Bab 1

Raut wajah polos tanpa polesan make-up itu terlihat cemberut saat mendengar ucapan pria di hadapannya. Lagi-lagi Max akan pulang lebih awal dan meninggalkannya menata buku sendiri. Bukan itu yang membuat Betty kesal, dia hanya takut pulang sendiri, itu saja.

"Ayo lah, jangan memasang wajah seperti itu. Aku berjanji, setelah anakku lahir aku tidak akan merepotkanmu lagi."

"Bukan itu, Max. Kau tahu aku takut pulang malam," sahut Betty mulai mengurutkan buku yang akan dia tata.

"Sudah ku bilang, naiklah taksi."

Betty menatap Max aneh, "Aku hanya membutuhkan waktu 10 menit dengan berjalan kaki. Kenapa harus memakai taksi?”

"Kalau begitu berhenti mengeluh. Aku sudah memberikan saran yang baik." Max mengedikkan bahunya acuh dan mulai meraih tasnya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih dan sebentar lagi perpustakaan akan tutup.

"Aku pulang, Beth."

Betty mengangguk pasrah. "Ya, berikan salamku pada Wanda.”

Sudah dua jam Betty berkutat dengan kegiatannya menata buku. Entah kenapa banyak sekali buku yang dikembalikan hari ini, sehingga dia harus menatanya sebelum perpustakaan kembali dibuka besok.

Entah berapa lama Betty berkutat dengan buku-bukunya. Waktu berputar begitu cepat sampai jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tidak terlalu larut untuk Betty, setidaknya dia masih menemukan satu atau dua manusia di jalan nanti.

Betty mulai meninggalkan perpustakaan dengan mantel yang terpasang erat di tubuhnya. Musim dingin akan segera datang dan dia bimbang akan itu. Betty sangat menyukai musim dingin, tapi tidak dengan tubuhnya. Entah kenapa tubuhnya begitu sensitif dengan hawa dingin yang dapat membuatnya flu seketika.

Betty memilih untuk melewati jalan pintas. Dia memilih jalan ini untuk mempersingkat waktu. Keadaan jalan yang gelap sudah menjadi hal yang baisa untuk Betty. Namun entah kenapa kali ini berbeda. Langkahnya terhenti saat mendengar suara rintihan seseorang yang membuat bulu kuduknya berdiri. Mata indah itu menatap ke segala arah dengan penasaran, mencoba mencari tahu asal suara mengerikan itu.

Betty terus berjalan sampai akhirnya suara rintihan itu semakin jelas terdengar. Semakin penasaran, Betty tidak ragu lagi untuk mencari tahu. Matanya membulat begitu melihat ada jejak darah di depannya.

"Aku mohon, Tuhan. Jangan korban pembunuhan lagi," gumam Betty mengikuti jejak darah itu.

Langkah Betty terhenti saat melihat seorang pria tengah terbaring lemah di balik tempat sampah. Matanya mengedar ke segala arah untuk mencari bantuan. Pria itu masih hidup! Betty sangat yakin, karena tangan pria itu melambai padanya seolah meminta bantuan.

"Astaga! Apa yang terjadi? Kita harus ke rumah sakit sekarang!" Betty mendekat dan menatap ngeri pada luka menganga di perut pria itu.

"Ja—ngan." Pria itu meraih tangan Betty dan meletakkan sebuah kotak kecil di tangannya

"Apa ini?" tanya Betty bingung.

"Tol—ong berikan benda ini pada Al."

Betty terdiam dan menatap kotak itu penasaran, "Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang."

"Tidak! Biarkan aku mati di sini. Sekarang kau pergi dan berikan benda itu pada Al."

"Aku tidak mengerti!" Betty berteriak histeris. Tentu saja dia bingung karena pria di hadapannya memilih untuk mati malam ini.

"Zoo bar & club. Al ada di sana, cepat pergi atau kau akan berakhir mengenaskan sepertiku."

Takut, itu yang Betty rasakan. Matanya sudah memerah menahan tangis karena bingung harus melakukan apa. Dia hanya ingin pulang sekarang. Gadis itu tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria sekarat malam ini.

"Ak—ku mohon, pergi sekarang."

"Bagaimana denganmu? Kau akan mati!" teriak Betty menangis.

Tanpa disangka pria itu tersenyum. "Ini sudah jalan yang aku pilih."

"Aku tidak bisa meninggalkanmu seperti ini.” Betty masih ragu untuk pergi.

"Sial! Bisakah kau menurut?! Aku tidak punya banyak waktu. Kau hanya perlu pergi menemui Al dan berikan benda itu. Ingat satu hal, namaku Gordon." Gordon berbicara dengan lemah. Rasa sakit di tubuhnya benar-benar tidak bisa ditolong. Hanya satu misi lagi dan semua akan berakhir. Dia belum bisa pergi dengan tenang jika kotak itu belum berada di tangan yang tepat.

"Tidak! Buka matamu! Jangan mati, setidaknya jangan mati sekarang! Astaga, bagaimana ini?!" Betty berteriak frustrasi. Tangannya bergetar berusaha untuk membangunkan Gordon yang mulai terpejam. Namun, sepertinya sia-sia karena pria itu tetap menutup matanya.

Kaki Betty terasa lemas melihat pemandangan itu. Tangannya dengan gemetar mencengkeram erat kotak pemberian Gordon. Jadi apa yang harus dia lakukan sekarang? Menghubungi polisi atau bagaimana?

Akhirnya Betty memutuskan untuk kembali ke jalan utama dengan langkah berat. Tubuhnya masih lemas melihat bagaimana Gordon mati di hadapannya. Ini pertama kalinya Betty melihat betapa kejamnya dunia malam.

Betty tidak akan memanggil polisi. Dia tidak mau terlibat dengan masalah Gordon. Lebih baik dia menyerahkan semua ini ke pada pria yang bernama Al. Betty yakin jika pria itu akan melakukan sesuatu nantinya.

***

Suasana bar yang ramai membuat Aldric mendengus tidak suka. Dia memang tidak suka keramaian tapi hanya Zoo Bar & Club yang menjadi tempat teraman untuknya saat ini, setidaknya untuk pria sepertinya.

Asap rokok kembali keluar dari bibir merah itu. Sudah 3 batang rokok yang Aldric habiskan dan Gordon belum juga datang. Apa pria itu lupa jalan kembali? Seharusnya Mr. X memberikan misi Gordon padanya. Target Gordon kali ini bukanlah main-main. Banyak tameng berlapis yang melindungi target dan hanya otak licik Aldric yang dapat menembusnya.

Tepukan pada bahunya membuat Aldric menoleh. “Ada seseorang yang mencarimu."

Alis Aldric bertaut, "Siapa?"

"Aku tidak tahu, dia bertanya pada semua orang di mana pria yang bernama Al. Tentu saja tidak ada yang tahu!"

Aldric terdiam. Tidak ada yang mengetahui namanya selama ini. Hanya orang-orang yang berkecimpung di dunia gelap yang mengetahui namanya. Jadi siapa orang yang mencarinya?

"Di mana dia?"

"Di sana," tunjuk Roy pada gadis yang tengah berdiri dengan gelisah, "Apa kau menghamilinya?" Lanjut Roy dengan bodoh.

Aldric memilih untuk mengabaikan Roy dan berjalan ke arah gadis yang terlihat mencolok dengan pakaian tertutupnya. Dari kejauhan, Aldric dapat melihat raut wajah ketakutan yang tidak dapat disembunyikan.

"Kau mencariku?" tanya Aldric dengan pelan, berusaha untuk tidak menarik perhatian banyak orang.

"Kau pria yang bernama Al?" tanya Betty bodoh. Matanya menatap pria di hadapannya dengan teliti. Kaos putih dengan balutan jaket kulit serta celana jeans membuat tampilan Aldric terlihat normal. Namun Betty meyakinkan diri jika pria di hadapannya sama bahayanya seperti Gordon.

"Jika kau pria yang bernama Al, ini untukmu." Betty meraih tangan Aldric dan meletakkan kotak pemberian Gordon dengan cepat.

Aldric terdiam dengan mata yang tertuju pada tangan Betty. Tangan kecil itu terasa hangat menggenggamnya.

"Apa ini?"

Pertanyaan bodoh! Tentu saja Aldric tahu apa isi kotak itu. Bukti fisik yang menunjukkan jika Gordon sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Entah mata, lidah, gigi, atau bahkan jantung dari target.

"Aku tidak tahu, Gordon memintaku untuk memberikannya padamu."

"Di mana dia?" tanya Aldric dengan dingin. Wajahnya begitu kaku saat sadar jika Gordon sedang tidak baik-baik saja sekarang. Jika keadaan Gordon baik, maka pria itu sendiri yang akan menemuinya.

"Dia—" Betty menelan ludahnya gugup, "Dia sudah meninggal, di sekitar Curzon st."

Aldric memejamkan matanya sebentar dan mengangguk. Benar dugaannya, Gordon sedang tidak baik-baik saja. Mungkin pria itu kewalahan dengan anak buah Richard yang terus mengejarnya karena berhasil membunuh tuannya.

"Kau harus mengambil jasadnya," ucap Betty dengan suara serak menahan tangis. Dia kembali teringat dengan Gordon yang mati secara mengenaskan.

"Tidak perlu," kata Aldric singkat dan berbalik meninggalkan Betty.

"Hei! Kau tidak bisa pergi begitu saja! Dia temanmu bukan?" Betty mengejar Aldric dan menarik lengannya. Lagi-lagi sengatan itu kembali Aldric rasakan.

"Jika kukatakan dia bukan temanku, apa kau akan menyerah?"

Betty menggaruk lehernya gugup. "Setidaknya kau mengenalnya. Demi Tuhan! Pria itu sudah mati dan sendirian di gang sempit itu!"

"Pelankan suaramu!" Mata Aldric menajam.

"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa mati? Dan kenapa kau bisa sesantai ini?!" Betty berbicara dengan frustrasi. Dia tidak pernah berurusan dengan hal seperti ini. Bahkan untuk masuk ke dalam bar pun ini pertama kali untuknya. Sebut saja Betty kutu buku, karena itu benar adanya.

Aldric berjalan mendekat membuat Betty mundur dengan gugup, "Aku tekankan padamu. Semua ini bukan urusanmu."

"Jika kau tidak mau mengurus mayat Gordon, aku akan memanggil polisi." Ancam Betty yang justru membuat Aldric tersenyum manis. Senyum yang merupakan pertanda buruk.

"Menghubungi polisi, eh? Coba saja, mari kita lihat seberapa beraninya dirimu."

Betty memejamkan matanya menahan emosi. Pria di hadapannya benar-benar misterius dan menyebalkan. Jika memang itu maunya, Betty akan lakukan. Dia akan menghubungi polisi untuk mengatasi mayat Gordon. Biar bagaimanapun juga dia adalah manusia yang mempunyai hati. Dia tidak akan tega melihat mayat Gordon membusuk begitu saja.

"Baik jika itu yang kau inginkan. Tahu akan seperti ini lebih baik aku ke kantor polisi dari pada menemuimu." Betty berbalik untuk pergi. Dia sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Bagaimana bisa Rubby bertahan bekerja di sini?

Sebuah cengkeraman erat berhasil membuat Betty meringis. Gadis itu berbalik dan menatap mata Aldric yang begitu menakutkan.

"Hati-hati dengan apa yang kau lakukan."

"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Jika kau tidak ma—"

"Sial!" Aldric mengumpat membuat ucapan Betty terhenti. Dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang, "Urus mayat Gordon, hilangkan jejak sampai bersih."

Aldric memutuskan panggilannya secara sepihak. "Kau puas, Nona?" tanyanya pada Betty.

"Ya aku puas, terima kasih,” ucap Betty tersenyum manis.

Lagi-lagi tubuh Aldric terpaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sentuhan dan senyum gadis itu begitu berefek padanya?

"Aku harap kau menutup mulutmu tentang semua ini. Jika tidak, jangan menyesal jika kita akan bertemu lagi." Aldric tersenyum manis dan membuat tubuh Betty merinding. Pria itu mengancamnya.

"Pergilah," usir Aldric dan berjalan menjauh. Namun dia kembali berbalik dan tersenyum manis, "Lain kali jangan sentuh orang asing seperti itu, kau tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka."

Betty terdiam dan menatap tangannya kesal. Benar, dia begitu lancang menyentuh Aldric, tapi dia tidak bisa mencegahnya. Mungkin pria itu tidak suka jika ada orang asing yang menyentuhnya.

