Bab 1

Hari ini adalah jadwal kepulangan pria bertubuh sempurna tak bercela kalau kata kaum hawa sebut. Atletikus merupakan bentuk tubuh yang ideal. Ya, pria itu sudah meraih predikat untuk kesempurnaan banyak diimpikan semua kaum wanita apalagi warna mata begitu mencolok ketika orang menatap, berwarna biru.

Bentuk tubuhnya memiliki perawakan bak olahragawan, kepala dan dagu yang terangkat ke atas, dada penuh, perut rata-berkotak, dan lengkung tulang belakang dalam batas normal.

Ia sudah memutuskan kembali dalam beberapa bulan ke Indonesia. Negara itu banyak kenangan untuknya. Kenangan pahit tentu ada, kenangan indah? Entahlah. Austin O'pry masih mengingat kenangan yang membuat menjadi pribadi pemarah, hingga sikap pria melekat dengan kata 'arogan'.

Tiket khusus kelas bisnis itu masih ia tatap, tatapan sendunya menatap tiket itu. Di ruangan apartemen luas bak sebuah gedung besar mewah, Austin tersenyum arogan. Dan diruangan ini ia banyak menghabiskan waktu hanya bekerja.

Austin menatap hiruk pikuk di negara yang terkenal dengan kincir angin. Menatap dari gedung yang menjulang tinggi, mata biru semakin mencolok. Seakan memikirkan sesuatu tapi entahlah, ia masih sibuk berpikir.

Austin meraih ponsel keluaran terbarunya. Setelah menekan nomor yang di tuju, ia memasukkan tangan kanan ke saku celana jas slim ia kenakan sembari berdiri lugas.

"Aku ingin semuanya tertutup. Jangan sampai ada seorang pun yang melihat kepulanganku," ucapnya di selular dan masih memasang wajah angkuh.

"Saya sudah prepare kepulangan Tuan Muda, keamanan sudah cukup ketat setiba Tuan nanti dan untuk mobil dua jam sebelum sampai sudah menunggu."

"Kamu tidak melupakan sesuatu 'kan?!" Austin menekankan setiap kalimat tercetus dari bibir seksinya.

"Semuanya aman Tuan Muda. Sudah saya persiapkan jauh sebelum keputusan Tuan kembali." Seseorang di selular berkata.

Austin bernapas lega, "Bagus kalau begitu. Jadwal keberangkatan beberapa jam lagi. Kamu sudah selesai dengan urusanmu?"

"Sudah Tuan muda, semua yang Tuan butuhkan di Indonesia nanti semuanya sudah saya aman."

"Oke, mobil sudah menunggu di bawah?"

"Sudah Tuan, saya sudah menyiapkan mobil. Saya sedang menunggu Tuan di bandara, mengantisipasi ada orang melihat."

"Aku tidak sia-sia memperkerjakanmu Frank."

"Terimakasih Tuan Muda atas kepercayaannya."

Austin menatap jam tangan pattek phillipe dari balik jas blue navy slim fitnya. "Baiklah, aku akan bersiap." Mematikan ponsel tanpa mendengarkan jawaban lagi.

Dengan langkah elegan, akhirnya ia keluar dari Apartemen pribadi mewah itu.

Sebelum dia pergi, Austin pergi menuju kantor mengambil beberapa berkas perusahaan di Indonesia. Setiap pegawai yang menoleh langsung tertunduk menghormati, memberikan salam disiplin. Tidak pernah seumur hidup mengeluarkan senyum natural. Hanya senyum sekadar menghargai terpancar, itu juga hanya terjadi di rapat kantor.

Austin terus berjalan keluar kantor setelah mendapatkan berkas yang dicari, dengan langkah teratur dan tenang tanpa membalas sapaan pegawai.

Mobil Audi khusus telah menunggu, ia keluar. Sekilas ia menatap kantornya itu, ia akan pergi ke Indonesia selama enam bulan. Sudah sangat lama kantor di sana tidak ada yang mengurus, jadi Austin akan pergi sembari menikmati liburan.

Belajar dari masa lalu yang kelam menjadikan hidup lebih baik dan pastinya membuat siapa pun tidak ingin ke lubang yang sama lagi. Hidup harus tetap dilanjutkan seburuk apa pun masa lalu.

