Drreett... Drreett
Nawa terbangun dari tidurnya dan mematikan alarm paginya, bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.
Cukup lama bersiap siap akhirnya nawa selesai dan berangkat kesekolah.
Sampainya diseberang sekolah, nawa turun dari bus dan langsung menyebrangi jalan tanpa melihat kearah kiri dan kanan.
Tiba tiba dari arah kanan
TIINTT... TINNTT
Membuat Nawa terkejut berdiam diri ditempat, jarak Nawa dengan mobil hanya menyisakan beberapa Cm, Lalu Nawa menoleh ke arah mobil dengan penuh emosi dan memukul bagian depan mobil.
"WOII TURUN LO!!!" Seru Nawa dengan menunjuk orang didalam mobil. "Lo gak liat ha? Gue nyebrang?" Sambungnya dengan penuh kesal.
Pengemudi mobil itu turun "Maaf, tapi saya emang gak liat kamu tadi"
"Gak liat apanya? Gue segede ini" ketus Nawa
"Tapi benar saya gak liat kamu"
"Aggkkhh udahlah, ribet amat ngomong sama om om kayak lo" lalu pergi meninggalkan pria itu.
Gue? Om om? Masa gue setua itu? Pria berkata didalam hati, sambil memandangi nawa masuk kesekolahnya.
drrtt drrtt
Pria itu mengangkat teleponnya "Ya No, Gue bentar lagi sampe dikantor nih" lalu mengakhiri panggilan.
Pria itu kembali kedalam mobilnya dan melaju pergi
~🌱~
Sampainya dikelas Nawa masih emosi melihat pria tadi.
"Ihh, Awas aja kalau gue ketemu lagi sama tu om om" ucap nya sendiri dan didengar oleh temannya yang datang entah darimana.
"Om om siapa?" Hanni yang nongol di samping nawa.
"Woii!!! ngagetin gue aja lo"
"Gue denger lo bilang om om, om siapa sih?"
"Siapa yang bahas om om anjir" merebahkan kepalanya dimeja
~🌱~
Bell sekolah berdering...
Seluruh siswa siswi mengakhiri pelajaran akhir dan pulang.
"Eh hann, temanin gue bisa gak?"
"Bisa dong, Kemana?"
"Ke perpus sekolah ini doang"
"Oh kirain lo mau pergi keluar, tapi nanti temanin gue ya"
"Sipp" ujar Nawa mengacungkan jari jempol nya.
Mereka berdua keluar kelas dan menuju perpustakaan sekolah, sampainya didalam Nawa mengembalikan buku yang telah ia pinjam.
Saat berbalik Nawa yang tidak memperhatikan jalan lalu bertabrakan dengan seorang pria.
"Aduh maaf gue gak sengaja" lalu mengambil buku yang jatuh.
"Gak apa apa santai aja" menerima buku dari tangan nawa
Nawa lalu melihat ke arah pria itu dan meminta maaf sekali lagi atas ketidaksengajaannya.
"Maaf ya gue gak sengaja, maaf banget" ujar Nawa.
"Gak apa apa santai aja" ucap pria itu menahan tawa nya melihat ekspresi Nawa. "Gue gak pernah liat lo, Lo anak baru?" Sambungnya.
"Engga, Gue gak anak baru, cuma yaa baru kali ini gue masuk perpus"
"Oh pantesan gue gak pernah liat lo"
Nawa hanya tersenyum "Oh ya gue duluan ya" sahut Nawa dan berlalu pergi.
"Lo dikelas apa" teriak pria itu.
Nawa menoleh ke arah pria itu "kelas 11A" dan berlalu pergi.
Pria itu tersenyum melihat Nawa 'Gue baru tau kalau ada cewek secantik dia, Aiisshh hayolah apa gue pikirin sih' gerutu pria itu didalam hatinya dan tersenyum
"Bodoh banget gue anj, masa nanyain kelasnya bukan nama ataupun no telepon nya sih" kesal melihat kebodohannya sendiri.
"Ihh wa, lo lama banget sih? Ngapain coba?" Hanni mendengus kesal.
"Lama apaan monyet? Gue rasa bentar tadi loh" sahut Nawa.
"Yaudah deh ayo temanin gue" lalu mengandeng pergelangan tangan Nawa.
Selama diperjalanan, Nawa melihat ke kiri dan kekanan, "Ih Hanni, Lo mau kemana sih tujuannya"
"Kita ke cafe" ucap Hanni yang sedang mengendarai motor matic nya.
Nawa hanya mengangguk angguk saja mengikuti kemana tujuan sahabatnya satu itu.
Setelah 25menit berlalu akhirnya nawa dan hanni sampai di cafe starlight
Mereka berdua turun dari motor lalu memasuki cafe tersebut dan memilih tempat duduk bagian pinggir
"Lo mau minum apa wa?" Ujar Hanni yang melihat buku menu
"Gue mau frappucino"
"Oke, gue pesan dulu lo tunggu disini okee"
Nawa memainkan ponsel nya seraya menunggu Hanni dan pesanannya.
Nawa tidak sadar bahwa ada sepasang mata mengamatinya sambil tersenyum.
"Duhh, lama amat si Hanni" merebahkan kepalanya di meja cafe dan melihat ke arah pria yang menatapnya, awalnya Nawa tidak menyadari nya lama kelamaan Nawa teringat bahwa pria itu yang hampir menabraknya pagi tadi.
Pria itu terus menatap Nawa sambil meminum minumannya. Pandangannya selalu tertuju kepada Nawa, membuat Nawa ingin sekali memarahinya namun dicafe sangat ramai pengunjung.
Nawa pun mengurungkan niatnya, Dan hanya memalingkan wajahnya dari pria itu.
"Ish, Gue rasanya ingin pukul tu wajah om om" mendengus kesal.
Hanni datang dengan membawa pesanan mereka berdua "Ini minuman lo" memberikan minuman pesanan Nawa.
"Hann, kita minum ditempat lain aja yuk"
"Eh? Kenapa sih?" Ujar Hanni bingung "Tempatnya gakbagus ya?" sambungnya.
"Aduhh bukan masalah itu, t-tapii" perkataan nawa terhenti karna pria itu menghampiri mereka berdua.
Hanni pun melihat ke arah pria itu, "aduhh ada cowok ganteng wa" spontannya. Nawa yang malu melihat temannya langsung menutup mulut hanni dengan tangannya.
"Apa?" Ucap Nawa datar kepada pria itu.
Pria itu tersenyum dan tertawa kecil
"Aneh ini om om, ditanya malah ketawa lo" ketus Nawa.
"Om om apanya anjir? Jelas-jelas muda begitu" bisik Hanni ketelingan Nawa.
"Apaansih lo han" ujar Nawa lalu berjalan keluar meninggalkan hanni.
"Eh wa tungguin gue" siap siap ingin melangkah pergi.
"Hei tunggu" ucap pria itu kepada Hanni.
Hanni kembali menoleh ke arah pria itu, "iya ada apa?" Tersenyum manis.
"Siapa nama teman kamu tadi?"
"Oh yang tadi?" Menunjuk keluar, "itu namanya Nawa, biasalah kak bocil 16tahun mah gitu kelakuanya" sambungnya.
"Oh Nawa" tersenyum setelah mengetahui namanya.
"Oh iya saya hanni" memberi tangannya yang hendak berkenalan, "nama kakak siapa?"
"Saya Maven Williams" menerima jabat tangan Hanni.
"Oh tunggu, jangan jangan kakak ini Maven Williams robert kan?" Jawab Hanni antusias.
Maven hanya mengangguk berarti iya, Hanni pun langsung takpercaya bahwa ia bersalaman dengan ceo tampan.
Saat sedang bersalaman nawa meneriaki Hanni dari pintu luar, "WOII LO GAK PULANG HA? GUE TINGGALIN NIH"
"eh iya gue pulang, tungguin lah" sahut Hanni lalu berpamitan pulang dengan Maven.
Hanni menuju ke arah Nawa "Lama anjir, Bisa telat gue kerja nanti" cetus Nawa.
Mereka pun pergi dari cafe tersebut. Di perjalanan Nawa menikmati minuman nya.
"Eh wa, Lo ditanyain loh sama cogan tadi" ucap Hanni membuka pembicaraan
Nawa hanya diam berarti tak menanggapi perkataan hanni.
"Dia nanyain nama lo, Jadi yaaa gue kasih tau lah"
"Anj, kenapa lo kasih tau monyettt" kesal Nawa terhadap temannya yang caper itu
"Anjir lo gaktau siapa dia?"
"Gak, Lagian gue gak peduli" ucapnya dan meminum minumannya kembali.
"Dia itu CEO di perusahaan sandbox, monyettt" celetuk Hanni dengan nada yang agak kesal melihat sahabatnya ini gak tau apa apa.
"Oh" respon yang terdengar dari mulut Nawa
Sampainya di depan rumah Nawa, ia pun turun dari motornya Hanni "Oke thanks han"
"Cie ciee ciee, ditanyain CEO ganteng"
"Lo kalau mau dia ambil anjir, jangan ledekin gue mulu"
"Gue mau, cuma kayaknya dia suka lo" jawab Hanni berpura pura sedang memikir.
Nawa geli melihat tingkah sahabatnya itu "Udah sana lo balik"
"Dahh, Sahabatku semangat kerjanya nanti" menyalakan motornya dan melaju pergi dari sana.
•
•
•
To be continued

Nawa kallandra
Berusia 16tahun
Kelas 11A
Bekerja paruh waktu

Maven williams robert
Pendiri dan ceo sandbox
Berusia 27tahun
Baik, pintar, tampan, kaya raya
Cuek, anti cewek kecuali dengan nawa

Hanni aninda
17tahun
Kelas 11A
Sahabat setia nawa
Anak orang kaya
Jangan lupa di vote dan comment ya❤️
Nawa sudah 3 bulan kerja paruh waktu di PetCare la-tansa
Tempat perawatan hewan dan jasa penitipan hewan.
Ia bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupannya, ibu dan adiknya yang berusia 6th, nawa bekerja dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.
Nawa senang dengan pekerjaannya, karna ia juga sangat menyukai hewan.
~🌱~
Nawa membuka tokonya, ia menyapu toko, memeriksa keadaan hewan lalu diberi makan.
Nawa mengeluarkan satu anak kucing, ia mengelus ngelus kucing itu dan ajaknya bermain bersama. Keadaan toko saat itu sepi jadi Nawa bisa bermain bersama hewan hewan disana.
Saat Nawa tengah asik bermain dengan seekor anak kucing, tiba tiba pintu toko terbuka.
Nawa menoleh ke arah pintu dan ia terkejut karna pengunjung yang datang itu adalah pria waktu itu.
Nawa melotot dan mendongak keatas melihat pria itu karna Nawa dalam posisi duduk dilantai.
Pria itu terkejut melihat gadis yang selalu ia jumpai ternyata ada di pet care ini.
"Hmm permisi" ucap Maven
Nawa meletakan anak kucing dan berdiri dari posisi duduknya tadi, "iya ada apa?"
"Orang petcare ini kemana?"
"Saya om, karyawati" sahut Nawa dengan wajah datar
Maven tercengang melihat ungkapan Nawa, "kamu?"
Huhhh sabar Nawa sabarrr, dia om om yang ngeselin tadi, Tapi kenapa harus gue
"Iya om, saya" dengan penuh senyum terpaksa "ada perlu apa?" Sambung Nawa.
"Saya mau grooming"
"Hah?? Om mau di grooming?" Ucap Nawa kaget
"Eh bukan saya tapi ini" melihatkan kucingnya didalam kandang.
"Oh bilang, sini kucingnya" mengambil kucing dari tangan Maven.
Maven hanya melihat Nawa dan tidak menyadari jika Nawa sedang bertanya kepadanya. "Ini kucing grooming apa?" Ucap Nawa ingin menulis di buku.
Nawa tidak melihat ke arah Maven, tapi karna Maven diam Nawa menoleh ke arah Maven dan benar saja Maven tak mendengarkan ya. Ia menatap Nawa seperti terpaku.
"Haduuuhhh, om!!!" pekik Nawa dengan nada agak keras.
Dan membuyarkan tatapan Maven yang melekat ke arah Nawa, "iya ada apa?"
"Ini kucingnya ada gangguan kah?"
"Gak kok, kucingnya sehat"
"Oh, berarti grooming sehat ya" Nawa menulis kedalam buku
Maven hanya mengangguk dan masih saja menatap Nawa.
"Mau dijemput jam berapa?" Ujar Nawa
"Saya tungguin aja"
"Oh yaudah tunggu disana saja" menunjuk kursi disudut sana.
Maven menoleh ke arah Nawa tunjuk, "tapi saya mau liat proses groomingnya boleh?" Ujar Maven dan menoleh kembali kearahnya Nawa
Ya ampun ribet banget ni orang gumam Nawa didalam hati. "Boleh silahkan" membawa kucing Maven kedalam.
Maven mengikuti Nawa dari belakang dan melihat proses grooming.
Nawa tersenyum melihat kucing Maven diam saja jika dimandikan "Hai mpuss, senang ya mandinya" ucap Nawa dengan tersenyum lebar.
"Namanya siapa om" tanya nya yang melihat kearah Maven
Maven yang memperhatikan Nawa tak lepas dari pandangannya "Moni"
"Haii Moni"
Setelah selesai grooming Nawa pun mengeringkan moni dengan menggunakan hair drayer kucing. Sedang mengeringkan Maven pun bertanya sesuatu kepada Nawa.
"Nawa, kamu kerja disini?"
Nawa tak terkejut mendengar Maven mengetahui namanya karna teman tercintanya itulah yang memberi tahu namanya.
"Iya om" ucapnya singkat dan masih terus mengeringkan moni
"Kamu gak mau bertanya, saya tau Nama kamu darimana?"
"Gak om"
"Saya tau dari teman kamu, kemarin waktu itu saya menanyakan nama kamu" padahal Nawa udah bilang gak mau bertanya tetap juga dibilang.
Nawa tak menanggapi ucapan Maven dan ia hanya terus memperhatikan Moni.
Setelah semuanya selesai "ini om sudah" ucap Nawa memberikan moni kembali.
"Berapa?"
"150rb om"
"Oh ya, tunggu sebentar" Maven mengambil uangnya didompet dan mengeluarkan uang 200rb "Ini ya Nawa" sambungnya.
"Tunggu om kembaliannya" Nawa mengambil uang 50rb "Ini om" menodorkan uangnya.
"Gak usah kamu pegang aja dulu, mana tau nanti saya kembali"
"Lebih baik om ambil ini, biar gak kembali lagi" ucap Nawa dan memberi uang tersebut dengan paksa ke tangan Maven.
Maven tertawa melihat Nawa "Kamu segitunya gak ingin ketemu sama saya" ujarnya dengan tawa terkekeh.
"Bukan masalah itu om, saya emang suka risih gakjelas"
"Yaudah kalau gitu saya permisi"
"Ya om kalau bisa gak usah balik balik kesini" pekik Nawa dengan nada agak keras dan didengar oleh maven.
Sampainya didepan mobil Drrtt... drrttt..
Maven tidak menghentikan langkahnya dan mengangkat panggilan masuk.
PANGGILAN BERLANGSUNG...
"Ya ada apa No?"
"Lo dimana sih vin" -Jino
"Gue barusan dari petcare"
"Lah? Lo gak ingat lo ada meeting ini" -Jino
"Ingat gue, makanya gue berangkat sekarang"
"Cepat, daripada gue yang mulai nih meeting" -Jino
"Ya bagus dong, jadi gue gak capek capek lagi"
"Aghh gak jadi gak jadi" -Jino frustasi melihat bos nya
PANGGILAN BERAKHIR...
Maven kembali ke apart nya terlebih dahulu untuk meletakan Moni barulah ia berangkat ke kantornya
•
•
•
To be continued

Jino Matthew
Pengabdi setia ceo sandbox berusia 26tahun.
Selesainya meeting di perusahaan sandbox, Maven kembali keruangannya dan di ikuti oleh Jino
"Aduh akhirnya kelar" ujar Jino lalu merebahkan tubuhnya disofa panjang.
Maven duduk di kursi sebelahnya, dan ia mengingat kembali kebersamaan nya dengan Nawa yang hanya sesaat itu. Membuat Maven senyum senyum sendiri.
"Apa yang bikin lo senyum ha?" Tanya Jino yang melihat tingkah aneh temannya itu.
Maven melirik ke arah Jino lalu menatap ke langit langit ruangan "gak ada".
"Ven, lo pikir gue gak liat tingkah lo yang senyum senyum sendiri pas meeting"
"Hah?kapan gue senyum senyum sendiri" Maven mengelak
"Ven, gue udah lama kenal lo tapi gue gakpernah liat lo kaya gini, kaya orang yang sedang jatuh cinta pandangan pertama aja lo!" Celetuk Jino
"Kalau itu beneran terjadi gimana?" Maven tersenyum.
Jino yang mendengar ungkapan dari maven langsung duduk dari tidurnya "serius lo?" Jino antusias.
Maven hanya tersenyum berarti menandakan iya. "Siapa gadis yang bisa bikin lo jatuh cinta bro?" Tanyanya. Jino menatap temannya itu
"Gadis Sekolah menengah atas yang berusia 16tahun" sahut Maven dengan percaya diri.
Mendengar perkataan Maven, Raut wajah Jino berubah 180⁰ menjadi datar "Woii sadar, gue kira cewek yang lo suka itu sepantaran usianya sama lo atau lebih muda 2tahun"
"Emang cinta mandang usia?"
"Gak tau gue gaktauuuu, terserah lo" Jino menutup telinganya. "Sadar lah Maven, lo 11 tahun lebih tua darinya, mana mungkin dia mau sama lo" sambungnya.
"Gue paksa, bagaimanapun caranya"
"Haduhh, yang ada lo dikira pelecehan seksual terhadap gadis 16tahun, baru tau lo"
Maven hanya memandangi Jino "tinggal gue nikahin apa susahnya!"
