Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit di jalan, Helena tiba di apartemen. Memarkirkan mobilnya di basement, Helena meraih mini bag di kursi di sampingnya.
Kemudian, Helena membuka seatbelt dan dengan cepat turun dari mobil. Setelah mengunci kendaraan secara otomatis, ia bergegas melangkah menuju lobby.
Helena bergerak menuju lift yang akan membawanya ke lantai 20 tempat unit apartemennya berada. Setelah masuk ke dalam lift, Helena menekan tombol yang sesuai, dan tak lama berselang, lift pun bergerak naik menuju lantai yang dituju oleh Helena.
Setelah beberapa menit, Helena tiba di lantai unit apartemennya dan berdiri di depan pintu. Dengan membuka akses pintu, Helena memasuki kediamannya yang penuh dengan privasi.
Helena langsung menuju kamar. Setelah melemparkan mini bag di tangannya ke atas ranjang, ia melangkah menuju kamar mandi.
Tanpa menutup pintu kamar mandi, Helena membuka pakaiannya dan melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya hingga akhirnya berada dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun.
Helena menuju shower dan berdiri di bawahnya. Setelah membuka keran air, ia membiarkan air dingin mengalir dan membasahi tubuh polosnya.
Tak begitu lama kemudian, Helena selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas paha.
Dengan cepat, Helena masuk ke dalam walk-in closet untuk berpakaian dan mengeringkan rambutnya. Setelah selesai dengan semua kegiatannya, ia keluar dari walk-in closet dan menuju ranjang.
Tiba-tiba ponsel Helena berdering. Ia menyambar tasnya dan mengambil ponsel di dalamnya. Dengan layar yang menyala, ekspresi wajah Helena tampak sumringah saat melihat nama kontak sang kekasih, "Fernan".
“Halo, sayang,” jawab Helena setelah panggilan terhubung, lalu menempelkan ponsel di telinga kanannya.
“Halo, honey. Bagaimana keadaanmu?” tanya Fernan di ujung telepon. “Masih sakit?”
Dengan senyum di wajah cantiknya, Helena menjawab, “Sudah jauh lebih baik. Sekarang aku di apartemen.”
"Tumben di apartemen. Sedang apa di sana?" tanya Fernan.
Sejenak, Helena mendesah pelan sebelum menjawab, "Tidak, aku hanya ingin ke sini saja. Tadi habis bertemu dengan Freya dan Leanor."
"Oh begitu rupanya. Baiklah, aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja, honey. Aku sangat cemas. Aku tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan keadaanmu," ujar Fernan dengan suara yang penuh kelembutan.
Tersenyum, Helena pun membalas, “Kamu selalu terlalu perhatian, Fernan. Meskipun aku hanya demam biasa, tapi … terima kasih atas kepedulianmu.”
“Kau bicara apa, honey? Wajar jika aku merasa cemas terhadap kekasihku, calon istriku. Aku yakin semua pria merasakan hal yang sama seperti aku karena aku sungguh mencintaimu,” ujar Fernan terdengar penuh ketulusan.
Helena semakin melebarkan senyum, "Sepertinya kondisiku semakin membaik setelah mendengar rayuanmu," ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, "Aku harap rayuan ini hanya untukku saja, bukan untuk wanita lain di luar sana." Helena bergurau dengan penuh keceriaan.
Hening ... Fernan tidak langsung menanggapi, membuat Helena terdiam sesaat. Kemudian, Fernan berkata, “Percayalah, aku hanya mencintaimu seorang, Helena. Perjuangan besar bagiku ketika meminta restu orang tuamu.”
Helena mengangguk pelan, “Aku tahu. Aku hanya bergurau, Fernan. Kau tidak perlu menanggapinya dengan serius. Aku tahu bahwa kau sungguh-sungguh.”
“Hm, jangan pernah ragu padaku. Aku tak pernah menganggap hubungan ini sebagai main-main. Aku ingin serius dan ingin segera meresmikan hubungan kita,” suara Fernan terdengar sangat serius di ujung telepon.