Austin sudah menjadi pria sukses, memiliki semuanya kecuali pendamping. Di umur yang sudah sangat matang belum juga menikah. Jangan tanya berapa wanita yang sudah ditidurinya.

Ajudan itu membuka pintu untuknya, mempersilahkannya duduk, sengaja pulang dengan stelan jasnya, ia ingin dipandang orang dengan sebutan pria kaya.

Mobil pun melaju meninggalkan perusahaan Austin Enterprise Holdings, perusahaan ternama dan terbesar di negara itu.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Schiphol, Austin sudah dinantikan pengawal merangkap sebagai sopir pribadi. Tidak lama menunggu, Frank sudah hadir di depan menundukkan kepala, memberikan hormat untuk atasannya.

"Semua oke?" tanya Austin dengan bibir sensual.

"Semua yang Tuan perlukan sudah beres. Pesawat bisnis juga sangat jauh dari orang bawah."

"Bagus kalau begitu," Austin berjalan angkuh.

Beberapa karyawan di Bandara yang mengenal memberi hormat dan menundukkan kepala. Bagaimana tidak, Austin hampir menanamkan semua saham di setiap perusahaan yang sedang berkembang pesat. Termasuk saham di Bandara ini.

Sesampai di dalam pesawat kelas bisnis, tak henti Austin menatapi sekeliling.

"Tuan semuanya aman," Frank sepertinya mengerti maksud pencarian Austin.

"Aku hanya ingin memastikan saja." Austin merebahkan tubuh sembari memejamkan mata.

"Tuan," Frank memanggil sopan.

"Hmm ...." Austin hanya berdehem, mata masih terpejam.

Frank berdehem, menjelaskan sebaik mungkin. "Nona Grace. Pihak bandara di sana sudah mencoba menghentikan kedatangannya tapi dia terlalu memaksakan keinginan Tuan."

"Apa maunya lagi?" Austin muak.

"Saya juga belum tahu pasti Tuan. Aku pikir nona Grace masih mengharapkan Tuan Muda."

"Apa kamu mengatakan sesuatu dengannya?"

"Ada Tuan, saya mengatakan kalau kedatangan Tuan tidak ingin diganggu siapa pun termasuk dia."

"Lalu?"

"Tapi seperti yang Tuan ketahui, dia tetap bersikeras ingin menjemput kedatangan Tuan."

"Perempuan munafik! Tidak tahu diri." Austin mengungkapkan penuh dengan emosi yang mulai terbakar.

"Kalau Tuan mau, saya bis—"

"Tidak Frank." Austin memotong ucapan Frank lalu menatap serius.

Frank tidak ingin membalas, ia akan tetap mendengarkan setiap perkataan tajam Austin. Pria itu membenci dibantah.

"Biarkan saja. Aku sudah tidak tertarik dengannya, bahkan aku sangat muak melihatnya."

"Kalau Tuan keberatan saya bisa menugaskan petugas keamanan di sana untuk mengusir Nona Grace dari bandara."

"Tidak Frank. Itu tidak perlu. Karena aku sudah tidak perduli tentang kehidupan dia lagi."

"Maaf Tuan, akan saya laksanakan semua perintah Tuan." Frank menunduk patuh.

Austin memilih memejamkan mata kembali. Tak lama kemudian Frank menuju belakang dan ikut merebahkan tubuh. Mereka akan berada di atas awan untuk beberapa jam ke depan.

Setelah penerbangan yang memakan waktu cukup lama akhirnya mereka mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dengan sigap, Frank menelpon para pengawal yang sudah hadir di Bandara. Langkah Elegan membuat orang terhenyak menatap ketampanan luar biasa. Mata biru mencolok yang pasti membuat para wanita ingin dalam dekapannya.

"Tuan, saya sudah menyiapkan mobil Tuan yang ada di sebelah sana," ucap Frank menunjuk beberapa meter letak mobil hitam kilat terparkir.

"Semua sudah sangat aman," Frank melanjutkan maksud Austin memendarkan pandangan.

Austin memberikan senyum kecil untuk pengawal pribadi itu. Frank sudah bekerja untuknya semenjak ia berumur lima tahun hingga kini usia semakin matang di angka tiga puluh tahun, kesetiaan membuat Frank menjadi kepercayaan keluarga O'pry.