Namun pikiran Betty salah besar, justru sentuhan itu menimbulkan efek berbahaya untuk tubuh Aldric.

***

TBC

Bab 2

Suara sorakan terdengar menggema saat Aldric—yang dikenal sebagai Dewa Judi— kembali menang tiga kali berturut-turut. Wajah Lukas tampak pias begitu tidak ada uang lagi yang tersisa. Namun dia ingin lagi! Dia tidak akan pernah puas jika belum bisa mengalahkan Aldric.

"Bagaimana?" tanya Aldric sambil melipat kedua tangannya.

"Jangan senang dulu, Master. Kita main sekali lagi. Aku yakin kali ini akan menang."

Aldric menggaruk pelipisnya pelan dan menunjuk uang Lukas yang hanya tinggal beberapa lembar, "Sepertinya uangmu sudah habis."

"Kalau begitu pinjami aku uang," jawab Lukas santai, "Kali ini kita bertaruh, jika aku menang maka semua utangku lunas."

"Dan jika aku yang menang?"

Lukas mendengkus, "Bodoh! Tentu saja utangku bertambah. Jangan konyol."

"Tidak ada untungnya untukku." Aldric berdiri dan mulai mengenakan jaketnya. Dia tidak perlu menanggapi pemuda bodoh yang terobsesi untuk mengalahkannya itu.

"Tunggu! Baiklah, tiga kali lipat." Lukas mencegah Aldric untuk pergi, "Utangku akan bertambah tiga kali lipat jika aku kalah."

Aldric menggelengkan kepalanya tidak percaya dan kembali duduk. Lukas bertindak sangat bodoh. Semua orang juga tahu siapa yang akan menang. Bermodal tekat saja tidaklah cukup. Hutang tiga kali lipat itu sudah bisa digunakan untuk membeli sebuah mobil sport jika Lukas mau.

"Dasar bodoh!" umpat Aldric saat Lukas kembali kalah. Pria itu begitu keras kepala untuk tetap bermain. Tentu saja dia akan kalah! Tidak ada yang bisa menandingi kehebatan Aldric di meja judi.

"Satu minggu, aku beri waktu satu minggu untuk melunasi semua utangmu." Aldric berdiri dan berjalan menjauh.

"Hei, tunggu! Kenapa cepat sekali?!"

Aldric tetap berjalan meninggalkan Lukas yang berteriak frustrasi. Pemuda bodoh yang labil. Aldric tidak suka itu, bahkan dia tidak sebodoh dan selugu itu dulu dalam menangani banyak hal. Terbukti dengan usianya yang baru berkepala tiga, dia sudah berhasil menjadi pembunuh bayaran profesional.

***

Betty mendengkus mendengar suara nyaring nan merdu dari seberang telepon. Rubby selalu saja mengganggunya, tapi itu tidak masalah. Sejak kedatangan Rubby di hidupnya, Betty mulai merasakan bagaimana rasanya mempunyai teman. Rubby akan maju di barisan paling depan jika Betty mengalami sesuatu. Meskipun tak jarang sahabatnya itu juga selalu membuatnya kesal.

"Iya, roti isi ikan tuna dengan ekstra selada, aku paham."

"Ah, kau memang yang terbaik Betty. Aku menyayangimu!"

Betty mendengus, "Hentikan, itu menjijikkan." Rubby hanya tertawa di seberang sana dan panggilan berakhir.

Jam sudah menunjukkan pukul enam petang dan dia harus segera membeli pesanan Rubby jika tidak ingin pulang malam. Betty juga akan membeli roti isi untuk makan malamnya nanti. Hidup sendiri di kota besar seperti ini membuatnya harus mandiri. Untung saja dia sudah mempunyai pekerjaan yang dia sukai.

Langkah Betty berubah pelan saat melewati gang yang menjadi tempat tewasnya Gordon. Tidak ada hal yang mencurigakan di sana. Bahkan garis polisi pun tidak ada. Tempat itu tampak biasa saja tanpa keanehan sedikitpun. Betty bergidik ngeri saat mengingat kejadian semalam, kejadian menakutkan yang tidak akan pernah bisa hilang dari otaknya.

Lonceng berbunyi saat Betty memasuki kedai. Bibirnya tersenyum ketika melihat Khalid—pemilik kedai—yang sudah menyambutnya.

"Seperti biasa, Betty?"

Betty mengangguk, "Ya, tambah satu lagi isi tuna dengan ekstra selada."

"Ah, untuk si pirang?" tanya Khalid mulai membuat pesanan Betty.

"Ya, dia merindukan roti isi buatanmu."

Khalid tertawa, "Tidak ada yang bisa menandingi roti isi milikku."

Betty bersandar pada meja sambil menyaksikan begitu lihainya tangan Khalid dalam membuat pesanannya. Melihat itu, perut Betty mulai bergemuruh. Dia tidak sabar untuk menikmati makanan sederhana itu.

"Khalid, berikan aku salad." Betty mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara yang terdengar tidak asing untuknya.

Benar saja! Mata bening itu membulat begitu melihat pria yang ditemuinya semalam di zoo bar & club. Sialan! Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria menakutkan itu lagi.

"Kau!" ucap Betty terkejut.

"Ahh, Ric! Lama tidak melihatmu." Khalid menyapa Aldric dan tersenyum.

"Ric?" tanya Betty bingung. Siapa Ric? Bukannya pria itu bernama Al?

Seolah sadar dengan apa yang terjadi. Aldric menatap Betty dengan tajam. Ada sarat akan ancaman di sana dan Betty sadar dengan itu.

"Kau mengenal Betty, Ric?" tanya Khalid saat melihat interaksi kedua orang itu.

"Tidak." Aldric melirik Betty sebentar dan mulai duduk di kursi, menunggu pesanannya siap.

Betty memilih menunduk dan menggeser duduknya. Entah kenapa dia merasakan aura menyeramkan sejak Aldric datang dan dia tidak menyukai itu. Betty sudah berdoa ke pada Tuhan agar tidak bertemu lagi dengan pria itu, tapi lihat sekarang? Doanya seperti sedang menghianatinya. Pria menyeramkan itu sudah berada di sampingnya dengan jarak yang begitu dekat.

