Bab 1

“Ada masalah apa?” Jovie, manajer operasional Luxio Hotel yang sudah bersiap untuk pulang bertanya pada resepsionis yang baru saja meminta waktunya untuk melaporkan sebuah masalah.

“Baru saja housekeeping melaporkan tentang salah satu tamu hotel di Deluxe Room yang sudah beberapa hari ini tidak menyahuti panggilan dari luar. Bahkan piring kotor dari pesanan service room juga tidak dikeluarkan. Sementara waktu check-in, dia sudah berpesan untuk tidak ada satu orang pun yang masuk ke kamar termasuk housekeeping,” jawab resepsionis dengan wajah khawatir.

Jovie melihat jam tangan di pergelangan kirinya—sudah masuk jam tidur, bisa saja akan menjadi tidak sopan jika dia mengetuk pintu kamarnya sekarang, tapi dia juga khawatir jika sampai terjadi apa-apa dengan tamu hotel.

“Kapan waktu tamu itu check-out?” tanya Jovie lagi.

“Besok siang,” jawab resepsionis sopan.

“Berapa kali housekeeping mencoba untuk memanggil tamu?”

“Setiap waktu housekeeping harus mengangkut piring kotor dari setiap kamar, terhitung dari satu hari yang lalu.”

Jovie menggigit bibir bawahnya. Jelas ada hal yang tidak beres jika sampai berkali-kali tamu tidak menyahuti panggilan housekeeping. “Nomor berapa kamarnya?”

Resepsionis tadi menunjukkan detail pemesanan kamar di layar monitornya. Jovie melihatnya sekilas, kemudian segera membuka tempat master key dan menyambar salah satu sebelum bergegas menuju ke lantai tempat kamar itu berada.

Jovie berdiri di depan kamar yang dimaksud. Beberapa kali ketukan tidak mendapat sahutan. Sebab dia sudah melakukan SOP hotel untuk mengetuk lima kali dan tidak ada sahutan dari dalam, Jovie langsung membuka pintu kamar dengan master key yang dia bawa.

“Selamat malam, layanan manajemen hotel.”

Tidak ada jawaban. Anehnya, Jovie mendengar suara desahan dari arah dalam. Ranjang yang berada di balik sekat membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas. Kening Jovie mengerut bingung dan tak mengerti.

“Maaf, saya mendengar keluhan dari staff kami, saya terpaksa untuk melakukan pemeriksaan. Apakah Anda baik-baik saja?” Jovie kembali bersuara.

Desahan kembali terdengar. Kali ini bersamaan dengan suara hentakan yang membuat jantung Jovie berdetak kencang. Kakinya bergerak pelan ke arah ranjang, sementara kedua tangannya mendekap erat master key yang dari tadi terus dia pegang.

“Ah! Faster, baby!”

Desahan itu kembali terdengar, bersamaan dengan kedua mata Jovie yang menangkap pemandangan tabu. Seorang pria yang sedang bersetubuh dengan wanita muda terlihat membara di hadapannya.

“Come on, baby! Ah!”

Wanita itu tidak memperhatikan kedatangan Jovie. Dia terlalu menikmati hunjaman dari pria tampan itu dari dalam selimut tebal. Otot tubuh yang terbentuk sempurna, terlihat mengilat dibasahi keringat.

Jovie terkejut. Tubuhnya tiba-tiba mematung, tidak menyangka dia akan melihat hal seperti ini. Sialnya, pria itu terlanjur melihatnya. Masih dengan posisi yang terjepit di antara paha mulus si wanita muda, pria tampan itu menoleh dengan seringai tajam.

“Astaga!” pekik Jovie akhirnya.

Badannya berbalik cepat, memunggungi kedua orang yang masih saling bergelut dalam permainan panas di antara desahan yang semakin cepat. Tanpa disuruh, Jovie segera bergerak cepat meninggalkan ruangan itu, tapi saat itu juga dia menyadari bahwa tindakannya adalah salah besar. Dia tidak bisa berlalu begitu saja.

Dalam keadaan mata yang terpejam erat, Jovie kembali membalikkan badannya. “Maafkan saya! Maaf saya salah kamar.”

Pria itu kembali menoleh tak merespon ucapan Jovie. Sorot matanya tak terbaca, sedangkan seringai tipis kembali terukir di wajahnya sebelum dia kembali memuaskan wanitanya yang semakin menggeliat.