Austin terus berjalan dengan anggun menuju mobil yang sudah di siapkan untuknya.

"Austin!" Seru sosok wanita berambut cukup jreng, merah cerah tersebut.

Austin hapal suara itu, suara pernah mengisi hari, suara yang

Menghancurkan hidupnya. Austin tidak menatap tapi langkah berhenti menunggu.

Merelakan apa saja demi pria ia cintai sudah menunggu sedari malam, menantikan kedatangan yang menurutnya mendadak. Tapi, terkait tentang Austin ia akan siap menunggu selama apa pun itu.

'Mantan tunanganku, apa kabarmu. Apa kamu masih mengingat kisah kita dulu? Kisah yang mungkin sudah kamu lupakan tapi aku ... aku masih mengingatnya.'

Pesawat kelas bisnis mendarat di Bandara, walau menatap dari kejauhan. Tadi malam ia berhasil mengontak Frank, keberangkatan malam dan akan sampai siang ini. Langkah kaki dibalut sepatu hitam mengkilatnya itu melangkah anggun menuju mobil yang sedari subuh menunggu di tempat cukup jauh dari kerumunan orang.

Ia ingin melihat wajah tampan dengan mata binar, apa dia juga—ingin—menemui?

"Austin!" Panggilnya lagi setelah langkah terhenti.

Austin memunggungi, dia tidak menatap. Grace masih mencintai, meski kenangan indah itu ia hancurkan dulu tapi kini yakin ada setetes cinta yang tersisa untuknya.

Grace Novita ingin ke pelukkan Austin, kembali menjadi wanita yang hebat di ranjang bersamanya. Austin belum menikah, bahkan dia masih memegang CEO terkaya di negara Belanda juga di Indonesia.

Mata indah yang tidak akan bisa dilupakan, walau saat itu dia masih merintis kekayaan tapi karena rasa sabar hilang Grace meninggalkannya padahal waktu itu pernikahan mereka tinggal hitungan hari.

"Austin," Grace berjalan sedikit cepat dan berhasil menatap wajah setelah beberapa tahun lamanya.

Dia masih tidak menatap, wajah keras membuat Grace semakin ingin dalam dekapan.

"Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Grace.

"Tidak."

"Tap—tapi aku sudah menunggumu sangat lama. Aku— aku ...."

"Aku apa? Berpikirlah yang jernih dan gunakan pikiranmu itu sebaik mungkin."

"Austin, aku masih mencintaimu." Grace menjelaskan bernada serak.

"Jangan jadi wanita yang bodoh!"

Grace memberanikan menyentuh lengan dipenuhi bulu halus . "Kamu pasti masih mencintaiku 'kan? Kenangan indah kita, tidak akan pernah kamu lupakan sayang."

"Lepaskan!" Austin berseru dengan wajah seringai.

"Austin ...."

Austin menyingkirkan tangan Grace, merasa terpojok dengan kelakuan. Menyesal sudah meninggalkan di saat hidup Austin sedang bangkrut, kemiskinan melarat.

Austin menatap Grace pada akhirnya, "Jangan pernah memanggil namaku lagi. Aku harap ini pertemuan terakhir kita," ucap Austin pergi meninggalkan Grace mematung.

Grace terdiam, air mata jatuh menahan rasa menyesal. Dia bukan Austin yang dulu. Sekarang dia menjadi pria dingin yang angkuh, kasar, arrogant.

Tapi Grace berjanji, akan mengambil hati kembali. Karena saat ini dia sudah menjadi pria kaya, memiliki lebih dari empat perusahaan ternama dengan begitu hidup Grace juga tidak akan kekurangan lagi.

Bab 2

Alarm ponsel blackberry terus berteriak tidak lelah membangunkan sosok wanita bertubuh mungil tengah tersingkap piyama ia kenakkan. Perut rata, kulit putih tersibak dengan mulut mangap terbuka dan beberapa berkas kantor berserak di lantai kamar.

Astaga!

Aurora sudah telat ke kantor, sial sekali hari ini. Ini semua karena di karenakan akhir bulan mau tutup buku mau tidak mau sebagian pekerjaan kantor ia bawa pulang. Dengan gerakkan seribu bayang, bagai ninja hatori akhirnya berhasil ia rapikan kembali.