Aldric tersenyum melihat reaksi Betty. Gadis itu ketakutan dan entah kenapa Aldric menyukainya. Ketika melihat Khalid sibuk dengan makanannya, Aldric mulai menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap Betty dari atas ke bawah. Tatapan aneh yang membuat Betty risih. Gadis itu lebih memilih untuk menutup mulut dari pada mendapatkan tatapan tajam dari Aldric.

"Kita bertemu lagi," ucap Aldric dengan pelan.

Betty semakin menunduk, bertingkah seolah tidak mendengar apa yang dikatakan pria di sampingnya.

Aldric menggeleng tidak percaya. Dia tersenyum manis, senyum yang penuh akan maksud, "Sudah melupakanku ternyata." Aldric berusaha memancing Betty untuk membuka suara, "Apa aku harus mengingatkanmu akan perut Gordon yang terbuka lebar?"

Aldric kembali tersenyum saat berhasil membuat Betty melihatnya. Mata gadis itu benar-benar indah jika diperhatikan dari balik kaca mata tebal itu. Aldric tidak tahu apa warna mata Betty, tapi yang pasti warna mata itu begitu langka. Sangat menarik.

"Bisakah kau diam?" ucap Betty dengan tenang. Tidak terlihat marah atau apapun itu. Namun Aldric tahu jika Betty menyembunyikan ekspresi aslinya sekarang.

"Ah, kembali menjadi singa betina, Betty?"

Mata Betty membulat mendengar ucapan Aldric. Pria itu mengetahui namanya. Betty sangat ingat jika dia tidak pernah menyebutkan namanya semalam. Dari mana pria itu mengetahuinya?

"Dari mana kau tahu namaku?" tanya Betty gugup. Jujur saja dia takut dengan pria misterius itu.

"Ini pesananmu, Beth. Dan ini milikmu, Ric." Khalid datang dengan membawa dua bungkus makanan.

Aldric menunjuk Khalid sebagai jawaban. "Dia menyebutkan namamu tadi. Jadi jangan menatapku seolah aku adalah pria menakutkan."

"Kau memang menakutkan," gumam Betty dan mulai bangkit.

"Kau apa?" tanya Aldric menatap Betty tidak percaya. Dia mendengar jelas ucapan gadis itu tadi.

"Tidak. Aku tidak mengatakan apapun." Dengan cepat Betty membayar makanannya dan berlalu keluar.

"Aku akan membayar ini nanti, aku pergi dulu." Aldric yang merasa diacuhkan langsung mengikuti Betty tanpa menatap Khalid yang berdecak kesal.

Betty melangkah dengan cepat berharap jika akan segera sampai di flat-nya. Pertemuannya dengan Aldric benar-benar membuatnya takut dan trauma. Dia tidak percaya jika akan bertemu dengan pria seperti Aldric, pria yang Betty yakini hidup di dunia yang gelap.

Suara klakson membuat Betty terkejut dan menyentuh dadanya. Mobil Aston Martin keluaran lama berjalan pelan di sampingnya. Begitu jendela mobil terbuka, Betty mendengkus. Langkahnya semakin cepat membuat Aldric kembali menekan klakson beberapa kali.

"Apa yang kau inginkan?" tanya Betty kesal.

"Aku antar pulang, ayo masuk." Ajak Aldric di luar dugaan. Kenapa? Pria itu mengajaknya dengan wajah datar. Apa bisa Betty menerima ajakannya begitu saja?

"Tidak, terima kasih." Betty kembali berjalan membuat Aldric berdecak.

"Aku tidak suka penolakan, Beth. Anggap saja ini ucapan terima kasihku akan semalam."

"Tidak perlu! Flat-ku sebentar lagi terlihat, kau tidak perlu mengantarku." tunjuk Betty pada salah satu gedung yang masih terlihat lumayan jauh.

Aldric tersenyum tipis dan mengangguk. Tanpa disadari Betty sudah menunjukkan letak tempat tinggalnya. Namun seolah tidak peduli, Aldric membuka mobilnya untuk Betty dan kembali meminta gadis itu untuk masuk.

"Masuklah,"

"Al, aku tida—"

"Pelankan suaramu!" bentak Aldric tiba-tiba membuat Betty mundur selangkah, "Masuk, Beth. Aku tidak akan memintanya lagi." Aldric kembali melembut saat Betty mulai ketakutan akan bentakannya.

Entah apa yang dipikirkan Betty, tapi saat ini dia sudah berada di dalam mobil Aldric. Dia seperti terhipnotis saat mendengar bentakan pria itu tadi. Betty tidak pernah dibentak, bahkan kedua orang tuanya yang sudah meninggal pun tidak pernah membentaknya.

"Jangan panggil aku Al."

Betty menatap Aldric bingung, "Kenapa?"

"Jangan sebut namaku, kau hanya boleh memanggilku Aldric ketika kita hanya berdua."

Tiba-tiba Betty berdecak membuat Aldric terkejut. Akhirnya gadis itu mau mengeluarkan ekspresi baru. "Kau berkata seolah kita akan bertemu lagi nanti,” ucap Betty.

Lampu merah berlangsung cukup lama. Aldric menatap jalanan sambil menunggu. Matanya beralih pada mobil jeep hitam di sampingnya dengan pandangan tertarik. Cukup mencolok dengan kaca gelap yang tidak dapat dilihat orang. Namun entah kenapa insting Aldric berkata lain.

Pandangannya beralih pada sebelah kiri mobil dan mendapati mobil yang sama. Gurat emosi muncul saat mobil yang sama juga Aldric temukan di belakangnya. Aldric menggeleng tidak percaya melihat itu. Dia sudah dikepung, entah oleh siapa.

Ketika lampu telah berubah warna, dengan cepat Aldric melajukan mobilnya sampai membuat Betty berteriak histeris. Gadis itu terkejut dengan apa yang dilakukan Aldric. Keadaan jalan yang ramai itu seolah tidak berarti apa-apa. Pria itu masih menyetir dengan santai tanpa adanya guratan ketakutan.

"Apa yang kau lakukan?! Ya Tuhan, tolong aku! Aku tidak mau mati. Aldric ada apa ini?" Betty terus berteriak dan berdoa untuk keselamatannya. Ini bukan lagi jalan menuju flat-nya. Tempat tinggalnya sudah berada jauh di belakang sana.