"Dahlah ven, gue mau pulang" Jino berjalan keluar dan meninggalkan Maven diruanganya sendiri.
Tiba tiba Jino kembali keruangan Maven, ia berdiri di ambang pintunya, "gue liat-liat lo kaya manusia serigala anjir, terkena gerhana bulan"
Maven mengernyit tidak paham dengan perkataan Jino "kenapa?"
"Kan misalnya gerhana bulan terjadi manusia serigala itu kan mencintai wanita yang pertama kali dilihatnya" ucap Jino panjang lebar
"Lah kenapa lo samain gue sama manusia serigala anj"
Jino memijat keningnya, "haduhh Maven, lo sadar gak?"
"Apa?" Ujarnya penasaran.
"Maven yang anti wanita, tiba tiba kepincut sama gadis berusia 11tahun lebih muda darinya, kan aneh bro"
"Gak paham gue, sama yang lo maksud"
Jino menatap tak percaya, ia kesal dengan Maven padahal ia sudah panjang lebar berbicara kepadanya.
"Aghh gaktau gue, udh lah lo lupain aja satt" Jino akhirnya pergi dari pintu itu.
~🌱~
Jam menunjuk kan pukul 10 malam, berarti sudah saat nya Nawa pulang kerumahnya. Ia bersiap siap menutup tokonya dan tak lupa mengunci nya dengan teliti.
Nawa seperti biasa berjalan kaki menuju rumahnya, karna malam pasti sudah tidak ada lagi transportasi yang beraktivitas.
Nawa melewati jalan sepi dan hanya diterangi oleh lampu sorot jalanan, ia tidak takut untuk melewati jalan itu karna sudah terbiasa.
Di saat waktu yang bersamaan pula...
Maven pulang larut malam, karna dikantor ia tadi memeriksa dokumen dokumen yang penting.
Saat diperjalanan pulang, Maven mengendarai mobilnya, ia melihat seorang wanita berjalan di tengah jalan yang sepi.
"Wanita itu? Tidak ada takut takutnya melewati jalan sepi seperti ini" memainkan lampu sorot mobilnya ke arah wanita itu.
Nawa terus berjalan dan tidak menghiraukan sorotan lampu dari mobil belakang tersebut, tapi mobil itu tak berhenti henti menyorotinya.
Membuat Nawa kesal dan membalikkan badannya ke arah mobil itu. "APA SIH, KURANG KERJAAN LO" teriak Nawa ke arah mobil itu.
Maven terkejut jika wanita itu adalah Nawa, dan ia mematikan mobilnya, lalu bergegas turun dari mobilnya.
"Oh, lo lagi lo lagi" sahut Nawa malas.
"Nawa kenapa kamu disini"
"Lo gak liat om? Ya gue mau pulang lah pake nanya lagi lo" ketus Nawa.
"Biar saya antar, sudah malam disini bahaya tau"
"Kayaknya om salah paham deh, saya gak wanita lemah om, yang kalau dicuri atau dibegal penjahat saya nangis terus pasrah om"
"Ya tapi tetap aja bahaya Nawa" raut wajah Maven khawatir.
Nawa melihat raut wajah maven berubah, ni om om kalau gak nyusahin gue sekali aja bisa gaksih? Ketemu mulu sama ni om om gerutu nawa didalam hatinya.
"Yaudah ayo" ucap Nawa dan berjalan lebih dulu memasuki mobil Maven dan duduk di kursi penumpang.
Maven senang, karna Nawa menerima ajakannya untuk pulang bersama "Eeh Nawa, kok kamu duduk dibelakang?"
"Om gak usah banyak tanya deh, kalau gak saya turun lagi ni" ancam Nawa.
Maven diam mendengar ucapan Nawa, dan tak berbicara sama sekali, melihat ekspresi Maven seperti itu membuat Nawa tertawa puas didalam hatinya emang enak gue ancam gumamnya.
Saat diperjalanan, Nawa memberi instruksi jalan menuju kerumahnya. Sampainya di depan rumah Nawa, ia langsung turun dari mobil Maven.
"Makasih om, udah anterin saya"
"Sama sama Nawa" ucap Maven dan melihat rumah Nawa.
Nawa yang peka dengan pengelihatan Maven, "rumah saya emang gini om, sederhana tapi nyaman" ujarnya
"Yaudah saya masuk dulu om" Nawa berjalan masuk kedalam rumahnya.
Maven hanya menatap Nawa yang telah menjauh memasuki kerumahnya, lalu setelah itu Maven kembali kemobilnya dan menuju apartnya.