Di luar kamar, Jovie terdiam sejenak setelah menutup pintu kamar dengan perlahan. Berkali-kali dia mengusap matanya kasar, tak peduli maskara yang berantakan dan membekas di jari-jarinya.

“Miss, Anda salah kamar! Seharusnya tamu yang bermasalah itu di kamar sebelahnya!” Housekeeping yang tadi melaporkan keluhannya itu sedang tergopoh-gopoh menghampiri Jovie setelah dia menyadari bahwa atasannya itu telah salah mengambil master key.

Jovie menatap housekeeping itu dengan wajah datar. Badannya terasa lemas, tindakan cerobohnya telah membuat tamu hotelnya tidak nyaman. Meskipun perbuatan yang dilakukan tamunya itu juga membuatnya tidak nyaman.

Jovie mengangguk, sambil melenggang lemas melewati housekeeping yang menatapnya cemas. Mati-matian Jovie menahan malu saat dia masuk ke dalam lift yang sepi. Saat pintu lift tertutup, tubuhnya secara refleks merosot ke lantai. Sebelah tangannya memukul-mukul kepalanya sendri.

“Bodoh sekali kau, Jovie!”

***

Pagi hari saat Jovie kembali ke Hotel untuk bekerja, pikirannya masih diliputi dengan rasa bersalah dan kecemasan, jika tamu semalam melaporkan keluhannya. Namun sampai dia duduk di ruangannya sekitar dua jam kemudian setelah jam operasional staff manajemen berlangsung, tidak ada laporan satu pun yang masuk mengenai kejadian semalam.

Interkom dari ruangan CEO menyala, Jovie segera menyambar gagang interkom dengan fokus matanya yang masih tertuju untuk meniliti pada email keluhan, mencari-cari keluhan yang dilayangkan padanya.

“Jovie, ke ruanganku sekarang.”

“Baik, aku akan segara ke sana.”

Jovie kembali meletakkan gagang interkom pada tempatnya. Benar tidak ada laporan keluhan di email, tapi mungkinkah tamu tadi langsung melaporkan keluhannya pada CEO Luxio Hotel? Shit! Jovie mengumpati kebodohannya.

Detak jantung Jovie kembali berantakan saat tiba di depan ruangan Corey, CEO dari Luxio Hotel. Setelah tiga ketukan lembut, dia masuk ke ruangan dan segera menutupnya kembali setelah berada di dalam.

“Akhirnya, Jovie sudah datang. Masuklah,” pinta Corey pada Jovie.

Jovie melangkah masuk ke dalam, dan seketika tubuhnya membeku melihat sosok pria tak asing sedang duduk di depan kursi CEO-nya. Beberapa kali Jovie memejamkan mata, memastikan bahwa apa yang dia lihat ini salah. Namun, tidak! Apa yang dia lihat sekarang ini benar-benar nyata. Tidak salah sama sekali.

“Jace, perkenalkan wanita cantik di depanmu adalah Jovie Montgomery, dia manajer operasional Luxio Hotel. Kau bisa bicara dan meminta bantuan padanya terkait apa pun mengenai layanan hotel. Dia adalah orang kepercayaanku di sini.” Corey mengenalkan Jovie pada Jace.

“Jovie, pria tampan di depanmu adalah Jace Sherwood, salah satu investor VIP hotel yang baru memulai kerja sama bersama dengan kita terhitung hari ini. Dia adalah pemilik perusahaan Food and Beverage—Wood Foods Company, yang akan memasok seluruh kebutuhan hotel kita kedepannya. Tolong kau layani dia dengan sangat baik.” Penjelasan Corey terdengar seperti dengungan di telinga Jovie.

Jace terkekeh melihat reaksi Jovie yang terlihat lucu baginya. Meskipun dia terlihat enggan untuk mengalihkan pandangannya, pria itu tetap menoleh pada Corey. “Terima kasih, Corey. Firasatku bagus mengenai kerjasama ini. Jadi, mulai saat ini aku mendapat wewenang khusus untuk berkomunikasi dengan wanita cantik di depanku ini, bukan?”

Corey mengangguk sambil terkekeh. “Tentu saja. Kau bisa meminta bantuan apa pun padanya,” ucapnya, kemudian menatap tajam pada Jace. “Asalkan masih dalam konteks pekerjaan.”

