Setelah mengucapkan salam, Biru segera melangkah menuju ruang makan dimana keluarganya sedang berkumpul. Siang tadi dia menerima telpon dari papanya agar datang ke rumah untuk makan malam.
"Hai Bi," sapa Fira seraya mengembangkan kedua tangannya dan memeluk Biru. Tak lama Biru mengurai pelukan kakak perempuannya itu lalu mencium ujung kepala kakaknya yang sejajar dengan dagunya. Biru lalu bergantian memeluk dan mencium papa dan mamanya.
Ya, sejak dipercaya untuk mengelola bisnis papanya, Biru memang memilih untuk tinggal terpisah dengan keluarganya. Alasannya karena dia workaholic, pulang kerja sesuka hatinya. Jadi dia merasa lebih bebas jika tinggal sendiri.
Usai makan malam, Pak Hartono mengumpulkan seluruh keluarganya di ruang keluarga. Jika melihat situasinya sepertinya memang ada hal penting yang akan dibicarakan.
"Hmm, sudah kuduga kalau Biru sampai dipanggil, pasti ada apa-apa," ucap Fira setelah semuanya berkumpul.
"Ya iyalah," jawab Pak Hartono santai.
"Bi, apa kamu punya pacar?" tanya Pak Hartono lembut pada anak lelaki satu-satunya itu.
"Memang kenapa, Pah?"
"Kemarin Papa bertemu Om Sutanto Bahagia, dan kami sepakat untuk menjodohkan kamu dengan putrinya. Ya, Papa nggak maksa sih, pengennya kamu kenalan dulu. Kalau cocok ya lanjut, kalau enggak ya sudah."
"Anaknya yang mana sih, Pah?" Fira yang bertanya, dia penasaran kok bisa Papanya tiba-tiba punya pikiran untuk menjodohkan Biru.
"Namanya Pricillia Bahagia, dia salah satu founder dari PT. Media Dewa Amerta."
"Ohh, kirain kerja di PT. Sutanto Bersaudara juga?"
Biru tak bergeming atas pernyataan papanya. Dia memang masih sendiri. Sejak dia ditinggal menikah oleh Miranda setahun yang lalu, dia rasanya masih enggan membuka hatinya untuk wanita lain. Entahlah, sejauh ini yang dia cintai masih bisnis yang diwariskan papanya.
Dan yang dia tahu saat ini, dia hanya mencintai 2 wanita sebagai orang special di hatinya. Yang pertama adalah malaikat penolongnya ketika dia berada di panti asuhan belasan tahun yang lalu. Dan yang kedua adalah El Stefany Miranda, perempuan yang dia pacari 8 tahun lamanya namun kini telah berstatus istri Edo Radhea, sahabat baiknya. Saat itu hatinya hancur, tapi melihat Miranda lebih bahagia bersama Edo, dia tak mampu berbuat apa-apa.
"Bi, nggak papa?" Bu Roslina menepuk bahu putranya setelah lama putranya hanya terdiam mendengar pernyataan suaminya.
"Nggak papa kok, Mah. Ya kalau menurut Papa dia baik, nggak ada salahnya dicoba untuk berkenalan sama anaknya Om Tanto."
"Baik kalau gitu Biru, nanti Papa aturkan untuk bertemu keluarga mereka ya. Sekarang kita istirahat saja. Kamu nginep sini ya malam ini, Bi."
"Iya, Pah."
***
Pagi ini Cilla tiba di kantor dengan muka kusut. Dia hanya tersenyum sekenanya saat disapa satpam dan beberapa karyawan kantornya. Cilla membuka pintu ruangannya dengan kasar dan segera melempar tas hermesnya di atas meja kerjanya.
Moodnya benar-benar buruk pagi ini. Selang beberapa menit datanglah Dewa, rekan bisnis sekaligus sahabat yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Dewa dan Cilla bersahabat sejak mereka sekolah SMA, berlanjut kuliah, hingga kini mereka mendirikan perusaan bersama yang mereka beri nama PT. Media Dewa Amerta. Meskipun papanya memiliki perusahaan raksasa tapi Pricillia Amerta Bahagia memilih untuk merintis bisnisnya sendiri bersama Dewa, sahabatnya itu.
"Elah, pagi-pagi udah nggak enak aja tu muka." Jika sedang tidak didepan client atau karyawannya, Dewa dan Cilla memang lebih suka mengobrol dengan bahasa santai.
"Diem deh lo, kalo nggak punya solusi nggak usah komentar. Makin sebel gue."
"Dijodohin kan nggak ada salahnya, Cil. Lagian gue yakin 100% kalo Om Tanto cari laki buat lo itu nggak kaleng-kaleng."
"Enak aja, emang gue nggak bisa gitu nyari laki impian gue sendiri?"
"Ya lo nyari laki dalem mimpi. Lagian mana buktinya? Sejauh ini laki yang deket ama elo itu cuma gue. Atau jangan – jangan lo suka lagi sama gue?" tanya Dewa yang semakin tidak masuk akal.
"Gini ya, sebelum makin jauh gue tegasin sama lo, gue itu naksirnya sama Lulu. Luna Amerta Bahagia, adik lo yang manisnya melebihi gula itu."
Cilla hanya mendengus sebal mendengar ocehan sahabatnya itu tanpa memberi komentar apapun. Dewa hanya cengar-cengir melihat ekspresi Cilla. Lucu sekali memang melihat kondisi Cilla saat ini dan Dewa suka mengejek Cilla.
Setelah briefing pagi selesai, Dewa dan Cilla meninggalkan kantor untuk bertemu dengan client mereka.
"Selamat pagi, dengan Pak Adrian," sapa Dewa pada client yang ternyata sudah lebih dahulu hadir di tempat meeting.
"Selamat pagi, iya saya Adrian. Kalian telat 5 menit ya dari janji temu kita," jawab sang client setelah melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Buset deh ini orang yak, 5 menit doang mukanya udah kayak gitu. Hmm, namaste. Tenang Cilla, tenang," batin Cilla.
"Maaf Pak Adrian, tadi kami ada sedikit masalah di kantor," jawab Dewa dengan tenang.
"5 menit itu bisa ngasilin uang buat saya!"
"Iya, mohon maaf sekali lagi ya, Pak Adrian. Bisa kita mulai meetingnya sekarang?"
Belum sempat meeting itu dimulai, tiba-tiba ponsel Pak Adrian berdering.
"Sebentar saya terima telpon dulu," ucap Pak Adrian sambil berlalu meninggalkan Dewa dan Cilla.
"Eh sumpah ya, Wa. Demi apapun gue males urusan sama orang model begini. Duh amit-amit, Ya Tuhan," bisik Cilla pada Dewa.
"Hus! Jangan ngomong gitu lo. Kita butuh banget ini kerjasama sama perusahaan segede gaban punya doi."
"Ya Allah, semoga aku diberi kesabaran seluas lautan buat ngadepin manusia itu."
"Ya Allah, semoga Cilla ntar jodohnya kayak Adrian gitu."
"Sumpah lo resek, Wa. Amit-amit 7 turunan." Cilla beberapa kali mengetuk meja dan menjitak kepalanya sendiri.
Rupanya benar berita yang muncul diluar sana mengenai Adrian. CEO dari PT. Mega Media Mandala itu memang sangat perfeksionis dalam menjalankan bisnisnya. Dewa dan Cilla sempat terkejut dengan banyaknya permintaan yang Adrian ajukan demi bisa menerima tawaran yang Dewa dan Cilla berikan.
Meski di awali dengan ketidaknyamanan akhirnya meeting itu selesai dengan kesepakatan kerjasama antara PT. Media Dewa Amerta dengan PT. Mega Media Mandala.
"Ide lo agak buruk, Wa." Saat ini Dewa dan Cilla sedang dalam perjalanan menuju kantor.
"Udahlah. Kita butuh, Cuy."
"Ini baru awal. Gue nggak tahu bisa bertahan sampai akhir atau enggak ini."
"Bisa yok bisa. Pasti bisalah, Cil." Cilla hanya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian membuka kembali dan menghirup udara sebanyak mungkin untuk mengurangi beban pikirannya.
"Eh, Adrian itu manusia. Bisalah diajak ngomong."
"Ya udah lo aja yang ngomong ama dia terus ya. Gue bagian acc aja, nego elo."
"Siap, Ibu Pricillia Amerta Bahagia yang terhormat."
Hari yang ditentukanpun tiba. Hari dimana keluarga Hartono akan bertemu dengan keluarga Sutanto Bahagia. Setelah perdebatan panjang dengan orang tuanya akhirnya Cilla dengan berat hati bersedia untuk bertemu dengan pria yang rencananya akan dijodohkan dengannya. Dengan sedikit menyipitkan mata dia menangkap wajah seorang pria yang ia kenal.
Ya, dia melihat Pak Adrian ada dalam rombongan keluarga Hartono dan dia begitu syok melihat baju yang ia kenakan sama warna dan coraknya dengan Pak Adrian. Beberapa hari sebelum pertemuan itu, Bu Melisa yaitu Mama Cilla memberikan baju yang katanya harus dipakai saat pertemuan dengan keluarga Hartono.
Mati, dia langsung dapat menyimpulkan bahwa yang akan dijodohkan dengan dia adalah Pak Adrian. Wahh bisa diledek habis-habisan ini sama Dewa, pikirnya menerawang jauh ke masa depan. Sementara Dewa kaget juga melihat pemandangan yang ada didepannya sambil menebak 1000% bahwa Cilla pasti akan mencari seribu satu alasan untuk menolak perjodohan itu. Bagaiman tidak, pertemuan pertama dengan Adrian, dia sudah tahu jika Cilla tidak menyukai orang kaku seperti itu. Hanya karena kebutuhan bisnis saja Cilla masih mampu bersikap sopan didepan Adrian.
"Ini Pricillia Amerta Bahagia, Mas. Foundernya MDA yang dia banggakan," ucap Pak Sutanto pada Pak Hartono dengan bangga.
"Wahh, memang Pricillia ini selain cantik juga hebat ya. Saya ngikuti lho perkembangannya MDA itu. Sebagai sesama perusahan yang bergerak di bidang media saya juga tertarik dengan MDA. Denger-denger sudah taken kontrak juga ya dengan Biru," komentar panjang lebar dari Pak Hartono Mandala.
"Udah kok, Pa. Kemarin aku sudah taken sama Bu Pricillia dan Pak Dewa," jawab Adrian.
Cilla masih saja diam. Muak rasanya mengingat pertemuan kemarin dengan Adrian. Gaya kerjanya dengan Dewa yang sedikit santai rasanya berontak jika berhadapan dengan orang semacam Adrian.
"Jadi kalian sudah saling bertemu rupanya, wah .. bagus kalau begitu." Kali ini Bu Melisa Bahagia ikut menimpali, seolah-olah Cilla dan Adrian sudah setuju untuk dijodohkan.
"Iya, Ma. Kemarin aku dan Dewa sudah ketemu Pak Adrian."
"Ihh jangan Pak Adrian dong panggilnya. Kalian kan tidak sedang di kantor. Panggil saja dia Biru, Cil. Anak Tante ini namanya Adrian Askara Biru," sahut Bu Roslina Mandala.
"Bodo amat, mau Biru kek, hijau kek, merah mudah atau putih sekalipun. Gue nggak peduli. Pokoknya ogahlah dijohin sama orang sekaku kanebo kering kayak dia. Bisa stroke gue." Lagi-lagi Cilla mengumpat dalam hati.
Cilla berjalan menjauhi kerumunan 2 keluarga itu. Ingin rasanya ia kabur ke kamar dan menggulung tubuhnya dengan selimut. Ahh nikmat sekali sepertinya bermalas-malasan di kasur seperti bayangannya. Tiba-tiba sebuah derap langkah mengejutkan Cilla.
"Hai Pricillia." Suara berat itu, Cilla yakin adalah suara berat yang sama sekali tidak ingin ia dengar.
"Ngapain lo kesini? Ngikutin gue?" selidik Cilla.
"Ya bisa dibilang begitu," jawab Adrian santai.
"Terus, mau apa?"
"What do you think?"
"Apa?"
"Soal perjodohan kita."
"Gue nggak mau. Gue akan cari cara untuk menggagalkan perjodohan kita."
"Emang saya kurang apa sih? Saya kaya, ganteng, terus apa lagi?"
"Wah, gue baru tahu selain arogan, lo narsis juga ya."
"Maksud saya, setidaknya kamu harus mengenal saya baru kamu boleh ambil keputusan."
"Cieh, baru dikenalin udah mojok aja kalian," ucap Dewa yang tiba-tiba muncul.
Cilla memijat pelipisnya tanpa tertarik untuk menjawab ledekan Dewa sedikitpun. Cilla terlalu lelah malam ini untuk meladeni Dewa, ditambah Adrian. Kembali ia merindukan kasur kamarnya.
"I'm sorry. Gue masuk kamar dulu."
"Acaranya belum kelar, Cil. Nih Adrian juga masih disini."
"Lo aja ngobrol sama Adrian. Biar lebih dekat. Gue ngantuk."
Cilla melangkah menuju kamarnya. Namun sialnya dia terpeleset dan jatuh ke dalam kolam renang. Semua orang yang berada disana berteriak panik. Melihat hal itu, Adrian segera masuk ke kolam dan menyelamatkan Cilla. Sementara Dewa membantu Adrian mengangkat tubuh Cilla ke bibir kolam. Dengan penuh keraguan Adrian mencoba untuk memberikan nafas buatan pada Cilla. Tak lama akhirnya Cilla sadar.
"Woe ngapain lo cium gue," teriak Cilla panik.
"Cilla, ngomong apa kamu?" tanya Pak Tanto.
"Papa, masak Adrian cium aku sih."
"Kamu tahu bedanya dicium sama kasih nafas buatan nggak sih?" tanya Bu Melisa.
"Maaf Om, Tante. Sebaiknya Cilla dibawa ke kamar aja. Kasian kedinginan."
Cilla sedikit berteriak saat Adrian menggendong tubuhnya. Ingin rasanya dia memaki Adrian tapi dia masih sadar banyak orang saat ini. Tepat didepan kamarnya, Cilla berusaha turun dari gendongan Adrian. Sungguh dia merasa sangat sial. Pertemuan pertamanya dengan Adrian bisa dikategorikan pertemuan yang tidak baik. Sekarang, pertemuan keduanya kembali tidak baik. Tidak bisa dia banyangkan akan ada apa lagi setelah ini jika ia masih saja bertemu dengan Adrian. Apalagi menjadi istrinya.
"Kamu itu bandel banget sih. Gerak-gerak terus dari tadi," omel Adrian.
"Ehh, lo pikir gue bahagia gitu digendong elo. Heran kenapa tiap ketemu lo suasana itu nggak enak. Nggak bikin happy."
Cilla masuk ke kamarnya dan menutup pintu dengan keras. Adrian tersenyum mendapat perlakuan itu dari Cilla. Sesungguhnya dia belum terlalu yakin dengan perjodohan ini, tetapi dia sedikit tertarik untuk mengenal Cilla dan menaklukan gadis itu.
***
Siang itu Pak Hartono mendatangi kantor PT. Mega Media Mandala khusus untuk menanyakan tanggapan Adrian tentang pertemuannya dengan Cilla. Pak Hartono sangat berharap jika Adrian dan Cilla setuju untuk dijodohkan.
"Jadi gimana, Bi? Kamu suka sama Cilla?"
"Nggak semudah itu, Pa. Semua butuh waktu dan proses."
"Papa tahu. Setidaknya beri tahu Papa, kamu bersedia mencoba berkenalan atau tidak?"
"Bersedia, Pa. Cilla perempuan hebat."
"I think so, Boy. Papa senang kamu mau buka hati kamu. Kalau gitu Papa pergi dulu ya."
"Kesini cuma mau tanya itu aja, Pa? Repot banget nggak telpon aja."
"Hahaha, Papa mau lihat ekspresi kamu." Pak Hartono beranjak dari kursi dan melangkah pergi.
Adrian kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Sesekali ia melihat ponselnya. Beberapa menit yang lalu Pak Hartono mengirim nomor ponsel Cilla dan meminta ia untuk menghubungi Cilla. Tetapi Adrian masih ragu tentang apa yang hendak ia katakan pada Cilla nantinya karena dia bukan tipe lelaki yang mudah berbasa-basi. Terlebih terakhir kali ia dekat dengan wanita adalah setahun yang lalu dengan Miranda. Setelah itu ia sama sekali tidak tertarik untuk berpacaran. Tapi jika tidak dimulai bagaimana perjodohan ini akan berjalan, meskipun belum jelas pada akhirnya akan menikah atau tidak.
Adrian kemudian membuka laman Google untuk mencari tahu apa yang harus ia lakukan. Adrian tersenyum geli menyadari apa yang ia perbuat. Sungguh jika ada orang lain yang mengetahui perbuatannya, ia pasti akan sangat malu.
"Cil, barusan sekretarisnya Adrian telpon tuh! Besok pagi ngajak meeting katanya."
"M3 ngajak meeting? Tumben, Wa. Ya udah, lo aja yang dateng. Males gue lihat Adrian."
"Ehh, pamali lo ngomong gitu. Ntar jatuh cinta beneran sama Adrian baru tahu rasa. Lagian besok pagi gue izin. Nganter nyokap cek up dulu, Bos."
"Hih, brengsek lo, Wa. Girang banget lo gue ketemu Adrian."
"Udahlah, Cil. Trima aja lo dijodohin sama Adrian. Ganteng kok dia. Noh, bayangin aja gue yang cowok bisa bilang dia ganteng. Ya meskipun masih gantengan gue sih."
"Makin brengsek lo ya. Udah ah, ganti topik kek."
"Babay, Nona Pricillia. Gue mau jemput Lulu dulu ya. Mau makan siang."
"Lah gue lo tinggal gitu? Wa ... Dewa. Awas lo macem-macem sama adek gue, gue bunuh lo"
Dewa melenggang pergi meninggalkan Cilla tanpa menghiraukan perkataan Cilla. Tak hentinya Cilla mengumpat Dewa dalam hati melihat perlakuan Dewa terhadapnya. Jika tidak sadar bahwa sedang di kantor mungkin dia sudah meneriakkan umpatan itu sekeras-kerasnya.
Cilla hampir saja menjatuhkan ponselnya karena kaget saat ia membuka chat ajakan makan siang yang didalam chat itu terdapat nama Adrian. Duh malas sekali rasanya Cilla menerima tawaran Adrian karena dia sudah membayangkan suasana sekaku apa yang akan ia hadapi. Tapi tidak enak juga dia menolak ajakan Adrian. Bagaimanapun juga saat ini perusahaannya memiliki ikatan dengan perusahaan Adrian yang harus ia jaga.
Cilla berjalan dengan anggun memasuki restoran yang telah ia sepakati bersama Adrian. Okelah tak ada salahnya di coba, pikirnya.
"Hallo, Pak Adrian," sapa Cilla berbasa-basi.
"Hai Cilla."
Adrian langsung bangkit dari tempat duduknya lalu menarik kursi arah depan mejanya dan mempersilahkan Cilla untuk duduk. Adrian tersenyum pada Cilla. Senyum yang mampu menyihir Cilla untuk beberapa detik.
Tidak Cilla pungkiri bahwa ucapan Dewa ada benarnya. Adrian itu lelaki tampan dan tampak berwibawa.
Jantung Cilla berdebar sangat hebat. Memang sudah sangat lama sekali dia tidak sedekat ini dengan pria selain Dewa yang sudah pasti tidak ada getaran apapun meski sudah bertahun-tahun berada didekatnya. Hei, apa ini? Perasaan macam apa ini Cilla?.
Adrian dan Cilla sudah duduk berhadapan."Cilla, are you ok? Kok bengong?" Adrian mengibaskan tangannya di depan wajah Cilla.
"Hehehe, enggak kok. Kamu juga ngapain senyum terus dari tadi?"
"Nggak papa." Adrian menyodorkan buku menu pada Cilla.
Setelah peristiwa terhipnotis senyuman manis tadi, Cilla memang lebih banyak diam. Dia takut Adrian mengetahui ritme jantungnya yang mulai berdebar tak terkendali ini. Sampai dia memilih menu makanan tanpa mempedulikan selera, asal sebut aja yang terlihat di depan matanya.
Sementara Adrian, dia juga terhipnotis dengan kecantikan Cilla. Sejujurnya dia mulai setuju dengan apa yang papanya rencanakan. Bukan, bukan hanya perkara wajah ayu Cilla yang menjadi pertimbangan Adrian, tapi diam-diam Adrian telah menyelidiki latar belakang Cilla dan dia mengagumi Cilla yang sebenarnya.
"Mau saya antar?" tawar Adrian saat Adrian dan Cilla sudah berada di depan restoran setelah makan siang usai.
"Aku bawa mobil kok, Yan."
"Oh ya sudah kalau begitu." Adrian melangkah pergi meninggalkan Cilla.
Cilla menatap Adrian dengan heran. "Ini manusia bodoh apa gimana sih? Say bye kek atau apa gitu," gerutu Cilla.
Tak lama mobil sport berwarna hitam berhenti tepat di depan Cilla. Adrian keluar dari mobil itu dan membuka pintu penumpang depan.
"Ayo, saya antar."
"Ha? Gue bawa mobil, Yan. Kurang jelas?"
"Pak Imam baru saja pergi. Saya bilang biar saya yang antar kamu."
"Wah, mulai main sabotase ya lo."
"Hahaha, mungkin. Ayo." Cilla memasuki mobil itu.
***
Adrian melangkah memasuki apartemennya dengan lelah. Tumpukan pekerjaan di meja kerjanya baru bisa dia selesaikan sore hari ini. Seharian dia tampak hanya memainkan pulpen di atas meja kerjanya.
Seharian ini ingatan tentang wajah ayu Cilla menjadi penyebab kekacauan pekerjannya. Tiba-tiba dia merasakan kerinduan ingin bertemu Cilla setelah dia mendapat kabar bahwa meeting pagi ini dengan gadis itu dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Sekretaris Cilla hanya mengabarkan jika Cilla mendadak ada urusan keluarga. Itu saja.
Usai makan malam, Adrian mengambil benda pipih yang ada di dekatnya dan mendial nomor seseorang.
"Apa? Lo serius? Udah kroscek ulang. Gue nggak mau sampai salah orang ya," ucap Adrian pada lawan bicara di sambungan telpon.
"Serius, Yan. Udah gue cek semuanya. Bener dia orangnya."
"Oke deh, Ben. Thankyou bantuannya ya. Sisa bayaran buat anak buah lo gue transfer segera."
"Siap, Bos." Sambungan telpon terputus.
Adrian masih diam mendapati kenyataan yang baru saja dia dengar. Tapi dia sungguh bahagia luar biasa dengan berita itu. Syukurlah orang yang dia cari ternyata baik-baik saja selama ini. Ingatannya kembali melayang pada masa kecilnya. Adrian tersenyum sendiri. Tuhan memang sangat baik sudah mengirimnya masuk dalam keluarga Hartono dan sekarang dia diberi kesempatan untuk dapat mewujudkan janjinya dulu.
Memang setelah diadopsi keluarga Hartono Mandala ia sibuk untuk menata hidupnya sampai ia kurang fokus mencari informasi tentang orang di masa lalunya.
***
"Sayang, Mama boleh masuk?" tanya Bu Melisa dari balik pintu kamar Cilla.
"Iya Mama, boleh." Bu Melisa melangkah memasuki kamar Cilla dan duduk di dekat Cilla.
"Ada apa, Ma?"
"Gimana hubungan kamu sama Adrian?"
"So far so good sih, Ma. Adrian baik, cuma ya aku butuh lebih mengenal dia."
"Iya, Sayang. Mama ngerti banget. Mama bersyukur setidaknya kamu mau mengenal Adrian."
"Tapi Mama sama Papa harus siap yah apapun yang terjadi nanti."
"Iya, Sayang. Insya Allah Mama siap. Kalau gitu kamu istirahat, Mama pergi dulu ya."
Setelah kepergian Mamanya, Cilla membuka room chat Whatsappnya dengan Adrian. Cilla melihat foto profil Adrian dan dia tersenyum.
"Kok jadi deg-degan gini cuma lihat fotonya doang? Apa aku mulai pengen kenal lebih jauh beneran ya?" monolog Cilla. Tiba-tiba Lulu masuk kamar Cilla dan membuat Cilla salah tingkah.
"Ngapain, Kak? Kok kaget gitu?"
"Nggak sopan banget sih Dek. Ketuk dulu kenapa?"
"Maaf ya, Kak. Aku mau curhat."
"Ha? Apa?"
"Soal Kak Dewa."
"Kenapa? Kamu diapain sama Dewa? Ngomong sama Kakak biar Kakak yang kasih pelajaran."
"Nggak diapa-apain sih, Kak. Cuma dari tadi Kak Dewa nggak bales chat aku."
"Astagfirullahaladzim. Kakak pikir apa, Dek!"
"Aku kan bingung, Kak." Cilla menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tanda ia tak tahu harus berbuat apa.
Dia memang bisa dibilang kurang pengalaman dalam hal percintaan seperti ini. Melihat Lulu yang tergila-gila dengan Dewa seperti ini membuat dia mulai berfikir apakah nanti jika ia benar-benar jatuh cinta dengan Adrian ia akan bersikap seperti Lulu pada Dewa. Tiba-tiba Cilla menggelengkan kepalanya.
"Kakak baik-baik aja?"
"Iya, baik. Kamu elegan dikit dong jadi perempuan. Jangan tunjukin kalo lagi bucin."
"Kakak nggak tahu sih rasanya. Makanya jatuh cinta, Kak!"
"Ye, dikasih tahu malah ngajarin. Keluar sana! Kakak mau istirahat."