“Baiklah, aku percaya padamu. Dan … aku pun tidak sabar, sama seperti kamu,” balas Helena. Namun, kali ini, entah mengapa Helena agak ragu saat mengatakannya. Namun cepat-cepat ia menepis pikiran negatif yang menurutnya tidak jelas.
"Oh, iya, bagaimana pekerjaanmu di sana? Apakah semuanya lancar?" tanya Helena.
"Semuanya lancar, honey. Mungkin beberapa hari lagi aku baru bisa kembali. Aku harap kamu tidak keberatan," ujar Fernan.
“Tentu saja aku tidak keberatan. Kamu sibuk mengurus pekerjaanmu dan aku tahu rasanya. Aku mendukungmu sepenuhnya. Fokuslah pada pekerjaanmu dan ... jangan terlalu khawatir tentang aku. Aku baik-baik saja di sini,” ucap Helena dengan penuh pengertian.
“Terima kasih, sayang. Kamu memang sangat pengertian. Aku merasa sangat beruntung memilikimu,” ujar Fernan.
Helena tersenyum sebelum akhirnya menyudahi panggilan telepon dengan kekasihnya. Sejenak, dia menatap layar ponsel yang masih menyala sebelum akhirnya mematikannya dan meletakkannya di atas nakas.
Helena membaringkan tubuhnya di kasur sebelum menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya sebentar, dan… Mood-nya agak membaik setelah berbicara dengan kekasihnya tadi.
Sementara di tempat lain, di sebuah hotel tempat Fernan menginap selama berada di luar kota, Fernan melemparkan ponselnya agak jauh dari posisinya.
Ia duduk di pinggir ranjang dengan kedua kakinya terbuka lebar. Di depannya, seorang wanita bersimpuh dan mendongak padanya. Sebelah tangan sang wanita tengah menggenggam miliknya dan mengurut lembut.
Sesekali Fernan mendesis menahan kenikmatan sambil menatap penuh gairah pada sang wanita. "Lain kali, ketika aku sedang berbicara dengan Helena, jangan lakukan apapun," ujar Fernan pada sang wanita dengan suara serak.
“Kamu terlalu lama berbicara dengannya, sayang. Aku sampai muak mendengarnya,” ucap sang wanita sebelum menjulurkan lidahnya dan menjilat ujung keperkasaan Fernan dengan gerakan memutar.
Fernan mencengkeram sprei dengan kuat sambil memejamkan mata. Dada bidangnya terlihat naik turun dengan cepat akibat deru nafas yang memburu. Gerakan lidah sang wanita saat menggoda keperkasaannya membuat tak tahan ingin menghujam.
"Arrgh…" Fernan mengerang ketika sang wanita memasukkan batang keperkasaannya ke dalam mulut hangatnya. Mengulum, menghisap serta memaju mundurkan kepala, membuat batang yang semakin tegang tampak keluar masuk dari dalam mulutnya.
Fernan menyatukan rambut panjang sang wanita, lalu membantu memajukan dan mundurkan kepalanya seiring dengan gerakan intens yang tengah dilakukannya.
Fernan semakin mengerang nikmat saat sang wanita mengulum dengan cepat dan menghisap ujung keperkasaannya dengan kuat. Tak lama kemudian, Fernan mengerang dalam kenikmatan yang memuncak.
"Aahh, Helena..." ia mendesis, mendesahkan nama sang kekasih. Fernan berimajinasi bahwa wanita yang kini memberinya kenikmatan adalah Helena, gadis yang katanya sangat ia cintai.
Sang wanita hampir tersedak oleh cairan putih kental yang dimuntahkan oleh rudal bengkak Fernan ke dalam mulutnya. Dia mengusap dagunya dan menjilat sensual di sekitar bibirnya sambil berdiri di hadapan Fernan.
“Jujur saja, aku ingin sekali mendengarkanmu mendesahkan namaku, Fer, bukan nama Helena,” ujar sang wanita sambil naik ke atas pangkuan Fernan. Dengan posisinya yang mengangkangi sang pria, dia mengarahkan salah satu buah dadanya ke mulutnya.
Sebelum memberikan jawaban, Fernan mengulum puting sang wanita dan menghisapnya sambil meremas kuat payudara yang lainnya.
“Aahhhh…” sang wanita mendesah panjang merasakan kenikmatan dari sapuan lidah Fernan serta hisapan pada putingnya, sekaligus merasakan rasa nyeri ketika pria itu meremas payudara yang lainnya dengan kuat.
“Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu,” tegas Fernan setelah menyudahi hisapannya, lalu berdiri sambil meraih pinggang ramping sang wanita. “Karena yang ada dalam pikiranku saat menyetubuhimu hanyalah Helena.” Lanjut Fernan sebelum menghempaskan tubuh telanjang sang wanita ke kasur. Wanita tersebut memekik tertahan dan Fernan dengan cepat mengungkung tubuhnya. “Hanya Helena, karena aku sangat mencintainya,” desis Fernan dengan tegas.
Fernan menyangga salah satu kaki jenjang sang wanita dengan sebelah tangan. Mengangkat agak tinggi, lalu…
“Aakhhhh…” sang wanita memekik kesakitan saat Fernan memasuki liang kenikmatannya tanpa ampun.
“Buka kedua kakimu lebar-lebar dan nikmatilah setiap sentuhan dari ku. Tidak perlu banyak menuntut!” Tegas Fernan sambil mendorong keperkasaannya dan menghentak kuat pinggulnya.
“Aahhh, Fernan” desah sang wanita. Jari-jari lentiknya mencengkeram sprei dengan kuat sambil membusungkan dadanya. Wajahnya menengadah ke langit-langit kamar sambil menutup kedua matanya dengan erat.
Sementara itu, Fernan mendekatkan wajahnya. Ia menjulurkan lidahnya, menyapu kulit leher jenjang sang wanita, mencium dan menghisapnya dengan penuh gairah. Sementara itu, pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan ritme yang semakin lama semakin ditingkatkan.
Tubuh polos sang wanita tersentak-sentak seiring dengan hentakan pinggul Fernan. Sebelah tangan Fernan terulur meraih buah dada sang wanita dan meremasnya dengan penuh gairah.
“Ahhh, honey! Oh, Helena… kau begitu nikmat,” racau Fernan dengan gerakan pinggul yang semakin tak terkontrol.
Fernan, pria berusia 28 tahun, adalah kekasih dari Helena. Fernan dan Helena telah menjalin hubungan selama dua tahun dan hubungan mereka telah mendapat restu dari kedua keluarga besar, baik dari keluarga Helena maupun keluarga Fernan.
Dan tidak lama kemudian, kedua pihak keluarga telah sepakat untuk meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius dengan pernikahan.
Sementara itu, apa yang Fernan lakukan saat ini bersama wanita lain tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Helena dan keluarganya.
Selama ini, Helena menganggap Fernan sebagai pria yang baik dan setia. Namun, kenyataannya, pria itu tidak lebih baik dari pria brengsek di luar sana.
Selama hampir setahun, Fernan terus melakukan seks dengan wanita lain di belakang Helena. Alasannya sungguh tidak masuk akal, Fernan berdalih bahwa Helena tidak mau berhubungan intim dengannya selama ini.
Wanita itu tetap pada keputusannya untuk menunggu sampai setelah pernikahan sebelum melakukan hubungan seksual. Fernan sungguh muak dengan pemikiran kolot Helena. Baginya, seks adalah bagian dari kesenangan hidup dan ia tidak melihat ada yang salah jika mereka melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bagi Fernan, keperawanan juga bukanlah hal yang begitu penting.
***
Beberapa saat kemudian…
Kring! Kring! Kring!
Bunyi alarm di meja samping ranjang terdengar nyaring. Meskipun masih dengan kedua mata tertutup rapat, Helena mengulurkan tangan dan mematikan alarm tersebut.
Perlahan ia membuka mata, kemudian meraih ponsel dan melihat angka jam di sana. Rupanya sudah malam, tepatnya jam 9. Helena pun mendesah pelan.
Mendudukkan tubuhnya di kasur, Helena mundur ke belakang dan menyandarkan punggung pada headboard. Ia menatap serius layar ponselnya dan melihat empat panggilan tak terjawab dari sang Ibu.
“Mom…” gumamnya. Keningnya berkerut sambil mengusap-ngusap layar canggih tersebut dengan ibu jarinya, ekspresi wajahnya penuh kekhawatiran.
Kemudian Helena menempelkan ponsel di telinga kanan setelah menekan tombol panggil pada kontak sang Ibu. Menunggu sesaat, dan tak berselang lama suara wanita paruh baya itu menggema di pendengarannya.
“Apa perlu Mommy mengirimkan seluruh bodyguard yang ada di Mansion ini untuk mencari keberadaanmu, Helena Livy Roberto?” Suara tegas dan garang sang Ibu terdengar di ujung telepon.
Helena menghela nafas sambil memijat pangkal hidung mancungnya. Kepalanya tiba-tiba pusing setelah mendengar suara galak sang Ibu, "Aku masih di apartemen, Mom. Aku tertidur," jelaskannya.
“Baik. Kalau begitu, Mom akan meledakkan gedung itu sekarang. Hem, lima menit dari sekarang!” Ancam Careen di sana.
“Aku akan pulang. Tolong siapkan makanan untukku karena aku sangat lapar,” ujar Helena dengan nada tegas, tanpa ingin berdebat.
“Mommy tunggu! Jangan lebih dari waktu 20 menit. Lebih dari itu, Mommy akan membakar mobilmu, kamu dengar?” ancam Careen dengan nada serius.
“Iya, aku mendengar,” jawab Helena sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya dan menyudahi panggilan tersebut.
Sejenak Helena menghela nafas. Bukan bahwa ia kesal terhadap Ibunya, namun Helena berpikir bahwa sikap wanita paruh baya itu terlalu berlebihan. Hanya karena ia sempat demam, sang Mommy bersikap demikian. Sungguh, Helena merasa bingung dengan perlakuan yang ditunjukkan.
Helena menyimpan ponsel di atas meja samping ranjang sebelum menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Menapak pada lantai yang dingin, Helena berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Helena masuk ke dalam kamar mandi untuk sekadar menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Tak lama berselang, Helena selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia bergegas menuju walk-in closet.
Setelah mengganti pakaian, Helena meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ranjang. Sebelum meninggalkan kamarnya, Helena sempat merapikan tempat tidur dengan cermat.
Kini, Helena telah keluar dari unit apartemennya. Setelah menutup pintu utama dengan hati-hati, Helena berjalan menuju lift melalui lorong yang sepi.
Beberapa menit kemudian, Helena berhenti di depan pintu lift. Dengan mantap, ia menekan tombol yang tersedia di sana dan tak lama berselang, pintu lift terbuka lebar untuknya.
Helena tidak langsung masuk ke dalam lift. Dengan kening berkerut, ia menatap sosok pria di dalam lift tersebut dengan penuh curiga. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, menatap pria tersebut dengan penuh selidik.
“Tentu saja, untuk menghukummu karena kau telah berani menamparku!” desis sang pria dengan nada tajam.
Deg!
***
Heros menatap Helena dengan tatapan penuh intimidasi. Dengan langkah mantap, ia mendekati gadis itu, cepat tangannya meraih pergelangan tangan Helena, mendorong tubuhnya dengan kuat hingga sang gadis terhimpit tegak pada dinding.
Helena tersentak kaget. "Heros, lepaskan aku! Apa yang akan kamu lakukan, brengsek!" teriak Helena sambil meronta-ronta, berjuang untuk melepaskan diri dari genggaman sang detective tampan.
Dengan lembut, Heros meniup permukaan wajah Helena, membuat sang gadis terdiam, terpaku memandangi wajah tampannya, sementara dadanya berdebar kencang.
Heros merapatkan tubuhnya, sambil mencekal kedua tangan sang gadis di atas kepala. "Kau telah melakukan kesalahan besar dengan menamparku, Nona Roberto!" desis Heros dengan tajam.
"Aku menamparmu karena kamu bersikap kurang ajar!" balas Helena dengan penuh keberanian, menatap Heros dengan tajam, tak kalah dari tatapan sang pria.
Terkekeh pelan, sebelah tangan Heros menuju bibir kenyal Helena. Dengan gerakan sensual, ia mengusap permukaan benda kenyal tersebut dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
Sejenak, Heros membayangkan sensasi saat ia mengulum dan menghisap. "Apakah nona cantik dan seksi ini tidak paham makna sebuah kecelakaan? Sehingga kau berpikir bahwa aku bersikap kurang ajar padamu?" ujarnya dengan nada tajam.
"Kamu menciumku! Kamu pikir aku sudi dicium oleh pria brengsek seperti kamu?!" desis Helena, membuat Heros terkekeh pelan sekali lagi.
"Memangnya kenapa kau sampai tidak sudi dicium olehku? Bukankah aku cukup tampan dan... menarik? Bahkan wanita-wanita di luar sana mengantri untuk dicium olehku," kata Heros sambil tangan berpindah dari bibir Helena menuju pipi mulusnya. Dengan lembut, ia membelai pipi itu, merasakan betapa mulusnya kulit wajah sang gadis.
Helena terengah, berusaha menggerakkan kakinya tetapi Heros mengunci pergerakannya. "Aku tidak peduli seberapa banyak wanita yang menanti ciumanmu! Sekarang lepaskan aku dan... menyingkirlah!" desis Helena dengan tegas.
"Kau pikir kau akan semudah itu lolos dariku setelah kau menamparku di tempat umum dan membuatku malu?" Heros menatap remeh, sambil menguatkan cengkeramannya di tengan Helena.
"Selain menamparmu, apalagi yang kamu harapkan? Berterima kasih karena kamu telah menciumku? Atau... membalas ciumanmu?" Helena melontarkan pertanyaan tajam, menatap Heros dengan penuh tantangan.
Heros mengangguk pelan. "Yang terakhir lebih menarik. Membalas ciumanku. Aku tidak yakin kau akan menolak," ucapnya dengan nada percaya diri, sementara matanya menyiratkan tantangan yang dalam pada sang gadis.
"Cih!" Helena mendecih, menatap Heros dengan jijik. "Bermimpilah!" ucapnya tegas, menunjukkan ketegasan dan keengganannya.
"Sungguh kau yakin? Yakin tidak akan terlena?" Heros semakin mendekatkan wajahnya dengan Helena, menciptakan ketegangan yang terasa di antara mereka.
“Heros…” suara Helena terdengar terputus-putus karena rasa gugup yang melanda. Helena memiringkan wajah ke samping kiri, sehingga bibir Heros menempel di pipinya, menciptakan momen yang penuh dengan ketegangan dan keintiman.
Heros terkekeh pelan sebelum meraih dagu runcing Helena, membawa wajah cantik itu menghadap ke arah wajahnya. Dengan tatapan tajam, Heros mendekat perlahan dan menyatukan bibirnya dengan bibir Helena dalam sebuah ciuman yang memikat.
“Hhmmppttt…”
Helena memejamkan mata pasrah, membiarkan Heros mengulum bibirnya. Tak lama berselang, Heros menyeringai di tengah jalinan bibir mereka saat Helena membalas ciuman dengan penuh gairah.
Dengan penuh gairah, sang gadis menggerakkan bibirnya dan membalas dengan menghisap bibir Heros. Perlahan, Heros melonggarkan cekalan tangan di pergelangan Helena hingga akhirnya melepaskannya, membiarkan kebebasan kembali dirasakan oleh sang gadis.
Saat ini, Helena mengalungkan kedua tangannya di leher kekar Heros, membiarkan jari-jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut sang pria. Dengan penuh gairah, Helena meremas manja, dan tak berapa lama kemudian, ia menggenggam rambut Heros dengan kuat, lalu menariknya.
Ciuman bibir terlepas. Dengan gesit, Helena menggerakkan kepala dan menghantam wajah Heros dengan keningnya.
Bug!
Sang pria tersentak, tubuhnya terhuyung akibat serangan tiba-tiba dari Helena. Dengan gerakan yang gesit, Helena mengepalkan tangan kanannya, siap melayangkan tinju mematikan ke arah wajah Heros.
Dengan kegesitan yang luar biasa, sang pria menghindar dari serangan Helena. Namun, sebelum ia bisa bereaksi lebih lanjut, Helena yang pemberani dengan lincah beralih menyerang bagian tubuh yang lain.
Bug!
"Argh … fucking shit!" Erang Heros sambil berjongkok, meraih sang junior yang terasa ngilu akibat serangan kejam dari Helena.
Helena mendekat perlahan, kemudian dengan lincah menekuk tangannya sebelum menjatuhkan pukulan kuat tepat di atas punggung Heros, membuat sang pria menggumam kesakitan.
Bug!
Nyaris jatuh ke lantai, Heros dengan susah payah mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Dengan tatapan tajam, ia menatap Helena. Heros mendelikkan kedua matanya ketika gadis itu mengacungkan moncong pistol yang diambilnya dari dalam mini tasnya ke arah Heros.
Sleeeppp!
"Oh, damn!" Heros melompat menjauh ketika proyektil melesat dari senjata api di tangan Helena. Senjata tersebut beroperasi tanpa suara yang mencolok karena kedap suara.
Tanpa ragu, Helena maju mendekati Heros. Gadis itu tetap gigih meskipun tembakan pertamanya meleset dari sasaran. Dengan mantap, ia kembali melepaskan peluru ke arah Heros.
Sleeeppp!
Untunglah sang detektif tampan berhasil menghindari serangan peluru untuk yang kedua kalinya dengan gesit.
Sadar akan ancaman yang mengintai, Heros dengan gesit mendekat pada Helena. Dengan cepat, ia meraih tangan sang gadis dan berhasil merampas pistol dari genggamannya.
“Hentikan atau ku tembak kepalamu!” desak Heros sambil menekan ujung senjata ke kening Helena.
Sang gadis cantik malah terkekeh pelan. “Aku bersedia bercinta denganmu jika kau mampu melukaiku,” tantang Helena dengan nada menantang.
Heros mengangkat sebelah alisnya, menatap Helena dengan nada meremehkan. "Benarkah?"
“Bahkan aku belum pernah se-serius ini dalam hidupku,” pungkas Helena. “Selama ini, kau hanya bercinta dengan jalang, bukan? Kau seharusnya tahu betapa nikmatnya bercinta dengan seorang gadis perawan. I’m a virgin!”
Glek!
Tiba-tiba, Heros menelan ludah dengan kasar, sementara tangannya tetap memegang erat pistol di kening Helena.
"Apakah kau tertarik?" Angguk Helena dengan tajam.
“Aku…” kalimat Heros terputus saat Helena dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
Mengambil kesempatan saat Heros sedikit lengah, gadis itu dengan cepat merebut kembali pistolnya dari tangan Heros. Dengan gesit, ia mengangkat sebelah kakinya lalu menyerang dengan lututnya di antara kedua paha Heros.
Bug!
“Argh!” Heros mengerang kesakitan sambil menekuk tubuhnya.
Bug!
Setelah Helena menambah pukulan di punggungnya, Heros roboh. Ia tersungkur di lantai, merintih tak berdaya.
Helena mendekat dan jongkok di hadapan Heros sebelum berkata, "Jangan sekali-kali berpikir kau bisa memperdayaku seperti yang biasa kau lakukan pada wanita di luar sana! Aku bukan mereka, dan... aku tak akan ragu untuk membunuhmu, tidak peduli siapapun kau!" Detective TDB?” Helena berdecak remeh sambil menyapu ujung pistolnya di garis wajah Heros dengan penuh keangkuhan. "Di mataku, kau tak lebih dari seorang peternak hewan!" Hinanya sebelum berdiri dan melenggang masuk ke dalam lift.
Mendengar hinaan dari sang Princess Roberto, Heros sontak tertawa sambil berbaring di lantai marmer. Tanpa ragu, ia kemudian bangkit dan berdiri tegap.
"Virgin?" gumamnya, lalu terkekeh.
“Peternak hewan?” Kali ini, Heros tertawa. “Baiklah, baby Helen, sebentar lagi aku akan menunjukkan padamu betapa dahsyatnya hujaman seorang pria yang kau sebut seperti seorang peternak!” Desisnya sambil berlalu menuju sebuah pintu unit apartemen di sana.
Heros membuka pintu akses dan masuk ke dalam. Ternyata, ia memiliki unit apartemen di gedung yang sama dengan Helena. Bahkan, posisi unit mereka bersebelahan, dan kali ini murni karena suatu kebetulan.
Heros menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang luas dengan ukuran king-size. Terbaring dengan posisi terlentang, ia membawa salah satu tangan ke arah antara kedua pahanya.
Menyentuh dengan lembut bagian yang masih agak terasa nyeri, Heros meringis ketika teringat akan rasa sakit yang ia rasakan ketika diserang oleh Helena sebelumnya.
“Dia lebih berbahaya daripada Ibunya,” gumam Heros sambil terkekeh pelan. “Padahal, sekilas dilihat, dia terlihat seperti gadis lugu.” Heros mendesah kasar. “Aku pikir Clarissa adalah satu-satunya wanita yang dingin dan galak, ternyata ada yang lebih berbahaya. Anak macan! Macan perawan!”
Heros tertawa seperti orang gila. Kemudian, ia bangkit dari pembaringan dan berdiri tegak di samping ranjang. Dengan langkah panjang, Heros menuju kamar mandi, masuk, dan melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuh atletisnya.
Heros bergerak menuju shower dan berdiri di bawah pancuran sebelum menyalakan kran. Air dingin segera mengalir dan membasahi tubuh telanjangnya.
•
Dengan kasar, Helena menutup pintu mobil. Dengan cepat ia memasang seatbelt di tubuhnya dan menyalakan mesin mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu mulai melaju meninggalkan gedung tersebut menuju Mansion, tempat tinggalnya.
Beberapa menit berlalu, Helena melirik pada arloji di pergelangan tangan kirinya. Ia mendesah kesal saat menyadari bahwa waktu yang diberikan oleh sang Ibu hanya tersisa lima menit lagi.
“Aku pasti tidak akan sampai tepat waktu. Aku akan terlambat,” gumam Helena sambil fokus memperhatikan jalan.
Helena mengambil sebuah alat komunikasi dan memasangkannya di telinga kanannya. Dengan cekatan, ia mengambil ponsel dari dalam mini bag-nya dan menelepon seseorang.
“Halo, sayang...” suara bariton seorang pria di ujung telepon bergema di telinga Helena.
“Dad…” Helena bergumam sambil fokus pada jalan.
“Ibumu menunggu di teras dengan alat peledaknya. Kau di mana, sayang?” tanya pria itu, yang ternyata adalah Ayah Helena, Riccard Roberto.
Helena meringis mendengar ucapan sang Ayah, "Aku masih di perjalanan. Lumayan jauh, Dad. Aku pasti akan terlambat dari waktu yang diberikan oleh Mom."
"Kamu tidak biasanya begini. Ada apa, sayang?" tanya Riccad.
Helena mendesah kasar sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, "Tadi ada orang gila yang merecoki, Dad. Dan sekarang aku butuh bantuanmu."
Setelah itu, Helena mengungkapkan keinginannya pada sang Ayah dan pria tersebut dengan senang hati setuju untuk membantu putrinya. Tak lama kemudian, Helena tiba di Mansion. Namun, kendaraannya berhenti tepat di depan pintu gerbang.
"Permisi, Nona Helen," seru seorang bodyguard menghampiri Helena.
Helena turun dari mobil dan dengan tegas menyuruh bodyguard, "Bawa mobilku pergi. Cepat!"
Setelah mobilnya diambil alih dan diamankan oleh pria tersebut, Helena melangkah ke dalam area mansion yang luas. Dari kejauhan, ia melihat sang ibu berdiri di teras depan, menatapnya dengan tatapan tajam.
Saat Helena menghentikan langkahnya di hadapan wanita paruh baya itu, waktu terasa berhenti sejenak.
"Dari apartemen, berjalan kaki?" tanya Careen pada putrinya, dengan nada sindiran yang sarcastic.
"Tidak. Aku titipkan mobilku pada bodyguard karena aku tahu Mom akan membakarnya," jawab Helena dengan santai. Wajahnya sama persis dengan sang ibu, tanpa ekspresi.
Careen diam dan tetap menatap tajam Helena. Sementara itu, Helena menghela nafas sebelum berkata, "Tadi ada kecelakaan di jalan yang membuat lalu lintas sangat padat. Itu sebabnya aku terlambat."
"Kamu membuat semua orang cemas, Helen. Kamu belum pulih," ujar Careen.
"Aku sudah merasa baik-baik saja, Mom. Hanya demam, dan sekarang tubuhku sudah lebih baik. Oh, ayo lah, jangan terlalu khawatir seperti ini. Aku bukan gadis yang lemah, Mom," ujar Helena dengan tegas.
"Helena!" tegur Careen dengan tatapan tajam pada sang putri, membuat gadis itu seketika menutup rapat kedua bibirnya.
"Apa kamu tidak memahami seberapa khawatirnya orang tuamu?"
"Aku mengerti," jawab Helena sambil melanjutkan, "aku hanya bosan, Mom. Aku menghabiskan waktu sendirian di apartemen, tidur di sana. Tadi aku hanya sebentar bertemu dengan Freya dan Leanor," terangnya panjang lebar.
Tiba-tiba, suara bariton seorang pria terdengar di belakang Careen. "Ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai ke dalam," ujar Riccard sambil berhenti dan berdiri di antara sang istri dan sang putri. Ia menatap keduanya bergantian. "Hem? Apa kalian sedang bertengkar?"
"Tidak, Dad. Aku hanya menjawab pertanyaan Mom dan menjelaskan mengapa aku terlambat pulang," jawab Helena sambil melirik sebentar pada Ibunya sebelum melanjutkan, "Aku masuk dulu, aku lapar. Permisi." Kemudian dia melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tuanya di situ.
Careen memiringkan tubuhnya dan menatap datar ke arah punggung sempit sang putri. Sementara itu, Riccard menghela nafas panjang.
"Jangan terlalu keras padanya, Careen," tegur Riccard.
Careen menarik pandangannya dari dalam Mansion dan beralih menatap sang suami. "Aku mengajarkan tentang kedisiplinan!" ucapnya dengan nada sarkas.
"Kedisiplinan yang kau terapkan bisa saja membahayakan dia. Bagaimana jika di jalan, dia lupa akan keselamatannya hanya karena mengejar 20 menit yang kau berikan, hem?"
Careen terdiam.
Riccard menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Dia sudah dewasa dan mampu menjaga dirinya. Jangan terlalu membatasi kebebasannya."
Mendengus, Careen desis, "Kamu selalu saja membelanya!"
"Dia adalah putri yang sangat kusayangi, tentu saja aku akan membelanya," sahut Riccard sebelum mendekat pada Careen dan hendak mencium bibir wanita itu.
Careen dengan cepat menghindar, secara tidak langsung menolak kecupan mesra dari sang suami.
"Careen..." panggil Riccard saat sang istri malah masuk ke dalam dan meninggalkannya sendirian di sana. "Careen Veronica Roberto!"
"Aku tidak ingin kau menciumku, Roberto!" seru Careen dengan suara tinggi sambil melangkah semakin jauh.
Sementara itu, Riccard terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah masuk dan menyusul sang istri.
***