"Aldric aku takut, aku mohon berhenti!"

"Pejamkan matamu." Hanya itu yang Aldric ucapkan dan Betty menurut. Perutnya sudah mual dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain memejamkan mata dan berdoa.

Cukup lama mereka berkendara. Bibir Betty masih bergumam meminta keselamatan. Rasa tubuh yang melayang menandakan jika kecepatan mobil tidak menurun sama sekali. Betty berasa bodoh karena menerima ajakan Aldric tadi. Jika tahu akan seperti ini dia lebih memilih untuk jalan kaki. Peduli setan dengan ancaman pria itu. Dia saja yang bodoh karena terlalu menurut.

"Buka matamu," ucap Aldric tiba-tiba.

Betty mulai membuka matanya dan pandangannya mengedar ke segala arah. Dia mendapati dirinya sudah berada di bawah jembatan, tepat di samping sungai. Betty mengalihkan tatapannya pada Aldric. Pria itu masih duduk kaku dengan tangan yang mencengkeram setir mobil dengan erat. Keningnya berkerut dalam menandakan jika ia sedang berpikir keras saat ini.

Dengan takut Betty memanggil, "Al?"

Tidak ada sahutan. Tangan Betty perlahan mulai menyentuh lengan Aldric. "Al?" panggilnya lagi yang membuat Aldric mulai menatapnya.

Pria itu menatap tangan Betty yang berada di lengannya. Begitu hangat dan menyengat. Lagi-lagi Aldric merasakan reaksi aneh pada tubuhnya. Ada apa ini?

Sadar dengan tatapan Aldric, Betty dengan cepat menarik tangannya dan menunduk, "Ma—maaf. Aku tidak bermak—"

Betty kembali mengangkat kepalanya saat mendengar suara pintu yang dibuka. Aldric keluar dari mobil dan bersandar pada pintu. Tatapannya menatap jauh ke arah sungai yang dihiasi oleh banyak lampu. Langit sudah mulai gelap dan lampu-lampu itu membuat sungai menjadi lebih indah, tapi tidak untuk Betty. Suasana hatinya begitu kelam dengan keberadaan Aldric di sampingnya.

Dengan ragu, Betty turun dari mobil dan menghampiri Aldric. Berdiri di sampingnya dan ikut menatap air sungai yang berkilauan.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Betty hati-hati. Dia memang takut, tapi rasa penasaran itu lebih menguasai hatinya.

"Pedro sialan!" umpat Aldric pelan. Tiga mobil jeep yang mengikutinya tadi tentu mempunyai maksud. Aldric yakin jika itu adalah ulah Pedro. Pria tua itu kembali mengirim anak buahnya untuk mengawasinya, atau bahkan membunuhnya kali ini.

"Siapa Pedro?"

Aldric menatap Betty kesal. Gadis itu begitu banyak bicara dan dia tidak menyukainya. Namun rasa kesal itu hilang saat tubuhnya seolah tenggelam ke dalam mata indah Betty. Warna biru bercampur abu dan hijau, itu yang membuat Aldric tenggelam.

Begitu indah.

"Al? Kau tidak apa?" tanya Betty tidak sadar akan tatapan terpesona yang Aldric berikan.

Aldric kembali menatap sungai dan mulai mengeluarkan rokoknya. Betty sendiri memilih diam karena bertanya pun akan sia-sia. Aldric tidak akan mau menjawab pertanyaannya. Suara dering telepon membuyarkan lamunan mereka. Aldric mengambil ponselnya dan menemukan nama Keyond di sana.

"Ya?" sapa Aldric sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Cregwal Lincoln! Dia selanjutnya." Sambungan telepon terputus begitu saja.

Keyond sialan!

"Kita pulang sekarang," ajak Aldric.

Dengan semangat Betty mengangguk dan berlari kecil memasuki mobil. Akhirnya hari menegangkan bersama Aldric akan berakhir. Dia tidak akan berhenti berdoa pada Tuhan agar benar-benar menjauhkannya dari pria seperti Aldric

***

TBC

Bab 3

Aldric membuang puntung rokoknya begitu orang yang dia tunggu telah datang. Kenan Rexton, kepala mafia senjata yang membantunya menyiapkan segala jenis senjata untuk memperlancar aksinya.

Aldric sempat terkejut saat melihat Kenan sendiri yang datang untuk melakukan transaksi. Ini memang bukan kali pertama dia bertemu Kenan. Aldric sering berjumpa di Zoo Bar & Club.

"Lama tak bertemu Mr. Rexton," ucap Aldric sambil mengulurkan tangannya.

"Jangan kaku begitu, Al." Kenan menyambut tangannya dan tersenyum ramah.

"Aku hanya tersanjung, kau datang langsung menemuiku untuk mengantarkan pesananku."

"Aku selalu ramah dan kau tahu itu." Seringai Kenan membuat Aldric mendengkus. Semua orang harus waspada dengan senyum itu.

Kenan mengepulkan asap rokoknya sambil memberi instruksi pada anak buahnya untuk membuka dua koper yang berisi senjata pesanan Aldric.

"Ini sangat indah," ucap Aldric dan Kenan mengangguk setuju.

"Kedua pistol ini bukan pistol biasa, pelurunya dimodifikasi dengan sangat rinci dan jika itu menembus kepalamu dipastikan kau akan mati dalam hitungan sepuluh detik karena racun yang terdapat di ujung peluru dan sama seperti pistol modern lainnya, senjata mematikan ini tidak memiliki suara jadi kau bisa dengan sesuka hati memainkannya."

Aldric menatap kedua pistol itu dengan kagum, membayangkan jika pistol itu berhasil menembus kepala targetnya. Mungkin orang lain akan bergidik ngeri, tapi tidak dengannya. Aldric menatap senjata api itu dengan pandangan yang berbeda, seperti menatap sebuah harta karun.

"Kau memang yang terbaik, Ken." Aldric memberikan sebuah koper dan membukanya. Kenan mengangguk saat melihat tumpukan uang di dalam koper itu.

"Tidak ingin bermain dengan para wanita di Club, Al?" tanya Kenan basa-basi.

"Aku lebih bergairah memainkan senjata ini." Aldric tersenyum sambil melirik koper yang berisikan senjata api itu.

"Oh, aku akan menyiapkan karangan bunga untuk targetmu kalau begitu." Kedipan mata menjijikkan dari Kenan membuat Aldric tersenyum tipis.

Aldric berlalu pergi untuk segera menyelesaikan misinya. Keyond pasti sudah berada di hotel tempat Cregwal menginap sekarang. Malam ini mereka akan membunuh Cregwal sesuai dengan instruksi Mr. X.

Saat akan masuk ke dalam mobil, langkah Aldric terhenti saat mendengar seseorang yang memanggilnya. Dia berbalik dan mendengkus ketika melihat Lukas yang berlari kecil ke arahnya.

Si Bedebah!

"Ada apa?"

"Kau akan pergi, Ric?" tanya Lukas bodoh.

Aldric menatap pemuda di hadapannya dengan tajam, "Berhenti berbasa-basi dan apa maumu?”

Begitu menyeramkan dan membuat Lukas meneguk ludahnya takut. "Aku hanya ingin mentraktirmu minum. Apa kau lupa jika aku berhutang padamu?" jawab Lukas hati-hati.

"Tidak perlu, kau hanya perlu membayar utangmu. Berhentilah bersikap kau mengenalku." Aldric masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya kencang. Memberi tanda jika dia benar-benar tidak ingin meladeni pemuda konyol maniak judi seperti Lukas.

Mesin menyala tapi Aldric tak langsung melajukan mobilnya, dia membuka jendela dan menatap Lukas yang masih berdiri dengan kaku.

Senyuman manis terukir di bibir Aldric membuat Lukas kembali bergidik ngeri, "Ingat, waktumu tinggal 5 hari."

Sial!

Lukas mengumpat begitu mobil Aldric telah berlalu. Dia meninju udara dengan kesal membayangkan jika wajah Aldric yang dipukulnya. Lukas memang sengaja membujuk Aldric untuk mempermudah hutangnya. Jujur saja dia belum mendapatkan uang sama sekali. Mungkin dia akan merampok toko lagi nanti malam.

***

Aldric menangkap kunci kamar yang dilempar Keyond dengan sigap. Setelah mendapat informasi dari Mr. X, mereka langsung bergerak menuju Hotel tempat Cregwal bermalam hari ini. Mendengar jika targetnya tidak sembarangan membuat Aldric tersenyum senang. Dia rindu mencongkel mata targetnya. Kali ini mata tidaklah cukup mengingat jika dia harus bekerja sama dengan Keyond. Mr. X tentu menginginkan bukti yang lebih dari sekedar mata.

"Dia berada di kamar 1006 dan akan membawa wanita ke kamar itu setiap pukul 3 dini hari." Keyond berbicara dengan mata yang menyipit, "Lalu, kita kepung dan habisi dia saat sedang lengah. Setelahnya, kita kirim kepalanya untuk Mr. X sialan itu!"

Aldric membuka pintu bernomor 1007 begitu Keyond sudah masuk ke kamar 1005. Malam ini mereka akan bersiap selagi menunggu Cregwal datang dengan para pengawalnya.

Rencana dibuat dengan sangat mudah. Habisi para pengawal dan penggal kepala Cregwal selagi bercinta. Aldric berdecak melihat betapa konyolnya targetnya kali ini. Bukan Cregwal yang menakutkan, justru para pengawal bandot tua itu yang harus dibereskan.

Kamera pengintai di lorong lantai ini juga sudah aman. Dengan keahlian meretasnya, Aldric berhasil menggantikan rekaman malam ini dengan rekaman malam sebelumnya yang terlihat tenang. Tidak, dia tidak mematikan CCTV, hal itu akan membuat pekerjaannya semakin rumit. Dapat dipastikan jika malam ini mereka akan menjalankan misi dengan aman.

Sambil menunggu waktu, Aldric duduk di ujung kasur sambil mengasah pisau kecil kesukaannya. Pisau yang selalu menemaninya dari awal membunuh hingga sekarang. Sederhana tapi mematikan. Sudah puluhan nyawa hilang karena pisau kecil itu.

Keadaan begitu hening, hanya bunyi jarum jam yang terdengar. Namun ini yang Aldric suka. Dia suka keheningan, karena dengan keheningan dia bisa berpikir bagian mana yang akan membuat Cregwal kesakitan dan memilih untuk mati saja.

Aldric sadar jika dia memiliki keanehan dalam dirinya. Dia bukan hanya menjadi pembunuh bayaran tapi dia juga menikmati semua apa yang dia lakukan. Menikmati setiap tetesan darah dan suara rintihan kesakitan dari pada korbannya.

Aldric merebahkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Namun dia kembali membuka matanya begitu bayangan mata berwarna unik itu menghantuinya.

"Betty," gumam Aldric dan tersenyum miring.

Apa menariknya gadis itu? Betty hanya gadis polos dan penakut. Aldric yakin jika diminta membunuh semut pun gadis itu tidak akan mau. Sangat jauh dari tipenya.

Ketika masih asik memikirkan warna mata Betty yang unik, sesuatu mulai mengganggunya. Dia bangkit dari kasur dan mengintip apa yang terjadi di luar kamar. Benar saja, instingnya tidak pernah salah. Cregwal datang dengan dua wanita di sampingnya, diikuti 5 pengawal yang berhenti di depan kamar.

Aldric kembali ke kasur dan melihat pistolnya. Sedikit menimang dan akhirnya dia meraih pistolnya beserta pisau lipat yang baru saja dia asah. Dimasukkannya senjata itu ke dalam jaket kulit yang dia pakai. Jika Keyond tidak bergerak, maka dia yang akan membereskan para boneka Lincoln itu terlebih dahulu.

Aldric membuka pintu kamar dan bersandar dengan santai. Tangannya terlipat di dada dan menatap para pengawal Cregwal yang menatapnya terkejut. Sepertinya orang-orang Lincoln tahu dengan bahaya yang akan datang.

"Terkejut?" tanya Aldric santai.

"Sialan!"

Salah satu dari pengawal itu maju membuat Aldric mundur dan kembali masuk ke dalam kamar. Begitu pengawal itu mengikutinya, dengan gerakan cepat Aldric menutup pintu hingga membuat wajah pria itu terpental ke belakang dengan darah yang keluar dari hidungnya. Tidak puas, Aldric kembali membuka sedikit pintu membuat tangan pria itu masuk untuk menggapainya dan Aldric kembali menekan pintunya, menjepit tangan pengawal itu hingga merintih kesakitan. Tanpa kasihan Aldric menarik tangan itu dan mematahkannya dengan mudah.

Tidak ingin membuang waktu untuk bermain-main, Aldric kembali membuka pintu lebar membiarkan empat pengawal itu melawannya. Senyuman manis tersungging di bibir Aldric begitu salah satu dari mereka mengeluarkan pistol.

Tidak menarik. Jika untuk tikus kecil seperti ini, Aldric bisa menggunakan tangan kosong. Dia menyayangkan kehebatan senjatanya jika digunakan untuk menghabisi pria-pria bodoh seperti mereka.

Aldric menunduk saat sebuah pukulan hampir mengenai kepalanya. Tangannya dengan cepat memukul perut pengawal itu dan menendangnya menjauh hingga menghantam lemari. Saat akan menghampirinya, Aldric merasakan tarikan pada jaketnya. Dengan cepat dia melepaskan jaketnya dengan gerakan memutar dan menendang pria di belakangnya. Pria itu langsung terjatuh berlutut dan Aldric segera menghantamkan lututnya di wajah pria itu agar kehilangan fokus. Begitu sudah lemas, dengan gerakan cepat dan kuat Aldric meraih leher pria itu dan memutarnya hingga terdengar suara tulanh yang begitu menyakitkan.

Aldric merasakan perih pada punggungnya begitu salah satu dari 3 pengawal itu menggoreskan sebuah pisau di sana. Tidak begitu dalam tapi bisa meninggalkan bekas. Aldric mengerang dan berbalik, meraih tangan pria yang akan kembali menancapkan pisaunya dan memutarnya dengan cepat hingga pisau itu berbalik menancap bahunya. Aldric mendorong pria itu hingga terjatuh dan menginjak bahunya agar pisau itu semakin dalam tertancap. Setelah itu kakinya menendang dagu pria itu ke atas seperti menendang bola. Pria itu langsung tak sadarkan diri seketika.

Aldric beralih pada pengawal yang membawa pistol tadi dan melemparnya dengan kursi rias, sebagai pengalihan agar pistol itu terlepas. Kursi itu hancur begitu saja menghantam tubuh pengawal itu dan pistol berhasil terlepas. Sadar masih ada satu orang di belakangnya, Aldric meraih patahan kayu dari kursi dan berbalik. Tanpa ragu dia menancapkan kayu di leher pria itu hingga darah mengalir deras tanpa bisa dihindari. Pria itu jatuh begitu saja membuat Aldric tersenyum senang.

Tinggal satu, pria yang menodongkan pistol padanya tadi. Aldric kembali berbalik dan pria itu masih duduk ketakutan dengan luka di kepalanya karena hantaman kursi rias. Aldric berjalan dengan langkah tegap, seakan luka di punggungnya tidak berarti apa-apa untuknya saat ini.

"Kau takut?" tanya Aldric santai. Pria itu semakin mundur hingga membentur lemari, di samping mayat temannya yang mati mengenaskan dengan leher yang mengarah ke belakang.

Tanpa Aldric duga, pria itu mengeluarkan pisau kecil dari kaos kakinya dan melemparnya dengan cepat ke arah Aldric. Terkejut, Aldric menerima pisau itu dengan tangan terbuka dan berhasil menggores tangannya.

"Benar-benar memalukan," rutuk Aldric dan kembali melemparkan pisau kecil kembali dan berhasil menancap dengan sempurna di mata pria itu. Suara rintihab terdengar keras dan Aldric kembali meraih potongan kayu dan memasukkannya ke dalam mulut pria itu, menendangnya dengan keras hingga menembus ke belakang. Seketika suara erangan itu terhenti. Pria itu mati, detik itu juga.

Aldric menghela nafas dalam dan menatap keadaan kamarnya. Begitu mengerikan dengan darah dan mayat yang mati dengan mengenaskan. Matanya beralih pada cermin yang menampilkan keadaan dirinya.

Aldric menggeleng sambil terkekeh. Tangannya membuka kaos putih yang penuh akan darah itu dan melemparnya ke segala arah. Dia melihat tampilan punggungnya dari cermin dan mendengkus. Lukanya tidak begitu besar tapi Aldric benci jika harus meninggalkan bekas. Aldric meraih handuk kecil dan melilitkannya di pinggang untuk menutupi luka di punggungnya. Dia meraih jaket dan memakainya. Ini lebih baik.

Aldric keluar kamar dan menghampiri kamar Keyond. Pria itu masih belum keluar sama sekali. Malas mengetuk pintu, Aldric dengan keras menendang pintu itu sampai terbuka dan membuat si penghuni kamar terkejut dan menatapnya tajam.

Aldric tidak peduli dengan tatapan marah Keyond. Matanya hanya fokus pada wanita yang sudah mati mengenaskan dengan tubuh yang polos.

"Kau bercinta dengan mayat, Keyond?" tanya Aldric tidak percaya.

Keyond berdecak, "Seleraku masih tinggi." Ia mengelap pisau yang dipenuhi oleh darah dan kembali bergumam, "Dia mencoba membunuhku dengan pisau kecil itu, konyol sekali," tunjuknya pada pisau kecil yang tertancap di sebuah lukisan.

Aldric berjalan masuk dan menatap wanita yang mati di tangan Keyond, "Resepsionis tadi, eh?"

"Benar, Si keparat Cregwal sudah merencanakan semua ini." Keyond mengelap tangannya dan menatap tampilan Aldric yang kacau, "Dan kau, ada apa denganmu?"

Aldric mendengkus dan berjalan keluar kamar, "Terima kasih karena sudah membiarkanku menghabisi pengawal Cregwal sendirian," ucap Aldric sarkasme.

Sebelum memasuki kamar Cregwal, Keyond melirik sebentar ke arah kamar Aldric. Banyak darah dan mayat yang mati secara mengenaskan.

Keyond terkekeh dan menepuk bahu Aldric, "Tak salah aku mengajakmu."

Aldric berdecak dan menatap pintu kamar Cregwal, "Secara halus atau...?" Aldric menggantungkan ucapannya dan menatap Keyond meminta persetujuan.

Pria itu hanya mengedikkan bahunya acuh dan menendang pintu kamar Cregwal hingga engsel terlepas. Membuat tiga orang yang sedang bermain itu terkejut dan mulai melepaskan diri.

Keyond melangkah masuk dan melipat kedua tangannya di dada, "Bermain tanpa mengajakku, Lincoln?"

"Siapa kau?!" tanya Cregwal mulai menutupi dirinya dengan selimut.

Aldric masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan ranjang Cregwal yang dipenuhi oleh alat-alat yang ekstrim. Aldric mengumpat dan menatap dua wanita yang sudah berdiri di ujung ruangan, mencoba mengamankan diri, "Kau menyukai permainan keras, cantik?" tanya Aldric berjalan mendekat.

Kedua wanita itu sudah meringis ketakutan, ketampanan Aldric seakan tidak mengubah keadaan apapun. Darah kering itu masih terlihat jelas membuat kedua gadis berambut brunette itu berpelukan dengan takut.

"Aku juga bisa, aku yakin si gendut Lincoln tidak bisa memuaskanmu. Benar bukan?" Aldric tersenyum manis dan mulai mengeluarkan pisau kecil miliknya, "Ingin mencobanya?"

Kedua wanita itu berteriak dan mulai berlari keluar. Namun dengan gerakan cepat Aldric berhasil meraih lengan-lengan kecil itu dan membantingnya ke sofa.

Matanya melirik Keyond dan mengangguk. Pria itu yang akan menghabisi Cregwal dan Aldric ingin bersenang-senang dengan dua wanita di hadapannya

"Aku mohon jangan lakukan ini padaku."

"Well.." Aldric meraih wanita yang berbicara tadi dan memutarnya hingga membungkuk membelakanginya. “Aku tidak akan menyentuhmu. Sayang sekali kau tidak menggunakan kaca mata malam ini, jika iya mungkin aku bisa membiarkanmu lolos."

Aldric mengeluarkan pisaunya, "Katakan, kau ingin aku menggambar apa di punggungmu ini?"

"Aku mohon, Tuan. Lepaskan aku." Wanita itu mulai menangis ketika suara kesakitan Cregwal terdengar. Mungkin Keyond sudah melakukan aksinya, tapi Aldric tidak peduli. Dia harus membereskan kedua wanita ini. Tidak boleh ada saksi mata yang berhasil lolos dalam keadaan hidup.

"Nikmati saja, kau akan menyukainya," ucap Aldric dan melirik wanita lainnya yang duduk meringkuk sambil menangis, "Kau!" ucap Aldric pada wanita itu, "Buka matamu dan lihat temanmu yang akan mati ini."

Mulai malam ini, Hotel ini tidak akan lagi sama. Aldric dan Keyond sudah melakukan misi mereka dengan baik. Meskipun harus direcoki dengan anak buah Lincoln, tapi itu bukanlah hal yang sulit untuk diatasi. Keyond berhasil mengirimkan kepala Cregwal pada Mr. X.

Jika biasanya Aldric merayakan kemenangannya dengan bercinta, tapi tidak untuk kali ini. Begitu akan memulai, dia langsung teringat dengan gadis berkaca mata yang selalu mengacaukan pikirannya akhir-akhir ini.

Dasar kaca mata sialan!

***

Betty kembali menutup kedua telinganya begitu ponselnya tidak berhenti untuk berdering. Ujung matanya melirik ke arah ponsel guna melihat siapa yang menghubunginya sedari tadi. Lagi-lagi nama seseorang yang tidak dia harapkan.

Ponsel kembali berdering membuat Betty berdecak. Dengan cepat tangan kecil itu meraih ponsel dan mengangkatnya.

"Sudah kubilang aku tidak punya uang!" ucap Betty membentak. Namun seseorang di seberang sana malah terkekeh. Tidak takut dengan bentakan Betty yang bahkan tidak terdengar seperti amarah.

"Ayo lah adikku, Sayang. Aku benar-benar membutuhkan uang."

Betty mendengkus dan menggigit apelnya kesal. Wajahnya yang cemberut dapat membuat semua orang yang menatapnya menjadi gemas.

"Saat membutuhkan uang saja, kau memanggilku sayang!"

Seseorang di seberang sana kembali tertawa, "Aku harus meminta siapa lagi jika bukan kau, Beth?"

"Bekerjalah! Berhenti menyusahkanku!" sahut Betty dan memutuskan sambungan secara sepihak.

Dia tidak akan mengangkat telepon dari kakaknya lagi. Sebenarnya siapa yang adik di sini? Kenapa pria itu selalu meminta uang dan menyusahkannya. Betty pikir setelah ikut ke London, kakaknya itu akan mencari kerja, tapi apa sekarang? Tempat tinggalnya pun Betty tidak tahu.

Suara ketukan pintu membuat Betty mengangkat kepalanya waspada. Sinyal tanda bahaya membuatnya berdiri dengan tegang. Dia takut jika kakaknya yang datang malam ini. Dia bisa berbuat nekat jika Betty selalu menghindar seperti ini. Tangan kecil itu kembali membenarkan letak kaca matanya dan mulai berjalan ke arah pintu. Dia sedikit mengintip untuk melihat siapa yang berada di depan flat-nya. Betty menghela nafas lega begitu melihat Rubby di sana.

"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Rubby dan masuk begitu saja ke dalam rumah Betty.

"Aku pikir kau kakakku." Betty dengan cepat mengunci pintu dan menyusul Rubby yang sudah membongkar dapurnya untuk mencari makanan.

"Kakakmu menghubungimu lagi?" tanya Rubby tidak menghentikan pencariannya.

"Jadi, kenapa kau di sini? Kau tidak bekerja?" tanya Betty mengalihkan pembicaraan.

Rubby melirik jam sebentar, "Sebentar lagi aku berangkat." Dia berjalan mendekat dan meraih bahu Betty, "Tapi kali ini kau harus mendengarkanku dulu."

"Apa?" tanya Betty tidak antusias.

"Ikut aku dan pasang telingamu baik-baik.” Rubby menarik lengan Betty untuk duduk di sofa. Lengkap dengan sebungkus roti gandum yang sudah dia selipkan di ketiak.

Aku mohon jangan berhutang lagi, batin Betty. Ternyata tidak, Rubby sedang membicarakan seorang pria sekarang.

***

TBC

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED