menatap lembut ke arahnya.
"Aku ingin pulang, ayo." ajak Ray.
Mendengar ajakan Ray, tangan Mariam terulur untuk mengelus wajah tampan Ray membuat pemiliknya memejamkan mata.
"Nanti saja. Kita harus jalan-jalan dulu sebentar -"
"Tapi aku takut." potong Ray.
Mariam mengerti apa yang dimaksud oleh Ray. Sangat susah untuk Ray bisa berbaur dengan lingkungan sekitar.
"Tidak akan terjadi sesuatu. Kali ini ada aku yang menemanimu." bujuk Mariam.
Ray menganggukkan kepalanya menyerah mengikuti apa yang dikatakan oleh Mariam.
"Sekarang pegang tanganku dan kita akan jalan-jalan. Mau es krim?" tanya Mariam.
Ray memegangi dagunya menimang tawaran Mariam. "Tidak buruk juga. Baiklah."
Mariam tersenyum dan membawa Ray menuju kedai es krim. Setelah mendapatkan es krim, Mariam kembali membawa Ray jalan-jalan.
Mariam melirik Ray sekilas. Terlihat sangat lucu saat Ray menjilati es krimnya. Oh ayolah, Ray sudah besar tapi ada banyak es krim yang berlepotan di ujung bibirnya membuat Mariam terkekeh geli.
Tiba-tiba Mariam merasakan perutnya kembali bergejolak. Alasan Mariam telat tadi karena perutnya sangat mulas efek memakan cabai terlalu banyak.
"Tuan muda, bisakah Anda menunggu sebentar. Aku ingin buang air besar." ujar Mariam.
Belum saja Ray menjawab Mariam sudah lari terlebih dahulu mencari toilet terdekat. Ray menghembuskan napasnya dan kembali melihat disekitarnya.
Setelah merasa semuanya aman, Ray duduk di kursi taman kembali menikmati es krimnya yang hampir saja cair.
Saat sedang asik menikmati es krimnya, mata Ray tak sengaja melihat dompet berwarna pink yang tergeletak tak berdaya di kaki kursi taman.
Karena rasa penasaran, Ray mengambil dompet tersebut dan memeriksanya. Terdapat beberapa kartu, foto dan beberapa lembar uang di dalamnya.
Ray melihat foto di dompet tersebut. Seorang wanita. Entah kenapa Ray tertarik untuk mengembalikan dompet tersebut kepada pemiliknya.
Entah sebuah keberuntungan atau hanya sekedar kebetulan, pemilik dompet tersebut berjalan melewatinya dengan raut wajah yang terlihat sangat khawatir sembari menoleh kesana kemari hendak mencari sesuatu.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Ray bangkit menghampiri gadis tersebut.
"Permisi nona." serunya.
Gadis muda tersebut menoleh dan mendapati Ray menatap ragu ke arahnya.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.
Ray meneguk salivanya dengan kasar dan menyodorkan sebuah dompet berwarna pink ke arah gadis tadi membuatnya terpekik senang.
"Kau menemukan dompetku? Terima kasih."
Tanpa gadis itu sadari, sebuah senyuman yang sangat langka terukir di bibir tipis Ray. Entah kenapa Ray merasa senang. Ray merasa ini pertama kalinya ada orang asing yang berterima kasih kepadanya.
"Dimana kau menemukannya? Oh Tuhan aku sangat beruntung sekali. Kalau tidak ada kau, entah bagaimana nasib dompetku sekarang."
Bukannya menjawab, Ray malah semakin mengembangkan senyumannya menghiraukan es krimnya yang mulai cair di tangannya.
Melihat hal itu, gadis itu tertawa pelan dan meraih tisu untuk membersihkan sisa es krim di bibir Ray.
"Kau seperti anak kecil saja. Nah, sekarang sudah bersih." ujarnya.
Mendapatkan perlakuan aneh, Ray merasa malu. Entah kenapa, Ray merasakan kedua pipinya terasa panas. Ingin rasanya Ray menyembunyikan wajahnya.
Sekali lagi, gadis itu tertawa melihat reaksi Ray yang menurutnya sangat menggemaskan.
"Kau lucu sekali. Ngomong-ngomong siapa namamu?" tanyanya.
Ray menundukkan pandangannya tak berani menatap mata indah itu, "Ray." jawab Ray singkat.
"Namamu bagus. Tidak ada nama belakang?" tanyanya.
Ray ingin mengatakannya tapi Ray tak ingin orang lain tau siapa dirinya mengingat ayahnya yang menyembunyikan identitasnya di publik.
Dengan pelan, Ray menggelengkan kepalanya sembari memeluk creepy dollnya erat.
Gadis itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, "Begitu. Baiklah giliranku. Namaku Elvara Viandra. Panggil saja Vara." ujarnya sembari mengulurkan tangannya kepada Ray.
Dengan ragu, Ray menyambut uluran tangan tersebut. Terasa sangat hangat berbeda dengan tangannya yang terasa sangat dingin.
"Tanganmu dingin sekali." ujar gadis itu, Vara.
"Ah iya memang seperti itu." balas Ray sembari melepaskan pengutan tangannya karena merasa tak enak.
"Baiklah kalau begitu. Aku harus pergi, semoga kita bertemu lagi."
Vara berjalan melewati tubuh Ray yang terasa membeku. Ray merasa tak terima. Ray ingin mengobrol lebih lama lagi dengan Vara, tapi...
Dengan cepat Ray berbalik menatap punggung Vara yang mulai menjauh.
"Vara ya. Tidak buruk." gumam Ray.
"Siapa itu?"
Ray terkejut setengah mati mendengar bisikan Mariam. Bukannya meminta maaf, Mariam malah tertawa terbahak-bahak membuat Ray kesal dibuatnya.
"Siapa yang Anda lihat, Tuan muda?" tanya Mariam diikuti kedipan matanya yang menjijikan menurut Ray.
"Bukan urusanmu." balas Ray dengan malas.
Mariam tersenyum penuh makna membuat Ray semakin kesal. "Ayo pulang. Aku sudah lelah." elak Ray.
Mariam berusaha menyembunyikan senyumannya karena sedari awal Mariam melihat bagaimana interaksi Ray dengan gadis cantik tadi.
"Aku harap Tuan muda mulai terbiasa." gumam Mariam yang tentu saja hanya dirinya yang dapat mendengarnya.
********
Setelah kejadian itu, Ray merasa matanya tak mengantuk lagi. Lebih tepatnya pikiran Ray selalu terarahkan kepada gadis yang ditemuinya tadi pagi.
Vara. Nama yang sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari pada namanya.
"Jangan mudah percaya kepada orang lain, pengecut."
Merasa terganggu, Ray menoleh ke arah Rey. Seketika raut wajah Ray berubah kembali menjadi datar. Apa yang dikatakan Rey ada benarnya. Seharusnya dirinya tidak begitu mudah percaya kepada orang lain.
Tapi mengingat senyuman tulus dari wajah cantik Vara, Ray membuat pengecualian.
"Aku khawatir kau mulai terjebak dengan mulut manisnya."
Ray memilih bungkam, tak menghiraukan ucapan Rey yang entah kenapa rasanya benar sekali.
Ray kembali menatap Rey dengan intens, "Lalu menurutmu, apa kesanmu kepadanya?" tanya Ray.
"Kesanku? Kau bertanya sesuatu yang tidak penting nak. Tentu saja kesanku tidak baik. Aku khawatir kau mendadak menjadi pendiam lagi." balas Rey.
"Hn, kau benar. Lebih baik aku tidak mendengarnya." lirih Ray.
"Lebih baik begitu."
Lama keduanya terdiam sampai pada akhirnya suara ribut terdengar dari lantai bawah membuat Ray dan Rey saling pandang.
"Apa yang terjadi?" tanya Ray.
"Mari kita lihat."
Dengan cepat Ray turun dari king size miliknya berlari menuruni anak tangga. Ray melihat Ibunya, Nisa yang dipeluk oleh Bryan sembari menangis histeris. Entah apa yang terjadi membuat Ray bingung.
Mariam yang melihat kehadiran Ray dengan cepat membawa Ray kembali menuju kamarnya sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.
"Tuan muda, kenapa Anda turun? Ayo, kita kembali." ajak Mariam.
Ray menghempaskan pegangan tangan Mariam dan berjalan menuju Nisa, ibunya. Tapi baru beberapa langkah, dengan cepat Mariam menyeret Ray dan membawanya menaiki anak tangga.
"Lepaskan aku Mariam. Apa yang terjadi?" tanya Ray tak sabaran.
"Tuan muda, ayo kita kembali ke kamar."
Ray terus memberontak berusaha melepaskan tarikan paksa dari Mariam sehingga sebuah teriakan berhasil membuat tubuhnya lemas.
"Roy tidak mungkin meninggal!"
DEG.
Bagaikan sebuah hantaman besar membuat Ray seketika langsung terduduk lemas, tidak berdaya. Apa yang terjadi? Apakah Ray melewatkan sesuatu? Roy meninggal? Kakaknya? Tapi, kenapa?
Creepy doll terjatuh dari pelukan Ray, merasakan sesak Ray memegangi dadanya sembari mengatur napasnya.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin terjadi! Roy!"
"Menangislah kalau itu bisa membuatmu kembali tenang." [Mariam]
______
Melihat sesuatu yang terjadi kepada Ray, dengan cepat Mariam meraih tubuh Ray dan memeluknya dengan erat.
"Tenangkan dirimu Tuan muda. Tenang!" bujuk Mariam.
Ray terus bergumam mengatakan semua ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa?
Ray menoleh kebelakang melihat Ibunya yang dipeluk erat oleh Ayahnya. Ray berusaha bangkit dengan bantuan Mariam berjalan menuju Nisa, Ibunya.
Creepy doll yang tergeletak di lantai tak dihiraukannya. Yang terpenting saat ini adalah Ray harus mencari tau kebenarannya.
"Mah." panggil Ray.
Bukannya sahutan lembut atau pelukan hangat, yang Ray dapatkan adalah tatapan penuh amarah serta kebencian dari mata Nisa.
"Ini semua salah kamu! Kamu pembawa sial di keluarga ini!"
Tubuh Ray seketika menegang. Dari semua caci maki yang Ibunya lontarkan untuknya, hanya ini yang mampu membuat Ray merasa sangat terganggu.
"Nisa, hentikan!" bentak Bryan.
"Apa? Yang aku katakan itu memang benar! Anak ini, anak ini pembawa sial! Kalau aku tau dari dulu, seharusnya aku tidak melahirkannya!" teriak Nisa sembari menunjuk wajah Ray yang terlihat sangat syok.
Dengan cepat Ray menggelengkan kepalanya menangkis apa yang dikatakan Nisa, "Tidak mah, itu semua bukan salah Ray. Ray mohon mah, Ray -"
"Jangan sentuh aku sialan!"
Ray terjatuh karena Nisa mendorongnya, dengan sigap Mariam menahannya. Air mata Ray semakin deras membasahi pipinya menatap tak percaya kepada Ibunya.
Ray menoleh ke arah Bryan meminta pembelaan tapi sayangnya semua itu tak berlaku, Bryan mengalihkan pandangannya seolah-olah tak melihat kejadian barusan.
Tiba-tiba napas Ray memburu. Rasa takut dan cemas kembali menghantuinya membuat keringat semakin banyak membanjiri wajahnya yang terlihat semakin pucat.
Mariam tak tinggal diam. Dengan cepat Mariam menyuruh beberapa pelayan menopang tubuh Ray membawanya ke kamar. Tak lupa pula creepy doll milik Ray.
Setelah membaringkan tubuh Ray di atas tempat tidurnya, Mariam meletakkan creepy doll di sebelah Ray.
Tatapan Ray kosong saat ini. Pandangan Ray fokus menatap langit-langit kamar menandakan seberapa hancurnya dirinya saat ini.
Melihat hal itu membuat hati Mariam terasa diiris-iris. Pasalnya 10 tahun lamanya menjadi psikiater pribadi Ray, ini pertama kalinya Mariam melihat tatapan kosong seperti itu.
Mariam ikut berbaring di sebelah Ray dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. Dan benar saja, Ray membalas pelukannya.
Di saat itulah tangisan Ray pecah. Ray menangis sejadi-jadinya melampiaskan rasa sedih, amarah dan bencinya di dalam tangisan tersebut.
Mendengar tangisan pilu dari Ray membuat Mariam tak menyadari bahwa air matanya ikutan terjatuh membasahi pipinya.
Ray semakin mempereratkan pelukannya membuat Mariam merasakan sedikit sesak tapi untuk melampiaskan semuanya Mariam tak mempermasalahkan itu. Karena Mariam juga sudah menganggap Ray seperti anaknya sendiri.
"Menangislah kalau itu bisa membuatmu kembali tenang." bisik Mariam.
Seperti menuruti perkataan Mariam, Ray semakin menangis dan mencekam erat kemeja berlogo psikiater milik Mariam.
Mariam memejamkan kedua matanya berharap ini semua hanyalah mimpi tapi Mariam sadar bahwa semuanya adalah kenyataan.
Kenyataan bahwa Roy, Roy River Robertson putra tertua Robertson meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.
Mariam tau, bagaimana kasih sayang serta perhatian kecil yang diberikan Roy tentu saja tidak bisa dilupakan begitu saja oleh Ray.
Hanya Roy satu-satunya anggota keluarga Robertson yang mau menerimanya, yang mau menganggap kehadirannya, yang selalu membelanya. Tapi kini? Siapa lagi yang akan membela Ray? Siapa lagi yang akan memberikan kasih sayang dan perhatian kecil kepada Ray? Sudah tidak ada lagi.
Dirinya? Tentu saja dirinya selalu memberikan semuanya termasuk kasih sayang seorang Ibu kepada Ray hanya saja Mariam sadar posisi. Posisinya sebagai orang asing tentu membuat Ray merasa tidak nyaman.
Hampir dua jam lamanya Ray menangis dan saat itu Mariam sudah tidak mendengar suara isakan tangis lagi melainkan dengkuran halus yang beraturan menandakan Ray sudah tertidur karena lelah sehabis menangis.
Perlahan-lahan Mariam melepaskan pelukannya beralih mengusap lembut wajah tampan Ray, menghapus bekas air mata Ray yang sudah mendingin.
"Aku tau, kau kuat Ray." lirih Mariam.
Mariam meraih creepy doll menyimpannya di dalam pelukan Ray dan menyelimuti Ray sampai batas leher.
Mariam kembali mengacak lembut rambut hitam lebat Ray sembari bergumam, "Kau anak yang kuat."
********
Langit mulai gelap di pagi hari menandakan langit sebentar lagi akan menangis, mencurahkan air hujan yang membasahi bumi.
Seperti dengan suasana hati Ray saat ini. Ternyata langit sangat mengerti tentang dirinya. Yang awalnya hanyalah rintik-rintik berganti dengan lebatnya hujan.
Hari ini adalah hari pemakaman kakaknya, Roy. Putra tunggal keluarga Robertson. Begitulah kata media.
Ray menatap kosong ke arah luar lewat balkon kamarnya seolah-olah sedang menghitung berapa banyak jumlah air hujan yang terhitung. Hasilnya adalah tak terhitung.
Begitulah yang dirasakan Ray saat ini. Rasa sedih, amarah, dan kecewa tak terhitung bersemayam di dalam dirinya.
Ray hanya bisa duduk termenung di atas lantai dengan creepy doll di atas pangkuannya. Tangan Ray tak berhenti mengelus kepala creepy dollnya seolah-olah creepy dollnya benaran benda hidup.
Ray dilarang pergi ke pemakaman Roy dikarenakan tidak ingin ada pihak media yang menangkap sosok dirinya. Begitulah kata Bryan, ayahnya.
Karena takut Ray nekat pergi sendirian, Bryan memutuskan untuk mengunci seluruh pintu di manshion termasuk pintu kamar Ray dengan banyak bodyguard yang berjaga di depan pintu kamarnya.
Mariam? Tentu saja psikiater cerewet itu pergi juga, meninggalkan Ray seorang diri di dalam kamar. Entah apa alasannya, Ray tidak tau.
Suara volume tv yang sengaja Ray besarkan agar dirinya dapat mendengar berita tentang keluarga terpandang di Amerika, keluarga Robertson.
Menjijikan sekali. Terkadang Ray merasa jijik dengan nama belakangnya. Keluarga Robertson yang katanya dikenal dengan keluarga terkaya ketiga di Amerika memiliki sifat yang rendah hati dan ramah. Cih, omong kosong.
Semua itu hanyalah topeng, Ray tau itu. Karena keluarga Robertson selalu ingin dipandangan baik oleh publik, oleh karena itulah mereka menyembunyikan keberadaan dirinya.
"Pukul 23:15 malam tadi, putra tunggal keluarga Robertson yang sebentar lagi akan bertunangan mengalami kecelakaan lalu lintas. Pihak polisi masih menyelidiki kasus ini..."
Begitulah kata reporter di tv yang menyiarkan berita live langsung dari pemakaman.
"Kalau kakak Roy sudah tidak ada lagi, seharusnya aku juga tidak ada kan Rey?" tanya Ray.
Creepy doll yakni adalah Rey tertawa menggema di dalam kamar yakni suara tawa itu berasal dari mulut Ray sendiri.
"Dasar bodoh. Sekali pecundang tetap pecundang!"
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" lirih Ray.
"Tidak banyak, kau hanya harus membalas semuanya."
"Bagaimana caranya?" tanya Ray dengan raut wajah serius.
"Kau pernah mendengar istilah ini? Darah harus dibayar dengan darah. Kematian Roy disebabkan oleh keluarga Robertson."
"Jadi?" tanya Ray menyakinkan.
"Jadi...kau hanya perlu membantai keluarga Robertson!"
Mendengar hal itu sontak membuat Ray membeku seketika. Tangannya mengepal. Wajahnya semakin pucat dengan peluh yang membanjiri wajahnya. Apa yang dikatakan Rey ada benarnya, tapi tidak sekarang. Begitulah pikir Ray.
"Jangan kurang ajar, Rey!" bentak Ray.
"Kau pun sama kurang ajarnya bocah. Kau akan melakukannya nanti kan?"
Seperti tertangkap basah, Ray terkekeh geli mendengar tebakan Rey.
"Bodoh! Bodoh!"
"Ahahahah!"
Keduanya tertawa begitu kencang membuat beberapa bodyguard yang mendengarnya seketika merinding. Tiba-tiba bulu tengkuk mereka berdiri.
"Sepertinya penyakit Tuan muda semakin parah." bisik salah satu dari mereka.
"Kalau begitu, telfon nona Mariam."
Salah satu dari mereka menelfon Mariam mengabari kepada wanita seksi itu bahwa keadaan Tuan muda mereka tidak baik-baik saja saat ini.
Mendengar hal itu, dengan cepat Mariam kembali dari pemakaman menuju manshion Robertson dimana Ray berada.
Apa yang dikatakan beberapa bodyguard itu sukses membuat pikiran negatif menjalar di pikiran Mariam tapi dengan cepat Mariam menepisnya.
"Ray pasti baik-baik saja." gumamnya.
*******
Dengan cepat Mariam berlari di dalam manshion menaiki anak tangga. Tak peduli berapa kali dirinya tersandung karena sepatu hells sialannya itu karena yang ada dipikirannya saat ini adalah Ray.
Setelah sampai di depan pintu kamar Ray, Mariam merongoh kantong celananya untuk mengambil kunci kamar Ray.
"Kalian pergilah, sudah ada aku disini." titah Mariam yang langsung dituruti bodyguard tersebut.
Dengan pelan-pelan sembari menongolkan kepalanya dulu, Mariam membuka pintu kamar Ray. Objek pertama yang dilihatnya adalah tubuh Ray yang berbaring meringkuk di atas karpet berbulu dengan creepy doll di dalam dekapannya.
Malihat hal itu tentu saja Mariam khawatir. Dengan cepat Mariam menghampiri Ray dan menggoyangkan pelan tubuhnya.
"Tuan muda. Bangun. Kenapa Anda tidur di sini?" tanya Mariam.
Perlahan mata hitam pekat itu terbuka. Karena masih mengantuk, Ray mengeliat mencari posisi yang nyaman dan kembali memejamkan matanya.
Mariam hanya bisa mendengus kesal karena Ray lagi dan lagi mengacuhkannya. "Tuan muda, ayo bangun. Jangan tidur disini. Anda bisa sakit."
Ray berdecak kesal dan bangkit tiba-tiba membuat Mariam terkejut. "Kau cerewet sekali, Mariam." ketus Ray.
Melihat perubahan Ray membuat Mariam semakin khawatir. Sedingin-dinginnya Ray, tapi kali ini mata Ray terlihat sangat gelap dari pada sebelumnya membuat Mariam kembali menerka-nerka apa yang terjadi.
"Masih betah duduk di situ?"
Pertanyaan Ray sukses membuyarkan lamunan Mariam. Dengan cepat Mariam berdiri merapikan kemejanya dan berjalan menghampiri Ray yang saat ini sedang duduk di atas king size miliknya.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah Anda baik-baik saja, Tuan muda?" tanya Mariam sembari menyelidiki perubahan raut wajah Ray tapi nihil, wajah itu semakin datar saja membuat Mariam tak bisa membaca arah pikiran Ray saat ini.
"Aku ingin tidur."
Mariam melongo tak percaya. Memang ini bukan pertama kalinya Ray mengacuhkannya tapi lihatlah Ray mengucapkan sesuatu tanpa ekspresi.
"Aa...baiklah Tuan muda. Silahkan tidur." ujar Mariam sembari menarik selimut untuk Ray.
Cuaca sangat dingin karena hujan, Mariam mengerti itu karena itulah Mariam meraih selimut yang tebal untuk Ray.
Ray mengatakan ingin tidur tapi matanya tak terpejam membuat Mariam merasa heran. Apakah Ray menunggu dirinya bercerita tentang keadaan di pemakaman? Bisa jadi. Karena Mariam tau, ego Tuan mudanya itu sangat tinggi.
Dia tidak ingin harga dirinya turun hanya untuk menanyakan hal sepele.
"Keadaan di pemakaman sangat ramai. Nyonya sampai pingsan dan -"
"Apakah aku menyuruhmu bercerita?" potong Ray.
Tiba-tiba atmosfer berubah menjadi dingin. Lebih dingin dari pada suhu hujan saat ini. Mariam merasakan ketegangan dan tatapan intimidasi dari Ray membuat Mariam kesulitan menelan salivanya.
"Saya...saya hanya -"
"Aku tidak menyuruhmu mendongeng, Mariam!" potong Ray dengan nada penuh penekanan tapi raut wajahnya tetap datar.
Mariam menganggukkan kepalanya pelan dan pergi meninggalkan Ray seorang diri sesuai seperti perintah yang dilontarkan Ray.
Setelah menutup pintu kamar Ray, Mariam menarik napas panjang dan menghebuskannya dengan kasar.
Ada sesuatu yang aneh. Tapi apa?
Mariam mengerti, Ray pasti sangat terpukul dengan kepergian Roy, tapi entah kenapa tatapan mata itu sangat tidak mengenakan.
"Aku harus cari tau."