Berlari tidak peduli pejalan kaki, menunggu bus datang. Bus oh Bus ke manakah engkau? Aurora terus mengedarkan pandangan menatap kedatangan bus roda banyak tersebut. Peluh bercucuran, aroma badan mulai tidak sedap, rambut membasah kini acak hingga napas terembus tidak teratur.

Aurora meringis sedih menunggu bus, kenapa disaat kritis begini semua malah semakin runyam? Baru beberapa minggu diterima di perusahaan ternama, O'pry Enterprises Holdings.

Perusahaan itu adalah perusahaan yang diidamkan semua orang, Aurora begitu beruntung dan bersyukur bisa bekerja di perusahaan besar. Semua juga berkat kampusnya dulu memberikan kesempatan berkecimpung. Tidak hanya ternama bahkan karyawan semua sangat baik, ramah dan intelektual yang sangat bagus.

Menatap jam ponsel, sudah setengah jam lamanya telat ke kantor. Aurora mulai gelisah tidak tenang. Sampai akhirnya Bus yang ditunggu menunjukkan fisik.

Dengan sigap menerobos masuk ke bus padahal belum berhenti, menyamankan tubuh senyaman mungkin. Menghela napas panjang, akhirnya ia bisa melewati masa sulit meski ia tidak tahu akan bagaimana nanti di kantor.

Memakan waktu beberapa jam, bus berhenti tepat di depan perusahaan. Aurora berjalan cepat setengah berlari. Sampai ia tidak sempat mengucapkan terimakasih pada pak sopir setelah memberikan ongkos tadi sanking kalang kabut.

Aurora terus mempercepat langkah menuju ruangan kantor, langkah terburu menuju ruang kerja. Ia menatap para team satu ruangan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tumben semua serius, terkena siraman rohani dari siapa?

Aurora duduk santai, menghidupkan komputer lalu memberikan senyum cantik untuk Chika.

"Duh, hampir aja. Selamat pagi Chika-teman seperjanganku," ucap Auora lega sembari menatap Chika yang berwajah kaku.

"Kau nggak lihat ini udah jam berapa?" tanya Chika pelan.

"Iya aku tahu, aku telat. Dan, aku juga ngelihat kok temen kita pada sibuk nggak seperti biasanya." Aurora berkata sekenanya.

"Ehemm —" deheman suara bass seksi sangat jelas terdengar.

Seketika Chika diam dan tertunduk, Aurora memendarkan pandangan menatapi karyawan di ruangan ini malah menatap Aurora balik-bergantian. Ada apa sih sebenarnya? Tatapan aneh mereka sangat membagongkan. Benar-benar tidak mengerti sikap mereka.

"Kenapa semua mata menatapiku Chika?" tanyanya pelan.

"Mendadak sekali, aku juga bingung tapi yang pasti saat ini direktur utama atau lebih tepatnya pemilik perusahaan kita ini datang. Dan, saat ini sedang menatapmu." Chika berkata pelan hampir tidak terdengar.

Spontan mata Aurora mencari pemilik perusahaan ini. Mata Auora terhenti setelah ia mendapati pria bertubuh sempurna itu. Yang sangat terpusat adalah pupil mata berwarna biru mencolok. Mulut menganga lebar.

Jadi, dia pemilik perusahaan ini? Aurora diam termangu sesaat. Mata mereka saling beradu penuh tuntutan jawaban. Betapa tampan, sempurna dan Auora tidak mampu memalingkan wajah beberapa saat.

Hingga Chika menyenggol pelan, Aurora pun tertunduk tidak berdaya. Tubuhnya tidak mampu bergerak atau berkata sesuatu. Meyakinkan diri, akan minta maaf kalau memang itu diharuskan. Ia dongakkan kembali wajah frustasi dan pacuan jantung hampir saja copot menatap tubuh sensual yang sudah di depan meja. Aurora menelan susah payah salivanya.

"Kau ... sudah berapa lama bekerja?" tanyanya dengan tatapan mematikan.

"A—anu Pak, ba—baru dua minggu," ucap Aurora gugup.

"Lalu apa bagianmu?"

"S-saya sebagai Assisten Staff Bapak Anton Suhendra," ujar Auora seadanya.

"Siapa yang menerimamu bekerja di sini?"

"Saya diterima dari kampus Pak. Berkat kampus terbaikku," ucap Auora sambil tersenyum bangga.

Lalu pandangan menuju Thom, ia menatap mereka. Thom tampak takut dan gugup tapi siap menuruti perintah pria beraroma woody soft dan khas.

"Kemarilah," ucapnya elegan.

"Ya Pak," Thom dengan sigap menujunya.

"Saya ingin kamu memanggilkan Pak Anton keruangan ini. Segera!" Perintahnya tanpa menatap Thom tapi menatap Aurora setajam silet.

Auora tidak tahu apa maksud tujuan ia mengatakan seperti itu. Aurora mulai gusar, cemas dan tidak tenang. Tapi, berharap semoga ini tidak terkait dengan masa depan di perusahaan ini.

Tak lama menunggu, Thom hadir bersama Pak Anton Suhendra.

"Selamat pagi menjelang siang Pak Austin. Mohon maaf Pak ... Bapak memanggil saya?"

"Ya," jawabnya singkat.

"Apakah ada yang bisa saya bantu Pak?"

"Hmm —" hanya gumaman terdengar.

Pria itu mendongakkan wajah, "Dia Assistenmu?" Kali ini suaranya terdengar Arogant.

"Aurora Wihelmina Pak? Ya, dia Assiten saya Pak."

"Mulai besok saya tidak mau dia ada di perusahaan ini lagi. Pecat dia, carikan penggantinya salah satu karyawan dari sini. Katakan pada pihak kampus, dia orang terakhir di terima. Saya memblacklist daftar pilihan dari kampusnya," ucapnya dengan nada penuh penekanan.

"Apa pak?" tanya Auora spontan, nada sedikit meninggi.

Pria itu memasukkan tangan di saku celana stelan jas dan dia pergi begitu saja, tidak perduli bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan Aurora dahulu. Aurora yang syok tidak tahu harus apa. Mulut terbuka, terkatup dan ingin menghantam kepalanya dengan balok.

Auora berdiri dan menatapi kepergiannya yang membuat ingin menggila.

"Pak, apa aku baru saja di pecat?" tanya Auora tidak percaya.

"Apa kesalahan yang kamu lakukan?" Thom tampak sedih.

Thom dan Chika berwajah memelas.

"Hari ini, hari yang sial bagiku Pak. Aku terlambat bahkan Bus langgananku telat datang Pak."

"Maafkan aku Rora."

"Bapak akan memecat saya?" tanya Aurora memasang wajah sedih.

"Bapak juga tidak tahu harus apa, kamu adalah lulusan terbaik dari kampusmu tapi kamu tahukan. Baginya kamu sudah melanggar aturan perusahaan ini."

"Tapi Pak— saya nggak bisa keluar, impian saya masuk di perusahaan ini sangatlah besar Pak. Masa iya, hanya karena kesalahan kecil aku dipecat?" Aurora meringis kesal.

"Bapak juga tidak tahu kalau CEO kita akan datang mendadak tanpa pemberitahuan dahulu."

"Lalu, aku harus apa dong Pak?"

"Kamu sih, kok tumben amat telat?" tanya Chika mengembuskan napas sesak.

"Ya aku juga mana tahu kalau keadaannya seperti ini kan."

"Bapak juga bingung sekarang, tapi apa boleh buat. Itu adalah keputusannya." Pak Anton berkata lemah.

"Tap—tapi Pak. Nggak mungkin dong." Aurora masih bersikeras.

"Mmhh —" Chika tampak berpikir dengan gumaman.

Aurora menatap Pak Anton, Thom dan Chika bergantian. Mereka juga sepertinya ikut memikirkan nasib Aurora sudah di ujung tanduk.

"Bagaimana kalau minta maaf langsung?" Chika menyarankan dengan senyum lebarnya.

"A—aapa?" Aurora memang memikirkan itu tadi, minta maaf.

"Sepertinya ide Chika ada benarnya, cobalah minta maaf sepulang bekerja. Kami mendoakan semoga berhasil," timpal Pak Anton dengan wajah sumringah.

"Lagian kenapa coba harus ngomong kasar seperti tadi? Nggak nanya dulu gitu aku tuh telat karena tugas menumpuk di perusahaannya ini. Sudah sombong, arogant, dan suka memerintah sesukanya." Aurora mengoceh sembari memasang mimik wajah menahan amarah.

"Yaudah gih, demi pekerjaan yang sangat kamu dambakan." Chika memberi semangat.

Aurora mengembuskan napas sesak. Lalu, mengangguk lemah dengan keputusan itu, Semoga saja tanda minta maaf diterima.

Setelah bekerja, ia menatap jam dinding ruangan terus menerus hingga menunjukkan sudah pukul enam sore. Chika bergegas pulang lebih dahulu, perlahan teman kantor lain juga berpamitan pulang.

"Aurora, perbanyak berdoa dan tolong katakan jika kamu di dekatnya. Dia sudah memikatku," Chika berkata setengah berkhayal.

Auora hanya memutar bola mata tidak tertarik, ia mendengus tidak tertarik. Dan, Chika berlalu. Ia memutuskan menunggunya di ruang tunggu karena ruangan ini mengarah pintu utama direktur untuk keluar ruangan.

Bip. Suara pesan ponsel berbunyi, lalu ia menatap pesan singkat itu.

"Selamat malam gadis yang selalu kurindukan. Mau ketemu nggak?"

Pengirimnya tunangan Aurora. Apa dia sudah kembali dari Belanda? Ia membentuk bibir ke atas. Betapa bahagia, belum sempat membalas hentakan sepatu itu membuat Aurora mau tak mau menatapnya.

Pria itu menjadi pencarian favoritenya detik ini.

Ia mengatur penampilan setelah menatapnya keluar dari lift khusus dan dia berjalan elegan menuju pintu keluar. Menarik napas panjang, semua akan baik saja, harap Aurora terus berdoa.

Aurora mempercepat langkah, di saat bersamaan sang tunangan juga menelphone. Aurora terhenti sejenak, ingin mengangkat tapi menemui atasan jauh lebih penting demi masa depan.

Syit!

Ia mengembuskan napas berat yang terasa sulit keluar.

Bab 3

Aurora memilih mengejar sang atasan, memasukkan ponsel blackberry ke dalam tas totebag.

"Pak Austin," Aurora memanggil sopan tepat dari belakang.

Austin berhasil berhenti, berusaha tidak akan menghentikan aksi nekat ini lalu ia berjalan menuju Austin dan berhadapan dengannya begitu intens. Aroma maskulin tubuh mulai tercium, seakan menjalar di tubuh. Wajah keras yang tampak arogan menbuat mulai kikuk.

Memberanikan menatap mata biru yang kini ikut membalas tatapan tampak mengintimidasi. Aurora menatap kedua pengawal setia melindungi.

"Ada apa?" tanya Austin akhirnya dengan angkuh.

"Pak— saya Aurora, saya Assisten Pak Anton ingin berbicara." Aurora terbata.

"Mengenai apa?"

"Mmhh ... masalah tadi pagi Pak, saya minta maaf."

"Menyingkirlah! Aku tidak punya waktu denganmu."

"Pak saya benar-benar minta maaf, saya membutuhkan pekerjaan ini. Saya mohon pak," Aurora memohon.

Austin tidak menjawab sepatah kata pun. Dia memilih pergi meninggalkan Aurora termangu syok atas kepergiannya. Betapa tidak menyangka dengan sifat Arogan dan angkuh pria itu.

Apa dia baru saja meremehkan kinerja Aurora yang banyak dipuji orang.

Tidak pantang menyerah, ia sedikit berlari. Kali ini nekat menarik paksa tangannya, genggaman erat membuat pria itu berhenti. Auirora sentuh kulit mulus, dengan warna kulit perunggu sensual juga tampak sexy.

Aurora terhanyut sesaat. Dengan sigap, Austin menarik paksa tangan yang tampak kokoh bagi bangunan gedung. Ia tampak marah, lalu menatap kasar.

"Jangan menyentuhku sembarangan!" Ancamnya dengan suara bariton yang khas.

"Pak, saya mohon maafkan saya." Aurora masih berjuang.

"Kamu!" Austin membalas seakan ingin menerkam bulat-bulat.

Aurora menatap para pengawal yang mulai bersiaga seakan ingin menggeret ia keluar dari sini.

"Pak, saya mohon."

Austin menyentuh leher, mengatur embusan napas sebaik mungkin lalu memberi perintah untuk meninggalkan mereka berdua. Terlihat dari tatapan tidak suka para pengawal, tapi mau tak mau terpaksa membiarkan mereka berdua.

"Waktuku hanya satu menit. Katakan kamu mau apa."

"Saya mohon Pak, jangan pecat saya. Saya sangat menginginkan pekerjaan ini. A-aku sudah lama mendambakannya," ucap Aurora parau.

"Lalu kalau saya tidak memecatmu, apa kamu bisa menjamini tidak melakukan kesalahan itu lagi?"

"Yaa saya—"

"Atau kamu kembali melakukan itu lagi, lagi dan seterusnya. Wanita sepertimu memang cantik tapi di perusahaanku tidak butuh itu saya membutuhkan cara kerjamu yang profesional bukan mengandalkan kecantikanmu." Austin berkata ketus, tentu menusuk hati dengan katanya.

Pria jahat yang pernah ia temui, 'pria Arrogant' teriak Aurora membara dalam hati.

"Saya bisa menjamini kalau hal itu tidak akan terulang Pak."

"Alasan basi."

Aurora ingin mencekik leher pria di depannya saat ini, rasanya hampir mengangkat bendera putih.

"Baiklah, aku akan melihatmu. Kita lihat saja nanti bagaimana." Austin berucap dang langsung pergi berlalu.

"Itu artinya saya masih bisa bekerja disini Pak?" tanya Aurora sedikit berteriak.

Austin tidak memberikan jawaban, malah pergi melenggang. Aurora terdiam mematung memikirkan sifat sombongnya itu tapi cukup tenang karena tidak jadi diberhentikan.

Akhirnya ia beranjak keluar kantor, berjalan seperti orang kebingungan. Mulut tak henti komat kamit memikirkan sifat CEO angkuh itu.

"Benar-benar hari yang sangat buruk, punya pimpinan yang super duper kejam, arogant bahkan begitu buruk dari apa pun." Kesalnya sambil menuju halte bus.

***

Aurora menunggu tunangannya di cafe favorite mereka sejak lama. Ya, semalam Aurora menelphone balik. Betapa bahagia dia kembali lagi ke tanah air. Kesempatan terbaik bisa ia lakukan hari ini, hari sabtu bukan hanya libur kantor juga hari yang sangat pas menikmati jalan bersama sang tunangan.

Sembari menunggu tunangan, ia memesan kopi. Aurora adalah wanita pecinta kopi hitam, selain enak baginya kopi itu mampu menenangkan pikiran juga jiwa raga kala merasa merindu juga sedih.

Aurora mencium aroma kopi yang masih terasa panas sambil menyeruput perlahan. Betapa nikmat tiada tiara.

Seseorang menyentuh pundak Aurora, "Lama menungguku?" tanyanya sambil duduk di samping.

Ia menatap, "Frank?" Aurora memeluk spontan sambil berlinangan air mata rindu.

Frank Dave, sang tunangan akhirnya menemuinnya. Aurora dan Frank terpaut usia cukup jauh, bahkan semua orang mengira ia adalah anaknya, bagaimana tidak usia Aurora saat ini 21 tahun sementara Frank sudah 40 tahun.

Mereka sudah bertunangan, saling mencintai sejak lama namun dia belum juga melamar. Aurora mencintai pria itu karena hanya dia yang punya, dia yang merawat dari kecil akibat dari kegagalan orangtuaku. Mereka meninggalkan Aurora entah ke mana.

Aurora wanita sebatang kara.

Frank seorang pria pekerja keras, pria yang sangat dewasa. Karena itulah ia menyukai karakter pria itu, tidak perduli setua apa pun dia.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Aurora setelah saling melepas pelukan.

"Baik. Sibuk dan aku akan libur selama enam bulan ... tapi bukan berarti aku bebas sayang," ucap Frank berusaha tersenyum.

Frank bekerja menjadi pengawal pribadi seorang CEO, Aurora sudah lama berpisah dengan Frank. Saat ini dia memang kembali, walau pun waktu hanya enam bulan tapi akan ia pergunakan sebaik mungkin waktu kebersamaan mereka.

