Bab 1

Hujan turun seperti lolongan roh di atas kanopi Amazon yang lebat. Udara dipenuhi aroma tanah basah, dedaunan hancur, dan jejak darah yang tak sempat mengering. Di tengah gemuruh alam, langkah-langkah panik memecah keheningan malam. Burung-burung hantu terbang menjauh. Ranting patah. Suara langkah itu bukan milik makhluk hutan biasa.

Selene berlari. Kakinya berdarah, kulitnya terkoyak oleh duri dan batu tajam. Namun yang paling menyakitkan bukan luka di tubuhnya, melainkan suara desing panah yang terus mengikutinya tanpa suara, ia tak bisa berteriak meminta tolong, dan itu membuatnya lebih seperti hantu daripada manusia.

Ia tahu mereka memburunya bukan karena ia mencuri, bukan pula karena ia membunuh. Tapi karena darahnya. Karena sesuatu yang bahkan dirinya tak mengerti tentang mata yang bersinar perak dalam gelap, tentang mimpi-mimpi aneh yang selalu membuatnya terbangun dalam peluh dingin, tentang suara serigala yang hanya ia dengar dalam pikirannya.

"Tangkap dia hidup-hidup!" teriak seseorang dari belakang. Suaranya berat dan kasar, aksen asing yang tak berasal dari desa mereka.

Selene berbelok tajam ke arah tebing yang ditutupi akar pohon raksasa. Tubuhnya mungil dan gesit, tapi ia kelelahan. Ia menyelinap ke balik batang pohon dan menahan napas. Jantungnya berdetak cepat, terlalu keras hingga ia yakin pemburunya bisa mendengarnya dari kejauhan.

Tiba-tiba, suara napas berat terdengar dari samping. Ia menoleh. Seekor ular besar menggeliat pelan dari balik dedaunan, lidahnya menjulur, menjilat udara.

Selene menahan jerit yang tak pernah bisa ia keluarkan.

Namun sebelum ular itu sempat menyerang, sekelebat bayangan hitam melintas. Ular itu terlempar ke udara, membentur pohon dengan suara retakan tulang.

Bayangan itu berdiri di hadapannya. Tinggi. Tegap. Matanya seperti bara yang terbakar diam-diam di tengah malam.

Darius Blackthorn.

Ia tak berkata sepatah kata pun. Tapi Selene tahu: pria itu bukan manusia biasa.

Dan entah kenapa, di tengah ketakutan yang mencekam, tubuh Selene bergetar bukan karena dingin. Tapi karena sesuatu yang lain sebuah getaran halus yang berasal dari dada, menjalar ke seluruh tubuhnya, seperti gema dari masa lalu yang tak ia ingat.

Darius menatapnya lama, sorot matanya tajam namun tidak mengancam. Ia bisa mencium aroma darah, takut, dan... sesuatu yang jauh lebih tua dari waktu.

"Siapa kau?" tanyanya lirih, namun suara itu terdengar seperti gema petir.

Selene menggeleng pelan. Matanya meminta maaf. Tangannya bergerak, memberi isyarat, tapi Darius tidak mengerti. Ia hanya menatapnya dengan kening berkerut.

"Bisu?" gumamnya.

Selene mengangguk.

Sebelum Darius bisa berkata lebih, anak panah menancap ke batang pohon di dekat kepala mereka. Darius bergerak cepat, menarik Selene ke belakang tubuhnya. Napasnya berubah lebih berat, lebih dalam. Ia mendongak, dan matanya bersinar perak terang.

Lelaki itu bukan hanya Alpha. Ia adalah kematian bagi siapa pun yang berani mengancam.

Tiga pemburu muncul dari balik semak. Mereka mengenakan jubah kulit, wajah mereka dihiasi lukisan suku yang telah dilupakan. Tapi Darius tahu siapa mereka.

"Pengecut," gumamnya.

"Dia bukan milikmu, serigala," ujar salah satu pemburu. "Anak itu milik kami. Ia keturunan yang kami cari titisan Ratu yang hilang."

"Dia bukan milik siapa-siapa," sahut Darius. "Pergi sekarang, atau aku akan menghancurkan tulangmu satu per satu."

Para pemburu tertawa. "Sumpahmu tidak mengizinkanmu mencampuri urusan luar klan."

"Dan aku tak pernah peduli pada aturan busuk yang ditulis oleh orang mati," ucap Darius, sebelum menerkam.

Serangan itu begitu cepat hingga mata manusia tak mampu mengikutinya. Darius berubah di udara-dari pria menjadi makhluk setengah serigala dengan cakar tajam dan taring berkilat. Ia menerkam pemburu pertama, mencabik lehernya, lalu menghantam dua lainnya hingga tubuh mereka terlempar.

Selene tak bisa berpaling. Pemandangan itu mengerikan, namun ada sesuatu yang indah di balik kebuasan itu sebuah kemarahan yang berasal dari rasa perlindungan. Ia tahu ia seharusnya takut. Tapi ia merasa aman.

Saat pertempuran selesai dan tubuh Darius kembali pada wujud manusianya, ia berdiri di hadapannya dengan napas terengah.

"Kenapa mereka memburumu?" tanyanya.

Selene menatapnya, lalu meletakkan telapak tangan di dadanya. Ia menyentuh jantungnya sendiri, lalu menunjuk langit.

Darius mengerutkan kening, mencoba memahami.

"Apa ini tentang darahmu?"

Selene mengangguk.

Diam.

Hening.

Angin bertiup membawa suara hutan yang berbisik.

"Kalau begitu... kau tidak bisa kembali," ucap Darius akhirnya. "Mereka akan terus mencarimu."

Selene menatapnya lekat-lekat. Matanya bertanya: Apa yang akan kau lakukan padaku sekarang?

Darius berpaling, seolah berjuang melawan sesuatu yang tak kasat mata.

"Jika aku membawamu ke wilayahku, aku melanggar sumpah."

Selene menunduk.

"Tapi jika aku membiarkanmu di sini, kau akan mati."

Ia mendekat, dan Selene bisa merasakan panas tubuhnya. Wajah mereka hanya sejengkal.

"Ada sesuatu tentangmu," bisiknya. "Sesuatu yang membuat jiwaku bergetar. Dan itu berbahaya."

Selene menyentuh tangannya. Lembut. Hati-hati. Dalam diamnya, sentuhan itu lebih keras dari teriakan.

Darius menarik napas dalam. "Sial..."

Ia mengangkat Selene ke pelukannya.

"Aku akan menyesali ini," gumamnya.

---

Di antara akar-akar pohon Ba-kari, tempat suku pendeta Amazon dahulu bersemedi, Darius membaringkan Selene di atas batu datar. Ia membersihkan luka-lukanya dengan daun huni dan air dari mata air suci. Ia melakukannya dalam diam, dengan kelembutan yang tak sesuai dengan reputasi sang Alpha.

"Aku tumbuh di sini," katanya perlahan. "Di hutan ini, aku belajar membunuh sebelum belajar mencintai."

Selene menatapnya.

"Dan mungkin karena itu... aku tak pernah tahu caranya mencintai."

Ia tertawa getir. "Aku terikat pada sumpah Silent Oath. Kami dilarang mencintai siapa pun di luar klan, karena cinta membawa kehancuran. Cinta pernah membakar seluruh wilayah kami menjadi abu."

Selene menggenggam tangannya. Matanya lembut, bukan karena kasihan, tapi karena pemahaman. Ia tak bisa bicara, tapi ia bisa mendengar dengan hati.

Darius balas menatapnya.

"Kau mengerti rasa sunyi itu, bukan?"

Ia mengangguk.

Dua kesunyian bertemu bukan untuk saling mengisi, tapi untuk saling menerima.

---

Saat malam semakin dalam dan suara hutan kembali tenang, Darius duduk menjaga Selene yang tertidur. Tapi sebelum ia tenggelam dalam pikirannya sendiri, suara dari dalam bayang-bayang terdengar.

"Menarik," kata suara itu. "Kau jatuh cinta pada keturunan Ratu."

Darius berdiri cepat. "Luca."

Dari balik pohon, sesosok pria muncul. Luka di wajahnya, senyum tipis, dan mata sehitam arang. Mantan sahabat yang kini menjadi pengkhianat.

"Dia adalah kunci. Dan kau baru saja membawanya ke dalam wilayahmu."

Darius mengepal tangan. "Sentuh dia, dan aku akan robek hatimu."

Luca tertawa. "Jangan khawatir. Aku akan datang ketika waktunya tepat. Tapi kau tahu ini, Darius kau sudah memulai akhir dari segalanya."

Lalu ia menghilang dalam kabut malam.

Darius menatap langit. Hujan mulai turun lagi, namun kali ini terasa lebih dingin. Ia tahu: takdir sudah bergerak. Dan di tengah semua itu, seorang wanita bisu kini menyimpan nyawa seluruh ras serigala juga hatinya.

