"Ini untukmu, ambillah!"
Seseorang dengan suka rela mengulurkan tangan dan membawakan saputangan untuk Angel.
Dia asing bagi Angel. Jelas karena Angel baru di sekolah ini, tetapi pemuda ini sudah baik kepada dirinya.
"Siapa kamu?"
Angel masih sesenggukan. Dia menghapus air matanya dengan kasar dan sesegera mungkin menghilangkan kesedihannya, lalu berdiri bertatapan muka dengan pria itu.
"Hapus air matamu dengan ini. Aku tidak suka melihat seseorang menangis, terutama dia seorang gadis. Aku tidak tahan dengan hal itu," tuturnya menambahkan, sembari memandang Angel dengan mata yang membulat besar dan dagu yang mengangkat.
Seakan memuji. Murid yang berseragam sama itu mencoba menghibur Angel memakai kata-kata manis. Meski itu cukup berhasil.
Malu tapi mau. Angel menggerakan tangan kanannya, perlahan meraih sapu tangan yang dikhususkan untuknya.
"Ini untukmu." Tindakannya membuat Angel tersentak. Pemuda itu langsung saja memberi saputangan kepada Angel tanpa melihat status gadis tersebut.
Dia memaksa, Angel membulatkan mata, dadanya berdegup dengan cepat, merasa pemuda tersebut terlalu agresif kepada dirinya.
"Tidak usah dikembalikan. Ambil saja. Jika kau menangis kembali, maka dirimu bisa menggunakannya lagi."
Angel mengernyitkan alis, menyipitkan mata dan menaikkan pandangan. Dia sungguh dilanda kebingungan terhadap pemuda yang entah darimana datangnya itu?
Belum sempat Angel berterima kasih, pemuda itu sudah pergi terlebih dahulu. Angel juga belum sempat mengenalkan namanya.
"Siapa dia?"
"Apa ini?"
Angel mengulum bibirnya. Mengepal saputangan dari pemuda itu dan berkata, "Untuk apa ini?"
Tidak tahu harus digunakan untuk apa saputangan pemberiannya? Angel heran pada pemuda yang mau memberikan dia sebuah barang seperti saputangan. Sedangkan selama ini tidak ada pria yang mau mendekatinya meski Angel telah bersikap baik.
Sempat dihina dan dipermalukan. Perasaan Angel hancur layaknya vas bunga yang terjatuh dari atas meja. Tercecer di lantai. Sempat terbesit tidak ingin bersekolah lagi, tetapi setelah kejadian tersebut Angel mengurungkan niatnya untuk berhenti sekolah kendatipun Angel harus siap menerima semua risikonya.
"Siapa juga pria itu? Mengapa dia mau memberikan saputangannya? Baru pertama kali melihatnya, tapi mengapa dia sudah sangat baik kepadaku?"
Angel terpikat dengan tindakan yang pria itu lakukan untuknya. Kendati Angel sendiri tidak percaya dengan cinta pertama, tetapi tidak menutup kemungkinan dirinya akan mencintai pria misterius itu. Entah?
Angel menyimpan saputangan itu dengan baik. Dia tidak mencuci atau memakainya, sebaliknya Angel menaruhnya di dalam kotak yang cukup besar dan menyimpan saputangannya dengan sebaik mungkin.
"Aku akan memakainya, jika aku bertemu dengannya nanti."
Angel sudah sampai di rumah. Angel tak berniat untuk memakai saputangan itu sebenarnya. Dia terus memandangi kotaknya meski sudah berada di dalam lemari.
Ini pertama kalinya Angel menerima pemberian dari orang lain. Sebelumnya, jangankan memberi saputangan, mereka saja enggan mendekati Angel. Wajar, Angel sering merasa kesepian. Lebih menutup diri dari orang banyak.
Alasan kenapa mereka menjauhi Angel, hanya hal sepele. Karena Angel tidak memiliki tubuh ideal.
Ya, tubuhnya gempal, bahkan hampir menembus angka 85 kilogram berat badannya.
Membuat Angel dipandang rendah oleh teman-temannya. Semasa SMP dirinya sering mendapat bullya dari murid-murid yang lain.
Terutama mereka yang berstatus keluarga kaya. Sedangkan Angel hanya anak dari garis keturunan tidak mampu.
Angel tidak memiliki Ayah. Ayahnya meninggal ketika Angel berusia 5 tahun. Sungguh kenangan akan kehadiran ayahnya sama sekali tidak Angel miliki.
Terlalu dini saat itu. Angel hanya mengingat beberapa momen saja, yaitu ketika kematian ayahnya. Momen itulah yang masih melekat di benak Angel.
****
Di lain kesempatan.
"Hahaha, bagaimana Sayang, apakah ini seru?" Seorang laki-laki berteriak dengan riang, sembari mengemudi supercar di jalan raya yang terbilang ramai.
"Bagaimana sayang?!" Dia berteriak untuk kekasihnya yang juga ikut bersama dengan di kursi kiri.
"Aaaa! Hati-hati Zeus."
Seorang gadis mengeluarkan suara ketakutan. Bagaimana tidak? Pemuda yang masih duduk di bangku SMA, mengemudi dengan sangat gila. Bahkan kegilaannya ini sudah sering menimpa wanita-wanita polos seperti gadis itu.
Rata-rata kecepatan mobilnya mencapai 120 km/jam bahkan bisa lebih dari itu. Jelas hal yang tak waras menimbulkan kepanikan bagi penumpang yang duduk di samping kursi pengemudi. Ditambah pemuda yang masih berseragam sekolah itu mengemudi di jalan raya yang cukup ramai.
"Awas!" Pacarnya dengan keras memperingati, Zeus.
Benar Zeus Bima Anggara. Pemuda berusia 18 tahun, yang berstatus seorang pelajar.
Zeus tidaklah waras. Dia mengemudi di jalan raya dengan kecepatan tinggi, meskipun mobil yang dikendarainya adalah supercar, tetap saja itu bisa membahayakan nyawanya dan orang lain.
"Hati-hati! Awas di depan sana!"
Sania, gadis yang sedang Zeus pacari itu terus berteriak mengingatkan Zeus untuk berhati-hati.
Zeus tidak mempedulikannya. Dia tertawa riang. Setiap mendengar teriakan Sania, Zeus merasa puas. Terutama dia bisa menyalip mobil-mobil yang ada di depannya. Kendaraannya melaju zig-zag dengan kecepatan tinggi.
"Hentikan ini Zeus! Aku ingin keluar dari mobil ini!"
"Zeus!"
"Berhenti Zeus!"
Kendati Sania sudah memohon untuk berhenti, Zeus sebaliknya menutup telinga dan mata tak peduli dengan teriakan Sania, atau ketakutannya. Hanya satu yang Zeus pedulikan. Yaitu kesenangannya saja tertawa bahagia di atas penderitaan orang lain.
Zeus senang dengan ketakutan yang orang lain ciptakan. Menurutnya itu adalah permainan yang sangat menyenangkan.
"Zeus kau keterlaluan! Cepat berhentikan mobilnya, atau aku akan melompat keluar!"
Sania mengancam ingin keluar secara paksa. Perkataannya tidaklah omong kosong belaka. Lihat saja bola matanya yang membulat besar dan masamnya wajah Sania, menandakan dia sangat marah.
BRUK ….
Zeus mengerem mendadak. Sania terhantuk ke depan dengan keras. Sedangkan Zeus hanya biasa-biasa saja.
PLAK ….
Sania tidak ragu menampar pipi Zeus saat itu juga, hingga meninggalkan bekas di pipi Zeus.
"Kita putus!"
Sania keluar dari mobil Zeus. Lalu menutup pintunya dengan keras. Zeus sedikit tersentak, tetapi itu bukan masalah untuknya.
"Pergi saja sana. Lagipula aku tidak membutuhkan wanita penakut seperti dirimu!"
"Aku bisa mendapatkan 1000 wanita seperti dirimu dengan sangat mudah. Untuk apa aku peduli dengan hal itu."
Tidak ada niatan baginya untuk mengutarakan maaf atau membujuk Sania.
Siapa saja yang memutuskan keluar dari mobil, maka Zeus tak lagi menganggapnya ada.
"Untuk apa aku mengejar wanita seperti dia? Penakut. Baru saja aku mengajaknya mengendarai mobil ini, dia sudah marah, dan minta putus dariku. Ah, terserah kau saja!" pekik Zeus tanpa penyesalan.
"Sebaiknya aku pergi mencari yang baru," tuturnya percaya diri.
Memakai kacamata hitam, menaikan dagu dan membusungkan dada. Zeus menginjak pedal gas, lalu pergi.
Kejadian ini tidak membuatnya kapok atau menyesal. Jelas, dalam kehidupan Zeus tidak ada kata penyesalan, kendati sudah ada ratusan wanita yang minta putus saat itu juga.
Hal ini tidak terjadi kepada Sania saja. Entah tidak dapat terhitung sudah berapa wanita mengalami hal yang serupa seperti Sania?
Zeus bukanlah orang biasa. Ya, dia anak dari penguasa terkenal di negara ini. Zeus anak pertama dari pasangan keluarga Anggara, yang terkenal memiliki perusahaan Internet terbesar yang ada di negara ini.
Bukan tanpa sebab dia sangat mudah mendekati para kaum wanita, karena statusnya itu.
Zeus terkenal seantero negeri, sebab memiliki paras yang rupawan. Rahang yang lebar dan hidung yang mancung. Serta kulitnya putih susu dan lesung pipi di kanan dan kirinya.
Bukan hanya itu saja yang membuat Zeus terkenal. Dia juga dijuluki playboy, tapi lebih tepatnya buaya darat yang kaya raya.
Wanitanya di mana-mana. Tidak terhitung berapa kali dia berkencan dengan seorang wanita, tetapi dari ribuan wanita yang sudah dipacarinya tidak ada yang bisa bertahan dengan Zeus selama 24 jam.
Setiap kali Zeus mengajaknya berkencan, pasti saja dua jam berikutnya wanita itu mengatakan putus, seperti yang ditunjukan Sania tadi.
Jika Zeus memiliki sifat yang liar dan tak pernah menghargai wanita. Lain hal dengan adiknya yang bernama Frenzy Sakti Anggara.
Dia pria tampan nan rupawan, memiliki tinggi yang semampai, dan pintar dalam banyak hal. Bukan hanya dari segi pendidikan yang bagus, tetapi sifat Frenzy juga bertolak belakang dengan Zeus.
Jika Zeus yang sangat suka bergonta ganti pasangan lebih dan sering mempermainkan wanita layaknya boneka, maka lain dengan Frenzy. Pemuda yang terpaut satu tahun usianya dari Zeus bahkan enggan mendekati seorang gadis. Sebab dirinya takut untuk bercinta.
Frenzy tidak percaya akan cinta pandangan pertama, atau cinta monyet yang sering menyasar pada remaja-remaja seusianya.
Dapat dikatakan Frenzy kutu buku. Di tangannya tidak pernah lepas sebuah buku. Entah buku pelajaran atau sejenisnya? Frenzy selalu menyertakan buku disetiap langkahnya.
"Aku pulang." Dia baru saja memasuki rumahnya. Frenzy langsung menghampiri wanita cantik, berkulit putih dan selalu terlihat muda yang sedang duduk santai di sofa. Tidak lupa Frenzy mencium punggung tangan kanan wanita itu yang tak lain adalah ibunya.
Kecupan hangat dipersembahkan wanita 45 tahun tadi kepada putra bungsunya Frenzy Sakti Anggara.
"Aku masuk kamar dulu. Aku mau ganti baju, sudah bau keringat," tutur Frenzy, sembari mencium aroma badannya yang sudah seperti bau terasi.
"Ya, pergi sana. Setelah itu kau turun dan kita akan makan malam bersama." Perkataan ibunya selalu membuat Frenzy tersenyum.
Mendengar makanan, maka Frenzy akan langsung membayangkan bagaimana nikmatnya masakan yang dibuat oleh Ibu. Tidak ada makanan yang enak, kecuali makanan yang dimasak dengan cinta, dan bercampur kasih sayang dari seorang Ibu.
Ibu tercinta. Wanita hebat yang sudah melahirkan Frenzy ke dunia. Jika bukan berkat wanita 45 tahun tersebut, maka tidak akan ada Frenzy Sakti Anggara.
Seperti katanya. Frenzy pun menaiki anak-anak tangga. Dia harus mengganti pakaiannya sebelum masuk ruang makan nantinya.
Sementara itu Sarah, Ibu dari Frenzy dan Zeus sedang mempersiapkan makan malam untuk kedua putranya. Dia merapikan sendiri meja makan dan menghidangkan setiap menu di atas meja seorang diri.
"Terima kasih. Aku bisa melakukan ini sendiri." Dia berujar kepada para pelayan untuk membiarkan dirinya saja yang merapikan meja makan sendiri.
Para pelayan mengikuti kemauan Sarah. Setelahnya mereka pergi sesuai yang Sarah perintahkan.
Bukan hanya memiliki paras ayu dan awet muda. Sarah juga seorang wanita yang mandiri. Kendati kehidupannya mapan dan bergelimang harta, Sarah tidak pernah melupakan tugasnya sebagai seorang Ibu.
"Frenzy, ayo turun Sayang! Kita makan malam bersama-sama!" Berteriak memanggil putranya yang masih berada di dalam kamar.
Sarah masih tampak merapikan meja makan. "Akhirnya selesai." Sarah tidak pernah meminta pelayan untuk membantunya, meski sesekali dia meminta bantuan itu pun jika sudah selesai makan.
Tugas pelayan hanya membereskan piring kotor, itu saja. Sebagian pekerjaan rumah tangga kerap Sarah selesaikan seorang diri.
"Frenzy, Sayang! Ayo, turun! Makan malam sudah siap, Sayang!"
Frenzy akhirnya menampakkan diri. Dia perlahan dengan langkah santai menuruni anak-anak tangga.
Keluarga Anggara terkenal akan kekayaan mereka. Bidang bisnis mereka maju dengan pesat, ditambah Frenzy yang sudah pintar akan teknologi sejak dini, membuat dirinya sering menuangkan ide-ide segar bagi perusahaan mereka.
"Ayo, duduk, Sayang!" Sarah mempersilakan Frenzy untuk duduk terlebih dahulu. Dia menarik kursi dan Frenzy mengikuti kemauan ibunya.
"Ibu, tidak usah repot-repot seperti ini. Aku bisa sendiri. Aku bukan lagi anak kecil yang harus dilayani oleh Ibu."
Bukan soalan malu, tapi apa pantas di usianya yang sekarang Frenzy masih harus dilayani?
Frenzy baru menginjak usia 17 tahun. Dirinya dengan Zeus hanya terpaut satu tahun saja. Maka seringkali tidak ada yang percaya jika Frenzy adalah adik Zeus.
Bukan hanya rupa mereka yang berbeda, namun sifat serta tingkah Frenzy sangat bertolak belakang dari Zeus.
"Ayo, dimakan, Sayang! Ibu sudah membuatkan makanan kesukaanmu ini. Ayo dihabiskan. Ibu ingin melihat putra Ibu yang ganteng ini sehat dan tumbuh menjadi pria yang kuat."
Pesan dari seorang Ibu yang sudah berjuang 9 bulan demi bisa melahirkan seorang putra yang kuat dan gagah.
Perjuangan Ibu tidak akan sia-sia ketika melihat buah hatinya tumbuh menjadi manusia yang berguna bagi bangsa dan negara. Guna mewujudkan harapannya Sarah terus berusaha menjadi Ibu terbaik bagi Zeus dan Frenzy.
"Sudahlah Ibu. Aku bisa mengambilnya sendiri. Ibu tidak usah memanjakan diriku seperti ini. Aku sekarang sudah besar dan bisa mengurus diriku sendiri."
"Benar yang Frenzy ucapkan. Ibu tidak perlu memanjakan dirinya lagi. Dia bukan lagi bayi yang perlu Ibu suapi makanan ketika dia lapar."
Zeus telah pulang setelah puas bermain-main dengan para gadis. Zeus mendekati Saran dan Frenzy.
"Waw. Mengapa Ibu tidak memberitahuku, jika ada salmon di rumah."
Zeus mencomot daging salmon dengan kentang balado yang dibuat dengan cinta dan bersiram kasih sayang itu.
"Ini 'kan bukan bukan hanya kesukaan Frenzy saja, tetapi aku juga sangat menyukainya," beber Zeus dengan mulut yang terisi beberapa potong salmon yang sudah dipotong kecil-kecil.
"Dasar anak nakal." Kedatangan Zeus membuat Sarah kesal. Dia memukul-mukul bahu Zeus sampai putranya memohon.
"Ibu. Cukup Ibu. Mengapa Ibu memukulku? Apa salahku, sampai dengan tega Ibu memukulku? Apa Ibu mau aku melaporkan perlakuan Ibu kepada polisi? Tidak, bukan polisi, aku akan melaporkannya kepada menteri perlindungan anak. Karena Ibu sudah melukai anak di bawah umur. Seperti aku ini."
Pandai sekali Zeus memutarkan keadaan. Perkataannya seolah dia benar. Sarah tak semudah itu ikut terbawa dalam candaan Zeus yang semata hanya untuk menggertak dirinya saja.
"Apa katamu? Kau ingin melaporkan Ibu kepada polisi! Kemari kau anak nakal."
Sarah semakin kesal. Tanpa ampun dia memukul Zeus. Sehingga Frenzy tertawa untuk kakaknya itu.
Zeus berusaha untuk pergi, tetapi Sarah tidak membiarkan Zeus melakukan itu. Belum puas hatinya memarahi Zeus.
"Kemari kau anak nakal. Kau berani menasehati Ibu, sedangkan dirimu saja masih sangat nakal."
"Maaf Ibu. Zeus tidak akan membuat Ibu marah lagi. Zeus janji setelah ini akan jadi anak yang baik. Ampuni Zeus, Ibu."
Permohonan maaf dengan sungguh-sungguh. Suara lirih terlantun dari bibir Zeus, kendati Sarah tidak mau percaya semudah itu.
"Ah, kau selalu berkata seperti itu. Ibu aku berjanji. Ibu aku berjanji. Ibu sudah sangat muak dan bosan mendengar janji kosongmu itu."
Sarah tak memberikan kesempatan Zeus untuk pergi. Zeus berlari ke kanan, maka Sarah mengikuti ke mana Zeus melangkah.
Frenzy yang duduk di sana, hanya menyaksikan saja. Dia terbahak-bahak melihat kakaknya dipukuli oleh Ibunya.
"Jangan hanya tertawa saja kau. Dirimu juga harus dihukum. Ibu, Frenzy juga harus dihukum. Mengapa Ibu hanya menghukum aku saja? Frenzy juga harus dihukum, Bu."
"Adikmu itu tidak salah. Dia anak yang baik. Tidak seperti dirimu yang selalu mengambil tindakan sesuka hati. Paham!" Teriakan keras di telinga Zeus. Parahnya Sarah menarik keras telinga Zeus sampai memerah.
"Maaf, Ibu, aku tidak akan mengulangi perbuatanku. Aku berjanji tidak akan mempermainkan para wanita lagi. Aku janji."
"Sungguh?"
Zeus diam untuk sesaat." Zeus!" bentak Sarah, bersuara keras sambil menarik telinga Zeus kuat-kuat.
"Ya. Aku berjanji."
"Ya, aku berjanji tidak akan mempermainkan perasaan wanita lagi."
Mendengar kesungguhan Zeus, Sarah pun memberikan maafnya kepada Zeus, kendati Sarah masih kesal pada putranya yang tidak pernah bisa menghormati para wanita.
Zeus menggosok-gosok telinga dia yang memerah. Frenzy mendekati kakak serta ibunya sembari tersenyum, Frenzy merasa puas melihat pertunjukan dari Ibu dan kakak pertamanya.
"Sudah pergi sana. Segera ganti pakaianmu itu dan kita akan makan malam bersama," perintah Sarah, tatapan kuat dan menguasai.
"Ya. Aku akan mengganti pakaian."
"Awas kau!" dengkus Zeus untuk Frenzy. Sayang itu tidak membuat Frenzy takut, sebaliknya terkesan lucu.
Hihihi ….
Frenzy ingin sekali tertawa, tetapi dia takut dosa. Sementara itu Zeus melenggang pergi dengan terus menaikan wajahnya dan bibirnya itu.
"Sudah pergi. Jangan ganggu adikmu!" Sarah terbilang lebih membela Frenzy daripada Zeus. Bukan dia tak adil, tetapi Zeus yang sering kali berbuat nakal itu selalu membuat Sarah pusing.
Zeus ini dan itu. Banyak sekali laporan tentang kenakalan dan tindakan Zeus yang tak bisa dimaafkan begitu saja.
Zeus sudah mulai naik menuju kamarnya. Kendati Zeus terus memandang kesal Frenzy yang ada di bawah.
"Ayo, Sayang. Kita makan."
"Baik, Bu."
Keduanya melenggang bersama menuju meja makan kembali. Membiarkan Zeus untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.
Sarah kembali mempersilakan Frenzy untuk duduk terlebih dahulu. Ibu dengan dua putra itu menambahkan banyak lauk pauk di piring Frenzy, sampai Frenzy bingung harus memakan yang mana terlebih dahulu.