"Frank," uccap Aurora saat Frank menciumi buku-buku jari Aurora.

"Yes, ada apa Rora sayang. Apa kamu ingin mengatakan sangat merindukanku?" tanya Frank menahan bahagia bangga.

"Tentu saja, aku sangat merindukanmu." Aurora mulai serius.

Frank menatap Aurora sedalam mungkin, mengembuskan napas teratur.

"Kamu tau apa yang aku rasakan saat ini?"

Aurora menggeleng.

"Aku sangat ingin menikahimu," ucap Frank menyentuh pipi kekasihnya yang mulus.

Aurora tertegun, masih menatap sendu. Ada celah secuil kata sulit terlontar.

"Lalu, apa yang kamu khawatirkaan?"

Frank memudarkan senyuman. "Rora, maafin aku ya." Frank berkata sambil tertunduk.

"Untuk apa?"

"Untuk belum bisa menikahimu dalam waktu dekat ini," ujar Frank.

Apa yang terjadi dengan Frank sebenarnya. Kenapa mendengar kata pernikahan saja dia selalu menghindar bahkan untuk ciuman bibir saja belum pernah Aurora rasakan. Hingga akhirnya mengangguk lemah, ia sedih kalau Frank belum punya keinginan menikahi. Ia tahu usia juga belum terlalu tua tapi mengingat umurnya juga pengorbanannya pada Aurora?

"Sudahlah— sekarang lebih baik kita membahas tentang pekerjaan kita saja bagaimana?" Rara tersenyum mengalihkan pembicaraan menyesakkan.

Frank mendongakkan wajahnya, lalu dia tersenyum alami setelah Aurora menghentikan pembahasan itu.

"Bagaimana dengan atasanmu?" tanya Aurora sembari menyeruput kopi.

"Dia pria sibuk selama enam bulan. Akan lebih sibuk di banding aku."

"Akan menjadi hari melelahkan."

"Aku sudah menjaga sejak usianya enam tahun. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri walau dia memiliki sikap dingin karena sifat Arogant aku tidak punya keberanian mengatakan ingin menghabiskan waktu liburan denganmu."

"Benarkah. Kedatanganmu saat ini tidak akan membuatnya mencarimu?"

"Aku sudah meminta izin. Tuan-ku seorang CEO juga pemilik perusahaan. Sudah sangat lama perusahaan itu tidak ada yang mengurus so, dia merasa harus bertanggung jawab."

Arrogant. Kenapa mendengar kata Arogant ingatan tertuju dengan pria buruk itu.

Astaga!

Semoga ia bisa bekerja sebaik mungkin tanpa kesalahan lagi, ia muak kalau berhadapan dengan pria buruk itu lagi.

"CEO atau lebih tepatnya pemilik perusahaan tempatku bekerja juga Arrogant. Menyebalkan!" Aurora berkata sambil memasang wajah masam.

"Benarkah?"

"Kemarin aku telat karena berkas kantor ku bawa pulang, busku lama datang alhasil aku telat. Kamu suda bisa menebak itu adalah hari yang sangat buruk bagiku."

Frank tertawa lucu, "Kamu semakin cantik kalau lagi marah begini."

"Cantik apaan. Orang marah mana ada yang cantik, yang ada jelek." Aurora bernada manja.

"Iya iyaa— memangnya kamu bekerja di mana sekarang?" tanya Frank santai.

Auora menatap Frank, kenapa ia lupa memberitahukan tempat bekerjanya. Memang sih baru beberapa minggu, tapi bukan maksud ia menutupi pekerjaan. Mungkin karena kesibukan mereka masing-masing jadi lupa saling memberikan kabar.

Akhirnya Aurora tertawa sembari menepuk jidat tanda lupa. Frank masih setia menatap menunggu jawaban, wajah teduh yang begitu melekat.

"Aku diterima di perusahaan ternama itu berkat kampusku, aku adalah orang satu-satunya yang diterima." Aurora mengenang.

"Hebat. Kamu memang gadisku yang hebat Rora. Aku beruntung memilikimu. Katakan memangnya di mana?" tanya Frank lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED