***
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Heros. Helena menatap tajam setelah menampar sang pria.
Suasana kafe begitu hening. Semua mata pengunjung tertuju pada Helena dan Heros yang berdiri saling berhadapan.
“Dasar brengsek! Berani-beraninya kau menciumku!” desis Helena.
Heros terdiam. Ia terkejut oleh kejadian yang baru saja dialaminya.
Terengah menatap penuh kemarahan pada Heros. “Bibir murahan seperti bibirmu tidak pantas menciumku! Kalau kau berani mengulanginya lagi, akan kurobek mulutmu!” Ancam Helena Livy Roberto sebelum berlalu sambil mengacungkan jari tengahnya pada Heros.
Heros terkekeh pelan sambil mengusap pipinya yang terasa panas. "Persis seperti ibunya, bajingan," gumamnya pelan sambil menatap punggung sempit sang gadis.
'Hem, mahluk pertama yang berani menamparku. Sungguh luar biasa!' lanjut Heros dalam hatinya.
***
Beberapa jam sebelumnya…
Wellington, New Zealend…
Mansion Roberto…
"Mom, aku ingin keluar sebentar," ucap Helena Livy Roberto, seorang gadis cantik berusia 25 tahun, dengan suara yang langsung menarik perhatian seorang wanita yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Ke mana tujuanmu?" tanya Careen Roberto, wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung Helena. "Bukankah cafe tutup? Dan kamu juga belum sembuh," tambahnya.
Helena berjalan menuju wanita yang usianya telah senja, neneknya. Sebelum menjawab pertanyaan sang Ibu, Helena duduk di sampingnya. Dengan senyum, dia mengecup pipi sang nenek. "Aku mau bertemu Freya. Tadi dia menghubungiku dan minta bertemu di cafe. Katanya ada hal penting," ujar Helena sambil mengedikkan bahu.
"Diizinkan tidak?" Tanya Helena dengan penuh harap saat ia tidak mendapat respons dari Ibunya, menunggu persetujuan dengan nafas yang tertahan.
Careen mengangguk pelan sambil menjawab, "Pergilah. Tapi jangan pulang malam," serius memandang putrinya. Careen melanjutkan dengan nada khawatir, "Kamu belum sepenuhnya sehat."
"Dengan senang hati, Mom," jawab Helena sambil bangkit dari tempat duduknya. Ia berpamitan pada sang Nenek sebelum menghampiri Ibunya. Setelah itu, Helena melangkah pergi dari ruang keluarga menuju mobilnya di halaman Mansion.
Setelah masuk ke dalam kendaraannya, Helena menyalakan mesin sebelum melaju perlahan melewati pintu gerbang yang terbuka lebar, dijaga oleh seorang bodyguard yang sigap.
Hari ini, Helena merasa agak bosan berdiam diri di Mansion tanpa melakukan aktivitas. Biasanya, setiap hari ia menghabiskan waktunya di cafe miliknya. Namun, karena kemarin ia sempat sakit, sang Ibu memaksa dia untuk beristirahat selama beberapa hari.
Hanya setelah satu hari libur dari pekerjaannya, Helena sudah merasa bosan. Bagaimana jika ini terjadi berhari-hari? Helena bisa semakin stres dan penyakitnya mungkin tidak akan sembuh dengan baik.
Dan sore ini, sahabatnya Freya tiba-tiba menghubungi Helena. Freya ingin bertemu dan berbicara. Kemungkinan terdapat permasalahan yang sama, bahwa kekasihnya selingkuh lagi. Entahlah.
•
Helena memarkir mobilnya di tempat parkir yang tersedia di depan cafe. Setelah menutup pintu dan menguncinya, ia melangkah masuk ke dalam cafe dengan langkah mantap.
“Helen!” Teriakan seorang gadis sambil mengangkat sebelah tangannya, berharap agar Helena bisa melihatnya dengan jelas.
Helena mengalihkan pandangannya setelah melihat sahabatnya di sana, lalu dia berjalan mendekatinya.
“Tumben sekali kamu lama,” keluh Freya. “Apakah jalanan sangat padat atau Aunty Careen tidak memberi izin?” ujarnya sambil menatap pada Helena dengan ekspresi penasaran.
Sebelum menjawab pertanyaan dari sahabatnya, Helena duduk di samping sahabatnya yang lain, Leanor. "Aku hanya malas keluar," jawab Helena singkat sambil menatap pada keduanya.
Freya menatap Helena sambil memicingkan mata, sementara Leanor mengulurkan tangan dan menempatkannya di kening Helena. "Kamu masih sakit?" tanyanya sambil menatap serius sahabatnya itu, sebelum kemudian menjauhkan tangannya.
Helena mengedikkan bahu, lalu meraih gelas jus jeruk milik Freya. Dengan santai, dia mengarahkan sedotan ke bibirnya, menikmati cairan kuning tersebut sebelum menyelesaikannya. "Orang-orang di Mansion terlalu berlebihan. Aku hanya kelelahan dan demam, tapi reaksinya seakan-akan aku tengah mengidap penyakit kronis," ucapnya sambil bersikap cuek.
“Hush!” Leanor menepuk perlahan lengan Helena. “Kamu tidak boleh berbicara seperti itu, Hel!” ujarnya dengan tegas sambil mengingatkan sang sahabat.
Helena menatap Leanor sebentar sebelum beralih pandang ke Freya. Freya terkikik, sementara Helena mendengus dan menggelengkan kepala dengan malas. Leanor, dengan kepolosannya, sepertinya tidak terganggu. Namun sayangnya, gadis polos itu tertarik pada seorang pria yang tidak pantas.
Helena kemudian memfokuskan pandangannya pada Freya. Dengan gerakan kepala yang tegas, Helena bertanya, "Mau cerita apa?"
Freya menghela nafas sejenak dan melirik ke sana kemari sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Helena, "Dia selingkuh lagi. Semalam aku memergokinya di hotel."
Helena terdiam dan fokus mendengarkan cerita dari sahabatnya. Sementara Freya melanjutkan, "Padahal sebelumnya dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Aku sungguh kesal padanya."
"Kalau kamu kesal, kenapa belum kamu tinggalkan? Dan lagi, sebenarnya bukan pria itu yang salah, tapi kamu yang bodoh," tegas Helena, membuat Leanor meringis. Sementara Freya hanya mendesah pelan.
"Di mana pun, jika seorang pria sudah pernah berselingkuh, apalagi sampai dijadikan hobi, sampai kiamat pun dia tidak akan pernah berubah, Freya! Sudah berapa kali dia berjanji padamu dan sudah berapa kali kamu memergokinya? Dia terus mengulang kesalahan yang sama karena kamu terus memberinya maaf!" Helena mendesah kasar sambil menatap sahabatnya dengan ekspresi jengkel.
Hening... Freya tidak memberikan tanggapan apapun, sehingga Helena melanjutkan, "Kalian ini kenapa, hm? Jadi kompak begini tertarik dengan pria brengsek. Seakan tidak ada pria lain di dunia ini," ia menatap bergantian antara Leanor dan Freya.
"Kalau aku, karena patah hati, Hel. Willem tidak tertarik padaku. Padahal, aku sangat berharap bisa menjadi menantunya Aunty Careen yang galak itu," ujar Leanor dengan bibir manyun dan cemberut.
Leanor tidak sedang bergurau. Perasaannya terhadap Willem, kakak kandung Helena, sungguh tulus. Namun sayangnya, Willem tidak tertarik padanya karena pria itu telah menetapkan pilihan yang berbeda.
“Setelah kembali dari sini, sebaiknya kamu segera ambil keputusan. Tinggalkan dia dan kamu akan bebas darinya, atau tetap bertahan dengan pilihanmu seperti yang selama ini kamu lakukan,” ujar Helena tegas sebelum melanjutkan, “Dan jika pilihanmu yang terakhir, bersiaplah untuk terus menangis karena sakit hati. Ingat, aku juga tidak mau lagi mendengar keluhanmu apalagi memberimu solusi! Bukan karena aku tidak peduli padamu, tetapi aku muak, Freya,” Helena menegaskan dengan tegas.
Kemudian Freya mengangguk lemah, "Iya, kali ini aku akan mengikuti saran darimu. Aku akan mengakhiri semuanya. Aku tidak akan memberinya kesempatan lagi. Aku berjanji, Hel."
"Berjanji pada dirimu sendiri, jangan padaku!" sahut Helena dengan nada sarkastik, membuat Freya mengerucutkan bibir, sementara Leanor terkikik.
"Aku tidak habis pikir padamu. Sebegitu cinta kah kamu padanya? Sampai kamu rela menutup mata seperti ini," amuk Helena. Sungguh, ia sangat jengkel terhadap sahabatnya itu. Menurutnya, Freya tidak tegas sama sekali terhadap pria yang telah memperlakukannya dengan semena-mena. Padahal, jika Freya mau, gadis itu bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari kekasihnya yang brengsek itu. Entahlah, Helena tidak habis pikir.
•••
Sementara di tempat lain…
"Heros, tunggu!" Wanita itu berusaha meraih dan menahan lengan kekar sang pria. Setelah sang pria menoleh dan menatap tajam padanya, wanita itu melanjutkan, "Kamu tidak bisa terus menerus menghindar seperti ini. Aku sedang hamil, Heros, dan ini benihmu! Anakmu!" serunya sambil mendongak.
Kemudian, Heros terkekeh pelan sebelum akhirnya menghentak tangannya hingga terlepas dari cengkeraman sang wanita.
“Mengapa kau begitu yakin bahwa anak itu berasal dari benihku, huh? Apakah karena kita pernah bercinta? Bukankah kau seorang wanita yang berprofesi sebagai pemuas nafsu para pria yang kau temui?” Heros bersarkas, membuat sang wanita sontak mengepalkan tangan yang menggantung di sisi tubuh.
Heros kembali melanjutkan “kalau pun sekarang kau sedang hamil, aku sangat yakin jika janin di dalam perutmu itu bukan dari benihku saja, tapi bercampuran! Kau pikir aku sudi mengakuinya?” Heros berdecak sambil mengibas tangan ke udara. Cuek.
Sang wanita menatap tajam, merasa bahwa Heros sangat merendahkan harga dirinya meskipun apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar.
"Aku menyimpan rekaman percintaan kita, Heros. Jika kamu tetap bersikeras tidak mau bertanggung jawab dan menikahiku, aku bersumpah akan menyebarluaskan rekaman itu agar keluargamu dan seluruh dunia tahu siapa kamu sebenarnya!" Ancam sang wanita, menatap Heros dengan kilat marah di kedua matanya.
Kali ini, Heros tertawa sambil menatap sang wanita dengan tatapan meremehkan, "Bukankah dunia sudah tahu siapa aku sebenarnya? Si penebar benih!" desisnya di akhir kalimat. "Jadi... mulai sekarang, berhentilah mengusik kehidupanku, lupakan harapanmu tentang aku yang akan bertanggung jawab atas kehamilanmu karena semua itu mustahil terjadi. Brengsek begini, impianku tetap memilih wanita yang mahal untuk menjadi Ibu dari anak-anakku. Bukan seperti kau, cantik tapi murahan!" Hinanya membuat sang wanita naik pitam. Tidak terima, ia dengan cepat melayangkan tangan ke udara hendak menampar Heros.
Heros dengan gesit menangkap pergelangan tangan sang wanita dan mencengkram kuat. “Tidak sembarang wanita bisa menamparku!” desis Heros. Sang wanita meringis kesakitan karena Heros menyakiti pergelangan tangannya. “Dan siapapun wanita yang berani menamparku, maka aku bersumpah akan menghukumnya! Dan hukumannya tergantung pada siapa wanitanya! Jika wanitanya seperti kau, maka hukumannya adalah mematahkan tanganmu!”
Sang wanita memekik setelah Heros membebaskan pergelangan tangannya dan beralih mencekik lehernya. “Jangan kau pikir aku tidak tahu dengan siapa saja kau bercinta! Bahkan aku juga tahu siapa sebenarnya ayah dari janin yang kau kandung ini! Jadi… jangan coba-coba menjebakku dengan cara murahan seperti ini. Kau paham, bitch?” desis Heros sebelum melepas cekikannya pada leher sang wanita.
Kemudian sang detective tampan memutar tubuhnya dan membuka langkah lebar meninggalkan sang wanita yang tengah menatap punggung lebarnya dengan tatapan nanar dan penuh kebencian.
Heros Grint Easton, seorang pria berusia 30 tahun, merupakan seorang detective yang bekerja di dalam organisasi yang dipimpin oleh seorang mafia kelas kakap yang terkenal kejam. Tugasnya khusus adalah menyusup ke dalam kelompok musuh-musuh tertentu, memanfaatkan kecerdasan, kecerdikan, dan taktisnya untuk mengungkap kelemahan mereka. Dengan reputasi yang mengerikan di dunia bawah tanah, Heros dijuluki sebagai "The Bastard Detective" karena kegemarannya dalam hubungan one-night stand.
Saat memasuki kendaraannya, Heros mengikat seatbelt di tubuhnya sebelum tangannya beralih ke setir. Ia siap melajukan mobilnya, tapi tiba-tiba ponselnya berdering.
Heros menghela nafas sebelum merogoh benda pipih tersebut di dalam saku celananya. Membawanya ke depan wajah, ia menatap “Devil Blaxton”. Pemimpin organisasi tempat Heros bekerja selama ini.
“"Ya," jawab Heros setelah menjawab panggilan.
"Ada tugas baru untukmu," ujar sang Devil di ujung telepon.
"Hmm, besok akan aku kerjakan. Malam ini aku ingin bersenang-senang. Jangan mengganggu," seloroh Heros, tanpa peduli dengan siapa ia berbicara.
"Jangan lupakan dengan siapa kau berbicara, Heros!" Hardik sang Devil.
Mengangkat sebelah alis, "Lucas Blaxton! Namamu bukan?" desisnya membalas.
"Aku akan kirim datanya setelah ini. Dan ingat, jangan terlalu lama mengulur waktu," ujar suara di ujung telepon.
"Oke," jawab Heros singkat sebelum menjauhkan ponsel dari telinga dan mengakhiri panggilan.
Sejenak Heros memandangi layar ponsel yang masih menyala terang, menunggu notifikasi pesan. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi.
Heros melihat sebuah surel dan dengan cepat membukanya. Ia melihat data seseorang yang baru saja dikirimkan oleh Lucas.
Lucas Spencer Blaxton merupakan seorang pemimpin sebuah klan mafia. Ia memiliki organisasi yang dikenal sebagai n,The Devil Blaxton dimana orang-orang mengenal organisasi tersebut dengan singkatan TDB-13.
Dan di dalam organisasi ini, Heros bekerja. Ia bekerja untuk Lucas sebagai seorang detective handal. Lucas sangat mengandalkan Heros, terutama karena hampir tidak pernah gagal dalam menjalankan misi.
Setelah mengamati data orang tersebut, Heros menyimpan ponsel di atas jok di sampingnya yang kosong. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju sebuah cafe. Di sana, ia akan bertemu dengan seseorang untuk suatu kepentingan.
•
Beberapa menit kemudian, Heros tiba di sebuah cafe. Ia memarkirkan mobilnya dan segera turun. Langkahnya lebar saat memasuki cafe tersebut.
Sejenak Heros berdiri di dekat pintu. Suasana cafe sore ini cukup ramai dengan pengunjung. Heros menyapu pandangannya menyusuri setiap pengunjung, mencari keberadaan orang yang akan ia temui.
Detik berikutnya, Heros melihat seseorang mengangkat tangan dan melambaikannya kepadanya sebelum kemudian melanjutkan langkahnya menuju orang tersebut.
Kehadirannya di cafe tersebut langsung menarik perhatian beberapa gadis di sana. Ada yang memekik tertahan, ada yang dengan terang-terangan memanggil namanya.
Sementara itu, sang pria bajingan justru dengan santai melempar senyum nakal pada mereka, disertai dengan kedipan mata genit. Ia sering mengunjungi cafe ini, oleh sebab itu ia cukup banyak dikenal terutama oleh para gadis-gadis.
“Heros…” pekik Leanor saat melihat sosok pria yang ditaksirnya. "Ya Tuhan, mimpi apa aku semalam sampai bisa bertemu si tampan itu di sini," lanjutnya.
Freya menoleh dan tersenyum. Ia pun mengakui bahwa pria yang dikagumi oleh sahabatnya itu sangat tampan dan berkarisma.
Sementara itu, Helena terlihat cuek. Meskipun sahabatnya heboh melihat sang pujaan hati, itu tidak membuatnya tertarik untuk melihat objek tersebut.
Helena fokus pada ponsel yang ada dalam genggamannya, membalas pesan chat dari sang kekasih.
“Hai, Heros tampan,” goda sang gadis saat Heros melintasi meja tempat duduk mereka. Salah satu dari mereka dengan nakal mengangkat sebelah kaki untuk menghadang langkah Heros. Namun, ulahnya itu justru membuat sang detective terkecoh dan kehilangan keseimbangan tubuh.
Brugh!
“Aakhhh…!” Leanor dan Freya memekik bersama ketika Heros menabrak meja mereka, membuat minuman di atasnya tumpah.
Hening…
Leanor membelalak kedua matanya sementara Freya menutup mulut dengan tangan. Ekspresi mereka tampak syok melihat posisi Heros yang tengah menindih tubuh Helena. Yang lebih mengejutkan, bibir mereka bersentuhan dan menyatu.
Helena dengan cepat mendorong kasar dada Heros hingga pria itu menjauh dari atas tubuhnya. Heros berdiri, bersama dengan Helena. Lalu…
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Heros. Helena menatap tajam setelah menampar sang pria.
Suasana kafe begitu hening. Semua mata pengunjung tertuju pada Helena dan Heros yang berdiri saling berhadapan.
“Dasar brengsek! Berani-beraninya kau menciumku!” desis Helena.
Heros terdiam. Ia terkejut oleh kejadian yang baru saja dialaminya.
Terengah menatap penuh kemarahan pada Heros. “Bibir murahan seperti bibirmu tidak pantas menciumku! Kalau kau berani mengulanginya lagi, akan kurobek mulutmu!” Ancam Helena Livy Roberto sebelum berlalu sambil mengacungkan jari tengahnya pada Heros.
Heros terkekeh pelan sambil mengusap pipinya yang terasa panas. "Persis seperti ibunya, bajingan," gumamnya pelan sambil menatap punggung sempit sang gadis.
'Hem, mahluk pertama yang berani menamparku. Sungguh luar biasa!' lanjut Heros dalam hatinya.
“Eros…” panggil suara seorang pria.
Heros mengalihkan pandangannya dari sosok Helena yang mulai menghilang dan beralih menatap sosok yang memanggilnya. Pria itu adalah sahabatnya, Oliver.
“Hey man, barusan kamu ditampar seorang gadis. Apakah aku tidak salah lihat?” Oliver menelisik. Ia melihat pipi kanan Heros tampak memerah. Kemudian ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, “Sungguh gadis yang luar biasa!”
Mendesah pelan, Heros melangkah melintasi Oliver. “Aku akan memberinya hukuman nanti,” gumamnya, dan yang mampu mendengar hanyalah Oliver.
Oliver kemudian terkekeh dan dengan cepat menyusul Heros. Mereka menuju sebuah meja tempat Oliver duduk sebelumnya.
"Kalau tidak salah ingat, gadis itu adiknya Willem, bukan?" tanya Oliver, menebak siapa sebenarnya Helena.
“Hm, dan dia memiliki seorang Ibu yang sangat galak!” desis Heros membuat Oliver tertawa.
“Tapi dia sangat cantik, man. Manis jika dilihat dari sisi yang tidak membosankan,” seloroh Oliver.
“Kau tertarik padanya?” tanya Heros serius pada Oliver.
Oliver mengedikkan bahu. “Aku rasa semua pria tertarik padanya. Aura dan kepribadiannya membuat siapa pun betah mendekatinya, meskipun dia agak galak,” ungkapnya panjang lebar.
Heros menghela nafas. “Bukan agak lagi, tapi dia memang galak. Aku rasa dia lebih galak dari Ibunya.”
Oliver tertawa lagi saat melihat wajah jengkel sahabatnya. "Baiklah, mungkin kita tunda dulu pembahasan tentang si cantik Roberto, karena ada hal penting yang mesti kita bicarakan," ujarnya sambil menatap serius pada Heros.
Heros mengangguk pelan sebagai tanda setuju. Kemudian, sebelum memulai pembahasan dengan Oliver, Heros memesan minuman terlebih dahulu. Kopi pahit adalah favoritnya.
°
“Hel…” Freya dan Leanor mengejar langkah sahabat mereka. “Helen!” seru Freya lagi karena Helena enggan menanggapi.
Helena tiba di tempat parkir, berdiri di samping mobil, dan menatap kedua sahabatnya. Mereka terengah-engah setelah berhenti di dekatnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Freya terengah-engah kepada Helena.
“Aku mau pulang. Kepalaku pusing dan aku tidak mood,” jawab Helena.
Sejenak Freya dan Leanor saling berpandangan sebelum akhirnya fokus menatap Helena. "Kamu pasti kesal sekali, ya, dengan insiden tadi," ujar Leanor penuh iba pada sahabatnya.
Helena mendesah pelan. Tidak dapat dipungkiri, ia sangat jengkel dengan kejadian di dalam kafe tadi. Bibirnya dicium oleh pria brengsek seperti Heros. Sungguh, Helena tidak rela bibirnya ternoda oleh bibir Heros.
"Tidak perlu dibahas lagi. Rasanya aku ingin masuk ke kafe itu untuk mencekiknya," ucap Helena membuat kedua sahabatnya kompak meringis.
"Baiklah, kalau begitu. Nanti kalau sudah sampai rumah, kabari kami ya supaya kami bisa tenang," ucap Freya.
Helena mengangguk pelan. Setelah itu, ia masuk ke dalam mobil dan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi. Wajahnya menengadah ke atas sambil memejamkan mata dengan erat.
Sementara Freya dan Eleanor kembali masuk ke kafe. Tadi mereka mengejar Helena dengan buru-buru, sehingga tas mereka tertinggal di dalam sana dan mereka juga belum membayar tagihan di meja mereka.
Berulang kali Helena mendesah kasar, tanda berusaha mengusir rasa kesal yang bersarang di dadanya. “Sebaiknya aku ke apartemen saja,” gumam Helena pada dirinya sendiri.
Setelah itu, Helena mengemudikan mobilnya meninggalkan area kafe menuju apartemen. Saat ini, Helena membutuhkan tempat untuk menenangkan diri, tempat yang sepi tanpa harus mendengar suara siapapun.
***
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih dua puluh menit di jalan, Helena tiba di apartemen. Memarkirkan mobilnya di basement, Helena meraih mini bag di kursi di sampingnya.
Kemudian, Helena membuka seatbelt dan dengan cepat turun dari mobil. Setelah mengunci kendaraan secara otomatis, ia bergegas melangkah menuju lobby.
Helena bergerak menuju lift yang akan membawanya ke lantai 20 tempat unit apartemennya berada. Setelah masuk ke dalam lift, Helena menekan tombol yang sesuai, dan tak lama berselang, lift pun bergerak naik menuju lantai yang dituju oleh Helena.
Setelah beberapa menit, Helena tiba di lantai unit apartemennya dan berdiri di depan pintu. Dengan membuka akses pintu, Helena memasuki kediamannya yang penuh dengan privasi.
Helena langsung menuju kamar. Setelah melemparkan mini bag di tangannya ke atas ranjang, ia melangkah menuju kamar mandi.
Tanpa menutup pintu kamar mandi, Helena membuka pakaiannya dan melepaskan satu persatu pakaian yang melekat di tubuhnya hingga akhirnya berada dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang pun.
Helena menuju shower dan berdiri di bawahnya. Setelah membuka keran air, ia membiarkan air dingin mengalir dan membasahi tubuh polosnya.
Tak begitu lama kemudian, Helena selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit sebatas paha.
Dengan cepat, Helena masuk ke dalam walk-in closet untuk berpakaian dan mengeringkan rambutnya. Setelah selesai dengan semua kegiatannya, ia keluar dari walk-in closet dan menuju ranjang.
Tiba-tiba ponsel Helena berdering. Ia menyambar tasnya dan mengambil ponsel di dalamnya. Dengan layar yang menyala, ekspresi wajah Helena tampak sumringah saat melihat nama kontak sang kekasih, "Fernan".
“Halo, sayang,” jawab Helena setelah panggilan terhubung, lalu menempelkan ponsel di telinga kanannya.
“Halo, honey. Bagaimana keadaanmu?” tanya Fernan di ujung telepon. “Masih sakit?”
Dengan senyum di wajah cantiknya, Helena menjawab, “Sudah jauh lebih baik. Sekarang aku di apartemen.”
"Tumben di apartemen. Sedang apa di sana?" tanya Fernan.
Sejenak, Helena mendesah pelan sebelum menjawab, "Tidak, aku hanya ingin ke sini saja. Tadi habis bertemu dengan Freya dan Leanor."
"Oh begitu rupanya. Baiklah, aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja, honey. Aku sangat cemas. Aku tidak bisa fokus bekerja karena terus memikirkan keadaanmu," ujar Fernan dengan suara yang penuh kelembutan.
Tersenyum, Helena pun membalas, “Kamu selalu terlalu perhatian, Fernan. Meskipun aku hanya demam biasa, tapi … terima kasih atas kepedulianmu.”
“Kau bicara apa, honey? Wajar jika aku merasa cemas terhadap kekasihku, calon istriku. Aku yakin semua pria merasakan hal yang sama seperti aku karena aku sungguh mencintaimu,” ujar Fernan terdengar penuh ketulusan.
Helena semakin melebarkan senyum, "Sepertinya kondisiku semakin membaik setelah mendengar rayuanmu," ia terkekeh pelan sebelum melanjutkan, "Aku harap rayuan ini hanya untukku saja, bukan untuk wanita lain di luar sana." Helena bergurau dengan penuh keceriaan.
Hening ... Fernan tidak langsung menanggapi, membuat Helena terdiam sesaat. Kemudian, Fernan berkata, “Percayalah, aku hanya mencintaimu seorang, Helena. Perjuangan besar bagiku ketika meminta restu orang tuamu.”
Helena mengangguk pelan, “Aku tahu. Aku hanya bergurau, Fernan. Kau tidak perlu menanggapinya dengan serius. Aku tahu bahwa kau sungguh-sungguh.”
“Hm, jangan pernah ragu padaku. Aku tak pernah menganggap hubungan ini sebagai main-main. Aku ingin serius dan ingin segera meresmikan hubungan kita,” suara Fernan terdengar sangat serius di ujung telepon.
“Baiklah, aku percaya padamu. Dan … aku pun tidak sabar, sama seperti kamu,” balas Helena. Namun, kali ini, entah mengapa Helena agak ragu saat mengatakannya. Namun cepat-cepat ia menepis pikiran negatif yang menurutnya tidak jelas.
"Oh, iya, bagaimana pekerjaanmu di sana? Apakah semuanya lancar?" tanya Helena.
"Semuanya lancar, honey. Mungkin beberapa hari lagi aku baru bisa kembali. Aku harap kamu tidak keberatan," ujar Fernan.
“Tentu saja aku tidak keberatan. Kamu sibuk mengurus pekerjaanmu dan aku tahu rasanya. Aku mendukungmu sepenuhnya. Fokuslah pada pekerjaanmu dan ... jangan terlalu khawatir tentang aku. Aku baik-baik saja di sini,” ucap Helena dengan penuh pengertian.
“Terima kasih, sayang. Kamu memang sangat pengertian. Aku merasa sangat beruntung memilikimu,” ujar Fernan.
Helena tersenyum sebelum akhirnya menyudahi panggilan telepon dengan kekasihnya. Sejenak, dia menatap layar ponsel yang masih menyala sebelum akhirnya mematikannya dan meletakkannya di atas nakas.
Helena membaringkan tubuhnya di kasur sebelum menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Ia mencoba mengistirahatkan tubuhnya sebentar, dan… Mood-nya agak membaik setelah berbicara dengan kekasihnya tadi.
Sementara di tempat lain, di sebuah hotel tempat Fernan menginap selama berada di luar kota, Fernan melemparkan ponselnya agak jauh dari posisinya.
Ia duduk di pinggir ranjang dengan kedua kakinya terbuka lebar. Di depannya, seorang wanita bersimpuh dan mendongak padanya. Sebelah tangan sang wanita tengah menggenggam miliknya dan mengurut lembut.
Sesekali Fernan mendesis menahan kenikmatan sambil menatap penuh gairah pada sang wanita. "Lain kali, ketika aku sedang berbicara dengan Helena, jangan lakukan apapun," ujar Fernan pada sang wanita dengan suara serak.
“Kamu terlalu lama berbicara dengannya, sayang. Aku sampai muak mendengarnya,” ucap sang wanita sebelum menjulurkan lidahnya dan menjilat ujung keperkasaan Fernan dengan gerakan memutar.
Fernan mencengkeram sprei dengan kuat sambil memejamkan mata. Dada bidangnya terlihat naik turun dengan cepat akibat deru nafas yang memburu. Gerakan lidah sang wanita saat menggoda keperkasaannya membuat tak tahan ingin menghujam.
"Arrgh…" Fernan mengerang ketika sang wanita memasukkan batang keperkasaannya ke dalam mulut hangatnya. Mengulum, menghisap serta memaju mundurkan kepala, membuat batang yang semakin tegang tampak keluar masuk dari dalam mulutnya.
Fernan menyatukan rambut panjang sang wanita, lalu membantu memajukan dan mundurkan kepalanya seiring dengan gerakan intens yang tengah dilakukannya.
Fernan semakin mengerang nikmat saat sang wanita mengulum dengan cepat dan menghisap ujung keperkasaannya dengan kuat. Tak lama kemudian, Fernan mengerang dalam kenikmatan yang memuncak.
"Aahh, Helena..." ia mendesis, mendesahkan nama sang kekasih. Fernan berimajinasi bahwa wanita yang kini memberinya kenikmatan adalah Helena, gadis yang katanya sangat ia cintai.
Sang wanita hampir tersedak oleh cairan putih kental yang dimuntahkan oleh rudal bengkak Fernan ke dalam mulutnya. Dia mengusap dagunya dan menjilat sensual di sekitar bibirnya sambil berdiri di hadapan Fernan.
“Jujur saja, aku ingin sekali mendengarkanmu mendesahkan namaku, Fer, bukan nama Helena,” ujar sang wanita sambil naik ke atas pangkuan Fernan. Dengan posisinya yang mengangkangi sang pria, dia mengarahkan salah satu buah dadanya ke mulutnya.
Sebelum memberikan jawaban, Fernan mengulum puting sang wanita dan menghisapnya sambil meremas kuat payudara yang lainnya.
“Aahhhh…” sang wanita mendesah panjang merasakan kenikmatan dari sapuan lidah Fernan serta hisapan pada putingnya, sekaligus merasakan rasa nyeri ketika pria itu meremas payudara yang lainnya dengan kuat.
“Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu,” tegas Fernan setelah menyudahi hisapannya, lalu berdiri sambil meraih pinggang ramping sang wanita. “Karena yang ada dalam pikiranku saat menyetubuhimu hanyalah Helena.” Lanjut Fernan sebelum menghempaskan tubuh telanjang sang wanita ke kasur. Wanita tersebut memekik tertahan dan Fernan dengan cepat mengungkung tubuhnya. “Hanya Helena, karena aku sangat mencintainya,” desis Fernan dengan tegas.
Fernan menyangga salah satu kaki jenjang sang wanita dengan sebelah tangan. Mengangkat agak tinggi, lalu…
“Aakhhhh…” sang wanita memekik kesakitan saat Fernan memasuki liang kenikmatannya tanpa ampun.
“Buka kedua kakimu lebar-lebar dan nikmatilah setiap sentuhan dari ku. Tidak perlu banyak menuntut!” Tegas Fernan sambil mendorong keperkasaannya dan menghentak kuat pinggulnya.
“Aahhh, Fernan” desah sang wanita. Jari-jari lentiknya mencengkeram sprei dengan kuat sambil membusungkan dadanya. Wajahnya menengadah ke langit-langit kamar sambil menutup kedua matanya dengan erat.
Sementara itu, Fernan mendekatkan wajahnya. Ia menjulurkan lidahnya, menyapu kulit leher jenjang sang wanita, mencium dan menghisapnya dengan penuh gairah. Sementara itu, pinggulnya terus bergerak maju mundur dengan ritme yang semakin lama semakin ditingkatkan.
Tubuh polos sang wanita tersentak-sentak seiring dengan hentakan pinggul Fernan. Sebelah tangan Fernan terulur meraih buah dada sang wanita dan meremasnya dengan penuh gairah.
“Ahhh, honey! Oh, Helena… kau begitu nikmat,” racau Fernan dengan gerakan pinggul yang semakin tak terkontrol.
Fernan, pria berusia 28 tahun, adalah kekasih dari Helena. Fernan dan Helena telah menjalin hubungan selama dua tahun dan hubungan mereka telah mendapat restu dari kedua keluarga besar, baik dari keluarga Helena maupun keluarga Fernan.
Dan tidak lama kemudian, kedua pihak keluarga telah sepakat untuk meresmikan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius dengan pernikahan.
Sementara itu, apa yang Fernan lakukan saat ini bersama wanita lain tidak diketahui oleh siapapun, termasuk Helena dan keluarganya.
Selama ini, Helena menganggap Fernan sebagai pria yang baik dan setia. Namun, kenyataannya, pria itu tidak lebih baik dari pria brengsek di luar sana.
Selama hampir setahun, Fernan terus melakukan seks dengan wanita lain di belakang Helena. Alasannya sungguh tidak masuk akal, Fernan berdalih bahwa Helena tidak mau berhubungan intim dengannya selama ini.
Wanita itu tetap pada keputusannya untuk menunggu sampai setelah pernikahan sebelum melakukan hubungan seksual. Fernan sungguh muak dengan pemikiran kolot Helena. Baginya, seks adalah bagian dari kesenangan hidup dan ia tidak melihat ada yang salah jika mereka melakukan hubungan seks sebelum menikah. Bagi Fernan, keperawanan juga bukanlah hal yang begitu penting.
***
Beberapa saat kemudian…
Kring! Kring! Kring!
Bunyi alarm di meja samping ranjang terdengar nyaring. Meskipun masih dengan kedua mata tertutup rapat, Helena mengulurkan tangan dan mematikan alarm tersebut.
Perlahan ia membuka mata, kemudian meraih ponsel dan melihat angka jam di sana. Rupanya sudah malam, tepatnya jam 9. Helena pun mendesah pelan.
Mendudukkan tubuhnya di kasur, Helena mundur ke belakang dan menyandarkan punggung pada headboard. Ia menatap serius layar ponselnya dan melihat empat panggilan tak terjawab dari sang Ibu.
“Mom…” gumamnya. Keningnya berkerut sambil mengusap-ngusap layar canggih tersebut dengan ibu jarinya, ekspresi wajahnya penuh kekhawatiran.
Kemudian Helena menempelkan ponsel di telinga kanan setelah menekan tombol panggil pada kontak sang Ibu. Menunggu sesaat, dan tak berselang lama suara wanita paruh baya itu menggema di pendengarannya.
“Apa perlu Mommy mengirimkan seluruh bodyguard yang ada di Mansion ini untuk mencari keberadaanmu, Helena Livy Roberto?” Suara tegas dan garang sang Ibu terdengar di ujung telepon.
Helena menghela nafas sambil memijat pangkal hidung mancungnya. Kepalanya tiba-tiba pusing setelah mendengar suara galak sang Ibu, "Aku masih di apartemen, Mom. Aku tertidur," jelaskannya.
“Baik. Kalau begitu, Mom akan meledakkan gedung itu sekarang. Hem, lima menit dari sekarang!” Ancam Careen di sana.
“Aku akan pulang. Tolong siapkan makanan untukku karena aku sangat lapar,” ujar Helena dengan nada tegas, tanpa ingin berdebat.
“Mommy tunggu! Jangan lebih dari waktu 20 menit. Lebih dari itu, Mommy akan membakar mobilmu, kamu dengar?” ancam Careen dengan nada serius.
“Iya, aku mendengar,” jawab Helena sebelum menjauhkan ponsel dari telinganya dan menyudahi panggilan tersebut.
Sejenak Helena menghela nafas. Bukan bahwa ia kesal terhadap Ibunya, namun Helena berpikir bahwa sikap wanita paruh baya itu terlalu berlebihan. Hanya karena ia sempat demam, sang Mommy bersikap demikian. Sungguh, Helena merasa bingung dengan perlakuan yang ditunjukkan.
Helena menyimpan ponsel di atas meja samping ranjang sebelum menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Menapak pada lantai yang dingin, Helena berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Helena masuk ke dalam kamar mandi untuk sekadar menggosok gigi dan membasuh wajahnya. Tak lama berselang, Helena selesai dan keluar dari kamar mandi. Ia bergegas menuju walk-in closet.
Setelah mengganti pakaian, Helena meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ranjang. Sebelum meninggalkan kamarnya, Helena sempat merapikan tempat tidur dengan cermat.
Kini, Helena telah keluar dari unit apartemennya. Setelah menutup pintu utama dengan hati-hati, Helena berjalan menuju lift melalui lorong yang sepi.
Beberapa menit kemudian, Helena berhenti di depan pintu lift. Dengan mantap, ia menekan tombol yang tersedia di sana dan tak lama berselang, pintu lift terbuka lebar untuknya.
Helena tidak langsung masuk ke dalam lift. Dengan kening berkerut, ia menatap sosok pria di dalam lift tersebut dengan penuh curiga. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya, menatap pria tersebut dengan penuh selidik.
“Tentu saja, untuk menghukummu karena kau telah berani menamparku!” desis sang pria dengan nada tajam.
Deg!
***
Heros menatap Helena dengan tatapan penuh intimidasi. Dengan langkah mantap, ia mendekati gadis itu, cepat tangannya meraih pergelangan tangan Helena, mendorong tubuhnya dengan kuat hingga sang gadis terhimpit tegak pada dinding.
Helena tersentak kaget. "Heros, lepaskan aku! Apa yang akan kamu lakukan, brengsek!" teriak Helena sambil meronta-ronta, berjuang untuk melepaskan diri dari genggaman sang detective tampan.
Dengan lembut, Heros meniup permukaan wajah Helena, membuat sang gadis terdiam, terpaku memandangi wajah tampannya, sementara dadanya berdebar kencang.
Heros merapatkan tubuhnya, sambil mencekal kedua tangan sang gadis di atas kepala. "Kau telah melakukan kesalahan besar dengan menamparku, Nona Roberto!" desis Heros dengan tajam.
"Aku menamparmu karena kamu bersikap kurang ajar!" balas Helena dengan penuh keberanian, menatap Heros dengan tajam, tak kalah dari tatapan sang pria.
Terkekeh pelan, sebelah tangan Heros menuju bibir kenyal Helena. Dengan gerakan sensual, ia mengusap permukaan benda kenyal tersebut dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
Sejenak, Heros membayangkan sensasi saat ia mengulum dan menghisap. "Apakah nona cantik dan seksi ini tidak paham makna sebuah kecelakaan? Sehingga kau berpikir bahwa aku bersikap kurang ajar padamu?" ujarnya dengan nada tajam.
"Kamu menciumku! Kamu pikir aku sudi dicium oleh pria brengsek seperti kamu?!" desis Helena, membuat Heros terkekeh pelan sekali lagi.
"Memangnya kenapa kau sampai tidak sudi dicium olehku? Bukankah aku cukup tampan dan... menarik? Bahkan wanita-wanita di luar sana mengantri untuk dicium olehku," kata Heros sambil tangan berpindah dari bibir Helena menuju pipi mulusnya. Dengan lembut, ia membelai pipi itu, merasakan betapa mulusnya kulit wajah sang gadis.
Helena terengah, berusaha menggerakkan kakinya tetapi Heros mengunci pergerakannya. "Aku tidak peduli seberapa banyak wanita yang menanti ciumanmu! Sekarang lepaskan aku dan... menyingkirlah!" desis Helena dengan tegas.
"Kau pikir kau akan semudah itu lolos dariku setelah kau menamparku di tempat umum dan membuatku malu?" Heros menatap remeh, sambil menguatkan cengkeramannya di tengan Helena.
"Selain menamparmu, apalagi yang kamu harapkan? Berterima kasih karena kamu telah menciumku? Atau... membalas ciumanmu?" Helena melontarkan pertanyaan tajam, menatap Heros dengan penuh tantangan.
Heros mengangguk pelan. "Yang terakhir lebih menarik. Membalas ciumanku. Aku tidak yakin kau akan menolak," ucapnya dengan nada percaya diri, sementara matanya menyiratkan tantangan yang dalam pada sang gadis.
"Cih!" Helena mendecih, menatap Heros dengan jijik. "Bermimpilah!" ucapnya tegas, menunjukkan ketegasan dan keengganannya.
"Sungguh kau yakin? Yakin tidak akan terlena?" Heros semakin mendekatkan wajahnya dengan Helena, menciptakan ketegangan yang terasa di antara mereka.
“Heros…” suara Helena terdengar terputus-putus karena rasa gugup yang melanda. Helena memiringkan wajah ke samping kiri, sehingga bibir Heros menempel di pipinya, menciptakan momen yang penuh dengan ketegangan dan keintiman.
Heros terkekeh pelan sebelum meraih dagu runcing Helena, membawa wajah cantik itu menghadap ke arah wajahnya. Dengan tatapan tajam, Heros mendekat perlahan dan menyatukan bibirnya dengan bibir Helena dalam sebuah ciuman yang memikat.
“Hhmmppttt…”
Helena memejamkan mata pasrah, membiarkan Heros mengulum bibirnya. Tak lama berselang, Heros menyeringai di tengah jalinan bibir mereka saat Helena membalas ciuman dengan penuh gairah.
Dengan penuh gairah, sang gadis menggerakkan bibirnya dan membalas dengan menghisap bibir Heros. Perlahan, Heros melonggarkan cekalan tangan di pergelangan Helena hingga akhirnya melepaskannya, membiarkan kebebasan kembali dirasakan oleh sang gadis.
Saat ini, Helena mengalungkan kedua tangannya di leher kekar Heros, membiarkan jari-jari lentiknya menyusup ke sela-sela rambut sang pria. Dengan penuh gairah, Helena meremas manja, dan tak berapa lama kemudian, ia menggenggam rambut Heros dengan kuat, lalu menariknya.
Ciuman bibir terlepas. Dengan gesit, Helena menggerakkan kepala dan menghantam wajah Heros dengan keningnya.
Bug!
Sang pria tersentak, tubuhnya terhuyung akibat serangan tiba-tiba dari Helena. Dengan gerakan yang gesit, Helena mengepalkan tangan kanannya, siap melayangkan tinju mematikan ke arah wajah Heros.
Dengan kegesitan yang luar biasa, sang pria menghindar dari serangan Helena. Namun, sebelum ia bisa bereaksi lebih lanjut, Helena yang pemberani dengan lincah beralih menyerang bagian tubuh yang lain.
Bug!
"Argh … fucking shit!" Erang Heros sambil berjongkok, meraih sang junior yang terasa ngilu akibat serangan kejam dari Helena.
Helena mendekat perlahan, kemudian dengan lincah menekuk tangannya sebelum menjatuhkan pukulan kuat tepat di atas punggung Heros, membuat sang pria menggumam kesakitan.
Bug!
Nyaris jatuh ke lantai, Heros dengan susah payah mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Dengan tatapan tajam, ia menatap Helena. Heros mendelikkan kedua matanya ketika gadis itu mengacungkan moncong pistol yang diambilnya dari dalam mini tasnya ke arah Heros.
Sleeeppp!
"Oh, damn!" Heros melompat menjauh ketika proyektil melesat dari senjata api di tangan Helena. Senjata tersebut beroperasi tanpa suara yang mencolok karena kedap suara.
Tanpa ragu, Helena maju mendekati Heros. Gadis itu tetap gigih meskipun tembakan pertamanya meleset dari sasaran. Dengan mantap, ia kembali melepaskan peluru ke arah Heros.
Sleeeppp!
Untunglah sang detektif tampan berhasil menghindari serangan peluru untuk yang kedua kalinya dengan gesit.
Sadar akan ancaman yang mengintai, Heros dengan gesit mendekat pada Helena. Dengan cepat, ia meraih tangan sang gadis dan berhasil merampas pistol dari genggamannya.
“Hentikan atau ku tembak kepalamu!” desak Heros sambil menekan ujung senjata ke kening Helena.
Sang gadis cantik malah terkekeh pelan. “Aku bersedia bercinta denganmu jika kau mampu melukaiku,” tantang Helena dengan nada menantang.
Heros mengangkat sebelah alisnya, menatap Helena dengan nada meremehkan. "Benarkah?"
“Bahkan aku belum pernah se-serius ini dalam hidupku,” pungkas Helena. “Selama ini, kau hanya bercinta dengan jalang, bukan? Kau seharusnya tahu betapa nikmatnya bercinta dengan seorang gadis perawan. I’m a virgin!”
Glek!
Tiba-tiba, Heros menelan ludah dengan kasar, sementara tangannya tetap memegang erat pistol di kening Helena.
"Apakah kau tertarik?" Angguk Helena dengan tajam.
“Aku…” kalimat Heros terputus saat Helena dengan cepat menangkap pergelangan tangannya.
Mengambil kesempatan saat Heros sedikit lengah, gadis itu dengan cepat merebut kembali pistolnya dari tangan Heros. Dengan gesit, ia mengangkat sebelah kakinya lalu menyerang dengan lututnya di antara kedua paha Heros.
Bug!
“Argh!” Heros mengerang kesakitan sambil menekuk tubuhnya.
Bug!
Setelah Helena menambah pukulan di punggungnya, Heros roboh. Ia tersungkur di lantai, merintih tak berdaya.
Helena mendekat dan jongkok di hadapan Heros sebelum berkata, "Jangan sekali-kali berpikir kau bisa memperdayaku seperti yang biasa kau lakukan pada wanita di luar sana! Aku bukan mereka, dan... aku tak akan ragu untuk membunuhmu, tidak peduli siapapun kau!" Detective TDB?” Helena berdecak remeh sambil menyapu ujung pistolnya di garis wajah Heros dengan penuh keangkuhan. "Di mataku, kau tak lebih dari seorang peternak hewan!" Hinanya sebelum berdiri dan melenggang masuk ke dalam lift.
Mendengar hinaan dari sang Princess Roberto, Heros sontak tertawa sambil berbaring di lantai marmer. Tanpa ragu, ia kemudian bangkit dan berdiri tegap.
"Virgin?" gumamnya, lalu terkekeh.
“Peternak hewan?” Kali ini, Heros tertawa. “Baiklah, baby Helen, sebentar lagi aku akan menunjukkan padamu betapa dahsyatnya hujaman seorang pria yang kau sebut seperti seorang peternak!” Desisnya sambil berlalu menuju sebuah pintu unit apartemen di sana.
Heros membuka pintu akses dan masuk ke dalam. Ternyata, ia memiliki unit apartemen di gedung yang sama dengan Helena. Bahkan, posisi unit mereka bersebelahan, dan kali ini murni karena suatu kebetulan.
Heros menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang luas dengan ukuran king-size. Terbaring dengan posisi terlentang, ia membawa salah satu tangan ke arah antara kedua pahanya.
Menyentuh dengan lembut bagian yang masih agak terasa nyeri, Heros meringis ketika teringat akan rasa sakit yang ia rasakan ketika diserang oleh Helena sebelumnya.
“Dia lebih berbahaya daripada Ibunya,” gumam Heros sambil terkekeh pelan. “Padahal, sekilas dilihat, dia terlihat seperti gadis lugu.” Heros mendesah kasar. “Aku pikir Clarissa adalah satu-satunya wanita yang dingin dan galak, ternyata ada yang lebih berbahaya. Anak macan! Macan perawan!”
Heros tertawa seperti orang gila. Kemudian, ia bangkit dari pembaringan dan berdiri tegak di samping ranjang. Dengan langkah panjang, Heros menuju kamar mandi, masuk, dan melepaskan satu per satu pakaian yang melekat di tubuh atletisnya.
Heros bergerak menuju shower dan berdiri di bawah pancuran sebelum menyalakan kran. Air dingin segera mengalir dan membasahi tubuh telanjangnya.
•
Dengan kasar, Helena menutup pintu mobil. Dengan cepat ia memasang seatbelt di tubuhnya dan menyalakan mesin mobil. Tak lama kemudian, kendaraan itu mulai melaju meninggalkan gedung tersebut menuju Mansion, tempat tinggalnya.
Beberapa menit berlalu, Helena melirik pada arloji di pergelangan tangan kirinya. Ia mendesah kesal saat menyadari bahwa waktu yang diberikan oleh sang Ibu hanya tersisa lima menit lagi.
“Aku pasti tidak akan sampai tepat waktu. Aku akan terlambat,” gumam Helena sambil fokus memperhatikan jalan.
Helena mengambil sebuah alat komunikasi dan memasangkannya di telinga kanannya. Dengan cekatan, ia mengambil ponsel dari dalam mini bag-nya dan menelepon seseorang.
“Halo, sayang...” suara bariton seorang pria di ujung telepon bergema di telinga Helena.
“Dad…” Helena bergumam sambil fokus pada jalan.
“Ibumu menunggu di teras dengan alat peledaknya. Kau di mana, sayang?” tanya pria itu, yang ternyata adalah Ayah Helena, Riccard Roberto.
Helena meringis mendengar ucapan sang Ayah, "Aku masih di perjalanan. Lumayan jauh, Dad. Aku pasti akan terlambat dari waktu yang diberikan oleh Mom."
"Kamu tidak biasanya begini. Ada apa, sayang?" tanya Riccad.
Helena mendesah kasar sebelum menjawab pertanyaan sang ayah, "Tadi ada orang gila yang merecoki, Dad. Dan sekarang aku butuh bantuanmu."
Setelah itu, Helena mengungkapkan keinginannya pada sang Ayah dan pria tersebut dengan senang hati setuju untuk membantu putrinya. Tak lama kemudian, Helena tiba di Mansion. Namun, kendaraannya berhenti tepat di depan pintu gerbang.
"Permisi, Nona Helen," seru seorang bodyguard menghampiri Helena.
Helena turun dari mobil dan dengan tegas menyuruh bodyguard, "Bawa mobilku pergi. Cepat!"
Setelah mobilnya diambil alih dan diamankan oleh pria tersebut, Helena melangkah ke dalam area mansion yang luas. Dari kejauhan, ia melihat sang ibu berdiri di teras depan, menatapnya dengan tatapan tajam.
Saat Helena menghentikan langkahnya di hadapan wanita paruh baya itu, waktu terasa berhenti sejenak.
"Dari apartemen, berjalan kaki?" tanya Careen pada putrinya, dengan nada sindiran yang sarcastic.
"Tidak. Aku titipkan mobilku pada bodyguard karena aku tahu Mom akan membakarnya," jawab Helena dengan santai. Wajahnya sama persis dengan sang ibu, tanpa ekspresi.
Careen diam dan tetap menatap tajam Helena. Sementara itu, Helena menghela nafas sebelum berkata, "Tadi ada kecelakaan di jalan yang membuat lalu lintas sangat padat. Itu sebabnya aku terlambat."
"Kamu membuat semua orang cemas, Helen. Kamu belum pulih," ujar Careen.
"Aku sudah merasa baik-baik saja, Mom. Hanya demam, dan sekarang tubuhku sudah lebih baik. Oh, ayo lah, jangan terlalu khawatir seperti ini. Aku bukan gadis yang lemah, Mom," ujar Helena dengan tegas.
"Helena!" tegur Careen dengan tatapan tajam pada sang putri, membuat gadis itu seketika menutup rapat kedua bibirnya.
"Apa kamu tidak memahami seberapa khawatirnya orang tuamu?"
"Aku mengerti," jawab Helena sambil melanjutkan, "aku hanya bosan, Mom. Aku menghabiskan waktu sendirian di apartemen, tidur di sana. Tadi aku hanya sebentar bertemu dengan Freya dan Leanor," terangnya panjang lebar.
Tiba-tiba, suara bariton seorang pria terdengar di belakang Careen. "Ada apa ini? Suara kalian terdengar sampai ke dalam," ujar Riccard sambil berhenti dan berdiri di antara sang istri dan sang putri. Ia menatap keduanya bergantian. "Hem? Apa kalian sedang bertengkar?"
"Tidak, Dad. Aku hanya menjawab pertanyaan Mom dan menjelaskan mengapa aku terlambat pulang," jawab Helena sambil melirik sebentar pada Ibunya sebelum melanjutkan, "Aku masuk dulu, aku lapar. Permisi." Kemudian dia melangkah pergi, meninggalkan kedua orang tuanya di situ.
Careen memiringkan tubuhnya dan menatap datar ke arah punggung sempit sang putri. Sementara itu, Riccard menghela nafas panjang.
"Jangan terlalu keras padanya, Careen," tegur Riccard.
Careen menarik pandangannya dari dalam Mansion dan beralih menatap sang suami. "Aku mengajarkan tentang kedisiplinan!" ucapnya dengan nada sarkas.
"Kedisiplinan yang kau terapkan bisa saja membahayakan dia. Bagaimana jika di jalan, dia lupa akan keselamatannya hanya karena mengejar 20 menit yang kau berikan, hem?"
Careen terdiam.
Riccard menghela nafas sejenak sebelum melanjutkan, "Dia sudah dewasa dan mampu menjaga dirinya. Jangan terlalu membatasi kebebasannya."
Mendengus, Careen desis, "Kamu selalu saja membelanya!"
"Dia adalah putri yang sangat kusayangi, tentu saja aku akan membelanya," sahut Riccard sebelum mendekat pada Careen dan hendak mencium bibir wanita itu.
Careen dengan cepat menghindar, secara tidak langsung menolak kecupan mesra dari sang suami.
"Careen..." panggil Riccard saat sang istri malah masuk ke dalam dan meninggalkannya sendirian di sana. "Careen Veronica Roberto!"
"Aku tidak ingin kau menciumku, Roberto!" seru Careen dengan suara tinggi sambil melangkah semakin jauh.
Sementara itu, Riccard terkekeh pelan sebelum akhirnya melangkah masuk dan menyusul sang istri.
***