Bab 2

Hutan itu membungkus dunia dalam kabut yang belum sempat hilang. Embun menggantung di ujung dedaunan seperti air mata yang enggan jatuh. Langkah kaki Darius membelah keheningan itu, menggendong Selene yang tubuhnya masih lemah, basah oleh peluh dan darah yang telah mengering.

Mereka meninggalkan reruntuhan malam sebelumnya desa yang terbakar, jerit yang terpendam, dan masa lalu yang kini tinggal puing-puing tak bernama.

"Sedikit lagi," gumam Darius lirih, entah kepada Selene, entah kepada dirinya sendiri. Angin membawa aroma tanah basah, bercampur rempah-rempah dari semak-semak obat yang hanya tumbuh di wilayah Amazon dalam.

Selene memejamkan mata, bukan karena lelah, tetapi karena ia mulai mendengar sesuatu. Sebuah bisikan dalam pikirannya, bukan dari luar-melainkan dari dalam darahnya sendiri. Suara itu tidak menggunakan kata, tapi ia tahu artinya; "Kau telah kembali."

Lembah Blackthorn tersembunyi di balik dinding-dinding alam yang hanya bisa ditembus oleh mereka yang berdarah serigala. Kabin kayu dengan ukiran motif suku Yawanawa berdiri dalam susunan melingkar, menghadap ke pusat suci tempat api tak pernah padam. Pohon ceiba yang menjulang di tengah menjadi saksi sumpah yang diikat selama ratusan tahun-sumpah diam, "The Silent Oath".

Selene tersentak saat Darius menurunkannya di rumah utama. Matanya menyapu lukisan di dinding: sosok setengah serigala-setengah manusia berdiri di antara dua dunia-cahaya dan bayangan. Ia tahu itu bukan sekadar mitos.

Elara, perempuan tua yang berambut gimbal panjang dan tato merah darah di dahinya, menyambut mereka. Di balik matanya yang nyaris buta, tersimpan hikmah yang telah melihat terlalu banyak kehancuran.

"Kau membawanya ke sini?"

"Ia diserang. Aku tidak bisa meninggalkannya."

"Darius...." Nada Elara turun seperti malam yang merayap, "Kau tahu siapa dia. Dan kau tahu apa artinya."

Selene hanya menunduk. Tapi Elara mendekatinya, menyentuh wajahnya dengan jemari keriput.

"Darahmu bicara lebih nyaring dari suara siapa pun. Tapi diam tak pernah membuat seseorang selamat."

---

Hari-hari berikutnya membawa Selene pada dunia baru. Ia tidak hanya sembuh dari luka fisiknya, tapi mulai memahami sesuatu yang lebih dalam-ia tidak asing di sini. Hutan berbicara padanya daun-daun berdesir seperti menyebut namanya. Anak-anak klan mengajarinya menari dengan api, membaca bintang, dan menyatu dengan roh leluhur.

Di malam ketiga, Selene menyaksikan ritual transisi bulan. Para anggota klan melolong serempak, bukan sebagai binatang, tapi sebagai jiwa-jiwa yang merayakan kelahiran. Darius berdiri paling depan, tubuhnya dilukis dengan arang dan lumpur tanah leluhur, matanya tak lepas dari Selene.

Ia tidak berbicara banyak. Tapi setiap kali menatap Selene, tubuhnya menegang seperti menahan sesuatu yang lebih liar dari serigala keinginan.

---

Suatu malam, di tepi danau kecil yang airnya memantulkan langit seperti cermin, Darius mendekat.

"Kau tahu tentang sumpah itu?" tanyanya, duduk di sebelahnya. Selene mengangguk perlahan. Ia telah membaca dalam buku kayu tua tentang The Silent Oath-sumpah yang mengikat para alpha untuk tidak mencintai siapa pun di luar garis darahnya. Jika dilanggar, kehancuran akan turun seperti wabah.

"Aku tak pernah memikirkan cinta," bisik Darius, "karena sejak kecil aku diajarkan bahwa cinta adalah kelemahan."

Ia menoleh padanya, dan untuk pertama kalinya, Selene melihat ketakutan dalam diri seorang alpha.

"Tapi denganmu... semuanya sunyi, tapi hidup. Kau... sunyiku yang tak menakutkan."

Selene mengulurkan tangan, menyentuh jari-jarinya. Ia tak perlu suara untuk menjawabnya. Tapi hati mereka bergetar dalam bahasa yang lebih tua dari kata-kata sentuhan.

Malam itu, bulan menatap mereka. Tapi angin membawa firasat mereka diawasi.

Di balik bayangan hutan, seseorang mengamati.

Luca Ashford.

Dulu sahabat Darius. Kini musuhnya.

Matanya bersinar dengan kemarahan dan hasrat. Ia telah lama mencari keturunan terakhir Ratu Serigala. Jika benar gadis bisu itu adalah dia, maka ia tak hanya membawa kunci keseimbangan tapi juga kekuasaan mutlak.

"Darahmu akan membuka gerbang yang bahkan Darius tak berani ketuk," gumamnya.

---

Keesokan harinya, Selene terbangun dalam keadaan menggigil. Mimpi tentang perempuan bermata emas kembali hadir. Tapi kali ini, sang perempuan mengulurkan tangannya, menempelkan telapak ke dada Selene.

"Bangunlah, Penjaga Terakhir. Masa tenangmu sudah selesai."

Selene terbangun dengan luka berbentuk bintang di lengannya-luka yang tidak ia dapatkan secara fisik.

---

Di balai utama, Darius memanggil para tetua.

"Dia... adalah yang disebut dalam Legenda Bisu."

Elara mengangguk perlahan, "Jika ia benar-benar keturunan Ratu Serigala, maka takdir kita berubah. Tapi juga bahaya akan datang lebih cepat dari yang kita duga."

Seorang tetua lain berkata lirih, "Cinta bukan musuh, Darius. Tapi ketika cinta bertabrakan dengan warisan kutukan, hanya pengorbanan yang tersisa."

Di luar ruangan, Selene berdiri sendiri, menatap ke langit. Ia mulai menyadari bahwa dirinya bukan korban tapi pusat dari badai yang akan datang.

Darius menghampirinya, membungkuk sedikit agar sejajar dengan wajahnya.

"Aku ingin kau tahu... jika aku bisa memilih, aku akan memilihmu tanpa keraguan. Tapi aku pemimpin. Aku tak bisa mencintaimu... tanpa menghancurkan semua yang kulindungi."

Selene menuliskan sesuatu di tanah; "Bagaimana jika aku tidak meminta dicintai, hanya dipercaya?"

Darius menatapnya lama. Lalu mendekat, mencium dahinya dengan perlahan. "Kepercayaanmu... adalah satu-satunya hal yang membuatku bertahan dalam sumpah ini."

Tapi saat mereka kembali ke desa, kabut telah berubah warna-merah samar.

Salah satu penjaga jatuh dari menara pengawas, lehernya robek.

Di batang pohon utama, tertulis pesan dalam darah;

"Ratu Telah Bangkit. Dan Aku Akan Menyambutnya."

Nama pengirimnya hanya satu-Luca.

Kabut merah samar menebal, menyelubungi desa seperti jubah kematian. Aroma besi dan tanah basah menggantung di udara. Angin berhenti bergerak, seakan hutan pun menahan napas.

Selene berdiri mematung di samping Darius, matanya terpaku pada tulisan darah di batang pohon suci. Kata-kata itu membakar pikirannya lebih dari api. "Ratu Telah Bangkit." Tapi siapa ratu itu? Dan mengapa luka berbentuk bintang di lengannya kini terasa panas seperti baru terukir?

"Luca," gumam Darius, nadanya berubah menjadi geraman rendah, liar, dan dingin.

Elara muncul dari balik semak dengan tongkat berukir roh leluhur di tangannya. "Bayangan telah bergerak lebih cepat dari cahaya. Kau harus menghadapinya, Darius, atau seluruh klan akan terseret dalam kutukan yang kau coba hindari."

Darius mengepalkan tangan. Matanya kembali menatap Selene, seolah ia menyadari sesuatu yang tidak ingin ia akui bahwa semua ini terjadi karena dia membawanya ke sini.

Namun Selene hanya menatapnya dengan sorot mata yang tidak menuntut, hanya yakin.

Rapat darurat dipanggil. Para tetua berkumpul di Balai Roh Leluhur, sebuah ruang kayu dengan dinding dihiasi topeng-topeng roh dan lukisan prajurit kuno. Di tengah ruangan, asap damar melingkar di udara, membawa aroma yang menusuk dan membangkitkan kesadaran.

"Luca ingin perang," ujar seorang tetua muda bernama Eno. "Dia telah mengusir para pemburu dan memanipulasi mereka. Ia ingin Selene... bukan sebagai pasangan, tapi sebagai alat kebangkitan kekuatan lama."

"Ia ingin darah Ratu untuk membuka Gerbang Roh Purba," sahut Elara. "Jika itu terjadi, bukan hanya klan Blackthorn yang hancur, tapi seluruh keseimbangan antara roh alam dan manusia akan pecah."

Darius berdiri. "Kita akan memperkuat perbatasan. Semua anggota muda akan dilatih kembali. Dan aku... akan mempersiapkan diri untuk menghadapi Luca secara langsung."

Suara-suara menyetujui. Tapi satu suara diam terdengar paling nyaring-Selene.

Ia berdiri dari sudut ruangan, mengambil arang dari api dan menulis di lantai:

"Jangan lindungi aku seperti korban. Aku bagian dari ini."

Para tetua saling berpandangan. Elara tersenyum kecil, "Dia bukan hanya warisan darah. Dia ingatan dari kekuatan yang kalian lupakan."

---

Malam itu, Selene kembali bermimpi.

Dalam mimpi itu, ia berdiri di tengah sungai yang bercahaya, diapit dua bayangan. Di sebelah kiri, seorang perempuan bertanduk dengan mata bercahaya emas, berbisik: "Buka hatimu. Kuatkan darahmu." Di sebelah kanan, bayangan laki-laki-tidak lain dari Luca mendekat, suaranya tajam; "Cinta Darius akan menghancurkanmu. Tapi bersamaku, kau akan abadi."

Ketika Selene membuka mata, ia mendapati dirinya berada di luar rumah, kakinya tenggelam di lumpur, seolah ia berjalan dalam tidur dipanggil oleh sesuatu.

Di langit, bulan penuh bersinar pucat. Tapi malam itu, bulan terasa seperti mata. Mengawasinya. Menilainya.

---

Hari-hari berikutnya dilalui dalam persiapan. Darius semakin jarang tidur. Ia melatih para prajurit muda sambil mengawasi hutan dari menara.

Selene, di sisi lain, semakin dalam menggali warisan dalam dirinya. Elara membawanya ke tempat suci di balik air terjun, gua tempat roh leluhur perempuan bersemayam. Di sana, ia belajar membaca tanda-tanda di kulit binatang, memahami gerak bintang, dan mendengar bisikan hutan dalam kesunyian.

Dalam diamnya, Selene menemukan bahasa yang lebih tua dari suara: intuisi, ketukan darah, tarikan napas semesta.

Darius menyaksikannya dari jauh. Setiap kali mata mereka bertemu, ada sesuatu yang tak tertahankan mengalir di antara mereka-sebuah rasa yang tak diizinkan untuk tumbuh, tapi tetap mekar dalam diam.

---

Suatu malam, saat angin berembus membawa aroma pahit, Darius mendapati Selene di bawah pohon ceiba. Ia menggenggam potongan kayu kecil, mengukir simbol bintang dengan jarinya.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Darius lirih.

Selene menatapnya, lalu menulis di tanah:

"Apakah kau lebih takut pada Luca... atau pada perasaanmu sendiri?"

Pertanyaan itu menusuk seperti taring. Darius tertawa pahit.

"Aku takut... kalau aku mencintaimu, aku akan melanggar semua yang telah aku sumpahkan. Dan jika aku tidak mencintaimu, aku kehilangan satu-satunya yang membuatku merasa hidup."

Selene mendekat, mengangkat tangan, dan menyentuh dadanya. Di balik kulit dan otot, ia merasakan detak yang bukan sekadar jantung, tapi rasa.

"Lalu izinkan aku jadi alasanmu untuk bertarung... bukan untuk kalah." Ia tidak menulisnya, tapi ia tahu Darius mengerti.

Namun malam itu tak selesai damai. Saat bulan mencapai puncaknya, lolongan panjang terdengar dari arah timur. Bukan lolongan dari klan Blackthorn. Ini... ancaman.

Darius langsung berdiri, mata berubah emas terang.

"Mereka datang."

Seluruh desa bergerak. Alarm suku dipukul: drum besar yang terbuat dari kulit macan dan batang pohon tua. Api dinyalakan di titik-titik penjagaan.

Selene menggenggam belatinya yang diberi Elara. Ia menatap bayangan pepohonan dengan tenang.

Tapi dari bayangan itu, yang muncul bukan serigala. Melainkan manusia. Seorang gadis remaja, mengenakan kalung gigi serigala dan luka di pipi.

"Aku utusan dari faksi hibrida. Luca membunuh saudara-saudaraku. Tapi aku tahu sesuatu yang tidak kalian tahu."

Mata gadis itu berkilat seperti batu akik.

"Selene... bukan hanya warisan. Dia kunci. Tapi bukan untuk kehancuran-untuk pengakhiran sumpah yang mengekang kalian selama ini."

Darius menatap Selene. Tubuhnya tegang. Pertarungan yang ia pikirkan akan terjadi di luar... ternyata sudah mulai dari dalam.

Bab 3

Kabut belum juga menghilang dari desa saat fajar menyusup perlahan melalui celah-celah pepohonan. Cahaya merah muda yang lembut menerpa dedaunan, seperti ingin menenangkan luka malam sebelumnya. Tapi ketenangan itu hanya semu.

Di Balai Roh Leluhur, Elara duduk bersila di depan api kecil. Tatapannya kosong, namun jari-jarinya sibuk menggenggam kalung taring yang diwariskan dari ayah mereka. Api bergetar pelan, seolah ikut gelisah.

Pintu terbuka. Darius masuk, langkahnya tenang tapi sorot matanya waspada. Ia tahu percakapan ini akan membuka retakan yang selama ini mereka jaga tetap tersembunyi.

"Kau seharusnya tidak membawanya ke sini," ucap Elara tanpa menoleh.

Darius berhenti di seberang api. "Dia bukan musuh. Kau melihatnya sendiri. Dia... bagian dari kita."

"Bagian dari apa?" Elara menatapnya tajam. "Kita? Atau takdir yang belum kita pahami dan bisa menghancurkan kita semua?"

Api menjilat kayu, mengeluarkan letupan kecil. Di balik sinarnya, dua kakak-beradik itu saling mengukur, seperti dua bintang tua yang pernah bersinar bersama tapi kini terpisah oleh orbit yang berseberangan.

"Selene membawa sesuatu yang bahkan roh leluhur tidak bisa jelaskan sepenuhnya. Tapi kau membiarkannya tinggal, bahkan melatihnya," kata Elara.

"Karena dia harus tahu siapa dirinya. Kita semua pernah melalui itu. Termasuk kau."

Elara berdiri. "Perbedaan kita, Darius, adalah aku tahu kapan harus patuh pada sumpah. Dan kau... tampaknya sudah melupakannya."

---

Di luar, Selene sedang belajar menggunakan busur bersama para prajurit muda. Tangannya luka, tapi matanya menyala. Setiap tarikan panah adalah bahasa. Setiap pelepasan adalah pernyataan.

Tiba-tiba, Rael salah satu prajurit muda berbisik pada temannya, cukup keras untuk Selene dengar. "Kita tidak tahu dari mana dia datang. Bisa saja dia mata-mata Luca."

Selene berhenti. Ia menatap Rael, tidak marah, tapi juga tidak takut. Ia mengambil anak panah, lalu menancapkannya ke tengah sasaran dengan satu gerakan.

Elara yang menyaksikan dari jauh mengerutkan alis. Ia melihat kekuatan itu. Terlalu besar untuk dibiarkan tumbuh tanpa pengawasan.

Malam harinya, Elara memanggil dewan tetua secara diam-diam. Mereka berkumpul di gua bawah tanah, tempat suara tidak memantul, dan rahasia bisa hidup lebih lama.

"Darah Selene bukan hanya serigala. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan. Aku khawatir... dia bukan Ratu seperti yang dikira. Tapi portal."

Eno bertanya, "Portal?"

"Ke dunia roh yang telah dikunci oleh leluhur karena satu alasan: kekuatan itu terlalu liar untuk dikendalikan. Jika dibuka, bukan hanya Luca yang akan datang. Tapi mereka... yang tak bernama."

Salah satu tetua, perempuan tua bernama Yura, bergumam lirih, "Kalau begitu, kau ingin kita mengasingkannya?"

"Aku ingin kita berhenti berpura-pura bahwa cinta Darius padanya tidak berbahaya."

Sementara itu, Darius membawa Selene ke makam ibu mereka. Di sana, bunga-bunga malam bermekaran di atas batu, seolah bumi pun masih mengingat kelembutan wanita yang melahirkan dua pemimpin berbeda.

"Elara tidak membencimu," kata Darius.

Selene menatap batu nisan itu, lalu menuliskan di tanah: "Tapi dia takut padaku."

Darius menatap tulisan itu lama. "Dia takut kehilangan aku. Dan aku... tidak tahu apakah aku masih bisa menjadi Alpha jika aku terus mencintaimu."

Selene mengangguk pelan, lalu menulis: "Mungkin cinta bukan untuk menyelamatkan pemimpin. Tapi untuk mengingatkan bahwa mereka masih manusia."

Darius memejamkan mata. Ia ingin menciumnya. Tapi sumpah di dalam darahnya menjerat. Maka ia hanya menyentuh pipinya. Diam. Lama.

---

Keesokan harinya, keributan terjadi. Rael memimpin sekelompok pemuda yang menolak latihan bersama Selene. Mereka membakar tong latihan dan menggantungkan simbol tolak di pagar desa.

"Kami tidak akan dilatih oleh seorang asing yang bahkan tak bisa bicara!"

Darius muncul, suaranya tenang tapi keras: "Kalau kau tidak bisa mengalahkannya dalam latihan, maka kau tidak layak bersuara."

Rael mencoba menyerang Selene, tapi dalam satu gerakan, gadis itu menjatuhkannya tanpa suara. Semua terdiam.

Elara datang, melihat kejadian itu. Ia tahu, Selene bukan hanya kuat. Ia simbol. Dan simbol... bisa menyatukan, atau menghancurkan.

Malam itu, Elara memanggil Selene ke mata air suci. Mereka duduk berhadapan, hanya diterangi cahaya kunang-kunang.

"Kau ingin kepercayaan kami. Maka aku ingin kejujuran darimu. Apa yang kau lihat dalam mimpi-mimpimu?"

Selene menarik napas, lalu menulis di atas batu basah; "Sungai. Dua bayangan. Satu ingin aku jadi ratu. Satu ingin aku jadi kunci. Tapi aku hanya ingin jadi aku."

Elara menatap tulisan itu lama. Lalu berkata, "Kalau begitu, buktikan. Bantu kami menghadapi Luca. Tapi jika kau berbalik, aku sendiri yang akan mengakhirimu."

Selene mengangguk. Tak gentar.

Tapi saat mereka berjalan kembali, seekor burung jatuh dari langit. Tubuhnya membusuk dalam hitungan detik. Di bawahnya, secarik kain berdarah-pesan dari Luca.

"Gerbang akan dibuka pada bulan keempat. Ratu akan memilih. Dan yang tidak dipilih... akan lenyap."

Elara menggenggam kain itu, lalu menatap Selene. Untuk pertama kalinya, tatapan mereka tidak penuh kecurigaan. Tapi kesiapan.

Perang bukan hanya melawan Luca. Tapi terhadap waktu. Terhadap takdir. Dan terhadap cinta yang tak bisa diucapkan, tapi bisa mengubah segalanya.

---

Malam mulai menipis, diselimuti angin lembap dan aroma kayu basah. Setelah kembali dari mata air suci, Elara dan Selene berjalan dalam diam, hanya suara dedaunan dan desiran napas mereka yang terdengar. Kain berdarah dari Luca masih tergenggam erat di tangan Elara, seolah serpihan masa lalu yang tak bisa dibuang begitu saja.

Sesampainya di kamp, para penjaga bersiaga penuh. Ketegangan terlihat di wajah-wajah mereka, seolah pesan dari Luca telah mengendap sebagai mimpi buruk yang belum selesai. Darius berdiri di depan api unggun, mata tajamnya menangkap kehadiran Elara dan Selene. Namun kali ini, dia tidak mendekat. Ada jeda, ada ruang di antara mereka yang mulai berubah.

"Apa yang dia katakan?" tanya Darius tanpa basa-basi.

Elara melemparkan kain berdarah itu ke tanah, tepat di antara kaki Darius.

"Gerbang akan dibuka pada bulan keempat," gumam Elara. "Dan Ratu harus memilih."

Darius menatap Selene, yang berdiri tanpa gemetar. Tak ada suara keluar darinya, tapi matanya memancarkan tekad.

"Kita harus bersiap. Kalau Luca benar, maka ini bukan lagi pertempuran kecil. Ini adalah akhir dari keseimbangan yang tersisa," ucap Darius.

Keesokan harinya, pertemuan klan diadakan di aula terbuka. Bangunan bundar itu dikelilingi oleh patung-patung serigala tua, simbol pelindung dan leluhur. Para anggota klan Blackthorn berkumpul, dari para tetua hingga pejuang muda, semua ingin tahu kebenaran tentang wanita asing yang kini tinggal di antara mereka.

Elara berdiri di tengah, mengangkat tangan untuk memulai.

"Kita semua tahu ancaman dari Luca. Kita semua tahu apa artinya jika gerbang benar-benar dibuka. Tapi kita belum tahu sepenuhnya apa yang dibawa oleh wanita ini."

Suara riuh rendah muncul, gumaman, bisikan, bahkan keraguan.

"Selene tidak datang untuk menghancurkan kita. Tapi kita tak bisa membiarkan dirimu hanyut oleh simpati," lanjut Elara, lalu menatap Darius tajam. "Atau cinta."

Darius berdiri. Suaranya tenang namun tegas. "Cinta bukan kelemahan. Tapi sumpah kita sumpahku adalah pedang bermata dua. Aku tidak memintamu untuk mencintai Selene. Aku hanya ingin kalian tahu bahwa dia adalah bagian dari cerita kita, suka atau tidak."

Selene melangkah maju. Dengan kapur yang ia ambil dari altar tengah, ia menulis di batu besar di hadapan semua klan:

"Aku tidak minta diterima. Aku hanya minta diberi kesempatan."

Diam. Hening. Lalu salah satu tetua berdiri.

"Kalau kau bisa buktikan dirimu dalam ritual malam bulan keempat, kami akan menerima kehadiranmu. Tapi jika kau gagal, bahkan langit tak akan menangis untukmu."

Malam itu, Selene duduk sendirian di sisi sungai. Air mengalir tenang, tapi pikirannya beriak. Darius menghampirinya dengan langkah hati-hati.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Selene menggeleng. Lalu menulis di tanah, "Apa yang terjadi jika aku memilih tidak memilih?"

Darius duduk di sebelahnya, lutut mereka hampir bersentuhan.

"Maka dunia akan memilih untukmu. Dan dunia jarang sekali memilih dengan adil."

Selene menatapnya, lalu dengan ragu, menyentuh dadanya perlahan. Ia merasakan detak itu. Jantung serigala yang berdetak untuknya, tapi terbungkam oleh sumpah. Darius menggenggam tangannya, memejamkan mata.

"Aku ingin memberitahumu sesuatu," bisiknya. "Tentang sumpah itu."

Selene mengangkat alisnya.

"Sumpah itu... bukan hanya janji. Itu sihir. Kutukan yang ditanam oleh leluhur kami karena cinta mereka menghancurkan dunia. Mereka takut kita mengulanginya. Jadi mereka mengikat keturunan mereka dalam keheningan."

Selene menulis, "Tapi apa cinta selalu menghancurkan?"

"Tidak," jawab Darius pelan. "Tapi cinta yang ditakuti akan menjadi senjata bagi mereka yang ingin memecah belah kita."

Seketika suara jeritan terdengar dari arah utara. Mereka berdiri bersamaan. Seekor penjaga berlari, darah mengalir dari bahunya.

"Kami diserang! Di sisi utara! Luca mengirim pasukan bayangan!"

Elara sudah siap dengan pasukan. Ia menatap Darius, lalu pada Selene.

"Buktikan kata-katamu. Buktikan bahwa kau bukan beban."

Selene berlari bersama Elara dan pasukan, tanpa ragu. Di tengah pertempuran, ketika serigala-serigala bayangan menerjang dari balik kabut, Selene berdiri. Ia memejamkan mata. Lalu sesuatu terjadi.

Hutan menjadi senyap. Serigala-serigala itu terdiam. Mata mereka bersinar merah, tapi tak bergerak. Suara Selene tak terdengar, namun pikirannya... menggema.

"Berhenti." Satu kata. Satu perintah.

Dan mereka berhenti. Serigala-serigala bayangan itu mundur, lalu menghilang seakan tertelan hutan.

Para pejuang Blackthorn menatap Selene. Nafas mereka memburu. Elara maju, menatap wanita bisu itu lama. Kemudian mengangguk.

"Kau tidak lagi hanya tamu. Kau adalah bagian dari pertarungan ini."

Darius berdiri di sisi Selene. Ia tak berkata apa-apa. Tapi dari cara ia memandang, dunia bisa membaca segalanya: cinta yang tak boleh tumbuh, tapi tak bisa dihentikan.

Dan jauh di dalam hutan, Luca berdiri di antara pohon-pohon yang berlumur darah. Ia tersenyum.

"Ratu mulai menyadari kekuatannya," bisiknya. "Tapi dia belum tahu... bahwa kunci untuk membuka gerbang bukan kekuatan. Tapi rasa sakit."

Tapi perang sudah dimulai, dan semua pilihan akan menuntut harga yang lebih tinggi dari yang pernah mereka bayangkan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED