Dipertemukan dengan seorang wanita dingin dan sangat datar adalah hal yang paling berat yang pernah dialami pria yang sering gonta-ganti pasangan. Siapa yang tidak mengenalnya? Dia adalah playboy kelas kakap yang terkenal di seluruh bar yang ada di Jakarta.
Daniel Louis Denandra sangat kewalahan menghadapi sosok wanita yang seperti menjadi balok es, dia begitu dingin dan datar. Helaan napas terdengar berulang-ulang, susahnya berbicara dengan wanita itu.
"Hey, kau mendengarkanku?"
Dia hanya menoleh dan mengangkat sebelah alisnya, aishh ... bisakah dia menghargai sedikit? "Sulit sekali berbicara denganmu, Nona."
"Aku tidak memaksa Anda untuk berbicara denganku, Tuan."
Balasannya sedikit melukai harga dirinya, Daniel yang tidak pernah ditolak oleh wanita manapun merasa terluka. Wanita itu lebih memilih memandangi layar ponselnya daripada melihat dirinya yang tampan luar biasa.
"Bisakah kita serius membicarakan tentang perjodohan konyol yang dibuat oleh keluarga kita?"
Daniel mencoba untuk berbicara lagi, ia tidak ingin terjebak hidup bersama wanita dingin itu. Tangan wanita itu terulur mengambil minum dan meminumnya dengan tenang.
"Ada apa?"
"Kau tidak berusaha menolak perjodohan ini? Bukankah semua ini akan mengikatmu? Aku tidak ingin dijodohkan," kata Daniel dengan santai, ia sangat jujur dan ingin membatalkan perjodohan yang tidak berdasar ini.
"Jadi?"
Daniel menahan napasnya, jika saja orang di hadapannya bukan seorang wanita mungkin ia bisa mengajaknya bertarung di lapangan luas. "Aku ingin membatalkannya."
Ia sedikit tersinggung dengan senyum kaku wanita itu yang terkesan meremehkan, benar-benar tidak menghargai sama sekali.
"Silakan saja," katanya dengan santai.
Daniel membulatkan matanya tidak percaya, hey apa ini? Kenapa dirinya dipertemukan dengan manusia es seperti dia? "Bisakah kau tidak bersikap santai, hidupmu akan dipertaruhkan jika sampai kau menikah denganku."
"Hidupku selalu dipertaruhkan, hanya untuk hidup denganmu? Itu bukan masalah besar," katanya.
"Jadi, kau menerima perjodohan ini?" tanya Daniel menatap wajah wanita itu dengan serius. "Aluna Mei Silvana, itu namamu bukan?"
Wanita itu mengangguk mendengar pertanyaannya, sulit sekali menebak sifat wanita itu. Jujur saja, Daniel tidak pernah menemui wanita sedingin ini dengannya.
"Aku belum mau berkomitmen," lanjut Daniel.
"Aku tidak memaksamu untuk berkomitmen," balasnya.
Daniel geram, "harusnya kau menghargai perasaanku, Nona. Bagaimana jika kekasihku terluka mendengar aku akan menikah?"
"Itu urusanmu, kalau bisa silakan batalkan saja. Aku tidak ingin direpotkan untuk membatalkan perjodohan yang sudah terjadi," katanya. "Lebih tepatnya, aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia."
Hey, apa maksudnya?
***
Hidup tertekan?
Dirinya sudah terbiasa untuk itu, hidup bagai boneka yang harus menurut untuk melakukan sesuatu. Tanpa teman, keluarga yang begitu membelenggu seolah sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Ini adalah akhir dari kehidupan yang begitu menyedihkan, kedua orang tuanya menyuruhnya untuk menikah dengan pria yang tidak ia kenal dan setelah itu mereka akan membebaskannya.
Perjodohan konyol, ia harus menuruti permintaan mereka. Jika tidak, mereka akan menghentikan pengobatan nenek yang sangat ia sayangi. Sekali lagi, ia berkorban demi keluarga.
Aluna Mei Silvana.
Di usianya yang ke 23 tahun ia akan menikah dengan pria yang usianya sudah menginjak kepala tiga, tetapi cara berpikirnya tidak seperti orang dewasa pada umumnya.
Dia seperti bocah yang terjebak di tubuh orang dewasa, itulah yang ia nilai. Dia sangat menyukai kebebasan, ia tahu hal itu. Ia tahu betapa bebasnya dia di luar sana, namun ia tidak peduli.
Pria itu tidak ingin dijodohkan, tetapi dirinya ingin perjodohan ini berlangsung. Karena dengan hal itu, ia bisa merasakan kebebasan.
Daniel Louis Denandra.
Pria yang menikah dengannya itu begitu menolak dengan keras, sampai-sampai pria itu menemuinya secara langsung dan memintanya untuk membatalkan perjodohan ini.
Mereka dalam dua kubu yang berlawanan, dirinya menikah agar merasakan kebebasan sedangkan Daniel menikah hanya akan membuatnya terkekang.
Aluna bukan orang baik yang akan membantu Daniel untuk membatalkan perjodohan ini, tentu saja ia mementingkan perasaannya sendiri di atas perasaan orang lain.
"Aku belum mau berkomitmen," kata pria itu.
"Aku tidak memaksamu untuk berkomitmen," balas Aluna, sebenarnya ia tidak ingin ambil pusing mengenai hal ini.
"Harusnya kau menghargai perasaanku, Nona. Bagaimana jika kekasihku terluka mendengar aku akan menikah?"
Pria itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, sekali lagi ia sama sekali tidak peduli.
"Itu urusanmu, kalau bisa silakan batalkan saja. Aku tidak ingin direpotkan untuk membatalkan perjodohan yang sudah terjadi," katanya. "Lebih tepatnya, aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia."
Dia sangat terkejut mendengar ucapannya, Aluna tidak peduli. Ia akan mengatakan apa yang ingin ia katakan, membatalkan perjodohan? Itu sama saja membawa pisau ke lehernya sendiri. Ya, ia bisa mati.
"Mengapa kau begitu yakin dengan ucapanmu? Bagaimana jika aku bisa membatalkannya? Atau kau benar-benar ingin menikah denganku dan mengincar hartaku?"
"Harta? Aku sudah memilikinya banyak, aku tidak perlu menikah denganmu hanya untuk itu."
Pria itu terdiam mendengar ucapannya, mungkin dia membenarkan hal itu. Aluna sama sekali tidak memikirkan pria itu akan bagaimana, ia hanya ingin bebas dari belenggu keluarganya.
"Aku akan membatalkan dalam waktu dua minggu."
***
"Arghhh!"
Prang!
Daniel benar-benar frustrasi dengan semua ini, ia terlalu kepikiran dengan ucapan wanita itu. Membatalkan perjodohan adalah hal yang sia-sia, apakah itu benar?
"Lo kenapa sih?"
"Tuh cewek berengsek tahu, enggak? Berani-beraninya remehin gue!" kata Daniel mengusap wajahnya, ia kesal setengah mati setelah bertemu dengan wanita itu. Pertemuan itu sangat sia-sia karena ia tidak bisa membujuknya untuk membantunya membatalkan perjodohan.
"Remehin gimana?"
"Gue sudah bilang sama dia biar dia bantu gue batalkan perjodohan itu," kata Daniel menggebu-gebu, "dan lo tahu jawabannya apa?"
"Dia bilang semua itu adalah hal sia-sia, dia enggak mau bantu gue. Sialan banget kan?"
David tertawa terbahak-bahak mendengar hal itu, membuat Daniel mendengus dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jangan-jangan dia ngebet nikah sama lo lagi, ya sudah sih. Ladenin aja, mana gue lihat fotonya. Cantik enggak?" tanya David, Daniel membuka ponselnya dan membuka galeri serta menunjukkan foto wanita bernama Aluna itu.
"Dih, cantik gitu. Gas ajalah, daripada mubadzir kan? Lagian kayaknya dia cewek baik-baik," kata David membuat Daniel mendengus kesal, "ya ya ya, gue tahu lo masih mau kebebasan."
"Nah itu lo tahu. Dia tuh dingin banget, kayak cewek yang enggak pernah dekat sama cowok. Dingin, cuek, datar banget."
"Ya makanya, dari cerita lo bisa gue simpulkan. Sepertinya dia enggak bisa ngatur lo ini itu, atau lebih tepatnya dia enggak mau peduli sama kegiatan apa yang lo lakuin nanti."
Daniel yang mendengar hal itu pun sedikit tenang, David adalah seorang psikiater dan pastinya dia bisa mengerti karakter seseorang. "Lo mau ketemu sama dia enggak? Biar lo tahu apa yang dia inginkan, ngobrol dikit sama dia."
"Boleh, kapan-kapan."
"Gue jamin, lo bakal kejang-kejang ngobrol sama dia," kata Daniel membuat David tertawa karenanya. "Lihat aja, pegang omongan gue."
"Liam?"
Aluna memasuki ruang kerja seorang psikiater yang sedang menganalisis pasiennya lewat data yang tengah dipegangnya, ia duduk di kursi dan melipat tangannya di atas meja.
Kepalanya ia sandarkan di atas lipatan tangan itu, pria itu bingung menatap wanita yang sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Are you okay?"
"Tadi aku bertemu dengannya, secara pribadi," ceritanya tanpa menatap wajah seseorang yang mengajaknya berbicara. "Dia ingin perjodohan ini dibatalkan, dia memintaku untuk membantunya."
Sudah kesekian kali dirinya berada di sini, menjalani pengobatan tanpa pihak keluarga yang tahu. Ya, dirinya hampir gila karena tekanan yang diberikan keluarganya. Jika ia tidak mampu, mungkin ia sudah kehilangan kewarasannya.
"Dia tipe pria yang seperti apa?"
Aluna menghela napas dan menghembuskannya, ia masih dalam posisinya. "Entah, aku belum bisa menilai. Aku harus apa sekarang? Aku hanya diberi dua pilihan, menerima atau melihat nenek dan adikku menderita."
William Denandra, pria yang sangat baik dan mau berteman dengannya. Dari dirinya berumur 18 tahun hingga sekarang, hanya William yang bisa mengerti dirinya. Ya, 5 tahun lamanya ia mendatangi tempat ini dan menceritakan apa yang menjadi keluh kesahnya. Ia lebih lega setelah mengatakannya.
"Kau sudah membicarakan hal ini dengan orang tuamu?"
Aluna menegakkan tubuhnya dan menggelengkan kepalanya perlahan, "aku tidak ingin melawan lagi, Liam. Aku akan menerima perjodohan ini, setelah itu aku bebas dari aturan mereka."
Liam mengangguk mengerti mendengar ucapan pasien yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri, "ya sudah, jika memang tidak dibatalkan. Aku harap kamu bisa menjaga diri, buat perjanjian hitam di atas putih jika kamu ingin aman."
Aluna yang mendengar hal itu sedikit tertarik, perjanjian? "Dia menjunjung tinggi kebebasan, menurutnya menikah hanya akan mengekangnya. Bagaimana menurutmu?"
"Ya, kau hanya perlu menuliskan poin penting yang tidak ingin kamu lakukan dalam pernikahan. Ya, semacam pernikahan kontrak," kata Liam.
"Aku tahu kau orang yang cerdas yang bisa mencerna kata-kataku dengan baik, ada lagi yang menjadi masalahmu?'"
"Hanya itu, selebihnya masalah sehari-hari seperti biasanya," kata Aluna yang diangguki oleh Liam. Sekiranya itulah obrolan mereka saat bertemu, seputar masalah yang terjadi di kehidupan sehari-harinya.
Aluna selalu rutin datang jika ada masalah yang mengganggunya, sampai-sampai Liam sudah sangat mengenalnya begitu juga sebaliknya.
***
"Bagaimana?"
Daniel yang mendengar pertanyaan itu pun mendengus kecil, ia tidak ingin ditanya-tanya mengenai wanita itu. Ia sangat tidak senang dengan wanita itu, karena selain dia bisa merusak kebebasannya, dia juga pasti akan merusak kepercayaan keluarga padanya.
"Buktikan saja pada Papah kamu, kamu tidak seburuk yang dipikirkan. Lagi pula, hanya menikah tidak masalah bukan?"
"Dia tidak mau membantuku membatalkan perjodohan ini," kata Daniel menghela napas kasar dan menghembuskan dengan kasar pula. "Kesempatanku untuk lolos dari perjodohan ini sangat kecil."
William yang mendengar hal itu pun terdiam, ini seperti cerita Aluna dalam sudut pandang yang lain. Jujur saja, ia belum pernah bertemu dengannya. "Siapa nama calonmu itu?"
Daniel yang mendengar hal itu pun mengangkat sebelah alisnya, untuk apa dia bertanya seperti itu? Ya, William adalah saudara sepupunya. William tinggal di rumahnya karena kedua orang tuanya sudah tidak ada lagi.
"Aluna Mei Silvana, kalau aku tidak salah itu namanya," kata Daniel seraya mendudukkan dirinya di sofa yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Kau mengenalnya?"
William tampak bingung dan diam saja, kemudian ia menggelengkan kepalanya. Daniel yang melihat hal itu pun sedikit mengerutkan keningnya bingung, sepertinya pria itu mengenalnya?
"Kau bisa menggantikan aku menikah dengan dia? Aku akan memberi apa pun yang kamu mau jika kau mau menjadi pengganti diriku," kata Daniel menawarkan penawaran yang sebenarnya tidak ingin Liam lewatkan.
"Jika bisa, aku siap menggantikanmu," katanya dengan mantap, Daniel yang mendengar hal itu pun terkejut. Tidak seperti biasanya, "jika kau bisa membujuk Papah, mungkin keinginanmu akan terwujud."
Liam melenggang meninggalkan Daniel yang terpaku di tempatnya, apa dirinya tidak salah dengar? William mau menggantikannya jika bisa? Ya Tuhan, ini kesempatannya yang harus ia gunakan sebaik-baiknya.
Daniel masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, ini sudah jam satu pagi dan besok ia harus bekerja. Namun pikirannya masih terngiang-ngiang atas ucapannya tadi, membiarkan Liam menikahi wanita aneh itu?
***
William termenung di kamarnya, menatap langit lewat jendela kamar yang ia biarkan terbuka dan merasakan dinginnya angin malam menerpa kulitnya.
Jika bisa, ia siap menggantikan Daniel. Setelah mengetahui siapa yang dijodohkan dengan Daniel, ia jadi ingin menggantikan Daniel.
Aluna Mei Silvana.
Wanita cantik yang menjadi pasiennya sejak umur 18 tahun hingga kini menginjak umur 23 tahun, wanita satu-satunya yang bisa membuatnya merasa iba dan merasakan apa itu kasih sayang. Ya, William menyayanginya seperti adiknya sendiri.
Terlalu dini jika mengatakan perasaannya adalah sebuah rasa cinta, ia hanya menganggap Aluna seperti adiknya. Ia ingin menggantikan bukan karena ia menyukai wanita itu, tetapi ia lebih percaya dengan dirinya sendiri daripada Daniel.
Daniel sering bergonta-ganti pasangan, ia tentu saja tidak mau menambah penyakit mental Aluna semakin parah. Ia ingin menyembuhkan wanita itu dengan bersungguh-sungguh, ia tidak ingin wanita itu bersama Daniel.
Suara pintu terbuka dan tertutup dengan cepat membuat Liam menoleh dan melihat Daniel yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kau selalu serius dengan ucapanmu, ucapan tadi kau yakin mau?"
"Jika bisa, Niel. Aku tidak ingin memaksakan kehendak, aku tidak ingin membuat Papah kamu marah."
"Aku akan membujuk Papah untuk membiarkanmu menikah dengan wanita itu, kau tahu Liam? Dia seperti memiliki gangguan mental, kau mungkin bisa menyembuhkannya."
Liam sedikit tidak suka dengan ucapan Daniel, "kau tidak tahu apa-apa tentang dia, jangan berpendapat sembarangan."
Daniel yang mendengar hal itu pun mengangkat sebelah alisnya, "memangnya kau kenal dia?"
Liam mendengus kecil dan mengalihkan tatapannya, ia tidak ingin Daniel mengetahui tentang Aluna lebih dari yang seharusnya.
"Bukan urusanmu."
"Bagaimana jika kita menjebak wanita itu agar bermalam denganmu, mungkin orangtuaku akan merelakannya menikah denganmu," kata Daniel tanpa sadar, Liam yang mendengar hal itu pun membelalakkan matanya.
"Jangan gila, aku tidak ingin menyakiti perasaannya," kata Liam, tentu saja ia tidak mau membuat Aluna trauma dengan apa yang direncanakan Daniel. "Aku tidak akan mengizinkanmu membuatnya menderita."
"Berusaha tanpa melibatkannya, apa kau bisa? Jika tidak, jalani saja dan menikah dengannya," kata Liam membuat Daniel terdiam di tempatnya, Liam sendiri tidak tahu apa yang membuat Daniel diam.
"Sepertinya kau tahu banyak tentang wanita itu, kau menyukainya?" ujar Daniel membuat Liam mengangkat sebelah alisnya dan tertawa kecil, "kenapa tertawa?"
"Kau tidak perlu menunggu jawabanku, Niel. Istirahat dulu, besok pikirkan cara untuk membujuk orang tuamu."
Cuaca di luar cukup cerah berawan, matahari sesekali bersembunyi di balik awan yang berjalan satu arah. Seorang pria sedang sibuk menandatangani file di ruang kerjanya, file yang memerlukan tanda tangannya itu harus segera diselesaikan hari ini juga.
Dirinya menumpuk file ke sisi kirinya setelah di tanda tangani, ada lebih dari tujuh file yang harus ia acc untuk keperluan perusahaan. Termasuk upah karyawan yang harus dibayarkan tidak lewat dari tanggal 25.
"Pak, perwakilan dari Silvana Corporation sudah sampai di bawah," kata Dita, sekretarisnya memberitahu.
Daniel mengangguk mengerti dan segera menandatangani file terakhir, setelah itu ia menumpuknya menjadi satu dengan dokumen yang sudah terselesaikan.
"Kita akan menyambutnya, Pak?"
Daniel mengangguk, ia harus membangun citra baik dengan Silvana Corporation agar mereka mau bekerja sama dengannya. Tidak butuh waktu lama ia menunggu, perwakilan dari Silvana Corporation sudah keluar dari elevator.
Daniel menegang di tempatnya, dia? Apakah ia tidak salah lihat? Aluna berdiri di hadapannya sebagai perwakilan Silvana Corporation, apakah dia pemilik perusahaan itu?
"Saya Daniel, selaku CEO di perusahaan ini. Senang bertemu dengan Anda," katanya membuat Daniel yang diangguki oleh wanita itu, haruskah ia membangun citra baik di hadapan wanita itu? Citranya sudah jatuh sejak malam itu, wanita itu pasti menilainya dengan buruk.
"Saya Aluna, perwakilan dari Silvana Corporation. Senang juga bertemu dengan Anda," katanya dengan nada cukup ramah, menurut Daniel.
Daniel mempersilakan wanita itu agar segera masuk ke dalam ruangannya, Aluna berjalan dengan sekretaris di belakangnya. Jika tahu pemegang perusahaan Silvana Corporation adalah Aluna, ia lebih baik mengajukan perwakilan saja.
Setelah duduk, Daniel mengambil dokumen kerja sama mereka yang sudah dipersiapkan oleh perusahaannya untuk ditandatangani jika mereka mau bekerja sama. "Jadi, bisa langsung saja?"
Pertanyaan itu ia ajukan seraya mengambil file berisi perjanjian, tentu saja hal itu membuat pihak Silvana Corporation bingung.
"Maaf, maksud Anda bagaimana ya, Pak? Pihak Anda belum presentasi mengenai proyek yang akan dijalankan," kata sekretaris Aluna yang sepertinya tidak terima dengan ucapannya.
"Bisakah aku berbicara berdua dengan atasanmu? Ada yang ingin aku sampaikan secara pribadi," katanya membuat sang sekretaris menatap atasannya, setelah Aluna mengangguk mengiyakan sekretarisnya segera pergi.
Kini tinggal mereka yang sedang berhadapan, tidak tahu bagaimana? Daniel merasa membangun citra baik sedangkan citra buruknya sudah terlihat adalah hal yang sia-sia.
"Apa yang ingin kau sampaikan?"
***
"Seperti yang kau katakan sebelumnya, aku tidak ingin presentasi mengenai proyek ini jika ujungnya kau tidak mau menerima tawaran kerja sama ini."
Aluna yang mendengar hal itu pun mencoba mencerna kata-kata pria itu, kemudian terkekeh geli. "Kau yakin menganggap presentasi untuk proyek adalah hal yang sia-sia?"
"Tidak sia-sia jika bukan kamu yang menangani proyek ini, kau tidak menyukaiku dan pastinya kau akan mempersulit perusahaan kami," katanya dengan santai, Aluna sendiri yang mendengar hal itu pun terkekeh kecil.
"Aku tidak membawa masalah pribadi untuk menangani perusahaan, Pak Daniel. Sekali lagi saya ingatkan, jika Anda menjalankan sesuai prosedur. Kesempatan kami menerima tawaran kerja sama cukup besar, jika tidak- apa yang akan menjadi pertimbangan kami?"
Penjelasan itu membuat Daniel diam di tempatnya sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku tidak ingin presentasi, jika mau kau langsung tanda tangan."
Aluna tertawa, "bagaimana jika saya tidak mau?"
"Silakan pergi dari perusahaan saya," kata Daniel membuat Aluna mengangguk mengerti dan segera berdiri dari duduknya.
"Saya sarankan untuk tidak membawa masalah pribadi dalam pekerjaan, Pak Daniel. Semua itu hanya membuatmu sulit dan terlalu negatif thinking terhadap sesuatu," kata Aluna menasehati Daniel, "saya pamit, senang bisa datang ke perusahaan Anda. Permisi," lanjutnya segera membawa tasnya.
Mengenai tas laptop milik sekretarisnya, biar dia sendiri yang mengambil dan membawanya. Kaki jenjangnya melangkah dengan cepat dan keluar dari perusahaan ini.
"Dara, ambil barang-barangmu dan kita kembali ke kantor sekarang," pinta Aluna yang langsung diangguki oleh sekretarisnya, Dara langsung berlari mengambil barang-barangnya dan menyusul langkah atasannya.
Aluna hanya diam saja di perjalanan, sekretarisnya tampak bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
"Kita tidak jadi kontrak, Bu?"
"Tidak, aku hanya membutuhkan orang yang menghargai perusahaanku," kata Aluna dengan tenang, ia sudah baik-baik mau datang dan sekarang pria itu bersikap demikian. "Jangan terima tawaran apa pun dari perusahaan itu, aku tidak mau tahu. Tidak peduli menguntungkan atau tidak, attitude lebih diperlukan."
"Baik, Bu," kata Dara mengiyakan ucapan atasannya, setelah itu mereka kembali diam. Aluna sendiri tidak menyangka jika Daniel seburuk itu, berpikiran negatif tentang dirinya.
Mobil yang ia tumpangi melesat membelah jalanan menuju perusahaannya, menjadi CEO adalah profesi yang sudah ia geluti setengah tahun yang lalu. Sebelumnya ia menjadi staf biasa sebelum akhirnya memegang divisi keuangan dan berakhir menjadi CEO sekaligus disahkan menjadi pemilik oleh ayahnya.
***
"Kerja sama batal?"
"Ya, gara-gara Aluna," kata Daniel dengan kesal membuat seseorang yang diajak bicara mengangkat alisnya, "jangan tanya apa pun, gue benar-benar benci sama dia."
Daniel mengatakan hal itu dengan menggebu-gebu, ia benar-benar tidak menyukai wanita itu. Entah apa yang ada dalam diri wanita itu, ia rasa pikirannya terlalu sempit.
"Gara-gara dia, gue malas nangani proyek ini. Gue enggak mau presentasi dan sialnya dia hanya langsung pergi gitu aja," kata Daniel bercerita sendiri, David yang mendengarnya pun tertawa terbahak-bahak.
"Lo yang enggak mau presentasi, kenapa jadi lo nyalahin calon lo itu? Bukannya sebenarnya dia juga biasa aja ya pas lihat kalau kliennya itu calon suaminya sendiri?"
David berkata benar, membuat Daniel terdiam dan membenarkan ucapan sahabatnya. "Ya masalahnya gue udah ngira dia enggak akan terima kerja sama itu, coba deh lo jadi gue."
"Ya itu, lo aja yang terlalu negatif thinking. Bukan apa-apa ya, dia sudah profesional mau datang dan memperkenalkan diri. Lo juga sendiri pasti tahu kedatangannya untuk apa," kata David mencoba memposisikan diri sebagai Aluna. "Kalau lo sendiri aja enggak bisa menghargai dia, bagaimana dia bisa menerima tawaran itu?"
Daniel yang mendengar hal itu pun terdiam, "jadi, menurut lo ini salah gue?" tanyanya yang tentu saja diangguki oleh David. Daniel menatap David dan pria itu mengangguk mengiyakan ucapannya membuat Daniel mengumpat dalam hati.
"Terus, apa yang harus gue lakukan sekarang?" tanya Daniel, David yang mendengarnya pun menggelengkan kepalanya perlahan karena memang dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus ia lakukan. "Minta maaf?"
"Mungkin itu diperlukan, tapi jangan berharap dia mau menerima tawaran kerja sama lo lagi. Dia sudah memberi kesempatan, lo sendiri yang buang kesempatan itu."