Shaleta tampak diam dengan ucapan Shane tentang dirinya, entah apa yang lelaki itu ketahui semuanya tidaklah penting. Harus Shaleta akui kalau selama ini dia memendam rasa pada Shane, rasa yang seharusnya tidak hadir dalam hati ini karena Shane adalah milik Maria. Selama ini Shaleta berusaha menyembunyikan perasaannya, bersikap biasa saja meski Shane sering ada di sekitarnya.
"Aku tidak akan pernah putus dengan Maria, kami sudah bertunangan dan sebentar lagi menikah. Jadi, sadar dirilah posisi kamu seperti apa," ujar Shane yang masih kesal akan kebodohannya dan melampiaskan pada Shaleta.
"Aku tidak akan meminta tanggung jawabmu, tenang saja," jawab Shaleta tak memiliki pilihan lain.
"Anggap kejadian semalam itu tidak pernah ada, mengerti!" desis Shane menatap Shaleta tidak suka.
Shane berlalu meninggalkan Shaleta, begitu lelaki itu pergi air mata yang sekuat tenaga dia tahan akhirnya luruh juga. Hatinya sungguh pedih karena melihat lelaki yang dia cintai selama ini memandang rendah dirinya, padahal selama ini Shane begitu baik padanya.
Shaleta tentu saja mengerti, dia sendiri juga tidak ingin Maria sampai tahu hal ini. Dia tidak ingin kehilangan sahabatnya hanya demi lelaki seperti Shane Davies, biarkan saja semua seperti ini.
Shaleta mengusap pelan pipi basahnya, padahal dia bertekad untuk memberikan keperawanan pada suaminya tapi entah kapan. Dia harus bisa bangkit, dan berusaha kembali menatap hidupnya.
Sementara itu, Shane memukul samsak dengan pukulan terkeras. Cepat dan sat set. Sudah beberapa jam Shane melakukan hal ini, dan tibalah Nico, sekretaris lelaki itu.
"Ini berkas yang Anda inginkan," ucap Nico menyerahkan bekas tentang informasi siapa Shaleta.
Selama ini Shane membiarkan Shaleta terus bersama Maria karena kekasihnya begitu menyukai wanita itu, entah apa yang dilihat dalam diri Shaleta.
Untuk sesaat Shane membaca berkas tersebut, dan tidak ada yang istimewa. Dia melempar berkas tersebut dengan asal, merasa kesal karena bisa-bisa salah meniduri Shaleta.
"Ikuti dan laporkan segala hal yang menyangkut Shaleta padaku!" perintah Shane meneguk minumannya hingga tandas.
"Baik," jawab Nico kemudian melihat jadwal Shane hari ini.
"Jam dua belas siang Anda harus menghadiri seminar di Universitas Z, pembahasan dan materi sudah saya siapkan," lanjut Nico kembali menyerahkan laporannya.
"Atur saja, dan lakukan perintahku," jawab Shane, dan Nico menunduk sebentar.
Shane berolahraga sebentar, dan menyiapkan diri menghadiri seminar tersebut. Walk in closet penuh dengan setelan mewah, dasi, jam tangan serta sepatu berjajar di sepanjang lorong. Shane yang melilitkan handuk di pinggang tengah memilih setelan yang pas untuk dirinya, tubuh lelaki itu terpahat sempurna. Tegak dan gagah.
Shane Davies adalah salah satu pengusaha muda yang sukses dalam bisnis, dan tentu saja banyak wanita yang mengincar dia meski hanya sebatas penghangat ranjangnya saja.
***
Shaleta memilih untuk tidak tinggal di Apartemen Maria lagi, beruntung ada salah satu teman bisa membantunya untuk tinggal bersama untuk sementara. Langkahnya terlihat biasa, namun menahan perih di pangkal pahanya.
Semalam adalah yang pertama untuk Shaleta, dan Shane memperlakukannya dengan kasar. Apa mungkin Shane juga memperlakukan Maria seperti itu ketika mereka bercinta? Astaga. Shaleta memukul kepalanya karena memikirkan hal itu.
"Dasar bodoh," keluh Shaleta yang sudah sampai di Universitas tempatnya belajar.
Shaleta tahu kalau hari ini ada seminar yang mengundang salah satu pengusaha untuk mengisi acara ini, tentu saja dia tertarik karena bisa belajar lebih baik lagi untuk materi kuliahnya.
Shaleta datang pertama dan memperoleh kursi deretan nomor dua dari depan, dia sangat menanti hal ini. Beberapa orang sudah mulai berdatangan, beberapa menyapa Shaleta dan duduk bersama. Beberapa orang berbisik, dan mengatakan kalau pengusaha muda ini sangatlah tampan.
Shaleta hanya mendengar saja tentang pujian itu, tujuannya datang ke sini bukan untuk menikmati paras tampan pengusaha itu melainkan ingin menyerap banyak ilmu dari apa yang akan disampaikan.
"Astaga, sungguh tampan sekali," puji Marry yang duduk di samping Shaleta.
Shaleta yang masih sibuk pada tas bawaannya seketika menatap Marry yang menatap penuh pujaan, kebucinan terlihat jelas dari raut wajah wanita yang duduk di sampingnya. Shaleta hanya menggeleng, dan menghadap depan. Dia ingin tahu siapa yang membuat seisi ruangan ini membicarakan pengusaha muda tersebut.
Shaleta tidak menyangka kalau Shane yang akan mengisi seminar hari ini, dia enggan untuk menatap lelaki itu setelah kejadian semalam. Namun, ini adalah salah satu tugas yang harus dia selesaikan.
Beberapa tatapan Shane dan Shaleta bertemu, namun mereka berusaha bersikap biasa dan menyelesaikan seminar ini dengan cepat. Shaleta sendiri sudah mendapatkan materi untuk tugas kuliahnya, dan di akhir acara sungguh meriah karena banyak wanita bersorak atas sikap ramah yang ditunjukkan oleh Shine.
Shaleta memilih untuk menghindar begitu seminar selesai, dia memilih untuk membeli kopi supaya tidak mengantuk untuk kelas selanjutnya. Tapi, ketika dia menuju kelas. Ada beberapa wanita yang histeris dan menabrak Shaleta, alhasil kopi yang dia bawa tumpah dan tubuhnya pun ikut terjatuh.
"Maaf ... maaf. Saya sungguh tidak sengaja," ucap Shaleta menunduk.
Shane tahu kalau itu adalah Shaleta, dia tidak mungkin marah karena ada banyak orang di tempat ini. Dia sangat menghindari untuk bertemu Shaleta, tapi malah bertemu di seminar ini. Sungguh sial.
"Kita bicara di mobil," minta Shane dengan suara baritonnya.
Shaleta segera mengangkat kepalanya, ternyata orang yang dia tabrak adalah Shane. Astaga, setelan dan baju Shane kotor oleh kopi yang dia bawa. Tampak Shaleta masih diam dengan keterkejutan yang baru saja dia tahu, Shane segera mendekat dan berbisik.
"Jangan membuatku semakin marah padamu!" desis Shane membuat Shaleta tersadar.
Shane tidak ingin menarik banyak perhatian, dan kembali berjalan diikuti Nico. Shaleta memejamkan mata dan memaki dirinya, kenapa harus bertemu dengan Shane lagi? Dengan lemas Shaleta mengikuti Shane menuju mobilnya, dan masuk.
"Kamu pandai sekali mencari perhatianku!" ejek Shane yang sudah melepas jas, dan tersisa kemeja putih yang sudah di gulung hingga lengan.
"Aku tidak mencari perhatianmu, aku justru menghindar," bantah Shaleta menatap Shane yang menatapnya remeh.
Shane menyesap wine yang ada di dalam mobil mewahnya. " Munafik! Aku tahu kamu sengaja melakukan hal itu."
"Percuma aku menjelaskan apa pun padamu, tak akan membuatmu percaya," sahut Shaleta yang kini tahu sifat asli Shane seperti apa.
Shane menarik kasar lengan Shaleta supaya mendekat padanya, tatapan mengerikan dan amarah terlihat. "Enyahlah dari hidup Maria, dia terlalu baik untuk wanita sepertimu!"
Shaleta kesal, kenapa Shane memperlakukannya seperti ini? Dia tidak bersalah, dan tidak meminta tanggung jawab. Kurang apa lagi!
"Aku sungguh kasihan pada Maria, memiliki tunangan yang tidak punya hati!" sembur Shaleta yang selalu saja dihina oleh Shane.
"Sialan!" Cengkeraman Shane semakin erat, dan membuat Shaleta kesakitan tapi berusaha dia tahan. "Kalau bukan karena Maria, kamu bukan apa-apa berada di tempat ini."
"Aku tidak pernah memaksa Maria untuk berteman denganku, kami saling memahami dan itulah yang membuat kita bersama hingga saat ini. Jadi, jangan berlagak paling tahu tentang hubungan kami," tegas Shaleta geram bukan main.
Shaleta segera menepis kasar tangan Shane, dan menatap lelaki itu tanpa takut. "Aku tidak bersalah, dan harusnya kamu yang malu karena memperkosaku tuan Shane yang terhormat!"
Shaleta segera keluar, dan membanting pintu mobil Shane dengan keras. Di dalam mobil, Shane mengumpat keras karena Shaleta begitu berani padanya. Dia bersumpah akan membuat hidup Shaleta hancur jika sampai Maria tahu tentang hal ini.
Malam harinya, Shane pergi ke salah satu club malam terbesar di New York. Dia baru saja tahu kalau Maria sedang berada di Los Angeles untuk bekerja, dan dia juga kesal karena tunangannya tidak memberitahu sama sekali.
Dentuman musik begitu membuat telinga berdengung, namun memberikan efek sensasi menyenangkan. Pengunjung semakin berdatangan ketika hari semakin malam, banyak wanita meliuk-liukan tubuhnya untuk menarik perhatian Shane.
"Kamu terlihat kacau, Shane," ujar Bartender yang sudah lam mengenal Shane sejak masa kuliah.
"Semua karena wanita brengsek itu, dia berusaha mendekatiku dengan menjadi sahabat Maria," balas Shane meneguk habis whiskey yang begitu nikmat.
"Semua wanita memang seperti itu, kamu beruntung mendapatkan Maria," puji Bartender tersebut yang juga mengenal Maria.
Shane sudah menghabiskan beberapa botol whiskey, dan dia mulai merasa lelah untuk minum. Dia berjalan sempoyongan menuju ruangan VIP yang dia miliki, namun langkahnya terhenti ketika melihat Shaleta berada dalam pandangannya.
"Sialan, kenapa wanita murahan itu ada di sini?" geram Shane berjalan dan menyeret Shaleta menuju ruangan VIP.
Shaleta yang sedang bekerja tentu saja terkejut ketika Shane menarik paksa dirinya, berusaha memberontak tapi tak banyak orang yang tahu kalau berada di lorong VIP. Shane bahkan membungkam mulutnya supaya tidak menimbulkan suara.
"Kamu sungguh keras kepala," seru Shane mulai melepaskan kancing bajunya.
Tidak.
Shaleta tidak akan membiarkan Shane kembali memperlakukannya dengan keji, dia harus kabur dengan cara apa pun. Shaleta bangkit dan menjauh dari Shane yang tampak menyeringai padanya.
"Kamu ternyata belum puas tidur denganku malam itu, mau mengulanginya lagi?" ujar Shane memperlihatkan tubuh kekarnya, pahatan yang sempurna untuk dilewatkan.
"Aku bekerja di sini, lihatlah seragam yang aku pakai saat ini," bantah Shaleta tak ada niatan apa pun selain bekerja di tempat ini.
Namun, naas Shaleta harus kembali bertemu dengan Shane. Dan membuat lelaki itu kembali beranggapan kalau dia mengikuti ke mana pun Shane pergi, astaga bisa gila kalau seperti ini.
"Kamu tahu aku sering datang ke sini bersama Maria, dan kamu mengambil kesempatan ini untuk kembali menjebakku!" hardik Shane tak mampu mengontrol emosinya.
"Aku tidak pernah menjebakmu," bantah Shaleta yang lelah terus membela diri terus.
Shane tertawa, kenapa ada wanita semunafik seperti Shaleta di Dunia ini. "Katakan saja berapa uang yang kamu butuhkan! Aku bisa membayar untuk itu asal kamu pergi jauh dari kehidupanku dan Maria."
"Aku masih mampu bekerja, dan aku tidak membutuhkan uangmu," seru Shaleta yang hilang kesabaran karena Shane selalu merendahkan dirinya.
"Lalu apa yang kamu inginkan? Kepuasan? Atau kamu ingin menggantikan posisi Maria, haa," tuduh Shane dengan keji. "Wanita licik, orang tuamu pasti tak mampu mendidik dan malu memiliki anak sepertimu. Munafik!"
Shaleta tanpa takut menampar Shane karena membawa nama orang tua, terserah mau bagaimana dihina seperti apa Shaleta tidak akan peduli. Tapi, jika menyangkut orang tua, semuanya akan berbeda.
"Jangan pernah menghina orang tuaku!" desis Shaleta naik pitam.
"Aku berbicara kenyataan, orang miskin yang selalu bermimpi menjadi cinderella," balas Shine tak terima Shaleta berani menamparnya.
Shaleta memutuskan untuk mendorong Shane, meninggalkan lelaki itu yang mengumpat tiada henti. Baru saja dia melayani beberapa tamu, dia dipanggil untuk menemui manager club ini.
"Ini gaji kamu selama beberapa hari kerja di sini," lempar Dike pada Shaleta.
"Kenapa aku diberikan gaji saat ini?" tanya Shaleta bingung.
"Kamu dipecat, dan jangan datang lagi ke tempat ini. Mengerti!" tegas Dike menatap Shaleta aneh.
Shaleta tentu saja terkejut bukan main, dia merasa tidak membuat kesalahan apa pun. "Tapi aku tidak bersalah, kenapa harus dipecat?"
"Kamu menampar tamu VIP club ini, dia tidak terima dan aku lebih memilih memecatmu," ujar Dike mengusir Shaleta.
Astaga, ternyata Shane yang melakukan hal ini. Sungguh rendahan, maki Shaleta.
Orang kaya memang bebas menindas orang miskin seperti dirinya, selama ini Shaleta bekerja paruh waktu untuk hidup di kota ini. Bahkan dalam seminggu Shaleta memiliki tiga pekerjaan paruh waktu, kalau bukan dia yang bekerja siapa lagi yang akan memberikan dia uang. Tidak mungkinkan uang bisa jatuh dari langit dengan sukarela.
"Sialan," maki Shaleta menendang mobil Shane, dan berbunyi. Seketika Shaleta langsung berlari sebelum satpam berdatangan.
***
"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Shane yang masih memantau pergerakan Shaleta dari jauh.
Nico melaporkan kalau Shaleta tidak pernah berbuat hal yang mencurigakan sama sekali, dan wanita itu juga tampak biasa menjalani harinya. Berangkat kuliah, kerja paruh waktu dan pulang. Rutinitas yang selalu sama Shaleta lakukan, hanya berbeda tempat kerja saja.
"Kamu yakin dengan laporanmu?" Pastikan Shane menatap Nico tajam.
"Saya yakin, memang ada yang salah dengan hal yang saya laporkan?" tanya Nico yang tampak bingung, tidak biasanya Shane meragukan informasinya.
Setelah dari club malam itu, Shane malah lebih sering bertemu dengan Shaleta. Entah di Restoran, toko perkakas, bahkan di showroom mobil juga ada wanita itu. Shane bisa gila di semua tempat yang dia datangi selalu saja ada Shaleta, dan itu membuatnya geram bukan main.
Shane memijit pelipisnya, kenapa isi pikirannya hanya Shaleta dan Shaleta saja? Padahal Shane sangat membenci hal itu, namun itu yang mendominasi.
"Terus ikuti dia," kata Shane masih curiga jika Shaleta memiliki rencana ingin menghancurkan hubungannya dengan Maria.
"Baik," jawab Nico pergi.
Shane beberapa kali menghubungi Maria untuk memastikan kalau Shaleta tidak mengadu, dan dia juga meminta tunangannya untuk segera kembali. Shane sebenarnya bisa membiayai seluruh hidup Maria, tapi dia tidak ingin mengekang wanita itu untuk tetap bekerja sesuai keinginannya.
Shane melonggarkan dasinya, rasanya sungguh mencekik akhir-akhir ini. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya dan pulang untuk istirahat, hari yang sungguh melelahkan.
Shane tidak memiliki rumah, dia hanya memiliki apartemen saja. Dia ingin membeli rumah ketika menikah dengan Maria, dia ingin Maria yang memilih sendiri rumah mereka seperti apa. Shane menekan tombol untuk kode akses, dan masuk.
Baru saja membaringkan tubuhnya, bunyi bel terdengar. Mungkin cleaning service panggilan untuk membersihkan apartemen ini, dan dengan santai Shane membuka pintu. Namun, Shane hanya diam menatap siapa yang kini ada di hadapannya.
Shane ingin memaki keras, siapa pun itu.
Sementara itu, Shaleta sendiri cukup terkejut karena apartemen Shane yang akan dia bersihkan hari ini. Sungguh kebetulan yang sangat menyebalkan, Tuhan seolah mempermainkan kedua supaya bisa bertemu kembali.
"Cih, kamu belum menyerah juga," hina Shane tak membuat Shaleta bergeming.
Shaleta hanya ingin fokus pada pekerjaan yang sedang dia jalani, dia mengabaikan Shane yang selalu menghina dan menuduhnya. Tapi, setiap pekerjaan yang Shaleta lakukan jika menyangkut Shane. Pasti setelah itu dia akan dipecat, Shaleta bisa memastikan hal itu.
Shane menatap tajam Shaleta yang sedang membersihkan apartemen miliknya, dia tidak suka kalau wanita itu berada di sekitarnya. Keberadaan Shaleta begitu mengusik hidupnya, apalagi setelah malam itu.
Shaleta sejak pagi sibuk dengan tugas kuliah, dan harus bekerja juga. Alhasil, dia sampai lupa makan dan tubuhnya terasa lemas saat ini. Namun, Shaleta berusaha kuat dan menahannya.
"Awww," keluh Shaleta yang duduk sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
Shane melihat Shaleta berbuat yang aneh, dia bangkit dan menghampiri wanita itu. "Bangunlah, pekerjaanmu masih belum selesai."
"I-iya, aku tahu," kata Shaleta tidak kuat lagi, keringat dingin mulai membasahi wajahnya.
"Cepatlah, aku tidak sudi melihatmu terus ada di apartemenku," balas Shane melihat tubuh Shaleta yang mengigil.
Shane menyentuh pundak Shaleta, tapi langsung ditepis wanita itu. Dia memang merasa perut dan pinggangnya begitu sakit, tapi dia tidak ingin memberitahu Shane. Wajah Shaleta memang menunjukkan kesakitan yang dalam, pinggangnya terasa ada yang meremas kuat.
“Pergilah,” ujar Shaleta membuat Shane kesal, pasalnya lelaki itu seperti tidak tega melihat raut wajah wanita di depannya.
“Kamu yang harusnya pergi, ini apartemenku,” sahut Shane yang diam-diam memperhatikan Shaleta yang terlihat aneh.
Shaleta hanya mengangguk, tak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menahan rasa sakit ini. Namun, ketika Shaleta berjalan tiba-tiba tubuhnya lemas dan terjatuh. Beruntung Shane segera menangkap tubuh Shaleta sehingga tidak terjatuh.
“Lepas,” ucap Shaleta yang berwajah pucat, mencoba mendorong Shane menjauh.
“Apa yang kalian lakukan?”