Jace menyandarkan punggungnya ke tempat duduknya. “Semua pasti karena tentang pekerjaan,” jawabnya sambil berdiri, mendekat pada Jovie yang masih terdiam, tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

“Kedepannya, kita akan terus bekerja sama dengan baik.” Jace mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jovie.

Jovie menatap ngeri pada Jace. Jelas terlihat dia enggan membalas jabat tangan itu. Pikirannya sekarang benar-benar berkecamuk. Kepingan memorinya teringat akan di mana dirinya memergoki Jace berhubungan badan dengan wanita lain. Pemandangan yang sangat tabu di matanya.

Jovie menarik napas dalam-dalam, dan mengembuskan perlahan. Dia berusaha untuk setenang mungkin. Dia tak ingin Corey mencurigai dirinya. Detik itu juga, dia menyambut jabatan tangan Jace.

“Tentu saja, Tuan Sherwood. Kita akan bekerja sama dengan baik,” ucap Jovie hangat dan tulus.

Jace menyeringai senang saat Jovie menjabat tangannya. Gengamannya menjadi semakin erat, membuat Jovie terkejut dan refleks menatap kedua mata Jace. Jovie bermaksud ingin menarik tangannya, tapi sangat sulit untuk melepaskan tangannya yang telah digenggam erat oleh Jace.

“Senang bertemu denganmu lagi, Jovie.” Jace tersenyum jahil, sambil mengedipkan sebelah matanya.

Bab 2

Jovie buru-buru melepas tangan Jace yang mengganggam erat tangannya. Kecanggungan menyelimuti wanita berparas cantik itu. Napasnya sedikit tercekat. Lidahnya seolah kehilangan kata untuk berucap, tapi sebisa mungkin Jovie berusaha tenang.

“Ada hal lain lagi yang ingin kau sampaikan, Corey?” tanya Jovie sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Jace.

Corey menggelengkan kepalanya. “Kurasa sudah cukup, yang terpenting mulai saat ini tolong layani Jace dengan baik. Dia investor dari hotel kita, dan Jace juga teman dekatku.”

Jovie tanpa sadar menghela napas dan berhasil mencuri perhatian dari Jace. “Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku. Permisi.”

Wanita cantik itu buru-buru keluar dari ruangan kerja Corey. Bahunya turun sambil menghentakkan kakinya setelah memastikan bahwa pintu telah tertutup rapat dari luar. Sekujur tubuhnya terasa merinding saat mengingat kejadian malam itu. Kejadian di mana dia memergoki Jace melakukan pergulatan panas dengan wanita lain. Entah apa hubungan di antara mereka. Yang pasti Jovie benar-benar merasa canggung dan malu mengingat yang kemarin.

“Ck! Apa yang kau pikirkan, Jovie!” gerutu Jovie pada diri sendiri.

“Jovie…”

Wanita itu tidak mendengar ada seruan di belakangnya. Langkahnya masih tetap mengarah cepat menuju ke ruangannya yang berada tepat di satu lantai di bawah lantai ruangan Corey.

“Jovie…”

“Bisa-bisanya Corey berteman dengan orang aneh dan memutuskan untuk menjalin kerjasama dengan pria aneh seperti itu, astaga!” gerutu Jovie kesal.

“Jovie!”

Jovie tersentak. Badannya berbalik cepat, dan sebelah tangannya ditarik oleh Jace. “Apa yang kau lakukan?!” pekiknya terkejut.

Jace membiarkan Jovie menepis tangannya. Kedua tangannya terangkat ke atas, persis seperti penjahat yang sedang berhadapan dengan detektif. “Aku sudah memanggilmu berkali-kali, tapi kau tidak menoleh.”

Jovie membelalakkan kedua matanya lebar-lebar. “Tetap saja kau tidak bisa menarik tanganku! Itu namanya kau tidak sopan! Kau tahu itu juga sebuah bentuk pelanggaran hukum!”

“Pelanggaran hukum?” Kali ini Jace benar-benar tidak mengerti.

Jovie menaikkan dagunya dengan tetap menyorot tajam pada Jace. “Pelecehan dan kekerasan. Aku bisa melaporkan dirimu atas dua tindakan itu. Pertama pelecehan karena kau sudah mengedipkan matamu dan mengeratkan genggaman tanganmu padaku di ruangan Corey tadi. Kedua, kau baru saja menarik lenganku paksa sampai aku hampir celaka. Aku bisa melampirkan laporan rekaman CCTV untuk menguatkan laporanku itu pada kepolisian!”

Jace tertawa mendengar tuduhan yang terlontar dari mulut Jovie. “Really? Kau benar-benar berpikir bisa menuntutku dengan alasan tidak masuk akal seperti katamu itu? Bukankah seharusnya aku juga bisa menuntutmu untuk kejadian semalam?”

Mulut Jovie langsung terkatup rapat. Dia tidak menduga Jace akan terang-terangan membahas masalah semalam padanya. Debar jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Kakinya seperti jelly yang tidak bisa berkutik sama sekali.

“Sepertinya kau berhutang maaf padaku, Nona Montgomery.” Jace menyeringai, wajahnya terlihat tenang meskipun Jovie terlihat sangat marah bercampur panik padanya.

“Apa yang kau maksud?” Jovie berusaha mempertahankan harga dirinya dengan terus bernada ketus.

“Semalam kau masuk begitu saja saat aku sedang bersenang-senang. Jujur saja, tindakanmu yang dengan tiba-tiba masuk ke kamarku itu membuat ritme permainanku kacau. Bukankah aku juga bisa menuntutmu atas dakwaaan sebagai penguntit dan pelanggaran privasi?” balas Jace telak—dan sukses membuat Jovie bungkam sejenak.

Wajah Jovie berubah menjadi merah padam. Meskipun dia tidak suka dengan sikap Jace, tapi perbuatannya semalam memang salah. Satu-satunya kesalahan yang pernah dia lakukan selama menjabat sebagai manajer di hotel ini, dan sialnya kesalahan itu harus berhadapan langsung dengan seorang seperti Jace.

Tunggu, bukankah dirinya sudah meminta maaf?

Benar, Jovie tidak salah ingat. “Aku semalam sudah minta maaf padamu sebelum keluar kamar!”

Jace menyipitkan mata dengan alis bertaut sambil tetap mempertahankan kedua tangan terbenam di saku celananya. “Kau tidak bisa mengatakan itu sebagai permintaan maaf. Kau pasti tahu tenang etika dalam meminta maaf, kan? Aku tidak menerima permintaa maaf seperti itu,” ucapnya, sambil sedikit membungkuk tepat di depan wajah Jovie sebelum kembali tegak dan menyeringai tipis.

Jovie menghela napasnya dalam-dalam sambil berusaha untuk mengatur emosinya agar tidak meledak dan membuatnya terkena masalah. Cukup kejadian semalam yang hampir membuat karirnya terancam hancur. Oh tidak! Jovie tak membiarkan karir yang dia bangun susah payah menjadi hancur berantakan.

Jovie menatap kedua mata Jace lekat-lekat dan terlihat sangat bertekad. Meskipun dia benar-benar malas berinteraksi dengan Jace, tapi dia mulai menetralkan ego dalam dirinya dan menganggap bahwa ini adalah bagian dari pekerjaanya. Tidak semua relasi memiliki attitude yang baik. Setidaknya mindset itu yang saat ini coba Jovie tanamkan dalam pikirannya.

“Semalam adalah sebuah kesalahan. Aku yang ceroboh karena salah masuk kamar saat menanggapi keluhan tentang tamu hotel yang menginap tepat di sebelah kamarmu. Sekali lagi, maafkan aku.” Jovie kembali meminta maaf pada Jace. Dia sebenarnya enggan untuk mengungkit-ungkit kejadian bodoh tadi malam.

Jace menyeringai puas mendengar permintaan maaf dari wanita yang ada di hadapannya. Menurutnya sangat menyenangkan ketika berhasil mempermainkan seorang wanita yang terlihat menarik di matanya.

“Well, permintaan maafmu akan aku terima, jika nanti malam kita makan malam bersama,” jawab Jace dengan senyuman penuh kemenangan.

Mata Jovie melebar terkejut. “Hey! Jaga sopan santunmu!”

Napas Jovie sedikit memburu. Tangannya mengepal begitu kuat. Dia tidak sengaja mendengar syarat gila dari Jace. “Kau bebas menggoda wanita lain, tapi tidak denganku, Tuan Sherwood! Aku bukan tipe wanita yang bisa kau permainkan!”

Jace tersenyum tipis mendapatkan penolakan dari Jovie. Sorot matanya terlihat mengilat, sangat kontras dengan senyumnya yang sedang berusaha memikat. “Kau mau melanggar perjanjianmu dengan Corey?”

“Apa maksudmu?” Kening Jovie mengerut dalam, menatap bingung Jace.

“Kau tidak lupa Corey sudah memberiku wewenang untuk menghubungimu kapan pun, dan kau wajib membantuku tentang semua hal yang berhubungan dengan pelayanan hotel, bukan? Malam ini aku ingin mencoba untuk makan malam di Resto Lounge Hotel untuk keperluan bisnis bersamamu,” jawab Jace santai.

“Oh, God! Kenapa aku terkenal sial seperti ini?” gerutu Jovie pelan, dan tak terdengar di telinga Jace.

“Kau tadi bilang apa?” tanya Jace lagi.

Jovie menatap Jace dengan sorot lelah, lalu menggelengkan kepalanya. “Tidak, bukan apa-apa.”

“Jadi, bagaimana makan malam untuk permintaan maafmu? Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu jawaban darimu, Jovie.” Jace mengatakannya dengan seringai tipis di wajahnya.

Tidak ada pilihan lain. Jovie tidak bisa membantahnya. Tugasnya sebagai manajer hotel memang harus menjamu klien dan relasi dengan baik. “Baik, sesuai dengan apa yang kau inginkan. Nanti malam di Resto Lounge.”

Jace kembali menyeringai puas. Saat ini, dia sudah mengantongi senjata untuk membuat Jovie tidak bisa menolak ajakannya. Jace merapikan jasnya, kemudian berlalu dari Jovie sambil berbisik tepat di telinga wanita itu.

“See you tonight, Jovie. Berdandanlah yang cantik.”

Bab 3

Berkali-kali Jovie meremas rambutnya dan mengumpat pelan saat dia mengingat kembali interaksinya bersama dengan Jace. Baik itu dari sikap bodohnya yang telah salah masuk kamar, dan juga tentang sikap Jace yang sangat menyebalkan setelah mereka keluar dari ruangan Corey tadi.

“Dasar pria hidung belang sialan! Berani-beraninya dia mengajukan syarat gila yang tidak masuk akal sehat,” gerutu Jovie kesal.

Mendekati waktu jam makan malam, semakin membuat Jovie bertambah gelisah tak menentu. Berulang kali dia ingin mengajukan protes pada Corey perihal Jace, tapi dia sadar dirinya tidak memiliki hak untuk itu. Terlebih lagi, bagaimana jika Jace melaporkan pada Corey tentang perbuatannya semalam? Masalah bisa semakin gawat. Pun sialnya, kenyataan membuat Jovie semakin frustrasi, Jace Sherwood adalah pria yang berinvestasi dengan nominal sangat besar pada hotel—di mana Jovie bekerja. Hal tersebut membuat Corey akan mati-matian membela Jace.

Terdengar suara pintu diketuk dari luar. Seorang resepsionis hotel masuk sambil membawa satu kotak besar berwarna hitam, cukup besar sampai hampir menenggelamkan wajah resepsionis itu dari sudut pandang Jovie saat ini.

“Kotak apa itu?” tanya Jovie dengan kening mengerut heran.

“Ada seorang kurir yang mengantar ini baru saja, Nona. Katanya dikirim khusus dari relasi untuk Anda dan harus dipastikan bahwa Anda telah menerima dan membukanya,” jawab sang resepsionis sopan.

Jovie menyipitkan matanya saat melihat kotak besar itu yang diletakkan di atas meja kopi di depan sofa—tepat di depan meja kerjanya. Otaknya berpikir siapa yang memberikan hadiah padanya?

“Terima kasih sudah membawanya ke sini. Kau boleh kembali ke lobby.” Jovie berdiri dan tersenyum pada resepsionis.

“Baik, Nona. Saya permisi.” Sang resepsionis itu menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Jovie.

Ketukan dari high heels-nya terdengar ragu saat mendekati kotak hitam itu. Baru kali ini dia menerima paket misterius. Bukannya senang, saat ini dia menjadi sedikit takut untuk membukanya. Detik selanjutnya, Jovie mulai membuka kotak itu, tetapi seketika mata Jovie melebar terkejut melihat isi dari kotak itu.

Sebuah gaun pesta dengan warna hitam yang terlihat sangat elegan, dan sepasang high heels berwarna senada yang terlihat mengilap dengan ujung runcing dan memiliki aksen kotak besar bertabur permata putih yang tampak sangat cantik. Semuanya berasal dari merk mahal dan terkenal.

“Siapa orang gila yang mengirim ini semua?” Tangan Jovie meraih kartu ucapan yang terselip di sela-sela kertas pembungkus di dalam kotak.

Can’t wait untuk makan malam nanti. Pakai gaun dan sepatu ini, kau pasti akan sangat cantik. Ah, satu lagi … jangan lupa untuk tersenyum. kau pasti semakin cantik saat tersenyum.

-Jace-

“Dasar gila!” umpat Jovie sambil membuang kartu ucapan itu ke tempat sampah.

Jovie merasa sangat marah karena dia berpikir bahwa Jace telah menganggapnya murah dan gampangan. Bagaimana bisa seorang relasi mengirim barang mewah seperti ini untuk makan malam yang hanya memiliki kepentingan sebatas urusan bisnis? Bahkan jika itu bukan urusan bisnis, dia tidak akan pernah mau datang untuk makan malam bersama pria aneh hidung belang itu.

Pikirannya yang tidak-tidak tentang malam panas Jace dan wanita yang semalam dia lihat juga semakin memiliki titik cerah. Dia semakin yakin bahwa wanita semalam bukanlah pasangan resmi dari Jace.

Jovie kembali bergidik ngeri saat membayangkannya. Kotak yang masih terbuka itu segera dia tutup rapat, dan dilempar begitu saja ke kolong mejanya. Dia akan tetap memakai baju kerjanya. Harga dirinya sangat tinggi dan tidak mau kalah dengan menuruti permintaan aneh dari Jace meskipun pria itu adalah relasi VIP hotel ini.

Saat Jovie masuk ke dalam Resto Lounge, dia langsung bisa melihat Jace yang menatap tajam ke arahnya. Jelas sekali bahwa pria itu terlihat kecewa karena Jovie datang dengan penampilan yang tidak sesuai harapannya. Melihat hal itu, perasaan Jovie menjadi lebih baik. Setidaknya dia telah menang satu poin dari Jace.

“Kenapa pakaian yang aku berikan tidak kau pakai?” tanya Jace langsung begitu Jovie duduk di hadapannya.

Jovie menatap tidak suka pada Jace. “Buat apa? Aku bukan wanitamu yang bisa kau suruh-suruh.” Sebisa mungkin Jovie menjaga nada bicaranya tetap datar.

Mendengar itu, membuat Jace menyipitkan matanya sambil menyeringai nakal. “Ah, jadi kau mau menjadi wanitaku?”

Refleks, Jovie membulatkan kedua matanya dan hampir saja melontarkan kata umpatan pada pria tidak tahu diri di depannya itu. Namun lagi-lagi dia harus berusaha untuk menjaga sikapnya agar terlihat lebih berkelas dari Jace.

Setelah menghela napas dalam-dalam, Jovie tersenyum tipis sambil bertanya, “Sudah berapa wanita yang kau beri tawaran untuk menjadi wanitamu? Puluhan? Ratusan? Atau, kau bahkan sampai tidak bisa menghitung jumlahnya?”

Dalam hati, Jovie merasa bangga bisa membalas ucapan Jace dengan nada datar dan sindiran halus yang dia kemas sebagai pertanyaan. Namun rupanya Jace bukan menerima pertanyaan itu sebagai sindiran. Pria tampan itu bahkan berpura-pura menghitung dengan wajah serius, membuat Jovie merasa semakin kesal dengan tingkah lakunya.

“Baru dirimu,” ucap Jace sambil menatap lembut pada Jovie. “Kau pasti tidak percaya, tapi selama ini mereka yang memintaku untuk menemani malam-malam mereka. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sampai memohon-mohon padaku. Tapi, baru kau wanita yang pertama kali menolakku.”

Jovie tidak bisa menahan tertawanya. Sebuah jawaban yang memang sudah berada di dalam bayangannya, tapi rupanya dia tetap saja merasa geli saat mendengarnya secara langsung.

“Kau benar-benar memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, ya?” sindir Jovie secara halus.

Jace kembali menyeringai. Tatapannya semakin terlihat seduktif jika dilihat mata wanita lain, tapi tidak saat berada di bawah pandangan Jovie. “Semua hal yang kupunya sangat mendukung untuk memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi, benar? Kaya raya dan ketampanan yang mutlak. Sudah jelas semua wanita menjadi tergila-gila padaku.”

Jovie memutar bola matanya malas. “Kau benar-benar pria paling percaya diri yang pernah aku kenal di muka bumi ini.”

Jace tersenyum penuh arti, mengamati lekat paras cantik Jovie. Sejak awal pertemuan dia sudah memiliki ketertarikan dengan paras cantik wanita itu. Tanpa diduga, Jace mendekat ke arah Jovie, menundukkan wajahnya, bersejajar ke wajah wanita cantik itu.

“Kau cantik, Nona Montgomery,” bisik Jace di depan wajah Jovie.

Jovie menjadi salah tingkah mendapatkan pujian dari Jace. Dia bangkit berdiri bermaksud mundur menjauh, tapi sialnya heels-nya tersangkut di karpet. Refleks, tubuh Jovie terhuyung ke belakang nyaris terjatuh—dan dengan sigap Jace menangkap tubuh Jovie dengan erat.

“Aaaa—” pekik Jovie terkejut.

Jace tersenyum penuh arti. “Tenanglah. Aku berhasil menangkapmu, Nona Montgomery. Kau aman bersamaku.”

Jovie menelan salivanya susah payah dan langsung mendorong dada bidang Jace. “Kurang ajar! Beraninya kau memelukku! A-apa kau tidak diajarkan sopan santun?!”

Kening Jace mengerut dalam. “Jika aku tidak memeluk pinggangmu, maka kau akan terjatuh. Kau ingin terjatuh di lantai dan menjadi bahan tawaan banyak orang?” balasnya meledek.

Jovie salah tingkah. Apa yang dikatakan Jace benar. Jika pria tampan itu tidak menangkapnya, sudah pasti dia akan menjadi bahan tawaan banyak orang karena terjatuh di lantai. Shit! Jovie membenci dirinya yang bodoh dan ceroboh.

Jovie memutuskan untuk duduk, menarik kursi sedikit jauh dari Jace. “Kita langsung saja pada intinya, apa tujuanmu mengajakku makan malam?”

Jace mengambil vodka yang diantar oleh sang pelayan seraya menyandarkan punggungnya di kursi. “Karena aku ingin mengajakmu makan malam.”

Mata Jovie mendelik. “Tuan Sherwood, aku tidak memiliki banyak waktu untuk main-main. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika kau—”

“Aku akan menghubungi Corey.” Jace mengambil ponselnya, mencari nomor Corey, dan menghubungi temannya itu.

“Corey, aku bersama dengan Jovie. Aku ingin membahas tentang Luxio Hotel. Kau tidak marah, kan?” tanya Jace santai kala panggilan terhubung. Tak lupa pria itu menekan tombol loudspeaker agar Jovie mendengar.

“It’s okay. Kau bisa bertanya apa pun pada Jovie. Dia adalah orang kepercayaanku,” jawab Corey tenang dari seberang sana.

“Thanks, Corey. See you!”

“See you!”

Panggilan tertutup. Jace meletakan ponselnya ke tempat semula. Tampak raut wajah Jovie berubah mendengar percakapan antara bos besarnya di kantor bersama dengan Jace Sherwood. Tunggu! Apakah dirinya benar-benar tertimpa sial?

“Nona Montgomery, kau mendengar apa yang dikatakan bosmu, kan? Aku berhak berbicara denganmu. Jangan lupa aku adalah investor di Luxio Hotel. Aku memiliki kendali,” jawab Jace angkuh seraya menggerak-gerakkan gelas di tangannya.

Napas Jovie memburu seraya mengepalkan tangannya dengan kuat. Umpatan dan makian lolos di dalam hatinya. Dia memang mengakui kesalahannya salah masuk kamar, tapi kenapa malah dirinya harus terkena sial bertubi-tubi seperti ini. Hal gila adalah Jace Sherwood menggunakan kekuasaannya untuk mendesaknya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED