Bab 1

New Elysian, 2010.

"Menurut pendapatku, semua orang berhak mendapatkan sebuah keajaiban, bahkan mungkin bisa lebih dari satu," kata Adonis.

Adonis Draven, seorang pria kaya raya nan tampan dan berkharisma yang menjabat sebagai pemilik tunggal perusahaan eksportir terbesar di New Elysian, yaitu Genesis Motors. Selain memiliki paras yang rupawan, Adonis adalah sosok yang sangat rendah hati serta penyayang. Ia adalah anak tunggal dari keluarga Draven yang terbilang masih memiliki darah bangsawan di negaranya itu.

Saat berumur dua puluh delapan tahun, Adonis meminang seorang gadis, putri dari seorang saudagar kaya yang menjadi rekan bisnisnya di kota Trouvaille. Gadis cantik dengan mata biru itu bernama Kaira Harrison.

Sekarang sudah hampir dua tahun mereka menjalani kehidupan yang indah dan bergelimang harta tanpa kekurangan suatu apapun. Pada suatu hari saat sedang minum teh bersama di teras belakang rumah, Adonis berkata pada Kaira. "Sayang, aku bahagia hidup bersamamu. Namun alangkah baiknya jika kehidupan kita diberikan sesuatu yang lebih dari ini."

Kaira menjawab, "apa itu, sayang? Katakan padaku."

"Aku ingin memiliki seseorang yang menyerupaimu. Matamu, hidungmu, bibirmu dan mungkin sedikit tambahan dari rupaku," ujar Adonis sambil menyibakkan rambut Kaira ke belakang telinganya.

Kaira yang mendengar itu pun merasa trenyuh. Ia mendekati Adonis lantas duduk di pangkuannya. Kaira berkata, "tentu saja, sayangku. Pasti akan sangat menyenangkan jika kita memiliki seseorang yang 'mini' berlarian kesana-kemari dalam rumah ini."

Dengan lembut Kaira mengecup bibir Adonis dan mengusap kepalanya. Adonis sangat menyukai jika dimanja seperti ini oleh sang istri.

Ketika memasuki tahun ketiga pernikahan mereka, Adonis diperhadapkan dengan situasi yang memaksanya untuk pasrah. Perusahaannya bangkrut karena ditipu oleh pengusaha asing yang mengajaknya untuk bekerjasama. Adonis mengeluarkan seluruh sisa dari hartanya untuk mencari keberadaan si penipu itu. Namun nihil, si penipu itu pun tak kunjung ditemukan, bak hilang ditelan bumi.

Adonis beserta keluarga besarnya pun pindah ke rumah lamanya di Northstone Ville. Beberapa bulan setelah mereka pindah, ayah Adonis meninggal dunia karena serangan jantung saat sedang bekerja di ladang. Tiga bulan setelah kepergian ayahnya, ibunya menyusul karena kanker paru-paru stadium akhir yang sudah tidak bisa disembuhkan.

Bab 2

Gemuruh suara angin yang disertai hujan yang sangat lebat di malam itu membuat kegaduhan dari kediaman keluarga Draven sedikit teredam. Pasalnya sepasang suami istri sedang terlibat pertengkaran yang sangat hebat.

"Karena kau adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab, Adonis!" bentak Kaira kemudian mengacak-acak semua hidangan yang ada di atas meja makan. "Aku menyesal sudah menikah dengan lelaki sepertimu!"

"Tapi, Kaira …, selama ini aku berusaha untuk menafkahimu! Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik! Aku sadar, sekarang aku miskin dan dengan pekerjaanku yang sekarang pun aku tidak bisa memberimu lebih, tapi tak pernah sedikitpun aku melupakan kewajibanku sebagai seorang suami," ujar Adonis. Matanya berkaca-kaca, air matanya menggenang, hampir jatuh.

"Apa katamu? Memenuhi semua kebutuhanku? Selama ini kau hanya mampu membelikanku makanan dan baju bekas dari thrift shop temanmu itu! Itu semua memang bermerek, tapi aku tahu membedakan mana yang baru dan mana yang bekas!"

"Maafkan aku, sayang …, tapi setidaknya baju-baju itu masih sangat bagus dan masih layak untuk kau pakai 'kan?"

"Belum lagi dengan peralatan make-up, vitaminku, ponsel pun tak ada gunanya lagi di sini karena beberapa bulan yang lalu wifi-nya sudah dicabut karena menunggak berbulan-bulan! Untung saja aku punya simpanan untuk membeli paket data," seru Kaira dengan tatapan sinis yang menakutkan seraya duduk dengan anggunnya di sofa, lantas ia berkata, "sejak hampir setahun belakangan apa kau pernah mengajakku liburan? Kau hanya mampu mengajakku ke pasar untuk berbelanja kebutuhan makanan, itu pun selalu tidak cukup karena uangnya terlalu sedikit!"

Emosi menyulut amarah Adonis yang tidak menyangka istrinya tega membuang kata-kata yang menyakitkan seperti itu. Kemudian katanya, "dasar kau tidak pernah bersyukur!" ujarnya dengan penuh kemarahan, matanya melotot dengan tajam seraya mengangkat tangan kirinya berniat melayangkan tamparan.

Kaira terkejut dengan reaksi Adonis. Seketika dia langsung beranjak dari sofa dan berkata, "ayo pukul! Pukul aku jika kau ingin berakhir di penjara. Kau pikir ayahku akan membiarkan putri kesayangannya ini dianiaya pria miskin sepertimu?"

Adonis terdiam. Tangannya masih terangkat, nafasnya menderu dengan hebat karena menahan amarah yang membara. Tapi, sekalipun Adonis marah, ia tidak pernah sampai hati memukul istri yang sangat dicintainya itu.

"Hmm, aku tahu kau tidak akan pernah berani melakukan itu padaku. Selama ini kau hanya bisa menggertak dengan gayamu yang sok kuat itu," sindir Kaira dengan sombongnya sambil berkacak pinggang dengan tawa sinis.

"Sombongnya dirimu, Kaira Harrison! Harusnya kau malu karena di saat aku sedang bersusah payah mengumpulkan uang untuk memenuhi semua kebutuhanmu, kau malah pergi dengan lelaki lain!

Raut wajah Kaira yang tadinya terlihat bangga karena merasa telah memenangkan argumen, tiba-tiba memucat. Dia tersentak mendengar perkataan suaminya tadi.

"Be-beraninya kau memfitnahku! Ternyata pandai juga kau mengarang cerita." Kaira beralibi. Ia terbata namun berusaha tetap terlihat tenang.

Adonis meraih ponsel yang ada di sakunya kemudian membuka folder galeri. Beberapa kali dia menggeser-geser gambar-gambar mencoba mencari sesuatu yang sepertinya ingin ditunjukkan kepada Kaira.

"Ini apa?" kata Adonis sambil mengulurkan tangannya yang memegang ponsel ke wajah Kaira. "Lalu ini, ini, ini dan ini! Semuanya ada tanggal dan jamnya, Kaira!" ujarnya sambil menahan tangis yang sudah berada di ujung mulut.

"Dari mana kau mendapatkan itu semua?"

"Kau tidak perlu repot-repot mencari tahu dari mana aku mendapatkan ini. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu aku selalu membuntuti dan memantau semua gerak-gerikmu itu. Kau pikir aku bodoh?" berangnya dengan penuh emosi. Katanya, "tapi, memang aku bodoh karena tetap mencintaimu walaupun mungkin tubuhmu sudah disentuh lelaki lain."

Kaira yang sudah merasa kalah hanya duduk berpangku kaki mencoba menutupi kegelisahannya dan berusaha menciptakan kesan kalem.

"Syukurlah, akhirnya aku juga tidak perlu lagi repot-repot menyembunyikannya," ucap Kaira. "Jadi ku anggap sekarang kita resmi berpisah, oke!"

"Apa! Berpisah? Kau tahu sendiri aku selalu memaafkanmu, Kaira. Asal kau berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kan?"

Kaira terkekeh mendengar ucapan Adonis barusan. Kemudian ia berkata, "apa katamu tadi, kesempatan kedua? Sayangnya aku tidak berminat dengan kesempatan keduamu itu. Kesempatan kedua untuk hidup susah lagi maksudmu? Maaf, terimakasih!" Kaira menyeringai seakan bangga dengan perkataanya tadi.

"La-lalu, bagaimana dengan nasib bayi kita yang ada di dalam kandunganmu itu? Empat bulan lagi kau akan melahirkan, Kaira!"

Sudut kanan bibir Kaira terangkat. Dia memandang Adonis dengan penuh keangkuhan. Adonis hanya tersungkur berlutut di hadapan Kaira dengan tatapan penuh harapan.

"Harusnya kau tahu diri dulu sebelum berkata seperti itu, Adonis."

"Apa maksudmu, Kaira?"

"Ternyata memang benar kau bodoh, tepat seperti kata-katamu tadi."

"Aku makin tidak mengerti, Kaira. Kumohon berhentilah bersikap seperti ini. Kita masih bisa memperbaiki ini demi anak kita. Dan lihat …," kata Adonis yang kemudian berjalan dengan cepat ke arah tas ransel yang tergeletak di samping pintu bermaksud mengambil sesuatu untuk ditunjukkan. Ia berkata, "lihatlah ini, aku membelinya tadi. Ini baju untuk anak kita nanti, warnanya biru seperti warna kesukaanmu," ujarnya dengan sangat gembira sembari menghapus air mata yang jatuh di pipinya tadi. Matanya melebar memancarkan kebahagiaan yang tak dapat diungkapkannya dengan kata-kata.

Kaira yang sedang duduk di atas sofa hanya memandang datar apa yang sedang diperlihatkan Adonis seperti tidak tertarik.

"Bersenang-senanglah dengan belanjaanmu itu. Simpanlah! Aku tidak membutuhkannya!"

"Maksudmu apa? Ini sudah kubelikan untuknya. Aku membelinya dengan gaji dari pekerjaan sampinganku sebagai tukang cuci piring selama dua minggu, ditambah dengan gaji sisa dari mengangkut barang di pelabuhan. Memang tidak seberapa, setidaknya aku bisa membelikannya untuk anakku tercinta."

"Kenapa kau begitu polos, Adonis? Kau terlihat sangat percaya diri kalau anak yang ku kandung ini adalah anakmu!"

Adonis terdiam, otot di rahangnya bergerak. Dia mengernyitkan dahi sambil menunduk dan berpikir. Wajahnya memucat karena akhirnya merasa menyadari sesuatu.

"Ini bukan anakmu, Adonis. Ini adalah anak Harrold Walker, pria yang ada di dalam foto yang kau tunjukkan tadi."

Seketika Adonis berdiri dari tumpuan lututnya. Pandangan matanya kosong, ia berjalan ke arah kulkas dan meraih botol air minum. Dia meminum seluruh isi yang ada di dalam botol kaca transparan itu dengan sangat cepat seperti seseorang yang tengah kehausan di gurun pasir, kemudian duduk di kursi meja makan. Air mata menggenang di mata Adonis.

"Apa kau tidak pernah bertanya-tanya semua baju-baju baruku, makan malam mewah yang selalu ku hidangkan setiap sabtu malam, bahkan biaya rumah sakit ibumu beberapa bulan yang lalu itu dari mana asalnya?" tanya Kaira.

"Ku pikir itu semua bantuan dari ayahmu, maka dari itu tak pernah tersirat di benakku untuk mencari tahu dari mana datangnya semua uang itu," jawab Adonis.

Kaira beranjak dari posisi duduknya dan menghampiri Adonis yang hanya terdiam duduk di meja makan dengan tatapan hampa. Kaira menghampiri Adonis dan duduk tepat di depannya kemudian Kaira berkata, "aku lelah hidup miskin seperti ini. Semua serba kekurangan. Ini tidak seperti ekspektasiku, Adonis. Lagipula, kenapa kau harus menjadi miskin seperti ini? Karena kebodohanmu itulah makanya kau bisa sampai ditipu!" ujarnya sambil bersandar di kursi dan memeluk dada dengan pandangan sinis.

Bab 3

"Tapi, aku bahagia denganmu," ucapnya dengan nada lirih.

"Aku sudah tidak bahagia lagi denganmu, Adonis. Aku menderita!"

Adonis tetap terdiam. Tak ada satupun emosi yang keluar wajahnya, hanya tangannya saja yang terlihat sedikit gemetar saat mendengar omongan Kaira tadi.

"Kurasa ini saat yang tepat untuk kita berpisah, Adonis."

Kemudian Adonis meraih sepotong roti yang jatuh ke lantai yang tadi dibuang Kaira. Diraihnya juga selai kacang yang tumpah di lantai dan mengoleskannya di atas roti lalu memakannya secara perlahan.

"Hey, apa kau tuli? Aku sudah muak hidup bersamamu!"

Seketika Adonis bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju lemari dapur. Dengan membabi-buta dilemparnya semua piring dan perabot yang ada di dalam lemari. Emosinya yang tadinya disimpan rapat dalam benaknya tiba-tiba keluar dan menguasai seluruh jiwa raganya. Dia mengamuk seperti seorang yang sedang kesurupan. Dengan segenap amarahnya dia meluapkan seluruh kekecewaan pada semua yang terlihat oleh matanya, tak ada satupun yang terlewatkan.

"Selama ini aku berusaha untukmu, Kaira! Siang malam aku bekerja sampai tidak lagi memperdulikan kesehatanku, semua ku lakukan hanya untukmu. Sungguh tak ku sangka begitu teganya kau berbuat ini padaku!" pekik Adonis. Kekecewaan tersirat jelas di matanya yang kemerahan karena air mata yang terus membanjiri matanya yang berwarna biru keabu-abuan.

Adonis tersungkur tak berdaya sambil bersandar di depan kulkas yang tadi di bantingnya. Tangannya berlumuran darah karena terkena pecahan-pecahan kaca lemari. Dia sangat terpukul dengan semua yang telah diketahuinya malam ini.

Perayaan makan malam untuk ulang tahun perkawinan mereka justru menjadi mimpi buruk bagi Adonis. Wanita yang sangat dicintainya itu tiba-tiba berubah menjadi layaknya seorang monster yang sudah menggerogoti kebahagiaannya sejak lama. Kaira menatap Adonis tanpa rasa iba sedikitpun, tak ada rasa sesal ataupun rasa bersalah.

"Kau memang baik, Adonis. Paras dan perlakuanmu yang hampir sempurna itu yang membuatku dulu tergila-gila. Kau selalu memperlakukan aku seperti seorang putri. Tapi, itu semua tidak cukup lagi sekarang. Perusahaanmu hancur dan akhirnya kau jatuh miskin, itu sudah takdirmu, bukan takdirku," katanya pelan dan penuh keyakinan. Kaira bangkit dari tempat duduknya, kemudian berkata, "semua sudah terlambat, Adonis. Aku akan kembali pada orang tuaku dan menata kehidupan yang baru bersama Harrold."

Di dalam hatinya, Adonis merasa sangat terpukul, bahkan hancur berkeping-keping. Dia hanya bisa menahan semua keinginan dan emosi untuk mengutuk perbuatan Kaira kepadanya, karena jauh di lubuk hatinya, Adonis sadar bahwa Kaira masih menjadi seseorang yang sangat dicintainya dengan sepenuh jiwa dan raga.

*****

Waktu menunjukkan sudah hampir jam sembilan malam. Hujan sudah mulai reda, hanya tinggal gerimis kecil yang kini masih membasahi setiap sudut lorong-lorong kecil di Hall Street. Jalanan di depan rumah kediaman Adonis pun terlihat sangat sepi. Pesta ulang tahun perkawinan yang seharusnya menjadi perayaan yang sakral, berubah menjadi tragedi yang tidak akan pernah dilupakan Adonis.

Sementara itu dari balik jendela kamar tidur, Kaira menatap ke luar dengan gelisah, seperti sedang menunggu sesuatu yang belum kunjung tiba. Dia kemudian kembali ke samping kasur dan melanjutkan membereskan barang-barang yang hendak dibawanya. Satu-persatu dilipatnya baju-baju yang dikeluarkan dari lemari dan menatanya dengan rapi di dalam koper kecil.

Di lantai bawah, Adonis masih termenung duduk bersandar di samping kulkas dengan ingatan-ingatan yang masih segar tentang perjalanan cintanya dengan Kaira. Seperti proyektor yang menjalankan pita film dan digulung ke rol kosong, satu-persatu ingatan itu muncul. Kenangan-kenangan indah yang masih tertata rapi dalam hati Adonis yang kini berusaha ditepisnya.

Tok tok tok!

Terdengar bunyi ketukan dari pintu depan.

"Siapa di sana?" seru Adonis.

Tak terdengar suara jawaban sedikitpun. Beberapa saat kemudian Kaira muncul dari tangga dengan menyeret koper dan langsung menuju ke pintu berniat hendak membukanya. Adonis menatap Kaira dari kejauhan tanpa berbicara sedikitpun. Saat pintu dibuka, betapa terkejutnya Adonis melihat sosok seorang lelaki berperawakan tinggi dengan wajah khas timur tengah yang terlihat begitu bermartabat. Itu adalah Harrold Walker, pria simpanan Kaira yang sering dilihat Adonis saat membuntutinya setahun terakhir ini.

Seketika Adonis bangkit dan berlari ke arah depan pintu dengan kepalan tangan yang masih berlumuran darah. Dengan penuh amarah dan rasa benci, Adonis mengayunkan kepalan tangannya bak seorang petinju profesional ke arah lelaki yang sedang berdiri di hadapan istrinya itu.

Gubrakkk!

Tubuhnya terhempas ke lantai saat wajahnya bertemu dengan hantaman tinju Harrold yang dengan sangat gesit mendaratkan pukulan ke wajah Adonis. "Berpikirlah dahulu sebelum kau hendak menyerangku, Adonis. Kau bukan tandingan yang layak untukku," kata Harrold dengan sangat tenang dengan raut wajah angkuh yang menjadi ciri khasnya.

Harrold adalah putra sulung dari salah satu pemilik bisnis kilang minyak terbesar di Dubai, Arcane Anchor. Perusahaan keluarganya adalah salah satu perusahaan terbesar ketiga di sana. Pria berumur tiga puluh tiga tahun yang memiliki wajah yang tampan nan mempesona dengan perawakan badan yang atletis serta bergelimang harta, membuat Harrold Walker terlihat sangat terhormat dengan setelan jas dan sepatu kulit yang selalu menempel di badannya.

"Kaira tidak pantas bersama dengan lelaki miskin sepertimu! Sekarang ia milikku!" katanya seraya meraih sesuatu dari dalam jas kemudian melemparnya ke hadapan Adonis. "Kurasa itu cukup untukmu agar tidak mencari Kaira lagi. Dan jangan lupa, belilah baju yang baru, siapa tahu dengan itu kau bisa mendapatkan wanita lain pengganti Kaira."

Sambil menunduk malu, Adonis meraih kertas yang ternyata adalah cek. Selama beberapa detik dia menatap kertas cek yang bertuliskan angka '$1.000.000'. Sungguh hatinya terasa tercabik-cabik menyaksikan wanita yang sangat berarti baginya rela menukar kebahagiaannya dengan uang.

Adonis yang tidak terima dengan penghinaan terhadapnya itu kemudian melempar kertas cek tersebut. Katanya, "aku tidak butuh ini! Kaira, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku masih sangat mencintaimu. Tidak apa jika itu bukan anakku, aku akan menerima dan menyayanginya sepenuh hati seperti anakku sendiri."

"Sudahlah, kau jangan bermimpi! Kaira sudah tidak ingin lagi bersamamu. Benarkan, sayang?" tanya Harrold kepada Kaira sembari membelai lembut rambutnya.

"Cuih! Aku sudah tidak sudi lagi menjadi istrimu, dasar gelandangan!" jawab Kaira yang dengan tega meludahi Adonis.

Harrold yang mendengar perkataan Kaira pun tidak mau ketinggalan. Katanya, "kau dengar itu kan? Dulu kau memang bisa memenangkan hati Kaira, tapi sekarang sudah jelas Kaira memilihku! Dulu itu Kaira hanya terhipnotis dengan ketampanan dan kekayaanmu yang ternyata hanya bersifat sementara!" Dengan sangat sombong Harrold membentak Adonis yang hanya bisa berlutut di depan kaki Kaira.

"Ayo, Harrold sayang, kita pergi dari sini. Aku sudah tidak tahan lagi ditempat yang sudah seperti kandang babi ini. Aku ingin segera mandi air hangat dan beristirahat."

"Iya, benar. Lagipula, ini tidak baik untuk bayi kita. Mari tuan putri…, biar kuantar kau ke dalam mobil," ujar Harrold sambil mengecup mesra tangan Kaira kemudian mengangkat payung dan menuntunnya berjalan menuju mobil Rolls Royce Sweptail berwarna hitam mengkilap yang diparkir tepat di depan rumah Adonis.

"Sampai hati kau berbuat begini padaku, Kaira! Satu saat nanti akan kubalas penghinaan kalian berdua! Ingat itu! Aku, Adonis Draven akan membalas pengkhianatan ini, aku bersumpah!" pekik Adonis dengan mata menyala.

Harrold memandang Adonis dari kejauhan, dia menyeringai sambil sengaja memamerkan kemesraannya bersama Kaira yang tersenyum manis kepada Harrold yang sedang membukakan pintu mobil dengan posisi mempersilahkannya masuk. Betapa hancurnya hati Adonis Draven melepas kepergian wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu pergi dengan lelaki lain di depan matanya sendiri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED